Fenomena Eclipse

Eclipse SDK yang aku pakaiPindah “agama” Lih? dari Oracle JDeveloper ke Eclipse SDK? Ehm, sebenarnya awalnya karena terpaksa. Terpaksa, lhawong di kantor IDE-nya adalah Eclipse, mau tidak mau aku kan juga harus pakai Eclipse. Belum banyak yang tahu bahwa lisensi Oracle JDev sudah free.

Eclipse, jika tampil bersama distribusinya memang tidak menarik. Hanya seberkas Java Editor yang cukup powerfull dan alat-alat standar untuk sebuah IDE (Integrated Development Environment). Jika kamu ingin mengedit XML, HTML, JSP, kamu hanya diberikan text editor sederhana. Namun demikian, inilah kekuatan Eclipse: Eclipse dibangun dengan komunitas yang sangat besar. Tersedia amat sangat banyak plugin baik yang komersial maupun gratis di Eclipse Plugin Central. Dengan plugin, kita bisa menyulap Eclipse menjadi IDE yang pas dengan kebutuhan. Biasanya, IDE datang dengan sebundel fitur yang kaya yang menjadikannya berat, besar, dan membutuhkan resource yang tinggi. Contoh semacam ini ada di JDev dan JBuilder. Namun, Eclipse datang dengan hanya 123 MB (Bandingkan JDev yang sekitar 400-500 MB). Dari situ, kita bisa download plugin yang sesuai dengan keperluan kita.

Aku menggunakan Eclipse untuk pengembangan sebuah sistem enterprise berbasis web, jadi aku tidak memerlukan visual editor untuk Swing/AWT/SWT. Tetapi aku memerlukan editor web yang lengkap (XML, JSP, HTML — tak perlu visual), Ant, integrasi dengan Tomcat atau Jetty agar bisa live debugging, dan sinkronisasi tim dengan CVS. Itu saja.

O iya, satu hal yang membuatku sangat terkesan dengan Eclipse, yaitu fitur hot code replacement. Biasanya, kalau kita mengembangkan sistem berbasis client-server apalagi Java Servlet, setiap kali ada perubahan kode (entah di model atau view-nya), kita harus merestart server agar server melakukan kompilasi ulang. Namun Eclipse tidak! Hanya dengan menyimpan perubahan terakhir yang dilakukan, kita bisa langsung melihat efeknya di browser tanpa harus melakukan restart server. Bahkan, hot code ini juga terjadi saat debugging! Ketika kita melakukan debugging dan menset breakpoint pada line tertentu di class tertentu, saat itu kita tahu kesalahannya dimana. Kita bisa langsung menggantinya dengan kode baru, dan mesin debugger eclipse akan mundur beberapa baris untuk mengulangi proses itu dengan kode baru kita! Tak harus mengulang proses debugging dari awal.

Sangar toh?

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

14 comments

  1. #rhani:
    ;)) sori ya mbak… lagi nerusin tulisan-tulisan teknis neh, udah lama ngga nulis beginian… *sok idealis mode: on*

    #dcky:
    netbeans juga bagus, lebih dekat ke JDev malah…

  2. iyo mas, sudah terlanjur pake’ netbeans… meskipun ndak bisa. :)). Dulu pernah engkel2 an sama mas icuk sebagai penggemar eclipse. Tapi tetap bertahan pake’ Netbeans sampe’ sekarang. Abbas 03 juga kalo pake’ JDEV katanya enak :))

  3. sayang sekali. pas waktu itu nyoba Eclipse, gagal. saya lupa kenapa kok gagal.
    begitu gagal saya langsung mutung.
    masalahnya, tugas harus selesai dalam waktu satu minggu.
    kalo belain eclipse. masih harus belajar eclipse. belum ngerjakan tugasnya.

    untung udah terbiasa pake netbeans. ya…. balik ke netbeans.

  4. #Allies:
    Netbeans membawa satu paket bundel lengkap yang lebih dari cukup untuk development java. karena lengkap, ia jadi gendut, dan berat. Eclipse membawa satu SDK kecil ringan yang bisa diperluas sesuai dengan kebutuhan dengan plugin yang sangat banyak. karena kecil, Eclipse jadi jelek tanpa dilengkapi dengan plugin. Itu gambaran besarnya.

  5. *tapi bener juga tuh, paket lengkap tapi klo gak di manfaatin secara maksi percum… mending pake yang kurus tapi bisa maksi…
    *untuk kompi yg high end, dan usernya profesional berat gak masalah..
    *tapi untuk kompi lemot punya q,en mhs yg blm lulus kyknya perlu tuh knalan ma eclipse
    eclipse??? try dlu kale…

  6. mas galih…klo di netbeans 6.0 juga da dimasukkan ajax dan ruby. nah…diantara dua tu, mana yang menurut mas bisa lebih kompak dgn netbeans?
    oya…salam kenal mas. nama saya Ryan daru STMIK – AMIK RIAU…selain di post di sini, tlong kirim juga ke email saya ya mas…
    terima kasih sebelumnya ^_^

  7. Malam mas,

    Mau tanya antara JDev dan Eclipse bagusan mana?
    Ada yang bilang JDev handal di component2 yang berhubungan dengan database Oracle dan ada yang bilang membuat koneksi ke database oracle jadi lebih cepat dengan JDev, apakah betul seperti itu? apakah koneksi ke oraclenya sama cepatnya dengan Eclipse?

    Thx sebelumnya mas

  8. Jdev vs eclipse? yang pasti kalo kita mainannya based on database oracle product, jdev lebih unggul apalagi teknologi adf versi 11g rich clientnya yang memadukan jsf dan ajax semuanya component based. di adf kita ga perlu mikirin pusing2 masalah koneksi and resource managementnya, kita diarahkan konsen ke bisnis prosesnya, itupun semuanya wizard, hal ini dilakukan untuk mempercepat proses development.

    memang paradigma anak2 oracle dan open source berbeda jauh, orang2 oracle dimanjakan dengan tool2 wizard (coding less) baik di oracle form atau di oracle adf. tapi yg jelas secara salary mereka lebih tinggi dibandingkan anak2 open source bahkan yg paling senior sekalipun, cause project oracle khususnya di indonesia gede2.

  9. Dari penjelasan di atas, sepertinya eclipse sangat menarik buat skripsi…,ach coba pakai Eclipse daripada Netbeans

Leave a Reply to rile Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *