Antara Pendidikan Zaman Penjajahan dan Zaman Kemerdekaan

Kalau kita membaca buku-buku sejarah perjuangan bangsa merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda, ada beberapa sekolah yang didirikan Belanda seperti misalnya: Hollandsch-Inlandsche School (HIS), pendidikan dasar; Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setara dengan SMP; Algeme(e)ne Middelbare School (AMS), setara dengan SMA. Pada zaman itu, sekolah-sekolah ini hanya diperuntukkan bagi orang Indonesia pribumi. Yang dimaksud dengan pribumi adalah anak-anak golongan bangsawan, tokoh terkemuka, dan pegawai negeri. Selain dari itu, dipastikan tak bisa mengenyam pendidikan.

Sekarang zaman kemerdekaan. Sudah tua pula: 62 tahun. Tapi, berbedakah pendidikan zaman kemerdekaan dengan zaman penjajahan? Saya terpaksa menjawab: tidak 🙁 . Mungkin saya adalah generasi yang masih beruntung bisa menikmati pendidikan tinggi dengan biaya yang masih cukup terjangkau oleh kantong orang tua saya yang PNS biasa. Pendidikan strata satu saya yang saya tempuh di ITS, hanya berbiaya Rp. 650.000 per semester. Sekarang? Adakah institusi perguruan tinggi negeri top yang menawarkan biaya segitu? UI yang terkenal dengan Fakultas Kedokteran-nya, ITB dengan segala Teknik-nya, UGM, Unair, dan bahkan ITS, tak ada lagi yang menawarkan biaya pendidikan segitu. Berikut kutipan dari Jawa Pos tentang biaya pendidikan di ITS:

Maba ITS wajib membayar Rp 1.250.000 untuk SPP, Rp 900.000 untuk orientasi dan informasi, serta Rp 3.500.000 untuk sumbangan pengembangan institusi (SPI). Jumlah seluruhnya Rp 5.650.000. “Mereka yang mengajukan keringanan boleh mencicil dalam satu semester,” kata Sugeng.

Kini, bahkan playgroup yang sejatinya hanya tempat bermain telah mencekik leher orang tua dengan biaya berjuta-juta. Sekolah-sekolah SMP dan SMA favorit tempat siswa bisa belajar bersama siswa-siswa berotak jenius juga telah melambungkan biayanya.

Jika dulu pemerintah Belanda hanya mengkhususkan pendidikan hanya bagi golongan bangsawan, sama saja dengan pemerintah Indonesia di zaman merdeka ini: mengkhususkan pendidikan hanya bagi golongan bangsawan pula. Jika dulu definisi bangsawan adalah keluarga yang memiliki hubungan darah dengan pembesar keraton, kini bangsawan diukur dari seberapa besar uang yang Anda miliki. Semakin besar uang Anda, semakin ningrat pula kedudukan Anda.

Merdeka! Dirgahayu Indonesiaku!

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. Iya yahh….aku juga baru sadar, ternyata dunia pendidikan di indonesia belum mengalami perubahan yang berarti. Padahal pendidikan adalah hal yang penting dalam mendukung kemajuan suatu negara lhoo.

  2. Hmmm…..
    Sekarang biaya aja jadi masalah sih…
    Anak sekolah bukannya nge bantu Ortu, malah bikin Ortu bingung soal biaya.

    Gimana kalo nggak usah sekolah aja, trus bantu Ortu nyari duit?
    Anak berbakti tuh…

    Aku bener2 nggak sekolah loh. Kalo nggak percaya, e-mail kesini, anang.sword@gmail.com

    ^^

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *