Belajar Sejarah dengan Lebih Mengasyikkan

Posted by: on Nov 1, 2009 | 8 Comments

SEBUAH REVIEW TENTANG BUKU “ANAK SEMUA BANGSA”

Judul Buku: Anak Semua Bangsa
Jenis Buku: Roman Sejarah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara

Anda masih ingat gaya bercerita buku-buku teks Sejarah waktu kita SD, SMP, dan SMA? Bergaya objektif, kronologis, dan penuh tanggal-tanggal yang wajib kita hapalkan karena selalu muncul di ujian.

Mungkin memang itu satu-satunya cara para penulis buku teks yang digunakan di sekolah-sekolah untuk mempertahankan keobjektifannya dan “tidak memihak”. Tetapi hal ini membuat sejarah menjadi kering — kehilangan coraknya. Kita tidak tahu seperti apakah keadaan emosi suatu zaman. Kita tidak bisa menyatu dan ikut merasakan apa yang dialami tokoh-tokoh sejarah di masa itu. Kita hanya tahu bahwa Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi kita tidak pernah tahu apakah beliau sempat tidur sejak diculik pemuda ke Rengasdengklok, lalu merancang naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, lalu dengan terburu-buru merumuskan Undang-Undang Dasar untuk negara yang baru saja berdiri itu.

Di buku Anak Semua Bangsa, kita bisa melihat sudut kehidupan yang lain yang diceritakan buku teks sejarah tentang zaman kebangkitan nasional. Jika buku teks mengetengahkan tokoh sentral seperti Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan dr. Cipto Mangunkusumo, Pramoedya memulainya dari tokoh fiktif bernama Minke, seorang pribumi yang tak pernah dicatat sejarah manapun.

Minke berasal dari kelas masyarakat yang jarang dipotret oleh buku sejarah. Ia termasuk pribumi yang beruntung karena bisa bersekolah di HBS, sekolah bikinan Belanda yang waktu itu cukup ngetop di ranah Eropa. Karena terpelajar, ia menjadi penulis di sebuah harian berbahasa Belanda, sesekali menulis dalam Bahasa Inggris, sangat Eropa-minded dan cenderung tinggi hati karena kedudukan dan kecerdasannya.

Berawal dari kacamata seorang yang sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap bangsanya sendiri — bahkan ia tidak mau menulis dalam bahasa Melayu sama sekali — kita diberikan gambaran seluas-luasnya tentang corak, emosi, dan budaya masa-masa itu tanpa batas. Mengikuti Minke berproses dari Eropa-minded menuju ke kesadaran cinta tanah air dan pentingnya kemerdekaan, kita merasa dekat dan rasanya masa tersebut begitu dekatnya.

Anak Semua Bangsa hanyalah sebuah potret kecil kehidupan Minke. Roman ini merupakan bagian kedua dari Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah. Saya sendiri tidak tahu tetralogi ini sehingga saya mendapati telah mengambil seri keduanya dari rak buku di Gramedia padahal belum membaca seri satunya.

Roman ini masuk dalam kategori berat untuk dibaca, apalagi ia menceritakan kebangkitan nasional dari sisi yang berbeda, sehingga saya rasa buku ini tetap tidak cocok untuk anak-anak sekolah. Buku teks yang konvensional masih lebih baik untuk memberikan dasar pengetahuan bagi mereka. Mungkin roman ini sesuai untuk mereka yang telah matang dalam menyikapi sejarah dan ingin memperkaya khasanah pengetahuan tentang masa-masa kebangkitan nasional.

Kamera-Kamera Saku Terbaik Menurut DPReview.Com

Posted by: on Oct 11, 2009 | 12 Comments

Mungkin sudah saatnya saya mengupdate tulisan review kamera 2 jutaan secara sampai sekarang masih banyak yang mendownload file Excel itu meskipun mungkin banyak tipe-tipe yang ada di situ yang sudah discontinue.

Well, apakah saya mau membeli kamera saku baru? Hm.. bisa iya, bisa tidak (tergantung budget dan mood yang impulsif haha). Tetapi saya menyadari satu hal bahwa nampaknya saya tidak pernah cocok dengan karakter warna Canon. Terlalu pucat! Emang kamera hitam putih? Jagoan saya, Ixus 860, tampil mengecewakan waktu saya pakai untuk mengambil gambar di panti asuhan Al-Hasanat Mampang, ramadhan kemarin. Jadi saya mencoba mencari alternatif karakter warna selain Canon.

DPReview.Com menyediakan beberapa review super komplit yang membuat Anda bosan membaca detailnya (karena sangat mendetail) dan ingin segera menuju ke konklusinya. Kalau Anda masih malas membaca konklusinya, ini saya rangkumkan buat Anda.

Kamera Murah – Dibawah 1,5 Juta

Mereka merekomendasikan Sony Cybershot W120 dan Panasonic Lumix LZ8. Dua kamera ini sudah memiliki adik, yaitu Lumix Z10 dan Cybershot W130. Jika kedua kamera ini cukup kecil untuk dikantongi, saya akan segera lari ke toko kamera, hehe.

Kamera Super Kecil

Pemenangnya adalah Canon SD 790 IS dan Panasonic DMC FX-37. Jika tak menemukan SD 790 IS di sini, Anda juga bisa memilih Canon SD 780 IS (Canon Ixus 100 IS). Sedangkan FX-37, Anda bisa memilih FX-48. Nah, berhubung saya sudah putus asa dengan Canon, seri FX ini cukup menggoda saya, mengingat saya ingin kamera saku yang benar-benar bisa dimasukkan saku celana dengan nyaman layaknya handphone.

Kamera Tahan Air

Kamera waterproof sempat saya lirik waktu saya akan berangkat ke Karimun Jawa, Juli lalu. Kandidat saya waktu itu adalah Olympus seri mju yang cantik. Tapi ternyata, menurut DPReview, pemenangnya adalah Canon Powershot D10 dan Panasonic Lumix DMC TS-1. Tampilannya sih mereka memang didesain untuk tahan air. D10 tampil seperti plastik yang gemuk, sedangkan DMC TS-1 tampil seperti kotak garang tahan air. Kamera tahan air sudah tidak menarik lagi buat saya, siapa yang tega kamera mahal-mahal dicelupkan ke air? Hehehe

Kamera Super Zoom Panjang

Anda mencari kamera saku yang bisa dibuat mengintip orang pacaran? Artinya Anda bisa meng-close-up objek yang jauh? Di sini Panasonic lagi-lagi memborong trophy DPReview.Com. Dua kamera andalannya menjadi pemenang, yaitu Panasonic Lumix ZS1 dan Lumix ZS3.

Kamera saku super-zoom juga tidak menarik saya. Saya lebih mencari kamera saku yang wide angle-nya luas, karena akan lebih sering saya gunakan untuk memotret landscape (hei, saya landscaper kan?) dan memotret dokumentasi orang-orang narsis. Mengambil zoom panjang dengan kamera saku berisiko noise dan goyang. Saya lebih mempercayakan urusan intip-mengintip ini ke Nikon D40 + Nikkor AF-S 55-200 mm VR saja.

Jadi, mana pilihan Anda? Semoga membantu kegiatan pilih-pilih. Saya sih belum memutuskan hehehe…

Review: The Chosen Prince, Pangeran Pilihan

Posted by: on Sep 30, 2009 | 12 Comments

Judul Novel: The Chosen Prince, Pangeran Pilihan
Penulis: Risma Budiyani
Penerbit: DIVA Press

Bagi kita yang berusia mulai 25 tahun ke atas, dan masih single, tentu saja sangat mengakrabi bagaimana “tekanan” lingkungan sosial terhadap diri kita. Anda akan menemukan pertanyaan-pertanyaan umum di pesta pernikahan teman, atau bahkan ketika silaturahmi ke keluarga besar di hari raya idul fitri. Daftar pertanyaan ini sebenarnya hanya basa-basi, tetapi setelah sekian lama diterpa pertanyaan-pertanyaan itu, kita akan merasakan betapa menyakitkannya.

Let say ambil beberapa contoh: Kapan menikah? Kok belum punya calon? Apakah terlalu tinggi standarmu? Kenapa kamu pilih-pilih?

Inilah yang dialami Jasmine, si tokoh utama dalam novel The Chosen Prince ini. Ia adalah gadis muslimah yang cerdas, yang sehari-harinya mengalami kehidupan yang relijius. Konflik yang dialami biasa juga dialami oleh anak-anak muda yang sedang mencari jati diri dan kedewasaan berpikir. Ia terlanjur jatuh cinta kepada seseorang bernama Saiful Malook dan patah hati karena sang pria meninggalkannya.

Ia terlanjur membentuk konsep mahligai cinta yang ideal adalah seperti yang ia bangun mimpinya dengan Saiful Malook. Saiful Malook lah pria satu-satunya! Tak ada yang lain! Segalanya adalah dia! Nah, dalam perjalanan berusaha kembali menyembuhkan luka-lukanya dengan Saiful Malook, muncul dua orang pria baik-baik yang mencintainya: Rashid dan Mike Carlos.

Sampai di sini dia dihadapkan dengan pilihan-pilihan di tengah-tengah tekanan sosial yang sedang menghantamnya kiri dan kanan. Harus diakui, ia belum menemukan sebentuk cinta ideal yang telah ia bangun serupa cinta kepada Saiful Malook. Apakah itu yang dimaksud dengan terlalu memilih-milih? Apakah ia harus mengikuti tekanan sosial dimana umur akan bertambah tanpa ampun sedangkan apa yang ia cita-citakan belumlah datang? Apakah benar pernikahan bisa tanpa cinta yang telah ia impikan?

Gaya Penulisan

Novel ini jelas inspiratif, khususnya bagi para lajang yang sedang dirundung kegelisahan karena sang pangeran belum datang menjemput, sementara waktu terus menggelinding tanpa ampun, dan pertanyaan-pertanyaan dari kiri-kanan semakin tajam mengiris perasaan.

Risma Budiyani membawa alur cerita dengan pembawaan orang pertama dan orang ketiga. Tetapi ia tidak konsisten di satu tokoh saja. Tiga tokoh sentral saling bergantian menceritakan perasaannya dari bab ke bab. Selagi “aku” berarti Jasmine, di bab depan, “aku” bisa berarti Rashid atau Mike. Atau tiba-tiba saja, bab berikutnya, sang penulis ikut campur dalam posisi orang ketiga serba tahu.

Sayangnya, menurut saya, meskipun Jasmine, Rashid, dan Mike adalah tokoh rekaan penulis yang sangat berkarakter, saya tidak melihat karakter masing-masing mereka ketika mereka bercerita. Jadi, kalau tidak tahu konteks yang sedang dibicarakan, tidak bisa dibedakan mana gaya bercerita Jasmine, Rashid, dan Mike. Padahal, secara logis, dengan karakter ketiganya yang berbeda, mereka pasti memiliki gaya bercerita yang berbeda pula. Saya bahkan beranggapan bahwa yang bercerita dengan kata ganti “aku” itu adalah Risma Budiyani sendiri, bukan Jasmine, Rashid, atau Mike.

Kalau tidak salah ingat, saya menemukan model bercerita lompat-lompat begini di novelnya Agatha Christie: The Man in the Brown Suit. Tetapi di sini saya benar-benar bisa membedakan mana cerita Anne Beddingfeld mana cerita Sir Eustace Pedler. Gaya bercerita mereka berbeda. Lagipula, Sir Eustace Pedler bercerita dalam catatan hariannya yang kelak diberikannya kepada Anne, jadi sebenarnya, penulis tetap berada pada titik Anne, tidak pernah melompat. Kalau di novel The Chosen Prince, penulis melompat-lompat sehingga terkesan buku itu adalah buku tiga orang (bahkan empat — karena ada gaya orang ketiga serba tahu) yang digabung menjadi satu.

Penutup

Saya suka novel ini karena dalam beberapa hal memberikan sedikit jawaban atas beberapa pertanyaan saya selama ini. Kisah cinta Rashid kepada Jasmine, dalam beberapa hal menjawab pertanyaan kenapa saya dulu ditolak dan cinta ideal yang dibangun Jasmine akan Saiful Malook adalah impian yang saya pernah bangun tentangnya, dan karenanya saya harus bersusah payah menyembuhkan luka. Kisah cinta antara Mike dan Jasmine, memberikan saya gambaran bagaimana seorang wanita menangani sebuah lamaran, dan ketika sholat istikharah yang dipanjatkan setiap malam tidak memberikan ketetapan hati kepada seseorang, maka seorang pria itulah yang harus ditolak.

Begitulah cinta.

Romantisme Tragis di Balik Perang Bubat

Posted by: on Sep 5, 2009 | 164 Comments

Perang Bubat adalah salah satu tonggak sejarah yang sangat penting yang mewarnai perjalanan Nusantara. Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekaligus kesalahan fatal Mahapatih Gajah Mada di akhir karier-nya yang gilang gemilang.

Sumber permasalahannya sebenarnya adalah kecantikan yang membawa luka. Adalah seorang sekar kedaton Sunda Galuh bernama Dyah Pitaloka Citraresmi memiliki kecantikan yang luar biasa yang terdengar hingga pelosok nusantara. Pada saat itu pula, Prabu Hayam Wuruk sudah cukup umur untuk memiliki seorang permaisuri. Tim intelijen dikerahkan untuk mencari gadis cantik yang cocok dijadikan isteri sang raja, dan salah satunya adalah Dyah Pitaloka.

Namun demikian, ketika antar keluarga saling menyetujui, Mahapatih Gajah Mada memiliki pemikiran lain. Ia memandang bahwa Sunda Galuh harus takluk saat itu juga dan Dyah Pitaloka dianggap sebagai putri seserahan, bukan sebagai calon isteri yang berderajat sama. Perang berkobar yang berujung pada bunuh dirinya Dyah Pitaloka, menyebabkan konflik pribadi Prabu Hayam Wuruk dengan Gajah Mada.

Mengapa Dyah Pitaloka Sampai Bunuh Diri?

Nampaknya tidak ada sumber sejarah yang menerangkan hingga detail apa motivasi Dyah Pitaloka bunuh diri. Pemahaman umum yang berkembang adalah karena putus asa karena semua keluarganya yang bertempur dengan gagah berani telah dibunuh pasukan Bhayangkara Majapahit. Celah ini, seperti ketika novel-novel bercerita tentang kisah cinta Gayatri (permaisuri Rajapatni — isteri Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana), dimanfaatkan oleh penulis untuk memasukkan drama romantis yang tragis.

Langit Kresna Hariadi, dalam novel Perang Bubat, mengisahkan bahwa Dyah Pitaloka sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta kepada seorang rakyat jelata bernama Saniscara. Saniscara telah menumpahkan perasaan cintanya dengan cara yang paling mengagumkan yang bisa dibayangkan wanita mana pun: lukisan. Goresan-goresan dalam kanvasnya ditorehkan dengan penuh gairah. Dan ternyata cinta yang paling murni dari dua anak manusia ini bersambut, tetapi tidak mungkin bersatu karena faktor politik dan kedudukan serta derajat yang berbeda. Ini memberikan ruang bagi pembaca untuk bereksplorasi tentang apakah cinta harus dihalangi oleh norma-norma seperti itu.

Saya membayangkan, biar bagaimanapun juga, Dyah Pitaloka adalah seorang putri raja. Saya membayangkan ia adalah gadis yang dewasa (kenapa novel selalu melukiskan putri raja itu cantik dan manja?). Ia menyadari ia adalah kunci politik yang berharga dalam hubungan diplomatik dua negara. Jika pernikahannya dengan Prabu Hayam Wuruk bisa menyelamatkan Sunda Galuh dari posisi takluk sebagai negara jajahan, ia akan menekan segala perasaan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan cinta pribadinya. Toh, Prabu Hayam Wuruk kan raja yang tampan juga.

Jika ternyata kemudian ia telah ditelikung, dicurangi oleh Mahapatih Gajah Mada, dan keluarganya habis terbunuh, harga dirinya lah yang membuat ia lebih baik mati daripada harus menjadi putri seserahan. Jika keluarganya telah bersikap patriotik heroik, mengapa ia tidak melakukan jalan yang sama? Berdasarkan ini, saya memaklumi putri Sunda yang cantik itu mengambil keris kecil dan menusuk dadanya sendiri.

Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak. Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancak politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan-kerajaan Islam (Demak Bintoro).

Referensi: Langit Kresna Hariadi - Gajah Mada: Perang Bubat. 2008. Solo: Tiga Serangkai.

Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin

Posted by: on Jun 27, 2009 | 4 Comments

Judul: Centhini. 40 Malam Mengintip Sang Pengantin
Penulis: Sunardian Wirodono
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 510 halaman

Serat Centhini digagas dan ditulis oleh Sri Susuhunan Pakubuwana V, raja keraton Surakarta Hadiningrat pada masa 1820-1823. Kitab ini membahas banyak hal, tidak hanya sastra dan seni, namun juga tentang adat istiadat, obat-obatan, kuliner, tanaman, hewan, agama, sejarah, hingga tentang seks. Sedemikian luasnya cakupan bahasan kitab ini, sehingga seringkali disebut sebagai ensiklopedia budaya Jawa pada masa itu.

Sesuai dengan gaya sastra Jawa pada saat itu, Serat Centhini ditulis dengan model puisi atau tembang. Menurut buku ini, Serat Centhini ditulis dalam dua belas jilid, 722 pupuh tembang (puisi). Satu puisi terdiri dari ratusan bait, dan masing-masing bait terdiri dari enam hingga dua belas baris. Masing-masing bait diikat oleh aturan yang ketat, misalnya jumlah suku kata tiap baris (guru wilangan), huruf vokal yang mengakiri tiap baris (guru lagu), yang dikenal dengan tembang-tembang Jawa.

Menyelamatkan Literatur Jawa Kuno

Nah, bisa dibayangkan, Serat Centhini tidak mungkin lagi dibaca oleh kita-kita para generasi muda — bahkan para sarjana sastra Jawa kuno. Selain bahasanya yang sudah tidak digunakan lagi dalam percakapan sehari-hari, model puisinya yang sangat terikat oleh aturan membuat kitab ini bukan bahan bacaan yang ringan. Ambil contoh saya yang orang Jawa asli ini, dari sekitar delapan hingga sepuluh tembang Jawa, saya hanya bisa membaca beberapa saja yang populer: Dhandhanggula, Pangkur, Pocung, Sinom, Asmarandhana, dan Mijil saja. Tembang gedhe macam Megatruh tidak saya kuasai lagi.

Hadirnya novel Centhini sebagai tafsir bebas kitab Serat Centhini ini bagi saya adalah sebuah penyelamatan terhadap naskah Jawa kuno dan memberi kesempatan bagi para awam mempelajari bagaimana corak budaya pada masa-masa Serat Centhini ditulis. Suatu hal yang agak ironis karena ternyata Serat Centhini diterjemahkan dalam Bahasa Perancis dulu sebelum berproses ke dalam Bahasa Indonesia.

Secara garis besar, Serat Centhini memberikan deskripsi pada kita bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sudah memiliki ciri khas kebudayaan yang tinggi. Hal ini terlihat dari begitu detailnya aturan-aturan dalam melakukan berbagai hal, seperti upacara pernikahan, bahkan kamasutra versi Jawa pun sudah ada. Suatu hal yang menyedihkan bahwa pada perjalanan waktu di era milenium, masyarakat Jawa telah begitu bodoh meninggalkan budaya dan ciri khas mereka sendiri.

Bagaimana alur cerita dan aksi Sunardian Wirodono menafsirkan Serat Centhini dalam alam imajinasi sastra modern berbentuk novel? Tunggu, saya baru saja baca pendahuluannya, nanti saya ceritakan kalau sudah habis baca buku ini. He he he…

Tentang Film Ketika Cinta Bertasbih

Posted by: on Jun 23, 2009 | 15 Comments

SPOILER ALERT!

Saya memiliki kenangan yang membekas tentang novel Ketika Cinta Bertasbih, sehingga saya menyempatkan diri untuk menontonnya. Saya pernah menggunakan kata-kata di penutup sebuah pernyataan cinta yang berbunyi, … ketika cinta bertasbih di hatiku. Aih… aih.. cooo cweeeet…

Tentang Alur Cerita

Agak aneh rasanya ketika orang datang ke bioskop dan disuguhi cerita yang bersambung. Artinya, keseluruhan jalannya alur cerita film tanpa dihiasi oleh klimaks dan antiklimaks/penyelesaian! Ketika cerita sudah akan memasuki konflik cerita utama — di mana Anna menikah dengan Furqan dan Azzam memulai kehidupannya sebagai pengusaha di Indonesia, cerita malah dihabisi dengan tulisan To be Continued! Dua jam cerita mengalir, sama persis dengan yang ada di buku. Cukup membosankan.

Sebelum menonton, saya sudah menebak-nebak kira-kira bagian mana dari novel yang akan dilewati. Saya menebak bagian kisah cinta Tiara-Fadhil yang tragis akan dilewati, lalu detail-detail kecil Azzam dengan Eliana. Ternyata saya salah. Alur cerita bergerak sangat lambat, semua yang ada di buku dicopy-kan ke film. Yeah, kalau memang jadi dua seri, pembuat film tidak perlu bingung meringkas ceritanya.

Tapi bukan berarti secara keseluruhan filmnya jelek. Karena didukung cerita novelnya yang kuat, versi filmnya menambah visualisasi pesan yang dibawa novel KCB dengan baik. Karakter sentral film ini, Khairul Azzam, digambarkan dengan lebih baik di film. Karakter Azzam yang di novel cenderung serius, pemurung, angkuh terhadap prinsip, di film menjadi Azzam yang ceria, namun tetap tidak meninggalkan prinsip-prinsipnya yang adiluhung sebagai pemuda muslim yang jempolan.

Bagian yang paling inspiratif mungkin adalah ketika Tiara menikah dengan pria yang tidak — atau belum — dicintainya. Kisah cinta yang tragis karena dua orang yang saling jatuh cinta tidak bisa bersatu lewat pernikahan karena kesalahan melangkah dan mengambil keputusan. Yang patut dicermati adalah bahwa Fadhil — lewat nasihat Azzam — berani untuk ikhlas dan tidak mau mengambil langkah yang gegabah untuk merebut kembali Tiara. Ini adalah jalinan cerita cinta yang lebih realistis ketimbang model cerita cinta ala Snow White dimana ada seorang Knight in the Shining Armor melarikannya ke istana nun jauh di sana.

Tentang Anna Althafunnisa

Oki Setiana Dewi memerankan Anna Althafunnisa — saya lebih suka melafalkan tha dengan a bulat daripada tho –dengan sangat baik. Cantik, pandai, berwawasan luas, pintar berorganisasi, ramah, santun dan lembut hati. Saya yakin akan ada banyak pria langsung mendambakan punya isteri seperti Anna, dan tiba-tiba saja ada banyak wanita yang ingin seperti Anna. Model jilbab Anna saya kira akan segera menjadi tren.

Bagi saya, Anna di film kurang charming dibandingkan dengan imajinasi saya. Anna di imajinasi saya justru lebih mirip Cut Mala atau Ayatul Husna. Kalau keduanya disuruh memakai jilbab lipatan, lalu disuruh bersikap lebih lembut daripada karakter yang dibawakannya, itulah Anna di imajinasi saya. Seperti adegan Husna di acara bedah bukunya yang memakai jilbab kain lipatan. He he he… si Lia adiknya Husna juga manis *halah

Penutup

Saya akan lebih menyukai film ini jika semua konflik diselesaikan dalam satu seri saja. Rasanya aneh jika menonton film tanpa ada klimaks dan ketika emosi penonton sudah dibentuk, cerita malah dipotong seenaknya oleh pembuat film. Mungkin akan lebih baik jika alurnya meniru model film Angels and Demons saja. Alur ceritanya sedikit diubah tanpa menghilangkan pesan utama.

Cineplex 21, Setiabudi Building, Jakarta

Tempat Download Partitur Lagu

Posted by: on Jun 9, 2009 | 52 Comments

Sejak mengenal piano, aku sadar bahwa ada hal yang sangat membedakannya dengan gitar, yaitu kebutuhan untuk memainkan akord secara detail dan akurat. Ketika bermain gitar, aku bisa melewatkan detail seperti kunci-kunci antara. Tidak terlalu terasa diantara genjrengan jari. Namun aku tidak bisa memperlakukan hal yang sama di piano. Kunci Dm/C (baca: d-minor-on-c) akan terasa sangat berbeda rasa dengan kunci Dm saja. Bahkan Am7 berbeda dengan Am. Karena itulah, di transkripsi lagu Vidi Aldiano, aku menyertakan detail akord-akord on (thanks to sensei Stenly).

Sayangnya, telingaku tidak terlalu peka dengan akord detail seperti ini. Dan perjalananku belajar piano akan jalan di tempat kalau aku memaksakan diri mengabaikan detail akord. Oleh karena itu, aku harus bisa baca partitur, atau bahasa inggrisnya disebut score/sheet music, atau bahasa gaulnya disebut teks kecambah nggak jelas.

Nah, mayoritas, jika teman-teman mencari sheet music di Google, yang muncul adalah partitur-partitur berbayar yang kita harus membayar sekitar 3-5 dollar per download. Meskipun banyak sekali tersebar partitur yang gratis, situs-situs ini sangat tersebar dan susah mencarinya karena pagerank di mata Google rendah.

Ada situs dahsyat yang mengumpulkan situs-situs yang menyediakan layanan download partitur gratis, mengindeks-nya, dan menyediakan kotak pencari. Namanya www.piano-sheets.net. Nyaris semua lagu populer ada di sini. Barusan aku mendownload sheet-nya Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing buat dimainkan sama teman-teman besok di studio di Tebet.

Lalu bagaimana cara aku membaca partitur? Well, aku memang sangat terlambat buat memulai belajar piano, harusnya orang memulainya di umur 10 tahun, aku memulainya baru dua bulan yang lalu. Jadi aku melewati beberapa tahapan yang biasa dilalui anak-anak kelas piano klasik, dan sedikit curang dengan memanfaatkan teknologi. Caranya? Nanti aku ceritakan

Switch to our mobile site