Tim yang Baik dan Solid

Alkisah, dua teknisi IT dari background pendidikan yang berbeda bergabung dan bekerja sama dalam membangun sebuah aplikasi. Teknisi A bertugas membangun infrastruktur dan desain network dan server. Kebutuhannya adalah, server harus tetap tangguh ketika diakses oleh 10.000 pengguna secara bersama-sama. Teknisi B bertugas membangun sistem perangkat lunak yang akan dipasang di atas server tersebut. Kebutuhannya adalah, program harus cepat, tangkas, responsif, dan memiliki sistem validasi yang baik tanpa terlalu banyak membebani kerja server yang sudah berat melayani banyak koneksi.

Ternyata, dua teknisi ini membawa konsep dan desain yang berbeda sehingga pada akhirnya, ada beberapa data yang tidak lulus uji standardisasi. Teknisi B (sistem) berkata, “Itu disebabkan oleh desain dan infrastruktur servernya! Tahu cara menyusun server tercluster nggak sih?” Teknisi A (infrastruktur) berkata, “Itu pasti programnya jelek, terlalu banyak bug, dasar programmer culun tak punya pengalaman!”

Well… anyway, mereka seharusnya menjadi team yang solid bukan? Seharusnya ego masing-masing bisa ditekan untuk kepentingan bersama bukan?

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. mereka orang teknis harusnya bisa menyajikan dengan fakta dan data .. jgn beretorika saja . itu tugasnya manajemen/marketing hehehe .

    dan apapun hasilnya harus legowo .. tapi krn saya seorang tukang coding , hmmmm harus bilang terkadang programmer itu lebih tahu krn dia tahu daleman , tahu socket etc

  2. *moga-moga pertamaxx*

    aku pernah ngalamain itu pas lagi kerja team, akhirnya mau gak mau yang muda yang ngalah ;p

    biasanya waktu jaman kuliah dulu, kalo kerja team malah gak jadi-jadi programnya, mending jadi superman aja mulai desain, sampai tahap maintenance kita yang bikin sendiri,. gak papa yang lainnya nunut nilai dapet “A” tapi kita yang dapet pengalaman. 🙂

    kalo single developer lebih gede tanggung jawabnya, tapi yang penting kan ntar hasilnya masih ke kantong sendiri, tp ya jangan lupa sedekah…

    *makasih mas galih, udah mampir ke web ku*

  3. #costfix, aji:
    justru di situlah ada kelemahan besar terjadi. kita menjadi tidak terbiasa untuk bekerja dalam tim. kalau dipaksakan, yang ada adalah gontok2an, saling ingin membuktikan diri sebagai yang paling handal, tidak mau menerima hasil pemikiran orang lain. superman akan menjadi pandai dalam hal teknis sekaligus bodoh dalam teamwork.

  4. wkk… masalah gitu mah udah lumrah dipasaran…
    yang namanya ego sulit dipisahkan dari diri kita :).
    btw, sepakat ama mas Khol… yang penting komunikasi.
    gak tau lagi klo diantara si A dan si B ada dendam kesumat 🙂

  5. Sori, gk ada hubungannya ma tulisan di atas.

    Dear Galih, I’ve already mailed you my problem…Pliss check it and fix it plis.

    Gk pake lama yo 🙂

  6. Itu argumennya udah ad-hominem, lih.
    Biasanya kalo gitu masalahnya mereka dah nggak saling percaya, ato merasa terancam sehingga berusaha menjatuhkan lawan.

    Kalo masih saling percaya, masio marah paling argumennya:
    Tim A:”Coding bagian jaringan harus dibenerin soalnya nggak sesuai sama desain kita”
    Tim B:”Desain jaringannya kok ternyata nggak sesuai sama yang awal? Kalau mau diubah ngomong!”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *