Digital Fortress 2

Melanjutkan review kemarin. Aku memang terkesan dengan thriller yang ini. Tidak mudah menjadikan dunia teknologi computer science menjadi dasar cerita. Istilah yang ada di dalamnya terlalu teknis, terlalu spesifik, dan terlalu sulit untuk dijelaskan kepada orang awam. Bahkan sering kali Bahasa Indonesia tak mampu menerjemahkannya (contoh: download menjadi unduh — ah tidaak..). Tapi kenyataannya, Dan Brown berhasil membuat cerita ini dengan nyaman dan cukup masuk akal.

Ceritanya tetap sangat menarik — khas Dan Brown. Tetapi ketika mendekati bagian akhir, cerita ini agak sedikit menggelikan jika dilihat dari sisi teknis informatika-nya. Agak tidak masuk akal. Mungkin Dan Brown terkena dilema bahwa ia harus membuat sebuah klimaks yang berujung ke anti klimaks yang dramatis.

Bagian akhir itu menceritakan bahwa bank data sentral Amerika Serikat yang menjadi pusat seluruh data intelijen Amerika sedang diserah sebuah worm (please, don’t translate this term into ‘cacing’). Worm itu merusak sistem gerbang keamanan sehingga terancam bahwa data rahasia dapat dibuka oleh semua orang yang terkoneksi dengan internet. Lalu untuk efek dramatisnya, worm ini menyediakan sebuah kata kunci yang bisa membunuh worm itu sendiri. Opsi lain untuk mengatasi worm ini adalah mematikan sumber daya listrik yang proses mematikan ini sendiri membutuhkan sedikitnya 45 menit karena proses yang rumit. Padahal waktu yang tersedia tinggal di bawah 30 menit lagi. Praktis, dua opsi ini telah menimbulkan kekacauan dan menjadi klimaks yang sangat dramatis.

Aku jadi kepikiran bahwa sesungguhnya selalu ada opsi lain jika tujuannya adalah menghalangi pengguna luar mengakses data. Inilah dia:

1. Jika mematikan sistem komputer lewat catu daya listrik tidak mungkin, bagaimana jika yang dimatikan adalah service-nya saja? Penulis di situ telah menyebutkan secara sambil lalu kalau program yang melayani adalah FTP, X11, dan beberapa istilah lain. Bagaimana kalau programnya saja yang dimatikan? Cukup sebaris perintah sistem UNIX /etc/init.d/ftpd stop menyelesaikan masalah.

2. Bagaimana jika kabel LAN-nya dicabut manual? Sistem tersebut langsung akan terisolasi dari jaringan internet. Inilah firewall teraman di dunia!

3. Kembali ke catu daya listrik. Bagaimana jika kabel colokan ke listrik dicabut saja? Cara kasar, tetapi jika kerahasiaan adalah hal yang terpenting, apa pun bisa dilakukan bukan?

Wah, agak tidak masuk akal juga jika pelaku cerita yang memiliki IQ rata-rata 170 itu tidak terlintas solusi barusan di kepalanya. Atau jika terpikirkan, Dan Brown mengejar sisi logika-nya, ia akan kehilangan efek dramatis cerita. Ah, namanya juga novel, hehehehe….

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. lih, ojo dibayangno komputer nya NSA iku koyo komputer server sing ukurane sak lemari lih. tapi iki ngono komputer super. mirip blue gene.
    lha stop kontak nya juga ga kecil. ga iso di pateni sak penak'e. iso iso mbledos piye?.
    terus kabel LAN iki yo ojo dibayangno cuma 1 ndil sing speed nya 100 Mbps atau bahkan 1000 Mbps, tapi iki ngono komputer sangar mosok cuma di ncepi kabel 100/1000 ?
    bener ga?
    Nek mateni service iku lak nek ga ono sing mbutuhno service iku. lha lek servicenya penting lan gak oleh mati piye?

    hehehe. by the way bukune apik koq lih :p

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *