Hanya Ada di Jakarta

Kurasa pengalaman yang akan kuceritakan ini hanya bisa didapatkan di Jakarta saja. Seperti yang sudah kukatakan, aku di Jakarta tinggal di rumah paklik di kompleks Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Untuk menuju kantor yang ada di Wisma Mulia, Gatot Subroto (orang sini sering memendekkannya jadi Gatsu, seperti halnya Bendungan Hilir menjadi BentHill dan Karet Belakang menjadi Karbela), aku perlu naik angkutan umum sebanyak tiga kali. Sekali naik angkot Trans Halim, turun di perempatan Cililitan (land mark-nya ada PGC — Pusat Grosir Cililitan — di situ. Kemudian, dari Cililitan naik Kopaja berkode 57 yang menuju Blok M dan turun di pertigaan Kalibata. Di sini landmarknya adalah rimbunnya taman makam pahlawan Kalibata di sebelah selatan jalan. Dari Kalibata naik metromini berkode 604 dan akhirnya turun di Wisma Mulia.

Benar kata Vendy, jika ingin lancar perjalanan, jangan pernah berangkat lebih dari jam 6 jika ingin tiba di kantor tepat waktu (aku masuk jam 7 pagi). Aku melewati kawasan super macet: perempatan Pancoran. Bahkan ketika aku lewat situ sekitar pukul 06:30, arus lalu lintasnya sudah mulai macet. Oh iya, jangan bayangkan metromini itu nyaman ( =)) ha..ha..ha..). Naik dan turun harus sigap enterprise, karena dia tak pernah berhenti, jadi harus loncat dan lari!! Kemeja tersetrika rapi pun basah oleh keringat. Mungkin cuma busway trans-jakarta saja angkutan umum Jakarta yang nyaman.

Jakarta tingkat stress-nya sangat tinggi. Melihat lalu lintas yang semrawut aja sudah bikin sumpek. Apalagi hujan deras sudah mulai turun, jadi sana-sini sudah mulai banjir. Dan jika hujan turun sekitar pukul empat sore, bisa dipastikan jalur pulang akan sangat-sangat macet dengan kondisi angkutan umum penuh sesak. Rekor terlama perjalanan adalah 2 jam, padahal jika lancar jaya hanya makan waktu sekitar setengah jam saja. Untunglah, rasa sumpek lihat lalu lintas semrawut sudah hilang tatkala memasuki gedung Wisma Mulia. Just sit down at the lobby and take a look arround! :)) streesnya pasti hilang lihat wanita-wanita muda pekerja yang lalu lalang di sana. Haha…

Iya kan? kayak gini cuma ada di Jakarta. Surabaya? Surabaya jadi kelihatan seperti kota kecil yang sepi dan tenang kalau kau pulang dari Jakarta. Coba rasakan perbedaannya, kau naik sepeda motor dan berada di tengah-tengah hiruk pikuk lampu merah perempatan Pancoran, dengan ketika kau menunggu lampu hijau menyala di perempatan Kertajaya atau Karangmenjangan. Jadi benarlah kata bos Ad-Ins waktu presentasi di STTS Surabaya dulu: Jakarta is five times bigger than Surabaya.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

10 comments

  1. tepat banget! Jakarta is the city I love and loathe…
    Gimanapun sebelnya gw sama keadaan kota ini, gw selalu seneng kalo pulang kesini… 🙂

  2. Gak cuma lebih macet, tapi jakarta juga menawarkan opportunity lebih banyak, so go for it !!
    Bicara soal cewek, temenku (cewek) bilang kalo di jakarta banyak cewek cantik tapi sedikit cowok ganteng, hehehe

  3. #Henry:
    Yeah… Omahe Harris Pondok Gede sing endi? aku mau tas lewat Pinang Ranti, terus, Plaza Pondok Gede, terus Ujung Aspal, sampek tembus Plaza Cibubur. Lah.. lha harris kan neng suroboyo? :-/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *