Membuat Foto Liburan

Liburan bersama keluarga atau sahabat tentu sangat menyenangkan dan mungkin akan menjadi one of unforgettable momment di dalam hidup Anda. Nah, saya yakin, Anda akan membawa kamera dalam perjalanan liburan Anda. Entah kamera saku, entah kamera SLR. Saya 68% ainul yakin bahwa Anda membawa kamera saku dalam liburan Anda. Nah, bagaimana cara membuat foto yang lebih menawan dalam foto Anda? Saya menemukan edisi majalah Info Komputer bulan ini memuat booklet yang menarik tentang foto liburan. Saya sarikan dalam bahasa saya untuk Anda 🙂

Latar Belakang

Latar belakang membedakan dan mengidentifikasi dimana kita sedang liburan. Latar belakang juga berperan dalam menonjolkan subjek yang sedang difoto. Untuk menonjolkan, carilah latar belakang yang tidak terlalu sibuk dan sederhana. Misalnya, latar belakang pantai, persawahan, pegunungan, dll. Jangan pilih latar belakang yang terlalu sibuk seperti orang di pasar, kecuali jika kamera Anda bisa membuat latar belakang yang sibuk itu out of focus. Hanya kamera SLR yang bisa membuat efek out of focus dengan mudah.

Contoh di bawah ini, saya memilih background laut. Sengaja tidak saya libatkan olah digital di sini. Lokasi di Pulau Handeleum, Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Kamera: Canon Powershot A400 (kamera saku).

handeleum

Komposisi yang Berbeda

Komposi adalah bagaimana kita menempatkan apa yang ada di hadapan kita ke dalam frame sebuah foto. Kebanyakan orang akan memotret objek orang tepat di tengah-tengah dengan tegak simeris lurus. Oh, tidak… inilah yang namanya dead-centre composition. Cobalah sekali-sekali memotret dengan cara yang berbeda. Tak perlu the rule of the third — itu konsumsinya fotografer. Cobalah taruh objek di sebelah kiri dan kanan. Coba juga motret dengan sedikit miring ke kiri/kanan. Mungkin Anda akan terkejut melihat hasil foto Anda yang tiba-tiba begitu dinamis dan menarik! 🙂

Contoh di bawah ini adalah contoh komposisi yang sedikit berbeda dan di luar aturan. Tapi menjadi terkesan dinamis dan ceria bukan? Credit untuk Mas Puntadi sebagai fotografer, dengan kamera prosumer Sony Cybershot DSC F-717. Lokasi di Taman Nasional Ujung Kulon.

ujung-kulon

Gaya yang Berbeda

Gaya itu perlu agar foto terlihat unik dan bercerita. Anda sebagai fotografer (berada di balik viewfinder untuk menjepret shutter release sudah bisa dinamakan fotografer, lho…) harus bisa membuat sesuatu yang berkesan. Jangan sungkan-sungkan untuk menjadi pengarah gaya dadakan. Gaya foto yang statis, diam, kaku, dan resmi agar terlihat tajam adalah gaya fotografi zaman Napoleon Bonaparte dan Marie Antoniette karena zaman itu belum ada kamera yang bisa membekukan objek yang bergerak.

Pada foto dibawah ini, sebelum menekan tombol shutter, saya berteriak, “Angkat dayungnya!!!” Terlihat begitu bercerita bukan? 🙂 Lokasi di Danau Situgunung, Sukabumi, waktu divisi saya (SCM & ICT) mengadakan team building. Kamera tentu saja adalah Nikon D40 andalan. ;))

situ gunung

Keunikan Tempat

Liburan jauh-jauh menghabiskan banyak biaya akan terbuang percuma jika dalam foto tidak terlihat identitas yang menunjukkan tempat tersebut. Cari keunikan tempat itu, misalnya arsitektur bangunan, lansekap (landscape) yang hanya dimiliki tempat tersebut — papan nama, patung, atau apa saja yang unik. Jika Anda ke Puncak Bogor, carilah latar belakang kebun teh, jika Anda mendaki Puncak Rinjani, tunjukkan lansekap langit yang biru dengan gumpalan awan berada di bawah, atau tunjukkan Segara Anak di nun jauh di bawah sana. Atau seperti di bawah ini, saya sengaja mengikutkan papan nama Dandy’s Strawberry, sebuah kebun strawberry yang ada di Lembang, Bandung.

Lokasi: Lembang, Bandung. Kamera: Canon Powershot A400.

lembang

Close Up

Foto-foto yang saya jadikan contoh menonjolkan subjek dan objek sebagai latar belakang sehingga si subjek sendiri kurang terekspose dengan baik. Agar ketahuan siapa yang sedang difoto, bagaimana ekspresifnya orang yang sedang difoto, buatlah foto secara close-up. Dekat dengan wajah. Frame dipenuhi wajah si subjek hingga batas maksimal dada. Jika masih ingin mendapatkan latar belakang, beri sisa frame sedikit untuk sekedar menunjukkan latar belakang apakah subjek berada di outdoor atau indoor.

Foto di bawah ini sangat mewakili Mbak Chlara Saragi yang ekspresif. Tanpa saya beri tahu pun, Anda sudah tahu kemana kami akan pergi bukan? 😀 Lokasi: Perjalanan dari kantor ke stadion Gelora Bung Karno. Kamera: Canon Powershot A400.

chlara

Golden Momment dan Golden Hour

Ini sebenarnya rumus rahasia fotografer, tapi tak ada salahnya jika Anda tahu agar hasil foto yang dibuat lebih cemerlang lagi. Golden Hour adalah waktu-waktu dimana sebuah tempat memberikan pemandangan yang paling fotogenik. Masing-masing tempat berbeda, tapi pada umumnya, golden hour terjadi pada waktu sinar matahari masih berada pada kemiringan rendah, yaitu pagi hari di saat matahari terbit hingga jam 9 pagi. Sore di saat menjelang matahari tenggelam, atau jam 4 sore hingga jam 6 sore. Lain lagi dengan fotografi Infra Red (IR), golden momment terjadi pada saat siang terik (jam 11 – jam 2 siang) agar efek IR-nya dapat. Foto saya yang berjudul Bermain Bola ini jelas memanfaatkan golden hour di pagi hari.

Golden momment adalah waktu sebuah tempat memberikan best view-nya. Mirip dengan golden hour, tapi tidak terjadi setiap hari. Misalnya, kalau Anda ingin memotret keindahan alam Bromo, datanglah pada bulan Juli – September karena selebihnya akan untung-untungan saja [Goenadi Harjanto – Majalah TheLight edisi 7/2007]. Lain lagi dengan Puncak Rinjani, datanglah pada musim hujan karena awan-awan hujan akan mewarnai langit Rinjani dengan warna yang sangat luar biasa.

Wokeh? Got the pictures? Belom?!? Yasud, selamat liburan dan jeprat jepret kalau gituh. Hati-hati tertarik dengan hobi fotografi lho kalau tiba-tiba foto Anda menjadi bagus, sayah tak mau bertanggung jawab. ;)) Saya tunggu share-share-an hasil foto Anda. Cheeeers! 🙂

Published
Categorized as Fotografi

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

21 comments

  1. mas, saya terus terang pgn bisa fotografi n jadi photografer prof..tapi gak tau harus memulai dari mana..:( yaudah, pke kamera digital yah notabennya tgl jeprett asal jepret..:(

  2. mas, saya baru make canon PS- s5is nih
    tp sering dipake untuk moto2 di tempat rame…
    dan bisa diketahui hasilnya…gak karuan banget….yang mana POI yang mana latar belakang….
    mas taw gk cara bikin out of focus di camera ini??? ^^
    thx

  3. #fifiani:
    coba set kameranya di mode Av, pastikan nilai F-nya yang paling kecil (F/2.8 misalnya). Jarak pemotret – POI harus lebih dekat daripada jarak POI – background yang pengen di out of focus kan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *