Entries Categorized as 'Review'
July 4, 2010
Waktu saya melepas kamera DSLR pertama saya, Nikon D40, bisa dikatakan bedol desa. Betapa tidak, bersamanya pula ikut lensa kit 18-55 mm dan lensa tele 55-200 mm VR. Dua lensa yang meskipun murah tetapi kualitasnya superb. Eh, tidak hanya itu saja, speedlight berpower raksasa Nissin Di 622 juga ikut. Hlah? Entahlah, mungkin waktu itu saya dihipnotis, hahaha…

Saya memutuskan Nikon D90 karena pilihan logis ada di sini. Kalau D3000 atau D5000, Nikon D40 jauh lebih bagus. Nikon D300 terlalu mahal untuk sekadar menjadi kamera penghobi fotografi dan saya memiliki kesan pertama yang kurang baik untuk D300. Picture control-nya agak terlalu vivid bahkan untuk settingan netral. Jadinya ndemblok seperti karakternya Pentax yang juga tidak saya sukai.
Kualitas
Nikon D90 disebut-sebut sebagai kamera terbaik Nikon saat ini. Saya sangat setuju. Lensa kit 18-105 mm VR-nya tajam. Sesuai ekspektasi. Rentang focal length 18-105 mm benar-benar seperti gabungan dua lensa awal saya 18-55 mm dan 55-200 mm dengan sedikit kehilangan jarak di zoom terjauhnya, tetapi dengan keuntungan tidak perlu gonta-ganti lensa. Ini menghilangkan efek distorsi dan softness karena konstruksi focal length terlalu panjang, seperti yang sering saya temukan di konstruksi lensa sapu jagat 18-200 mm (bahkan lensa Nikon 18-200 mm yang mahal itu).
Dibandingkan dengan lensa 18-135 mm, lensa kit D90 jauh lebih baik karena sudah dilengkapi teknologi VR (Vibration Reduction). Ini sangat berguna untuk saya yang malas menghunus tripod dari sarungnya. Saya cukup heran bahwa di D90 yang lebih berat bisa pegang dengan stabil sampai 1/2.5 detik. Padahal di D40 maksimal di 1/8 detik.
Tentang noise, D90 satu stop lebih baik ketimbang D40. Batas toleransi saya di D40 adalah di ISO 800, tetapi dengan D90, saya masih cukup oke dengan menaikkan ISO di 1000 hingga 1250.
Fitur dan Handling
Fitur yang paling mengesankan adalah LCD-nya yang besar dan tajam. Ini membuat memotret menjadi sangat menyenangkan. Rasanya hasil foto menjadi lebih bagus. Nikon D40 adalah DSLR pertama yang ber-LCD besar, dan itu sudah sangat menyenangkan. Bandingkan dengan kakak tertua D90, Nikon D70, yang ber-LCD kecil. Harus memicingkan mata dulu kalau mau melihat. Di sini, setiap detail, warna, dan depth of field bisa langsung dinikmati dan segera diperbaiki dengan jepretan berikutnya kalau ada yang kurang pas.
Ada banyak tombol dan kombinasi tombol untuk mengatur setting. Menu yang tersedia tiga kali lipat lebih banyak ketimbang Nikon D40. Ada banyak fitur baru yang belum saya kenal. LCD kecil di sebelah kanan menunjukkan informasi lengkap tentang setting yang digunakan. LCD ini saya juluki sebagai: pembeda kamera Nikon seri pro dan seri pemula ;-).
Movie dan Live View
Saya tidak akan menggunakan fitur movie meskipun kualitasnya bagus. Aneh rasanya merekam video dengan alat yang konstruksinya dirancang untuk memotret. Saya akan lebih sering merekam video dengan Ixus kecil saya yang sudah cukup memenuhi kebutuhan.
Saya juga akan jarang memakai mode live view. Salah satu kenikmatan memotret dengan DSLR adalah mengintip melalui viewfinder. Fitur ini baru berguna untuk memotret di sudut-sudut sulit yang tidak mungkin untuk mengintip melalui viewfinder.
Kesimpulan
Ken Rockwell bilang, if price does matter, grab D5000 instead. Tetapi memotret di D90 merupakan pengalaman baru yang mengasyikkan. Nikon D90 tidak hanya sekadar D5000 dengan tambahan tombol. Ada banyak hal yang D90 jauh lebih baik dan worth it dengan perbedaan harganya.
Jika Anda adalah fotografer pemula yang akan memilih kamera pertama, mungkin D90 bukan kamera yang terlalu tepat. Akan ada terlalu banyak fitur yang tidak terpakai. Nikon D3000 atau D5000 lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan bereksplorasi dengan komposisi dan beberapa keterbatasan yang membuat kita jadi lebih kreatif lagi.
Ada rumor yang beredar bahwa masa hidup D90 sudah hampir berakhir, melihat kamera ini dirilis di tahun 2008. Tetapi ketimbang Anda menunggu, saya pikir lebih baik membelinya sekarang dan memulai memotret. Saya meramalkan penerus D90 adalah semacam D90s atau D90x atau apalah namanya — tidak akan ada banyak peningkatan dan akan lebih menjadi strategi pasar untuk menaikkan harga dan mempertahankan tren.
Contoh hasil foto Nikon D90 bisa dilihat di halaman Flickr saya di sini.
Posted in Fotografi, Review
8 Comments »
April 10, 2010

*gambar dari wikipedia
Judul Buku: The Lost Symbol
Penulis: Dan Brown
Penerbit: Bentang
Jumlah Halaman: 705 halaman
Meskipun saya adalah fans buku-buku thriller Dan Brown, namun di sini saya harus katakan bahwa The Lost Symbol tidak lagi se-spektakuler petualangan Langdon yang lain. The Lost Symbol masih bagus, saya merelakan diri untuk tidak tidur semalaman untuk menghabiskan buku ini. Tetapi bagi saya yang sudah mengenal baik Robert Langdon di Angels and Demons dan The Da Vinci Code, saya merasa bosan.
Basis ide ceritanya sama. Slow start, cerita dibuka dengan pembukaan basi ala Dan Brown: mimpi. Langdon bermimpi naik bukit dengan sesosok perempuan di Angels and Demons (sosok itu di ending cerita menjadi Vittoria Vetra), Langdon sedang tidur ketika ditelpon Max Kohler di pembukaan The Da Vinci Code. Dan lagi-lagi, Langdon sedang tidur ketika ditelpon asisten Peter Solomon di The Lost Symbol. Memangnya Dan Brown tidak bisa membuat pembukaan cerita dengan lebih kreatif?
Riset tentang Mason nampaknya dirasa Dan Brown masih kurang ter-eksplorasi di dua buku awalnya, sehingga ia perlu membuat satu buku khusus yang membahas persaudaraan ini. Sehingga, saya melihat ada beberapa perulangan penjelasan simbolisme masonic di tiga buku Langdon ini. Mungkin bagi pembaca yang belum mengikuti petualangan Langdon, The Lost Symbol akan sangat menarik, tetapi bagi yang sudah, jangan kaget jika ada pembahasan-pembahasan simbol dan fenomena yang diulang di buku ini.
Karena masih itu-itu saja, petualangan profesor yang beranjak menua ini pun mudah ditebak. Bahkan motif si antagonis dalam menjalankan misinya yang membuatnya harus berhadapan dengan si tokoh protagonis, saya sudah bisa meraba-rabanya sejak awal. Dan Brown harus membuat sesuatu yang baru di luar Robert Langdon, seperti ketika dengan jenius bercerita di Deception Point dan Digital Fortress.
Oke, saya belum mengulas jalan cerita buku ini. Jadi ceritanya, setelah terkenal dengan petualangan seru di Vatikan, kemudian mengulas sejarah agama yang kontroversial melalui lukisan-lukisan Leonardo Da Vinci di Paris, Robert Langdon mengobrak-abrik ibu kota Ameria Serikat, Washington DC, melalui petualangan yang tak kalah mendebarkan. Setting utama yang diambil adalah Gedung US Capitol, dengan Freemasonry sebagai titik bahasan utama.
Seperti yang dijanjikan Langdon dalam salah satu kuliahnya di Harvard, Washington DC adalah kota yang penuh simbol, kuil, terowongan, ruang bawah tanah, lukisan-lukisan, seperti Eropa. Nyaris semuanya dideskripsikan dengan mendetail (kekuatan novel-novel Dan Brown — deskripsi, setting dan penokohan yang detail). Dan yang menarik, Washington DC menyimpan rahasia yang — seperti kebanyakan rahasia terbaik lainnya — tersembunyi mencolok di depan mata. Rahasia-rahasia itulah yang membawa Langdon kembali terjebak dalam sebuah petualangan semalam yang menantang maut.
Entahlah, meskipun saya menghabiskan buku ini dalam semalam saja, menurut saya ini adalah buku terburuk Dan Brown. Bagaimana menurut Anda? Sudah baca buku terakhir Dan Brown ini?
Posted in Catatan Harian, Review
5 Comments »
January 6, 2010

Judul Buku: Arok Dedes
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 561 halaman
Anda semua pasti tahu siapa pendiri kerajaan Singhasari: Ken Arok. Anda juga pasti tahu siapa Empu Gandring dan buah karya kerisnya yang melegenda yang menggegerkan wangsa Rajasa. Yup, kisah berdirinya salah satu kerajaan besar di tanah Jawa, Kerajaan Singhasari, diajarkan di buku-buku sejarah waktu kita duduk di bangku sekolah.
Salah satu sumber sejarah yang digunakan buku sejarah di sekolah adalah kitab Pararaton, sebuah kitab berisi kisah raja-raja Jawa. Dulu saya sempat terbersit pertanyaan, apakah mungkin seorang pendiri kerajaan besar adalah seorang perampok yang suka mengacau keamanan. Jika benar, kenapa ia bisa mengurusi negara besar, bahkan setelah Tumapel takluk, Kerajaan Kediri di bawah kekuasaan Sri Kertajaya pun dikalahkannya. Bagi saya tidak mungkin seorang rampok tanpa pendidikan politik dan otak yang luar biasa bisa menjadi seorang raja besar.
Tetapi memang ketika saya membaca terjemahan kitab Pararaton, seorang Ken Arok memang demikianlah adanya digambarkan seperti apa yang ada di buku sejarah. Jadi saya tidak bisa menyalahkan buku sejarah. Hal yang ditekankan oleh Pararaton adalah bahwa kemenangan Ken Arok atas Tunggul Ametung dikarenakan kesaktian keris Empu Gandring yang konon ditempa dari batu meteorit dengan sepenuh jiwa raganya. Kesaktian itu terbukti dari betapa kutukan Empu Gandring yang benar-benar berbisa: tujuh turunan Ken Arok bertikai dan terbunuh oleh keris yang sama.
Alternatif Cerita yang Rasional
Pararaton sendiri sebenarnya tidak bisa secara penuh dijadikan sumber sejarah [wikipedia] karena mencampur fakta dan fiksi. Celah ini dimanfaatkan oleh Pram untuk menghadirkan sebuah alternatif cerita sejarah mengenai kudeta politik Ken Arok terhadap Tunggul Ametung yang merupakan awal dari berdirinya Kerajaan Singhasari.
Ken Arok, digambarkan sebagai seorang yang jenius. Ia adalah seorang Sudra yang memiliki semangat Satria dan berwawasan Brahmana. Dalam usia yang masih sangat muda, ia menguasai sansekerta dengan sempurna. Ia lulus dari asuhan Dang Hyang Lohgawe dengan predikat cum laude. Arok, namanya, diartikan sebagai Sang Pembangun.
Tidak ada cerita kesaktian aji-ajian keris. Yang ada adalah sebuah permainan politik. Membangun kekuatan militer sebagai gerombolan pengacau yang memusingkan pemerintah tapi dekat dengan rakyat. Membangun jaringan intelijen hingga ke jantung kehidupan pribadi Tunggul Ametung. Menghembuskan isu. Memanasi kubu-kubu. Menghasut tokoh-tokoh ambisius untuk menggulingkan Tunggul Ametung. Mengadu domba hingga akhirnya kudeta terjadi.
Pada saat yang menentukan itu, Ken Arok tampil sebagai pembela Tunggul Ametung. Sudah ada yang bisa dicap sebagai pemberontak dengan meyakinkan. Penyelesaian yang gemilang itulah membuat dewan brahmana mengangkat Ken Arok sebagai akuwu Tumapel yang baru. Legitimasi penuh dari rakyat karena Ken Arok dekat dengan rakyat — sebagai simbol perlawanan sang akuwu yang semena-mena.
Mungkin kau lupa. Jatuhkan Tunggul Ametung seakan tidak dari tanganmu. Tangan orang lain harus melakukannya. Dan orang itu harus dihukum didepan umum berdasarkan bukti tak terbantahkan. Kau mengambil jarak secukupnya dari peristiwa itu.
Ken Arok telah sukses melakukan kudeta khas Jawa. Licik dan cerdik. Dari tangannya langsung, ia tidak pernah bertempur secara fisik melawan penguasa. Namun tangannya berlumuran darah dari hasil strateginya. Kunci suksesnya adalah ia berhasil memanasi kubu Gerakan Gandring, yang sejak lama memang sudah memiliki niat merebut kekuasaan. Kubu Gandring tidak pernah menyadari bahwa mereka telah dijadikan umpan bidak yang melenakan lawan. Mereka sempat tertawa penuh kemenangan ketika Tunggul Ametung telah terbunuh. Ketika lawan termakan umpan, aktor yang sesungguhnya muncul menyelesaikan permainan.
Sebuah Metafora?
Roman sejarah ini sempat dilarang keras di zaman Orde Baru. Roman ini “sukses” mengantarkan Pram keluar masuk penjara selama hidupnya. Tentunya ini menimbulkan pertanyaan, apakah Arok Dedes adalah metafora kudeta tahun 1965? Misteri Gerakan 30 September itu sampai sekarang masih simpang siur penuh kontroversi. Saya sadari memang ada beberapa kemiripan, utamanya ketika menjelang Tunggul Ametung terbunuh. Waktu itu salah satu petinggi militer kepercayaan Tunggul Ametung (Panglima-panglima Kuda bersaudara) terbunuh secara misterius dan santer terdengar isu bahwa ada pengkhianatan yang dilakukan oleh Kebo Ijo, seorang kepala prajurit yang dipercaya ada di pihak Kubu Gandring. Kalau ini adalah metafora, Pram telah sukses melakukannya.
Mana yang Benar?
Jadi, mana yang benar? Ken Arok menurut versi Pararaton atau versi Pram? Kalau saya pribadi lebih suka citra Ken Arok versi Pram. Seorang pendiri dinasti Rajasa (ia bergelar Sri Rajasa Sang Amurwabhumi), pendiri kerajaan besar, harus memiliki segala kualifikasi yang digambarkan oleh Pram. Saya tidak percaya seorang rampok kecil yang suka merampok rakyat dan memperkosa bisa mengurusi sebuah negara besar. Saya lebih suka ide bahwa Ken Dedes lah yang jatuh cinta kepada Ken Arok karena kecerdasannya (mengingat ia juga seorang brahmani — anak Mpu Parwa) ketimbang Ken Arok yang bernafsu mendapatkan Ken Dedes.
Tentu saja, fiksi karya Pram ini tidak bisa dijadikan literatur resmi. Namanya juga fiksi, rekaan penulis saja. Tetapi di lain pihak, Pararaton juga tidak bisa dijadikan pegangan melihat kualitasnya yang mencampurkan fakta, fiksi, mistik, dan mitologi. Lagipula, seperti roman-roman Pram lainnya, Arok Dedes adalah cara yang mengasyikkan untuk belajar sejarah. Tidak hanya cerita politik saja di roman ini, namun juga detail kebudayaan pada saat itu, detail pakaian Ken Dedes (mahkotanya pita bertabur permata), friksi-friksi antar kasta, pertentangan mencolok antara pemuja Syiwa dan Wisnu, dan masih banyak lagi.
PS: Terima kasih untuk Mas Prabowo yang merekomendasikan buku ini di forum komentar di artikel review Anak Semua Bangsa. Foto dicomot dari Goodreads.
Posted in Review
10 Comments »
November 8, 2009
Rich Dad Poor Dad karya Robert T Kiyosaki ini memang fenomenal, meskipun sudah tidak lagi menempati rak “buku laris” di Gramedia, tapi buku ini cukup membuat gonjang-ganjing beberapa waktu yang lalu.
Sejak awal, ketika MLM sedang booming, saya sama sekali tidak tertarik. Saya adalah fans kerja keras, dimana orang harus bekerja keras untuk mendapatkan yang ia cita-citakan. Konsep MLM yang mendasari orang tinggal ongkang-ongkang kaki untuk menjadi kaya, tidak masuk di saya. Dan karena orang MLM selalu membawa buku ini menjadi “kitab suci”-nya, otomatis saya mengindari buku ini juga.
Ditambah lagi, beberapa tahun yang lalu dimana ngeblog juga sedang booming, seorang seleblog menulis artikel yang menyerang buku ini. Merasa sependapat, buku ini juga saya anggap sampah. (Padahal jika dicermati, penulis blog itu sebenarnya memakai gaya bahasa yang sama persuasif-nya dengan buku yang sedang ia serang — cuma lebih tidak kentara).
Oke, sekarang giliran saya mengutarakan pendapat tentang buku ini.
Tak dapat dipungkiri, si Kiyosaki ini kapitalis habis, pemuja uang. Uang adalah pusat dunianya. Gaya berceritanya menarik, persuasif, cenderung mempengaruhi ketika sang Ayah kaya memaparkan konsep-konsepnya tentang bagaimana mengelola uang. Gaya bahasanya cenderung meremehkan karyawan-karyawan yang setia bekerja keras, meremehkan orang-orang berpendidikan tinggi yang tidak bisa membebaskan diri dari masalah finansialnya.
Tapi hei, buku ini tidak sepenuhnya sampah — kecuali kalau kita membacanya dengan emosional.
Buku ini bagus. Berisi pelajaran tentang bagaimana mengelola uang. Bagaimana mengendalikan dua emosi yang bertolak belakang: ketakutan akan kekurangan uang dan ketamakan ketika mendapatkan uang. Menjadi kaya tidak cukup untuk bisa mengendalikan dua emosi ini. Bagaimana aset, pendapatan, investasi dikelola dalam hidup Anda. Menurut saya, sisi bagus buku ini terletak pada filosofinya. Memberikan kita sebuah sudut, potret, dan konsep bagaimana mengelola keuangan.
Tetapi buku ini akan menjadi sampah jika Anda menelan mentah-mentah hal-hal teknis yang sedang dibahas. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang MLM itu. Konsep membuat uang bekerja untuk Anda terlalu berbahaya jika kalimat ini tidak dicerna bersama kedalaman pemikiran. Anda akan segera terjebak oleh kalimat-kalimat persuasif buku ini, terjebak oleh sisi emosi Anda.
Maksud saya, tidak harus menjadi pengusaha agar uang bekerja untuk Anda. Tidak harus memiliki rumah yang dikontrakkan untuk membuat liabilitas menjadi sebuah keuntungan (haha). Buku ini bagus untuk perluasan sudut pandang saja, bukan untuk diikuti. Kalau pun diikuti, juga mesti hati-hati dalam pelaksanaan implementasinya, karena persuasif-nya yang seperti tukang jamu membuat beberapa detail kesulitan-kesulitan berbisnis dihilangkan. Atau inilah review dari seorang yang bermental babu, bukan pengusaha atao enterpreneour hehe…
*melirik dua buah kartu kredit di dompet, inget tagihan bulan ini… (doh)*
Posted in Review
13 Comments »
November 1, 2009
SEBUAH REVIEW TENTANG BUKU “ANAK SEMUA BANGSA”
Judul Buku: Anak Semua Bangsa
Jenis Buku: Roman Sejarah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Anda masih ingat gaya bercerita buku-buku teks Sejarah waktu kita SD, SMP, dan SMA? Bergaya objektif, kronologis, dan penuh tanggal-tanggal yang wajib kita hapalkan karena selalu muncul di ujian.
Mungkin memang itu satu-satunya cara para penulis buku teks yang digunakan di sekolah-sekolah untuk mempertahankan keobjektifannya dan “tidak memihak”. Tetapi hal ini membuat sejarah menjadi kering — kehilangan coraknya. Kita tidak tahu seperti apakah keadaan emosi suatu zaman. Kita tidak bisa menyatu dan ikut merasakan apa yang dialami tokoh-tokoh sejarah di masa itu. Kita hanya tahu bahwa Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi kita tidak pernah tahu apakah beliau sempat tidur sejak diculik pemuda ke Rengasdengklok, lalu merancang naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, lalu dengan terburu-buru merumuskan Undang-Undang Dasar untuk negara yang baru saja berdiri itu.
Di buku Anak Semua Bangsa, kita bisa melihat sudut kehidupan yang lain yang diceritakan buku teks sejarah tentang zaman kebangkitan nasional. Jika buku teks mengetengahkan tokoh sentral seperti Ki Hajar Dewantara, Douwes Dekker, dan dr. Cipto Mangunkusumo, Pramoedya memulainya dari tokoh fiktif bernama Minke, seorang pribumi yang tak pernah dicatat sejarah manapun.
Minke berasal dari kelas masyarakat yang jarang dipotret oleh buku sejarah. Ia termasuk pribumi yang beruntung karena bisa bersekolah di HBS, sekolah bikinan Belanda yang waktu itu cukup ngetop di ranah Eropa. Karena terpelajar, ia menjadi penulis di sebuah harian berbahasa Belanda, sesekali menulis dalam Bahasa Inggris, sangat Eropa-minded dan cenderung tinggi hati karena kedudukan dan kecerdasannya.
Berawal dari kacamata seorang yang sama sekali tidak memiliki kepedulian terhadap bangsanya sendiri — bahkan ia tidak mau menulis dalam bahasa Melayu sama sekali — kita diberikan gambaran seluas-luasnya tentang corak, emosi, dan budaya masa-masa itu tanpa batas. Mengikuti Minke berproses dari Eropa-minded menuju ke kesadaran cinta tanah air dan pentingnya kemerdekaan, kita merasa dekat dan rasanya masa tersebut begitu dekatnya.
Anak Semua Bangsa hanyalah sebuah potret kecil kehidupan Minke. Roman ini merupakan bagian kedua dari Tetralogi Buru: Bumi Manusia, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah. Saya sendiri tidak tahu tetralogi ini sehingga saya mendapati telah mengambil seri keduanya dari rak buku di Gramedia padahal belum membaca seri satunya.
Roman ini masuk dalam kategori berat untuk dibaca, apalagi ia menceritakan kebangkitan nasional dari sisi yang berbeda, sehingga saya rasa buku ini tetap tidak cocok untuk anak-anak sekolah. Buku teks yang konvensional masih lebih baik untuk memberikan dasar pengetahuan bagi mereka. Mungkin roman ini sesuai untuk mereka yang telah matang dalam menyikapi sejarah dan ingin memperkaya khasanah pengetahuan tentang masa-masa kebangkitan nasional.
Posted in Review
8 Comments »