Entries Categorized as 'Review'
March 11, 2008
Judul Buku: Valentine Sweetcase, Love Birds
Penulis: Astri Adhe
Penerbit: Terrant Books
Hahaha… tak saya duga saya memilih mengambil buku yang terserak di kumpulan chicklite ini daripada buku Mein Kampf-nya Adolf Hitler untuk mendampingi buku Ketika Cinta Bertasbih yang sudah masuk keranjang belanja duluan. Yah, siapa kira saya beli buku lagi kemarin. Inilah racun yang tak bisa ditahan waktu masuk Gramedia. Adaa… saja yang menarik untuk dibeli. Padahal, saya sangat sinis terhadap novel bergenre chicklit: terlalu ringan, sederhana, dan mudah ditebak. Tentu saja, lhawong target marketnya adalah cool teens, bukan yang sudah tua kayak saya.
Tapi saya langsung ambil tanpa pikir panjang ketika ada kata-kata ini di sampul depannya yang berwarna pink lembut:
I love you not because of who you are but because of who I am when I am with you
Alamak…
Saya yang termasuk pengkhayal sejati saja tak pernah bisa bikin kata-kata seperti ini, dalam tingkat melankolis tertinggi sekalipun.
Ada dua cerita di sini, semuanya adalah kisah remaja yang sedang jatuh cinta. Kisah utama adalah kisah seorang secret admirer bernama Bali. Bali adalah seorang siswi yang cerdas yang bisa masuk ke sekolah elit (dalam konteks: sekolah yang didominasi orang-orang kaya) dengan beasiswa. Ia menyukai seorang bintang basket bernama Bas. Bas tampan, kaya, dan menjadi idola semua gadis di sekolah itu. Bali sadar, dunia mereka jauh berbeda. Ia memendam perasaan selama dua tahun dan menikmati cintanya lewat foto-foto Bas yang ia ambil dengan kamera tua miliknya dengan lensa tele pinjaman dari sekolah. Begitulah konflik bermula…
Membaca buku ini, saya serasa kembali ke sekitar tahun 1990-an, dimana ketika itu saya menyukai cerpen-cerpen remaja yang dimuat majalah Anita Cemerlang [Masih ada nggak ya majalah ini sekarang?]. Gaya bahasa, penceritaan, alur, manajemen konflik dan klimaks, teknik penyentuhan emosi pembaca, sangat mirip dengan cerpen-cerpen itu. Entah mungkin karena alur ceritanya yang mudah ditebak, ataukah emosi saya yang memirip-miripkan perjalanan kisah cinta saya dengan sang tokoh utama, saya rela melewatkan waktu kerja setengah hari di hari Minggu kemarin.
Mungkin memang seharusnya mimpi tetap menjadi mimpi. Terlalu sulit untuk dianggap nyata.
Hal. 147
Yeah… mungkin sebaiknya…
Mimpi memang tetap menjadi mimpi…
Posted in Review
5 Comments »
March 9, 2008
Nah, setelah semua orang mereview film AAC yang tak kalah fenomenal dengan novelnya, kini izinkan saya untuk juga bercerita tentang kesan saya tentang Ayat-Ayat Cinta the Movie. Tak perlu ada Spoiler Alert di sini bukan? Saya yakin semua telah membaca dan menonton AAC.
Dalam keseharian kita, kita mungkin saja menemukan sosok yang seperti Fahri yang begitu sempurna. Berwajah tampan, berotak cerdas, rendah hati, jujur, dan segudang sifat-sifat baik lainnya. Saya tak melulu bicara sosok Fahri di sini, tapi secara umum. Ada saja wanita yang begitu menarik, ramah, baik hati… Mereka bahkan tidak perlu berusaha tampil menarik, sudah begitu banyak orang yang tertarik dan memuja. Fahri bahkan tidak sadar bahwa dirinya memiliki semua kapasitas yang bisa menjadikan ia seorang playboy kelas kakap. Bayangkan saja, ada empat wanita yang jatuh cinta padanya: Aisha, Maria, Nurul, dan Noura.
Inilah tragisnya. Cinta mereka adalah cinta yang membawa luka. Semua terluka ketika sang pujaan hati menjatuhkan pilihannya kepada Aisha. Cahaya kehidupan Nurul padam meskipun ia masih bisa tegar menerima kenyataan. Maria jatuh sakit. Tapi saya yakin, Maria sakit bukan karena disiksa penyakit jantungnya, tapi lebih karena siksaan perasaan yang terlanjur hancur. Hancur hingga kematiannya. Noura yang paling parah. Ini adalah hero worship yang membawa bencana. Tertolak cintanya, ia malah memfitnah sang pujaan hati sebagai caranya untuk membalas dendam. Begitu dekat batas antara benci dan cinta.
Aku mengerti satu hal Fahri, ternyata… cinta dan keinginan untuk memiliki itu berbeda
–Maria, sesaat sebelum ajal menjemputnya
Keinginan untuk memiliki adalah sebuah obsesi. Ia seharusnya bukan sebuah representasi dari cinta. Karena obsesi itu egois. Cinta seharusnya ikhlas dan sabar. Cinta itu luka. Tetapi luka yang akan menjadikan kita menjadi jauh lebih tegar, lebih dewasa, dan lebih arif dalam menghadapi setiap permasalahan.
Oke.. oke.. saya bicara begini memang saya selalu ada di pihak luar. Saya ada di pihak yang selalu mengalami kasih tak sampai. Mungkin jika saya ada di pihak dalam saya juga akan berkata, “Ah, itu hanya kata-kata orang yang tertolak cintanya. Kacian deh lo!”
Tapi bukankah setiap kejadian selalu ada hikmah yang bisa kita petik?
Apakah ada bedanya
Ketika kita bertemu dengan saat kita berpisah?
Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan,
Dada yang terluka
Duka yang tersayat
Rasa yang terluka….
– Apakah Ada Bedanya, Ebiet G Ade
Ayat-Ayat Cinta, baik novel maupun film, mencoba menyampaikan pesan pada kita tentang sabar dan ikhlas lewat pendekatan cinta. Fahri yang harus ikhlas ketika dikeluarkan dari Al-Azhar, padahal Al-Azhar adalah pusat kehidupannya. Aisha yang harus ikhlas dimadu, demi agar Maria sembuh karena ia adalah kunci Fahri lolos dari fitnah dan jeratan hukuman gantung. Di sini kita melihat pancaran cinta seorang isteri kepada suaminya. Aduh, jadi pengen punya isteri kayak gitu (ya iyalah: cakep, baik hati, kaya lagi
).
Tentang bagaimana eksekusi Hanung dalam film ini, saya tak banyak berkomentar. Wajar jika banyak yang kecewa dan tak sesuai dengan imajinasinya. Namanya juga novel yang divisualisasikan, tentu berbeda dengan imajinasi banyak orang. Tapi bagi saya, film ini jauh lebih manusiawi daripada novelnya. Di novel, saya lebih melihat Fahri sebagai malaikat daripada manusia biasa.
Tapi bagi saya, ide sedikit memplesetkan cerita film ini adalah ide marketing yang luar biasa. Cerita yang sedikit berbeda akan menuai banyak komentar. Komentar menimbulkan kontroversi. Dan kontroversi, hingga saat ini, adalah salah satu bahan bakar yang paling efektif dalam masyarakat Indonesia. 
Posted in Catatan Harian, Review
13 Comments »
February 12, 2008
Judul Buku: Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
SPOILER ALERT.
Saking bagusnya buku ini, tak bisa saya berkata-kata banyak. Kita butuh buku-buku semacam tetralogi Laskar Pelangi lebih banyak lagi untuk meng-counter serangan bertubi-tubi dari sinetron-sinetron perusak moral bangsa itu!
Sudah lama saya merindukan cerita tentang kehidupan sekolah seperti Laskar Pelangi. Sinetron selalu menampilkan dan memperkenalkan budaya kehidupan sekolah yang sangat mengerikan: glamor, cenderung berandalan, make-up tebal, asesoris berlebihan… Tidak ada persahabatan, yang ada permusuhan. Anak pandai selalu digambarkan berkacamata tebal, culun, dan tidak gaul. Guru-guru selalu dilecehkan, diperankan oleh para pelawak, dan menjadi ejekan para murid.
So sad. Entah dendam apa yang dimiliki para sineas sinetron kepada bangku sekolahnya sampai membuat tayangan seperti ini.
Tapi tidak dengan novel Laskar Pelangi ini. Ini adalah cerita anak-anak muda jenius dari kampung Belitong. Lintang, Mahar, dan tentu saja Ikal. Kita dibawa terharu, dikuras air mata sampai habis, bahwa semangat anak-anak muda ini menyala-nyala demi bisa belajar walaupun himpitan ekonomi mencekik leher keluarga mereka. Ini jelas-jelas sindiran yang sangat ironis bagi anak keluarga yang berkecukupan yang bisa mengenyam pendidikan yang layak. Anak-anak keluarga kaya yang uang saku-nya cukup untuk menghidupi keluarga Lintang dkk. harus baca ini saya kira.
Ironi mengenai jurang miskin dan kaya digambarkan dengan sangat jelas antara kehidupan lingkungan PN Timah (disebut Gedong) dan kehidupan orang-orang kampung. Dengan pendekatan sastra gaya metafora dan hiperbolis yang sedikit berlebihan, perbedaan itu diceritakan dengan gaya paparan nyaris tanpa dialog yang menghabiskan beberapa bab.
Setelah air mata Anda terkuras habis, siap-siaplah untuk tertawa terkikik-kikik di sepanjang novel ini. Anak-anak Laskar Pelangi lucu-lucu, unik dan memiliki ikatan persahabatan yang sangat erat. Semua anggota laskar pelangi memiliki karakter dan prinsip masing-masing. Tak ada permusuhan layaknya sinetron remaja di lingkungan SD-SMP Muhamadiyah. Yang ada hanyalah persahabatan yang erat, keceriaan, sekaligus semangat yang makantar-kantar (Jawa: meluap-luap) dari mereka.
Bu Muslimah. Saya menjadi rindu guru-guru saya ketika membaca Bu Muslimah. Kasih sayang beliau kepada murid-murid, dan betapa sayang dan hormat murid-murid kepada Bu Mus. Mereka memanggil Bu Mus dengan Ibunda Guru. Khas melayu, tapi terdengar sangat sayang. Himpitan ekonomi benar-benar tak menyurutkan cahaya pendidikan di lingkungan sekolah yang kumuh itu. Bahkan, anak-anak muda ini berkembang dengan begitu cepat dan jenius.
Demikian pula dengan lomba cerdas cermat yang diadakan di Tanjong Pandan, dimana SD Muhamadiyah datang sebagai tim underdog yang melawan sekolah-sekolah mapan nan berkilau dari PN Timah. Saya seperti kembali mengulangi perjalanan saya semasa di SD dulu. Begitu dekat dengan pengalaman saya. Bagaimana serunya Lintang menghajar lawan-lawan cerdas cermat-nya. Semua begitu dekat, begitu nyata.
Kita perlu lebih banyak lagi buku semacam Laskar Pelangi. Itu kesimpulan saya. Biasanya buku semacam ini tidak pernah menjadi best seller. Masyarakat kita masih suka buku-buku ringan sekelas chick-lite. Tetapi Andrea Hirata telah membuat novel yang penuh muatan dan pesan dengan gayanya sendiri yang kocak, yang telah membawanya menjadi buku best seller yang sanggup menyaingi Harry Potter di etalase toko-toko buku terkemuka.
Posted in Review
11 Comments »
January 23, 2008
Setelah sekian lama berada di alam fotografi, ada rasa rindu juga untuk menulis di dunia programming. 
Ada yang kenal Crystal Report? Itu lho, reporting tool yang saya kenal dia berjaya di saat Visual Basic 6 di puncak popularitasnya. Pernah memakainya? Biasanya kita memakai reporting tool untuk memproduksi sebuah laporan yang outputnya secara fleksibel dalam berbagai format seperti PDF, dokumen MS-Word, dokumen MS-Excel, dsb.
Java memiliki banyak reporting tool, baik yang berlisensi free maupun yang propietary. Saya akan membahasnya beberapa — tentu saja, menurut subjektivitas dan sedikit pengalaman saya.
Oracle Report
Produk dari Oracle ini propietary. Anda harus membayar lisensi jika ingin menggunakannya dalam lingkungan produksi. Keunggulan utama Oracle Report adalah manajemen data source-nya. Karena produk Oracle, maka Oracle Report adalah report standar semua hal yang berbasis Oracle. Hal yang menjengkelkan dari Oracle Report adalah lembar kerja desain layout-nya. Tidak fleksibel. Sulit memindahkan sebuah field di section tertentu ke section yang lain. Salah-salah yang keluar adalah error dan celakanya, kita tidak bisa melakukan undo banyak-banyak. Karena tidak bisa kembali, seringkali solusi satu-satunya adalah memulai dari awal (hapus semua, dan buat lagi) 
Homepage: Oracle Report.
Actuate e.Report Designer
Produk dari Actuate corp. ini bersifat propietary. Saya mengenalnya karena IBM Maximo (dulu milik MRO) memakai ini sebagai report standar-nya. Sangat fleksibel. Lembar kerja actuate memakai slot-slot yang bisa diibaratkan rak-rak kosong yang bisa diisi macam-macam, mulai dari koneksi, SQL Query terpisah, bahkan SubReport yang berisi slot-slot kosong lagi. Setiap Report Section memiliki blok-blok Before Section, After Section, Page Header, Column Header, Detail, dll yang masing-masing menandakan dimana report akan ditampilkan, apakah sebagai header setiap halaman, apakah sebagai footer, tergantung penempatannya. Actuate adalah report tool yang menurut saya paling nyaman dan paling enak dipakai.
Homepage: Actuate e.Report Designer
Jasper Report
Jasper mungkin adalah reporting tool open source yang paling populer. Memiliki IDE designer terpisah yang dinamakan iReport, Jasper merupakan tool yang fleksibel, utamanya dalam hal data source. Banyak sumber data yang didukung Jasper selain database relasional via SQL, salah satunya bisa bersumber dari prosedur-prosedur Java. Jadi, Jasper bisa menerima sebuah java.util.List untuk dijadikan data source-nya. Hal ini dimungkinkan, karena Jasper bersifat embedded dan dikompilasi menjadi kode binari Java juga.
iReport Designer juga sangat mudah. iReport memperkenalkan istilah yang disebut band sebagai container dari field-field report. Ada band title, pageHeader, columnHeader, detail, columnFooter, lastPageFooter, dan summary. Meskipun fleksibel, sayangnya masih banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh Jasper. Misalnya dukungan terhadap format HTML. Meskipun mendukung format HTML lewat StyledText-nya, tetapi tag HTML yang didukung sangat-sangat sedikit dan jika Jasper menemukan tag yang tidak ia kenal, ia langsung mereset diri menjadi unformated text sehingga semua tag HTML akan ditampilkan seluruhnya, bukan dalam kondisi terformat. Selain itu, dalam beberapa kasus, Jasper tidak bisa mengatur data memanjang ke kanan. Ia hanya bisa scrolling down ke bawah, tapi tidak ke kanan. Kita kadang perlu membuat susunan yang memanjang ke kanan dan sayangnya hal itu tidak didukung oleh Jasper.
Dan seperti produk-produk open source lainnya, Jasper miskin dokumentasi. Sebagian besar pengetahuan saya tentang Jasper berasal dari source code-nya, bukan dokumentasi. Dokumentasi yang buruk yang tidak tersedia bebas cukup menyulitkan developer. Hanya developer yang geek yang mau membongkar kode sumber. Dan untungnya, hampir semua developer relatif geek dengan tingkat geek yang berbeda-beda. 
Homepage: Jasper Report dan iReport
Eclipse Bussiness Intelligence Reporting Tool (Eclipse BIRT)
Di bawah proyek Eclipse Foundation, BIRT yang disponsori langsung oleh Actuate corp. (pemilik Actuate e.Designer) muncul dengan pendekatan yang berbeda dan menjanjikan. Ada kemiripan dengan Actuate meskipun tidak persis sama. BIRT menggunakan IDE berbasis Eclipse dan memiliki pendekatan pendesainan seperti ketika kita mendesain halaman HTML dengan Macromedia Adobe Dreamweaver. Jadi kita diberi lembar kerja kosong, tanpa slot (istilah Actuate) atau band (istilah Jasper). Kita bebas menaruh sebuah field di mana saja.
Cukup menjanjikan. Sangat menjanjikan bahkan. Kekurangan Jasper yang tidak bisa merender HTML dan tidak bisa memanjang ke kanan diatasi oleh BIRT. Apalagi produk ini bersifat open source. Namun sayangnya, ketika saya mencoba membuat report dengan SQL yang sederhana, — tidak terlalu banyak nested SQL, hanya menampilkan 75 kolom yang dijoin dari 2 tabel –BIRT cukup terengah-engah dengan responnya yang begitu lambat. Harus melakukan beberapa kali tuning viewer (bongkar source code) baru BIRT bereaksi dengan cepat. Kalau query sederhana saja begitu lambat, apalagi query yang rumit?
Tetapi mungkin saya yang masih perlu banyak belajar tentang BIRT. Tool ini sangat menjanjikan dan bisa jadi menaklukkan popularitas Jasper Report di dunia open source reporting tool.
Homepage: Eclipse BIRT.
Posted in Java, Review
2 Comments »
January 4, 2008
Judul Buku: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Kompas
Jumlah Halaman: 258 hal.
Buku ini sebenarnya merupakan kumpulan tulisan-tulisan Cak Nun yang cenderung eksentrik dan di luar mindset orang normal. Meskipun menggunakan bahasa yang lugas dan datar, namun karena materi yang disampaikan oleh Cak Nun bukan merupakan tulisan yang biasa ditulis orang kebanyakan, seringkali perlu dua tiga kali membaca kalimat-kalimat Cak Nun.
Tulisan-tulisan Cak Nun menunjukkan keluasan berpikir dari berbagai sudut pandang (bahkan dari sudut pandang ekstrim) yang begitu tinggi. Khas budayawan, Cak Nun memandang suatu persoalan sosial budaya di masyarakat kita dari sudut yang terkadang membuat alis terangkat. Ada bagian-bagian yang filosofis, ada bagian yang menohok, ada yang datar, dan ada yang menampar wajah kita sebagai masyarakat Indonesia.
Ya, masyarakat Indonesia belumlah dewasa. Buku ini membuat kita trenyuh terhadap kondisi masyarakat kita. Masyarakat dimana kita terlibat di dalamnya dan ikut membentuk wajahnya. Jangan korupsi, kecuali saya kecipratan! [hal. 16 - Pantat Inul adalah Wajah kita Semua]. Kita pasti pernah teriak anti korupsi. Tetapi ketika kita mendapatkan bagian hasil korupsi itu, kita diam-diam menikmatinya. Penduduk Indonesia ada dua. Perampok dan pengemis. Kalau sedang berkuasa, merampok. Kalau tak berkuasa, mengemis, pindah parpol, pindah koalisi, pindah tema dan komitmen, atas nama dinamika demokrasi [hal. 18].
Di bagian lain, soal heboh Inul, Cak Nun mengutip pertanyaan Aa’ Gym kepada Inul, “Apakah Mbak Inul tidak pernah bepikir bahwa yang Mbak Inul lakukan itu bisa merusak moral generasi muda bangsa kita?”
Inul menjawab dengan penuh kejujuran: “Alhamdulillah enggak….” [hal. 18].
Meskipun menunjukkan keluasan wawasan dan sudut pandang, tulisan Cak Nun sangat jauh dari sikap sombong dan sok tahu. Justru, kesan rendah hati yang kentara dalam tulisan-tulisan ini. Jadi jika ada orang sinis yang menyindir “Ah, paling cuma omong doang.” Bukannya marah atau berdalih, Cak Nun justru akan mengakui hal itu. Banyak bagian-bagian yang menunjukkan kerendahan hati ini.
Buku ini merupakan cermin nyata kondisi sosial masyarakat kita. Kita. Kita. Bahkan saking jengkelnya, Cak Nun mempertanyakan, siapa kita itu? Meskipun kita sering menggunakan kata “kita” yang berarti pihak pertama terlibat, namun seringkali pula dalam penggunaan kata itu, kita melepaskan diri seolah-olah kita berada lingkup. Padahal, kita adalah kita. Kita adalah masyarakat Indonesia. Kalau kita sadar bahwa masyarakat Indonesia belum dewasa, maka kita pulalah yang ikut membentuk wajahnya. Kita tak bisa melepaskan diri. Mau tidak mau, suka tidak suka.
Sebuah kondisi yang membuat trenyuh. Jika mata Anda belum terlalu terbuka, mungkin Anda perlu membaca kado cinta dari Cak Nun ini. Siapkan waktu karena bacaan ini bukan bacaan yang ringan. Tetapi waktu yang Anda sisihkan tidak akan percuma karena Cak Nun akan menyapa dengan ramah lewat tulisan di buku ini.
PS: Sebagian besar posting ini adalah subjektivitas saya, bukan buku. Kutipan langsung dari buku saya tandai halamannya dengan tanda kurung siku.
Posted in Review
2 Comments »