The LightMagz Magazine

Dari rekan-rekan blogosphere, aku tahu majalah ini dan akhirnya subscribe mailing list-nya. Setelah download, dan membaca empat edisi terakhirnya, majalah ini sangat lain daripada yang lain dan memaksaku untuk mereview-nya.

Keunikan pertama adalah bahwa majalah ini gratis. Gratis, dalam artian Anda harus membayar biaya bandwidth untuk download karena majalah ini didistribusikan dalam bentuk e-book. Redaksi TheLightz kelihatannya sangat cerdik melihat celah ini. Dunia fotografi digital telah memasukkan internet ke dalam satu kesatuan tak terpisahkan darinya. Fotografer digital biasa bertemu dalam komunitas di internet, men-share foto dalam galeri di internet, sehingga sangat cerdik jika sebuah majalah yang menyasar pasar pengguna internet didistribusikan lewat internet juga. Tak perlu disibukkan dengan urusan cetak mencetak dalam jumlah besar, hingga proses pendistribusian yang memusingkan perancang budget. Distribusi melalui internet adalah distribusi yang luar biasa besar dan cepat dan tentu saja sangat efisien.

Kemudian, dari segi isi, TheLightz juga memiliki isi yang unik. Majalah lain pada umumnya memperbanyak isi pada pembahasan teknik-teknik memotret secara step-by-step, atau review kamera DSLR terbaru, review lensa-lensa, pembahasan digital processing pasca pemotretan, teknik pencahayaan studio, hingga segala tetek bengek yang berbau teknis fotografi. TheLightz mendiferensiasi dirinya dengan sama sekali tidak membahas hal itu. TheLightz memuat liputan wawancara dengan fotografer profesional dengan spesialisasi-spesialisasi tertentu. Ada fotografi wedding, landscape, sport, fashion, travel, dan komersial dilengkapi dengan foto-foto yang sangat “wah”.

Dari isinya, terlihat TheLightz menyasar fotografer menengah hingga tingkat ahli. Pembaca TheLightz diasumsikan telah mengerti dasar-dasar teknik fotografi seperti komposisi, bukaan diafragma, shutter speed, dan lighting. TheLightz mengklaim bahwa dengan membaca kisah perjalanan para fotografer profesional, pembaca bisa belajar selangkah lebih dalam daripada sekedar menghafalkan teknik step-by-step dalam memotret. Pembaca diharapkan belajar ruh dan aura sebuah foto, filosofi sebuah foto, dengan membaca wawancara yang dilakukan oleh TheLightz. Di sinilah TheLightz memposisikan diri dan mendiferensiasi diri.

Empat edisi perdana mendapat sambutan yang sangat baik dari komunitas fotografi Indonesia, terlihat dari jumlah halamannya yang menebal dan kualitas tulisannya yang membaik. Apakah TheLightz bisa bertahan dalam idealismenya yang unik? Apakah strategi unik dengan mendistribusikan majalah secara “gratis” ini bisa bertahan melawan majalah-majalah fotografi konvensional yang telah eksis? Kita tunggu saja kiprahnya. 🙂

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *