Entries Categorized as 'Catatan Harian'

Buku Mencerminkan Kepribadian Kita

Date March 5, 2010

Dalam kasus pembunuhan berencana di novel Pembunuhan di Mesopotamia (Murder in Mesopotamia), Hercule Poirot mencoba menggali dan mengenal korban pembunuhan, Mrs. Leidner, dengan cara melihat-lihat koleksi bukunya. Hanya dengan dari koleksi buku Mrs. Leidner, Poirot bisa melukiskannya sebagai seorang yang mandiri, berkemauan keras, dan cenderung memiliki keinginan untuk menjadi pusat perhatian.

Jika Anda suka membaca, mungkin Anda setuju dengan saya bahwa Anda akan memilih buku yang Anda suka untuk dibaca. Sedikit banyak, kita memilih buku yang membangkitkan minat dan ketertarikan. Saya menyukai cerita yang misterius dan dramatis, oleh karenanya rak buku saya banyak bertumpuk novel-novel thriller pembunuhan dengan variasi yang macam-macam. Agatha Christie memasukkan unsur psikologi. Sidney Sheldon menyajikan drama yang cepat yang memilukan. Sandra Brown memasukkan unsur romantisme yang tragis.

Meskipun sering dibilang melankolis, saya tidak terlalu menyukai novel-novel yang terlalu romantis dan girly macam seri Twilight. Dan entah kenapa hingga sampai saat ini saya tidak bisa tahu dimana enaknya baca seri Harry Potter yang sangat terkenal itu.

Disadari atau tidak, koleksi buku kita juga mencerminkan tingkat kecerdasan. Misalnya, orang yang koleksinya chiklite, teenlite, chicken soup tentu dinilai berbeda dengan mereka yang koleksinya sastra seperti Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Berbeda lagi dengan yang koleksinya buku-buku — asli bukan terjemahan — karya Dickens.

Mungkin setelah ini Anda bisa mengamati koleksi di rak buku Anda, atau membuka account Anda di Goodreads.com dan perhatikan apakah pendapat saya ini salah atau benar. Mari sharing di komentar di bawah atau trackback di blog Anda sendiri. ;)

Senja

Date March 2, 2010

FLICKR
Lokasi: Sebelah RSUD Tulungagung, Jawa Timur
Canon Ixus 120 IS

Terkadang kita terpenjara dengan peraturan-peraturan yang kita definisikan sendiri. Misalnya dalam urusan foto ini saja. Saya seringkali tidak percaya diri untuk mempublikasikan foto tertentu di blog ini karena tidak berkonsep lah, atau cacat komposisi lah, dsb. Akhirnya malah tidak ada satu pun yang terpublikasi.

Jadi, kali ini saya publish foto ini. Jangan tanya apa konsepnya, konsepnya just point and shoot! Ini saya ambil di pertigaan rumah sakit RSUD Tulungagung waktu menjenguk sepupu saya, Zein, yang kena typhus. Tower yang terlihat itu adalah milik radio paling populer di seantero Tulungagung: Radio Josh (Suara Tulungagung Jaya FM).

Tentang Emoticon Senyum :)

Date February 22, 2010

Salah satu elemen komunikasi yang sangat penting yang tidak ada dalam komunikasi berbasis teks adalah tidak adanya ekspresi/mimik wajah. Tanpa adanya ekspresi, sebuah tulisan bisa ditafsirkan dengan sangat berbeda oleh masing-masing pembaca — tergantung suasana hati si pembaca. Kata-kata yang mengumpat, namun jika itu diucapkan dengan raut wajah jenaka jelas akan menjadi candaan yang hangat, yang sayangnya bisa ditafsirkan berbeda jika itu ditulis di chat room. Sudah berkali-kali kesalahpahaman yang ada di chat room.

Penyedia layanan chatroom seperti Y!M dan arena mengobrol santai macam Plurk menyediakan emoticon – gambar icon yang menggambarkan ekspresi yang berhubungan dengan kalimat yang ditulis — untuk membantu melukiskan ekspresi. Tidak banyak membantu, tetapi cukup berguna. Saya bilang tidak membantu karena tafsir emoticon itu sendiri pun juga berbeda-beda bagi setiap orang.

Ambil contoh icon senyum yang berkode :) itu  []. Tentu ini artinya senyum simpul yang tidak sampai keluar gigi. Tapi baik di Y!M dan Plurk, saya menafsirkannya dengan sedikit berbeda. Saya mengartikannya: senyum yang menyembunyikan sesuatu dan sifatnya serius, bijaksana, mengalah, senyum maklum, dan semacamnya. Kadang-kadang cukup menjengkelkan melihat orang di chatroom tersenyum dengan cara ini. Senyum ini jauh dari keceriaan, bertolak belakang dengan senyum jahil yang kelihatan gigi dan berkode :D (mringis) [].

Tetapi di situlah menariknya komunikasi lewat dunia maya. Adalah suatu hal yang bisa dimengerti jika seseorang bisa berperan sebagai pribadi yang benar-benar berbeda di dunia maya. Seseorang yang sangat pemalu dan introvert bisa menjadi begitu ceria dan akrab dengan teman-teman mayanya — karena ia tidak harus menunjukkan ekspresi yang sesungguhnya, ia hanya diwakili oleh emoticon-emoticon yang bisa diartikan apa saja oleh setiap orang.

Saya tidak tahu apakah ini akan berlanjut hingga nanti ketika era jaringan pita lebar (broadband) telah benar-benar menyentuh semua lapisan masyarakat pengguna internet Indonesia. Apa jadinya jika orang bisa saling melihat wajah melalui videoconference? Ah, mungkin saya akan kehilangan peran yang sekarang begitu saya nikmati di dunia maya ha ha ha…

Framework dan Tumpukan Masalah yang Menyertainya

Date February 15, 2010

Saya sudah agak lama tidak terlibat dalam sebuah project yang sangat intens dengan coding dan saya merasa rindu karenanya. Saya sudah cukup banyak tahu dan mencoba bermacam framework seperti Spring, Hibernate, Webwork, Struts, Seam, IceFaces (Java sudah jenuh dengan framework ya?). Saya bukan programmer yang tahu terlalu dalam dengan tumpukan framework tersebut dan tidak terlalu tahu bagaimana memanfaatkan mereka dengan benar. Izinkan saya meletakkan ego saya dengan berkata bahwa saya tidak terlalu paham dengan konsep MVC (Model View Controller).

Saya pernah gagal dalam merancang sebuah software dengan tumpukan framework MVC, dimana di sisi model menggunakan Hibernate sebagai ORM (Object Relational Model), di sisi view menggunakan Struts/Webwork, sedangkan Spring menangani sisi controller-nya. Singkatnya, dengan begitu tumpukan framework yang besar, permasalahan datang karena batasan-batasan framework, bukan karena proses bisnisnya. Akhirnya, banyak energi yang harus dihabiskan untuk memenuhi syarat-syarat cukup yang diwajibkan framework.

Seharusnya dengan perancangan, desain, dan perencanaan yang baik hal itu tidak terjadi. Janji-janji framework dimana proses skalabilitas dan perawatan akan lebih mudah menjadi janji palsu belaka. Nyatanya proses tambal sulam menjadi sedemikian besar. Apakah dengan framework tersebut proses pengerjaan akan menjadi lebih cepat? Mungkin jika project-nya begitu besar iya, tapi dengan skala kecil, akan ada waktu yang dihabiskan untuk membuat sistem dasar dimana semua framework berjalan dan saling bekerja sama dengan baik sebelum menyentuh ke proses bisnis intinya.

Akhirnya saya begitu merindukan PHP. PHP from scratch. PHP tanpa framework. PHP yang dengan begitu buruknya menangani variabel dan nilai null karena pemesanan blok memory tanpa deklarasi. Dan itulah yang saya lakukan. Semua saya gabung jadi satu. Query ke database, validasi, HTML, Javascript, semua dalam satu file PHP yang besar. Saya hanya memakai library kecil-kecil saja tanpa framework besar yang bertumpuk-tumpuk. Cukup merepotkan, tapi saya fokus dan hanya dihadapkan pada permasalahan inti, bukan masalah-masalah yang ditimbulkan karena penggunaan framework yang tidak benar.

Pelajaran moral yang saya dapatkan: tidak semua permasalahan harus menggunakan solusi framework yang besar. Kadang-kadang, sebuah permasalahan lebih efektif jika dikerjakan dengan cara “gila” tanpa aturan seperti ini. Permasalahan selesai, dan ada banyak orang yang lebih mengerti dengan cara dasar (karena mudah) dan sulit mengerti cara framework karena learning curve-nya jauh-jauh lebih panjang. Lebih mudah mendelegasikan pekerjaan.

Anda boleh menyebut saya programmer yang buruk karena tidak patuh terhadap kaidah suci MVC. Toh, saya mungkin tidak akan kembali lagi ke dunia ini, ha ha ha ha…

PS: Saya jadi ingat tulisan-tulisan beberapa tahun yang lalu waktu masih memuja MVC hehe.

Sinergi dan Harmoni

Date February 14, 2010

FLICKR
Lokasi: Plaza Senayan, Jakarta Selatan
Canon Ixus 120 IS

Apa jadinya jika tahun baru Imlek bersamaan dengan hari kasih sayang Valentine? Plaza Senayan dengan cerdik menyatukan keduanya dengan pernik khas Tiongkok dengan dicampur warna pink khas Valentine. Saya kagum rupanya cantik juga dua warna yang berbeda ini jika disatukan.

Saya sadar betul, bahwa Valentine adalah produk kapitalis yang diciptakan oleh pemasar dengan memanfaatkan sedikit sejarah agama. Tetapi ketimbang ribut-ribut berdebat tentang boleh dan tidaknya perayaan Valentine, saya memilih ikut menyebarkan kasih sayang kepada orang-orang terdekat saya. Bikin puisi, bercerita tentang cinta, bersimfoni Fur Elise yang menyayat hati, mengajak burung-burung bernyanyi, dan mengajak bunga-bunga tersenyum.

Untuk ketiga kalinya, keinginan saya datang ke kelenteng (satu di Kembang Jepun, dua di Petak Sembilan) untuk memotret event Imlek gagal lagi. Saya harap nanti ketika perayaan Cap Go Meh, kelenteng di Tulungagung bikin event sehingga saya tetap bisa memotret pas mudik nanti.

Untuk pembaca saya yang setia,
Be my valentine, I wish you a happy new year
,  zhù ni xin nián kuài lè
:)