Antara Romantisme dan Cinta Sejati

Aku sering menulis kata-kata gombal tentang cinta sejati, khususnya kalo lagi romantis nulis puisi buat si “itu”. Hmm… tapi apakah cinta sejati itu sebenarnya? Baru saja baca artikel yang menarik di kompas:

http://www.kompas.com/kesehatan/news/0508/11/132354.htm

Well… di situ ada sesuatu yang menarik:

Stephen Palmquist, pengajar filsafat dan psikologi dari Hong Kong, berpandangan bahwa ketergila-gilaan seseorang yang jatuh cinta akan terpelihara selama terdapat rintangan dalam hubungan mereka. Rintangan itu mungkin berupa perbedaan status sosial (itu sebabnya novel Agatha Christie membuat ‘mabuk’), perbedaan agama, status belum/tidak menikah, dan sebagainya.

Semakin besar rintangan, semakin romantis cinta itu. Intensitas hubungan percintaan semacam inn datang dari hasrat untuk mengatasi rintangan.

Namun, romantika seperti ini tidak akan bertahan selamanya. Kala rintangan dalam hubungan telah lenyap, misalnya terjadi pernikahan, lenyap pula perasaan romantisnya.

Inikah sebabnya aku nggak pernah bisa sembuh dari patah hati? Inikah sebabnya dari waktu ke waktu rasa itu malah makin menggila? Benarkah yang kurasakan bukan cinta betulan? hanya sebuah kehausan akan romantisme? Kalau ini memang benar yang terjadi padaku, sudah sepantasnya ia menolak aku, sudah sepantasnya aku tidak bisa memilikinya…..

Published
Categorized as Melankolis

By Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *