Officially, Magister Manajemen

Posted by: on Jul 22, 2012 | 14 Comments

Kegagalan itu biasa, tapi orang yang bangkit setelah gagal berkali-kali itu luar biasa. Ungkapan yang mungkin membosankan dan sering dipakai motivator, tetapi berapa banyak yang benar-benar melakukannya?

Jika saya tidak jatuh gagal di tahun 2009 itu, mungkin hari ini saya merasa cukup dengan gelar sarjana saja. Lha buat apa sekolah lagi? Sekolah lagi tidak menjamin karier dan gaji naik kok. Dan saya setuju itu. Tetapi momen kegagalan di tahun 2009 itu membuat saya harus berpikir, saya harus berubah! Tidak bisa begini-begini terus. Dan saya memutuskan untuk bersekolah lagi di jenjang strata dua, untuk memperluas pengetahuan, mind-set, pola pikir, dan segala hal supaya saya tidak terlalu freak, geek dengan computer science.

Itu yang membuat saya memilih sekolah bisnis manajemen. Sesuatu yang jauuuuh dari komputer. Dan semangat untuk perubahan juga yang membuat saya memilih Universitas Bina Nusantara sebagai pilihan sekolah. Pertimbangan saya, sekolah swasta tentu memiliki kultur yang berbeda dengan sekolah negeri. Dan saya perlu sedikit mengikis kultur Jawa yang sangat kental dimiliki oleh ITS. Dan Binus saya anggap punya kultur yang sangat jauh berbeda dengan ITS. Jadi saya mengesampingkan untuk punya gelar master dari sekolah negeri ternama seperti UI, UGM, dan ITB demi mencari sesuatu yang sangat berbeda (dan biaya kuliahnya juga sih).

Ternyata saya suka ilmu manajemen. Saya suka Strategic Management, ilmu Marketing Management, ilmu Corporate Finance, dan hal-hal yang berhubungan dengan ilmu bisnis. Tetapi sekolah di sekolah bisnis tidak serta merta membuat Anda menjadi seorang enterpreneour. Saya memang sudah bisa dan pandai bikin Business Plan, hitung-hitungan finansial yang rumit, dan semacamnya. Tapi untuk memulai menjadi business man dan memiliki start-up saya sendiri, itu hal yang berbeda.

Berbeda

Dan memang kuliah S2 itu berbeda dengan S1. Karena ini dibiayai sendiri, subhanallah, jadi terasa bagaimana dulu orang tua susah payah mencari duit supaya saya bisa bersekolah S1. Dan mereka tidak pernah menunjukkan itu ke saya. Seakan-akan they are financially strong. Saya harus bersusah payah setiap bulan menabung, dan setiap empat bulan sekali menyetorkan itu ke lintah darat selama dua tahun.

Tetapi jika mau jujur-jujuran, kuliah S1 memang jauh lebih emosional ketimbang S2. Thesis saya harus saya akui tidak terlalu heroik dibandingkan waktu S1 dulu. Waktu zaman dulu itu rasanya tugas akhir itu benar-benar karya saya yang monumental. Di kuliah S2 ini banyak sekali hal-hal yang harus jauh dari idealisme saya, kambing hitamnya sih karena kesibukan pekerjaan. Saya terpaksa mengubah cerita akhir thesis dari sesuatu yang ideal menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja.

Acara wisudanya juga begitu. Meskipun sempat sedih karena tidak didampingi siapapun termasuk orang tua, tapi saya tidak terlalu kecewa. Emosinya jauh berbeda dengan S1. Jika dulu waktu S1 orang tua tidak hadir, saya mungkin sudah menangis. Kemarin, rasanya seperti datang ke kondangan saja. Datang, duduk, dipanggil, salaman dengan Pak Rektor yang baru hari itu saya kenal, salaman ke Pak Dekan yang kebetulan dosen pembimbing thesis saya (Salam, Pak Firdaus Alamsjah ), dan salaman ke Head of Program, Ibu Pantry Heriyati.

Akhirnya, inilah akhir perjalanan kuliah S2, sejak pertama kali mengisi formulir di kampus Binus sambil terkagum-kagum dengan kecantikan mbak bermata sipit yang membantu saya. Lalu kenal teman-teman baru di acara Outbond di Lido, Sukabumi. Bersenang-senang di kampus yang mewah. Saya akan merindukan saat-saat terkantuk-kantuk di kelas karena energi sudah habis di kantor, lalu pulang rasanya seperti melayang. Saya akan merindukan hari Sabtu mengerjakan tugas-tugas.

Terima kasih untuk guru-guru yang sudah mengajarkan segala macam ilmu. Terima kasih untuk atasan dan perusahaan yang telah memberi kesempatan seluas-luasnya untuk karyawannya untuk sekolah lagi. Terima kasih untuk teman-teman sekelas, sekelompok (Indah, Pak Mardi) sejak dari Lido hingga penutupannya di acara wisuda kemarin. Keep in touch yaa…

Galih Satriaji, S.Kom, M.M (hehehe…)

Sidang Thesis, Langsung dari Ruang 309 Binus Business School

Posted by: on Dec 4, 2011 | 5 Comments

24 Juli 2006

Saya mendapat giliran presentasi pertama kali, pukul 08:00. Sedianya di ruang sidang lab S2 di lantai 3, tetapi karena suatu hal, kami dipindahkan ke ruang sidang lab NCC a.k.a AJK (Arsitektur dan Jaringan Komputer). Dan karena yang saya siapkan di laptop hanyalah bahan presentasi sedangkan server program ada di ELIZA yang saya tinggalkan tetap di rumahnya di lantai 6, maka saya harus punya akses ke intranet ITS. 

(Sidang Tugas Akhir IBS, Langsung dari Lab S2)  - sayang fotonya hilang di server lama

3 Desember 2011

Ternyata saya adalah tim pertama yang melakukan thesis defense diantara teman-teman seangkatan. Presentasi saya buat dua hari dua malam setengah bolos kerja (maksudnya fisik ada di meja tapi nggak ngerjain kerjaan kantor). Sempat mau ganti dari PowerPoint ke Keynote, tapi melihat kerumitan Keynote, akhirnya saya putuskan tetap presentasi pakai PowerPoint. Sudah latihan presentasi ke ekspat — sidangnya dalam bahasa Inggris (thanks Pak Wilson!). Jas hitam, kemeja putih, dasi sudah juga, ngebut ke Pasaraya Grande Blok M malam itu. Celana ga matching karena ga ada yang cocok muat dan waktunya sudah tidak cukup buat njahitin.

Pak Kenneth, bos saya yang biasanya sangat kritis dalam membantai, hari itu bertanya dengan pertanyaan gampang (tapi tetap kelihatan sulit). Kalau ini presentasi soal kerjaan, seharian pasti habis dibantai kalau lihat ekspresinya dalam melihat slide demi slide. Bu Karen, dosen penguji, pertanyaannya cukup berat, tapi bisa dijawab dengan baik. Beliau memang tepat bertanya di titik lemah tesis kami, yang sudah saya kuatirkan akan jadi sasaran tembak. Pak Firdaus Alamsjah, dosen pembimbing, bertanya hal yang berat juga — well, saya nggak tahu pertanyaannya kalau beliau sedang jadi penguji, hehe.

Sekali lagi, saya telah melalui satu proses penting di hidup saya. Kuliah S2 ini unik karena harus sambil bekerja di siang hari, masuk kelas di malam hari dan pulang jam sepuluh malam. Beberapa ceritanya ada di kategori TA/Kuliah. Dan ITS jelas berbeda dengan Binus. Kultur yang sangat berbeda. Dan itu menyenangkan. Saya akan senang menunggu saat wisuda di Jakarta Convention Center nanti, supaya resmi untuk menempelkan gelar di ujung belakang: Galih Satriaji, S.Kom, M.M.

Dari Kiri ke Kanan: Salman Bahwal (partner), Bpk. Firdaus Alamsjah (dosen pembimbing), Bpk. Kenneth Gunawan (penguji wakil perusahaan), Ibu Karen Peyronnin (dosen penguji), dan saya sendiri.

Sidang Proposal Thesis

Posted by: on Jul 6, 2011 | 5 Comments

Alhamdulillah, tadi malam saya mempresentasikan proposal thesis saya yang membahas tentang process improvement di area Supply Chain Management di pabrik tempat saya bekerja. Puji syukur, proposal diterima dengan tanpa harus mengganti metodologi dan framework penelitian — sebagaimana yang dialami oleh beberapa teman. Revisi kebanyakan pada typo dan gramatical error. Bikin bukunya buru-buru dan ngantuk sih, hehehe…

Secara keseluruhan saya puas dengan “penampilan” saya. Meskipun agak grogi di bagian awal karena harus presentasi dalam bahasa Inggris di hadapan lima dosen penguji. Saya cukup bisa mempertahankan pendapat saya ketika dihujani pertanyaan-pertanyaan berat oleh para doktor-doktor penguji. Yang paling penting adalah bagaimana meyakinkan dewan penguji bahwa permasalahan yang diajukan adalah nyata dan sangat penting. Kemudian meyakinkan bahwa framework yang dipakai, Six Sigma, sesuai dengan permasalahan yang ada.

Satu langkah awal telah terlewati untuk menuju babak final kuliah master ini yang insya Allah akhir tahun ini ditargetkan selesai.

Semangat! Ganbattee! Ganbaruuuu… Chaayoo Chayoooo… hahaha…

Tidak Semua Orang Bisa Mengajar

Posted by: on Jun 10, 2011 | 5 Comments

Hari ini bahas apa yah, ah ini saja: tidak semua orang bisa mengajar. Orang yang kepandaiannya sundul langit ketujuh, yang panjang gelarnya kalau diukur bermeter-meter, yang sekolahnya sampai ujung bumi, yang seumur hidupnya ada di sekolaaah dan perpustakaan, yang jeniusnya bisa ngalah-ngalahin Albert Einstein, yang bisa berfilosofi seperti Rene Descartes… belum tentu bisa mengajar.

Saya pernah diajar konsep basis data di semester dua kuliah IT dulu. Seorang doktor yang pandai sekali. Tapi rasanya terlalu cepat untuk diikuti otak kami yang masih lamban. Kemudian, ada juga dosen muda bertitel master bisnis dari luar negeri. Beliau mengajar kuliah Competitive Dynamics and Rivalry. Tapi saya lebih sering menguap ketimbang berkonsentrasi. Beliau hanya membaca slide demi slide tanpa improvisasi, tanpa humor, tanpa sharing pengalaman di dunia bisnis nyata. Singkatnya: bosan.

Dosen pembimbing tugas akhir saya termasuk salah satu dari sedikit orang pintar yang bisa mengajar. Beliau bisa menjelaskan rumus-rumus turunan matematika diskret variance, covariance, eigen vector… (you name it) seperti mendongeng cerita Kancil Nyolong Timun aja. Enak diikuti, enak dimengerti, atut runtut.

Atau dosen pembimbing thesis saya sekarang. Beliau seorang doktor yang sangat asik kalau lagi ngajar. Salah satu yang berkesan adalah ketika menjelaskan konsep buillwhip effect, beliau mengajak kami dengan eksperimen sederhana dengan kancing, membentuk simulasi rantai supply, seolah-olah kami adalah manufacturer, distributor, retailer, hingga end-user. Emosi yang terlibat membuat konsep ini menjadi sangat nyata dan mudah dipahami.

Saya pikir mengajar adalah sebuah seni yang tidak semua orang bisa melakukannya. Mengajar memerlukan kita menyeberang ke dimensi yang berbeda, yaitu berada pada landasan pemikiran orang lain yang berbeda-beda. Kita tidak bisa begitu saja menyampaikan sebuah konsep dengan pemikiran kita sendiri karena sangat mungkin orang yang diajar belum bisa sampai ke tataran pemikiran tersebut. Di sinilah mengapa ada sangat banyak orang pintar tetapi tidak bisa mengajar. Perlu kesaktian khusus untuk bisa teleportasi dari satu landasan pemikiran ke pemikiran yang lain.

Selamat mengajar bapak dan ibu guru. Salam hormat dan salam kagum selalu dari saya, seorang murid bodoh yang bebal dalam menerima pelajaran. Sedemikian bebalnya hingga saya harus menyalahkan pengajar saya yang tidak bisa mengajar, hehehe…

Keunggulan Daya Saing yang Langgeng

Posted by: on Jun 4, 2011 | 13 Comments

Salah satu hal yang berkesan di kuliah trimester ini (trimester terakhir yang ada sesi kuliah sebelum tesis), adalah konsep Sustainable Competitive Advantages, atau menurut istilah dosen saya yang mem-bahasa-Indonesia-kan-nya menjadi Keunggulan Daya Saing yang Langgeng (KDSL). Ini adalah soal bagaimana sebuah perusahaan bisa bertahan menghadapi persaingan.

Agar bertahan lama (sustainable), perusahaan harus memiliki keunggulan dibanding pesaing-pesaingnya. Jika tidak, ia akan habis. CEO Garuda Indonesia, Emirsyah Satar, bilang, menjadi baik itu belum cukup jika yang diinginkan adalah lebih baik.

Contohnya banyak: kereta Argo Gede Parahyangan Jakarta-Bandung tersungkur ketika tol Cipularang dibuka sehingga pelanggan berpindah ke travel. Adam Air tak sanggup mengatasi perang harga di bisnis low cost carrier. Fuji Film merombak Fuji Image Plaza-nya menjadi 7-Eleven karena era film analog telah lewat diserbu era foto digital. Starone dan Flexi kembang kempis dihajar perang tarif GSM. Hero kebingungan memposisikan diri dihimpit Alfamart dan Indomaret sehingga banyak yang disulap menjadi Giant Supermarket. Dan masih banyak lagi.

Pasar persaingan sempurna (perfect competition market) dan pasar monopolistic competition memang membuat posisi konsumen dalam Porter* Five Forces menjadi sangat kuat karena mereka memiliki banyak pilihan dan mudah untuk melompat-lompat.

Hari ini adalah hari pertama saya mencoba modem CDMA/EVDO setelah putus asa dengan layanan para operator GSM yang sangat lelet. Layanan internet mobile broadband ini termasuk masih baru yang dipelopori oleh Smart. Kali ini saya memakai layanan baru dari Esia, AHA.

Seperti halnya Indosat IM2 dan Indosat 3.5G yang berjaya tiga tahun yang lalu, saya tidak yakin seberapa lama layanan-layanan CDMA ini bisa punya sustainable competitive advantage-nya terhadap lawan-lawannya di GSM. Apakah kualitas layanan dengan tagline “Youtube tanpa buffering” akan bertahan?

Keunggulan daya saing seperti ini mudah sekali patah. Ketika pengguna telah membludak dan kualitas menurun, dan ketika ada pesaing baru yang menawarkan layanan yang lebih baik, ketika itu pula keunggulan itu lenyap karena pengguna akan berbondong-bondong meninggalkannya. Harus ada keunggulan-keunggulan lain yang sulit ditiru oleh pesaing sehingga pengguna akan loyal dan bertahan.

*) Michael E. Porter, profesor dari Harvard Business School, salah satu manusia yang didewakan di dunia akademi bisnis. Mungkin seperti Isaac Newton-nya dunia Fisika.

Tentang Giliran Presentasi

Posted by: on Jun 3, 2011 | 3 Comments

Buat teman-teman yang masih sering presentasi bergiliran (biasanya yang masih kuliah, hehehe), mana yang lebih Anda suka, presentasi di awal atau di akhir? Jika bicara tentang giliran, menurut saya giliran yang paling enak itu di tengah-tengah agak awal, sekitar urutan tujuh sampai dua belas. Itu adalah waktu yang ideal baik buat presenter maupun dosen penguji.

Menjadi giliran awal menurut saya kurang menguntungkan. Kita akan menjadi standard setter bagi para penguji. Kalau dianggap buruk maka akan jadi relatif lebih buruk, tetapi kalau dianggap baik maka tidak akan jadi yang terbaik. Kalau ada peserta berikut yang serambut dibelah tujuh lebih baik, maka lebih baiknya akan cukup jauh daripada peserta pertama. Logis karena penguji adalah manusia biasa yang menilai secara subjektif dalam ke-objektif-annya.

Di sesi-sesi awal, penguji juga masih memiliki energi yang berlebihan. Ia akan menggonggong dengan pertanyaan-pertanyaan yang dalam. Selain mood yang masih menyala-nyala, ia juga harus menunjukkan kompetensinya di antara semua audience. “Pertempuran” seru memang akan terjadi di babak-babak awal sesi presentasi.

Seiring bergulirnya waktu, energi semua orang semakin terkuras (lebih-lebih pengujinya). Gonggongan (baca: pertanyaan) akan semakin tidak tajam. Dikejar waktu juga. Kalau batas waktu presentasi misalnya sepuluh menit, maka giliran awal biasanya molor sampai lima belas menit. Giliran terakhir akan mendapatkan jatah waktu yang semakin sedikit, dengan keuntungan gonggongan yang semakin tidak tajam dan dalam.

Dari catatan presentasi final paper kuliah Competitive Dynamics & Rivalry. Dari tiga jam waktu yang disediakan, saya mendapat giliran nomor dua dari belakang, baru presentasi pukul 22:20. Sepuluh slide yang saya siapkan akhirnya terpaksa dikebut dalam empat menit.

“Planning is Good, but Execution is Mightier”

Posted by: on Apr 8, 2011 | 2 Comments

Event CEO Speaks yang diselenggarakan sekolah saya, Binus Business School, kemarin menghadirkan Managing Director PT General Motors Indonesia, Bpk. Mukiat Sutikno. You know General Motors? Itu lho pemegang merek Chevrolet. Contohnya di jajaran mobil SUV ada Chevrolet Captiva.

Ada banyak pelajaran dan wisdom yang didapatkan dari Pak Mukiat ini. Ia meraih posisi nomor satu di GM Indonesia di usia yang bisa dikatakan masih sangat muda. Salah satu keyword-nya yang terkenal adalah yang saya jadikan judul artikel ini: Planning is good, but execution is mightier. Beliau berpendapat bahwa kita (orang Indonesia) sangat jago membuat rencana, tetapi sangat payah dalam mengeksekusi rencana itu.

Apakah benar? Untuk kasus saya: sangat benar, bapak!

Dalam hal perencanaan keuangan saja misalnya. Ketika saya pertama kali membuat rencana keuangan bulanan saya dengan rapi dengan GNUCash, cukup sulit untuk disiplin, baik mencatat pengeluaran, pemasukan, dan disiplin terhadap budget. Walhasil, setiap bulan selalu saja ada jurnal pada account Gen/Loss untuk membuat penyesuaian besar terhadap transaksi yang lolos pencatatan (well, sounds very much accounting stuffs rite?).

Tetapi buat saya penting untuk mengetahui cash flow bulanan saya. Saya harus tahu kemana saja uang dibelanjakan. Pos-pos apa saja yang membebani cash flow. Misalnya, saya baru tahu kalau pengeluaran rutin di pos transportasi di luar perkiraan. Kalau hanya untuk berkomuter kantor/sekolah sangat sedikit karena memakai sepeda motor, tetapi beberapa bulan terakhir rupanya saya cukup mobile — ada buat tiket kereta api dan airport tax. Nah, kalau ini nggak disiplin dicatat, kondisi-kondisi seperti ini tidak akan ketahuan.

Terus ada lagi, masalah investasi. Sepertinya profesi Financial Planner sedang populer akhir-akhir ini. Sehingga saya pikir semua orang tahu rumus dasar financial planning, kayak berapa persen hutang maksimum, dana darurat, dsb. Tetapi apakah semua orang mempraktikkan nasihat yang baik ini? Belum tentu. Saya baru bisa keluar dari profil investor konvensional ke investor agresif di tahun ini. Padahal saya mulai belajar ilmu tentang pasar modal sudah setahun sebelumnya. Rasanya ada kengganan luar biasa untuk menghadapi risiko investasi.

Jadi kembali ke wisdom, perencanaan itu memang penting, tetapi kita harus kasih perhatian lebih ke eksekusinya, disiplin terhadap perencanaan tersebut. Merdeka!

Switch to our mobile site