Hari Tanpa Tivi?

Akhir-akhir ini RSS Agregatorku dipenuhi posting kampanye Hari Tanpa Televisi oleh dedengkot blog kayak Mbah Priyadi, Ibuk Lita, Om Jay, dll. Wah jadi ingat beberapa waktu yang lalu ketika terjadi debat luar biasa sengit di BBS Jurusan tentang hukum fiqih tentang Televisi. Ada yang mengharamkan televisi karena dianggap terlalu banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Sementara kaum Islam liberal seperti aku berpendapat bahwa hukum Televisi adalah boleh, atau lebih ke makruh.

Aku sendiri sudah meninggalkan ketergantungan televisi sejak kelas 1 SMU. Mulai saat itu kegiatanku sudah disibukkan untuk konsentrasi dalam pelajaran. Targetku waktu itu jelas: tembus SPMB 2002 sehingga siang malam hanya bercengkerama dengan buku. Tinggalkan televisi, tinggalkan cewek! Mulai saat itulah keterdekatanku dengan buku semakin menggila. Di saat orang-orang sibuk pacaran, aku senyum-senyum saja dari jauh. Sungguh, hingga saat ini pun aku kadang muak kalau melihat orang pacaran (mungkin karena kecemburuanku karena aku telah memilih jalan yang berbeda). Apalagi jika yang pacaran adalah orang yang kutahu dekat dengan agama. Islam jelas melarang pacaran dengan alasan apapun. Alasan itu hanyalah justifikasi pembolehan pacaran saja! Aku membenci setengah mati cewek-cewek cantik (kenapa dia tidak denganku saja? *mana mungkin.. :p*) dan akhirnya sekarang kena kutukannya: aku kadung cinta mati dengan salah satu cewek yang dulu amat sangat kubenci. Dan ironisnya dia membalasku dengan terus dan terus melukaiku (when will this pain stop?)

Tayangan televisi kini emang benar-benar memprihatinkan. Tayangan sampah infotainment berlangsung sepanjang hari dari pagi sampai malam. Sinetron remaja telah membentuk kultur baru bagaimana kehidupan SMP dan SMA itu seharusnya: pilih-pilih teman, berantem dengan geng lain, rebutan cowok/cewek, dandanan aneh-aneh penuh kosmetik dan perhiasan. Bahkan anak yang cerdas dan pandai selalu digambarkan bertampang culun dan berkacamata tebal! Huh! Kalau ulangan haruslah mencontek. Setiap anak harus punya pacar, jomblo 6 bulan aja udah dikatakan nggak laku. Para pengajar dilecehkan dengan tokoh-tokoh pelawak yang berlaku memalukan.

Kini televisi hanya kulihat sambil lalu saja. Mungkin hanya Doraemon (hiks.. kenapa dubbernya ganti? mana suara Ivonne Rose yang sudah melekat dengan Nobita?) dan Sinchan saja yang kulihat utuh setiap hari Minggu. Acara lain yang cukup sering kulihat adalah National Geograpy, Discovery Channel, dan Tom & Jerry. Tetapi aku kira memang susah bagi orang umum untuk meninggalkan televisi. Sarana informasi hiburan yang paling murah dan paling mudah didapat hanyalah televisi dengan segala konsekuensinya. Akses broadband internet? Weleh.. itu mah cuma buat orang kaya saja (atau orang yang dapat fasilitas gratis seperti aku :D). Internet di Indonesia masih terlampau mahal dijangkau oleh orang kebanyakan.

Bagaimana dong jadi solusinya? Pertanyaan ini tentunya akan menjadi bahan diskusi panjang dan melelahkan. Tapi kukira, peran orang tua sangatlah dibutuhkan untuk menyaring mana-mana saja yang patut ditonton oleh anak-anaknya. Demi keselamatan masa depan anak sendiri, orang tua mesti berkorban untuk itu. Harus telaten dan sabar.. karena memang televisi telah terlampau banyak sampah beracun daripada manfaatnya.


Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

9 thoughts

  1. Waduh, ampun mbah, dedengkot numpang ngabsen 😀

    Saya bukan orang kaya, tapi beruntung bisa punya akses broadband. Hasil ngirit jatah dari suami hihihi… Tapi internet memang masih mahal. Hiks

  2. Tinggalkan televisi, tinggalkan cewek! <– ini yang bahaya lih.. bisa jadi kecenderungan untuk gay ehauheuaehae.
    aku lama ndak nonton TV, bukan apa-apa.. cuman karena ndak ada Tv di kost2an, dan terlalu malas buat naek ke atas yang ada TVnya, mendingan maen internet yang dibilang mahal sama galih yang ternyata modal gadein HP kok bisa dijangkau kekekekekekek..

  3. — Quote: —
    Ada yang mengharamkan televisi karena dianggap terlalu banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Sementara kaum Islam liberal seperti aku berpendapat bahwa hukum Televisi adalah boleh, atau lebih ke makruh.
    —- End of quote —

    Tampaknya panjenengan perlu baca fatwa itu lebih lengkap deh, beserta alasannya. Yang saya tahu, yang mengharamkan juga mengatakan hukum asalnya televisi adalah mubah (boleh). Jadi bukan pengharaman mutlak, namun pengharaman dengan syarat.

    Ya mungkin sama seperti RX King, sebenarnya itu motor biasa, namun menjadi tidak biasa ketika sering dipakai penjahat. 🙂

    Oh ya selamat ya, sudah selesai ujiannya. Kapan traktirannya? ;))

  4. wooo….liberal…?Tv?
    Manusia memiliki kecenderungan meniru, dari manapun ia memperoleh sumbernya..
    Manusia juga memiliki kemampuan memilah, dari manapun ia memperoleh dasarnya…
    lalu Islam…?sangat jelas dasarnya, kita semua yang harus memahami dan melakukannya…

  5. #tejo:
    ok ted!

    #ibuk lita:
    salam ibu 🙂

    #henri:
    aku normal kok hen

    #mas kholimi:
    makasih mas, juga koreksinya ^)^

    #mbak tik:
    hidup juga!! lho?

    #zwie:
    yeah… (aku ndak ngerti maksude :p)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *