Pengalaman Pertama dengan Nikon D40

Pengalaman pertama yang sangat mengasyikkan. Kenikmatannya sama dengan ketika menjepret shutter release milik Nikon FM10, namun yang lebih seru, review-nya bisa dilihat di LCD yang super besar. Jadi kalau ada yang salah, misalnya terlalu over exposed / under exposed, focus yang lari, ISO yang salah, white balance yang salah, metering yang ngaco, langsung bisa diatur lagi dan siap dengan jepretan berikutnya. Mengasyikkan!

Orang mungkin bilang, belajar mendapatkan sense of photography adalah dengan mengasahnya terus-menerus dengan kamera manual. Kamera digital membuat pekerjaan memotret menjadi seperti tinggal “point and shoot” saja. Mungkin idiom ini benar, tapi harus diingat, memotret dengan kamera manual butuh lebih banyak waktu dan biaya. Biaya film yang harus dibuang, biaya pemrosesan negatif hingga cetak foto dan seterusnya. Kamera digital mengatasi permasalahan ini. Jadi, meskipun secara sense masih kalah, tapi kemampuan mengolah komposisi, cahaya, dan membidik moment yang tepat bisa dikejar dengan mengasahnya terus-menerus. Keep jepret, kata anak-anak FN 🙂

Kamera DSLR, memang sangat memudahkan fotografer. Ada banyak faktor dimana kecanggihan teknologi sangat membantu. Satu: Auto focus. Tinggal menset titik fokus lensa (D40-ku “cuma” punya tiga titik — itu sudah luar biasa bagiku — EOS 400D punya 7 titik fokus atau lebih!), tekan shutter release setengah dan tunggu bunyi tit, objek sudah terfokus sempurna. Bandingkan dengan alat bantu fokus manual milik Nikon FM10 yang sebuah lingkaran kecil di tengah berkaca belah. Kau harus membuat garis di lingkaran itu lurus, maka itulah objek yang terfokus. Ampun ampuun.. :((

Dua: Apperture Priority, Shutter Priority. Kita cukup menset salah satunya dan kamera dengan cerdas akan memilih pasangan yang cocok dengan keadaan. Misalnya, di cahaya ruangan, kalau kita menset diafragma di F/3.8, maka shutter speed akan diset secara otomatis di sekitar 1/30s.

Tiga: Metering yang canggih. Tinggal set titik-titik metering. Selesai. Apalagi ada electronic exposure display yang secara live mengatakan bahwa foto yang akan dibidik akan under exposed atau over exposed. Di Nikon FM10, indikator ini cuma dilayani oleh lampu LED (+) dan (-). Bahkan di kamera Ricoh tua milik Bang Uki, indikator ini berupa jarum seperti speedometer ;))
Walhasil, dengan kombinasi itu, memotret menjadi sangat mengasyikkan. Ingin foto backlit, atau siluet, atau tegas dengan flash light, freezing object, membuat efek gerakan, dooh.. dan masih banyak lagi.

Well, pengalaman pertama dengan D40 adalah Kebun Teh Cisarua, Puncak. Salah satu fotonya ada di posting sebelum ini. Sangat surprise dengan warna-warni D40 yang menyala. Tak perlu lagi diretouch sehingga aku bisa kembali ke idealisme seorang fotografer pemula, bukan potosoper. Saat itu kebetulan ada teman yang bawa Canon EOS400D. Pas aku coba, D40 jauh terasa lebih nyaman. Ketika melihat gambar hasilnya, aku tak menyesal memilih Nikon. Yeah, ini sudah pendapat subjektif seorang Nikonian… 😀 ;))

Kiri ke kanan: Ferdy, Joko, Titik, Aby, Ninna, Yuli, Galih
Jongkok: Danang BP

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

20 comments

  1. enakan mana d40 dengan d80 utk seorang pemula dan wanita? 😀 krn aku dengar ups.. baca dink kalo body D40 itu mungil.

    aku sendiri dulu pernah pegang F65

  2. #agung:
    hehehe… that’s me!

    #tia:
    Body D40 itu kecil, sama besar dengan EOS 350D, tapi grip-nya masih nyaman dipegang. jari kelingkingku ada di dasar body. kayaknya buat pemula mending pakai D40 saja dee, belum terlalu kebanyakan fitur. D80, itu sangar.. ampun-ampun hasilnya. tapi harganya juga lumayan sangar hehehe… 😀

    sekarang pegang apaan mbak? masih F65?

  3. D40 dan D80. Pengennya sih D80, tapi budget gak nyampe segitu. Jadi pilihannya tinggal D40 hehehe.. Ntar kalo dah kekumpul duit hasil D40, baru deh beli yang D80 atau ke D200 sekalian.

    Sekarang masih pake kamera analog vivitar v4000s. Betul kata mas tadi, biayanya besar. ongkos produksinya. tapi baik digital dan analog sama-sama punya kesenangan tersendiri bagi fotografernya. btw, thanks for sharing about Nikon D40. Saya jadi makin mantap dengan kamera tersebut.

  4. defenetly corect!, pake kamera analog emang mahal bgt belum beli film proses cetak, btw aku mo berencana beli kamera digital, but aku msh pemula soal digitalize,kira2 dgn resolusi yang dipunya nikon d40 (katanya 6 juta pixel ya?)apakah itu dah termasuk kualitas offset?

    NB: would u mind reply in my e- mail please?

  5. bener mas,Aq juga dulu belajar pake FM10 (walaupun pinjem temen.hehehe….) tapi gak sempet lama belajar pake tu FM10 coz baru kemaren aQ dapet soft loan dari sodara,so aQ bisa beli d40.emang bener kata om kenrockwell.com. baru satu hari pegang D40 aQ dah puas bangeeet…
    salam
    Anas

  6. Aku mau nanya nih, bagusan mana canon eos 350D sama nikon D40?! soalnya aku pemula n’ budget ku cuma sekitaran 5 – 6 jt! pengennya sih beli D80 atau D100 tapi lama ngumpulin duitnya!!!

  7. aq baru pegang d40, dalam menentukan fokus aq coba coba dengan manual dan auto. belum menemukan yang pas. kadang dengan manual dah bagus tapi lama2 pusing pake 1 mata. kalo auto kok gak tajam-gaktentu..??

  8. Bagus mana yah Nikon D40 dengan Sony Alpha 200 ? konon aku baca itu sebanding ? ada yang punya pengalaman ?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *