Generasi Ipod, Generasi Penuh Kabel Semrawut

Saya adalah generasi Ipod, generasi yang besar dalam zaman penuh dengan serangan berbagai macam gadgets. Zaman ini katanya adalah zaman nirkabel, tanpa kabel. Tapi apa kenyataannya, lihatlah foto di atas yang begitu mewakili dunia saya. Mayoritas dipenuhi oleh kabel. Ketergantungan terhadap listrik begitu besar. Apa jadinya saya kalau hidup tanpa listrik?

Mari saya hitung:

  • Paling pojok kiri adalah DVD Avatar yang sedang saya tonton. Di bawahnya, ada buku yang masih belum sempat terbaca membayangi. Praktis, kini saya hanya bisa membaca buku ketika makan saja.
  • Sebelah kanan atasnya adalah set kabel untuk charger notebook Acer Travelmate pinjaman yang sedang saya pakai.
  • Sebelah kanannya lagi adalah set kabel untuk enclosure hardisk. Semua data-data saya ada di situ hardisk IDE yang saya beri rumah dari stainless steel putih keperakan.
  • Di bawahnya ada handsfree untuk Sony Ericsson Walkman.
  • Sebelah kirinya adalah kabel data untuk SE Walkman jika sedang bertindak sebagai modem GPRS.
  • Sebelah kiri lagi ada charger Nokia 2115 CDMA
  • Sebelah kirinya ada charger Sony Ericsson W200i
  • Sebelah kiri ada charger Motorolla C-350
  • Dua remote control itu remote untuk tivi dan AC
  • Sebelah kanan adalah charger untuk kamera DSLR Nikon D40
  • Sebelah kanan charger tersebut adalah kabel data yang menghubungkan kamera dengan komputer. Sebuah mini USB.
  • Terakhir, adalah tiga HP saya. Dua GSM, satu CDMA. Saya adalah korban perang tarif palsu bin akal-akalan antar operator sehingga harus membawa-bawa tiga HP yang berbeda.

Semua kabel yang saya sebutkan tidak kompatibel satu sama lain. Masing-masing memiliki lubang yang unik. Dagelan paling konyol yang pernah saya jumpai di dunia nirkabel ini. Masing-masing memiliki standar colokan charger sendiri. Persis seperti standar keyboard laptop dan keypad HP. Ada standar Motorolla, ada standar Nokia, ada standar Sony Ericsson, ada standar IBM Thinkpad, ada standar Acer, dan sebagainya dan sebagainya….

Paman Tyo, begawan blog kita, telah menuliskan sindiran ini dengan sangat anggun. Beliau menunjukkan tulang-tulangan ikan lucu yang ternyata berguna untuk mengikat kabel-kabel itu. Sayangnya saya belum pernah menemukan dimana bisa membeli barang lucu dan menarik ini. Tapi kata Paman Tyo lagi, versi murahnya ada di toko Serba Goceng. Aih, meluncur ke sono dulu aah…

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

12 comments

  1. Yang saya impikan cuma ini:

    1. Revolusi baterai. Cuma sekuku tapi tahan 10 tahun — dan ramah lingkungan.

    2. Semuanya nirkabel, tanpa interferensi, dengan pairing atau handshaking yang bagus.

    Namanya juga mimpi, boleh dong kalau rada hil yang mustahal 😀

    Yang paling menjengkelkan di meja kerja saya adalah power suppies, tepatnya kabel. Ada sih solusinya, tapi mahal.

  2. #ardy:
    Book Fire masih seri 1-4 kok. Aku beli dari PGC (Pusat Grosir Cililitan). Sekarang ndak bisa download lagi. Fakir bandwidth.

    #ardy, anang:
    hus, saya ndak punya ipod. saya cuma menamakan generasi saya ini generasi penuh dengan serangan bermacam-macam gadgets. gadget yang paling mewakili dan populer ya.. ipod 🙂

    #paman tyo:
    baterai terkait masalah bahan paman, selama efisiensi energinya masih rendah, mimpi paman masih jauh tuh 😛

  3. Saya ga punya banyak gadget banyak, cuma dua tapi tetep aja bingung kalo listrik mati.

    Eh mas, itu gadget sebanyak itu apa ga habis waktu buat ngurus gituan. Apa karena cash in flow-nya gede ya? 😛

  4. mmang skrg jaman serba kabel,tp hati2lah dlam pnggunaan kbel,it smw bs jd kt congekan ato tuli,cos d pngrh negatif ktiki kt mndngrkn mp3 ato mnlpon tmn,sbb dr tuli it adlh sinyal dan gtrn yg dahsyat saat kt mndngrkan musik d mp3ato hp.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *