Tentang Logo ITS

Membaca rasan-rasan mas ini, saya juga tertarik untuk mengomentari logo ITS yang sudah beberapa waktu ini memakai logo yang baru. Kebetulan, saya lumayan banyak tahu bagaimana proses logo baru ini lahir.

Inilah logo ITS sekarang. Memang ada beberapa variasinya yang bisa dibaca di panduan penggunaan logo. Tapi siapa mau baca panduan? Orang paling sering memakai logo yang itu karena itulah logo primer. Well, apa pendapat saya yang buta ilmu desain grafis terhadap logo baru ini? Secara warna: brilian! Penyederhanaan tiga warna menjadi duochrome. Secara hukum keseimbangan: payah! Bentuk logo seperti ini tidak fleksibel. Tak bisa ditempatkan di tengah apalagi di kanan karena akan mengesankan njomplang (apa ya bahasa indonesianyah?). Apa akibatnya? Semua pernik-pernik yang melibatkan logo ITS menempatkan logo di sebelah kiri. Desain Buku TA dirombak habis, dengan menempatkan logo di sebelah kiri.

Guru desain grafis saya, Arif Marzuki, yang termasuk dalam tim pembuatan logo baru (istilah yang dipakai lebih keren — saya lupa) mengatakan bahwa tujuan menempatkan ITS – Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan tipografi khususnya adalah untuk mengedukasi masyarakat bahwa singkatan ITS bukanlah Institut Teknologi Surabaya. Namun apapun hasilnya, lanjutnya, hal yang tak kalah penting adalah keberhasilan tim logo mengedukasi eksekutif-eksekutif ITS bahwa sebuah logo bukanlah hal yang harus disakralkan. Logo kini bukanlah semacam ajimat mantra-mantra nan sakti mandraguna, namun lebih ke sarana edukasi, komunikasi, dan promosi kepada masyarakat. Melihat kesimpulan terakhir ini, tersirat bahwa proses kelahiran logo ini tidak hanya melibatkan orang-orang yang berkompeten dalam mendesain logo. 🙂

Kemudian kata mas ini lagi,

Di panduan sih ada banyak aturan ini itu, tapi sama sekali tidak menyebut apa-apa tentang web.

Hehe, mungkin saya adalah pihak yang paling bertanggung jawab ketidakmunculan penggunaan logo ini pada web di panduan. Bagaimana membuat panduannya kalau saya sendiri bingung menempatkan logo ini secara rapi di web. Layout yang saya bisa buat variasinya hanya begitu-begitu saja: header kotak selebar 100-an piksel, logo di kiri. That’s all.

Waktu pada akhirnya saya berhasil mendesain web ITS code-named fitri [v3] — desain terakhir saya untuk ITS — saya tidak menggunakan logo primer. Logo sekunder bisa ditempatkan di tengah dengan manis. Tapi tentu saja, logo sekunder tidak membawa semangat tim desain logo untuk mengedukasi masyarakat tentang singkatan ITS yang sesungguhnya. Tapi mesti bagaimana lagi? Lhawong saya tidak sreg dengan logo primer-nya ITS je. Semoga generasi penerus saya bisa memberikan solusi. 🙂

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

  1. corporate Identity itu harus melalui riset yang baik, tp kenyataan bahwa logo (CI) sudah selesai, walau memalui atau tidak riset yang baik, semua stake holder harus memaklumi dan menerima, karena dalam kurun waktu 5-10 tahun mendatang CI bisa dikoreksi kembali, begitu menurut saya
    apabila ternyata anda tidak bisa menerima CI anda yang baru….ada beberrapa hal, apakah CI baru melalui sosialisasi yang baik dengan memanfaatkan momentum yang tepat atau….pertanyaannya justru berbalik ke anda. anda dalam keadaan ” sehat” atau tidak

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *