Entries Categorized as 'Catatan Harian'
September 2, 2010
Saya tidak akan “berdamai” dengan Pak Polisi jika saya dicegat di jalan. Saya akan minta tilang normal. Saya tidak akan menyuap bapak polisi dari dulu-dulu kalau tahu prosedur sidang tilang itu sebenarnya mudah dan sederhana!
Oke, jadi awal ceritanya adalah sekitar awal Ramadhan, hari keempat kalau tidak salah ingat. Sebuah Sabtu sore yang mendung dan sejuk. Cuaca Jakarta rasanya sangat ramah, apalagi kondisi lalu lintas sedang tidak terlalu padat. Saya sedang melakukan safari Ramadhan dengan kawan yang datang dari Denpasar. Shalat maghrib di Istiqlal, buka puasa di nasi uduk Gondangdia, lalu tarawih di Masjid Sunda Kelapa.
Sepulah tarawih, waktu melintas Jl. HOS Cokroaminoto sebelum naik flyover tugu 66 Kuningan, kami dihentikan oleh petugas Patwal. Bermotor gede. Berbadan gede pula. Awalnya saya pikir saya dicegat karena menerobos lampu merah, tapi ternyata Pak Polisi menunjuk helm yang dipakai kawan saya di belakang. Iya sih, helmnya model “helem cibuk”, bukan helm standar, apalagi helm SNI.
Singkat cerita saya ditilang. Saya tidak mendebat Pak Polisi — mengakui kesalahan. Saya juga tidak berusaha mengajak damai. Lagi bulan puasa. Sayang jika pahala hari ini terhapus begitu saja. Lagipula, saya juga ingin tahu bagaimana sih sidang tilang itu sebenarnya.
Sidang Tilang
Sidang tilang diadakan di hari Jumat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di jalan Gajah Mada, di depan halte busway Harmoni. Riset kilat dari Google mengabarkan bahwa hari ini akan menjadi hari yang kacau dan panjang. You know laa birokrat kita masih menempatkan diri sebagai raja yang dibutuhkan, bukan pelayan yang melayani publik. Jadi meskipun di surat tilang tercantum pukul sembilan pagi, saya datang pukul 07:45. Persiapan sahur dengan memperbanyak air karena saya perkirakan setelah Jumatan baru selesai.
Alamak sampai di sana sudah banyak motor parkir di Jl. Gajah Mada. Dan tidak lama, saya diserbu oleh calo yang telah siap sedia. Saya tolak karena saya benar-benar ingin tahu. Saya masuk ke area PN, lalu mendekati pintu detektor logam dan bertanya kepada petugas di sana. Saya bertanya dimana sidang SIM C, kemudian dijawab di lantai tiga. Oke, dengan riang saya melangkah ke lantai 3.
Sampai disana orang sudah banyak, tetapi pintu-pintu tertutup. Sama sekali tidak ada tulisan tentang informasi prosedur sidang tilang. Gelap gulita! Dijamin Anda bakalan bingung. Bertanya kepada orang yang menggerombol di situ juga percuma karena jawabannya juga tidak tahu.
Sejurus kemudian, ada petugas PN yang datang dan tiba-tiba orang menyerbunya sambil menyodorkan surat tilang. Saya ikut-ikutan saja. Nampaknya bapak ini adalah tempat registrasinya. Tempatnya sangat tidak representatif, hanya satu pintu dibuka separo. Tidak ada loket. Tidak ada pengeras suara. Tak heran kalau orang bergerombol dan berdesak-desakan di sini. Saya melirik ke ruang sebelah yang merupakan ruang sidang. Belum ada hakim. Tetapi ruangan sudah penuh sesak.
Tiba-tiba si bapak itu memanggil nama. Nama yang dipanggil akan ditawari ikut sidang atau langsung bayar denda dan mendapatkan SIM-nya kembali. Pertanyaan bodoh. Orang pasti menjawab langsung bayar denda. Di sini dendanya Rp. 75.000. Karena tidak pakai pengeras suara, dan petugasnya terkesan asal panggil saja, jadilah orang bergerombol dan berdesak-desakan di depan pintu yang dibuka separoh. Kalau nggak salah sampai kejadian ada yang kecopetan.
Pukul 08:54, ada kesibukan di ruang sidang sebelah. Hakim sudah datang. Ada nama-nama yang kembali dipanggil. Kali ini lebih keras karena pakai pengeras suara. Saya yang setengah putus asa menunggui nama saya di pintu separoh itu, melangkah ke ruang sebelah dan mendengarkan. Eh, ternyata tak seberapa lama nama saya dipanggil. Saya pikir saya mau disidang begitu, tapi ternyata hanya dipanggil dan disuruh ke “loket” pembayaran.
“Loket” pembayaran. Karena tidak berbentuk loket. Hanya meja panjang berisi dua orang petugas. Tidak ada lajur-lajur untuk antri seperti yang ada di bank. Orang berdesak-desakan lagi di sini. Di sini denda juga dipukul rata: Rp. 50.000. Segera saya memberikan uangnya dan SIM C kesayangan saya kembali menghuni dompet.
Sampai keluar gedung, saya tetap tidak tahu bagaimana tata cara sidang tilang itu. Tetapi kalau hanya cuma begitu saja, saya lebih memilih ditilang daripada harus berdebat dengan Pak Polisi — apalagi memberikan uang damai. Itu buat saya merendahkan citra dan martabat kepolisian. Saya sangat menghormati instansi kepolisian sehingga saya akan memilih mengikuti sidang tilang jika nanti ditilang lagi. Kacau, namun tidak sekacau yang saya banyangkan. Hehehe…
Posted in Catatan Harian
2 Comments »
August 27, 2010
Salah satu ungkapan yang populer di bulan Ramadhan ini adalah bahwa setan dan iblis itu dibelenggu ketika bulan Ramadhan. Nggak boleh mengganggu dan menggoda manusia. Ini berasal dari hadist populer yang berbunyi, “Apabila datang bulan Ramadhan, pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu (HR. Muslim)”.
Sekadar pemikiran sambil lalu saja, saya tidak membayangkan bahwa setan dan iblis benar-benar dibelenggu secara harfiah, apalagi kalau penafsirannya memakai ilmu makrifat, dimana setan itu sejatinya hidup di dalam hawa nafsu. Sehingga tidak mungkin dibelenggu (buktinya kita masih bisa saja tergoda untuk melihat paha-paha putih mulus ketika puasa) :p
Ramadhan, bagi saya lebih merupakan sebuah pengkondisian, sebuah kawah candradimuka. Kita menganggap Ramadhan adalah bulan yang spesial, yang khusus, yang hanya datang setahun sekali. Spesial dalam hal apa tentu tergantung dari masing-masing kita mengintepretasikannya. Spesial diskon pahala kah, spesial bulan ampunan kah, spesial suasana macet di sore hari karena ada penjaja kolak di pinggir jalan kah, spesial buka gratis di masjid kah, atau spesial acara TV karena semua TV membuat program khusus Ramadhan?
Karena terkondisi — oleh suasana, oleh ibadah itu sendiri, dan oleh lingkungan, maka kita akan lebih terkontrol untuk bertindak. Lebih sulit untuk berbuat hal yang dilarang agama. Bahkan melihat perempuan lewat di trotoar saja segera memalingkan muka karena takut memandang sesuatu yang bukan hak, yang bisa mencederai kesempurnaan puasa kita.
Di sinilah saya kira, makna belenggu itu sendiri. Kita lah yang membelenggu dan mengendalikan hawa nafsu. Bulan Ramadhan dengan segala kekhususannya itu membantu kita untuk lebih mudah mengendalikan, karena banyak sekali rambu-rambu yang harus dipatuhi.
Saya membayangkan, selama sebulan Ramadhan ini, para setan dan iblis seluruh dunia sedang memanfaatkan cuti sebulan mereka untuk sejenak beristirahat setelah setahun bekerja keras. Kemudian, para ketua regu akan mengadakan konferensi dan rapat koordinasi tahunan. Mungkin di salah satu venue di Las Vegas begitu. Mereka melakukan persiapan-persiapan, melakukan update knowledge, membahas strategi baru yang akan mereka terapkan sesudah para manusia keluar dari kawah candradimuka mereka dalam kondisi yang bersih dan suci (Fitri).
Tentu saja. Makanya, buat saya, puasa sunnah enam hari di bulan Syawal itu lebih berat daripada puasa wajib di bulan Ramadhan. Karena pengkondisian itu telah selesai. Belenggu telah dilepaskan. Setan datang dengan kemampuan yang lebih tinggi. Seperti halnya orang yang diet “balas dendam” ketika berhasil menyentuh bobot terendah (dan oleh karena itu bobotnya langsung menanjak), saya khawatir akan terjadi proses “balas dendam” juga untuk memperturutkan hawa nafsu setelah “diet” selama sebulan.
Semoga kita semua dijauhkan dari hal itu. Semoga tobat yang kita lakukan setiap hari setiap malam di bulan Ramadhan ini menjadi taubatan nasuha. Dan semoga kita tetap berada di dalam lindungan-Nya dalam menghadapi godaan setan yang terkutuk yang akan datang lebih dahsyat selepas Ramadhan.
A’udzubillahi minasyaithonirr rojiim…
Posted in Agomo, Catatan Harian
1 Comment »
August 24, 2010
Adalah sebuah postingan dari Dea (namanya sih Nidya tapi entah kok panggilannya Dea) yang menggelitik saya tentang seorang yang perfeksionis. Kenapa menggelitik karena ciri-ciri orang perfeksionis yang disebutkan di situ ada yang masuk dan mirip-mirip dengan saya sendiri, khususnya bagian penderitaan.
Saya tidak sadar ternyata saya sering mengeluh tentang saya yang tidak terlalu maksimal mengerjakan sesuatu hal karena saya sendiri sudah sangat disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan lainnya. Baru kemarin sore (saya baca postingan itu di pagi hari), saya bergumam, “Hhh… sayang kok ya kuliah ini mesti harus disambi bekerja, coba kalau fokus kuliah saja, pasti hasilnya lebih bagus. Tapi kalau nggak sambil bekerja, dari mana buat bayar uang kuliahnya?”
Topik-topik dalam kuliah Magister Manajemen sungguh menariknya. Belajar teori-teori permintaan dan penawaran di Managerial Economic, atau bahkan yang masih dekat dengan background saya di IT: IT for Management. Baca case study dari Harvard Business Review (kira-kira ini seperti jurnal IEEE lah kalau di teknik) banyak hal baru yang dipelajari. Tetapi sayang sekali saya merasa tidak pernah bisa maksimal mempelajari hal itu semua karena siang hari waktu tersita karena harus bekerja. Padahal kuliahnya malam hari.
Lebih buruknya, seperti yang pernah saya tulis, saya ini punya banyak keinginan untuk bisa ini dan itu, mengerjakan ini dan itu. Padahal tangannya hanya ada dua dan sudah penuh. Saya ingin membuat produk itu, bahkan saya punya ide untuk membuat sebuah startup, juga di lain sisi, saya ingin menyelesaikan partiturnya Ludwig van Beethoven: Sonata op no. 13 “Pathetique” the Second Movement yang menuntut dimainkan dengan lembut dan penuh perasaan.
Mungkin saya memang harus belajar banyak lagi untuk bisa lebih mensyukuri keadaan. Mumpung lagi bulan Ramadhan. Saatnya pembenahan mental diri. Karena saya anggap tidak ada waktu yang lebih baik lagi dari bulan Ramadhan sebagai sebuah kawah candradimuka untuk perbaikan mental. Thanks to Dea yang sudah mengingatkan saya.
Bonus tulisan empat tahun yang lalu tentang perfeksionis:
Posted in Catatan Harian
1 Comment »
August 22, 2010

FLICKR
Lokasi: Jalan Malioboro, DI Yogyakarta
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Salah satu icon Yogyakarta. Tidak akan terasa lengkap perjalanan Anda di Jogja jika belum mengunjungi tempat ini. Banyak seniman yang melahirkan lagu-lagu romantis karena terinspirasi Malioboro. Misalnya Doel Sumbang dan Nini Carlina: panas-panas goreng pisang, kopi agak manis di gelas kaca, digelar tikar di terang neon, di ubun-ubunnya Jogjakarta — waduh jadul bener contohnya. Atau yang legendaris karya KLA: … ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera, orang duduk bersila … musisi jalanan mulai beraksi, seiring lara ku kehilanganmu … merintih sendiri… di telan deru kotamu …

Jogja memang unik dan berbeda dengan kota lain. Seperti Bali, warganya telah sadar betul bahwa Jogja adalah kota pariwisata. Mereka menyapa dengan keramahan khas Jawa yang masih asli. Ketika saya bilang terima kasih kepada tukang parkir yang menuntun mobil saya masuk jalan, maka jawabannya saya rasakan sangat hangat dan tulus. “Inggih, ndhere’aken mas…,” kata beliau.
It’s kind of a remarkable trip, if I can say.
Posted in Catatan Harian, Human Interest, Landscape
4 Comments »
August 21, 2010
Di Jakarta ini, ada masjid-masjid yang saya suka, baik untuk iktikaf maupun sekadar shalat tarawih di bulan Ramadhan. Biasanya saya suka beberapa masjid tersebut karena suasananya yang nyaman, bersih, luas, atau imamnya yang hafidz Qur’an sehingga senang sekali mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an yang terlantun dari beliau.
Ini dia masjid-masjid tersebut:
Masjid Agung Istiqlal
Masjid terbesar di Indonesia. Icon kebanggaan umat muslim Indonesia. Letaknya tepat di jantung pusat kota, di sekitar Monas dan Istana Negara. Luas. Nyaman karena berkarpet empuk. Tempat parkir luas dan terkesan aman. Tempat wudhu banyak dan bersih. Menariknya, Istiqlal adalah milik semua kalangan, semua lapisan masyarakat ada di sini: mulai dari pedagang kakilima sampai beliau yang membawa sedan mewah. Tempat favorit saya untuk iktikaf dari sore sampai pagi.
Masjid Al-Hikmah
Saya suka ini karena tarawih sore-nya 1 juz Al-Qur’an, sehingga pas di akhir Ramadhan, khatam Al-Qur’an. Letaknya dekat dengan kos-kosan, hanya sepuluh menit perjalanan. Alamatnya di Jl. Bangka XIII. Ada yang bilang ini masjid PKS, tapi entahlah, saya tidak terlalu memperhatikan masalah pemilihan “mahzab” lokal. Sementara masjid-masjid lingkungan kos-kosan saya melaksanakan tarawih 23 rakaat, Al-Hikmah lebih pendek, 11 rakaat. Saya menyukai jumlah rakaat yang lebih pendek, karena terasa lebih khidmat dan lebih syahdu. Meskipun saya masih belum bisa ikutan nangis seperti yang lain kalau lagi lewat ayat-ayat yang menyayat hati.
Masjid Agung Sunda Kelapa
Masjid ini tidak terlalu besar, tetapi memiliki arsitektur yang indah. Terletak mengintip di dekat Taman Suropati, Jakarta Selatan. Karena dekat dengan kompleks rumah pejabat dan rumah-rumah mewah di daerah Menteng dan sekitarnya, kita akan mendengarkan nama-nama populer penyedia takjil untuk berbuka ketika diumumkan. Misalnya seperti kemarin waktu saya di sana: “Bapak Taufiq Kiemas dengan sekian takjil….”
Masjid Bank Indonesia
Ini adalah tempat saya mengkhatamkan Al-Qur’an di malam 27 Ramadhan tahun kemarin. Terletak di pojok belakang kompleks kantor pusat Bank Indonesia, masjid ini sangat nyaman. AC-nya dingin, tempat wudhu-nya bersih, karpetnya super empuk, sehingga ketika sujud bisa membenamkan jidat sedalam-dalamnya, he he he… Sayangnya, karena masjid ini bukan untuk umum (karena ada di kompleks perkantoran), iktikaf hanya diadakan pada sepuluh malam terakhir saja, sedangkan di sebelum itu, tarawih diadakan setelah isya’ dan masjid ditutup pada pukul sembilan malam.
Masjid Agung Al-Azhar
Terletak di kompleks Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta Selatan, masjid ini merupakan daftar tetap untuk safari Ramadhan saya di Jakarta. Namun demikian, secara kenyamanan, Masjid Al-Azhar termasuk gerah ketika masjid dalam kondisi penuh. Mungkin karena arsitektur atapnya yang rendah sehingga pasokan oksigen yang masuk ke dalam ruangan sedikit. Hal yang menarik adalah karena di belakang masjid ini adalah pusat jajanan Roti Bakar Eddy, yang terkenal sebagai tempat nongkrong, kongkow-kongkow para anak muda metropolitan. Konon, banyak selebritis yang suka makan di pusat pedagang kaki lima di pinggir jalan Kebayoran Baru ini.
Masjid At-Tiin
Terakhir saya iktikaf di masjid ini adalah tahun 2008. Masjid yang juga menyenangkan karena lingkungannya asri, maklum terletak di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Saya membayangkan bagaimana kondisi masjid ini waktu almarhumah Ibu Tien Soeharto masih hidup: pasti luar biasa. Karena sekarang pun, dimana TMII sudah bukan menjadi primadona lagi, masjid ini masih terasa megah dan anggun. Masjid ini nampaknya juga favorit para sineas pembuat iklan, karena sering sekali saya lihat iklan di TV menggunakan latar Masjid At-Tiin.
Masih ada dua masjid lagi yang ingin saya coba, yaitu masjid Islamic Center dan masjid Kubah Emas (Dian Al-Mahri) di Depok. Saya ingat ramadhan tahun lalu saya menulis di sini tentang keinginan saya mencoba dua masjid ini, tapi nampaknya sampai sekarang belum kesampaian, he he he…
Posted in Catatan Harian
3 Comments »