Ketika Satu Lagi yang Melangkah Pergi

Banyak yang telah datang dan pergi. Baik yang membawa cinta lengkap dengan sakitnya. Selalu begitu. Ada yang datang menawarkan cinta namun tak ada chemistry yang bisa menyambut cinta itu. Dan kemudian pergi begitu saja…

Sakit karena sebab-sebab itu telah biasa dirasakan. Namun ada satu yang anehnya masih ada. Dia cuma datang sekali, dan tak pernah pergi. Luka berkali-kali dia tancapkan. Luka lama berkali-kali terkoyak. Namun sekaligus, tertawa riang tak pernah pudar dari senyumnya yang selalu terkembang untukku. Dan tertawanya yang unik (ngikik mirip kuntilanak gendut 😀 ). Dia satu-satunya yang selalu mengerti. Dia satu-satunya tempat berlari di kala kesepian. Dia satu-satunya tempat mencurahkan kesedihan, dan dengan sihirnya bisa mengubah semua sedih itu menjadi rasa damai dan bahagia. Kenyataan bahwa dia tak mungkin lagi untuk dimiliki tak bisa menghapus sebuah persahabatan itu. Dia baik kepadaku, itu aja, tidak lebih, dan mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus mensyukurinya. Sedikit ataupun banyak yang kita dapatkan mesti kita syukuri.

Sabtu lalu, ia kembali menunjukkan sihirnya yang menakjubkan. Sihir yang mengubah kesedihan menjadi sebuah kedamaian.

“Assalamu’alaikum,” sapanya renyah,
“Wa’alaikumussalam, hee nduk, piye kabarmu?”
.. sepatah dua patah basa basi meluncur dari mulut kedua belah pihak…

“Nduuk, curhat… 🙁 ”
“Wikikikik… sek, pasang tarif disik, piye piye piye?” tertawa khasnya yang ngikik mulai dia perdengarkan.

Begitulah awal pembicaraan itu. Empat puluh lima menit serasa berlari secepat busway trans-jakarta kejar setoran. Mungkin takkan pernah berakhir jika Telkomsel yang kejam tidak membatasi tarif ekstra hematnya hingga jam tujuh pagi. By the way anyway busway, thanks buat Telkomsel yang membuat Jakarta-Gresik jadi dekat. Semoga kelak aku dipertemukan dengan bidadari sebaik ini. Amin. 🙂

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

12 comments

  1. #Anang:
    aku dewe gak ngerti je 😀

    #kakak kholimi:
    hehe.. serupa, tapi tak sama 😛

    #agung:
    jadi, cintai dan setialah pada kekasihmu di saat kalian sedang berbahagia menjalin asmara karena masih banyak orang yang mengalami kasih tak sampai 🙂

  2. #d-nial:
    penentu sim card mana yang dipilih bukan aku nDan, tapi dia, soalnya yang telpun aku. kalau yang dituju pakai fren ya malah syukur, soale tambah lebih murah lagi 😛

  3. #Bu Aini:
    Apanya yang banyak bu? Ini orang yang sama kok, cuma dia kebetulan lagi “transit” di gresik 😛

    #Bu Yuhana:
    Kalau nggak kenal pun boleh lah bu saya dikenalin ama adik-adik atau ponakan-ponakannya ibu 😀

  4. Galih……ternyata u tau juga. Padahal waktu balik kSby kmrn ma Black, dia sempat nanya. “Kira2 Galih tau gak ya kalo I***N lagi dGresik?” Eh…ternyata terjawab sudah. Emang bener nich, apa sich yang gak diketahui Galih ttg I***N? 😛

  5. #Listiya:
    🙂 Kelihatannya semua orang sudah tahu ya? Kasihan int, gara-gara aku terlalu kekanak-kanakan, dia yang harus merasakan akibatnya. I’m so sorry int…

Leave a Reply to Nur Aini Rakhmawati Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *