Aliran Kehidupan

Suatu perenungan. Karena hari semakin tua, wajah semakin lelah, warna mata semakin keruh. Apa yang sesungguhnya aku kejar di dunia ini?

Enam tahun aku habiskan belajar di SD. Ibu telah melatihku untuk terbiasa bekerja keras. Apa yang kukejar adalah menjadi yang terbaik. Bukan terbaik dengan perbandingan orang lain, namun yang terbaik bagiku sendiri. Adalah suatu kewajiban untuk mengerjakan sesuatu dengan apa yang terbaik yang kumiliki. Entah apapun hasilnya, entah buruk entah baik, itu adalah nomor dua, nomor satunya adalah kepuasan bahwa aku telah mengerjakannya dengan seluruh kemampuan yang kumiliki. Kalaupun ternyata hasilnya adalah terbaik juga diantara lingkunganku, itu adalah efek sekunder, bukan primer. Demikian pula ketika SMP, SMA, hingga kuliah, bahkan hingga sekarang.

Rutinitas ataukah monotonitas? Setiap pagi melewati jalan yang itu-itu saja, bertemu dengan orang-orang yang itu saja. Hanya ketika aku meninggalkan lingkungan dan bertemu lingkungan baru saja yang mengubah itu. Jalan-jalan setapak, kebun-kebun tetangga yang menembus pintu dapur belakang rumah diterobos selama tujuh tahun. Tiga tahun kemudian, angdes Tulungagung – Pakel – Bandung aku akrabi. Tiga tahun kemudian, jalur Campurdarat – Boyolangu ditempuh ditemani Suzuki Tornado yang hingga sekarang masih setia. Empat tahun lagi dihabiskan di kawah Candradimuka Surabaya untuk mendalami ilmu komputer. Dan ah.. setiap hari sekarang aku bertemu dengan bus pegawai BATAN yang bersiap berangkat ketika aku berbelok masuk kantor. Selalu itu-itu saja.

Matahari pagi warnanya tetap kuning hangat seperti biasa. Matahari sore selalu muram dan suram, seperti enggan berpisah dengan diriku, namun ia selalu tak lupa untuk berjanji kalau esok mungkin dia kan menyapa lagi dengan sinarnya yang tetap hangat.

Mungkin benar kata orang tua bahwa hidup laksana mampir untuk minum di dalam satu rangkaian perjalanan amat panjang. Seberapa cepat satu minggu berlalu bagimu? Bagiku sangatlah cepat. Dan ketika waktu terus berputar tanpa ampun untuk melambatkan sedikit pun iramanya, apakah yang telah aku perbuat? Apakah hidupku telah cukup bermanfaat untuk orang di sekitarku? Apakah ilmu yang telah dianugerahkan padaku telah bermanfaat? Ataukah malah belum? Apakah yang harus kukatakan di hari pertanggungjawaban nanti jika aku masih seperti ini?

Ya Allah,

Hari ini, ketika warna putih mata ini semakin keruh, izinkan aku berdoa dan meratap serta memohon kepada-Mu untuk kesekian kalinya, berikanlah aku kesempatan untuk bisa memuja-Mu sepenuhnya, berikanlah aku kesempatan untuk bisa membuat ayah ibuku bangga kepadaku, berikanlah aku kesempatan untuk bisa bermanfaat bagi orang-orang dan lingkungan di sekitarku.

Amin.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

6 comments

  1. Assalamu’alaikum

    Di hari bahagiamu ini, q ingin sedikit mengucap.

    “Met ultah, kawan…. HAPPY BIRTHDAY. Tak terasa dah 23 taon jatah umur u habiskan, u torehkan berbagai warna di sana. Hitam, putih, merah, hijau, pink, biru, emas,…. ya semua ada dalam aliran kehidupan u. Smoga harapan dan asa yang sempat tertunda khan teraih di sisa umur u. Satu lagi….. smg Alloh senantiasa menjadikan qt sahabat untuk kemarin, hari ini, besuk dan selamanya. Amien.”

    Wass.

    Sby, 1 Maret 2007 (13.36)

  2. Ternyata ultah ya… Kok bisa samaan sama si bebek ya..
    Selamat ulang tahun ya Lih.. Gw ikut meng-amin-kan doanya ya… Semoga hidup kita bisa lebih menyinari orang2 di sekitar kita esok & seterusnya.. seperti matahari yg tdk pernah lelah menjalani ‘rutinitas’nya 🙂

    btw, lembur juga tokh? masih online 😀

  3. Assalamu`alaikum Wr. Wb.
    Mas Galih, kenalkan aku panji cah Fisip UGM. Seoarang pemula di dunia Blog. Posting2 mas Galih (dan commentnya juga)cukup menginspirasiku. Renyah. Dan Enak. I want learn to you. Bolehkah. (panji_satriamuda19@Yahoo.com)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *