Entries Categorized as 'Review'
January 4, 2008
Judul Buku: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Kompas
Jumlah Halaman: 258 hal.
Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan tulisan-tulisan Cak Nun yang cenderung eksentrik dan di luar mindset orang normal. Meskipun menggunakan bahasa yang lugas dan datar, namun karena materi yang disampaikan oleh Cak Nun bukan merupakan tulisan yang biasa ditulis orang kebanyakan, seringkali perlu dua tiga kali membaca kalimat-kalimat Cak Nun.
Tulisan-tulisan Cak Nun menunjukkan keluasan berpikir dari berbagai sudut pandang (bahkan dari sudut pandang ekstrim) yang begitu tinggi. Khas budayawan, Cak Nun memandang suatu persoalan sosial budaya di masyarakat kita dari sudut yang terkadang membuat alis terangkat. Ada bagian-bagian yang filosofis, ada bagian yang menohok, ada yang datar, dan ada yang menampar wajah kita sebagai masyarakat Indonesia.
Ya, masyarakat Indonesia belumlah dewasa. Buku ini membuat kita trenyuh terhadap kondisi masyarakat kita. Masyarakat dimana kita terlibat di dalamnya dan ikut membentuk wajahnya. Jangan korupsi, kecuali saya kecipratan! [hal. 16 - Pantat Inul adalah Wajah kita Semua]. Kita pasti pernah teriak anti korupsi. Tetapi ketika kita mendapatkan bagian hasil korupsi itu, kita diam-diam menikmatinya. Penduduk Indonesia ada dua. Perampok dan pengemis. Kalau sedang berkuasa, merampok. Kalau tak berkuasa, mengemis, pindah parpol, pindah koalisi, pindah tema dan komitmen, atas nama dinamika demokrasi [hal. 18].
Di bagian lain, soal heboh Inul, Cak Nun mengutip pertanyaan Aa’ Gym kepada Inul, “Apakah Mbak Inul tidak pernah bepikir bahwa yang Mbak Inul lakukan itu bisa merusak moral generasi muda bangsa kita?”
Inul menjawab dengan penuh kejujuran: “Alhamdulillah enggak….” [hal. 18].
Meskipun menunjukkan keluasan wawasan dan sudut pandang, tulisan Cak Nun sangat jauh dari sikap sombong dan sok tahu. Justru, kesan rendah hati yang kentara dalam tulisan-tulisan ini. Jadi jika ada orang sinis yang menyindir “Ah, paling cuma omong doang.” Bukannya marah atau berdalih, Cak Nun justru akan mengakui hal itu. Banyak bagian-bagian yang menunjukkan kerendahan hati ini.
Buku ini merupakan cermin nyata kondisi sosial masyarakat kita. Kita. Kita. Bahkan saking jengkelnya, Cak Nun mempertanyakan, siapa kita itu? Meskipun kita sering menggunakan kata “kita” yang berarti pihak pertama terlibat, namun seringkali pula dalam penggunaan kata itu, kita melepaskan diri seolah-olah kita berada lingkup. Padahal, kita adalah kita. Kita adalah masyarakat Indonesia. Kalau kita sadar bahwa masyarakat Indonesia belum dewasa, maka kita pulalah yang ikut membentuk wajahnya. Kita tak bisa melepaskan diri. Mau tidak mau, suka tidak suka.
Sebuah kondisi yang membuat trenyuh. Jika mata Anda belum terlalu terbuka, mungkin Anda perlu membaca kado cinta dari Cak Nun ini. Siapkan waktu karena bacaan ini bukan bacaan yang ringan. Tetapi waktu yang Anda sisihkan tidak akan percuma karena Cak Nun akan menyapa dengan ramah lewat tulisan di buku ini.
PS: Sebagian besar posting ini adalah subjektivitas saya, bukan buku. Kutipan langsung dari buku saya tandai halamannya dengan tanda kurung siku.
Posted in Review
2 Comments »
December 21, 2007
Bagi saya, situs layanan foto yang paling saya suka adalah Flickr. Flickr sangat cocok untuk photoblogging. Saya suka Flickr karena fitur-fitur sbb:
- Flickr membolehkan foto-foto ditampilkan di situs lain seperti blog.
- Mendukung RSS Feed.
- Set dan tag yang dinamis.
- User interface berbasis Ajax yang menarik dan intuitif.
- Hal yang paling saya suka dari Flickr adalah Flickr Badge! Sebuah kumpulan potongan gambar kecil-kecil yang bisa diatur dengan bebas, bahkan dengan kode kita sendiri. Plugin Wordpressnya juga banyak, seperti yang saya pakai di navigasi sebelah kanan.
Hanya satu kelemahan Flickr. Dia hanya bisa menampilkan 200 gambar. Lebih dari itu, hanya 200 foto terbaru yang ditampilkan. Kalau mau menampilkan keseluruhan, upgrade dulu ke versi pro yang berharga 250 ribuan per tahun. Jumlah set juga dibatasihanya tiga buah. Resolusi foto maksimum juga dibatasi. Tapi dua poin terahir itu tidak terlalu berpengaruh bagi saya.
Saat ini, jatah upload di Flickr sudah saya gunakan 180-an buah. Tinggal 20 kali upload lagi. Oleh karena itu, saya mencoba mencari alternatif selain Flickr.
Kawan saya, Arif Hidayat, adalah fans Google Picassa. Ya, saya sudah mencoba Picassa. Tapi Picassa lebih mirip Yahoo! Pictures (alm.). Picassa lebih cocok untuk album foto online, bukan untuk photoblogging. Picassa menyediakan set-set yang dinamakan album, dan bisa menampilkan slide show berbasis Flash dengan cantik. Lagipula, Picassa memiliki batas upload seperti mailbox, yaitu dibatasi total ukuran yang diupload. Contoh slide punya saya ada di sini: http://www.galihsatria.com/bopi-nikah/
Kawan saya, Fahmi si Mimimama Wawawa, salah satu master fotografi bloghosphere, merekomendasikan Multiply. Multiply adalah sarana lengkap untuk sebuah situs personal. Jurnal, blog, musik, foto, semuanya ada. Jejaring sosial ala Friendster juga terdapat di Multiply. Saya mencoba upload tiga foto ke sana, dan saya coba tampilkan di sini. Ah, yang muncul hanyalah ikon Multiply kalau Anda tidak login dulu ke Multiply. Jadi, coret dari daftar.
Kawan saya yang lain lagi, Henri, merekomendasikan DeviantART. Tidak hanya karya fotografi ternyata yang ada di sini, tetapi semua yang berhubungan dengan karya seni. Tadi pagi saya coba buat account di sana. User interface-nya agak susah karena DeviantART menggunakan istilah-istilah baru yang bau-bau Deviant (misalnya Deviant Submission untuk istilah upload karya seni). Cukup menjanjikan, karena foto DeviantART bisa disedot dari website lain — hal utama yang paling saya butuhkan. Tetapi DeviantART tidak mendukung RSS Feed, jadi tidak mungkin akan ada “DeviantART Badge” seperti Flickr.
Bagaimana dengan Zooomr? Situs yang menjiplak habis Flickr ini ternyata sama dengan Flickr. Ada account pro yang berbayar dengan harga separuh lebih murah daripada Flickr. Tidak ada “Zooomr Badge”. Coret dari daftar. 
Jadi, kesimpulan sementara, ketika jatah upload saya di Flickr habis, mungkin saya akan upgrade account ke pro, atau pindah ke DeviantART.
Posted in Review
13 Comments »
December 6, 2007
Judul Buku: Sang Pemimpi: Buku Kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang
Sekelompok anak-anak miskin di kawasan Belitong, bekerja sebagai kuli paling kasar di pelabuhan Belitong agar tetap bisa sekolah. Adalah Ikal, sang penutur cerita sekaligus pemeran utama; Arai, saudara Ikal, seorang simpai keramat atau sebatang kara yang diasuh oleh orang tua Ikal; dan Jimbron, si tambun yang gagap yang punya obsesi kompulsif terhadap kuda. Meskipun nakal dan berandalan, Ikal dan Arai adalah penghuni garda depan, istilah untuk orang-orang yang memiliki top rank di sekolah. Sebagai kaum buruh miskin, mereka memiliki cita-cita yang lebih mirip mimpi daripada cita-cita. Pungguk merindukan bulan.
Tapi anak-anak ini tidak sekedar bermimpi. Mereka termotivasi oleh mimpi-mimpi dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Menabung sereceh demi receh hasil dari pekerjaan mereka ke dalam celengan demi untuk mewujudkan cita-cita bersekolah ke Perancis! Waw…
Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!!
Arai
*
Kisah cinta apa yang paling menyedihkan di muka bumi ini? Cinta yang patah berkeping-keping karena pengkhianatan? Dipaksa putus karena perbedaan? Cinta yang menjadi dingin karena penyakit kebosanan? Terpisah oleh samudera? Bukan. Cinta yang paling menyedihkan adalah cinta yang tak peduli. [hal. 186]
Zakiah Nurmala adalah wanita pujaan Arai. Namun sayang, Zakiah terlalu tak peduli pada Arai. Tapi lihatlah bagaimana perjuangan Arai untuk mendapatkan cintanya. Mengharukan. Tak kenal lelah, tak kenal putus asa meskipun respon Zakiah sangat buruk, bahkan cenderung menghina. Apakah hati Zakiah luruh dengan perjuangan Arai ini?
Di titik Zakiah ini, mungkin saya terlalu larut dengan novel ini. Secara tak sadar saya selalu bersimpati dan tertarik oleh cerita-cerita yang menggambarkan kasih tak sampai. Mungkin seperti bercermin melihat diri sendiri kali ya? 
Si Ikal sendiri ternyata adalah Andrea Hirata. Jika kita melihat perjalanan hidup Ikal dan kemudian membaca biografi Andrea, sangat mungkin bahwa Andrea menceritakan kisah perjalanan hidupnya sendiri dengan banyak bumbu-bumbu dramatis. Gaya penceritaannya hiperbolis, dengan pengandaian-pengandaian yang sering keterlaluan dan membuat geli dan tertawa kecil.
Saya suka ketika tahu bahwa para pendidik diangkat dan dihormati di sini. Pak Balia adalah sosok kepala sekolah yang cerdas dan jujur. Pak Mustar, meskipun masih bersikap sangat keras, beliau sebenarnya sangat perhatian dengan perkembangan anak didiknya.
Kesimpulan, novel ini wajib baca. Ringan, menghibur, menyenangkan, dan memotivasi untuk selalu bersemangat dan terus siap tempur. Thanks to Mas Puntadi yang telah meminjami novel ini.
[banda nyilih thok aku kiy]
Posted in Review
24 Comments »
November 16, 2007
Sama halnya ketika aku menemukan lagu Love-nya The Mercy’s di tumpukan file-file MP3-ku, tadi pagi aku menemukan lagu yang amat menarik. Sangat puitis dan dalam. Tentu saja bukan dari lagu zaman sekarang — kamu tidak akan pernah menemukan lagu puitis dan dalam sekarang, adanya lagu komersil
. Lagu ini milik Ebiet G. Ade, berjudul Asmara Satu Ketika.
Berikut liriknya:
Asmara Satu Ketika
Ebiet G. Ade
Ketika kubuka jendela kegetiran datang menyergap
Apakah karena hembusan angin bawa aroma rumput basah?
Gemuruh air hujan menumpas nyanyianku
tentang asmara yang sirna terkubur dalam dada
Aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati
Ketika kuberjalan sendiri menyusuri sungai berliku
Apakah langkahku bawa ke hulu ataukah ke muara?
Gemuruh suara hati menikam kebisuan
Ketika cintaku kandas terkubur dalam jiwa
Aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati
Gemuruh air hujan menumpas nyanyianku
tentang asmara yang sirna terkubur dalam dada
Aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati
Oh malam dengarkanlah syair dari nyanyianku
Barangkali akan dapat menolongku
Coba bawakan dia meski hanya lewat mimpi
Oh… kelam bicaralah!
Oh… demi semi cintaku…
Oh… o… demi semi cintaku…
Bergenre pop lembut sedikit beraroma jazz, kalau penasaran silakan download di sini nee…
Posted in Melankolis, Review
11 Comments »
November 11, 2007
Inilah kenapa saya suka film-film asing. Mereka selalu memiliki pesan-pesan yang dalam, bahkan dalam kisah Aang the Avatar: the Last Air Bender. Hal inilah yang jarang dimiliki film (apalagi sinetron) buatan Indonesia. Berikut adalah pesan yang terdapat pada salah satu serinya. Book two: Earth, Chapter 19: The Guru.
*
Dalam tahapan menguasai kebesaran Avatar, kamu harus membuka semua cakra. Cakra adalah kolam-kolam energi yang terkumpul di dalam tubuh. Kolam-kolam energi tersebut memiliki penghalang yang harus kamu buka agar dapat mengalir.
Ada tujuh cakra energi dalam tubuh kita dan setiap energi memiliki tujuan tersendiri dan dapat terbendung oleh sifat emosional tertentu. Untuk mencapai kebesaran Avatar, semua pembendung itu harus dibuka.
Inilah tujuh cakra tersebut:
- Cakra Bumi. Terletak di dasar tulang belakang. Dia disebabkan oleh kepercayaan. Terbendung oleh perasaan takut.
- Cakra Air. Cakra ini dibebaskan oleh tekanan dan dibendung oleh Cemooh. Kenyataan yang telah membuatmu menyalahkan dirimu telah terjadi. Tapi jangan membiarkannya menampar dan meracuni energimu. Jika kamu bisa berpikir positif, kamu akan bisa memaafkan dirimu sendiri.
- Cakra Api. Terletak pada lambung. Cakra ini adalah bagian dari perasaan. Terbendung oleh rasa malu. Apa yang membuatmu merasa malu? Apa kekecewaan di dalam jiwamu?
- Cakra keempat terletak di hati. Dia berurusan dengan cinta. Terbendung oleh duka cita. Lepaskan semua duka citamu. Kamu mungkin sangat kehilangan. Tapi cinta adalah energi yang sangat penting. Cinta yang berakhir bagimu, bukan berarti akhir dari energi ini. Dia masih tetap ada di dalam hatimu dan tumbuh kembali menjadi cinta baru. Biarkan kesedihan mengalir keluar.
- Cakra Suara. Terletak pada tenggorokan. Dia berurusan dengan kebenaran. Terbendung oleh kebohongan.
- Cakra Cahaya. Terletak di tengah-tengah dahi. Dia berurusan dengan batin. Terbendung oleh ilusi. Ilusi terhebat pada tingkat ini adalah ilusi dari perpecahan. Merasa sesuatu itu terpisah, namun sebenarnya adalah satu kesatuan. Bahkan keempat elemen yang terpisah (air, bumi, api, dan angin) adalah ilusi. Elemen tersebut adalah satu kesatuan.
- Cakra ketujuh adalah cakra terakhir. Jika cakra ini terbuka, kamu akan keluar menuju kebesaran Avatar dengan nyata. Dan saat berada di kebesaran Avatar, kamu bisa sepenuhnya mengendalikan semua tindakanmu.
Cakra ini terletak di atas kepala. Dia berurusan dengan energi kosmis. Terbendung oleh hal duniawi. Cara melepaskannya adalah mengacu pada air. Biarkan semuanya tersimpan, biarkan ia mengalir ke sungai, dan… lupakan.
Posted in Review
14 Comments »