Entries Categorized as 'Review'
January 6, 2010

Judul Buku: Arok Dedes
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 561 halaman
Anda semua pasti tahu siapa pendiri kerajaan Singhasari: Ken Arok. Anda juga pasti tahu siapa Empu Gandring dan buah karya kerisnya yang melegenda yang menggegerkan wangsa Rajasa. Yup, kisah berdirinya salah satu kerajaan besar di tanah Jawa, Kerajaan Singhasari, diajarkan di buku-buku sejarah waktu kita duduk di bangku sekolah.
Salah satu sumber sejarah yang digunakan buku sejarah di sekolah adalah kitab Pararaton, sebuah kitab berisi kisah raja-raja Jawa. Dulu saya sempat terbersit pertanyaan, apakah mungkin seorang pendiri kerajaan besar adalah seorang perampok yang suka mengacau keamanan. Jika benar, kenapa ia bisa mengurusi negara besar, bahkan setelah Tumapel takluk, Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan Sri Kertajaya pun dikalahkannya. Bagi saya tidak mungkin seorang rampok tanpa pendidikan politik dan otak yang luar biasa bisa menjadi seorang raja besar.
Tetapi memang ketika saya membaca terjemahan kitab Pararaton, seorang Ken Arok memang demikianlah adanya digambarkan seperti apa yang ada di buku sejarah. Jadi saya tidak bisa menyalahkan buku sejarah. Hal yang ditekankan oleh Pararaton adalah bahwa kemenangan Ken Arok atas Tunggul Ametung dikarenakan kesaktian keris Empu Gandring yang konon ditempa dari batu meteorit dengan sepenuh jiwa raganya. Kesaktian itu terbukti dari betapa kutukan Empu Gandring yang benar-benar berbisa: tujuh turunan Ken Arok bertikai dan terbunuh oleh keris yang sama.
Alternatif Cerita yang Rasional
Pararaton sendiri sebenarnya tidak bisa secara penuh dijadikan sumber sejarah [wikipedia] karena mencampur fakta dan fiksi. Celah ini dimanfaatkan oleh Pram untuk menghadirkan sebuah alternatif cerita sejarah mengenai kudeta politik Ken Arok terhadap Tunggul Ametung yang merupakan awal dari berdirinya Kerajaan Singhasari.
Ken Arok, digambarkan sebagai seorang yang jenius. Ia adalah seorang Sudra yang memiliki semangat Satria dan berwawasan Brahmana. Dalam usia yang masih sangat muda, ia menguasai sansekerta dengan sempurna. Ia lulus dari asuhan Dang Hyang Lohgawe dengan predikat cum laude. Arok, namanya, diartikan sebagai Sang Pembangun.
Tidak ada cerita kesaktian aji-ajian keris. Yang ada adalah sebuah permainan politik. Membangun kekuatan militer sebagai gerombolan pengacau yang memusingkan pemerintah tapi dekat dengan rakyat. Membangun jaringan intelijen hingga ke jantung kehidupan pribadi Tunggul Ametung. Menghembuskan isu. Memanasi kubu-kubu. Menghasut tokoh-tokoh ambisius untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Mengadu domba hingga akhirnya kudeta terjadi.
Pada saat yang menentukan itu, Ken Arok tampil sebagai pembela Tunggul Ametung. Sudah ada yang bisa dicap sebagai pemberontak dengan meyakinkan. Penyelesaian yang gemilang itulah membuat dewan brahmana mengangkat Ken Arok sebagai akuwu Tumapel yang baru. Legitimasi penuh dari rakyat karena Ken Arok dekat dengan rakyat — sebagai simbol perlawanan sang akuwu yang semena-mena.
Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak dari tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum didepan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.
Ken Arok telah sukses melakukan kudeta khas Jawa. Licik dan cerdik. Dari tangannya langsung, ia tidak pernah bertempur secara fisik melawan penguasa. Namun tangannya berlumuran darah dari hasil strateginya. Kunci suksesnya adalah ia berhasil memanasi kubu Gerakan Gandring, yang sejak lama memang sudah memiliki niat merebut kekuasaan. Kubu Gandring tidak pernah menyadari bahwa mereka telah dijadikan umpan bidak yang melenakan lawan. Mereka sempat tertawa penuh kemenangan ketika Tunggul Ametung telah terbunuh. Ketika lawan termakan umpan, aktor yang sesungguhnya muncul menyelesaikan permainan.
Sebuah Metafora?
Roman sejarah ini sempat dilarang keras di zaman Orde Baru. Roman ini “sukses” mengantarkan Pram keluar masuk penjara selama hidupnya. Tentunya ini menimbulkan pertanyaan, apakah Arok Dedes adalah metafora kudeta tahun 1965? Misteri Gerakan 30 September itu sampai sekarang masih simpang siur penuh kontroversi. Saya sadari memang ada beberapa kemiripan, utamanya ketika menjelang Tunggul Ametung terbunuh. Waktu itu salah satu petinggi militer kepercayaan Tunggul Ametung (Panglima-panglima Kuda bersaudara) terbunuh secara misterius dan santer terdengar isu bahwa ada pengkhianatan yang dilakukan oleh Kebo Ijo, seorang kepala prajurit yang dipercaya ada di pihak Kubu Gandring. Kalau ini adalah metafora, Pram telah sukses melakukannya.
Mana yang Benar?
Jadi, mana yang benar? Ken Arok menurut versi Pararaton atau versi Pram? Kalau saya pribadi lebih suka citra Ken Arok versi Pram. Seorang pendiri dinasti Rajasa (ia bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi), pendiri kerajaan besar, harus memiliki segala kualifikasi yang digambarkan oleh Pram. Saya tidak percaya seorang rampok kecil yang suka merampok rakyat dan memperkosa bisa mengurusi sebuah negara besar. Saya lebih suka ide bahwa Ken Dedes lah yang jatuh cinta kepada Ken Arok karena kecerdasannya (mengingat ia juga seorang brahmani — anak Mpu Parwa) ketimbang Ken Arok yang bernafsu mendapatkan Ken Dedes.
Tentu saja, fiksi karya Pram ini tidak bisa dijadikan literatur resmi. Namanya juga fiksi, rekaan penulis saja. Tetapi di lain pihak, Pararaton juga tidak bisa dijadikan pegangan melihat kualitasnya yang mencampurkan fakta, fiksi, mistik, dan mitologi. Lagipula, seperti roman-roman Pram lainnya, Arok Dedes adalah cara yang mengasyikkan untuk belajar sejarah. Tidak hanya cerita politik saja di roman ini, namun juga detail kebudayaan pada saat itu, detail pakaian Ken Dedes (mahkotanya pita bertabur permata), friksi-friksi antar kasta, pertentangan mencolok antara pemuja Syiwa dan Wisnu, dan masih banyak lagi.
PS: Terima kasih untuk Mas Prabowo yang merekomendasikan buku ini di forum komentar di artikel review Anak Semua Bangsa. Foto dicomot dari Goodreads.
Posted in Review
9 Comments »
November 8, 2009
Rich Dad Poor Dad karya Robert T Kiyosaki ini memang fenomenal, meskipun sudah tidak lagi menempati rak “buku laris” di Gramedia, tapi buku ini cukup membuat gonjang-ganjing beberapa waktu yang lalu.
Sejak awal, ketika MLM sedang booming, saya sama sekali tidak tertarik. Saya adalah fans kerja keras, dimana orang harus bekerja keras untuk mendapatkan yang ia cita-citakan. Konsep MLM yang mendasari orang tinggal ongkang-ongkang kaki untuk menjadi kaya, tidak masuk di saya. Dan karena orang MLM selalu membawa buku ini menjadi “kitab suci”-nya, otomatis saya mengindari buku ini juga.
Ditambah lagi, beberapa tahun yang lalu dimana ngeblog juga sedang booming, seorang seleblog menulis artikel yang menyerang buku ini. Merasa sependapat, buku ini juga saya anggap sampah. (Padahal jika dicermati, penulis blog itu sebenarnya memakai gaya bahasa yang sama persuasif-nya dengan buku yang sedang ia serang — cuma lebih tidak kentara).
Oke, sekarang giliran saya mengutarakan pendapat tentang buku ini.
Tak dapat dipungkiri, si Kiyosaki ini kapitalis habis, pemuja uang. Uang adalah pusat dunianya. Gaya berceritanya menarik, persuasif, cenderung mempengaruhi ketika sang Ayah kaya memaparkan konsep-konsepnya tentang bagaimana mengelola uang. Gaya bahasanya cenderung meremehkan karyawan-karyawan yang setia bekerja keras, meremehkan orang-orang berpendidikan tinggi yang tidak bisa membebaskan diri dari masalah finansialnya.
Tapi hei, buku ini tidak sepenuhnya sampah — kecuali kalau kita membacanya dengan emosional.
Buku ini bagus. Berisi pelajaran tentang bagaimana mengelola uang. Bagaimana mengendalikan dua emosi yang bertolak belakang: ketakutan akan kekurangan uang dan ketamakan ketika mendapatkan uang. Menjadi kaya tidak cukup untuk bisa mengendalikan dua emosi ini. Bagaimana aset, pendapatan, investasi dikelola dalam hidup Anda. Menurut saya, sisi bagus buku ini terletak pada filosofinya. Memberikan kita sebuah sudut, potret, dan konsep bagaimana mengelola keuangan.
Tetapi buku ini akan menjadi sampah jika Anda menelan mentah-mentah hal-hal teknis yang sedang dibahas. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang MLM itu. Konsep membuat uang bekerja untuk Anda terlalu berbahaya jika kalimat ini tidak dicerna bersama kedalaman pemikiran. Anda akan segera terjebak oleh kalimat-kalimat persuasif buku ini, terjebak oleh sisi emosi Anda.
Maksud saya, tidak harus menjadi pengusaha agar uang bekerja untuk Anda. Tidak harus memiliki rumah yang dikontrakkan untuk membuat liabilitas menjadi sebuah keuntungan (haha). Buku ini bagus untuk perluasan sudut pandang saja, bukan untuk diikuti. Kalau pun diikuti, juga mesti hati-hati dalam pelaksanaan implementasinya, karena persuasif-nya yang seperti tukang jamu membuat beberapa detail kesulitan-kesulitan berbisnis dihilangkan. Atau inilah review dari seorang yang bermental babu, bukan pengusaha atao enterpreneour hehe…
*melirik dua buah kartu kredit di dompet, inget tagihan bulan ini… (doh)*
Posted in Review
8 Comments »
November 1, 2009
SEBUAH REVIEW TENTANG BUKU “ANAK SEMUA BANGSA”
Judul Buku: Anak Semua Bangsa
Jenis Buku: Roman Sejarah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Anda masih ingat gaya bercerita buku-buku teks Sejarah waktu kita SD, SMP, dan SMA? Bergaya objektif, kronologis, dan penuh tanggal-tanggal yang wajib kita hapalkan karena selalu muncul di ujian.
Mungkin memang itu satu-satunya cara para penulis buku teks yang digunakan di sekolah-sekolah untuk mempertahankan keobjektifannya dan “tidak memihak”. Tetapi hal ini membuat sejarah menjadi kering — kehilangan coraknya. Kita tidak tahu seperti apakah keadaan emosi suatu zaman. Kita tidak bisa menyatu dan ikut merasakan apa yang dialami tokoh-tokoh sejarah di masa itu. Kita hanya tahu bahwa Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi kita tidak pernah tahu apakah beliau sempat tidur sejak diculik pemuda ke Rengasdengklok, lalu merancang naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, lalu dengan terburu-buru merumuskan Undang-Undang Dasar untuk negara yang baru saja berdiri itu.
Di buku Anak Semua Bangsa, kita bisa melihat sudut kehidupan yang lain yang diceritakan buku teks sejarah tentang zaman kebangkitan nasional. Jika buku teks mengetengahkan tokoh sentral seperti Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan dr. Cipto Mangunkusumo, Pramoedya memulainya dari tokoh fiktif bernama Minke, seorang pribumi yang tak pernah dicatat sejarah manapun.
Minke berasal dari kelas masyarakat yang jarang dipotret oleh buku sejarah. Ia termasuk pribumi yang beruntung karena bisa bersekolah di HBS, sekolah bikinan Belanda yang waktu itu cukup ngetop di ranah Eropa. Karena terpelajar, ia menjadi penulis di sebuah harian berbahasa Belanda, sesekali menulis dalam Bahasa Inggris, sangat Eropa-minded dan cenderung tinggi hati karena kedudukan dan kecerdasannya.
Berawal dari kacamata seorang yang sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap bangsanya sendiri — bahkan ia tidak mau menulis dalam bahasa Melayu sama sekali — kita diberikan gambaran seluas-luasnya tentang corak, emosi, dan budaya masa-masa itu tanpa batas. Mengikuti Minke berproses dari Eropa-minded menuju ke kesadaran cinta tanah air dan pentingnya kemerdekaan, kita merasa dekat dan rasanya masa tersebut begitu dekatnya.
Anak Semua Bangsa hanyalah sebuah potret kecil kehidupan Minke. Roman ini merupakan bagian kedua dari Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah. Saya sendiri tidak tahu tetralogi ini sehingga saya mendapati telah mengambil seri keduanya dari rak buku di Gramedia padahal belum membaca seri satunya.
Roman ini masuk dalam kategori berat untuk dibaca, apalagi ia menceritakan kebangkitan nasional dari sisi yang berbeda, sehingga saya rasa buku ini tetap tidak cocok untuk anak-anak sekolah. Buku teks yang konvensional masih lebih baik untuk memberikan dasar pengetahuan bagi mereka. Mungkin roman ini sesuai untuk mereka yang telah matang dalam menyikapi sejarah dan ingin memperkaya khasanah pengetahuan tentang masa-masa kebangkitan nasional.
Posted in Review
8 Comments »
October 11, 2009
Mungkin sudah saatnya saya mengupdate tulisan review kamera 2 jutaan secara sampai sekarang masih banyak yang mendownload file Excel itu meskipun mungkin banyak tipe-tipe yang ada di situ yang sudah discontinue.
Well, apakah saya mau membeli kamera saku baru? Hm.. bisa iya, bisa tidak (tergantung budget dan mood yang impulsif haha). Tetapi saya menyadari satu hal bahwa nampaknya saya tidak pernah cocok dengan karakter warna Canon. Terlalu pucat! Emang kamera hitam putih? Jagoan saya, Ixus 860, tampil mengecewakan waktu saya pakai untuk mengambil gambar di panti asuhan Al-Hasanat Mampang, ramadhan kemarin. Jadi saya mencoba mencari alternatif karakter warna selain Canon.
DPReview.Com menyediakan beberapa review super komplit yang membuat Anda bosan membaca detailnya (karena sangat mendetail) dan ingin segera menuju ke konklusinya. Kalau Anda masih malas membaca konklusinya, ini saya rangkumkan buat Anda.
Kamera Murah - Dibawah 1,5 Juta
Mereka merekomendasikan Sony Cybershot W120 dan Panasonic Lumix LZ8. Dua kamera ini sudah memiliki adik, yaitu Lumix Z10 dan Cybershot W130. Jika kedua kamera ini cukup kecil untuk dikantongi, saya akan segera lari ke toko kamera, hehe.
Kamera Super Kecil
Pemenangnya adalah Canon SD 790 IS dan Panasonic DMC FX-37. Jika tak menemukan SD 790 IS di sini, Anda juga bisa memilih Canon SD 780 IS (Canon Ixus 100 IS). Sedangkan FX-37, Anda bisa memilih FX-48. Nah, berhubung saya sudah putus asa dengan Canon, seri FX ini cukup menggoda saya, mengingat saya ingin kamera saku yang benar-benar bisa dimasukkan saku celana dengan nyaman layaknya handphone.
Kamera Tahan Air
Kamera waterproof sempat saya lirik waktu saya akan berangkat ke Karimun Jawa, Juli lalu. Kandidat saya waktu itu adalah Olympus seri mju yang cantik. Tapi ternyata, menurut DPReview, pemenangnya adalah Canon Powershot D10 dan Panasonic Lumix DMC TS-1. Tampilannya sih mereka memang didesain untuk tahan air. D10 tampil seperti plastik yang gemuk, sedangkan DMC TS-1 tampil seperti kotak garang tahan air. Kamera tahan air sudah tidak menarik lagi buat saya, siapa yang tega kamera mahal-mahal dicelupkan ke air? Hehehe
Kamera Super Zoom Panjang
Anda mencari kamera saku yang bisa dibuat mengintip orang pacaran? Artinya Anda bisa meng-close-up objek yang jauh? Di sini Panasonic lagi-lagi memborong trophy DPReview.Com. Dua kamera andalannya menjadi pemenang, yaitu Panasonic Lumix ZS1 dan Lumix ZS3.
Kamera saku super-zoom juga tidak menarik saya. Saya lebih mencari kamera saku yang wide angle-nya luas, karena akan lebih sering saya gunakan untuk memotret landscape (hei, saya landscaper kan?) dan memotret dokumentasi orang-orang narsis. Mengambil zoom panjang dengan kamera saku berisiko noise dan goyang. Saya lebih mempercayakan urusan intip-mengintip ini ke Nikon D40 + Nikkor AF-S 55-200 mm VR saja.
Jadi, mana pilihan Anda? Semoga membantu kegiatan pilih-pilih. Saya sih belum memutuskan hehehe…
Posted in Review
11 Comments »
September 30, 2009

Judul Novel: The Chosen Prince, Pangeran Pilihan
Penulis: Risma Budiyani
Penerbit: DIVA Press
Bagi kita yang berusia mulai 25 tahun ke atas, dan masih single, tentu saja sangat mengakrabi bagaimana “tekanan” lingkungan sosial terhadap diri kita. Anda akan menemukan pertanyaan-pertanyaan umum di pesta pernikahan teman, atau bahkan ketika silaturahmi ke keluarga besar di hari raya idul fitri. Daftar pertanyaan ini sebenarnya hanya basa-basi, tetapi setelah sekian lama diterpa pertanyaan-pertanyaan itu, kita akan merasakan betapa menyakitkannya.
Let say ambil beberapa contoh: Kapan menikah? Kok belum punya calon? Apakah terlalu tinggi standarmu? Kenapa kamu pilih-pilih?
Inilah yang dialami Jasmine, si tokoh utama dalam novel The Chosen Prince ini. Ia adalah gadis muslimah yang cerdas, yang sehari-harinya mengalami kehidupan yang relijius. Konflik yang dialami biasa juga dialami oleh anak-anak muda yang sedang mencari jati diri dan kedewasaan berpikir. Ia terlanjur jatuh cinta kepada seseorang bernama Saiful Malook dan patah hati karena sang pria meninggalkannya.
Ia terlanjur membentuk konsep mahligai cinta yang ideal adalah seperti yang ia bangun mimpinya dengan Saiful Malook. Saiful Malook lah pria satu-satunya! Tak ada yang lain! Segalanya adalah dia! Nah, dalam perjalanan berusaha kembali menyembuhkan luka-lukanya dengan Saiful Malook, muncul dua orang pria baik-baik yang mencintainya: Rashid dan Mike Carlos.
Sampai di sini dia dihadapkan dengan pilihan-pilihan di tengah-tengah tekanan sosial yang sedang menghantamnya kiri dan kanan. Harus diakui, ia belum menemukan sebentuk cinta ideal yang telah ia bangun serupa cinta kepada Saiful Malook. Apakah itu yang dimaksud dengan terlalu memilih-milih? Apakah ia harus mengikuti tekanan sosial dimana umur akan bertambah tanpa ampun sedangkan apa yang ia cita-citakan belumlah datang? Apakah benar pernikahan bisa tanpa cinta yang telah ia impikan?
Gaya Penulisan
Novel ini jelas inspiratif, khususnya bagi para lajang yang sedang dirundung kegelisahan karena sang pangeran belum datang menjemput, sementara waktu terus menggelinding tanpa ampun, dan pertanyaan-pertanyaan dari kiri-kanan semakin tajam mengiris perasaan.
Risma Budiyani membawa alur cerita dengan pembawaan orang pertama dan orang ketiga. Tetapi ia tidak konsisten di satu tokoh saja. Tiga tokoh sentral saling bergantian menceritakan perasaannya dari bab ke bab. Selagi “aku” berarti Jasmine, di bab depan, “aku” bisa berarti Rashid atau Mike. Atau tiba-tiba saja, bab berikutnya, sang penulis ikut campur dalam posisi orang ketiga serba tahu.
Sayangnya, menurut saya, meskipun Jasmine, Rashid, dan Mike adalah tokoh rekaan penulis yang sangat berkarakter, saya tidak melihat karakter masing-masing mereka ketika mereka bercerita. Jadi, kalau tidak tahu konteks yang sedang dibicarakan, tidak bisa dibedakan mana gaya bercerita Jasmine, Rashid, dan Mike. Padahal, secara logis, dengan karakter ketiganya yang berbeda, mereka pasti memiliki gaya bercerita yang berbeda pula. Saya bahkan beranggapan bahwa yang bercerita dengan kata ganti “aku” itu adalah Risma Budiyani sendiri, bukan Jasmine, Rashid, atau Mike.
Kalau tidak salah ingat, saya menemukan model bercerita lompat-lompat begini di novelnya Agatha Christie: The Man in the Brown Suit. Tetapi di sini saya benar-benar bisa membedakan mana cerita Anne Beddingfeld mana cerita Sir Eustace Pedler. Gaya bercerita mereka berbeda. Lagipula, Sir Eustace Pedler bercerita dalam catatan hariannya yang kelak diberikannya kepada Anne, jadi sebenarnya, penulis tetap berada pada titik Anne, tidak pernah melompat. Kalau di novel The Chosen Prince, penulis melompat-lompat sehingga terkesan buku itu adalah buku tiga orang (bahkan empat — karena ada gaya orang ketiga serba tahu) yang digabung menjadi satu.
Penutup
Saya suka novel ini karena dalam beberapa hal memberikan sedikit jawaban atas beberapa pertanyaan saya selama ini. Kisah cinta Rashid kepada Jasmine, dalam beberapa hal menjawab pertanyaan kenapa saya dulu ditolak dan cinta ideal yang dibangun Jasmine akan Saiful Malook adalah impian yang saya pernah bangun tentangnya, dan karenanya saya harus bersusah payah menyembuhkan luka. Kisah cinta antara Mike dan Jasmine, memberikan saya gambaran bagaimana seorang wanita menangani sebuah lamaran, dan ketika sholat istikharah yang dipanjatkan setiap malam tidak memberikan ketetapan hati kepada seseorang, maka seorang pria itulah yang harus ditolak.
Begitulah cinta.
Posted in Review
11 Comments »