Dilema Seorang Fotografer

Halah, judulnya kayak saya sudah pakarnya motret selama bertahun-tahun saja, padahal pegang shutter pun masih gak bener. Tapi saya rasa, apa yang akan saya ceritakan ini pernah atau pasti dialami oleh fotografer baik yang profesional atau amatir, bahkan juga yang asal jepret pokok PeDe seperti saya.

Bagi saya, motret yang paling mudah sekaligus menyenangkan adalah motret landscape dan arsitektur bangunan. Tinggal menunggu golden hour, cari komposisi yang paling tepat, selesai. Kamera poket pun bisa menghasilkan gambar yang luar biasa, apalagi kalau retouch Photoshop ikut campur.

Motret yang menyenangkan tapi sulit adalah motret model. :”> Motret model harus bisa mengarahkan model, pandai menangkap aura dan ekspresi model, tahu cara cahaya jatuh di tubuh model, tahu bukaan yang tepat, tahu shutter speed yang tepat, dan sederet teknis yang ampun-ampun. Tapi menyenangkan, lhawong modelnya cewek cakep-cakep. ;)) Coba kalau modelnya janda-janda tua, hmm… pasti workshop photogaphy lighting technique tak banyak yang laku deh. 😛

Memotret human interest adalah hal yang paling dilematis. Bukan apa-apa, karena hal yang kita jadikan objek adalah manusia juga. Dilematis, di satu sisi saya ingin mengungkap suatu sisi kehidupan manusia, misalnya kehidupan masyarakat kelas bawah. Saya, dengan memotret itu ingin menyampaikan pesan bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung saya, dan oleh karenanya apa yang saya dapat harus saya syukuri. Di lain pihak, apa yang saya lakukan bisa dikatakan sebagai eksploitasi penderitaan orang lain. Saya menikmati penderitaan mereka dengan memotret sana sini tanpa melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Lihat saja kemarin waktu banjir Jakarta, berapa orang yang datang menonton banjir dan berfoto sana sini seperti layaknya sedang berwisata.

Ketika saya motret pemetik teh di kebun teh Cisarua, Puncak, saya datang baik-baik ke ibu itu, dan minta permisi untuk mengambil gambarnya. Namun, betapa terkejutnya saya melihat reaksi ibu itu setelah saya potret, ibu itu minta uang sebagai ganti. Saya cuma bisa mengelus dada, di mana letak keramahan khas Indonesia yang saya baca di buku pelajaran waktu SD dulu? Apakah itu hanya bull shit yang telah digilas oleh kebutuhan ekonomi? Ataukah memang masyarakat kita sekarang sudah pandai memanfaatkan kesempatan? Sekecil apapun kesempatan bisa untuk mencetak uang. Semua tak ada nilainya, kecuali jika diganti dengan uang.

Saya mungkin masih bisa memotret pedagang asongan, namun ketika saya menyusuri stren kali Ciliwung yang membelah Jakarta, atau menyusuri jalan kereta api dalam kota Jakarta, saya tak mampu. Terlalu menyedihkan untuk diframe dan dipasang di flickr. Atau jika Anda ingin, suatu saat saya akan memotretkan untuk Anda, kalau saya sudah mampu melawan dilema.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

10 comments

  1. dilema seorang programmer: mau pake algoritma A atau B, mau pake SDLC atau metode ‘ngawurpokokdadi’, mau pake bhs pemrograman apa yg gampang tp canggih..?

    hehe lebih susah mana, dilema seorang fotografer apa programmer lih?

  2. wah… dramatis sekali… kalo saya sih sebagai yang masih ‘amatir’ asik2 aja motretnya, temen2 kuliah saya pun OK2 aja kalo diajak jadi model dadakan..
    ternyata sampai segitunya ya dunia fotografer itu….

  3. #mba tuti:
    ah, kalo programmer mah nggak perlu dilema segala, yang penting beres, peduli aplikasi nggak bisa direfactor atau apa, toh bos juga ngga melihat value dari itu. bos cuma melihat beres cepet doang ;))

    #rd Limosin:
    itu kan cuma masalah motivasi aja, namanya sibuk tak akan selesai selesai *racun mode: on* 😀

    #adji:
    memang agak kudramatisir kok 😀 😛 ;))

  4. ketika memotret,,, maklum mas saya amatiran,,, yoh langsung jepret deh,, aku gak tau angle gak tau cahaya jatuh dari mana,,, pokoknya logika yang bicara,,, ketika kepingin foto kesenjangan kelas atas dan bawah,, yah moto aja,,, didepannya Mc. D surabaya plasa tuh banyak pedagang asongan ibu2 tua,,, sementara di dalamnya lagi asik makan ayam,,, hehe

  5. 1 lg, mas! banyak jg yg bilang kalo photographer itu biasanya playboy! *aku sendiri pernah membuktikannya* 😐
    Meskipun ga semuanya jg sih yg seperti itu! 😛
    *ralat duluan sebelum diserang oleh para photographer yg mengaku tidak playboy* ;))

    Btw… motoin aku aja, mas! ;;) Gratis, kok! :))
    Iya, sih… Pernah ada seorang photographer yg bilang… [:|] kalo dia pernah dimintai duit oleh bule2 yg difotonya di Bali! Wah, aneh jg ya? Kesannya kok komersil bgt? :-w Apalagi biasanya kan bule2 tajir gitu! [-( Ck ck ck…

  6. aku pernah motret seorang simbah2 penjual bakpia depan pasar bringharjo jogja, aku datang n ngomong mo motret beliau. pas lagi ngobrol, bukannya dimintain duit, malah disuruh makan bakpia. abis tu, pas pulang masih dibawain juga..moga2 yang mas alamin sama pemetik teh tuh emang mas lagi apes, dan yang saya alami akan sering dialami oleh mas kalo nanti motret lagi..

  7. wakakakkaka … pengalaman sama tukang petik teh Puncak???

    sama yg terjadi oleh seorang kawan ketika kita hunting di dekat2 situ.
    pelajaran buat yg belum pernah, yg paling gampang mending pastikan kita udah punya lensa zoom supaya bisa candid.
    padahal best picture ya mesti ambil dari jarak dekat …

Leave a Reply to Galih Satria Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *