Adobe Design Premium CS3: Quick Review

Beberapa hari yang lalu aku membawa sebuah bundel DVD berlabel Adobe Design Premium Creative Suite (CS) 3. Bundel ini merupakan paket lengkap dari Adobe untuk kebutuhan desain Desktop Publishing. Inilah paket pertama yang menyertakan produk-produk eks Macromedia sejak diakuisisi Adobe. Dua produk yang aku coba sekilas adalah software yang biasa aku pakai sehari-hari di kantor, yaitu Adobe Photoshop CS3 dan Adobe Dreamweaver CS3 (Macromedia Dreamweaver 9).

Kesan pertama tentang CS3 adalah: Lambat plus berat luar biasa. IBM Desktop PC milik kantor yang berkekuatan P4 3.0 GHz HT, 1.5 GB of RAM masih bisa merasa kalau aplikasi terbaru punya Adobe ini sangat rakus sumber daya.

Soal Dreamweaver, aku sangat mengenal lika-liku sudut produk ini, tetapi at first sight, aku tak bisa menemukan sesuatu yang menarik soal DW CS3, bahkan tombol Layout Mode yang paling sering aku kugunakan diberangus sama DW CS3, jadi aku harus mengaksesnya dari drop down menu. Hmm.. cukup menyakitkan. Kecuali itu, ada banyak tambahan toolkit Javascript siap pakai yang disediakan Dreamweaver, yang mereka beri istilah “spray”. Cukup semprot drop down menu dengan satu dua ketukan. Tapi, aku sama sekali tak tertarik dengan itu. Aku terbiasa comot library Javascript yang gratisan dari dynamicdrive.com.

Untuk Photoshop, banyak hal yang membuatku tertarik, utamanya terhadap penataan tool-tool yang revolusioner dibandingkan dengan Photoshop 7, bahkan CS2. Apalagi GIMP 😛 . Meskipun aku belum menemukan sesuatu yang sangat baru di CS3, tapi rasanya jauh lebih nyaman bekerja dengan Photoshop CS3. Tentu saja, selain Dreamweaver, Photoshop juga menyertakan tambahan Action dan Filter yang lumayan banyak dan menyenangkan.

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

5 comments

  1. #dnial:
    Biasalah, namanya uji coba, lisensinya GPL (Glodok Public License) 😛 Siapa tahu kalau lebih bagus bisa minta lisensi Photoshop 7 dan Dreamweaver MX-nya diupgrade ;))

  2. Rupanya kalau mau kenyamanan ke kelebihan sesuatu mesti harus mengorbankan atau bahkan mengeluarkan ongkos mahal yah, lebih-dan lebih semua. Coba yg terkini mesti perlu spek yg lebih tinggi lagi… padahal yg lama saja gak habis 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *