Digital Fortress (Benteng Digital)

Satu lagi hasil perburuanku di Gramedia tadi malam, salah satu novel Dan Brown telah diterbitkan oleh penerbit Serambi, mengikuti dua bukunya yang sudah dialih bahasakan ke versi bahasa Indonesia oleh Serambi juga: Malaikat dan Iblis dan the Da Vinci Code yang sangat fenomenal itu. Asyik sekali, dengan begini aku jadi tidak perlu membaca buku aslinya yang baru kubaca sepertiganya, males sekali kalau harus baca novel berbahasa inggris. Nggak bisa dapat suasananya, abisnya… yaa.. bahasa inggrisku tidak bisa dikatakan sempurna kalau tidak boleh dikatakan buruk.

Susan Fletcher, seorang kriptografer kepala NSA (National Security Agency) AS menghadapi ancaman dari seorang mantan pegawai NSA, Ensei Tankado. Tankado telah berhasil menciptakan sebuah algoritma enkripsi baru yang anti serangan brute force. Prinsip Bergofsky telah dipatahkan. Jika algoritma ini diketahui publik, hancurlah masa depan NSA yang tugas utamanya adalah menyadap pesan-pesan berbahaya. NSA adalah pengawas arus informasi seperti jalur peredaran narkoba, pembunuhan, ancaman bom — itu adalah klaim NSA. Privasi adalah sampah bagi NSA.

Siapa yang mengawasi pengawas? Itulah prinsip Tankado. Jenius cacat ini berpendapat privasi harus tetap ada. Dan akhirnya memang ia berhasil menciptakan algoritma yang dinamakannya Digital Fortress yang berdasarkan teori mutasi clear-text, sehingga komputer penyerang brute-force tidak pernah tahu bahwa tebakannya telah benar sehingga ia akan terus menerus menebak. TRANSLTR, komputer berkekuatan 3 juta prosesor milik NSA telah dipecundanginya.

Algoritma Tankado telah tersebar luas namun disandikan dengan dirinya sendiri. Hanya Tankado dan rekannya, North Dakota, yang memegang kunci ini. Cerita selanjutnya dapat ditebak layaknya sebuah thriller: NSA diperas agar mengakui keberadaan TRANSLATR atau algoritma jenius itu terbuka! Jika Tankado mati terbunuh, maka rekannya akan mempublikasikan kode itu secara gratis — memusingkan para investor yang sedang beramai-ramai menawar harga.

Susan Fletcher, seorang wanita cantik mempesona dengan skor IQ 170, berusaha keras menyelesaikan masalah ini. Sementara kekasihnya, David Becker, seorang profesor bahasa yang menguasai berbagai macam bahasa dengan aksennya, memburu cincin Tankado yang akhirnya mati terbunuh di Spanyol. Cincin itu berisi kode pembuka sandi Digital Fortress. David telah dipesan NSA agar cincin itu jangan sampai jatuh ke tangan orang lain. Dan konflikpun dimulai, cincin itu telah lenyap dari jari manis Tankado. Dan seorang sipil pun harus beraksi layaknya seorang agen rahasia.

Itulah awal cerita Digital Fortress. Plot yang cepat, karakter yang dalam, deskripsi tempat dan suasana yang mengagumkan, dan tentu saja kejutan-kejutan khas Dan Brown akan menyiksa pembacanya untuk tidak meletakkan buku itu sebelum selesai terbaca. Meskipun kali ini Dan Brown membuka cerita dengan menarik, namun tetap mirip dengan dua novelnya, Angels and Demons dan The Da Vinci Code. Semuanya dibuka dengan tokoh utama yang sedang bermimpi. Tetapi untunglah tidak semenyebalkan Robert Langdon yang mengalami pembukaan dengan Deja Vu di dua novelnya.

Secara pribadi, novel ini sangat menarik karena dunia kriptografi adalah duniaku sendiri, Computer Science. Ulasan yang menarik tentang algoritma kriptografi, deskripsi super komputer TRANSLTR yang mengagumkan sangat menarik untuk maniak komputer seperti aku. Idenya utamanya sendiri sangat menggelitik: pematahan prinsip Bergofsky yang mirip pepatah Jawa: Alon-alon penting kelakon. Jadi mikir… benarkah algoritma ini bisa dibuat?

Published
Categorized as Review

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

  1. emg dan brown keren,tp tokoh langdon ciptaannya jg keren!tidak menyebalkan kok (protes mode on :)). aku jg baru dapet buku “digital fortress, siap2 gadang lagi bwt baca!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *