Sepeda Motor, Transportasi Paling Masuk Akal di Jakarta

Hukum pasar mengatakan bahwa, jika ada permintaan maka ada penawaran dan disitulah akan terbentuk harga pasar. Masyarakat akan selalu mencari penawaran yang paling menguntungkan bagi kebutuhannya. Demikian pula dengan sarana transportasi di Jakarta yang serba macet ini. Masyarakat akan mencari sarana transportasi yang paling masuk akal di sini. Dan menurutku, sepeda motor, adalah transportasi yang paling masuk akal di Jakarta. Bagaimana bisa, mari kita lihat satu per satu:

Angkutan Umum: Angkot, Metromini, dan Kopaja

Penuh sesak, ugal-ugalan di jalan raya, keselamatan tak dijamin (naik turun metromini harus loncat, seringkali musti bergelantungan di pintu karena terlalu penuh). Mungkin sopir-sopirnya berprinsip, “Murah njaluk slamet?” (Jawa: murah minta selamat). Weit.. weit e minet… murah? Memang, untuk sekali perjalanan jauh dekat, kita hanya perlu mengeluarkan uang Rp. 2000 rupiah saja. Tapi seringkali kita tak bisa menempuh perjalanan dengan angkutan umum dengan sekali naik saja. Waktu saya di Halim, untuk menuju kantor di Kuningan, saya harus naik tiga kali. Sehingga praktis, perjalanan pulang pergi memerlukan biaya Rp. 12.000. Lima hari kerja, untuk sebulan seminggu, biaya transportasi adalah sekitar Rp. 60.000.

Metromini dan jalanan Jakarta adalah sarang kriminalitas dalam tingkat yang mengerikan. Copet, rampok, begal, berandal, preman, dan sejenisnya ada di Jakarta. Dan mereka sering beraksi di metromini. Di Surabaya, saya masih merasa nyaman untuk menikmati iPod atau ber-SMS ria di bus kota Bratang – Bungurasih. Di sini, cari penyakit namanya. Pelakunya profesional, bukan sekedar penjahat yang kepepet hidup saja, tetapi penjahat yang telah memilih pekerjaan sehari-hari sebagai penjahat. Operasinya berkelompok, terorganisir rapi, dan sangat sistematis. Mengerikan!

Busway Trans Jakarta

Gebrakan terbaru dari Pemkot Jakarta dalam mengatasi kemacetan. Karena punya jalur sendiri, busway menjadi satu-satunya kendaraan umum yang bebas macet. Sayangnya, manajemen yang payah membuat layanan yang bagus ini menjadi bukan pilihan masuk akal sebagai sarana transportasi. Saya pernah naik busway pada jam pulang kantor dari Karet (daerah Sudirman) ke stasiun Gambir. Berdiri, namun jauh lebih nyaman jika mesti berdiri di tengah metromini yang sumpek. Sopir, meskipun berdasi rapi, tak ada bedanya dengan sopir metromini. Hentakan lepasan pedal kopling yang kasar, dan rem yang mendadak. Huh!

Kalau hanya sesak dan berdiri, saya masih bisa menoleransi. Tapi, ketika perjalanan sampai di halte Halimun, dan harus transit ke busway jurusan Pulogadung, Masya Allah, saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Karena busway belum juga datang dan antrian yang semakin panjang, orang-orang merasa tak sabar. Khas masyarakat Indonesia yang tak mau tertib, desak-desakan terjadi. Pagar antrian diabaikan. Spanduk dan stiker himbauan antri hanya sekedar penghias dan pemanis belaka. Padahal, ketinggian lantai busway halte Halimun termasuk tinggi, dan orang-orang dorong mendorong di bibir halte itu. Tinggal tunggu saja berita orang yang jatuh dari situ. Dan tentu saja, tempat ini adalah salah satu tempat favorit para copet HP yang profesional itu. Hmm…

Taksi

Kendaraan umum yang paling nyaman di kota metropolitan Jakarta. Rute bisa ditentukan sendiri dan sangat nyaman. Sayangnya, harganya juga “nyaman” ;)) Biaya perjalanan bandara Soekarno – Hatta, Cengkareng, Tangerang hingga Kuningan, Jakarta Selatan menyentuh angka seratus ribuan. Taksi masuk akal jika digunakan untuk mencapai jarak pendek dan insidental, tidak rutin.

Mobil Pribadi

Kecuali prestise, sarana ini sungguh tidak masuk akal di Jakarta. Kemacetan lalu lintas sudah di tingkat paling parah. Bukan macet sekedar Pamer Paha (Padat Merayap tanPa Harapan), tapi sudah bisa dinamakan parkir. Macet di jalan arteri sudah biasa, maka hindarilah jalan arteri dan masuklah tol dalam kota. Hehehe.. solusi cerdaskah? Tidak, karena di dalam jalan tol juga macet, eh.. parkir. Belum lagi perawatannya, biaya parkir, biaya untuk bensin, biaya tol. Wes… pokoke sarana ini hanya untuk mencari prestise, gengsi, dan pacar yang materialistis. Tidak lebih.

Sepeda

Angkutan yang paling murah. Tak perlu biaya BBM karena mengandalkan energi kayuh sang pemilik. Menyehatkan pula. Tapi, mungkin sarana ini hanya cocok di Bandung atau Malang yang berudara sejuk. Jakarta yang panas, berdebu, penuh asap polusi kok naik sepeda? Naik sepeda juga akan menjadi kaum minoritas di jalanan Jakarta yang semrawut. Karena minoritas, bersiaplah digencet atau diserempet kaum mayoritas seperti pengendara sepeda motor atau bahkan mobil.

Sepeda Motor

Sepeda Motor sepertinya menjadi sarana yang paling memenuhi kebutuhan masyarakat. Dari segi biaya, cukup murah. Punya saya adalah Suzuki Tornado GS dua tak tahun 1996 yang terkenal sangat boros. Tapi dari Halim ke Kuningan, rata-rata per hari saya hanya mengeluarkan biaya BBM sekitar Rp. 5000 rupiah saja. Atau jika ditambah biaya parkir menjadi sekitar Rp. 10.000 per hari (untung parkirnya dibayari kantor 😀 ;)) ). Dari segi kenyamanan, tentu saja jauh lebih nyaman daripada mesti berdesakan di metromini. Kita bisa ke mana saja, kapan saja.

Sepeda motor, juga kendaraan yang paling lincah dalam menembus kemacetan. Bisa dikatakan, kemacetan lalu lintas hampir tidak dirasakan oleh pengendara sepeda motor. Lincah memanfaatkan celah antara mobil, lincah dalam memanfaatkan ruang kecil antara trotoar dan mobil. Hanya harus sedikit hati-hati agar tidak menyenggol spion mobil-mobil mulus itu.

Namun demikian, bukan berarti sarana ini tidak memiliki kekurangan. Banyak hal kelemahannya, antara lain:

Sepeda motor telah berkembang secara masif di Jakarta. Orang kini hanya dengan membawa uang lima ratus ribu telah bisa membawa pulang sebuah motor baru dari dealer. Hal itu membuat jalanan Jakarta semakin semrawut dengan konvoi sepeda motor dalam jumlah yang sangat banyak. Ketidaktertiban ini tentunya sangat berbahaya bagi keselamatan pengendara, apalagi sebagian besar pengendara tidak melengkapi dirinya dengan peralatan untuk safety riding.

Ironisnya, sarana yang paling masuk akal ini diblack-list oleh pihak yang berwenang. Adanya isu niat pemerintah untuk melarang kendaraan roda dua masuk Sudirman-Thamrin adalah contoh dari black list ini. Kalaupun aturan ini diberlakukan, saya yakin tidak akan mengatasi masalah. Akan muncul tempat parkir di sekitar daerah itu untuk menampung para pengendara. Seperti halnya Setiabudi Building dan EX-Plaza Indonesia yang tidak memiliki fasilitas parkir roda dua, penduduk sekitar membangun tempat parkir roda dua.

Bapak Polisi Lalu Lintas juga terkenal paling “sensitif” dengan kendaraan ini. Sejak pemberlakuan lajur kiri untuk sepeda motor diterapkan dengan keras di sepanjang Gatot Subroto, saya tidak berani lagi lewat Gatsu. Saya memilih lewat jalan tikus Pancoran – Tegal Parang, dan tembus di pertigaan Tendean/Gatot Subroto. Maklum, plat nomor saya adalah AG (Kediri), bukan B (Jakarta). Sangat menarik perhatian. Dan cepat atau lambat, saya pasti diberhentikan paksa untuk ditilang jika setiap hari saya lewat situ. Entah melanggar lajur kiri atau entah melanggar apa.

Meskipun demikian, saya tetap merasa bahwa naik sepeda motor adalah sarana yang paling masuk akal di Jakarta ini. Sekedar saran untuk pemerintah, mungkin pemerintah harus mencari solusi transportasi yang bisa mengalahkan kelebihan sepeda motor sehingga masyarakat akan lebih memilih sarana umum, yaitu: murah, nyaman, dan aman.

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

20 comments

  1. justru sarana yang paling masuk akal untuk wilayah Jakarta adalah transportasi massal….. Sepeda motor bukanlah opsi terbaik….

  2. #Anang:
    saya tidak bicara hal yang ideal untuk Jakarta. hanya membicarakan sarana transportasi yang sekarang ada dan membandingkannya. transportasi massal saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. kalau sudah, kenapa perkembangan sepeda motor semakin tak terkendali? 🙂

  3. Sehingga praktis, perjalanan pulang pergi memerlukan biaya Rp. 12.000. Lima hari kerja, untuk sebulan, biaya transportasi adalah sekitar Rp. 60.000.

    seminggu, apa sebulan mas ? 😀
    salam kenal

  4. Nilla ga bisa hidup di Jakarta tanpa :
    – bajaj
    – bus Trans Jakarta
    – Taxi (kalo udh kepepet bgt!)
    Hehehe… 😀

    Tp dulu waktu masih sekolah aku jg bawa motor sendiri ke sekolah kok, Mas! Secara jalan menuju sekolahku kalo pagi2 jg suka macet! 😛

    So, tinggal nyelip sana… nyelip sini, deh! ;))

  5. Dulu di Jakarta sebulan naek angkot Kopaja, baik2 saja tuh. Belum punya pengalaman kecopetan.

    Apa copetnya tahu kalau aku anak Surabaya jadi malah takut ya?
    Hehehehe…..

    btw habis mbaca tulisan ini jadi mikir…
    Apa aku langsung ke Jkt stlh lulus atau nunggu…
    Nunggu sidoarjo kelelep lumpur dulu?

    Lapindo… lapindo…
    Ngapain sih aneh2 ngebor lumpur?

  6. #arz:
    wuehehehe.. sori.. seminggu 😀 thanks koreksinyah…

    #nilla:
    ati ati nil!

    #dnial:
    OOT: lapindo itu emang niat ngebor-nya ngga bener. mau ngebor dengan biaya semurah mungkin dengan keamanan rendah. masak kedalaman segitu nggak pakai casing dan tubing (wueh… omongane wong perminyakan 😛 )

  7. Mobil kadang2 penting lho lih, terutama kalo udah berkeluarga (jalan2 lebih enak, nganter istri yang melahirkan cepet)…hehe..tapi emang sih kalo untuk jomblo enak pake motor di jakarta.
    Faktor lain mungkin rumah ya..cari rumah yang deket kantor, deket rumah sakit, deket tempat hiburan, deket restoran, deket….pacar..! hehehe..

  8. @aris
    Ada dua pilihan ris:
    Nyari rumah yang deket sama pacar atau nyari pacar yang deket sama rumah.
    Hehehehehe………….

  9. sepeda di bandung ga cocok: macet, banyak angkot dan jalannya turun-naik (kalo dr rumah saya, hehe)

    motor emang paling ok untuk menembus kemacetan tapi bisa juga jadi penyebab kemacetan ;P

    salam kenal 🙂

  10. #rani:
    Maka dari itu harus diusahakan angkutan massal yang bisa mengalahkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh sepeda motor: lincah nyaris bebas macet, murah, dan bisa kemana saja dan kapan saja 🙂

  11. iya, aku dulu pas KP tu mikir juga masalah beginian. kan dulu ada dua alternatip tempat sodara yang bisa aku nunut-in pas KP di perusahaan yang segedung sama tempat mas galih itu: satu di utan kayu (matraman), satunya di Jatiwarna (Pondok Gede?).
    tadinya berniat buat nunut di matraman, cuma setelah tau kalo harus ganti 5 angkot buat ke kantor, jadi ciut.. akhirnya aku nunut di sodara yang di jatiwarna itu, dipinjemin motor, mantab, lewat jalan tikus, tiba2 di halim, tinggal lurus sampe kuningan. kalo pagi nggak nyampe sejam :p cuma nggak tau lagi kalo sekarang, apalagi katanya udah ada lajur kiri tu ya? tau ah, taon lalu blom ada 😀
    masalah kendaraan yang cocok si benernya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi. kalo (me)ngangkot lebih gampang ya ngangkot aja. klo motor bisa ya gpp. klo mobil ada, jarak yang ditempuh agak jauh dan kayanya nggak gitu kena macet, kenapa enggak. gitulah 😉

  12. Kalo aku dulu enak, berangkat dari Kota ke Blok M, pulangnya kebalikannya. Jadinya, jalur jalan waktu aku berangkat sepi, karena di arah sebaliknya orang pada mau ke Kota. Pas pulangnya, ya podho ae. Lenggang-gang-gang-gang 😀

    Mungkin trik diatas bisa membantu :p

  13. “speda motor transport yang masuk akal di Jakarta” banyak alasan yang setuju dan tidak setuju. kalau mau cepat ke tujuan ok, sepeda motor bisa door-to-door. kalau dilihat sewaktu hari hujan, resiko cedera bila ada kecelakaan lebih besar daripada roda empat,maka sepeda motor tidak masuk akal. kalau sistem moda sepeda motor, direncanakan dengan baik sebagai tambahan moda yang ada, dengan penataan khusus sepert rute yang khusus aman, dan tempat parkir di tujuan tersedia, mengapa tidak.
    Saat ini kelihatannya lebih sesuai apalagi dengan kondisi angkutan umum yang relatif mahal, macet/lambat, kerena keadaan ekonomi yang sulit.

  14. Sepeda motor merupakan transportasi yang gampang ( dibeli,dibawa kemana aj bisa kecuali jalan Tol ) n bukan kendaraan yang mewah..kalau pemerintah serius menangani transportasi maka jakarta tidak jadi macet…

  15. sepeda motor memang murah dan cepat bro, tapi gak ada unsur olahraganya, jadi gak menyehatkan. sepeda motor adalah kendaraan saya sebelum mengenal sepeda.
    setelah saya mencoba sepedaan ke kantor dengan intensitas seminggu 1 kali, kemudian seminggu 2 kali, lalu seminggu 3 kali. sekarang sudah hampir 2 bulan tiada hari tanpa B2W. efeknya badan jadi sehat banget, jauh beda dengan sebelumnya. monggo dicoba bro, kalau gak suka sepedanya dijual ke saya aja..he…he..he..
    kalau untuk jarak jauh bisa menggunakan sepeda lipat yang dikombinasikan dengan bis, angkot atau kereta.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *