Tinggalkan Microsoft Office? Ntar dulu kali yee…

Melanjutkan postingan ini.

Ada banyak hal ternyata — yang baru saya sadari — kenapa orang tidak mau pindah ke open source dan tetap bertahan di software propietary. Mari saya daftar satu per satu.

Ketergantungan dan Kebiasaan

Faktor utama tetap, tentu saja, yaitu ketergantungan dan faktor kebiasaan yang telah mendarah daging sejak era Windows 95. Dulu dan hingga sekarang, Windows dan Office telah menjadi standar pelatihan-pelatihan kerja. Tadi waktu lewat jalan Dewi Sartika, saya bahkan masih menemukan spanduk reklame pelatihan Microsoft Office. Saya belum pernah melihat ada spanduk reklame lembaga pelatihan kerja yang menggunakan OpenOffice.org 😀

Ketidaktahuan Bahwa Office itu Harus Bayar

Ini ironis. Ternyata masih banyak yang tidak tahu kalau Windows dan Office itu pemakaian software-nya harus bayar, dan bahwa software yang dipakainya adalah bajakan. Ini dialami di kota-kota kecil macam Tulungagung, kampung halaman saya. Seorang pengajar komputer di sebuah SMA bertanya ketika saya menunjukkan aplikasi OpenOffice, dan dari dialog, dia baru tahu kalau selama ini ia mengajar software yang telah dibajak.

Bagaimana dengan saya sendiri? Ternyata, saya tidak berani berkampanye soal Free and Open Source Software (FOSS). Ketika saya membelikan sepupu sebuah notebook ber-brand Acer yang tidak ada sistem operasinya, saya tidak berani menginstallkan sebuah Ubuntu di situ. Mungkin kalau saya di dekatnya, saya bisa mengajarinya pelan-pelan. Tapi untuk sebuah instalasi Linux yang dimana saya tidak ada di dekatnya untuk memberikan support, saya tidak berani. Walhasil, saya menyerah dan menginstall Windows dan memberikan OpenOffice sebagai Microsoft Office.

Citra

Nah, ini masalah citra yang terlanjur terbentuk di wajah FOSS. Kesalahan besar yang mungkin dilakukan oleh para pengenal FOSS di jagad Indonesia. Bahwa FOSS itu identik dengan gratis! Ini sangat tidak sejalan dengan image building, khususnya untuk suatu perusahaan. Jumat kemarin, sebuah perusahaan asuransi, CAR, melakukan presentasi. Notebook yang dipakai adalah Acer ber-Windows XP. Presentasi yang dipakai adalah OpenOffice Impress (PowerPoint-nya OpenOffice). Meskipun presentasinya bisa dilihat (tapi jangan dibandingkan dengan PowerPoint 2007), spontan saya nyeletuk berbisik di telinga teman saya, “Eh, dia nggak kuat beli Office tuh… ;)) ”

Alternatif yang gratis yang sedang melawan dominasi market leader yang mahal, ternyata menimbulkan kesan seperti itu di kepala saya dan sangat mungkin di benak banyak orang awam. Ini jelas merusak kesan yang ingin dibentuk para presenter handal itu.

Published
Categorized as Internet

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. Pencitraan yang salah.
    FOSS tidak selamanya gratis. MySQL juga ada yang mbayar(kalau kita emang serius makai, tambahan biaya adalah biaya support n maintenance dari MySQL).

    Tapi kalau suruh milih antara Office sama OpenOffice.org aku sih tergantung adanya apa, dua-duanya bisa. Asal bukan Office 2007, malah bingung makainya.

    Gimana kalau pencitraannya diubah, FOSS itu susah, hanya orang2 expert yang bisa. Berarti, pakai FOSS => Smart.
    Tapi lagi2 marketnya berkurang. :p

    Yang paling bagus adalah, pakai FOSS => keren. JAdi kalau pakai pidgin, firefox, openoffice.org, linux, totem, berarti cool B-)

  2. #dnial:
    FOSS => Smart aku rasa sudah kok. Orang2 yang pakai Linux dan konco2nya mengesankan maniak komputer dan ahli dalam IT. Yang perlu dibangun adalah citra FOSS => keren. Tapi susah juga yah, soalnya masih sedikit FOSS yang menyamai bahkan melebihi propietary. kalaupun ada itu di sisi server, bukan end user (contoh: Apache Webserver).

Leave a Reply to dnial Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *