Linux dan Windows dalam Perspektif Galih

knoppixAku bukanlah pengguna yang fanatik dalam memilih Sistem Operasi. Aku lebih melihat pada apa kebutuhanku dan siapa yang bisa memenuhi kebutuhan itu. Aku pengguna Windows, tapi juga tidak menutup mata terhadap Linux. Dalam pekerjaan sehari-hari, sejak dulu ketika masih di Surabaya hingga sekarang di Jakarta, aku menggunakan Windows. Dalam relasinya dengan pekerjaanku, aku merasa akan jauh lebih produktif dengan menggunakan Windows. Dan sekarang di tempat baru ini, semuanya terfasilitasi. Semua software yang berjalan di atas Windows juga berlisensi legal ;)).

Di rumah, dulu aku juga menggunakan Windows karena lisensi kampus, namun sekarang, aku memakai Linux karena selain tak kuat membeli Windows, Linux telah memenuhi kebutuhanku. Linux-nya apa Lih? Hehe.. bukan Debian, bukan Mandriva, atau Ubuntu, tapi… Knoppix! Hah?? Live CD? Soalnya hardisk Maxtor-ku yang berisi partisi-partisi untuk sistem operasi lagi bermasalah dan sekarang aku tinggalkan di Surabaya. Dan aku merasa keberatan untuk melakukan partisi ulang pada Seagate-ku yang berisi file-file “hiburan” 😀

Produktifkah dengan Linux, dan bahkan dengan LiveCD? Tentu saja dong! Aku cuma perlu mp3 player untuk ndengerin musik, browser firefox dan gaim untuk kebutuhan internet, dan cukup vim untuk ngeblog hehe.. Dan jangan sekali-sekali membawa pekerjaan kantor ke rumah. Aku tidak se-freak dulu lah. Di rumah waktunya untuk istirahat dan refreshing. Toh, dalam satu minggu waktu banyak dihabiskan di kantor. Bisa komputeran di rumah kalau weekend saja.

Well, aku baru saja tahu kalau Knoppix baru saja merilis versi 5.1-nya. Aku lihat di kambing.vlsm.org, versinya masih 5.0. Hmm… lagipula komputer IBM-ku di kantor tak ada alat untuk ngeburn — aku masih belum punya konverter IDE2USB untuk membawa CD Writer eksternal. Jadi kuputuskan untuk beli saja. Aku googling dan menemukan beberapa toko online yang menjual CD-CD Linux. Wah… boleh juga 🙂 Tapi, kebetulan, gudanglinux.com punya toko di ITC Kuningan. Dekat sekali, pikirku, jadi aku berencana untuk beli langsung. Sekalian cuci mata, alias ngumbah moto kata Mus Mulyadi 😀

Toko itu spesialis menjual CD-CD Linux. Lengkap! Aku beli Knoppix dan melihat kemasannya. CD-nya cukup tebal, merk Verbatim. Klaim si gudanglinux sih… original. Hmm.. melihat desain sampul CD, aku jadi bertanya-tanya, desain sampul dan alat untuk mbakar ISO menjadi CD apa yah? Jangan-jangan Nero bajakan lagi =)) *khusnudzon dong Galih!*

Karena terlalu mudah untuk mendapatkan Knoppix ini (lokasi tokonya terlalu mudah ditemukan, di dekat eskalator lantai semi bawah dari parkiran sepeda motor), aku jalan-jalan menyeberang ke Mall Ambassador. Seperti biasa, tentu saja di sana banyak kios yang menjual CD-CD Software. Well, iseng aku masuk. Seperti biasa, CD-CD bajakan baik software berbasis Windows maupun game-game PS/PC/XBox ada di situ. Mataku terantuk sesuatu yang membuatku menulis posting ini. Di situ terselip Mandriva, RedHat Enterprise, dan DVD Linux SUSE yang kalau aku tidak salah ingat, versi tersebut adalah versi yang bayar dari distro itu. Jadi, wah.. dibajak juga. Ironis!

Yah.. kurasa jika para aktivis Linux itu ingin memasyarakatkan Linux dan open source yang lebih murah dan legal, akan ada banyak pekerjaan berat yang dilakukan. Melawan dominasi Windows ketika versi bajakannya mudah didapat, hingga harus melawan Depkominfo yang menyepakati MoU dengan Microsoft dengan gila-gilaan (MoU sucks!), kurasa seperti orang yang berjuang memberantas korupsi. Penyakit pembajakan ini sungguh akut. Aku bukannya sok suci tidak pernah membajak — secara gw juga sering membajak, tapi jika dilihat secara objektif, operasi pembajakan ini sudah sistematik, sudah mengakar, dan akan sulit diberantas.

Kalau mau sukses, pasar-pasar CD Bajakan itu mesti dibom dengan pasokan CD Linux yang banyak dan dijual dengan harga murah, sama dengan harga CD bajakan yang lain. Kemudian, kampanye dan edukasi pasar yang tak kenal lelah. Sulit lho merubah kebiasaan, apalagi jika sudah dimulai dengan persepsi bahwa Linux jauh lebih ribet daripada Windows. Secara subjektif, aku berkata: Iya! Linux lebih ribet daripada Windows. Hayo.. bagaimana cara mengubah refresh rate monitor dari KDE, tanpa harus berkotor-kotor membuka file /etc/X11/Xorg.conf? 🙂 Bagaimana membuat sharing network samba langsung dari XIce, atau Gnome tanpa harus membuka file smb.conf? Ini lho yang orang mesti tahu.

Pekerjaan yang terlalu berat? Aku tak heran jika akhirnya yang ada adalah gontok-gontokan, debat kusir tanpa henti, black campaign dengan menjelek-jelekkan OS lain, misalnya dengan menuliskan inisial M$, Mshit, W$, dan semacamnya. Aku tak terlalu nyaman dengan cara kampanye seperti itu, makanya biasanya dalam forum, aku malah cenderung memihak Microsoft Windows karena aku tak suka itu. Sama seperti aku tak suka penggunaan kata-kata akhwat, antum, ana, afwan, dalam artikel berbahasa Indonesia bertemakan Islam (haiyyah.. OOT Lih!).

Dalam level korporat, pertarungan Windows dan Linux bagiku hanya masalah strategi bisnis saja. Satu memberi support penuh, satu memberikan harga yang murah. Di tingkat ini, aktivis-aktivis itu tak perlu memberi perhatian. Sami mawon. Namun dalam level pengguna rumahan dan pribadi, di titik inilah para aktivis itu perlu memperjuangkan. Di sini masyarakat pengguna perlu diedukasi, bahwa ada alternatif yang jauh lebih baik yang bisa digunakan daripada harus membajak. MS Office? Aku kira OpenOffice.org sudah bisa secara lengkap menggantikan MS Office. Pengguna MS Office bajakan inilah yang perlu diedukasi. Aku tidak mengatakan pengguna Dreamweaver dan Photoshop. Kedua software ini tak tergantikan baik oleh Nvu ataupun Gimp. Masalahnya, kebanyakan pengguna MS Office di rumah juga akan menggunakan Need4Speed MostWanted, FIFA2006, Winning Eleven, Championship Manager, dan Call of Duty. Adakah itu di Linux? Jika kau mengatakan ada TuxRacer, aku akan ketawa terbahak-bahak. Hanya sedikit orang yang hanya memerlukan office, browser, dan instant messenger di komputernya di rumah.

Hanya pendapatku saja. Linux dan Windows dari perspektif seorang Galih yang awam, bukan aktivis Linux, bukan antek-antek Microsoft. Tetapi hanya mencoba menggunakan mana yang bisa memenuhi kebutuhannya. Apakah aku akan ikut mengampanyekan Linux? Ah, rasanya tidak pantas, aku tidaklah fanatik dengan Linux, aku lebih jarang memakai Linux, dan aku adalah unregistered Linux user #xyz. Aku gunakan Linux untuk diriku saja dulu, sampai aku bisa sefanatik dan sehebat wanita maskot Linux ini atau seerat KM yang memang tidak ditakdirkan untuk ber-Windows (ia selalu sial kalau pakai Windows :p ). Salam. 🙂

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

10 comments

  1. yay.. ngedengernya aja udah ngeri.. Abis rata2 orang yg pake Linux pada pusing. Gw pribadi sih belom pernah pake. Tapi denger komentar sana-sini ya jadi males juga nyoba 😀

    lagi dengerin “Kau masih Kekasihku” nya Padi? Sambil ngutik Linux? Hard to imagine.. hehehe

  2. #KM, Bu I’in:
    ;))

    #budi, rhani:
    you really-really know me bang budi! :)). Ketika di mata (nglirik maksude) akan ada lagunya Padi, Seperti Kekasihku. Namun ketika dari mata itu turun ke hati, maka akan ada lagunya Naff… teringat dia yang telah berlalu.. yang masih jadi kekasih hati. Ah.. cinta, deritanya memang tiada pernah berakhir….

  3. Yang saya benci dari linux adalah, kalau cari update software terbaru atau aplikasi-aplikasi tambahan yang tidak ada di distro, tidak tersedia di THR. Contohnya saat ini, cari software untuk editing film.

    Sebagai Fakir Bandwidth (TM) paling-paling juga minta download-kan sama kawan atau download sendiri. Masa, cuman butuh update openOffice, malah dapat distro terbaru, ya sekalian instal ulang. 😀

    Bandingkan dengan MS-WIN, meskipun tidak dibundel dengan photoshop, tapi kalau butuh photoshop, di THR sudah tersedia software-nya juga. Kalau di Linux, cari update-nya GAIM saja musti download dulu, biaya download, sama beli kumpulan cd software hasil download kayaknya lebih murah beli kumpulan cd software tersebut.

    Namun sejujurnya, saya melihat peluang bisnis di sana ($_$) 😀 Download semua aplikasi di sourceforge.net, diuji coba, dipilah, dibuat package-nya, diklasifikasikan, kemudian buat CD “Linux Premiere 2007” 1-… 😀

Leave a Reply to rhani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *