Tentang Move-On

Posted by: on Feb 11, 2012 | No Comments

Minggu ini, saya akan menulis tentang melankolis. Februari, musim orang sedang jatuh cinta dan patah hati. ^_^

Saya ditanya di Twitter, bagaimana caranya move on? Secara matematis, saya pernah empat tahun tidak berhasil move on, menghasilkan puluhan puisi dan ratusan curhat di kategori melankolis ini. Jadi sebenarnya, saya bukan orang yang ahli untuk melupakan yang telah berlalu dan suka dengan kondisi terluka dan patah hati.

Bagaimana caranya sembuh dari patah hati? Sependek pengalaman saya, ya, menemukan figur baru. Tidak mungkin melupakan orang yang pernah menyakiti kita. Sampai sekarang pun, saya akan ingat setiap kali menulis variabel  int x = 0; di kode program saya. Saya akan ingat ketika melihat penjual kerak telor. Jadi, daripada susah-susah berjuang dilupakan, tempatkanlah ia di tempat yang baik, di salah satu sudut hati, sebagai salah satu bagian sejarah yang indah.

Indah? Bukankah saya berkali-kali menulis potongan syair entah punya siapa, Love is such beautiful pain? Setiap orang akan menikmati sakitnya patah hati. Karena saya hanya bisa bikin puisi kalau lagi patah hati.

Permasalahannya adalah, bagaimana menemukan figur baru itu?

Nah kan, jadi lingkaran setan. Patah hati hanya bisa sembuh ketika kita telah menemukan figur baru. Padahal setiap kali muncul figur baru, kita selalu membandingkannya dengan yang telah berlalu.

Entahlah, saya sendiri belum pernah merasa menemukan figur baru yang lebih baik. Tidak ada gadis yang lebih cantik darinya. Tidak ada yang bisa diajak curhat, diskusi, tertawa bareng seperti dia. Tidak ada yang bisa membuat saya merasa seperti anak kecil yang merasa aman di dekat figur keibuan seperti dia. Di saat yang sama, tidak ada yang bisa membuat saya seperti seorang ksatria yang sanggup menyelamatkannya dari gangguan apapun. Sampai saat ini, tidak ada yang bisa seperti itu.

Tapi bukankah tiap orang itu unik? Kalau mindset-nya mencari yang bisa seperti itu, bukankah saya hanya akan menyakiti figur baru itu karena saya tidak menempatkannya di tempat yang tertinggi di hati saya, bahkan hanya sebagai figur pengganti? Mungkin tanpa sadar, saya memang telah menyakiti figur baru itu. Maafkan aku, aku hanya laki-laki biasa yang punya sangat banyak kekurangan yang aku coba tutupi dengan segala macam topeng. :-(

Hasbunallah wa nikmal wakil.

Cukuplah Allah buat saya. Segalanya akan lebih simpel kalau segala urusan dikembalikan kepada Allah. Apa sih niat saya? Kalau mencari pasangan hidup untuk menggenapkan separuh dien, kenapa urusannya dijadikan seribet itu? Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi saya mencoba mengurangi segala kriteria yang bersifat “duniawi”, membuka segala pintu kemungkinan jodoh itu datang dari pintu mana. Apakah melalui pacaran, taaruf, perjodohan… segalanya saya buka.

Yang cukup mengerikan yang sedang saya bayangkan adalah: bahwa saya akan menikah tanpa melalui proses jatuh cinta.

Apakah move on saya sudah lebih mirip putus asa? Semoga bukan. Tetapi di sini yang ingin saya share adalah:

  • Tidak mungkin melupakan orang yang pernah mencuri hati. T-i-d-a-k M-u-n-g-k-i-n. Jadi, tempatkanlah dia sebagai salah satu bagian dari sejarah hidup.
  • Pakai pikiran jangan perasaan. Saya yakin, cewek lebih susah move on, tapi ya hanya rasionalitas dan logika yang bisa menyelamatkan orang dari jatuh cinta. Because love is blind, and I will find my way with you.
  • Kembalikan segala urusan kepada-Nya.
  • Buka segala pintu kemungkinan. Jodoh akan datang melalui cara yang tidak terduga-duga.

Dan satu hal lagi yang sedang saya nasihatkan ke diri saya sendiri. Tidak boleh putus asa. Tidak boleh bosan melalui jalan yang itu-itu lagi ketika sebuah hubungan kandas di tengah jalan. Melelahkan. Apalagi kalau urusannya sudah serius dan sudah membawa antar keluarga. Urusannya tidak hanya sekedar perasaan sendiri dan yang dikasihi, tetapi sudah menyangkut perasaan, harga diri, nama baik, dan ego antar keluarga.

Percayalah pada saya, nanti setelah move-on, ketemu figur baru, lalu sudah serius, masih banyak hambatan dan tantangan yang lebih kompleks ketimbang sekadar move on. Mungkin karena pernikahan itu adalah sebuah mitsaqan ghaliza ya, dan penggenapan dien, makanya setan yang mencoba menghalangi bukan yang kelas teri lagi.

Pembagian Kelas Kamera, Versi Saya

Posted by: on Feb 10, 2012 | One Comment

Jika kita ingin belajar memasak, tentu benda yang pertama kali harus kita punyai adalah alat masak: kompor, wajan, dan bahan makanan. Begitu juga dengan kalau kita suka fotografi dan ingin belajar fotografi: benda yang mutlak harus kita punya adalah sebuah kamera.

Apakah harus kamera bagus dan mahal? Iya dan tidak, tergantung mau seserius apa kita belajar. Kalau mau bisa bikin hidangan ala barat, tentu wajan tidak cukup untuk membuat masakan barat. Mungkin perlu oven, blender, segala macem. Begitu juga dengan fotografi, kalau mau bikin foto bagus sekelas foto iklan di baliho, butuh kamera dan lensa yang bagus — yang pasti mahal harganya.

Nah, di sini saya mau share tentang berbagai macam jenis kamera, menurut versi saya tentu saja. Setiap jenis kamera memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tentu saja. Kalimat bodoh.

Mobile Camera

Ini saya kategorikan untuk kamera-kamera kecil yang biasa ada di gadget: ponsel, smartphone, dan tablet. Ciri-cirinya, ukuran lensanya mini, hanya menjadi bagian dari fungsi alat induknya. Karena ukurannya yang mini, jangan berharap banyak dari kamera jenis ini. Tidak terlalu tajam, range warna dan cahaya yang sempit, dan noise-nya gila-gilaan. Tetapi keunggulannya adalah ia bisa secepat kilat diunggah ke internet. Makanya orang biasa memakai ini untuk pamer ke teman-temannya bahwa ia sedang ada di mana, ngapain, dsb.

Jika mengutip profil Instagram saya, fotografi mobile itu menarik. Keterbatasannya menantang kreativitas untuk menaklukkannya. Fotografi mobile, tidak bisa mengunggulkan kualitas teknis agar dilirik, tetapi lebih mengandalkan kekuatan konsep, cerita, dan komposisi.

Kamera Saku

Mungkin hampir setiap orang memiliki kamera jenis ini. Kamera kecil yang bisa dikantongi. Fungsinya hanya sebagai kamera dan kamera video tanpa fungsi yang lain. Karena itu, ukuran lensanya lebih besar daripada kamera mobile, dengan LCD yang lebih luas. Sekarang saya memakai Panasonic Lumix DMC F-3 yang murah meriah.

Kamera saku mengedepankan segi kepraktisan, maka disebut juga point and shoot camera. Tunjuk dan bidik. Gak usah pakai mikir. Don’t think. Just shoot!

Nah uniknya, saya pikir kamera saku akan semakin terjepit di tengah seiring meningkatnya kualitas kamera mobile. iPhone bisa dikatakan kamera mobile yang terbaik saat ini. Saya sering mengantongi kamera saku saya, memotret, lalu mendiamkannya sampai saya mentransfer-nya ke laptop, editing, lalu mengunggahnya ke web. Project365 di photoblog saya nampaknya hanya bertahan sebulan saja, hehehe…

Kamera Prosumer (Kamera Saku High Level)

Kamera saku saya kategorikan untuk kamera-kamera digital yang harganya di bawah 2,5 juta. Di atas itu saya sebut kamera saku high-end, atau sering disebut juga kamera prosumer. Kamera ini seperti kamera saku karena lensanya tidak bisa diganti-ganti, tetapi dengan fitur dan kualitas yang jauh lebih baik. Pengguna kamera ini ada dua: satu adalah orang yang memiliki budget lebih untuk membeli kamera saku karena ia menginginkan kualitas yang bagus dan tidak usah beli apa-apa lagi. Dan dua adalah penghobi foto yang menjadikan ini sebagai kamera kedua setelah kamera DSLR high-end-nya.

Iya, saya sering malas membawa Nikon D90 yang berat itu (karena harus bawa tas sendiri). Makanya saya menjadikan Lumix F-3 sebagai kamera kedua. Tetapi F3 sendiri kurang jika harus memotret kondisi-kondisi sulit seperti low light, butuh depth of field, macro, dsb. Contoh kamera di kelas ini adalah Canon Powershot G12 (baca: ji twelfv).

Kamera Mirrorless

Saya tahu kamera lucu ini setahun yang lalu waktu teman saya membawa kamera Olympus PEN ke kantor. Bodi-nya yang sekecil kamera saku tapi berlensa gendut membuat saya berpikir itu kamera prosumer. Makin melongo ketika teman saya itu membuka lensa dan menggantinya dengan lensa manual tua buatan Rusia. Ia tergabung di komunitas PENatics, yang sedang gandrung dengan lensa-lensa manual fokus berkualitas bagus.

Jadi ini adalah semacam perkawinan antara SLR dan kamera saku. Lensa bisa diganti-ganti, dengan layar bidik LCD tanpa viewfinder untuk mengintip. Sehingga ukurannya, baik ukuran bodi maupun lensa bisa diperkecil secara signifikan. Praktis, dengan kemampuan yang “nyaris” menyamai DSLR. Saya yakin, beberapa tahun ke depan bukan tidak mungkin kamera ini menduduki kasta tertinggi di dunia fotografi menggeser DSLR.

Kelemahan utama dari mirrorless kamera adalah shutter lag-nya, yaitu jeda/tunda/delay sepersekian detik ketika tombol shutter dijepret. Ini tentu menjengkelkan karena banyak sekali momen yang memerlukan reaksi saat itu juga. Shutter lag ini disebabkan oleh waktu yang diperlukan kamera untuk memindahkan sensor dari mode preview ke mode record.

Ini tidak dialami oleh DSLR karena mode preview dipantulkan oleh cermin, dibelokkan ke viewfinder. Ketika shutter dijepret, cermin tinggal diangkat dan cahaya langsung menuju sensor yang selalu dalam mode record. Makanya model ini disebut SLR – Single Lens Reflex.

Kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex)

Nampaknya saya tidak perlu menjelaskan lagi jenis kamera ini. Ini adalah kamera yang biasanya berwarna hitam, memiliki viewfinder untuk mengintip, lensa yang juga cukup besar, dan yang pasti tidak bisa dimasukkan ke dalam saku. Saat ini, teknologi kamera digital paling canggih ada di kamera DSLR, bahkan untuk entri level sekalipun. Kemampuan menangani noise yang halus, cahaya remang-remang, range warna yang luas, menjadikan kamera DSLR menghasilkan kualitas gambar yang terbaik.

Untuk belajar fotografi, membeli kamera DSLR adalah menunjukkan keseriusan yang tinggi. Ada banyak hal yang bisa dieksplorasi dengan kamera DSLR. Tetapi, saya harus memperingatkan anda dari awal, kamera DSLR hanyalah salah satu bagian kecil dari alat fotografi. Saya harus katakan, dengan satu kamera DSLR dan lensa normal (18-55 mm), dan jika anda ingin:

  • Membuat foto candid, anda perlu lensa tele di atas 70 mm
  • Membuat foto pemandangan yang asal jepret saja pasti kelihatan bagus, anda perlu lensa wide di bawah 17 mm
  • Memotret pernikahan, model, prewedding, anda perlu alat pencahayaan tambahan, bisa speedlight, bisa juga softbox

Jer basuki mawa beya. Begitulah. Makanya sayang sekali kalau sudah bisa motret, punya kamera bagus, tidak dikomersilkan. Paling tidak bisa mengganti biaya beli alat-alat ituh….. He he he …

Saham untuk Pemula (3 – Habis)

Posted by: on Feb 9, 2012 | 2 Comments

Oke, sekarang, paling tidak kita sudah punya daftar 20 saham yang baik. Saya memutuskan untuk menulis tentang rasio dan kriteria saya sendiri di lain waktu karena itu memerlukan penjelasan tentang analisis fundamental yang lebih. Bulan Februari, musimnya orang jatuh cinta, masak nulisnya begini-begini mlulu, saya mulai merasa blog ini semakin tidak punya perasaaan (coba bandingin sama masa 2004-2006 — isinya patah hatiiii mlulu hahahaha).

Saham-saham yang saya sebutkan di seri Saham untuk Pemula (2), sudah merupakan saham yang baik untuk dikoleksi. Di titik ini boleh-boleh saja membeli dengan emosi dan perasaan:

  • Pilih yang paling anda kenal.
    Dalam hal ini, saya sudah memilih Bank BRI dan Charoen Pokphand.
  • Pilih yang paling terjangkau.
    Di sini saya belum memakai istilah mahal dan murah karena mahal dan murahnya saham sama sekali tidak dicerminkan oleh harga per lembarnya. Ini berhubungan dengan valuasi saham (ada cukup banyak metode valuasi yang cukup bikin pusing).
    Contoh, untuk membeli 1 lot CPIN, dengan asumsi harga Rp. 2600 per lembar, maka anda memerlukan uang minimal sebesar Rp. 1,300,000. Untuk BBRI, dengan asumsi harga Rp. 6900 per lembar, maka anda perlu uang minimal sebesar Rp. 3,450,000.

Setelah itu, kita masuk ke pertanyaan semilyarnya? Kapan harus membeli?

Hal yang paling gampang tanpa banyak berpikir adalah membelinya secara rutin, misalnya sebulan sekali. Katakanlah setiap bulan anda bisa menyisihkan penghasilan Rp. 1,3 juta. Di minggu-minggu tersebut, tunggulah IHSG turun berapapun, dan pastikan saham incaran anda juga sedang turun — berapapun. Lalu belilah. Lakukan secara rutin dan konsisten.

Kalau anda sudah punya dana yang cukup besar, katakanlah, mari berandai-andai, Rp. 100 juta. Maka anda perlu timing untuk melakukannya. Ilmu yang mempelajari kapan ini disebut analisis teknikal. Timing yang sederhana adalah, belilah saat terjadi krisis ekonomi atau moneter di saat pasar modal sedang berdarah-darah. Contoh waktu yang tepat buat masuk pasar adalah saat krisis tahun 1998, 2005, dan 2009 kemarin. Atau Oktober 2011 saat krisis Eropa kemarin. Sekarang bukan saat yang cukup tepat karena saham-saham sudah beranjak mahal. Tunggu saja. Masukin ke logam mulia saja dulu. Secara makro, fundamental Indonesia sangat-sangat bagus. Andai saja infrastruktur telah bagus, dan korupsi itu tidak sebesar sekarang, kita tentu sudah menjadi macan Asia, bukan Cina atau India.

Terakhir, belajar analisis fundamental dan teknikal adalah hal yang perlu dikuasai sebelum masuk pasar modal. Tidak ada sesuatu yang instan. Dengan menguasai ilmu itu, kita akan lebih tenang melihat perkembangan turun naik investasi di pasar modal. Berikut adalah buku-buku yang pernah saya baca:

  • Kiat Investasi Valas, Emas, dan Saham. Istijanto Oei (saya baca tahun 2009).
  • Trading for Dummies. Michael Griffis (saya baca tahun 2011).
  • Technical Analysis: The Complete Resource for Financial Market Technicians. Charles D. Kirkpatrick (2011).
  • The Intelligent Investor. Benjamin Graham (2011).
  • Corporate Finance. Jonathan Berk (2011).
  • Investor Sibuk: Solusi Investasi di Bursa Saham Indonesia bagi orang Sibuk. Ferdie Darmawan (2011).
  • Happy Investing: Temukan Rahasia Sukses Berinvestasi di Pasar Saham. Jhon Veter (2011).

Selengkapnya di rak pasar-modal di Goodreads saya.

Terima kasih. Semoga bermanfaat. Selamat berinvestasi. ^_^

Saham untuk Pemula (2)

Posted by: on Feb 4, 2012 | 5 Comments

Oke, setelah mengerti risiko segala macem, saatnya menjawab pertanyaan “Saya harus membeli saham yang mana?”. Ada lebih dari sekitar 400 perusahaan publik yang listing di Bursa Efek Indonesia. Ada perusahaan yang benar-benar bagus, misalnya Bank Mandiri, Semen Gresik, ada yang sekedar mainan para konglomerat macam perusahaan-perusahaannya group Bakrie.

Bagaimana mengetahui sebuah perusahaan itu baik atau tidak? Melalui analisis laporan keuangan dari setiap perusahaan dan diperbandingkan melalui berbagai macam rasio. Ini harus saya akui tidak gampang karena kita harus mengakrabkan diri dengan bahasa-bahasa accounting. Menjadi seorang finance geek. Ini dinamakan analisis fundamental.

Well, tapi kalau sudah niat belajar, apapun menjadi mudah bukan? Saya mulai baca buku tentang pasar modal dan investasi tahun 2009, lalu di sekolah bisnis S2 diajari Corporate Finance tahun 2010, dan baru berani membeli saham pertama saya: Kalbe Farma, tanggal 23 Januari 2011.

Jika nggak mau report-report, alternatifnya: beli reksadana saham. Tidak cukup waktu untuk belajar segala hal tentang analisis fundamental, sudah ada yang mengerjakan yang disebut manajer investasi. Tinggal cari reksadana terbaik dari majalah-majalah, lalu beli rutin setiap bulan (beli kalau IHSG lagi turun, berapapun turunnya), dan kuitansinya taruh di laci. Buka laci lagi lima tahun lagi dan lihat apakah nilainya sudah berlipat.

Tidaaak! Saya tetap pengen beli saham! Lebih asyik beli biangnya langsung! Tapi gak ada waktu buat belajar analisis fundamental!

Baiklah, masih ada cara buat memilih saham. Conteklah portofolio (susunan/komposisi/daftar saham para manajer investasi). Cari dokumen yang namanya Fund Fact Sheet di website manajer investasi. Atau lebih instan lagi, intip portofolio mereka di Bloomberg. Misalnya, berikut adalah top holding dari reksadana Schroder Dana Istimewa yang saya ambil dari Bloomberg: BNI, United Tractors, Astra International, Bumi Resources, Gudang Garam, Indofood Sukses Makmur, Bank Mandiri, Bank Jabar Banten, PT Telkom, dan Perusahaan Gas Negara.

Sumber yang lain, adalah rekomendasi dari majalah. Ini adalah 20 saham dengan fundamental yang baik menurut majalah Investor edisi Januari 2012:

  1. Bank Rakyat Indonesia (BBRI)
  2. Bank Negara Indonesia (BBNI)
  3. Bank Mandiri (BMRI)
  4. Bank Central Asia (BBCA)
  5. Jasa Marga (JSMR)
  6. Alam Sutera Reality (ASRI)
  7. Holcim Indonesia (SMCB)
  8. Semen Gresik (SMGR)
  9. Astra International (ASII)
  10. Perusahaan Gas Negara (PGAS)
  11. Telkom Indonesia (TLKM)
  12. XL Axiata (EXCL)
  13. United Tractors (UNTR)
  14. Adaro Energy (ADRO)
  15. Aneka Tambang (ANTM)
  16. Indo Tambang Raya Megah (ITMG)
  17. Astra Agro Lestari (AALI)
  18. Charoen Pokphand Indonesia (CPIN)
  19. Indofood Sukses Makmur (INDF)
  20. Kresna Graha Securindo

Nah, silakan pilih salah satu. Tetapi saya pribadi tidak akan berani membeli tanpa konfirmasi dari hasil analisis fundamental saya sendiri. Meskipun cukup rumit, masih ada cara cepat untuk melakukan analisis fundamental dari alat screener website Financial Times. Yang penting adalah kriteria Anda untuk memilih suatu saham. Masing-masing orang akan berbeda kriterianya, sehingga portofolio masing-masing orang juga akan berbeda. Kriteria saya sendiri, akan saya share di postingan berikutnya….

Namanya juga postingan berseri :p

Saham untuk Pemula (1)

Posted by: on Feb 3, 2012 | 9 Comments

Mbak dokter Vicky menanyakan hal yang luar biasa buagus di postingan saya yang ini, bunyinya begini:

Galih, saya kepingin punya saham. Buat orang awam bermodal kecil-kecilan macam saya, enaknya saya beli saham yang bagaimana, yang seharga berapa, dan kira-kira kapan saya bisa dapet untungnya?

Pertanyaan ini tidak gampang dijawab sebaris dua baris saja karena berinvestasi di pasar modal itu gampang-gampang susah. Sama seperti mas Indobrad yang bilang dia belum berani main saham, saya juga. Saya tidak berani main saham. Saya sangat serius dengan saham sehingga tidak saya mainkan. Sepanjang tahun 2011, saya mencoba berbagai macam teknik trading (atau… baiklah, … spekulasi), dan melihat pola pekerjaan saya, saya tidak cukup waktu untuk melakukan swing trading.

Tapi orang suka yang instan-instan bukan? Jadi di sini saya mencoba membagi tips untuk memulai icip-icip rasanya beli saham. Membeli perusahaan gedeeee. Harapannya, nanti kalau sudah terjun, kalau dapat untung mendadak jangan jadi merasa hebat, kalau dapat rugi, jangan panik dan jangan kapok. Terus belajar.

1. Kenali Risiko

Kita semua sudah tahu sampai tingkat paranoid. Pasar modal itu risiko tinggi. Sudah banyak cerita banyak orang yang bangkrut karena maen saham. Gejolak ekonomi selalu diawali dari keruntuhan pasar modal. Sebaliknya, indikator makro yang bagus juga diawali dari kinerja pasar modalnya.

Sebagian orang akan menghindari risiko. Tapi sebagian lagi melihatnya sebagai kesempatan untuk menangguk hasil yang lebih besar dengan meminimalisir risiko.

Percayalah pada saya, ada saham-saham yang tingkat risikonya nyaris seperti deposito.

Jadi hal yang terpenting buat masuk pasar modal sebenarnya justru bukan ilmunya, melainkan kesiapan emosi dalam menghadapi gejolak naik turunnya nilai saham. Apa yang anda lakukan jika nilai saham anda turun hingga 50% (modal sejuta tinggal setengahnya)? Jual rugi? Atau justru menambah koleksi?

Jika anda memilih opsi yang kedua, anda bisa jadi cocok menjadi investor di pasar modal.

2. Orientasi Jangka Paaaanjaaaaaaaaaaaang

Jangan terpengaruh oleh pergerakan harian atau mingguan. Tetap orientasi ke jangka panjang. Lihat grafik di bawah, dalam sepuluh tahun, tren IHSG sangat naik (istilah prokem-nya bullish). Ini sudah termasuk kejatuhan IHSG di tahun 2005 dan 2008. Bayangkan jika tahun 2000 sudah investasi di pasar modal, sekarang nilai kapitalisasinya sudah berlipat sekian ratus bahkan sekian ribu kali. Dan juga tentu saja tambahan dividen tiap tahun yang lumayan buat beli es cendol. ^_^

Untuk target di bawah tiga tahun, lebih baik jangan dimasukkan ke saham. Kecuali kalau anda sudah mengetahui gerak-gerik IHSG. Jitu meramal pergerakan besok setajam dukun beranak Tasik. Di dunia pasar modal ada dua mahzab besar: market is always wrong dan market is always right. Satu pihak berpendapat bahwa pergerakan indeks tercermin dari historikalnya Di lain pihak berpendapat, pergerakan indeks sama sekali acak, tidak ada hubungan dengan historikalnya. Dua-duanya sama-sama ilmiah, sama-sama hasil disertasi para profesor dan master-master keuangan kapitalis dunia.

3. Pakai Duit Nganggur

Duit kuliah, modal kawin jangan dimasukkan ke saham. Ber-ba-ha-ya. Salah-salah bisa di-DO dan ditinggal lari calon isteri/suami. Kenapa, ya karena gejolaknya itu tadi. Jangan sampai kita harus jual rugi karena memerlukan duit itu untuk keperluan yang mendesak.

Apa ya ada yang namanya duit turah (duit sisa)? Di sinilah pentingnya tujuan keuangan. Kebanyakan dari kita (termasuk saya), hidup dengan gaya yang di atas kemampuan kita. Kita hidup untuk hari ini dan esok. Kita tidak hidup untuk masa depan. Bahkan yang lebih ironis, kita membiayai hidup hari ini dengan hutang. Gaya hidup yang sebenarnya terlalu jauh di atas, tetapi kita harus masuk ke tingkatan itu karena teman-teman dan lingkungan kita memaksa kita untuk begitu.

**

Oke, sampai di sini dulu bahasan saya. Saya mempersilahkan teman-teman semua (mbak Vicky tentu saja yang udah tanya) untuk merenung tiga hal itu. Jika berani, saya akan lanjut bagaimana cara memilih saham yang baik dengan cepat dan instan. Sedekah komennya kakaak…. ^_^

Oh iya, supaya tidak penasaran, secara garis besar saya akan jawab pertanyaan di atas:

Saya juga orang awam, bermodal kecil, tidak terlalu banyak waktu untuk mantengin indeks IHSG. Saya memilih saham-saham yang mapan dan tidak terlalu bergejolak. Harus perusahaan besar yang labanya mencapai sekian trilyun rupiah. Masuk ke jajaran LQ45, harganya saya cari sekitar 1500 sampai 4000 supaya saya bisa beli tiap bulan. Saya berinvestasi untuk jangka panjang, sekitar 3-5 tahun, nabung buat DP untuk nyicil rumah di tahun kelima.

Modal awal saya, awal tahun 2011, lima juta. Waktu terjadi gejolak di bulan Oktober 2011 kemarin, saya belikan saham Charoen Pokphan Indonesia (CPIN) waktu harganya jatuh di 2000-an. Sekarang harganya ada di 2650-an. Sudah naik sekitar 24%. Tapi saya tidak segera mencairkannya, saya hanya menunggu harganya sedikit turun untuk menambahnya, rutin setiap bulan. Karena memang saya mau mencairkannya di tahun kelima waktu saya berharap tabungan saya ini sudah cukup untuk mencicil rumah kecil di daerah suburban Jabodetabek.

Semoga bocoran sedikit di atas menginspirasi. Oh iya, saya juga mengalami beberapa kerugian kok waktu saya belajar menjadi swing trader. Untung juga. Yah, dinamika untung rugi lah. Namanya juga belajar. ^_^

Sampai ketemu di postingan berikut…

Membeli Saham, Transaksi Fiktif?

Posted by: on Jan 27, 2012 | 6 Comments

Banyak orang yang masih menganggap pasar modal itu adalah transaksi keuangan fiktif yang menjurus pada money game. Barang yang diperjualbelikan tidak ada dan hanya bermain spekulasi pada gejolak indeks dan harga saham. Semua teman saya akan mudah mengerti investasi logam mulia, dengan alasan barang fisiknya ada, nyata, bisa digenggam. Dan semua memicingkan mata ketika saya ajak untuk investasi di saham, dengan alasan barang fisiknya tidak ada. Apa iya?

Saham adalah bukti kepemilikan sebuah perusahaan. Salah satu cara perusahaan mendapatkan modal adalah menjual kepemilikan dalam bentuk lembar-lembar saham. Uang yang secara nyata masuk ke perusahaan adalah saat penawaran harga saham perdana (IPO – Initial Public Offering). Kemudian, bukti kepemilikan ini bisa diperjualbelikan di pasar sekunder dengan harga mengikuti mekanisme pasar. Bisa jadi lebih tinggi atau lebih rendah dari harga penawaran perdana. Nah, gejolak di pasar sekunder inilah yang dijadikan ajang spekulasi oleh spekulan.

Apa bukti bahwa saham adalah bukti kepemilikan? Deviden. Perusahaan, melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), menentukan nilai yang disisihkan dari laba ke pemilik modal sebagai bagi hasil keuntungan. Jumlah nilai itu dibagi per lembar saham yang diterbitkan oleh perusahaan. Perusahaan yang baik biasanya memerlukan waktu 10-20 tahun untuk mengembalikan jumlah modal yang diberikan investor dalam bentuk deviden (dengan asumsi saham tidak pernah dijual, dibeli dari pasar sekunder — jadi tidak ada faktor capital gain). Kepemilikan saham mayoritas bahkan bisa menentukan arah akan dibawa kemana perusahaan itu.

Tapi kan tidak ada bukti kepemilikan secara fisik seperti surat saham?

Mekanisme pasar saham sudah lama meninggalkan surat saham berbasis kertas dan telah sepenuhnya dipindahkan ke media elektronik (database komputer). Kepemilikan surat saham akan terlihat di aplikasi trading dari broker kita yang biasanya diberi judul: “Portofolio”. Lah, kalau begitu saham kita dipegang sama si broker dong? Nah, di sini ada badan bernama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menyimpan surat-surat saham itu secara elektronik. Setiap investor pasar modal, besar ataupun kecil, bisa memiliki akses ke KSEI dengan menggunakan kartu KSEI. Saya juga punya.

Waktu saya memilih saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI), saya membelinya tidak hanya sekadar analisis teknikal dan fundamental saja, tetapi juga karena faktor emosional. Saya menabung pertama kali di produk Tabanas BRI. Ibu saya fanatik dengan BRI. Dan jaringan BRI yang sedemikian luas dan mengakar di desa-desa membuat saya suka bank ini. Jadi saya membelinya. Jadi, meskipun kepemilikan saya mungkin ibarat debu pasir di pantai, saya adalah salah satu pemilik Bank Rakyat Indonesia. Sehingga jelas, saya tidak setuju jika jual beli saham itu adalah transaksi fiktif yang tidak ada objek jual belinya.

Liburan Imlek

Posted by: on Jan 25, 2012 | 5 Comments

Terima kasih kepada Gus Dur yang telah mematahkan satu batasan rasisme yang menjadikan perayaan tahun baru Imlek menjadi begitu meriah dan terbuka seperti sekarang. Dan tentu saja buat yang tidak ikut merayakannya: bonus liburan tanggal merah. Dan apalagi jika itu nyambung menjadi long weekend, hal itu patut disyukuri oleh saya yang bisa pulang mudik.

Seperti biasa, saya membawa kamera lengkap saya jika melakukan perjalanan jauh — kamera DSLR, lensa normal, salah satu lensa tele atau wide, dan kamera saku untuk dikantongi. Tapi sepertinya, besok-besok kalau mudik saya cukup bawa kamera saku saja karena nyatanya kamera DSLR segede bagong itu tidak pernah keluar dari tasnya.

Saya hanya tiga hari di rumah, saya ingin menghabiskan semua waktu yang sedikit ini di rumah saja. Kalau saja Gajayana itu bisa menempuh jarak Jakarta – Tulungagung itu dalam 6 jam saja ^^ dengan tarif seratus ribu sekali jalan ^^. Nganter ibu ke pasar, nyetirin ortu ke kondangan yang lagi musim, masukin mobil ke garasi — semua hal yang dulu saya males-malesan kalau disuruh, tetapi sekarang saya ingin lakukan tiap hari — kalau bisa…

Tidak ada koneksi internet, ternyata saya bisa mengerjakan banyak hal yang lebih bermanfaat ketimbang sekadar baca dan nulis twit. Dalam tiga hari itu, saya bisa menghabiskan tiga buku: textbook Drupal 7 yang berat, Leadership Secrets of Gus Dur-Gus Miek, dan Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika yang ringan. Sesuatu yang nampaknya sulit saya lakukan di Jakarta.

Liburan yang sempurna itu ternyata tidak harus ke tempat wisata. Justru kalau sedang banyak pikiran, kemanapun badan di bawa pergi, pikiran tetap tidak bisa nyantai. Kalau semuanya rileks, maka berdiam di rumah menjadi liburan yang sempurna. Tanpa koneksi internet, setumpuk buku, dan pisang goreng. ^^

Switch to our mobile site