Entries Categorized as 'TA/Kuliah'

Tentang Rapor Kuliah

Date July 23, 2010

Oke, jadi tadi malam saya ke Student Services untuk mengambil transkrip nilai trimester lalu. Alhamdulillah nilainya memuaskan, lulus semua tidak ada yang harus mengulang. Bahkan mata kuliah Business Ethics saya dihadiahi nilai A bulat. Alhamdulillah, usaha keras saya untuk membuat review se-komprehensif mungkin dalam setiap tugas mendapatkan hasil yang memuaskan.

Tetapi saya agak merasa aneh. Kalau saya cum laude di sekolah teknik saya bisa berbangga kepada diri saya sendiri. Tetapi kalau cum laude di sekolah bisnis dimana saya sama sekali tidak memiliki sense of business, saya kok agak malu. Mungkin memang tidak ada asosiasinya antara nilai teoritis dengan praktiknya di lapangan. Teman saya berkomentar bahwa saya tidak bisa menjadi CEO yang baik gara-gara nilai Business Ethics saya yang A. Terlalu strict, terlalu malaikat, padahal CEO itu kan mesti fleksibel dan flamboyan, apalagi dengan kondisi dunia bisnis Indonesia yang serba lentur, karet, dan abu-abu.

Gara-gara itulah, saya berjanji akan memiliki sebuah start-up kecil nanti ketika sudah resmi punya embel-embel MM. Saya sedang belajar materi-materi yang dibutuhkan untuk menyiapkannya. Bukan sebuah start-up yang muluk-muluk, yang penting ada. Jika seorang sarjana informatika sudah menghasilkan cukup banyak karya, tidak enak di hati rasanya kalau kelak seorang master of business administration tidak memiliki bisnisnya sendiri. Apalagi malah tidak punya sense of business sama sekali.

Chayo!!

Neo Liberalisme

Date July 23, 2010

Tadi malam, kuliah Managerial of Economics dibuka dengan anekdot yang cukup menarik. Sejatinya kuliah ini adalah cabang ilmu Ekonomi Mikro yang pada dasarnya hanya membahas dua hal: penawaran dan permintaan (supply and demand).

Yang jelas, anekdot ini semakin membuat saya kagum dengan kekuatan media dalam hal pembuatan opini publik. Bagaimana media “menyesatkan” orang awam dengan istilah-istilah dan pengaturan sedemikian rupa sehingga ulasan media tetap kelihatan “ilmiah dan berimbang”.

Ini adalah tentang bagaimana pembuatan istilah neoliberal yang ditempelkan ke tokoh publik yang menjadi sasaran beberapa waktu yang lalu: Budiono (dan kemudian Sri Mulyani). Opini saat itu diarahkan bahwa Pak Budiono adalah seorang neoliberalis. Istilah asing-ilmiah-kurang-dikenal-umum ini kemudian dikesankan sebagai sesuatu yang buruk dan berbahaya. Seorang pengamat ekonomi yang maha tahu segala sesuatu, pakar segala ilmu, kemudian dihadirkan hampir setiap hari untuk menguatkan kesan.

Neoliberal, atau kapitalisme, sangat berbahaya karena tidak memikirkan keadaan rakyat.

Padahal, setiap orang yang pernah belajar Ekonomi akan mengerti bahwa contoh sederhana seperti tukang ojek adalah kapitalis. Katakanlah saya datang ke pangkalan ojek dan minta diantarkan ke suatu tempat. Tukang ojek A memasang tarif 20 ribu. Pada saat itu saya hanya punya 10 ribu. Saya tawar, tukang ojek A tidak bersedia.

Kemudian, saya datang ke tukang ojek B dan menawar. Karena tukang ojek B mendengar negosiasi saya dengan tukang ojek A, ia juga memasang tarif 20 ribu. Sampai tukang ojek ke-20 pun, mereka akan memasang tarif 20 ribu. Tidak ada yang peduli bahwa saya hanya pegang uang 10 ribu.

Apa kesimpulannya? Tukang ojek pun kapitalis. Neoliberal. Mereka tidak mempedulikan saya sebagai customer. Sebenarnya istilah ini terbatas sampai di sini saja. Sesederhana itu pengertiannya. Tetapi oleh media, hal yang sederhana ini bisa dikembangkan menjadi suatu manuver yang cukup memusingkan lawan.

Ah! Tentu saja Ekonomi Mikro tidak mampu menjelaskan, saya lupa kalau macam begini adalah ranah Politik Ekonomi, cabang ilmu Ekonomi yang lain lagi, he he he he…

Yeah! Bebas!

Date June 24, 2010

Rasanya saya seperti seorang anak kelas 4 SD yang sedang merayakan kebebasannya karena baru saja selesai ujian. Hehehe… ternyata sensasi seperti ini bikin rindu (dan itu salah satu alasan saya sekolah lagi). Bagi adik-adik saya yang masih menikmati suka duka bangku sekolah/kuliah, percayalah, kalian kelak bakal merindukan masa-masa itu kalau sudah lama meninggalkan dunia pendidikan. Jadi, nikmati selagi masih bisa.

Saya baru saja melewati trimester perdana yang luar biasa. Teman-teman baru, lingkungan kampus yang berbeda dengan waktu di ITS dulu, dan yang pasti subjek ilmu pengetahuan baru. Ini membuat saya merasa excited, menikmati serunya diburu deadline tugas, menikmati sensasi ketika mengintip nilai di ujung kertas ulangan, dan tentu saja: kebebasan sejenak untuk liburan setelah melalui ujian akhir yang berat.

Trimester perdana ini berisi kuliah-kuliah dasar manajemen yang kalau dicermati sangat menarik. Dimulai dari pengembangan kemampuan berkomunikasi dalam kuliah Communication & Interpersonal Skill. Di sini diajarkan teori-teori self-awareness, self-disclosure, manajemen konflik dan negosiasi, hingga presentasi dan pembuatan proposal formal.

Kemudian kita bergerak dalam implementasinya di dunia kerja. Bagaimana motivasi dan persepsi seseorang berperan dalam organisasi. Masuk ke dalam lagi, semua isi organisasi dibedah. Ini menarik karena teori-teori yang dijabarkan sangat dekat aplikasinya di dunia kita sendiri. Mengamati pergerakan teman dan atasan di kantor mengenai leadership-nya, hingga bagaimana saling adu manuver dalam perang power dan politik kantor. Semua teori itu sangat dekat dengan mata! Hal ini dibahas dalam Leadership and Organizational Behavior.

Lebih jauh, kita dibawa untuk menyadari bahwa menjalankan bisnis dalam organisasi harus dilakukan dengan etika. Permasalahan etika dan moral ini diajarkan dalam kuliah Business Ethics. Tiada pertemuan tanpa case study, dari skandal ke skandal, dari luar negeri hingga dalam negeri. Wawasan kita dibuka bahwa ternyata masalah etika adalah masalah yang sangat dilematis dimana tidak ada jawaban yang benar. Dan kita akhirnya bisa mengerti mengapa kadang-kadang seorang pimpinan instansi yang notabene seorang yang bermoral dan beretika harus memutuskan untuk melakukan sesuatu yang melanggar hukum untuk organisasi yang dipimpinnya.

Dan akhirnya, setelah masalah bisnis dikupas secara kualitatif, kuliah Quantitative Business Analysis menjawab setiap permasalahan secara kuantitatif. Semua bisa diukur secara matematis, bahkan dalam urusan pengambilan keputusan yang sulit. Kuliah ini saya akhiri dengan final project yang menjelaskan gejolak indeks IHSG dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Secara matematis kuantitatif!

Tentang nilai yang akan keluar nanti, saya tidak terlalu fokus kepadanya. Adalah berat memang untuk bisa fokus jika kuliah harus berbarengan dengan bekerja. Meskipun masih ada kekurangan di sana sini, tapi saya puas bahwa saya melewati trimester pertama ini dengan cukup baik. Saya masih ingin berteriak loh, “Hei, jadi mahasiswa lageee!!”

Tentang Distribusi Gaussian

Date April 7, 2010


*gambar dari Wikipedia

Menurut Anda, apa penemuan terbesar di dunia Statistik? Menurut saya, Distribusi Gaussian (disebut juga Distribusi Normal) adalah salah satu penemuan terhebat sepanjang masa. Adalah orang gila bernama Carl Friedrich Gauss yang menemukan distribusi yang mirip gunung simetris ini. Kenapa hebat? Para ahli Statistik akan bisa menjelaskan lebih detail daripada saya, tapi biarkan saya berceloteh kenapa saya terkagum-kagum dengan distribusi ini.

Tidak akan ada ramalan yang lebih menakutkan para politisi, calon presiden, calon kepala daerah daripada hasil exit poll atau hasil quick count. Mungkin jika tidak ada Mbah Gauss ini, hidup politisi lebih enak kali ya? Hehe…

Hampir tidak mungkin menghitung data populasi. Kalaupun bisa, ini akan memerlukan biaya dan waktu yang sangat besar. Coba lihat besarnya usaha sensus penduduk, berapa lama waktu yang diperlukan KPU menghitung hasil pemungutan suara. Nah, dengan adanya penemuan Mbah Gauss ini, populasi bisa diestimasi — atau diramalkan (jika kata estimasi terlalu ilmiah :p ) — dengan akurasi yang juga bisa diukur secara ilmiah, dengan sebagian data populasi yang diambil secara acak dengan syarat-syarat khusus. Salah satu syaratnya cukup mudah: 30 data acak sudah cukup. Oleh Mbah Gauss data sebanyak ini sudah dianggap “cukup besar”.

Kemudian, satu hal lagi penemuan beliau yang menyederhanakan banyak permasalahan, yaitu teorinya yang disebut Central Limit Theorem. Artinya kurang lebih, apapun jenis data populasi yang sedang Anda ramalkan, Anda bisa menggunakan aturan-aturan distribusi normal karena data acak yang Anda ambil itu akan terdistribusi normal. Syaratnya: asal data acak yang Anda ambil cukup besar. Sebesar apa? Minimal 30 data acak sudah cukup!

Seperti saya, mungkin Anda agak alergi dengan Statistik, apalagi kalau melihat persamaan dan rumus Matematikanya yang mengerikan. Tapi kita orang awam kan tidak perlu mengetahui bagaimana cara Mbah Gauss menurunkan rumus dari rumus satunya, semuanya sudah ada di Ms Excel. Cukuplah kita mengerti konsep dasar Statistik, bagaimana penerapannya untuk meramal suatu data populasi. Jadi, kita bisa tersenyum melihat orang-orang bertengkar di TV tentang hasil survey yang ternyata hasilnya berbeda satu sama lain.

Setelah ini, saya ingin berceloteh tentang analisis regresi. Bah, istilah apalagi itu? Masih berkutat mengenai Statistik, tetapi konsep yang dulu sangat saya benci dan membingungkan ini tiba-tiba saya sadari merupakan salah satu komponen terpenting dalam analisis dan peramalan data di dalam analisa bisnis.

* Disarikan dari kuliah Quantitative Business Analysis, Binus Business School

Bertemu “Teman Lama”

Date March 24, 2010

Saya benar-benar merasa excited Senin malam itu. Rasanya seperti bertemu teman akrab yang sudah lama tidak pernah bertemu. Ya, kami mungkin memang sudah tidak bertemu lagi sejak empat tahun yang lalu. Yeah, sampai sekarang pun saya masih sering memikirkan apa kata dosen pembimbing TA S1 saya dulu, atau kata manager saya beberapa bulan yang lalu: bahwa saya sebenarnya lebih sesuai sebagai akademisi daripada sebagai profesional.

Siapa teman lama yang saya maksud? Ia adalah Statistik, he he he… Ia memang sudah berganti nama beberapa kali. Dulu waktu masih menjadi mahasiswa junior namanya Statistik dan Probabilitas, diajar oleh dosen dari jurusan FMIPA Matematika. Kemudian setelah jadi mahasiswa tingkat akhir berubah nama menjadi Riset Operasional, berkutat dengan what if analysis dsb. Saya masih ingat dosennya adalah Pak Joko Lianto.

Sekarang, di S2 namanya berubah lagi jadi Quantitative Business Analysis. Saya tidak berarti sudah mengerti konsep-konsep dasarnya, tetapi paling tidak kemarin itu saya dilanda sensasi yang aneh dan menyenangkan, bahwa sudah sekian lama saya tidak bertemu dengan notasi Matematika, istilah-istilah dan suasana akademis ketika di ruang kelas. Mencatat di loose leaf, melihat presentasi powerpoint sambil mendengarkan celotehan pak Profesor yang nyentrik, tersenyum berkali-kali ketika berhasil menebak lambang-lambang latin sebagai population mean, sample mean, variance, standard deviation sambil bergumam, “Aku masih mengingatnya!”

Saya sudah menyesal dulu belajar Statistik tidak sampai ke hati. Saya tidak tahu apa makna multivariate, atau fungsi vektor eigen selain notasi-notasi limit mendekati tak hingga dan angka-angka yang memusingkan. Kali ini saya berjanji akan lebih serius lagi, khususnya dalam aplikasinya dalam manajemen bisnis.

Semoga waktu akan mengizinkan saya untuk melakukannya. Semangat!