Sendiri

Tuhan,
Apakah memang berat, ya Tuhan?
Apakah berat ketika mendapati bahwa aku sendirian di sini?
Apakah memang berat ketika sadar bahwa sekarang aku benar-benar sendiri?
Benarkah seberat ini ya Tuhan?

Tuhan,
Aku tahu, aku telah memilih jalan ini
Karena aku takut akan mendapat cobaan yang lebih berat lagi di jalan itu
Aku tak akan sanggup di situ

Tapi, aku tak mengira kalau jalan ini benar-benar sepi
Angin dingin berhembus kencang melawanku
Sakit, seperti ingin terlempar di jalan itu
Ketika satu per satu, sahabat-sahabat seperti meninggalkan dan berjalan di situ
Semakin lama semakin sendiri saja aku ini, ya Tuhan

Sendiri,
Sepi,
Entahlah, mungkin aku harus mengukur langkah lagi dalam diam
Menyusuri jalan sepi ini dalam hampa
Meskipun perih, Tuhan….
Aku harus berkata, Karena kesendirian, adalah hal yang paling indah…

Jakarta, 8/6/2007
Ketika semakin akrab dengan sepi…

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

11 thoughts

  1. Kok masih ngerasa sendiri sih, Mas?
    Kan udh aku temenin kerja sambil ceting! Hehehe… =)) 😛
    [eh, aku tuh nemenin atau ngerecokin, ya? 😕 :))]

    Btw…
    May I give U a question?
    Kenapa harus “Tuhan”? 🙂

    Oh ya, tentang kalimat yg ini :
    “Karena aku takut akan mendapat cobaan yang lebih berat lagi di jalan itu
    Aku tak akan sanggup di situ”
    Udh pernah dicoba belum?
    Tau dr mana sanggup atau ga? 😛
    Toh ternyata jalan yg Mas Galih pilih seperti ini, “…aku tak mengira kalau jalan ini benar-benar sepi”

    Chayo, Mas Galih! Semangat!!! 😉
    Jangan sendiri mulu, loh! Ntar kesambet! Hehehe… 😛 😀

  2. Iya Lih, aku juga ikut mrinding. Habis motret villa yang sepi, terus kamu nulis ini. Kamu dipenjara di Villa itu ya Lih? Ada suster ngesot-nya kagak? Difoto juga dong.

    Sial! Ternyata kumatku sejak Rabu kemarin belum selesai. 😀

  3. #Nilla:
    Kenapa harus Tuhan ya? Karena ada saat-saat dimana aku sedang sedih, tak ada yang bisa dicurhatin, maka ya curhat ama Tuhan (sholat, dzikir, dkk). Dalam puisi versi aku, aku tak mungkin menuliskannya sevulgar itu. Tentang apakah aku berani mencoba jalan itu, hmm.. life is a matter of choices, the best you choose is the best you have. Semua pilihan punya risiko. Aku telah memilih jalan ini, dan aku tahu risikonya. Sampai kapan, aku belum tahu, mungkin sampai aku merasa siap, sudah cukup merasa memiliki ilmu yang cukup. Demikian penjelasannya 🙂

    #mas kholimi:
    lama gak muncul dalam blogosper mas? sibuk dengan PT-nya ya pak direktur? ;))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *