Liburan Imlek
Terima kasih kepada Gus Dur yang telah mematahkan satu batasan rasisme yang menjadikan perayaan tahun baru Imlek menjadi begitu meriah dan terbuka seperti sekarang. Dan tentu saja buat yang tidak ikut merayakannya: bonus liburan tanggal merah. Dan apalagi jika itu nyambung menjadi long weekend, hal itu patut disyukuri oleh saya yang bisa pulang mudik.
Seperti biasa, saya membawa kamera lengkap saya jika melakukan perjalanan jauh — kamera DSLR, lensa normal, salah satu lensa tele atau wide, dan kamera saku untuk dikantongi. Tapi sepertinya, besok-besok kalau mudik saya cukup bawa kamera saku saja karena nyatanya kamera DSLR segede bagong itu tidak pernah keluar dari tasnya.
Saya hanya tiga hari di rumah, saya ingin menghabiskan semua waktu yang sedikit ini di rumah saja. Kalau saja Gajayana itu bisa menempuh jarak Jakarta – Tulungagung itu dalam 6 jam saja ^^ dengan tarif seratus ribu sekali jalan ^^. Nganter ibu ke pasar, nyetirin ortu ke kondangan yang lagi musim, masukin mobil ke garasi — semua hal yang dulu saya males-malesan kalau disuruh, tetapi sekarang saya ingin lakukan tiap hari — kalau bisa…
Tidak ada koneksi internet, ternyata saya bisa mengerjakan banyak hal yang lebih bermanfaat ketimbang sekadar baca dan nulis twit. Dalam tiga hari itu, saya bisa menghabiskan tiga buku: textbook Drupal 7 yang berat, Leadership Secrets of Gus Dur-Gus Miek, dan Manusia Setengah Salmon-nya Raditya Dika yang ringan. Sesuatu yang nampaknya sulit saya lakukan di Jakarta.
Liburan yang sempurna itu ternyata tidak harus ke tempat wisata. Justru kalau sedang banyak pikiran, kemanapun badan di bawa pergi, pikiran tetap tidak bisa nyantai. Kalau semuanya rileks, maka berdiam di rumah menjadi liburan yang sempurna. Tanpa koneksi internet, setumpuk buku, dan pisang goreng. ^^
Meaningless Fireworks, Happy New Year Folks!
Lokasi: Pantai Atlantis, kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta
Nikon D90 | Sigma 10-20 mm HSM | 15″ / F22
Lepas Maghrib saya langsung meluncur ke Ancol dengan persenjataan lengkap: kamera dengan baterai penuh, lensa secukupnya, dan memanggul tripod yang biasanya saya sangat malas membawanya. Dan saya terkejut kalau jalan masuk ke Ancol sudah macet! Saya memutuskan untuk parkir motor di pelataran hall bowling dan jalan kaki menuju ke lokasi pantai, yang masih lebih dari sekilo lagi.
Gelar tikar di pantai mulai jam sembilan malam, saya pasang tripod di situ sambil mulai jeprat jepret. Jam 11 malam suasana sudah riuh dengan kembang api yang meledak-ledak. Antara kembang api yang disediakan pihak pengelola dan yang dibawa pengunjung tidak terlihat lagi bedanya. Dan menjelang jam 12 malam pergantian tahun, suasana riuh dengan ledakan dan terompet.
Jam 00:00 … Lalu diam …
“Wis, ngene tok?” pikir saya dalam hati. Lalu apa artinya kembang api barusan yang kata pengelola menghabiskan 400 juta itu? Hanya sekadar merayakan perpindahan menit? Pertunjukan kembang apinya pun tidak bertema. Pokoknya meledak-ledak di langit gitu aja. Dan setelah itu, orang bingung untuk keluar. Saya nggak tahu mereka yang bawa mobil dan parkir di dalam bisa keluar jam berapa hehe…
Tapi perayaan tahun baru memang telah menjadi tradisi, membuat bisnis bergerak, creating demand and supply. Pihak pengelola akan mendapatkan untung besar dari sekian ribu pengunjung yang berjejal-jejal di pantai. Pihak penguasa lahan parkir akan berpesta. Penjual kembang api, minuman, terompet, hingga penjual tikar akan mendapatkan rezeki awal tahun. Dan tentu saja, seperti orang kebanyakan, saya lebih suka melihat atraksi kembang api begini ketimbang ikut dzikir akhir tahun di Monas, hehe…
Happy New Year teman-teman!
Statistik 2011
Tahun 2011 segera akan berlalu dalam hitungan jam. Alangkah cepatnya waktu berlari. Dan sesungguhnya waktu adalah hal yang tak tergantikan di dunia ini, bahkan setiap saat kita kehilangan waktu detik demi detik. Jadi, ngapain saja saya di tahun 2011, terus terang saya lupa apa saja resolusi saya yang saya bikin di awal tahun 2011 yang, rasanya masih sekelebatan kemarin lusa saja.
Dua langkah besar yang terjadi di tahun 2011 adalah bahwa saya telah memulai investasi. Dan yang kedua saya berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen saya tepat waktu. Alhamdulillah. Ramadhan tahun 2011 menjadi Ramadhan terbaik saya meskipun setelah itu — seperti lazimnya kadar iman yang naik turun — kembali menurun. Tapi saya cukup puas berhasil mempertahankan beberapa yang saya mulai di bulan Ramadhan 2011. Di bidang musik, saya berhasil menyelesaikan (akhirnya) Sonata Pathetique-nya Ludwig van Beethoven di tengah-tengah kesibukan saya.
Tentang blog ini — saya bersyukur saya masih senang menulis. Tujuh tahun bukan waktu yang pendek dan saya merasa sayang kalau tiba-tiba saya meninggalkan blog ini meskipun saya kadang-kadang lebih banyak menulis untuk diri sendiri. Terima kasih untuk teman-teman yang masih sudi membaca celotehan saya.
Statistik blog ini sendiri bisa dijelaskan sebagai berikut:
- Jumlah artikel sejak 2004: 967 artikel (cepetan dong nembus 1000).
- Jumlah komentator sejak 2004: 10,032 komentator
- Jumlah artikel 2011: 132
- Tahun 2011 paling rajin menulis soal:
- Catatan Harian: 52 artikel
- Musik: 11 artikel
- Financial Planning: 11 artikel
- Fotografi: 10 artikel
- Bulan paling rajin nulis artikel: Oktober (15 artikel)
- Komentator terbanyak sepanjang 2011:
- Fenty (51 komentar)
- aRuL (46 komentar)
- budiono (43 komentar)
- Vicky Laurentina (21 komentar)
- Nike (18 komentar)
Kepada teman-teman yang paling perhatian dengan blog saya ini, saya haturkan terima kasih yang setulus-tulusnya karena biar bagaimanapun juga, yang namanya blogger pasti butuh sedekah komen untuk sekadar bertahan nulis. Saya akan kirimkan link ke dua ebook essay fotografi di 2010 dan 2011 yang belum sempat dipublish (kecuali Nike ya karena udah aku kirimin :p) sebagai tanda terima kasih (ceileh…). Mohon maaf cuma bisa ngasih itu sementara ini (dipaksa download gede lagi, hehehe). Pokoknya thanks to you all…
Saya akhirnya juga memindahkan fotoblog saya dari yang sebelumnya bercampur di sini ke http://foto.galihsatria.com, sehingga di sini saya bisa lebih konsentrasi menulis macam-macam. Ya soal kerjaan, dunia IT, soal ekonomi, keuangan, musik, fotografi, pokoknya gado-gado sekali. Sangat mencerminkan saya sendiri yang memang menyukai banyak hal.
Tahun 2012, kira-kira apa ya resolusinya? Belum kepikiran sih, tapi mungkin menemukan calon dan segera menikah harus saya masukkan ke resolusi 2012. Sudah mulai menua je, hehehe…
Buku Tentang Gus Miek
Tidak banyak orang yang tahu siapa KH. Hamim Jazuli atau yang lebih akrab dipanggil Gus Miek. Tetapi di Jawa Timur, nama Gus Miek sangat melegenda sebagai salah seorang wali, kiai, dan tokoh penting NU yang — seperti kiai-kiai NU lainnya — kharismatik. Budaya sema’an dalam Jantiko Mantab masih tetap lestari sampai saat ini. Oh iya, sema’an adalah membaca dan menyimak Al-Qur’an yang dimulai setelah subuh sampai dikhatamkan menjelang maghrib. Tiga puluh juz dalam 12 jam, kebayang nggak kecepatan bacanya? hehe… Setiap kiai di langgar di kampung saya sudah pernah menggelar Jantiko Mantab ini (maklum, 97% ustadz di kampung saya adalah lulusan ponpes NU).
Demikian pula dengan jama’ah Dzikrul Ghofilin. Setiap malam tertentu setiap bulan, pakdhe saya selalu ikut rombongan ziarah di makam Gus Miek, untuk berzikir semalam suntuk di makamnya di Kediri Jawa Timur.
Oleh karena itu, waktu saya menemani #perempuanmanisberkerudungnamunsayangnyasudahibuibuanaksatu seharian di Jakarta — ketika di Book Fair saya menemukan buku ini, tanpa pikir panjang saya ambil dua judul buku sekaligus soal Gus Miek. Buku itu tidak akan pernah populer sehingga akan ditemukan di Gramedia. Dan nyatanya memang begitu, saya langsung dikomentari sama #ibuibuanaksatuberlesungpipititu bahwa bacaan saya “politik” sekali. Mungkin karena ada foto Gus Dur di sana. Sebenarnya tidak, buku itu adalah semacam biografi Gus Miek dan gaya leadershipnya. Dan saya penasaran apa yang membuat nama beliau begitu melegenda di Jawa Timur.
Saya baru sempat membaca beberapa halaman pembukaannya, nanti kalau ada waktu, saya akan menuliskan review dan resensinya di sini.
Antara Pamer dan Promosi
Seorang teman saya (akhir-akhir ini inspirasi ngeblog-nya kok dari “seorang teman saya” mlulu), sedang meniti karier barunya sebagai agen konsultan MLM. #nomention. Seorang pekerja keras yang saya yakin dia juga akan sukses di bisnis barunya ini (amin). Dari notes-notes-nya di Facebook, saya melihat hal-hal yang unik dari para agen MLM itu:
- Menjadi Mario Teguh dadakan, memotivasi untuk bersemangat dengan kata-kata yang agak terlalu berbusa-busa.
- Bercerita dengan kesuksesan kilatnya meniti karier demi karier di jenjang jaringan struktur bertingkatnya. Bahwa telah mendapatkan gaji atau bonus sekian juta hanya dalam sekian minggu.
Wow, jadi apakah MLM itu bisnis yang mudah, bisa dikerjakan dari rumah (kadang-kadang ditambah embel-embel, sambil ongkang-ongkang kaki)? Saya selalu percaya bahwa tidak ada yang mudah untuk mendapatkan sesuatu. Ada hal-hal yang membutuhkan kerja banting tulang sehari semalam — di bidang apapun, tidak terkecuali MLM. Menurut saya seharusnya hal itu disadari oleh para pemimpi yang menganggap MLM itu bisnis yang mudah dan cocok bagi semua orang.
Saya jadi melihat kesamaan antara agen MLM ini dengan para trader pasar modal. Selalu saja ada yang pamer (yang menjengkelkan) dengan kalimat provokatif, “… yang minggu lalu mengikuti rekomendasi saya untuk beli saham XYZ, salam profit dan salam cuan.” Sebel karena saya tidak mengikuti rekomendasinya, hahaha…
Siapa yang bilang pasar modal adalah tempat mendapatkan uang dengan cara gampang sehingga dianggap bagaikan meja judi yang legal? Menjadi praktisi pasar modal yang baik juga butuh kerja keras — menganalisis chart, mengikuti berita, dan menyisihkan waktu untuk memelototi pergerakan IHSG. Karena kesibukan saya sebagai karyawan, saya sering kelewatan momen penting (dan karena itu saya sedang mencoba mengubah gaya berjualan saya).
Kalau mengikuti cara para agen MLM itu (entah pamer entah promosi), di tiga bulan pertama saya, saya bisa profit hingga 30%! Bayangkan, uang 10 juta menjadi 13 juta hanya dalam tiga bulan. Setahun sudah berapa tuh? Sekitar 22 juta atau 120% dari modal! Itu kalo duit 10 juta. Kalau 50 juta? Wah, bisa kaya mendadak dong saya, hahaha… (dan saya sudah pernah membayangkan mau beli mobil dan rumah tahun depan ).
Dan kalau Anda percaya bahwa hasil jualan saya mencapai segitu, padahal kinerja IHSG tahun ini saja tidak lebih dari 2%, Anda mungkin termasuk kaum pemimpi, hehehe..
Intinya, tidak ada sesuatu yang gampang seperti itu. Ketimbang bermimpi, mari bangun dan mulai bekerja sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit tak iye. Salam zuper!
Sidang Thesis, Langsung dari Ruang 309 Binus Business School
24 Juli 2006
Saya mendapat giliran presentasi pertama kali, pukul 08:00. Sedianya di ruang sidang lab S2 di lantai 3, tetapi karena suatu hal, kami dipindahkan ke ruang sidang lab NCC a.k.a AJK (Arsitektur dan Jaringan Komputer). Dan karena yang saya siapkan di laptop hanyalah bahan presentasi sedangkan server program ada di ELIZA yang saya tinggalkan tetap di rumahnya di lantai 6, maka saya harus punya akses ke intranet ITS.
(Sidang Tugas Akhir IBS, Langsung dari Lab S2) - sayang fotonya hilang di server lama
3 Desember 2011
Ternyata saya adalah tim pertama yang melakukan thesis defense diantara teman-teman seangkatan. Presentasi saya buat dua hari dua malam setengah bolos kerja (maksudnya fisik ada di meja tapi nggak ngerjain kerjaan kantor). Sempat mau ganti dari PowerPoint ke Keynote, tapi melihat kerumitan Keynote, akhirnya saya putuskan tetap presentasi pakai PowerPoint. Sudah latihan presentasi ke ekspat — sidangnya dalam bahasa Inggris (thanks Pak Wilson!). Jas hitam, kemeja putih, dasi sudah juga, ngebut ke Pasaraya Grande Blok M malam itu. Celana ga matching karena ga ada yang cocok muat dan waktunya sudah tidak cukup buat njahitin.
Pak Kenneth, bos saya yang biasanya sangat kritis dalam membantai, hari itu bertanya dengan pertanyaan gampang (tapi tetap kelihatan sulit). Kalau ini presentasi soal kerjaan, seharian pasti habis dibantai kalau lihat ekspresinya dalam melihat slide demi slide. Bu Karen, dosen penguji, pertanyaannya cukup berat, tapi bisa dijawab dengan baik. Beliau memang tepat bertanya di titik lemah tesis kami, yang sudah saya kuatirkan akan jadi sasaran tembak. Pak Firdaus Alamsjah, dosen pembimbing, bertanya hal yang berat juga — well, saya nggak tahu pertanyaannya kalau beliau sedang jadi penguji, hehe.
Sekali lagi, saya telah melalui satu proses penting di hidup saya. Kuliah S2 ini unik karena harus sambil bekerja di siang hari, masuk kelas di malam hari dan pulang jam sepuluh malam. Beberapa ceritanya ada di kategori TA/Kuliah. Dan ITS jelas berbeda dengan Binus. Kultur yang sangat berbeda. Dan itu menyenangkan. Saya akan senang menunggu saat wisuda di Jakarta Convention Center nanti, supaya resmi untuk menempelkan gelar di ujung belakang: Galih Satriaji, S.Kom, M.M.
Dari Kiri ke Kanan: Salman Bahwal (partner), Bpk. Firdaus Alamsjah (dosen pembimbing), Bpk. Kenneth Gunawan (penguji wakil perusahaan), Ibu Karen Peyronnin (dosen penguji), dan saya sendiri.
Welcoming the New Mac Book Pro 2011
Bismillah. Akhirnya notebook saya HP Compaq Presario V3660 telah purna tugas untuk menemani saya setelah empat tahun mencangkul. Kalau dihitung-hitung hasil cangkulan bersama laptop ini mungkin sudah berkali-kali lipat dari harganya sendiri — project Depkominfo, beberapa task force, beberapa proyek motret, dll. Alhamdulillah.
Sebenarnya kinerjanya masih cukup prima, dengan prosesor Core 2 Duo 1,5 GHz, terbaik di zamannya. Sedikit lambat buat bekerja dengan gambar-gambar resolusi besar. Tetapi masih acceptable, saya bahkan berencana untuk memakainya enam bulan sampai setahun ke depan. Hingga akhirnya ada yang berminat untuk membeli laptop saya itu sehingga, mau tidak mau, saya harus mencari gantinya. Programmer tanpa laptop seperti petani tanpa cangkul.
Setelah nyaris jatuh ke Toshiba Portege versi Intel i3, entah ada apa tiba-tiba pilihan berbelok ke MacBook Pro 2011 layar LED Display 13″ berprosesor Intel i5 dengan sistem operasi bawaan Mac OS X Snow Leopard.
Kenapa MacBook Pro?
Hedon? Hei kenapa tidak? Aidil Akbar selalu bilang, financial planning should be fun. Kita tidak harus menjadi pelit ketika keuangan kita tertulis rapi dan selalu patuh anggaran. Saya sudah sejak setahun yang lalu mulai menulis tujuan keuangan dalam jangka pendek salah satunya adalah laptop baru. Dan salah satu impiannya adalah: naik kelas dari yang middle-end ke high-end.
Bukan apa-apa, laptop selama tiga tahun dipakai gila-gilaan saya kuatir tiba-tiba mati. Kan repot kalau belum ada dana buat beli baru. Makanya saya sedikit demi sedikit menganggarkan dana untuk membeli laptop baru.
Bahkan ketika dananya terkumpul pun, saya masih ragu-ragu untuk mengeksekusinya. Buat apa wong laptop sekarang masih bisa dipakai kok. Tapi sering tergoda, pilihan hampir jatuh ke Toshiba Portege prosesor Intel i3 yang 8 jutaan. Yang saya butuhkan adalah sebuah “justifikasi” kuat.
Anyway, akhirnya tereksekusi juga. Semoga berkah dan menjadi cangkul yang baik seperti Compaq saya. Amin.
PS: Thanks to Daniel yang telah menemani menjemput di Click Ambasador. Akhirnya kenalan juga sama pacarnya
Comments