Entries Categorized as 'Review'
May 1, 2008
Saya baru saja menyelesaikan bagian pertama dari buku roman Jepang karangan Eiji Yoshikawa, Musashi, yang menceritakan kelahiran Takezo menjadi seorang yang memilih Jalan Samurai sebagai jalan hidupnya. Takezo berganti nama menjadi Miyamoto Musashi.
Ada gambaran kecil yang menyentuh saya. Otsu. Otsu, menurut imajinasi saya adalah gadis dengan perawakan mungil, cantik, lembut dan setia. Ia setia pada janjinya untuk menunggu Takezo setiap hari di jembatan Hanada dan tiga tahun ia habiskan untuk menunggu cintanya. Kasihan Otsu, sebelumnya ia menunggu tunangannya Matahachi pulang dari perang. Akan tetapi tunangannya malah lari dan menikahi seorang janda yang menyelamatkannya dari perang. Singkat cerita, ia jatuh cinta pada Takezo alias Musashi yang masih menjadi penjahat. Dalam sebuah pelarian, sebelum berpisah ia dan Takezo mengucapkan janji setia bahwa ia akan menunggu setiap hari di jembatan Hanada. Menanti Takezo kembali.
*
Saya percaya bahwa konsep setiap orang mengenai prinsip hidupnya dipengaruhi oleh lingkungannya. Saya sendiri yakin kalau saya telah diracuni oleh buku-buku yang telah saya baca. Otak saya habis dicuci oleh buku-buku yang kebanyakan adalah novel. Saya sudah membaca habis hampir semua karya Agatha Christie, Sidney Sheldon, dan Sir Arthur Conan Doyle. Tak heran kalau saya jadi begitu melankolis seperti ini. Tanpa sadar saya kagum pada sosok Sir Charles Cartwright (Three Act Tragedy – Agatha Christie) yang mendramatisir kehidupannya. Dan masih banyak tokoh-tokoh novel yang saya kagumi yang begitu mempengaruhi saya: Jupiter Jones (Trio Detektif) dan Hercule Poirot yang sering dicela karena penampilan luarnya yang tidak menarik tapi memiliki otak yang sangat cerdas. Tokoh seperti Robert Langdon (The Da Vinci Code, Angels and Demons – Dan Brown) meskipun juga cerdas agak kurang meracuni saya… mungkin karena Robert Langdon tampan dan menarik. Hahaha…
Mungkin hal yang sama juga terjadi pada konsep saya mengenai gambaran perempuan yang ideal dambaan itu. Saya menilai gambaran saya terlalu artistik dan tidak nyata. Kurang lebih seperti Otsu. Lemah lembut, bermata teduh, kecil mungil, dan setia. Atau kalau seperti yang digambarkan Agatha Christie dalam kisah Hercule Poirot di Tugas-Tugas Hercules (The Labors of Hercules), gadis seperti Otsu adalah tipe-tipe yang tanpa berusaha sedikitpun bisa membuat seorang pria melankolis berusaha menjadi seorang pahlawan baginya. Gambaran yang terlalu romantis. Tidak nyata.
Itulah mungkin salah satu sebab saya pernah mengalami patah hati begitu lama. Sekitar empat tahun. Saya menyadari ternyata saya jatuh cinta pada orang yang nyaris-nyaris memenuhi tokoh perempuan dalam novel-novel yang saya baca. Suaranya yang lemah lembut yang sering saya dengar via telepon menyihir saya. Waktu saya ditolak, saya begitu menikmati sakitnya patah hati. Ada kesempatan untuk melakukan seperti Sir Charles: mendramatisir diri sendiri. Puluhan posting dan puisi dibuat khusus untuk memujanya. Saya baru sadar kalau sebenarnya saya tidak jatuh cinta padanya, tetapi jatuh cinta pada kegilaan diri sendiri untuk melakukan dramatisasi dan menjadi tokoh cerita pada novel yang saya buat sendiri. Peran yang sangat menyenangkan: pria yang sakit karena patah hati.
Masih belum beberapa lama saya kembali ke dunia nyata. Mencoba benar-benar jatuh cinta pada orang saya cintai, bukan karena saya ingin mendramatisir kehidupan lagi. Akan masih sangat panjang perjalanan saya. Saya belajar untuk tidak terlalu kecewa dan patah hati ketika kegagalan demi kegagalan tiba. Kalau saya patah hati, artinya saya kembali melangkah mundur. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Saya akan terus belajar untuk tidak mencari figur seorang Otsu, tetapi sesuatu yang jauh lebih nyata dan konkret.
Begitulah.
Posted in Catatan Harian, Review
8 Comments »
March 27, 2008
Ponsel saya, Sony Ericsson W200i, memiliki dukungan untuk akses internet via GPRS (2,5 G). Di dalamnya terdapat sebuah browser internal yang membuat kita berseluncur di dunia maya tanpa harus menyambungkannya ke notebook. Browser ini memiliki sangat banyak kelemahan, utamanya ketika harus me-load halaman besar dan kompleks yang sama sekali tidak didesain untuk pengunjung yang memakai mobile device. Sempat saya berpikir untuk memodifikasi halaman pencarian google yang sangat mobile-friendly untuk menjadi semacam jembatan perantara setiap situs yang akan saya kunjungi dengan ponsel saya.
Sampai pada ketika saya menemukan browser imut-imut ini: Opera Mini!
Berbasis Java ME (Java Micro Edition), Opera Mini bekerja dengan sangat baik pada hampir semua situs yang kompleks. Ia memiliki dua pilihan, mobile view dan standard view. Mobile view memiliki perilaku seperti browser internal W200i, yaitu melakukan konversi halaman dan memindahkan isinya sehingga lebih nyaman dibaca. Meski demikian, Opera melakukannya jauh lebih baik daripada browser internal W200i.
Standard view mempertahankan tampilan semirip mungkin dengan aslinya. Agar muat di layar ponsel yang portrait dan kecil (sementara desain web kebanyakan berbentuk landscape), Opera mengecilkan tampilan (zoom out). Jika kita ingin membaca detailnya, ada alat pembesar (magnification) untuk mendetailkan tampilan pada area tertentu. Di beberapa situs, Opera menampilkan semirip aslinya, namun dalam beberapa situs yang lain lagi, Opera menampilkan tampilan yang porak poranda. Bukan suatu masalah yang berarti saya kira, karena kita bisa saling berganti-ganti mode view: mobile view atau standard view.
Satu lagi yang saya suka dari Opera Mini. Scrolling yang begitu halus dan nyaman. Di browser W200i, saya memerlukan waktu yang lama untuk melakukan scrolling halaman dari atas ke ujung bawah karena banyaknya teks. Solusi membagi halaman menjadi banyak seperti yang dilakukan Google kurang menarik bagi saya. Tetapi Opera melakukannya dengan lebih baik, ia membuat mode scrolling yang menggulung halaman dengan lebih banyak dan lebih cepat tanpa mengorbankan kenyaman.
Bravo Opera!
Posted in Internet, Review
4 Comments »
March 11, 2008
Judul Buku: Valentine Sweetcase, Love Birds
Penulis: Astri Adhe
Penerbit: Terrant Books
Hahaha… tak saya duga saya memilih mengambil buku yang terserak di kumpulan chicklite ini daripada buku Mein Kampf-nya Adolf Hitler untuk mendampingi buku Ketika Cinta Bertasbih yang sudah masuk keranjang belanja duluan. Yah, siapa kira saya beli buku lagi kemarin. Inilah racun yang tak bisa ditahan waktu masuk Gramedia. Adaa… saja yang menarik untuk dibeli. Padahal, saya sangat sinis terhadap novel bergenre chicklit: terlalu ringan, sederhana, dan mudah ditebak. Tentu saja, lhawong target marketnya adalah cool teens, bukan yang sudah tua kayak saya.
Tapi saya langsung ambil tanpa pikir panjang ketika ada kata-kata ini di sampul depannya yang berwarna pink lembut:
I love you not because of who you are but because of who I am when I am with you
Alamak…
Saya yang termasuk pengkhayal sejati saja tak pernah bisa bikin kata-kata seperti ini, dalam tingkat melankolis tertinggi sekalipun.
Ada dua cerita di sini, semuanya adalah kisah remaja yang sedang jatuh cinta. Kisah utama adalah kisah seorang secret admirer bernama Bali. Bali adalah seorang siswi yang cerdas yang bisa masuk ke sekolah elit (dalam konteks: sekolah yang didominasi orang-orang kaya) dengan beasiswa. Ia menyukai seorang bintang basket bernama Bas. Bas tampan, kaya, dan menjadi idola semua gadis di sekolah itu. Bali sadar, dunia mereka jauh berbeda. Ia memendam perasaan selama dua tahun dan menikmati cintanya lewat foto-foto Bas yang ia ambil dengan kamera tua miliknya dengan lensa tele pinjaman dari sekolah. Begitulah konflik bermula…
Membaca buku ini, saya serasa kembali ke sekitar tahun 1990-an, dimana ketika itu saya menyukai cerpen-cerpen remaja yang dimuat majalah Anita Cemerlang [Masih ada nggak ya majalah ini sekarang?]. Gaya bahasa, penceritaan, alur, manajemen konflik dan klimaks, teknik penyentuhan emosi pembaca, sangat mirip dengan cerpen-cerpen itu. Entah mungkin karena alur ceritanya yang mudah ditebak, ataukah emosi saya yang memirip-miripkan perjalanan kisah cinta saya dengan sang tokoh utama, saya rela melewatkan waktu kerja setengah hari di hari Minggu kemarin.
Mungkin memang seharusnya mimpi tetap menjadi mimpi. Terlalu sulit untuk dianggap nyata.
Hal. 147
Yeah… mungkin sebaiknya…
Mimpi memang tetap menjadi mimpi…
Posted in Review
5 Comments »
March 9, 2008
Nah, setelah semua orang mereview film AAC yang tak kalah fenomenal dengan novelnya, kini izinkan saya untuk juga bercerita tentang kesan saya tentang Ayat-Ayat Cinta the Movie. Tak perlu ada Spoiler Alert di sini bukan? Saya yakin semua telah membaca dan menonton AAC.
Dalam keseharian kita, kita mungkin saja menemukan sosok yang seperti Fahri yang begitu sempurna. Berwajah tampan, berotak cerdas, rendah hati, jujur, dan segudang sifat-sifat baik lainnya. Saya tak melulu bicara sosok Fahri di sini, tapi secara umum. Ada saja wanita yang begitu menarik, ramah, baik hati… Mereka bahkan tidak perlu berusaha tampil menarik, sudah begitu banyak orang yang tertarik dan memuja. Fahri bahkan tidak sadar bahwa dirinya memiliki semua kapasitas yang bisa menjadikan ia seorang playboy kelas kakap. Bayangkan saja, ada empat wanita yang jatuh cinta padanya: Aisha, Maria, Nurul, dan Noura.
Inilah tragisnya. Cinta mereka adalah cinta yang membawa luka. Semua terluka ketika sang pujaan hati menjatuhkan pilihannya kepada Aisha. Cahaya kehidupan Nurul padam meskipun ia masih bisa tegar menerima kenyataan. Maria jatuh sakit. Tapi saya yakin, Maria sakit bukan karena disiksa penyakit jantungnya, tapi lebih karena siksaan perasaan yang terlanjur hancur. Hancur hingga kematiannya. Noura yang paling parah. Ini adalah hero worship yang membawa bencana. Tertolak cintanya, ia malah memfitnah sang pujaan hati sebagai caranya untuk membalas dendam. Begitu dekat batas antara benci dan cinta.
Aku mengerti satu hal Fahri, ternyata… cinta dan keinginan untuk memiliki itu berbeda
–Maria, sesaat sebelum ajal menjemputnya
Keinginan untuk memiliki adalah sebuah obsesi. Ia seharusnya bukan sebuah representasi dari cinta. Karena obsesi itu egois. Cinta seharusnya ikhlas dan sabar. Cinta itu luka. Tetapi luka yang akan menjadikan kita menjadi jauh lebih tegar, lebih dewasa, dan lebih arif dalam menghadapi setiap permasalahan.
Oke.. oke.. saya bicara begini memang saya selalu ada di pihak luar. Saya ada di pihak yang selalu mengalami kasih tak sampai. Mungkin jika saya ada di pihak dalam saya juga akan berkata, “Ah, itu hanya kata-kata orang yang tertolak cintanya. Kacian deh lo!”
Tapi bukankah setiap kejadian selalu ada hikmah yang bisa kita petik?
Apakah ada bedanya
Ketika kita bertemu dengan saat kita berpisah?
Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan,
Dada yang terluka
Duka yang tersayat
Rasa yang terluka….
– Apakah Ada Bedanya, Ebiet G Ade
Ayat-Ayat Cinta, baik novel maupun film, mencoba menyampaikan pesan pada kita tentang sabar dan ikhlas lewat pendekatan cinta. Fahri yang harus ikhlas ketika dikeluarkan dari Al-Azhar, padahal Al-Azhar adalah pusat kehidupannya. Aisha yang harus ikhlas dimadu, demi agar Maria sembuh karena ia adalah kunci Fahri lolos dari fitnah dan jeratan hukuman gantung. Di sini kita melihat pancaran cinta seorang isteri kepada suaminya. Aduh, jadi pengen punya isteri kayak gitu (ya iyalah: cakep, baik hati, kaya lagi
).
Tentang bagaimana eksekusi Hanung dalam film ini, saya tak banyak berkomentar. Wajar jika banyak yang kecewa dan tak sesuai dengan imajinasinya. Namanya juga novel yang divisualisasikan, tentu berbeda dengan imajinasi banyak orang. Tapi bagi saya, film ini jauh lebih manusiawi daripada novelnya. Di novel, saya lebih melihat Fahri sebagai malaikat daripada manusia biasa.
Tapi bagi saya, ide sedikit memplesetkan cerita film ini adalah ide marketing yang luar biasa. Cerita yang sedikit berbeda akan menuai banyak komentar. Komentar menimbulkan kontroversi. Dan kontroversi, hingga saat ini, adalah salah satu bahan bakar yang paling efektif dalam masyarakat Indonesia. 
Posted in Catatan Harian, Review
13 Comments »
February 12, 2008
Judul Buku: Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
SPOILER ALERT.
Saking bagusnya buku ini, tak bisa saya berkata-kata banyak. Kita butuh buku-buku semacam tetralogi Laskar Pelangi lebih banyak lagi untuk meng-counter serangan bertubi-tubi dari sinetron-sinetron perusak moral bangsa itu!
Sudah lama saya merindukan cerita tentang kehidupan sekolah seperti Laskar Pelangi. Sinetron selalu menampilkan dan memperkenalkan budaya kehidupan sekolah yang sangat mengerikan: glamor, cenderung berandalan, make-up tebal, asesoris berlebihan… Tidak ada persahabatan, yang ada permusuhan. Anak pandai selalu digambarkan berkacamata tebal, culun, dan tidak gaul. Guru-guru selalu dilecehkan, diperankan oleh para pelawak, dan menjadi ejekan para murid.
So sad. Entah dendam apa yang dimiliki para sineas sinetron kepada bangku sekolahnya sampai membuat tayangan seperti ini.
Tapi tidak dengan novel Laskar Pelangi ini. Ini adalah cerita anak-anak muda jenius dari kampung Belitong. Lintang, Mahar, dan tentu saja Ikal. Kita dibawa terharu, dikuras air mata sampai habis, bahwa semangat anak-anak muda ini menyala-nyala demi bisa belajar walaupun himpitan ekonomi mencekik leher keluarga mereka. Ini jelas-jelas sindiran yang sangat ironis bagi anak keluarga yang berkecukupan yang bisa mengenyam pendidikan yang layak. Anak-anak keluarga kaya yang uang saku-nya cukup untuk menghidupi keluarga Lintang dkk. harus baca ini saya kira.
Ironi mengenai jurang miskin dan kaya digambarkan dengan sangat jelas antara kehidupan lingkungan PN Timah (disebut Gedong) dan kehidupan orang-orang kampung. Dengan pendekatan sastra gaya metafora dan hiperbolis yang sedikit berlebihan, perbedaan itu diceritakan dengan gaya paparan nyaris tanpa dialog yang menghabiskan beberapa bab.
Setelah air mata Anda terkuras habis, siap-siaplah untuk tertawa terkikik-kikik di sepanjang novel ini. Anak-anak Laskar Pelangi lucu-lucu, unik dan memiliki ikatan persahabatan yang sangat erat. Semua anggota laskar pelangi memiliki karakter dan prinsip masing-masing. Tak ada permusuhan layaknya sinetron remaja di lingkungan SD-SMP Muhamadiyah. Yang ada hanyalah persahabatan yang erat, keceriaan, sekaligus semangat yang makantar-kantar (Jawa: meluap-luap) dari mereka.
Bu Muslimah. Saya menjadi rindu guru-guru saya ketika membaca Bu Muslimah. Kasih sayang beliau kepada murid-murid, dan betapa sayang dan hormat murid-murid kepada Bu Mus. Mereka memanggil Bu Mus dengan Ibunda Guru. Khas melayu, tapi terdengar sangat sayang. Himpitan ekonomi benar-benar tak menyurutkan cahaya pendidikan di lingkungan sekolah yang kumuh itu. Bahkan, anak-anak muda ini berkembang dengan begitu cepat dan jenius.
Demikian pula dengan lomba cerdas cermat yang diadakan di Tanjong Pandan, dimana SD Muhamadiyah datang sebagai tim underdog yang melawan sekolah-sekolah mapan nan berkilau dari PN Timah. Saya seperti kembali mengulangi perjalanan saya semasa di SD dulu. Begitu dekat dengan pengalaman saya. Bagaimana serunya Lintang menghajar lawan-lawan cerdas cermat-nya. Semua begitu dekat, begitu nyata.
Kita perlu lebih banyak lagi buku semacam Laskar Pelangi. Itu kesimpulan saya. Biasanya buku semacam ini tidak pernah menjadi best seller. Masyarakat kita masih suka buku-buku ringan sekelas chick-lite. Tetapi Andrea Hirata telah membuat novel yang penuh muatan dan pesan dengan gayanya sendiri yang kocak, yang telah membawanya menjadi buku best seller yang sanggup menyaingi Harry Potter di etalase toko-toko buku terkemuka.
Posted in Review
10 Comments »