Menikah di Mata Cowok (Baca: Saya)

Disclaimer:
Hehehe… sori dori mori, topiknya masih seputaran melankolis dan cintah.. ๐Ÿ˜› Dan sekali lagi, postingan di bawah ini sangat sok tahu, jadi jangan terlalu diambil hati kalau saya terlalu menggurui secara teoritis ;))

*

tinggi tidak lebih dari 150 cm, berkulit putih kemerahan, muslim, berkerudung,banyak omong,, mengidamkan jejaka yang mau segera diajak melakukan sunah rosul,alias menikah, untuk keselamatan dunia akhirat,,,

Baris-baris di atas saya temukan di halaman profile friendster-nya seseorang yang ada di daftar teman saya. Mirip kata-kata yang sering kita temukan di kontak jodoh. Kata-kata terakhir cukup menohok. Sunah Rasul. Menikah. Hal yang dalam agama saya hukumnya sunnah dan bisa menjadi wajib. Soal siapa pemilik kata-kata itu, tak usahlah saya beri tahu, yang jelas dengan membaca kalimat itu, ciri-cirinya… imut-imut, putih, berkerudung… ๐Ÿ˜€

Agaknya, ada perbedaan persepsi dalam memandang permasalahan pernikahan antara pria dan wanita. Wanita cenderung lebih cepat siap untuk memasuki jenjang pernikahan daripada pria. Ada berapa banyak wanita yang menunggu calonnya untuk segera memasuki jenjang pernikahan, sedangkan sang pria cenderung mengulur-ulur saat tersebut? Ada berapa banyak hubungan yang gagal karena perbedaan persepsi seperti ini? (halah, sampel-nya kok pribadi — just for personal touch dear… ๐Ÿ˜‰ ).

Pria membutuhkan kesiapan lebih dari materi untuk menyiapkan kehidupan baru bernama pernikahan. Dipandang dari luar, seorang pria mungkin telah siap secara materi: wajah relatif tidak terlalu mengecewakan, cukup dewasa, memiliki pekerjaan tetap, karier yang cemerlang. Apa lagi yang menghalangi pria untuk berkata: “Oke, saya siap menikah.”?

Pria adalah kepala keluarga, tulang punggung keluarga. Di tangannya masa depan keluarga akan dibentuk. Di tangannya anak-anaknya akan tumbuh besar. Inilah yang saya rasa membuat pria tidak siap secara mental. Hal yang lebih berat lagi adalah, ia harus meninggalkan dunia kekanak-kanakannya (ingat pepatah pria tak pernah dewasa?). Belum lagi masalah keluarga yang pasti seabrek. Pernikahan berarti menyatukan dua keluarga besar yang berbeda prinsip. Dan masih banyak lagi tantangan-tantangan yang “menakutkan” bagi pria.

Tapi pertanyaan lebih lanjut adalah, jika pria sudah siap, maka itu seberapa siap?

Waktu makan malam bareng di food court Plaza Semanggi — waktu itu saya baru saja “memperjelas” sebuah hubungan yang harus “berakhir” — Pak Bos saya bilang, “Lih, kamu kalau tetap ada di bingkai pemikiran itu, kamu tidak akan pernah siap!”

Lalu, bingkai pemikiran yang seperti apa agar segera siap? Anda punya tips dan saran yang jitu? Saya juga ingin mendengar paparan dari sudut pandang wanita soal masalah ini nih. Kenapa wanita begitu mudah mengatakan “Aku siap menikah.”? Buat para wanita, beruntunglah Anda yang memiliki pasangan yang mengajak segera menikah. He must be a wise man… ๐Ÿ™‚

Published
Categorized as Melankolis

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

25 comments

  1. wow… beneran aku pertamax :))

    Jadi penasaran neh… topiknya ๐Ÿ™‚
    btw, bentar lagi bulan haji lho… bakalan banyak neh janur kuning melengkung. Semoga mas Galih salah satunya. Pengen gak?

    anyway, tentang meninggalkan masa kanak-kanak… masa having fun… gak kebayang deh. walopun pernah berpikir untuk mengakhirinya ๐Ÿ™‚

    untuk meringankan beban sang pria dalam memutuskan untuk berumah tangga, sepertinya kita perlu pendamping yang sesuai… sesuainya gimana yah? klo aku sih yang mau diajak hidup susah, wkk :). Klo mau diajak hidup susah, ntar klo senengkan gak kaget :p. jangan ampe kebalik… hehe.

  2. oi oi, sunnah di situ bukan sunnah yang bermakna wajib-sunnah-makruh.

    sopo rek? sial fs-ku udah gak pernah kukunjungi? ada yang ingat login dan passwordku? via japri ya. ๐Ÿ˜›

  3. Saran semua sudah jelas kan…
    Sebenernya kita ini nggak nyari saran, lih.
    Kita cuman nyari pembenaran tentang pilihan untuk menunda nikah(kalo ada calon) kalo aku seh emang mo nikah sama sapa :D. Misalnya punya impian sekolah S2, pengen punya rumah dulu, belum merasa cocok.

    Kadang memang harus modal nekat dan memaksakan diri(cara jawanya seh “leap of faith”). Toh, temen2 kita yg udah nikah aku rasa modalnya juga nggak gede2 amat. Mereka cuman bondo yakin aja. Si Surya malah udah punya anak, walau hidup pisah sama istrinya.

    Intinya… just do it…

    Kayaknya begitu….

  4. #nRa:
    Entahlah ndrak, yang lebih penting adalah bukan kemauannya, tapi siapa yang menjadi target kemauan tersebut ๐Ÿ˜€

    #Mas Colimi:
    Ah iya, maksudku juga begitu. Nggak ada hubungannya dengan sunah yang ada di quote. Sori kurang jelas deskripsi dan pemisahannya. Clue tentang siapa dia, tinggal cari saja daftar cewek idolaku (baca: yang pernah aku taksir) di masa kuliah. Pasti ketemu ๐Ÿ™‚

    #Anang:
    ๐Ÿ˜€

    #dnial:
    Yes, aku setuju itu. Tapi, untuk mencapai state of the art itu (kenekatan), gimana caranyah? Haqqul yaqin terhadap pasangan? Atau gimana?

  5. Intinya itu ya….koe kudu tanya pada dirimu..niat Ngak? kalo belum ya santai saja…Kalo sudah niat, saat inipun bisa (Siap nikah). murah kok di KUA sekitar 50.000 n maskawin 50.000 total 100.000 murah kan.

    Masalah siapa yang dinikahi/kriterianya gimana? seribu cara mendapatkannya..

    contoh: “bisa lewat kontak jodoh, teman, ortumu, atau kamu kembali kekampus bilang ma Kajurmu, dekan,rektor atau Telepon Pak Nuh..ha..ha buanyaaaak cara and DLL,DLL…………”

  6. #xendro, kang nana:
    Hmm… niat… oke, terima kasih pencerahannya ๐Ÿ™‚

    #aji:
    Setelah ada yang mau mengerti saya, tentu saja. ๐Ÿ™‚

    #tukangmoto:
    hmm… kok kayak kata-katanya dia ya (halah! suruh ngelupain kok malah mengingat-ingat) =))

    #purna:
    nyindir pur? ๐Ÿ˜›

  7. Kenapa wanita begitu mudah mengatakan รขโ‚ฌล“Aku siap menikah.รขโ‚ฌย?
    nyindir aku nih kayaknya… [-(

    Uhmmmm… kenapa, ya? ๐Ÿ˜•
    Karena wanita bukan kepala keluarga, mungkin? ๐Ÿ˜€
    Tugas kepala keluaga (laki2) kan lebih berat! ๐Ÿ˜›

  8. nanti Lih,
    di suatu hari nanti, ketika kamu sudah bertemu dengan “orangnya”, kamu akan ngerti apa yang dimaksud dengan “yakin” itu.. believe me, i’ve been there too.. hihihihi..

  9. kadang-kadang orang juga ragu menikah karena idiom lama. “Menikahi perempuan berarti menikahi keluarganya”

    jadi mungkin yang laki-laki merasa perlu mengenal seluruh keluarga si cewek dulu.

    @mas Rachmad
    orang keberapa yang diyakini nih mas? ๐Ÿ˜›
    yang ketemu di kebun binatang ta? ๐Ÿ˜€

  10. hmmm
    sepertinya bukan cuman para pria koq yang ga siap nikah ๐Ÿ˜€
    wanita juga, beraneka ragam alasannya
    ada yg masih ingin sendiri
    ada yang masih ingin membantu ibu dll

    tapi klo qt dah ktm ma org yg tepat dan saat yg tepat, insyaAllah kesiapan dan keyakinan akan muncul dengan sendirinya

    tapi untuk yakin itu sesuatu hal yang tidak mudah ๐Ÿ˜€
    aplg klo bln pernah kenal sblmny
    amat sangat susyeh

  11. Lelaki mank githu ya.? Blg dah siap, tp…. Tunggu ya..!! ๐Ÿ™ lumayan kesal, n m0 mrh. Tp, maybe 4WI lum mjodohkn. Wahai akh, smp kpn anda siap??? Q siap koQ…. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

  12. nikah itu hanya untk org2 yg berani.
    pecundang gak masuk rumus.
    dan pecundang itu adlh org yg ngomongin nikah tp dia sndiri belum nikah.
    ingat tu…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *