Tidak Mungkin Ada di Bangku Kuliah dan Praktikum (2)

Aku tidak bisa membayangkan kejadian selanjutnya. Wartawan-wartawan memaksa masuk dan membuat keadaan semakin tegang. Sejak saat itu aku benci wartawan. Mereka benar-benar tidak punya sopan santun. Akhirnya — masih di ruang data kontrol — aku meminta data yang sudah ada agar aku bisa menyelesaikan programku.

Astaganaga… data yang kuterima jauh-jauh lebih buruk dari data mentah terburuk yang bisa kuperhitungkan. Datanya berupa PDF terpassword, dan tidak bisa dicopy-paste! Ini malah tidak mentah, tapi terlalu matang! Mas Sokam mencoba mengkonvertnya ke teks, dan hasilnya lebih amburadul lagi. Padahal aku cuma membutuhkan tab delimited text file untuk diumpankan ke parserku, dan pilihan satu-satunya adalah mengubah data amburadul itu menjadi tab delimited secara manual… yang pastinya tidak akan selesai dalam 1 jam 2 jam saja. Aku tidak bisa membayangkan kemarahan para peserta CPNS yang sedang berharap-harap cemas menunggu. Sementara… access log server semakin bergerak cepat.

Akhirnya sekitar pukul 21:30 aku menerima apa yang aku perlukan: tab delimited text file yang berisi data. Dengan girang aku segera mengolahnya dan pukul sekitar pukul 22:30 aku baru bisa mempublikasikannya di web. Itupun masih baru beberapa kota/kabupaten yang tidak bermasalah. Dan semalam suntuk berikutnya, aku harus bekerja dobel, mengatur data-data dan memonitor server yang alhamdulillah bekerja lancar dan tidak mogok, karena mas sokam harus mengurusi server di BPDE yang bermasalah.

***

Pelajaran yang tidak ada di ruang kuliah dan praktikum…. sangat-sangat beruntung aku bisa belajar banyak dari event ini. Bagaimana kita dituntut untuk tetap berpikir jernih, tetap tenang, di saat tekanan datang dari mana-mana. Bagaimana kita dituntut untuk tidak panik menghadapi sesuatu yang sama sekali di luar dugaan. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika yang memegang pucuk pimpinan bukan Pak Ari, dan apa yang terjadi jika penanggung jawab data bukan Pak Dwi. Dua figur pemimpin yang masih bisa memegang kendali di saat keadaan sangat kacau balau.

Tetapi aku juga kecewa dengan reaksi orang yang bisanya hanya ngritik doang padahal kami sudah bekerja sangat keras untuk pelayanan publik ini. Meskipun aku juga maklum dengan mereka.. mereka semua berharap lolos jadi PNS dan betapa kecewanya jika pencari kerja itu gagal dan tentu saja melampiaskan kekecewaan mereka kepada kami dengan berbagai prasangka buruk. Mereka tidak mungkin bisa mengerti sulitnya bekerja dengan skala sebesar ini (se-Jatim) dan dengan dikejar-kejar deadline.

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

4 comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *