02.06.2013 - 08.06.2013

The Wedding

The Wedding

Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Enam bulan sejak pertunangan kami itu ternyata tidak lama. Akhirnya, tiba saatnya hari-hari menuju next step in my life. Sebuah tahapan baru dalam hidup saya, menggenapkan setengah dien. Oleh karena itu, saya pribadi mohon doa restunya kepada teman-teman semua, kalau berkenan, sudilah memberi doa restu dan datang di acara pernikahan kami:

Nabi Adam dan Buah Khuldi

Posted by: on Apr 17, 2013 | 3 Comments

Saya kadang-kadang membaca ungkapan, atau film barat, yang mengutip kisah Adam dan Hawa (Eve) ketika dikeluarkan dari Surga. Ceritanya seolah-olah semuanya ini gara-gara kesalahan Eve yang memakan buah Apel terlarang sehingga manusia dikeluarkan dari surga.

Sebagai orang awam, saya bertanya-tanya juga kan, secara kita ini sangat dipengaruhi oleh film-film dan buku-buku barat, bagaimana Islam mengajarkan konsep ini. Saya perlu menulis ini supaya kita sebagai muslim lebih mengenal konsep asal-usul manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.

Tema Nabi Adam, Siti Hawa, dan buah Khuldi dipaparkan dengan jelas di Al-Qur’an. Tadi pagi, saya membaca Surat Taha ayat 121, yang artinya begini,

“Lalu keduanya memakannya, lalu nampak oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupnya dengan daun-daun (yang ada di) surga dan telah durhakalah Adam kepada Tuhan-Nya, dan sesatlah dia.

Catatan kaki menjelaskan maksud kata “durhaka” dan “sesat”:

Yang dimaksud “durhaka” di sini ialah melanggar larangan Allah karena lupa, tidak sengaja sebagaimana disebutkan dalam ayat 115. Dan yang dimaksud dengan “sesat” ialah mengikuti apa yang dibisikkan setan. Kesalahan Adam as. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat karena tingginya martabat Adam as. dan untuk menjadi teladan bagi orang dan pemimpin-pemimpin agar menjauhi perbuatan-perbuatan yang terlarang, bagaimanapun kecilnya.

Kemudian, ada hadist yang berkaitan dengan ayat 121 ini

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Nabi Musa as. memprotes Nabi Adam as. di hadapan Tuhan mereka Allah SWT dengan berkata: ‘Engkau adalah Adam yang telah Allah ciptakan dengan tangan-Nya. Dia telah meniupkan ruh-Nya kedalam jiwamu, para malaikat telah bersujud kepadamu, dan engkau telah diberi tempat tinggal di surga namun engkau keluar sehingga manusia berada di bumi oleh karena perbuatan dosamu.’

Kemudian Nabi Adam as. menjawab, ‘Engkau adalah Musa seorang yang telah Allah pilih untuk menyampaikan risalah dan kalam-Nya, dan Dia telah memberikan kepadamu lembaran-lembaran yang di dalamnya terdapat penjelas segala sesuatu, dan dia telah mendekatkan kepadamu (sesuatu hal yang seharusnya) menjadi rahasia, maka berapa lamakah engkau dapati di dalam Taurat bahwa Allah telah menetapkan sesuatu sebelum dia menciptakannya?’ Musa as. menjawab, ‘Empat puluh tahun.’

Adam berkata lagi, ‘Adakah engkau dapati di dalamnya kalimat yang berbunyi, ‘… dan durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia’. Musa as. menjawab, ‘Ya, (kalimat tersebut ada dalam Taurat).’

Adam berkata, ‘Maka apakah engkau ingin mencercaku atas perbuatan yang telah aku lakukan, padahal perbuatanku tersebut telah Allah tetapkan empat puluh tahun sebelum Dia menciptakan aku?’”

Rasulullah SAW bersabda, “Maka Adam dapat membantah hujatan Musa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian oleh-oleh dari ngaji kitab Al-Qur’an Bayan tadi pagi. Terima kasih dan semoga bermanfaat.

Potongan Puzzle

Posted by: on Apr 13, 2013 | 5 Comments

Hidup itu seperti potongan puzzle, setiap kejadian adalah potongan-potongan puzzle yang pada awalnya nampak tidak beraturan, tetapi lama kelamaan bersusun-susun sendiri menjadi mozaik yang sempurna. Cuma kadang-kadang potongan puzzle ini adalah potongan yang menyedihkan dan mengecewakan, yang itu diperlukan untuk menyusun kesempurnaan mozaik.

Bilang apa saya ini? Begini, kalau saya melihat ada dimana saya sekarang ini, betapa hari ini adalah susunan mozaik sempurna dari potongan puzzle tahun-tahun sebelumnya. Dan hari ini adalah potongan puzzle yang menyusun mozaik di masa depan.

Terus terang saya membenci ungkapan semua akan indah pada waktunya. Sebagai makhluk Tuhan yang sombong, saya menuntut keindahan pada setiap waktu, bukan harus menunggu. Saya meminta dan berdoa pada Tuhan supaya mengabulkan keinginan saya pada saat itu juga. Padahal Tuhan punya rencana yang lebih baik lagi. Pada setiap titik kekecewaan, saya mempertanyakan, apa ada rencana yang lebih baik lagi? Kapan? Sabar, semua akan indah pada waktunya. Kapan? Ya sabar saja.

Saya yang selalu gagal dalam ujian psikotest sampai saya membenci setiap psikolog industri yang menangani rekrutmen. Saya trauma kalau disuruh datang lagi ke gedung lembaga psikologi UI di Salemba. Saya melamar ke Chevron Indonesia, ExxonMobil Indonesia, PT. Badak NGL, Total E&P Indonesie — mayoritas saya gagal di tahap psikotest. Di BPMIGAS (sekarang SKKMIGAS) semua calon atasan saya (baik Kadiv dan Kadin) sudah menyalami saya memberi ucapan selamat datang, tetapi lagi-lagi psikotest keparat menggagalkan saya. Terakhir, saya melamar ke HESS, juga perusahaan minyak, saya lolos sampai ke tahap terakhir sebelum wawancara dengan VP Regional Asia-Pacific — gara-gara tidak ada psikotest, dan saya tidak dihubungi lagi setelah tahap terakhir itu.

Hanya di VICO Indonesia, tempat saya pertama kali memulai karier sebagai junior petrotechnical programmer, saya lolos psikotest dan lancar sampai akhirnya diterima sebagai employee permanen. Ini puzzle yang pertama. Mas Dennis, kakak saya si pemilik sahabatcantikmu.com, waktu saya gagal di HESS bilang, takdirmu memang di VICO.

Sekarang, saya tahu bahwa setiap kegagalan saya itu, hanya untuk mengantarkan saya ke rencana terbaik yang telah disiapkan Allah kepada saya.

Jika saya masuk BPMIGAS, saya tidak akan pernah memiliki gelar master, karena saya sudah merasa cukup dan tidak merasa butuh sekolah lagi. Jika saya masuk BPMIGAS, saya akan merasakan kepanikan luar biasa ketika BPMIGAS dilikuidasi pemerintah. Sampai sekarang, BPMIGAS masih menjadi satuan kerja di kementerian ESDM — katanya paling nggak baru akan ada kepastian setelah Pemilu 2014. Jadi mainan politikus.

Kemarin saya mendengar berita, HESS hengkang dari blok Laut Jawa karena hasil eksplorasinya tidak sesuai ekspektasi. Saya cuma melongo saja mendengar berita itu. Subhanallah.

Dan yang paling luar biasa tentu puzzle terakhir ini. Saya bertemu dengan insya Allah jodoh dunia-akhirat saya di kantor. Apa yang terjadi kalau saya resign sebelum 2012? Saya seperti ditahan di sini untuk menunggu the-one menyelesaikan kuliah dan masuk bekerja di sini.

Masih terbayang setiap patah hati kepada setiap wanita yang pernah saya kejar, saya lamar, saya dekati. Kalau nggak ditolak ya sudah punya pasangan. Dan saya itu cinta damai, daripada merusak hubungan orang lain, mendingan saya mundur. Pria lembek yang tidak mau memperjuangkan cintanya? Bukan, saya adalah pria yang realistis.

Ternyata setiap titik kekecewaan adalah pembelajaran untuk menjadi pria yang lebih dewasa dari waktu ke waktu. Allah sedang mempersiapkan saya untuk menyambut kedatangan wanita yang telah Dia siapkan untuk saya. Dan wanita yang mau menerima saya ini, adalah yang terbaik yang pernah saya temui, insya Allah. Allah benar-benar mengabulkan doa saya, “Ya Allah, saya itu tidak mau mencari pacar, saya ini mencari isteri.” Dan Allah memberikan seseorang yang sangat kompeten menjadi isteri, bukan pacar.

Tentu saja jalan tidak selalu mulus. Namanya cowok dan cewek mencoba jalan bareng, ada saja masalahnya. Dan saya memilih untuk menyimpannya saja. Karena itulah saya undur diri dari Twitter. Saya tidak mau adegan berantem kami disaksikan semua orang. Twitter itu tempat umum, dan bertengkar di tempat umum itu tidak menyelesaikan masalah. Saya sudah sering melihat adegan balas-balasan twit sinis tanpa mention ke orangnya, tapi sangat jelas siapa yang dituju.

Jadi begitulah, setiap hal akan indah pada waktunya. (And I still hate this f***’ statement).

Wayback Machine

Posted by: on Apr 11, 2013 | 2 Comments

Beberapa kali saya kehilangan data karena hardisk yang rusak dan saya tidak punya backup-nya. Karena itu saya kehilangan data-data masa kuliah saya termasuk naskah tugas akhir saya. Termasuk foto-foto! (Salahkan Friendster!). Tetapi barusan saya iseng crawling blog saya ke tahun-tahun 2006 dan menemukan foto-foto yang saya sendiri sudah tidak memilikinya. Hyuk…

Artikel tertanggal 26 Mei 2006, waktu saya dan klub fotografi Teknik Informatika ITS hunting ke air terjun Kakek Bodo di Pasuruan. Dari kiri ke kanan, Baiquni (Dede’), Pak Waskitho Wibisono (dosen saya Pengantar Teknologi Informasi, Sistem Digital 1, dan Sistem Digital 2), Pak Nunut Priyo Jatmiko (almarhum) (dosen saya Interaksi Manusia dan Komputer), Helmi, Hendra.

Tertanggal 15 Mei 2006. Ini waktu saya memberikan sharing mengenai Java Server Pages, pelatihan internal dari kita untuk kita yang diadakan oleh Laboratorium Pemrograman.

Tertanggal 12 Mei 2006. Namanya eliza.its.ac.id. Komputer PC saya yang dibelikan ibu waktu saya masuk kuliah. Spek-nya Intel Pentium 4 1,8 GHz memory 128 KB. Saya baru tahu belakangan kalau ibu perlu pinjam uang dulu buat membelikan saya cangkul ini.

Meja kerja waktu saya magang di Puskom ITS jadi admin ITSnet. Kotak hitam itu notebook IBM Thinkpad dengan spek Intel Pentium III 1,0 GHz. Bandel. Saya duduki seharian juga masih idup aja dia.

Tertanggal 14 November 2006. Ini komputer eksperimen Hewlett-Packard seri Vectra dengan prosesor Intel Pentium 2. Namanya Nirmaladewi. Dewi Bulan.

Ini namanya Gryphon. Inilah server production yang difungsikan sebagai Firewall masuk ke jaringan ITS waktu itu. Sekarang saya tidak tahu spesifikasi server-server ITS. Mungkin kelas server begini sudah dipensiunkan dari dulu-dulu.

Demikian nostalgia sejenak.

Money for iOS

Posted by: on Apr 10, 2013 | 2 Comments

Salah satu kelemahan GNUCash untuk manajemen keuangan pribadi adalah cukup rumit untuk orang awam. Sistemnya yang menganut double entry terlalu akunting dan bisa membingungkan untuk orang yang tidak mengenal ilmu akuntansi. Saya menulis buku GNUCash itu pun tidak sempurna — masih banyak sekali prinsip-prinsip akuntansi yang saya langgar.

Di lain pihak, GNUCash sangat fleksibel dan memiliki fungsionalitas yang luas. Saya bisa mengalokasikan tabungan menjadi berbagai macam account untuk tujuan keuangan. Saya bisa melakukan trading dan manajemen portofolio investasi dengan GNUCash. Report-nya pun sangat komprehensif.

Sayang sekali software sebagus ini tidak ada versinya di iOS (iPhone dan iPad). Kayaknya ada di Google Play tetapi sepertinya bukan porting langsung dari GNUCash ini. Karena saya ini suka ngulik hal-hal yang baru, saya cari-cari apakah ada aplikasi pencatatan personal finance yang bagus di iOS.

Saya menemukan aplikasi “Money” di AppStore. Harganya lagi diskon 50%. Saya mencoba dan ternyata menyenangkan juga bisa melakukan manajemen keuangan di perangkat mobile.

Dibandingkan dengan GNUCash, Money jauh lebih mudah dimengerti. Mencatat pengeluaran, tinggal dimasukkan dalam kategori apa, dan memakai duit dari mana (kartu kredit kah, tabungan di bank, atau uang di dompet). Ini akan langsung kelihatan di budgeting. Beda dengan sistem budgeting yang saya buat di GNUCash yang cukup membingungkan untuk dimengerti (bener deh, saya tidak terlalu berharap apa yang bisa saya tulis di buku itu cukup jelas dengan dibaca saja, karena konsep yang saya pakai adalah hasil rekaan saya sendiri dan itu tidak standar, hehehe).

Di sini, sistem penganggaran atau budgeting juga cukup mudah digunakan. Kita bisa mulai menganggarkan masing-masing kategori pengeluaran dan bahkan penghasilan. Nanti, ketika kita mencatat transaksi pengeluaran, setiap kategori pengeluaran akan langsung dibandingkan dengan di anggaran. Masih under budget ataukan sudah over budget.

Kelemahannya tentu saja ada. Kemudahannya membuat Money tidak bisa dipakai untuk perencanaan tujuan keuangan yang bagus. Misalnya seperti dana pensiun dengan reksadana saham, tabungan beli mobil yang terdiri dari beberapa logam mulia dan beberapa saham, dsb. Tetapi ini bisa diakali dengan mencatatnya di spreadsheet saja (perangkat mobile sudah ada aplikasi spreadsheet yang bagus).

Yang penting, dengan adanya aplikasi mobile, tingkat pencatatan lalu lintas keuangan diharapkan semakin akurat karena semakin mudah pencatatannya. Tinggal keluarin handphone dan dicatat langsung di sana. Tidak perlu dicatat di notepad dulu lalu nanti dimasukkan ke GNUCash. Ya kalo rajin, kalau malas? Malas itu manusiawi kok, hehehe…

Ini homepage mereka: iBearSoft Money
Aplikasinya di AppStore: Money for iPad 

Akuisisi dan Monetisasi

Posted by: on Apr 5, 2013 | 3 Comments

Akuisisi oleh raksasa bisnis terhadap sebuah web 2.0 yang user-generated-content hampir selalu membuat luka di kalangan pengguna setianya. Pengguna merasa dikhianati oleh owner/founder yang mendapatkan guyuran uang. Seperti yang saya baca hari ini melalui Feedly, Goodreads diakuisisi oleh Amazon. Saya jadi ingat ketika Kaskus diakuisisi Djarum. Owner nya yang masih muda menjadi Mark Zuckerberg-nya Indonesia. Seketika itu pula banyak moderator dan donatur Kaskus yang hengkang karena merasa dikecewakan (atau karena tidak kebagian?). Atau Koprol ketika diakusisi Yahoo!

Pengguna memang patut merasa dikhianati. Setiap web 2.0 besar karena diramaikan dan dikayakan oleh pengguna setia. Web 2.0 tidak ada harganya ketika tidak ada komunitas yang terlibat aktif di dalamnya. Memang beginilah salah satu model bisnis web 2.0, melakukan monetisasi dengan harta yang paling berharganya yaitu komunitas. Facebook, Twitter, Kaskus, tidak akan bernilai ketika semua penggunanya meninggalkannya. SalingSilang pernah mencoba membuat sangat banyak web user-generated-content dengan harapan yang sama — dan mereka gagal.

Permasalahannya, siapa yang berhak memiliki kekayaan intelektual ini? Idealnya tentu ada di setiap pengguna dan pemilik tidak berhak memiliki. Tetapi setiap web 2.0 yang besar membutuhkan biaya operasional yang sangat besar pula. Juga tidak adil jika itu dibebankan ke pemilik. Nggak fair jika setiap pengguna bersenang-senang di atas penderitaan pemilik yang susah payah mempertahankan agar layanan itu tetap jalan. Sudah gak dibayar, dimaki-maki user pula.

Idealisme tentu memiliki batas. Melakukan monetisasi dengan cara diakuisisi adalah salah satu jalan keluar agar layanan bisa tetap jalan. Masalahnya sejauh apa monetisasi mengintervensi idealisme? Investor tentu saja mengharapkan keuntungan tertentu atas sebuah akuisisi bisnis.

Makanya Wikipedia memilih untuk menggalang dana dari penggunanya sendiri untuk mempertahankan idealismenya.

Kembali ke Goodreads, Damar Juniarto, seorang moderator Goodreads mengajak untuk membangun rumah sendiri untuk komunitas Goodreads Indonesia. Kalaulah nanti rumah itu jadi dan besar, tentu mereka akan mengalami masalah yang sama. Ini tentang idealisme melawan realita.

Saya sendiri untungnya tidak terlalu terlibat dengan Goodreads, meskipun saya sendiri adalah seorang Goodreads Librarian. Tetapi dengan hilangnya Posterous, kemudian hilangnya independensi Goodreads, saya sedang berpikir apakah saya punya cukup waktu untuk memindahkan semua koleksi buku dan review saya ke www.galihsatria.com. Saya pernah punya konsep perpustakaan digital yang penggunanya bisa saling pinjam. Sayangnya, keluangan waktu adalah sebuah kemewahan bagi saya sekarang.

Catatan Umrah, Tentang Travel Penyelenggara

Posted by: on Mar 31, 2013 | One Comment

Bandara King Abdulaziz Jeddah, 28 Maret 2013.

Ini akan menjadi catatan terakhir saya mengenai perjalanan umrah tahun ini.

Baiklah, sekarang saatnya membahas tentang EO-nya. Terus terang waktu saya riset tentang travel perjalanan umrah, saya tidak punya referensi travel yang terpercaya. Sekarang ini kan buanyaaakkkk sekali travel umrah secara ibadah ini sedang ngetren — terima kasih kepada artis-artis yang mempopulerkan umrah ini.

Perlu saya garis bawahi di sini, menurut saya, hukum menunaikan ibadah umrah itu sunnah, sementara haji itu wajib. Sehingga seharusnya, mengumpulkan dana untuk ibadah haji lah yang didahulukan. Dalam kasus saya, hukumnya adalah wajib karena ini adalah nadzar yang harus saya laksanakan atas janji saya kepada Allah.

Mari kita bahas dari yang paling sensitif dulu: harga. Saat ini sudah bejibun travel penyelenggara perjalanan umrah. Range harganya sangat luas, mulai dari 15-an juta hingga 30 juta lebih. Paket yang ditawarkan pun bermacam-macam, mulai umrah reguler hingga umrah plus. Plus Mesir, plus Eropa, plus Masjid Al-Aqsa, dsb.

Tentu saja ada harga ada kualitas dong. Paling tidak, komponen biaya-biaya utama dalam perjalanan umrah adalah berikut ini:

  • Pesawat yang dipakai. Maskapai tanah air yang ke Saudi adalah Garuda Indonesia dan Lion Air, keduanya langsung menuju Jeddah. Beberapa travel yang lebih murah menawarkan menggunakan maskapai lain seperti Malaysian Airlines atau Emirates Airlines, perlu dicek apakah pakai transit dulu. Pertimbangkan waktu transit karena perjalanan Indonesia – Saudi Arabia itu perjalanan super panjang. Waktu transit akan menjadi waktu yang cukup melelahkan — apalagi jika sampai di tempat transit harus mengurus sendiri. Bandara luar negeri, bahasa Inggris bukan bahasa utama, belum lagi koper-koper yang harus dibawa. Bayangkan jika kita harus mengurus sendiri transit di bandara di Yaman atau Dubai begitu misalnya.
  • Hotel tempat menginap. Tingkat bintang hotel di sana diukur dari jaraknya ke Masjid. Ada ring satu, ring dua, ring tiga. Cek dimana tinggalnya. Sejauh pengalaman saya, setengah jam sebelum adzan, masjid sudah penuh. Jika kita tiba pas ketika adzan, kita akan dapat tempat di pelataran masjid. Setiap jamaah rebutan posisi shaf terdepan.
    Di Madinah, saya tinggal di Al-Haram Hotel yang ada di ring dua. Perjalanan ke pelataran masjid adalah lima menit, dan sampai shaf terdepan membutuhkan waktu sepuluh sampai lima belas menit.
  • Akomodasi. Bus yang digunakan, soalnya saya sempat melihat ada rombongan jamaah yang menggunakan bus tua seperti yang dipakai bus Cawang – Grogol.
  • Makan dan minum. Rata-rata rombongan makan di food court hotel. Tapi perlu dicek juga fasilitas ini disediakan oleh travel atau tidak.

Jadi bagaimana kriteria saya memilih travel?

Satu: Google. Kepada siapa lagi anak IT ini harus bertanya? Saya sudah terlalu terbiasa menyelesaikan permasalahan dengan Google. Jadi daftar travel saya ambil dari Google untuk disortir. Travel yang memiliki website akan saya nilai lebih. Tetapi website yang asal-asalan akan saya nilai kurang. Terupdate atau tidak juga faktor yang sangat penting.

Dua: Cek apakah travel tersebut memiliki pengalaman yang sudah lama. Apakah travel tersebut terdaftar di Kementerian Agama? Berapa kali dalam sebulan ia memberangkatkan jamaah umrah? Semakin sering jadwalnya tentu saja menandakan ia profesional.

Sebenarnya saya hanya memeriksa itu saja. Saya akhirnya memutuskan untuk memilih NRA Tour (http://www.nra-tour.com). Yang jelas setiap kali pulang kantor saya itu selalu melewati kantor biro jasa umrah ini dan kok sepertinya kena di hati. Waktu saya datang dan tanya-tanya sepertinya juga menyakinkan. Jadi saya bismillah saja.

Perjalanan saya kurang lebih seperti ini:

  • 20 Maret 2013. Manasik Umrah di Wisma Umrah dan Haji Warung Buncit. Saya izin untuk pulang setengah hari. Hari itu koper besar dikumpulkan. Acara manasik dilakukan di ballroom dan dijamu dengan menu prasmanan dipandu oleh dua orang ustadz pembimbing, Ustadz Sugiarto dan Ustadz Agung MA (Makassar Asli). Saya menjadi yang paling aneh sendiri karena berangkat sendirian, hehe…
  • 21 Maret 2013. Berangkat dengan pesawat Garuda Indonesia GA0980 menuju ke Bandara King Abdulaziz Jeddah. Rombongan berkumpul di terminal 2D untuk menerima Paspor, Visa, dan boarding pass. Boarding jam 11 siang, saya menghabiskan waktu di BNI Lounge. Tiba di Jeddah pukul 17:30 waktu setempat. Rombongan baru bisa meninggalkan bandara menuju ke Madinah pukul 21:00.
  • 22 Maret 2013. Dini hari rombongan tiba di Madinah dan menginap di Al-Haram Hotel.
  • 23 Maret 2013. Ziarah kota Madinah, menuju masjid Quba, Kebun Kurma, Bukit Uhud, dan Percetakan Al-Qur’an.
  • 24 Maret 2013. Mandi ihram, memakai pakaian ihram, dan selepas shalat Dzuhur, check out. Rombongan meninggalkan Madinah dan menuju ke Makkah dengan mampir di Dzul Hulaifah atau Bir Ali untuk mengambil miqat dan berniat umrah. Labbaik Allahumma Umratan.
  • 25 Maret 2013. Rombongan menginap di Makkah Clock Tower Hotel (Fairmont) di Zam-Zam Tower. Dini hari itu menyelesaikan thawaf, sai, dan tahallul. Hari itu acara bebas.
  • 26 Maret 2013. Ziarah kota Makkah, menuju ke Jabbal Tsur, Padang Arafah dan Jabbal Rahmat, Muzdalifah, Mina, Jabbal Nur, dan akhirnya berhenti di masjid Ji’ranah. Mengambil miqat bagi yang melaksanakan umrah kedua.
  • 27 Maret 2013. Acara bebas.
  • 28 Maret 2013. Thawaf Wada’, perpisahan dengan Masjidil Haram. Bertolak menuju ke Jeddah. Di Jeddah mampir di Balad dan shalat Dzuhur di masjid terapung di tepi Laut Merah (yang airnya ternyata berwarna biru juga hehehe). Lepas dari situ langsung menuju ke Bandara King Abdulaziz untuk siap-siap pulang.
  • 29 Maret 2013. Pukul 09:00, pesawat GA0981 Boeing 747-800 mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta. Segala urusan koper bagasi imigrasi dan lain-lain selesai pukul 10:30. Sampai di luar terminal disambut oleh senyum ceria sang calon isteri. Alhamdulillah, hehehe…

Terakhir, dalam hal umrah ini, saya rasa yang paling perlu diperhatikan adalah niat. Luruskan niat. Memilih travel yang sedikit lebih mahal supaya bisa fokus dan khusyuk dalam beribadah saya rasa bukan hal yang salah, setidaknya itu pertimbangan saya waktu memilih travel.

Semoga nanti bisa balik ke sana lagi menunaikan kewajiban ibadah haji. Amiin. Labbaikallahumma labaik!

Catatan Umrah: Miqat dari Ji’ranah

Posted by: on Mar 30, 2013 | One Comment

Makkah Al-Mukaramah, 26 Maret 2013.

Setelah menyelesaikan prosesi umrah di Senin dini hari, seharian itu acaranya bebas. Boleh belanja, boleh tidur di hotel, boleh istirahat melepas penat. Hari Selasa, rombongan diajak ziarah kota Mekkah. Kami mengunjungi Jabbal Tsur, bukit dimana terdapat goa yang dipakai Rasulullah untuk menghindar dari kejaran pemuda Quraisy yang diiming-imingi hadiah 100 ekor unta jika berhasil menangkap Rasulullah. Di sini kami sekadar lewat saja tidak sampai naik bukitnya. Pagi masih jam 09:00, tapi panasnya itu bo, sudah menyilaukan.

Kami kemudian menuju ke padang Arafah, tempat jamaah haji melaksanakan Wukuf. Kami mengunjungi Jabbal Rahmah, tempat Rasulullah menyampaikan khotbah panjangnya di Haji Wada’. Di bukit ini banyak yang melakukan vandalisme dengan mencorat-coret batu. Juga banyak yang meratap di tugu penanda. Hati-hati. Hati-hati. Lagipula, Arafah ada di luar areal tanah haram, bukan tempat yang mustajabah, kata ustadz. Tempat ini mustajab hanya tanggal 9 Dzulhijah saja waktu wukuf dilaksanakan.

Muzdalifah, tempat jamaah haji bermalam dan mengumpulkan batu sebelum bertolak ke Mina untuk melontar jumrah adalah tempat yang berdekatan. Suasananya sepi jika bukan bulan haji. Di sana banyak kontainer-kontainer untuk toilet yang difungsikan setahun sekali. Saya berdoa semoga kelak saya kembali ke sini untuk menunaikan ibadah haji bersama isteri.

Dari Mina, rombongan menuju ke Ji’ranah untuk melakukan miqat. Umrah kedua. Menurut ustadz, dalil yang dipakai adalah hadits “Antara umrah menuju umrah berikutnya menjadi penghapus (dosa) di antara keduanya”. Karena itu kita bisa bolak-balik dari Makkah ke tempat-tempat miqat di Ji’ranah, Tan’im, atau Hudaibiyah untuk melaksanakan umrah pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Pertama kali yang melintas di pikiran adalah, wah panas dong umrah dan sai siang-siang bolong. Tapi itu hanya sarana pikiran saya untuk mengajak menelaah lebih dulu dalil-dalilnya — tidak langsung ikutan, meskipun kain ihram sudah saya siapkan (tapi belum memutuskan niat atau tidak).

Setelah menimbang-nimbang baik dan buruknya, dan dalil yang mendasarkan umrah kedua ini, saya memutuskan untuk thawaf saja tanpa berniat umrah kedua. Saya memutuskan untuk tidak ikut dengan tidak membawa kain ihram ke bus. Tentu saja saya menghormati travel yang menyelenggarakan. Saya tidak mengatakan pendapat mereka salah, lhawong saya cuma riset sebentar dari apa yang didapat di internet. Saya juga tidak punya agenda untuk meng-umrah-badal-kan kerabat.

Pas sampai di sini saya melihat para ustadz pembimbing sangat bijaksana. Menyadari memang ada perbedaan pendapat, para ustadz bersikap memfasilitasi semua jamaah. Yang ingin umrah kedua difasilitasi dengan diantarkan ke sini sementara yang tidak juga tidak dipermasalahkan.

Ji’ranah, Sebuah Sindiran

Di perjalanan dari ziarah Arafah-Muzdalifah-Mina sampai Ji’ranah, ustadz pembimbing bercerita mengenai wanita Ji’ranah di Al-Qur’an surat An-Nahl 92.

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, … (dst)

Seorang wanita bernama Ji’ranah kerjaannya memintal benang, lalu sesudah menjadi kain diuraikannya kembali, lalu dipintal lagi, begitu seterusnya.

Ini adalah sindiran untuk semua jamaah Umrah. Ketika di tanah suci, semua adalah untuk beribadah. Sejam bahkan dua jam sebelum waktu shalat sudah standby khusuk di shaf depan. Tak ada shalat sunnah yang tak ditunaikan — rawatib, tahajud, dhuha. Tadarus dan tilawah…

Apakah itu akan hilang tak berbekas ketika kembali ke tanah air?

Ustadz Sugiarto, ustadz pembimbing kami, mengingatkan supaya kita semua tidak seperti Ji’ranah yang mencerai-beraikan benang yang sudah dipintal menjadi kain. Supaya ibadah umrah kali ini berbekas dan tingkat ibadahnya sama dengan waktu di tanah suci. Tak ada lagi shalat sendirian di rumah, harus di masjid berjamaah. Itulah umrah yang mabrur…

Berat… Tapi Insya Allah bisa!

Switch to our mobile site