Catatan Unik Bernuansa Politik tentang JDeveloper

Selama bertahun-tahun, aku selalu bertanya-tanya, apa keuntungan sebuah free software kecuali popularitas dan promosi? Misalnya Oracle DB 10g Express Edition, paket Microsoft Visual Studio .net 2005 Express Edition, Oracle JDeveloper yang rilis 10g-nya berlisensi free. Aku tahu betul alasan dibalik gratisnya Oracle XE: Promosi produk Oracle. Koneksi maksimal yang hanya 19 koneksi konkuren membuktikannya. Visual Studio aku belum pernah punya pengalaman. Dan JDeveloper, aku paling penasaran dengan produk ini, dan aku baru saja menemukan jawabannya!

JDeveloper adalah Java IDE yang luar biasa. Fasilitasnya sangat-sangat kaya baik untuk mengembangkan Java Standard Edition (formerly known as J2SE) ataupun Java Enterprise Edition (formerly known as J2EE). Apalagi untuk kelas programmer Java kacangan kayak aku ini: JDev terlalu kaya! Aku tidak akan mereview-nya sekarang, tapi aku akan membahas tentang alasan kenapa JDev digratiskan oleh Oracle. Rasanya bull shit jika maksud Oracle adalah beramal :p. Open source IDE kayak Netbeans dan Eclipse saja bukan itu alasannya.

Jawabannya terletak di Oracle ADF! Penggunaan JDev secara tidak langsung dan sangat halus membuat kita harus menggunakan library ADF yang lisensinya mintak ampun. Aku katakan ‘halus’ karena secara eksplisit JDev tidak memaksa kita menggunakan library ADF. Para petinggi JDeveloper di Oracle selalu bilang lisensi JDev benar-benar lepas dari ADF dan JDev tidak memaksa usernya untuk menggunakan ADF. Itu memang benar!

Lha, pemaksaan halusnya dimana? Di setting-setting default Wizardnya. Misalnya begini: kita pengen membuat sebuah halaman JSF dengan JDev. Wizard JDev sangat memudahkan ini. Di situ ada dialog yang meminta kita memasukkan library yang dibutuhkan. Di pilihannya selain library standar Java, selalu ada pilihan library ADF. Pada tiga atau empat kali pemakaian Wizard pertama, library ADF secara default tidak disertakan. Tapi setiap kali, entah keberapa kali, library ADF itu dipilihkan secara default oleh JDev. Benar-benar cerdas! Psikologi programmer benar-benar dimainkan di sini. Sepertinya pembuat JDev tahu jika kita sudah tiga empat kali menggunakan Wizard dengan user interface yang sama persis, pemakaian berikutnya kita sudah tidak terlalu melihat Wizard dengan mendetail, toh kita sudah hafal. Dan akhirnya penambahan library ADF itu menjadi tidak terlihat oleh programmer!

Aku membuat web JSF-ku dengan JDev mulai versi 3 dan blog ini mulai versi 0.1. Sudah berkali-kali aku mengulang-ulang membuat aplikasi yang sama mulai dari awal dan selalu tidak menyadari kenapa library ADF tiba-tiba muncul di folder lib-ku. Dan aku tahunya baru kemarin, ketika aku mengubah halaman depan galihsatria.com menjadi asynchronous connection. Uniknya, sekali aplikasi kita ketambahan library ADF, kita tidak bisa menghapusnya lewat tombol [Delete Library]. Itu akan membuat keseluruhan aplikasi menjadi tidak jalan ketika dideploy. Anehnya, aplikasi yang tidak jalan itu hanya akan bisa dideploy dengan baik di kelurga Oracle Application Server (say, OC4J). Ah, permainan politis lagi….

Tapi meskipun demikian, aku berpendapat itu wajar. Tool sedahsyat JDev tidak akan gratis jika tidak ada udang di balik batu. Kita tetap bisa memakai JDeveloper dengan aman, asalkan benar-benar teliti untuk selalu waspada dengan muslihat-muslihat halus JDeveloper. 🙂

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

2 thoughts

  1. Bagi rekan-rekan yang berminat mengikuti training Oracle JDeveloper 10g: Build Apps with ADF jadwal-nya tgl 11 – 15 Agustus 2008, trainingnya bisa dimulai jam 16.00 – 21.00.

    Tempat:
    PT Optima Bisnis Integra
    Authorized Sun, Symantec & Cisco Education Center
    Sun Partner Advantage
    Rasuna Office Park LO-09
    Jl. HR Rasuna Said
    Jakarta
    Tel. (62-21) 8378 6480 – 81
    Fax (62-21) 8378 6470
    Cel. (62-21) 9349 7744, +62 816 95 7330
    http://www.optimacomputer.com

  2. trims atas catatan blog nya ttg “Catatan Unik Bernuansa Politik tentang JDeveloper”

    saya newbie, dan berniat untuk mengambil pelatihan JDev, alasannya simpel, ikut arus besar alias ikut bendera Oracle. Belum lagi kemampuan JDev yang dahsyat.

    Namun sekali lagi, saya bertanya pada diri sendiri, apa dunia kerja, terutama di Indonesia membutuhkan programmer JDev??bagaimana prospek nya ke depan?

    Terimakasih atas jawabannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *