The Wedding
Bismillahirrahmanirrahim,
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Enam bulan sejak pertunangan kami itu ternyata tidak lama. Akhirnya, tiba saatnya hari-hari menuju next step in my life. Sebuah tahapan baru dalam hidup saya, menggenapkan setengah dien. Oleh karena itu, saya pribadi mohon doa restunya kepada teman-teman semua, kalau berkenan, sudilah memberi doa restu dan datang di acara pernikahan kami:
Memasang Google AdSense
Sejak zaman dari awal saya ngeblog, saya belum pernah mencoba Google AdSense yang kabarnya bisa bikin orang kaya raya dengan ongkang-ongkang kaki doang. Saya tidak pernah tertarik mencoba karena memang saya menulis bukan untuk cari duit. Biarlah biaya sewa hosting dan domain saya dapatkan dari kerja saya di bidang yang lain. Saya berusaha mempertahankan semua web saya tampil bersih tanpa iklan. Waktu saya memunculkan banner ke SahabatCantikmu.Com, teman kantor saya berkomentar, “Hah, Galih yang anti iklan itu pasang iklan di webnya?” Hehehe sampai segitunya.
Faktor lain, permohonan saya untuk daftar Google AdSense selalu ditolak. Alasannya, web utama saya, www.galihsatria.com, selalu saya redirect ke tempat lain. Apa salahnya ya, waktu blog ada di puncak kejayaannya, saya memang mematikan www dan saya redirect www ke blog ini. Lalu setelah popularitas blog meredup, saya kembali menghidupkan situs www, tetapi saya jadikan redirector saja. Homepage saya taruh di www.galihsatria.com/home. Ditolak maning sama si Google dengan konfigurasi itu, meskipun yang saya ajukan adalah blog.galihsatria.com yang dulu sempat memiliki PR 4.
Ya sudah, saya mengalah sama Google, akhirnya saya pindahan lagi. Memindahkan sistem Joomla di /home ke atas, jadi www.galihsatria.com doang. Sekalian saya upgrade Joomla-nya dari 2.5 ke versi 3. Ngomong-ngomong, cari gratisan di Joomla lebih susah daripada di WordPress ya?
Jadi sekarang saya merawat tiga situs pribadi, blog.galihsatria.com, yang menulis di sini sudah jadi kebutuhan, kemudian foto.galihsatria.com, bahwa lebih gampang menulis secara konsisten daripada upload foto secara konsisten (karena kurang audience mungkin hehehe), dan yang terakhir www.galihsatria.com, tempat saya bereksperimen dengan Joomla. Saya masih percaya bahwa Joomla masih lebih fleksibel dan lebih umum sifatnya ketimbang WordPress untuk dijadikan website non blogging.
Dengan konfigurasi ini, tadi siang, permohonan saya ke Google AdSense lolos pengecekan mesin (yang selalu ngecek redirect itu). Tadi saya sudah memasang kode ad-unit-nya. Katanya sih masin under review. Hehehe, embuh juga, dapat 1 dolar saja sudah sangat lumayan buat kelas website kayak saya punya ini, hehehe…
Dapat Hadiah Kuis
Tempo hari saya ikutan Kuis Djoem’at yang diselenggarakan oleh Om Warm (saya kenal waktu saya mulai follow tulisan-tulisannya di situs Ngerumpi yang sekarang sudah gulung tikar). Saya jarang ikutan kuis, tetapi pertanyaan yang diajukan tidak bisa menahan saya untuk ikut serta. Pertanyaannya unik, yaitu di film apa Rhoma Irama terlihat memakai sepeda. Hahaha, bisa-bisa aja bikin pertanyaan. Kalau gitar di setiap film ada. Mobil Jeep dan BMW juga sering. Tonjok-tonjokan dihajar preman juga biasa. Saya cuma bisa membayangkan adegan bersepeda hanya ada waktu Rhoma sedang pacaran dengan Ricca Rachim. Dialog yang paling saya ingat dan menjadi legendaris adalah kata-kata Rhoma yang khas, “Ricckkhhaaaah….”
Karena tidak tahu persis, saya menjawab Berkelana. Dasarnya adalah film ini isinya kan jalan-jalan kesana kemari, jadi ada kemungkinan bang Rhoma bersepeda waktu bernyanyi, “Waktu aku berkheeeelanhaaa… ttiadaaa yang tahuuuuu….”
Eh ternyata pertanyaan jebakan betmen. Semua jawaban dianggap benar jadi hasilnya diundi dan lhakok saya jadi juara. Jadilah saya dikirimi sebuah buku tentang sepeda ini jauh-jauh dari negeri seberang. Judul bukunya “Melihat Indonesia dari Sepeda”. Kebetulan saya lagi kehabisan daftar baca, hehehe.
Matur sembah nuwun sanget kagem Mas Warm.
Office 365, Solusi Cloud untuk Perusahaan
Teman saya sedang mendirikan perusahaan startup yang bergerak di bidang G&G services. Sebagai perusahaan yang mulai berjalan, berbagai infrastruktur disiapkan, seperti kantor, komputer-komputer, dan tentu saja sistem IT backoffice-nya. Awalnya ia ingin membuat infrastruktur IT sendiri — web, email, kalender, manajemen proyek –sendiri. Saya bilang, apakah tidak terlalu besar investasinya? Saya menyarankan tiga hal:
- Menyewa web dan email hosting
- Menyewa VPS (Virtual Private Server)
- Menyewa layanan cloud Office 365 dari Microsoft
Opsi pertama meskipun yang paling murah tetapi kurang tepat kebutuhan. VPS ternyata lebih mahal jika dibandingkan dengan cloud Office 365. Di Office 365, kita sudah diberikan paket email account, website berbasis sharepoint, team site untuk kolaborasi, dan aplikasi Microsoft Office lengkap. Dan bedanya dengan layanan dari Google, disediakan pula lisensi MS Office versi desktop. Jadi untuk kebutuhan pekerjaan kantor secara offline, tidak diperlukan CD bajakan lagi.
Membangun infrastruktur sendiri dalam jangka pendek jelas jauh lebih mahal. Kita harus punya koneksi internet dedicated untuk server farm. Dan itu jauh lebih mahal dari harga Speedy yang paling mahal sekalipun. Belum lagi harus beli server-server untuk email dan web. Belum lagi maintenance-nya — pertempuran melawan spam yang melelahkan.
Zaman sekarang layanan cloud hadir untuk menjawab kebutuhan ini. Dihitung-hitung, total sekitar Rp. 500 ribu per bulan untuk lima orang staf, dengan lisensi MS Office mencapai 25 komputer. Ada plus minusnya memang, tetapi dipikir-pikir jika dibandingkan dengan biaya investasi membangun infrastruktur sendiri, yang ini jauh lebih murah — bahkan dengan VPS. Biaya itu paling hanya bisa mendapatkan satu server dengan spek minimal.
Ternyata settingnya juga cukup mudah. Saya menyelesaikan semuanya dalam dua hari. Beli domain, setup DNS server untuk diarahkan ke Microsoft, lalu sisanya tinggal dilakukan di webnya Office 365. Setup email, website, dan team site. Kesulitannya kemarin adalah memindahkan DNS dari MasterWebNet ke Microsoft. Saya rupanya bolos pas diajari setting DNS oleh mentor saya dulu di ITS, hehehe. Atas bantuan beliau juga, akhirnya DNS bisa dipindahkan ke sana.
Dan sepertinya, arah layanan ke depannya akan ke sana. Microsoft Office 2010 sangat dilengkapi fitur-fitur untuk mengakses layanan cloud. Di Indonesia sudah ada yang memulai belum yah? Seiring dengan semakin cepatnya koneksi internet, saya rasa era cloud service di Indonesia tidak akan lama lagi akan hadir.
Potongan Puzzle
Hidup itu seperti potongan puzzle, setiap kejadian adalah potongan-potongan puzzle yang pada awalnya nampak tidak beraturan, tetapi lama kelamaan bersusun-susun sendiri menjadi mozaik yang sempurna. Cuma kadang-kadang potongan puzzle ini adalah potongan yang menyedihkan dan mengecewakan, yang itu diperlukan untuk menyusun kesempurnaan mozaik.
Bilang apa saya ini? Begini, kalau saya melihat ada dimana saya sekarang ini, betapa hari ini adalah susunan mozaik sempurna dari potongan puzzle tahun-tahun sebelumnya. Dan hari ini adalah potongan puzzle yang menyusun mozaik di masa depan.
Terus terang saya membenci ungkapan semua akan indah pada waktunya. Sebagai makhluk Tuhan yang sombong, saya menuntut keindahan pada setiap waktu, bukan harus menunggu. Saya meminta dan berdoa pada Tuhan supaya mengabulkan keinginan saya pada saat itu juga. Padahal Tuhan punya rencana yang lebih baik lagi. Pada setiap titik kekecewaan, saya mempertanyakan, apa ada rencana yang lebih baik lagi? Kapan? Sabar, semua akan indah pada waktunya. Kapan? Ya sabar saja.
Saya yang selalu gagal dalam ujian psikotest sampai saya membenci setiap psikolog industri yang menangani rekrutmen. Saya trauma kalau disuruh datang lagi ke gedung lembaga psikologi UI di Salemba. Saya melamar ke Chevron Indonesia, ExxonMobil Indonesia, PT. Badak NGL, Total E&P Indonesie — mayoritas saya gagal di tahap psikotest. Di BPMIGAS (sekarang SKKMIGAS) semua calon atasan saya (baik Kadiv dan Kadin) sudah menyalami saya memberi ucapan selamat datang, tetapi lagi-lagi psikotest keparat menggagalkan saya. Terakhir, saya melamar ke HESS, juga perusahaan minyak, saya lolos sampai ke tahap terakhir sebelum wawancara dengan VP Regional Asia-Pacific — gara-gara tidak ada psikotest, dan saya tidak dihubungi lagi setelah tahap terakhir itu.
Hanya di VICO Indonesia, tempat saya pertama kali memulai karier sebagai junior petrotechnical programmer, saya lolos psikotest dan lancar sampai akhirnya diterima sebagai employee permanen. Ini puzzle yang pertama. Mas Dennis, kakak saya si pemilik sahabatcantikmu.com, waktu saya gagal di HESS bilang, takdirmu memang di VICO.
Sekarang, saya tahu bahwa setiap kegagalan saya itu, hanya untuk mengantarkan saya ke rencana terbaik yang telah disiapkan Allah kepada saya.
Jika saya masuk BPMIGAS, saya tidak akan pernah memiliki gelar master, karena saya sudah merasa cukup dan tidak merasa butuh sekolah lagi. Jika saya masuk BPMIGAS, saya akan merasakan kepanikan luar biasa ketika BPMIGAS dilikuidasi pemerintah. Sampai sekarang, BPMIGAS masih menjadi satuan kerja di kementerian ESDM — katanya paling nggak baru akan ada kepastian setelah Pemilu 2014. Jadi mainan politikus.
Kemarin saya mendengar berita, HESS hengkang dari blok Laut Jawa karena hasil eksplorasinya tidak sesuai ekspektasi. Saya cuma melongo saja mendengar berita itu. Subhanallah.
Dan yang paling luar biasa tentu puzzle terakhir ini. Saya bertemu dengan insya Allah jodoh dunia-akhirat saya di kantor. Apa yang terjadi kalau saya resign sebelum 2012? Saya seperti ditahan di sini untuk menunggu the-one menyelesaikan kuliah dan masuk bekerja di sini.
Masih terbayang setiap patah hati kepada setiap wanita yang pernah saya kejar, saya lamar, saya dekati. Kalau nggak ditolak ya sudah punya pasangan. Dan saya itu cinta damai, daripada merusak hubungan orang lain, mendingan saya mundur. Pria lembek yang tidak mau memperjuangkan cintanya? Bukan, saya adalah pria yang realistis.
Ternyata setiap titik kekecewaan adalah pembelajaran untuk menjadi pria yang lebih dewasa dari waktu ke waktu. Allah sedang mempersiapkan saya untuk menyambut kedatangan wanita yang telah Dia siapkan untuk saya. Dan wanita yang mau menerima saya ini, adalah yang terbaik yang pernah saya temui, insya Allah. Allah benar-benar mengabulkan doa saya, “Ya Allah, saya itu tidak mau mencari pacar, saya ini mencari isteri.” Dan Allah memberikan seseorang yang sangat kompeten menjadi isteri, bukan pacar.
Tentu saja jalan tidak selalu mulus. Namanya cowok dan cewek mencoba jalan bareng, ada saja masalahnya. Dan saya memilih untuk menyimpannya saja. Karena itulah saya undur diri dari Twitter. Saya tidak mau adegan berantem kami disaksikan semua orang. Twitter itu tempat umum, dan bertengkar di tempat umum itu tidak menyelesaikan masalah. Saya sudah sering melihat adegan balas-balasan twit sinis tanpa mention ke orangnya, tapi sangat jelas siapa yang dituju.
Jadi begitulah, setiap hal akan indah pada waktunya. (And I still hate this f***’ statement).
Wayback Machine
Beberapa kali saya kehilangan data karena hardisk yang rusak dan saya tidak punya backup-nya. Karena itu saya kehilangan data-data masa kuliah saya termasuk naskah tugas akhir saya. Termasuk foto-foto! (Salahkan Friendster!). Tetapi barusan saya iseng crawling blog saya ke tahun-tahun 2006 dan menemukan foto-foto yang saya sendiri sudah tidak memilikinya. Hyuk…
Artikel tertanggal 26 Mei 2006, waktu saya dan klub fotografi Teknik Informatika ITS hunting ke air terjun Kakek Bodo di Pasuruan. Dari kiri ke kanan, Baiquni (Dede’), Pak Waskitho Wibisono (dosen saya Pengantar Teknologi Informasi, Sistem Digital 1, dan Sistem Digital 2), Pak Nunut Priyo Jatmiko (almarhum) (dosen saya Interaksi Manusia dan Komputer), Helmi, Hendra.
Tertanggal 15 Mei 2006. Ini waktu saya memberikan sharing mengenai Java Server Pages, pelatihan internal dari kita untuk kita yang diadakan oleh Laboratorium Pemrograman.
Tertanggal 12 Mei 2006. Namanya eliza.its.ac.id. Komputer PC saya yang dibelikan ibu waktu saya masuk kuliah. Spek-nya Intel Pentium 4 1,8 GHz memory 128 KB. Saya baru tahu belakangan kalau ibu perlu pinjam uang dulu buat membelikan saya cangkul ini.
Meja kerja waktu saya magang di Puskom ITS jadi admin ITSnet. Kotak hitam itu notebook IBM Thinkpad dengan spek Intel Pentium III 1,0 GHz. Bandel. Saya duduki seharian juga masih idup aja dia.
Tertanggal 14 November 2006. Ini komputer eksperimen Hewlett-Packard seri Vectra dengan prosesor Intel Pentium 2. Namanya Nirmaladewi. Dewi Bulan.
Ini namanya Gryphon. Inilah server production yang difungsikan sebagai Firewall masuk ke jaringan ITS waktu itu. Sekarang saya tidak tahu spesifikasi server-server ITS. Mungkin kelas server begini sudah dipensiunkan dari dulu-dulu.
Demikian nostalgia sejenak.
Akuisisi dan Monetisasi
Akuisisi oleh raksasa bisnis terhadap sebuah web 2.0 yang user-generated-content hampir selalu membuat luka di kalangan pengguna setianya. Pengguna merasa dikhianati oleh owner/founder yang mendapatkan guyuran uang. Seperti yang saya baca hari ini melalui Feedly, Goodreads diakuisisi oleh Amazon. Saya jadi ingat ketika Kaskus diakuisisi Djarum. Owner nya yang masih muda menjadi Mark Zuckerberg-nya Indonesia. Seketika itu pula banyak moderator dan donatur Kaskus yang hengkang karena merasa dikecewakan (atau karena tidak kebagian?). Atau Koprol ketika diakusisi Yahoo!
Pengguna memang patut merasa dikhianati. Setiap web 2.0 besar karena diramaikan dan dikayakan oleh pengguna setia. Web 2.0 tidak ada harganya ketika tidak ada komunitas yang terlibat aktif di dalamnya. Memang beginilah salah satu model bisnis web 2.0, melakukan monetisasi dengan harta yang paling berharganya yaitu komunitas. Facebook, Twitter, Kaskus, tidak akan bernilai ketika semua penggunanya meninggalkannya. SalingSilang pernah mencoba membuat sangat banyak web user-generated-content dengan harapan yang sama — dan mereka gagal.
Permasalahannya, siapa yang berhak memiliki kekayaan intelektual ini? Idealnya tentu ada di setiap pengguna dan pemilik tidak berhak memiliki. Tetapi setiap web 2.0 yang besar membutuhkan biaya operasional yang sangat besar pula. Juga tidak adil jika itu dibebankan ke pemilik. Nggak fair jika setiap pengguna bersenang-senang di atas penderitaan pemilik yang susah payah mempertahankan agar layanan itu tetap jalan. Sudah gak dibayar, dimaki-maki user pula.
Idealisme tentu memiliki batas. Melakukan monetisasi dengan cara diakuisisi adalah salah satu jalan keluar agar layanan bisa tetap jalan. Masalahnya sejauh apa monetisasi mengintervensi idealisme? Investor tentu saja mengharapkan keuntungan tertentu atas sebuah akuisisi bisnis.
Makanya Wikipedia memilih untuk menggalang dana dari penggunanya sendiri untuk mempertahankan idealismenya.
Kembali ke Goodreads, Damar Juniarto, seorang moderator Goodreads mengajak untuk membangun rumah sendiri untuk komunitas Goodreads Indonesia. Kalaulah nanti rumah itu jadi dan besar, tentu mereka akan mengalami masalah yang sama. Ini tentang idealisme melawan realita.
Saya sendiri untungnya tidak terlalu terlibat dengan Goodreads, meskipun saya sendiri adalah seorang Goodreads Librarian. Tetapi dengan hilangnya Posterous, kemudian hilangnya independensi Goodreads, saya sedang berpikir apakah saya punya cukup waktu untuk memindahkan semua koleksi buku dan review saya ke www.galihsatria.com. Saya pernah punya konsep perpustakaan digital yang penggunanya bisa saling pinjam. Sayangnya, keluangan waktu adalah sebuah kemewahan bagi saya sekarang.
Comments