Dunia Baru dan Dunia Akademis

Udah lama juga nggak cerita soal kehidupan sehari-hari. Postingan terakhir kalau nggak tekniiiis ya nangis cengeng. Ah, aku memang cengeng kalo urusan cewek. Dan bagi sifat melankolis ini, adalah suatu risiko harus tersakiti berkali-kali oleh perasaan sendiri yang kadang melankolisnya keterlaluan. Hati bisa terguncang hebat hanya karena -misalnya- orang yang secara postur sangat mirip kenangannya sekedar lewat di depannya. Meskipun sebenarnya, cara ini adalah cara yang benar-benar bodoh (kapan-kapan aku tulis deh bagaimana PDKT yang baik dan “maut” 😀 ). Yadaw, wong sudah begitu mau bagaimana lagi, yang jelas kalau penyakitnya nggak kambuh seperti ini, enakan nulis yang sehat-sehat saja.

Kalau urusan kerjaan, tak ada yang lebih menyenangkan daripada ngoding di Java atau ndesain layout HTML di Dreamweaver. Menyusun baris demi baris kode, memeras ide dan logika, dan menuliskannya dengan penuh cinta. Kok ternyata tidak jalan semestinya padahal secara teoritis sudah pasti jalan, itulah seni pemrograman. Itulah seni dunia ICT, ilmu pasti yang tidak pasti.

Tak terasa sudah empat bulan aku berkecimpung di dunia baru ini, setelah 17 tahun di dunia akademik, banyak hal baru pula yang bisa dipelajari. Jika di dunia akademik (baca: kuliah), otak diperas untuk mempelajari konsep yang bersifat fundamental, mengeksplorasi teknologi baru untuk diteliti lebih lanjut, di dunia baru ini, otak diperas untuk menggunakan teknologi untuk menyelesaikan masalah secara praktis. Kelihatannya jauh lebih mudah? Ah, tidak juga. Teknologi praktis sangat cepat berubah. Hari ini populer, besok mungkin sudah tenggelam. Makanya kita dituntut untuk bisa mengerti konsep sebuah teknologi secepat kilat. Dan itu bukan hal yang mudah, karena satu teknologi praktis bisa memiliki 1000 halaman dokumentasi. Tapi percayalah, kalau konsepnya sudah terpegang, 1000 halaman itu bisa habis dalam 2 hari saja. Caranya? Hehehe.. mau aku kasih tahu?

Beruntung sekali tempatku bekerja saat ini sangat memfasilitasi untuk tetap bisa belajar dan mendalami teknologi sedalam-dalamnya. Setelah menyelesaikan beberapa project Java, aku menangani konfigurasi Oracle Application Server (spesifik ke OC4J) dengan cukup dalam. Hal-hal yang ketika kuliah hanya bisa dipelajari di waktu luang. Kini aku sedang mencoba memindahkan aplikasi Action Request buatan BMC software. Tantangan besar buatku karena aku sama sekali belum pernah tahu aplikasi yang memiliki arsitektur cukup rumit ini. I need more time to do this.

Tapi aku sudah mulai rindu dengan dunia akademis. Entah mengajar atau sekolah lagi, yang penting hidup kembali di dunia kampus. Hehehehe….

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 comments

  1. dunia kerja emang jauh beda mas dengan akademik, tapi justru dari dunia kerja kita banyak mendapat pengalaman dan ilmu yang lebih fokus ga kayak di kuliah yang terlalu nyebar.

  2. iya ih, workspace-nya kliatannya nyaman banget..
    Btw, mau dwoong.. diajarin web design… Kan itung2 hasrat mengajarnya bisa tersalurkan. Ahaha.. ;))

  3. #agung:
    di kuliah bukan terlalu nyebar, tetapi fundamental. karena tujuan kuliah memang membuat fondasinya. dalam kuliah kita juga bisa mendapatkan ilmu yang fokus (do your final project correctly 🙂 ) bahkan lebih fokus karena dalam kerangka riset.

    #anang:
    surabaya jauh mas, paling masuk akal kalo pengen sekolah lagi ya di Jakarta karena masih sekota dengan tempat kerja.

    #rhani:
    mulai dari mana mbak? ya dah, nanti aku tambah satu kategori lagi tutorialnya, mulai tutorial dasar HTML dan desain layoutnya. doakan punya waktu untuk itu ya 😉

  4. Hehehe… waktu masih kuliah (kayak aku gini) malah kepengen bgt rasanya cepet2 lulus dan masuk dunia kerja. Habis… kayaknya kalo udh kerja lebih fokus aja. (Bener jg sih kata Mas Agung itu! 😉 😀 ) Btw… aku jg mau tuh diajarin web design! ;)) Aku jg masih belajar bikinnya di kampus. Jd yah, buat nambah2 ilmu dan pengalaman aja! 😉

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *