Ikuti Aturan Saya!

Banyak baca di blog orang dan banyak media yang mengatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia itu salah. Penuh hapalan dan terlalu banyak materi. Sehingga banyak siswa yang potensial di bidang tertentu mesti tidak lulus. Eh, jangan-jangan alasan ini hanya digunakan sebagai kedok untuk menyembunyikan ketidak mampuan saja?

Saya berasal dari keluarga besar guru. Mulai dari kakek hingga ayah ibu, mayoritas adalah guru mulai dari TK hingga dosen perguruan tinggi. Dari diskusi kecil dengan ayah dan ibu, pertanyaan di atas muncul. Bagi saya mereka adalah pengajar-pengajar top di bidangnya dengan dedikasi yang tak terbantahkan. Pengalaman lebih dari 30 tahun mengajar tentunya telah membuat mereka hafal karakter anak didik, tentu saja yang lokasinya di desa.

Ketika kurikulum berbasis kompetensi (KBK) diperkenalkan, beliau-beliau ini malah bingung dalam mengimplementasikannya di depan kelas. Tidak cocok! Siswa tak akan mampu dengan model belajar seperti ini. Di Tulungagung yang notabene sebagian besar sekolah ada di pedesaan, hanya sekolah-sekolah favorit saja (misal: SMU 1 Boyolangu) yang bisa melakukannya.

Lalu apa hubungannya dengan sistem pendidikan? Sistem pendidikan mungkin memang salah, tetapi jangan menyalahkan sistem hanya karena tidak mampu mengikuti aturan sistem itu. Ibu saya selalu mengatakan, mendapat nilai di atas 4,5 tidaklah sulit asal bekerja keras dan belajar dengan rajin. Ingat, ini dikatakan oleh pengajar dengan 30 tahun pengalaman lho.. Inilah sistem pendidikan kita. Dan kita telah berada di dalamnya. Jadi? Kenapa neko-neko? Apakah dengan sistem pendidikan baru akan menyelesaikan persoalan? Daripada mikir sistem pendidikan, kenapa tidak menggunakan waktu tersisa untuk buka buku dan belajar materi? Ikuti aturan saya, jika tidak silakan keluar dari sini.

Published
Categorized as Opini

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

1 comment

Leave a Reply to iin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *