Cara Ibu Merayakan Idul Adha

Minggu kemarin, di line telepon flexi itu…

Ibuk, bolehkah saya ikut berkurban di Idul Adha tahun ini? Saya ingin kurban seekor kambing.”

Hening sejurus dua jurus di seberang sana. Sepertinya ibu berpikir dan menimbang-nimbang.

Akhirnya Ibu berkata, “Ndut, Ibuk tidak melarang kamu berkorban, bahkan Ibuk sangat senang. Tetapi kalau kita lihat lingkungan kita, bahwa pada kenyataannya daging yang dikurbankan itu dibagi-bagikan untuk tetangga-tetangga termasuk kita — bukan fakir miskin, dan melihat suasana politik yang baru saja reda di desa kita, Ibuk rasa kurban yang kamu lakukan kurang tepat guna dan tepat sasaran. Belum lagi nanti jika kita malah jadi sorotan dan gunjingan warga. Maksud hati berniat baik malah membawa dampak yang kurang baik bagi lingkungan…”

“Jadi, apa saran Ibuk?” saya bertanya.

“Bagaimana kalau uang yang akan dipakai untuk kurban itu kita serahkan pada Mbokdhe … (ibu menyebut sebuah nama yang sangat sering membantu keluarga kami). Rasanya lebih bermanfaat. Soal bagaimana pengaturannya, nanti ibuk atur.”

*

Keluarga kami hanyalah keluarga yang sedikit mengerti tentang agama kami, Islam. Tapi kata-kata ibu yang bijak itu bagi saya melebihi ceramah ustadz manapun. Dan saya akhirnya setuju dengan pendapat ibu saya itu.

Catatan:
Ibuk (baca: ibu’) adalah panggilan khusus saya ke ibu saya. Kebiasaan waktu kecil yang tetap dibawa hingga anaknya segede gaban ini 😀 . Ndut adalah kependekan dari Gendut, panggilan saya di rumah. Secara anak bungsu pasti punya panggilan manja (halah!)

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. Nanti kalo dikasihkan mbokde jadi gunjingan keluarga….

    Susah emang nyumbang dengan ikhlas… gimana kalo nyumbangnya N.N aja… biar g nimbulkan gunjingan. Tiba2 di masjid ada kambing yang di-summon. :p

  2. Kalau nggak salah saya pernah baca, jikalau berkurban pada saat Idul Adha atau hari tasryik adalah dengan binatang ternak (kambing, sapi atau unta) yang artinya menyembelih binatang ternak tersebut dan membagikannya kepada yang berhak, kalau khawatir tidak tepat sasaran mungkin bisa juga melalui lembaga2 yang saat ini banyak menangani masalah kurban. Tapi yang jelas kalau nggak salah nggak boleh dalam bentuk uang dan diberikan pada seorang saja, kalau yang ini sepertinya masuk kategori shodaqoh, zakat mal atau infak, bukan kurban. Kurban sendiri hukumnya khan sunah, tapi sunah muakad bagi yang mampu. Saya juga termasuk orang awam yang lagi belajar juga. Jadi sepertinya sebaiknya galih tetap berkurban dengan kambing melalui lembaga yang terpercaya yang memang membagikan daging kurban kepada yang berhak kalau misalnya di lingkungan tidak ada yang berhak menerima 🙂
    Hm.. tapi pernah saya baca juga, bagikan hewan kurban bagi yang tidak menyembelih, jadi mestinya tetangga kita yang tidak menyembelih juga boleh dong dapat hewan kurban itu. Maaf kalau komentarnya kepanjangan 😛

  3. mengikuti saran seorang ibu sangatlah baik… saya juga mungkin bakalan seperti mas galih klo disaranin seperti itu oleh ibu saya.

    Berkurban nggak harus ditempat daerah kita tinggal ko’, bisa saja kurban dikirmkan ke tempat2 yang memang membutuhkan… saya kira masih ada tempat/desa yang memang untuk makan daging sebulan sekali saja sangat sulit bagi penduduknya. mereka hanya dapat merasakan daging ketika hari raya kurban datang. Berkurban ditempat2 yang tertimpa musibah mungkin suatu hal yang tepat. 🙂

  4. #bu yuhana, tukangfotokeliling:
    terima kasih komentarnya. ya.. saya sih tidak peduli kalaupun dianggap itu bukan kurban tapi shodaqoh. bagi saya sama saja. hanya beda istilah. saya agak kurang cocok dengan lembaga2 seperti tebar kurban dan semacamnya. rasanya tidak personal. saya tidak bisa belajar memiliki kepekaan sosial dan lebih bersyukur atas apa yang saya dapatkan sekarang. bagaimana bisa belajar kalau uang tinggal transfer dan.. paw… selesai.

    menurut pertimbangan ibu saya, dalam hal ini shodaqoh kepada tetangga2 yang kurang mampu jauh lebih bermanfaat daripada sekedar membagi-bagikan daging kurban. itu poin-nya. jika dianalogikan mungkin seperti orang yang telah haji 10 kali. kenapa tidak sekali saja dan 9 kalinya adalah untuk shodaqoh?

  5. Maz itu suatu nasehat yang bijak dari seorang IBU, dan saya sangat setuju untuk dijalankan apa yang dinasehati oleh IBU maz Galih, emang benar dari segi pertimbangan IBU bahwa nantinya akan menimbulkan salah pengertian dari orang2 disekaliling kita (maaf kalo gak nyambung)
    Terima kasih Wassalam

  6. Sepakat, jika memang sudah pernah kurban atau haji maka uang kurban atau haji yang kedua dan selanjutnya sebaiknya memang diberikan ke orang lain yang memang membutuhkan seperti yang ibu galih sarankan.
    Lain lagi jika kita belum pernah berkurban karena Rasulullah sangat menganjurkan menunaikan ibadah ini bagi yang mampu untuk menunaikan dan pelaksanaannya hanya bisa dilakukan setahun sekali, berbeda dengan infak atau shodaqoh yang dapat dilakukan kapanpun.
    Anyway kenapa nggak dilakukan dua-duanya aja? khan galih mampu 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *