Titik Terang Itu Mulai Terlihat

Minggu ini, tepatnya Jumat pagi kemarin, mission impossible-ku perlahan-lahan mulai terlihat ujungnya dengan berjalannya program fractal encoder-decoder-ku (akhirnya *whuzzz*). Dengan berbekal hanya referensi program C buatan Yuval Fisher tahun 1992, aku mencoba membangunnya di Java. Satu-satunya yang kujiplak dari Yuval adalah cara berpikir algoritmanya. Struktur data-nya harus aku bangun sendiri.

Sedihnya, program Yuval tidak 100% berjalan sehingga aku cukup berdebar-debar menulis kode-ku. Setiap prosedur dan fungsi aku tulis perlahan-lahan dan kuperiksa berkali-kali. Setiap kali melenceng dari punya Yuval, aku trace kembali dari awal, kutemukan kesalahanku, dan aku harus mengulanginya lagi. Dengan cara begini aku meminimalisir risiko kode-ku tidak berjalan ketika semua kode telah kutulis.

Sungguh, meskipun pak RL (dosen pembimbingku) menjuluki aku sebagai jagoan DAA (Desain dan Analisis Algoritma), bagian yang paling sulit dari kode ini adalah membangun struktur data yang benar dan sesuai dengan logika program yang tertulis dalam rumus Matematika. Betapa tidak, struktur data di bahasa C membuat sebuah array berukuran tiga dimensi dimana elemen-elemennya adalah Linked List! Empat pointer bintang-bintang tertulis di situ. Bahkan praktikum Struktur Data yang asistennya paling kejam (baca:aku :D) pun tidak sesulit ini.

Untunglah, Java memiliki arsitektur data yang baik sehingga kode-ku di Java tidak kacau karena manajemen memory yang pasti amburadul jika aku mengerjakannya di C. Untung juga, Java memiliki objek stream file yang sangat baik sehingga aku tidak kebingungan menuliskan byte per byte hasil encode ke dalam file. Untung juga, ada JDeveloper dengan fitur history-nya yang hebat sehingga aku tidak sampai kehilangan track-track pikiranku dalam mendesain struktur datanya. Untung juga ada pak RL yang selalu memotivasi ketika jatuh bangun mengerjakan kode ini.

Kamis malam, aku sengaja tidak tidur dan bertekad menyelesaikannya. Jam 11 malem aku mendapat masalah dan hampir putus asa. Jam 2 pagi mulai menulis program decoder yang untungnya jauh lebih sederhana. Jam 05:30 pagi… saatnya aku menekan tombol [RUN] dan Bismillahirrahmanirrahiim… dengan berdebar-debar aku menunggu hasilnya muncul di layar. Aku sangat pesimis hasilnya akan benar. Aku tidak pernah bisa membuat program pada saat running pertama kali langsung berhasil dengan baik.

Dan terima kasih Tuhan. Gambar Lenna yang menjadi objek observasi muncul kembali yang artinya programku sudah jalan!!! Ingin sekali aku berteriak kegirangan, tapi yang muncul hanyalah senyum bahagia sambil setengah lemas. Aku selalu menyukai saat-saat seperti itu. Bisa menaklukkan objek keilmuan adalah salah satu hal yang selalu kutunggu-tunggu. Rasa kantukku hilang seketika.

Karena aku sudah tidak ngantuk lagi, aku pulang bentar ke kos buat mandi dan langsung menemui pak RL. Senengnya ketika mendapat ucapan selamat dari pak RL (Beliau adalah dosen pembimbing yang paling perhatian yang pernah kukenal). Paruh pertama TA-ku selesai dan aku disuruh menulis buku dulu sebelum semuanya hilang dari kepalaku. Sepulang dari kampus, aku baru ingat kalau aku belum tidur, sehingga sepulang dari shalat Jum’at aku tewas sampai sore. Bangun-bangun, seperti yang udah aku nadzarkan, aku mengajak keluarga ITSnet untuk makan sate bareng di bilangan Klampis. Satenya enak! Thanks God! Terima kasih Tuhan…

Published
Categorized as TA/Kuliah

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

3 comments

  1. Salam kenal mas Galih….
    aku suka dg ungkapan"senyum bahagia setengah lemas"-nya.semu memang perlu perjuangan keras,it's a hard-hard day and we've been working like a Dog!
    aku juga masih lemes, kelar kegiatan pelatihan jurnalis di kampus Unesa tersayanggg…
    selamat ya,buat tugasmu yg goal-
    kapan2 diskusi bareng yuk,samperin emailku ya…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *