Keterbatasan D40 yang Menyelamatkan Saya

Salah satu hal yang hampir pasti dialami seorang fotografer pemula ketika membeli DSLR pertamanya adalah: kebingungan dalam memilih “agama”. Paling sering adalah kebingungan antara Canon dan Nikon. Tanya forum diskusi pun tak ada gunanya karena akan selalu menyulut debat kusir yang saling membela agamanya. Fanatisme dan kesukuan dalam merk Canon dan Nikon begitu kental, seperti perdebatan antara Windows dan Linux di dunia teknologi informasi.

Untunglah, saya tak terlalu dipusingkan oleh kebingungan semacam itu karena saya dibatasi oleh kemampuan finansial. Secara kemampuan, saya hanya kuat beli D40. DSLR seharga sekitar D40 waktu itu adalah Canon EOS 350D. Setelah mengalami proses riset kecil-kecilan, terutama gara-gara diracuni KenRockwell.com,  saya memutuskan untuk pilih agama Nikon. Hfff… padahal saya tak pernah merencanakan beli DSLR secepat ini. Impian yang ada malah berangan-angan sebuah notebook sekelas Acer.

Waktu itu banyak yang tidak merekomendasikan kamera ini. Alasan utamanya adalah, keterbatasan lensa yang bisa cocok dengannya. Hanya lensa Nikkor AF-S saja yang bisa auto fokus dengan kamera ini. Padahal, AF-S adalah generasi terbaru lensa Nikkor yang variannya masih sedikit. Dan tentu saja, jauh lebih mahal daripada Nikkor AF.

Tapi sekali lagi, keterbatasan inilah yang menyelamatkan saya untuk berboros-boros menghambur-hamburkan uang hanya untuk fotografi. Ada beberapa lensa yang mengusik perhatian saya, antara lain:

  • Nikkor AF 50mm f1.4. Bukaannya gede. Cocok buat foto panggung. Harga masih terjangkau kantong. Sayangnya, kodenya AF, tak bisa autofokus di D40.
  • Nikkor AF 50mm f1.8. Beda bukaannya nggak ada 1 stop dengan yang atas. Tapi harga beda jauh. Lebih murah. Mungkin kalau kamera saya support Nikkor AF, sudah saya beli lensa ini. Sayangnya, dia tak autofokus di D40.

Jadi begitulah, keterbatasan ini membuat saya lebih menyukai kamera ini. Untuk Anda yang benar-benar gila fotografi, yang bisa beli bermacam-macam lensa, saya sarankan untuk tidak memilih D40. Banyak lensa Nikkor AF yang legendaris yang tidak cocok di kamera ini. Selain itu, masih ada Tamron dan Sigma yang support habis-habisan. Lagi-lagi, Tamron tak punya satu pun yang bisa cocok di D40. Sigma, hanya segelintir lensa berkode HSM yang bisa cocok, dan itupun mahal 🙂

Published
Categorized as Fotografi

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 comments

  1. kalo saya “agamanya” canon, lebih mantab lensanya, tapi mahalnya na’udzubillah…
    tapi saya tertarik juga sama D40 itu, tapi lensanya masih terbatas yah? sebenarnya saya bukan pecinta fanatik kedua merek, bisa aja saya murtad pindah ke Nikon, ato bahkan yang lebih murah fujifilm FinePix S2 Pro, hehehe….
    *soalnya bukan fotografer pro, jadi gak pusing2 mikirin begituan*

  2. Boys don’t grow up, just grow old.

    Hobby memang bisa bikin bencana, gara2 suka maen futsal, kadang sepatu berjuta2 dipayu ae…
    Untung uangku terbatas, jadi g beli sepatu mahal2 :p

    btw, g ganti kamera, lih?
    Kalau g sangar g puas lho…

  3. #ardy:
    he-eh, Nikon.

    #hielmy:
    ah, lensa canon juga banyak yang murah kok, yang mahal kan yang seri Luxurious saja, bercincin merah. yang EF biasa juga ngga begitu2 amat kok.

    #dnial:
    selama ini masih sangat puas kok, nanti kalau sudah nggak puas ya upgrade ke D200 ;))

  4. sadar tidak sadar.. fotografi memang dekat dengan namanya keterbasan . keterbatasan
    – modal
    – fokal length
    – bukaan terbesar
    – speed
    – dynamic range

    disaat yg sama .. asyiknya adalah , dengan keterbatasan itu semua , kita masih memiliki imajinasi tidak terbatas untuk membuat foto .

    wah..omong apa aku inih :p

  5. ke depannya, perbedaan antara fotografer pemula dan expert memang bukan pada kamera, tapi pada kemampuan mengolah komposisi, pencahayaan, dan kawan-kawannya; alias pada kemampuan mengolah gambar dengan keterbatasan yang ada…

    [lagi mikir mo poliandri sama D40 setelah sama F55. apa tetap setia saja? apa diputusin aja sekalian?]

  6. Wadooh Mz..

    Ngmong mslh fotografi memang penuh dg ket’btasan (bnr kata pa le’ tukangmoto), hiks..
    khususnya buat aq yg slma neh, boro2 mo pk kamera DSLR bagoes ky Mz2 diatas pk kamera HP yg kpasitasx cm 1.3 MP ja da untung bgt, itu aja dapat pinjem dr nyonya, Oalaah..

    Tp aq b’skur mz.. kekurangan sprti neh mungkin bs qt jadikan inspirasi tidak terbatas untuk pengeditan sebuah hasil foto. (Walah, aq iki wes ireng kmentus…)

    ( Pa Le’ Tukangmoto Aq njiplak kata2mu ti2k gpp yo…?)
    Wkekekeke….!

Leave a Reply to black Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *