Sepuluh Foto Terbaik Saya di 2011
Meskipun sedikit terlambat, saya akhirnya merilis sepuluh foto terbaik saya di sepanjang tahun 2011 yang baru saja lewat. Secara kuantitas, sepanjang tahun 2011 memang lebih rendah dari 2010 karena memang saya tidak melakukan banyak kegiatan hunting. Tetapi saya cukup senang karena sebagai gantinya saya bisa menghasilkan satu lagi essay foto yang berjudul “Jatuh Cinta di Jogja”. Mungkin setelah ini akan saya publish untuk Anda semua. Ditunggu yaaa, hehehe…
Karena saya sudah punya rumah baru untuk tempat foto-foto, silakan menikmatinya di http://foto.galihsatria.com
Dan berikut adalah bonus untuk foto-foto di tahun-tahun 2007-2010. Enjoy!
Krisis Yunani dan Eropa, dalam Penjelasan Sederhana
Tidak mudah menjelaskan sebab musabab terjadinya krisis moneter di sebuah negara karena banyak sekali faktor yang saling berkaitan. Ini juga sama sulitnya dengan keputusan mem-bail-out Bank Century, misalnya, karena banyak faktor yang saling kait mengait dan saling berantai — benar atau salahnya keputusan tersebut tergantung siapa yang beranalisa dan berkepentingan
. Tetapi pada intinya, sebuah krisis ekonomi selalu kait mengait.
Krisis Yunani, dan Eropa pada umumnya, bisa dijelasin dengan mudah: karena terbelit hutang! Titik. Hutang yang jatuh tempo juga menghancurkan Indonesia di tahun 1997-1998.
Dalam teori anggaran, ada beberapa pendekatan yang bisa dipakai pemerintah suatu negara untuk membuat ekonomi berjalan efektif dan berkembang. Yunani memakai pendekatan defisit anggaran yang sangat agresif untuk pembiayaan keuangannya. Gampangannya begini, saya punya gaji sejuta. Gaji saya hanya cukup untuk membiayai biaya operasional bulanan saya. Secara ekonomi, saya tidak bisa berkembang karena tidak ada dana mengembangkan aset (bisnis, investasi, dll). Karena itu saya menganggarkan dana tambahan untuk modal bisnis dan investasi. Dari mana defisit anggaran itu harus ditutup? Ya saya ngutang. Dalam hal suatu negara, mereka menerbitkan surat utang, atau government bonds (obligasi). Kalau di sini kira-kira sama dengan ORI atau sukuk.
Hutang tidak selamanya buruk. Terbukti dengan strategi anggaran seperti itu, Yunani mampu berkembang lebih cepat dibanding negara-negara tetangganya. Perekonomian Yunani tumbuh melesat dalam kurun waktu 2000-2007. Tapi peningkatan utangnya juga meningkat tak terkendali, tahun 2010, rasio utangnya (terhadap Pendapatan Domestik Bruto – PDB) mencapai 142%. Gila nggak tuh?
Karena semikian besarnya utang, lembaga-lembaga keuangan dunia mempertanyakan kemampuan Yunani. Oh iya, jadi di dunia ini ada lembaga tukang menilai kualitas kemampuan bayar semua negara dan perusahaan di seluruh dunia. Contohnya ada Fitch, Standard and Poor’s, dan Moody. Nah, si Yunani ini obligasinya dicap sebagai junk bond. Dengan kata lain, potensi mampu bayarnya sudah sedemikian rendah. (Ya gila aja rasio utang 142% gimana cara bayarnya?). Bandingkan dengan level Indonesia yang masuk investment grade, atau negara layak sebagai tujuan investasi.
Nah, dan krisis pun dimulai.
Terus kenapa jadi berantai dan bikin Eropa mabuk? Bayangkan Yunani punya utang ke Italia misalnya, lalu gagal bayar. Si Itali, yang kadung mengandalkan duit kembalian untuk bayar utang ke Spanyol, jadi gak bisa bayar hutang saja. Spanyol akhirnya kalang kabut juga, wong dia sedang ditagih sama si kaya Jerman. Jerman tidak bisa menggerakkan roda ekonominya karena uangnya tidak kembali, akhirnya perekonomian melambat. Ekspor barang tidak ada yang mau beli. Perusahaan lama-lama bangkrut karena beban operasional. Akhirnya terjadi PHK. Dan seterusnya…
Lha, sebelum keadaan semakin parah, datanglah dokter yang berusaha mengobati penyakit ini. Namanya IMF. Obatnya bernama dana bail out. Namun dia sendiri tidak bisa dengan mudah menuliskan resep yang manjur. Bail out yang sukses jika efeknya juga berantai. Dari kasus di atas, bail out akan sukses jika Yunani bayar utang ke Itali, Itali kemudian menyetorkan dananya ke Spanyol, lalu Spanyol bayar utang ke Jerman. Usut punya usut, dana IMF ini ternyata dari Jerman juga, mbulet kan? Tapi everybody happy karena semua hutang telah terbayar. Sebaliknya, bail out akan bermasalah jika hanya Itali dan Spanyol yang selamat, sedangkan Yunani tetap saja punya hutang besar.
Kenapa Efeknya Sampai Indonesia?
Sektor yang paling rentan kena dampak adalah sektor keuangan seperti pasar saham dan obligasi. Sebagai salah satu negara emerging market, BEI adalah salah satu bursa favorit investor asing. Ketika negaranya sendiri mengalami krisis, tentu saja mereka memilih menarik investasinya untuk menyelamatkan perekonomian negaranya. Ketika arus investasi mengalir keluar, pasar modal akan bergejolak, dan lagi-lagi, segera berimbas ke sektor lain. Contoh yang paling dekat adalah nilai tukar rupiah yang akan melemah. Dan nilai tukar akan berdampak langsung ke sektor riil. Jadi kata siapa pasar modal hanyalah meja spekulasi? Pasar modal adalah salah satu komponen penting dalam perekonomian suatu negara.
Disclaimer
Tentu saja penjelasan ini terlalu banyak hal yang dilewati dan disederhanakan, sehingga mungkin informasi yang ada di sini tidak terlalu akurat. Saya hanya mencoba membuat analogi sesederhana mungkin bagaimana sebuah krisis di Eropa bisa berdampak kemana-mana. Data-data diambil dari berbagai sumber, terutama dari Wikipedia dan majalah Investor edisi Desember 2011.
Meaningless Fireworks, Happy New Year Folks!
Lokasi: Pantai Atlantis, kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM | 15″ / F22
Lepas Maghrib saya langsung meluncur ke Ancol dengan persenjataan lengkap: kamera dengan baterai penuh, lensa secukupnya, dan memanggul tripod yang biasanya saya sangat malas membawanya. Dan saya terkejut kalau jalan masuk ke Ancol sudah macet! Saya memutuskan untuk parkir motor di pelataran hall bowling dan jalan kaki menuju ke lokasi pantai, yang masih lebih dari sekilo lagi.
Gelar tikar di pantai mulai jam sembilan malam, saya pasang tripod di situ sambil mulai jeprat jepret. Jam 11 malam suasana sudah riuh dengan kembang api yang meledak-ledak. Antara kembang api yang disediakan pihak pengelola dan yang dibawa pengunjung tidak terlihat lagi bedanya. Dan menjelang jam 12 malam pergantian tahun, suasana riuh dengan ledakan dan terompet.
Jam 00:00 … Lalu diam …
“Wis, ngene tok?” pikir saya dalam hati. Lalu apa artinya kembang api barusan yang kata pengelola menghabiskan 400 juta itu? Hanya sekadar merayakan perpindahan menit? Pertunjukan kembang apinya pun tidak bertema. Pokoknya meledak-ledak di langit gitu aja. Dan setelah itu, orang bingung untuk keluar. Saya nggak tahu mereka yang bawa mobil dan parkir di dalam bisa keluar jam berapa hehe…
Tapi perayaan tahun baru memang telah menjadi tradisi, membuat bisnis bergerak, creating demand and supply. Pihak pengelola akan mendapatkan untung besar dari sekian ribu pengunjung yang berjejal-jejal di pantai. Pihak penguasa lahan parkir akan berpesta. Penjual kembang api, minuman, terompet, hingga penjual tikar akan mendapatkan rezeki awal tahun. Dan tentu saja, seperti orang kebanyakan, saya lebih suka melihat atraksi kembang api begini ketimbang ikut dzikir akhir tahun di Monas, hehe…
Happy New Year teman-teman!
Statistik 2011
Tahun 2011 segera akan berlalu dalam hitungan jam. Alangkah cepatnya waktu berlari. Dan sesungguhnya waktu adalah hal yang tak tergantikan di dunia ini, bahkan setiap saat kita kehilangan waktu detik demi detik. Jadi, ngapain saja saya di tahun 2011, terus terang saya lupa apa saja resolusi saya yang saya bikin di awal tahun 2011 yang, rasanya masih sekelebatan kemarin lusa saja.
Dua langkah besar yang terjadi di tahun 2011 adalah bahwa saya telah memulai investasi. Dan yang kedua saya berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen saya tepat waktu. Alhamdulillah. Ramadhan tahun 2011 menjadi Ramadhan terbaik saya meskipun setelah itu — seperti lazimnya kadar iman yang naik turun — kembali menurun. Tapi saya cukup puas berhasil mempertahankan beberapa yang saya mulai di bulan Ramadhan 2011. Di bidang musik, saya berhasil menyelesaikan (akhirnya) Sonata Pathetique-nya Ludwig van Beethoven di tengah-tengah kesibukan saya.
Tentang blog ini — saya bersyukur saya masih senang menulis. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek dan saya merasa sayang kalau tiba-tiba saya meninggalkan blog ini meskipun saya kadang-kadang lebih banyak menulis untuk diri sendiri. Terima kasih untuk teman-teman yang masih sudi membaca celotehan saya.
Statistik blog ini sendiri bisa dijelaskan sebagai berikut:
- Jumlah artikel sejak 2004: 967 artikel (cepetan dong nembus 1000).
- Jumlah komentator sejak 2004: 10,032 komentator
- Jumlah artikel 2011: 132
- Tahun 2011 paling rajin menulis soal:
- Catatan Harian: 52 artikel
- Musik: 11 artikel
- Financial Planning: 11 artikel
- Fotografi: 10 artikel
- Bulan paling rajin nulis artikel: Oktober (15 artikel)
- Komentator terbanyak sepanjang 2011:
- Fenty (51 komentar)
- aRuL (46 komentar)
- budiono (43 komentar)
- Vicky Laurentina (21 komentar)
- Nike (18 komentar)
Kepada teman-teman yang paling perhatian dengan blog saya ini, saya haturkan terima kasih yang setulus-tulusnya karena biar bagaimanapun juga, yang namanya blogger pasti butuh sedekah komen untuk sekadar bertahan nulis. Saya akan kirimkan link ke dua ebook essay fotografi di 2010 dan 2011 yang belum sempat dipublish (kecuali Nike ya karena udah aku kirimin :p) sebagai tanda terima kasih (ceileh…). Mohon maaf cuma bisa ngasih itu sementara ini (dipaksa download gede lagi, hehehe). Pokoknya thanks to you all…
Saya akhirnya juga memindahkan fotoblog saya dari yang sebelumnya bercampur di sini ke http://foto.galihsatria.com, sehingga di sini saya bisa lebih konsentrasi menulis macam-macam. Ya soal kerjaan, dunia IT, soal ekonomi, keuangan, musik, fotografi, pokoknya gado-gado sekali. Sangat mencerminkan saya sendiri yang memang menyukai banyak hal.
Tahun 2012, kira-kira apa ya resolusinya? Belum kepikiran sih, tapi mungkin menemukan calon dan segera menikah harus saya masukkan ke resolusi 2012. Sudah mulai menua je, hehehe…
Review: Perjalanan dan Ajaran Gus Miek
Judul Buku: Perjalanan dan Ajaran Gus Miek
Penulis: Muhammad Nurul Ibad
Jumlah halaman: 336 halaman
Penerbit: Pustaka Pesantren
Seperti yang saya ungkapkan di awal, bahwa tidak banyak yang tahu siapa KH. Chamim Djazuli. Tapi buat yang tinggal di Jawa Timur, khususnya di karesidenan Kediri dan sekitarnya, nama Gus Miek dikenal sebagai kiai yang kharismatik (meskipun saya tidak terlalu yakin anak-anak muda kelahiran 90-an ke atas masih mengenal nama beliau).
Nah, buku yang saya temukan di book fair Istora Senayan ini membahas biografi Gus Miek yang ditulis oleh seorang penulis yang merupakan santri pesantren: Muhammad Nurul Ibad. Saya cukup terkejut kalau penulis menutup kata pengantarnya dengan menyebut lokasi Sambijajar, sebuah desa di Tulungagung — tempat saya lahir dan dibesarkan sebelum merantau di Surabaya dan Jakarta sekarang ini.
Sufi yang Kontroversial
Metode dakwah Gus Miek memang berbeda dari kebanyakan, mengingat area dakwahnya adalah pusat perjudian, pelacuran, hotel dan bar, diskotek, dsb. Karena itu kelakuannya bisa dipandang menyimpang jauh dari syariat yang dibenarkan seperti terlihat tidak pernah sholat, berjudi, minum-minum, dll. Tetapi itulah metode dakwah beliau yang efektif. Membubarkan bandar judi dari dalam dengan membangkrutkannya. Tentu saja metode ini mengundang kontroversi dari kiai-kiai lain yang memegang teguh syariat sebagai harga mati.
“Biar nama saya cemar di mata manusia, tapi tenar di mata Allah. Apalah arti sebuah nama. Paling mentok, nama Gus Miek hancur di mata umat. Semua orang yang di tempat ini (tempat maksiat) juga menginginkan surga, bukan hanya jamaah saja yang menginginkan surga. Semua orang yang berada di sini juga menginginkan masuk surga. Tetapi, siapa yang berani masuk, kiai mana yang berani masuk ke sini?” kata Gus Miek penuh emosi.
– Halaman 287
Pendiri Jantiko Mantab
Jantiko adalah majelis baca Al-Qur’an secara bergantian dari setelah Subuh hingga ditutup setelah Isya’. Jantiko ini didirikan tahun 1986 oleh Gus Miek karena keprihatinannya bahwa Al-Qur’an, sebagai ajaran paling suci dalam Islam, kini telah mulai hilang gaungnya di masyarakat sejak pesatnya perkembangan acara televisi. Menggalakkan membaca Al-Qur’an usai shalat Maghrib hingga menjelang Isya’ adalah salah satu misi Gus Miek.
Betapa benarnya hal itu. Berapa banyak dari generasi muda muslim sekarang yang mengisi waktu antara Maghrib dan Isya’ dengan ibadah? Saya kebanyakan masih berjuang menyibak kemacetan Jakarta, atau malah masih duduk mencangkung di depan komputer menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa. Jangankan mengaji Al-Qur’an, membacanya pun sudah tidak sempat. Keprihatinan Gus Miek itu terjadi di saat televisi baru TVRI saja, bagaimana jadinya kalau beliau mengetahui kondisi umat muslim jaman sekarang….
Dari mana asal kata Jantiko itu juga menarik ternyata. Jantiko adalah kepanjangan Jamaah Antikoler. Antikoler artinya tidak pernah mogok, diambil ketika santrinya punya mobil tua yang bahan bakarnya minyak tanah. Gus Miek bertanya apakah nggak mogok mobil itu, santrinya menjawab, “Mobil ini antikoler gus, nggak pernah mogok”.
Pengorbanan dan Penyerahan Total untuk Umat
Hal yang mengharukan adalah kenyataan bahwa Gus Miek hampir tidak pernah waktu untuk keluarga. Hidupnya selalu berpindah-pindah dari Tulungagung Kediri Trenggalek Blitar Surabaya Boyolali Yogyakarta Semarang bolak balik untuk berdakwah dari tempat maksiat satu ke tempat maksiat yang lain. Menginap di terminal-terminal. Pernah beliau tujuh bulan tidak menengok keluarganya. Waktu dan hidupnya digunakan untuk berjuang untuk membimbing umat.
Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya pun, di saat kanker ganas menyerang tubuhnya, ia tak juga bisa menikmati kesendirian barang sejenak. Gus Miek yang melarang keras untuk dijenguk keluarganya akhirnya dijenguk karena santri pengikutnya tidak tahan menanggung kesedihan untuk menyampaikan berita itu.
*
Demikianlah buku ini diketengahkan oleh penulis untuk mengisahkan perjalanan dan ajaran Gus Miek sebagai seorang kiai yang menyerahkan hidupnya secara total untuk berdakwah. Seluruh dunia pun dengan izin-Nya bisa digenggam, tetapi beliau memilih hidup menderita ketimbang hidup nyaman sebagai putra kiai besar.
Metode penulisan buku ini dilakukan dengan melakukan studi pustaka dan menggali informasi dari orang-orang terdekat Gus Miek. Cerita-cerita yang diketengahkan berdasarkan dari apa yang dituturkan langsung oleh orang-orang dekat Gus Miek, yang penulis sebut sebagai metode yang mirip dengan penulisan hadist nabi.
Pada akhirnya, buku ini menurut saya adalah buku yang sangat bagus yang membuka tabir misteri kiai tradisional yang kharismatik (bahkan dengan membaca bukunya saja saya merasa lebih dekat dengan Gus Miek), penyerahan total kepada umat untuk perjuangan mengibarkan panji-panji agama Allah. Buku ini tidak akan pernah jadi best seller, namun saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca jika Anda menemukannya.
Al-Fatihah kagem Gus Miek…
Leveraging, Apa sih Maksudnya?
Salah satu istilah keren-dan-kedengaran-akademis-banget di bidang keuangan yang saya pelajari di bangku kuliah adalah leveraging. Leverage. Kayaknya kalau sedang ngomong ekonomi dan disisipi kata-kata leverage kedengarannya keren dan intelek begitu. Tapi sebenarnya apa sih leveraging itu? (embuh…)
Leverage artinya pengungkit. Jadi leveraging adalah menggunakan alat untuk mengungkit sesuatu agar naik. Dalam hal investasi, leveraging adalah cara untuk memperbesar potensi imbal hasil aset dengan menambah modal dengan cara pinjaman. Halah, jadi artinya leveraging itu sama dengan ngutang toh? Hmm… kira-kira mirip begitu lah, tapi ada perbedaannya, hehehe…
Mari saya jelaskan dengan contoh, meskipun pada dasarnya leveraging adalah utang, tetapi utang ini digunakan sebagai usaha untuk memperbesar aset investasi tersebut.
Hutang KPR adalah salah satu contoh leveraging yang paling umum. Hanya dengan sekitar 30% dari nilai aset, kita sudah bisa memilikinya. Dan ini aset yang berkembang terus nilainya dari waktu ke waktu. Leveraging macam begini lah yang bikin Amerika kolaps di tahun 2008 kemarin dengan kasus subprime mortgage-nya.
Di pasar modal, pialang kita selalu mengizinkan investor untuk melakukan transaksi melebihi modalnya. Ini disebut margin trading (secara syariah dilarang). Jika kita punya modal 25 juta, maka kita bisa bertransaksi bisa mencapai 100 juta. Tentu saja ada biaya bunga yang dibebankan — seperti hutang-hutang lainnya. Tetapi lihat faktor pengungkit-nya, leverage-nya, bisa sampai 4 kali modal awal.
Akhir-akhir ini, investasi dalam bentuk emas (logam mulia) menjadi sangat populer (sehingga nyaris terjadi bubble effect kemarin). Mungkin anda mengenal istilah berkebun emas? Ini juga salah satu bentuk leveraging, menggadaikan emas untuk dibelikan emas lagi dan begitu seterusnya. Kenapa leverage? Karena di situ ada komponen biaya gadai. Dan faktor pengungkit itu untuk memperbesar nilai aset investasi logam mulia.
Leveraging juga umum dalam sebuah perusahaan untuk menjalankan roda usaha, misalnya dengan hutang dari bank atau investor. Uang tersebut diputar untuk memperbesar nilai aset dan kekayaan perusahaan tersebut. Begitu seterusnya hingga menjadi besar. Faktor pengungkit.
Kalau salah satu leveraging adalah dengan cara hutang, apakah hutang konsumtif juga termasuk leveraging? Tentu saja tidak. Dengan melihat contoh-contoh saya di atas, selalu ada sesuatu yang berusaha diungkit untuk menjadi besar. Untuk mengungkit aset investasi, kekayaan, dan perusahaan. Kalau hutang konsumtif, tidak ada yang bisa diungkit karena nilai aset yang dibeli terus menurun. Bahkan akan ada biaya penyusutan di sana. Oleh karena itu, meskipun kebanyakan cara leveraging adalah dengan hutang, tidak selalu hutang adalah leverage.
Demikian kuliah Finance singkat dari sayah. Semoga tidak bingung, hahaha…
PS: Nah, di sini saya menyisakan beberapa istilah asih kayak bubble effect, subprime mortgage, apakah itu? Kalau ada kesempatan saya jelaskan lagi biar kita lebih melek dan nyambung kalau mengikuti berita ekonomi dan keuangan.
Buku Tentang Gus Miek
Tidak banyak orang yang tahu siapa KH. Hamim Jazuli atau yang lebih akrab dipanggil Gus Miek. Tetapi di Jawa Timur, nama Gus Miek sangat melegenda sebagai salah seorang wali, kiai, dan tokoh penting NU yang — seperti kiai-kiai NU lainnya — kharismatik. Budaya sema’an dalam Jantiko Mantab masih tetap lestari sampai saat ini. Oh iya, sema’an adalah membaca dan menyimak Al-Qur’an yang dimulai setelah subuh sampai dikhatamkan menjelang maghrib. Tiga puluh juz dalam 12 jam, kebayang nggak kecepatan bacanya? hehe… Setiap kiai di langgar di kampung saya sudah pernah menggelar Jantiko Mantab ini (maklum, 97% ustadz di kampung saya adalah lulusan ponpes NU).
Demikian pula dengan jama’ah Dzikrul Ghofilin. Setiap malam tertentu setiap bulan, pakdhe saya selalu ikut rombongan ziarah di makam Gus Miek, untuk berzikir semalam suntuk di makamnya di Kediri Jawa Timur.
Oleh karena itu, waktu saya menemani #perempuanmanisberkerudungnamunsayangnyasudahibuibuanaksatu seharian di Jakarta — ketika di Book Fair saya menemukan buku ini, tanpa pikir panjang saya ambil dua judul buku sekaligus soal Gus Miek. Buku itu tidak akan pernah populer sehingga akan ditemukan di Gramedia. Dan nyatanya memang begitu, saya langsung dikomentari sama #ibuibuanaksatuberlesungpipititu bahwa bacaan saya “politik” sekali. Mungkin karena ada foto Gus Dur di sana. Sebenarnya tidak, buku itu adalah semacam biografi Gus Miek dan gaya leadershipnya. Dan saya penasaran apa yang membuat nama beliau begitu melegenda di Jawa Timur.
Saya baru sempat membaca beberapa halaman pembukaannya, nanti kalau ada waktu, saya akan menuliskan review dan resensinya di sini.


Comments