Yakin tah Kita Tidak Akan Seperti Mereka?

Hari ini, postingan Paman Tyo sangat dramatis dan menyentuh. Paman mampu menciptakan atmosfer baca yang menggerakkan perasaan. Maklum, orang media :p. Saya terkesan dengan majalah KomputerAktif yang susunan kalimatnya begitu santun. Posting itu menceritakan soal banjir di Jakarta dari sudut pandang sosial. Bagaimana gambaran para korban banjir yang sengsara, namun ada banyak orang yang malah memanfaatkan kejadian itu sebagai hiburan, tontonan, aksi promosi diri, dan semacamnya. Sangat tidak berperasaan.

Saya tertarik dengan begitu banyak komentar yang masuk. Kebanyakan komentar adalah komentar penuh emosi, kebanyakan mengecam kaum pejabat dan para isterinya serta kaum-kaum the have yang tidak berperasaan, tak punya empati sedikitpun kepada para korban banjir. Aih… saya berkomentar, “Yakin tah kita tidak akan berbuat begitu pula jika kita berada di posisi mereka?” Jangan sok suci, sok bijak, jika boleh berkata agak kasar, kita bisa ngomong begitu karena memang tidak terfasilitasi untuk berposisi menjadi kaum yang “tak berperasaan” itu.

Kenapa saya sampai berkomentar seperti itu? Karena menurut saya, ya beginilah kultur negeri ini. Terlalu banyak orang yang pintar ngomong tapi tanpa aksi yang sama dengan mulutnya. Kacau balau bukan lagi sesuatu yang aneh, akan tetapi ya itulah ciri khas negeri kita. Pelajaran PPKn semasa SD yang kini masih diajarkan itu hanyalah seperti cerita dongeng sebelum tidur. Protes? silakan, tapi tolong coba renungkan dulu pertanyaan saya sebelum protes:

Apakah Anda pernah ngebut melampaui batas kecepatan maksimal yang diizinkan di jalan tol? Apakah Anda pernah menyerobot lampu merah ketika Pak Polisi sedang tidak bertugas? Apakah Anda pernah memakai bahu jalan dengan alasan dikejar waktu? Apakah Anda pernah memakai jalur busway dengan kendaraan non trans-jakarta? Apakah Anda pernah mengendarai sepeda motor dengan zig-zag? Apakah Anda pernah mengumpat ketika jalur Anda diserobot? Apakah Anda sering mengklakson orang di depan Anda dengan tidak sabar?

Di mall, apakah Anda selalu menggunakan jalur kiri atau jalur kanan eskalator? Pernah membuang sampah di tempat sampah meskipun andai tempat sampah ada di lantai basement? 😉 Pernah merokok di tempat umum, di angkot, di metromini?

Sulit untuk berlaku tertib di kala ketidaktertiban menjadi sebuah kebiasaan. Aneh rasanya di jalan jika kita lurus-lurus saja di jalur kiri, diserobot kanan kiri pengendara yang bermanuver ala Valentino Rossi. Sedikit saja diserobot, emosi terpancing dan ingin ikut-ikutan ngebut. Tapi bukankah menjadi kebanggaan tersendiri jika kita bisa berbeda dari orang kebanyakan? Di saat ketidakteraturan menjadi hal yang umum, bukankah bangga jika kita sendiri yang berbeda? Menjadi berbeda kan tak harus berbeda yang negatif, iya kan? 🙂

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

13 comments

  1. Dear Galih,

    Sejak awal saya menyukai dan tersentuh komentar Anda yang mengajak be(r)cermin itu. Jangan-jangan kita (eh saya) hanya bisa mengritik, tapi ketika berada dalam situasi yang sama saya nggak beda dari mereka — atau malah lebih buruk.

    BTW, kebetulan posting saya setelah oal perahu itu adalah soal lalu lintas dan tata kota.

    Salam blog,

    Paman

  2. Saya rasa, kita tidak berhak men-judge mereka sebagai ‘tidak punya perasaan’ dari sudut ego kita sendiri.

    Saya jadi bertanya, mungkin Galih juga, memangnya orang yang merasa diri sebagai orang berperasaan dan men-judge orang lain sebagai orang tidak berperasaan itu sudah melakukan apa sih untuk korban banjir? Ya semoga aja tidak omong doank.

  3. in juga melihat selama ini kita hanya menyalahkan pemerintah yang tidak becus menangani banjir
    tapi in sering liat masyarakat buang sampah seenaknya di sungai, bikin bangunan di sekeliling sungai
    Apakah itu juga tidak menyebabkan banjir ?

  4. Aih… saya berkomentar, “Yakin tah kita tidak akan berbuat begitu pula jika kita berada di posisi mereka?” Jangan sok suci, sok bijak, jika boleh berkata agak kasar, kita bisa ngomong begitu karena memang tidak terfasilitasi untuk berposisi menjadi kaum yang “tak berperasaan” itu.

    Adikku Galih yang kusayangi, hanya karena mereka suka menasehati, meskipun mungkin mereka juga banyak melakukan kesalahan, bukan berarti perkataan mereka salah disebabkan oleh kesalahan mereka.

    Kalau tidak, yang terjadi adalah larangan untuk saling menasehati, karena semuanya sama-sama tidak berhak untuk menasehati karena kesalahan mereka.

  5. #Kakak Kholimi:
    Saling menasihati adalah baik kak, tapi yang saya bikin jengkel adalah jika itu adalah hanya teori. menghimbau buang sampang di tempat tapi diri sendiri tak pernah melakukan dengan alasan-alasan yang “permisif”. itu poin saya. thanks buat tambahannya 🙂

    #Kakak Aini:
    Kalau kakak lihat kali Ciliwung dari dekat, keadaannya jauh-jauh lebih parah daripada yang terlihat di TV. Sulit percaya kalau itu adalah kali yang membelah dari Bogor ke Jakarta — lintas daerah. Akan terpikir kalau itu adalah salurah got cokelat-pekat-bau yang digunakan sebagai minum, mandi, cuci, dan kakus 🙂

  6. Gw setuju banget sama elu, Lih.. Gw juga selalu berpendapat.. “who am I to judge people???!!! Kayak gw udah jadi orang yg bener aja.” Jadi, lebih baik memperbaiki diri sendiri sebelum menilai orang macam2.

    It’s time to change ourselves than expecting this nation to change itself..

    Go Galih, go Galih, go…! (hehe.. apa sehh :p)

  7. orang indonesia memang sudah ditakdirkan untuk banyak omong… buktinya… tuh liat komentator sepakbola kita… huahuhauhauhauhuahauhauhauhuaaaa

  8. mas galih, kan sifat dasar manusia tuh pelupa. mungkin sekarang kita bisa triak2 mengkritik orang. tapi klo kita brada dalam posisi spt mereka, mungkin kita sendiri akan melakukan hal yang sama. nah, dalam posisi itu, kita juga akan menerima kritikan. akan ada orang lain yang mengingatkan kita.. ^_^

  9. Memang “maling teriak maling” itu perbuatan yang sangat hina (dan mungkin kita semua pernah melakukan).

    Tapi misalkan saya ini maling, apa saya nggak boleh melarang anak saya mencuri? saya melarang karena saya tahu betapa susahnya hidup jadi maling (not to mention dosanya 😛 )

    kita itu kan harus open minded, sekarang giliran kita mengkritik, nanti-nantinya ya giliran kita dikritik. yang membedakan kita dengan mereka yang sekarang kita kritik itu kan adalah bagaimana kita menyikapi kritik yang datang (apakah kita akan pura-pura tuli seperti yang sudah-sudah atau tidak).

    NB. saya tidak bisa bayangkan akibatnya kalau saya tidak berani menegur orang yang merokok didekat anak bayi hanya gara-gara saya pernah bersepeda motor melawan arus 😛

  10. Apakah Anda pernah ngebut melampaui batas kecepatan maksimal yang diizinkan di jalan tol? Apakah Anda pernah menyerobot lampu merah ketika Pak Polisi sedang tidak bertugas? Apakah Anda pernah memakai bahu jalan dengan alasan dikejar waktu? Apakah Anda pernah memakai jalur busway dengan kendaraan non trans-jakarta? Apakah Anda pernah mengendarai sepeda motor dengan zig-zag? Apakah Anda pernah mengumpat ketika jalur Anda diserobot? Apakah Anda sering mengklakson orang di depan Anda dengan tidak sabar?

    Jawabnya pernah! Tapi itu bukan berarti saya tidak berhak mengkritik. Setiap orang bisa berbuat salah, tapi setiap orang berhak di kritik dan mendapat kritikan tho?

    Dalam pemikiran saya, kalau setiap kali mengkritik kita harus mempertanyakan hal seperti yang anda tulis di posting ini, ya ndak ada yang akan mengkritik. Mungkin ini juga kritik sekaligus buat kita sendiri 🙂

  11. #JaF:
    tentu saja Anda berhak untuk mengkritik, tapi jika Anda hanya mengkritik tanpa menyadari bahwa Anda melakukan hal itu dan tak ada keinginan untuk memperbaiki diri, saya juga berhak nulis postingan ini 🙂

Leave a Reply to abah oryza Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *