Menulis itu Memang Perlu Komitmen dan Energi

Kemarin, ada teman saya yang lewat dan sepintas lalu melihat saya menulis dalam kotak writing di WordPress. Sambil lalu dia berujar, “Heran gw lihat orang-orang itu, kok bisa-bisanya punya energi buat menulis…, gw bener-bener ngga punya energi buat itu.”

Yeah, menulis memang perlu energi dan komitmen. Namun yang lebih penting sebenarnya adalah faktor kecanduan dan cinta. Sesibuk apapun (bloody busy — kalau meminjam istilah ibu dosen ini), kalau sudah kecanduan untuk menulis, apapun bisa jadi posting. Seperti saya sekarang ini, hehehe… Tiba-tiba ide bahan tulisan muncul di setiap waktu.

Hal yang paling mudah untuk ditulis tentu saja adalah catatan harian. Topik ini juga dapat dikonsumsi oleh siapa saja. Ringan. Jika ingin mengundang banyak komentar, cobalah menulis dengan sedikit kontroversial, bila perlu mengundang perdebatan. Para blogger selebritis sangat lihay dalam menulis posting semacam ini. Kontroversial, tapi halus, kalem, mengalir, dan tidak vulgar. Kita tidak sadar tiba-tiba telah mengetik di kotak komentarnya.

Di lain pihak, topik-topik yang berat-dan-menusuk lebih sulit untuk ditulis. Memerlukan energi yang jauh lebih besar. Postingan saya mengenai Isolasi Objek pada Sebuah Foto menghabiskan waktu istirahat siang saya. Topik-topik berat juga jarang mengundang komentar karena tidak semua orang nyambung dengan topik ini. Tetapi jika dilihat dari statistik blog saya, top hit justru pada topik-topik yang berat. Secara periodik diklik via referensi dari search engine. Itu yang membuat saya terus semangat untuk menulis topik berat.

Namun, menulis topik berat semacam tutorial fotografi atau ilmu komputer rawan mematahkan semangat dan mematikan ide. Ya, secara perlu energi yang lebih besar untuk menuliskannya. Perlu waktu yang lebih panjang untuk menguraikan. Kalau sedang sangat sibuk, topik-topik semacam ini sulit untuk ditulis. Ide ada, tapi energi habis. Oleh karena itulah saya tidak mampu membuat blog niche. Ketika saya sangat sibuk, untuk tetap mempertahankan mood menulis, saya menulis topik-topik ringan. Misalnya tentang Sandal yang Hilang 😀 . Seringkali hanya posting foto yang praktis dan cepat. Jika saya membiarkan dan berhenti menulis karena tidak ada waktu untuk menulis topik berat, lambat laun ketika saya punya waktu untuk menulis pun, saya merasa bahwa saya tak punya energi untuk itu.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. hahahaha…
    menulis itu semacam candu lih …
    candu yang sama terdapat dalam rokok, permen, kopi, cemilan dlsb ..
    kalo belum pernah ngerasain enaknya .. susah njalaninya ..
    kalo sedikit aja kita bisa ngerasain .. kayak g ada habisnya…
    analogi yang sama kaya orang yang kalo g ngrokok g bisa kerja ..tapi yang g ngerasain mungkin bilang.. mana mungkin rokok bisa ngasih energi ..
    kalo rokok candunya nikotin..
    mungkin kalo menulis, candunya .. actualizatiin.. homo, homini socius .. right ??
    sama kaya ngerokok.. kalo g pengen mampus jangan langsung klobot.. tapi yang mild dulu .. (weleh poso2 kok maleh promosi rokok).. begitu pula dengan menulis.. tulis yan ringan2 dulu…

  2. hahahaha, mas dewa tul tuh,..
    Galih dah kecanduan tuh, rame blogna 😀
    but yah itu, ketagihan buat nulis kan lih, kekeke

  3. Bener-benar tulisan yang ringan, namun memberikan wacana yang penting (ber@t :D) untuk menemukan / mendeskripsikan kondisi moOd menulis.

    Great….

  4. #erwins:
    ingin sekali menelurkan satu buku lagi. tapi menulis buku memerlukan energi yang sangat besar. harus telaten karena setiap kali selesai menulis hasilnya tidak bisa langsung digunakan. tidak seperti posting blog. 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *