Cloud Computing dan Windows Azure
Duh, lama-lama bisa dikira jadi salesnya Microsoft dan paid review ini, hehehe…
Saya memang sedang mencoba-coba layanan cloud sih. Setelah kemarin mencoba layanan cloud untuk backoffice, kemarin saya mencoba layanan cloud yang bersifat lebih general lagi, yaitu Windows Azure.
Apa itu Windows Azure? Kurang lebih layanan infrastruktur server yang ada di dalam cloud. Seperti application hosting atau Virtual Private Server. Jadi kita bisa menyewa satu komputer server di dalam cloud untuk kebutuhan bermacam-macam. Di sana sudah disediakan banyak template untuk server, bisa berbasis Windows, Linux, dan sebagainya. Uniknya, harga sewa untuk server Windows lebih murah daripada sewa untuk server Linux, hehe…
Karena free tiga bulan pertama, jadi layanan ini juga bisa dijadikan ajang ngoprek. Secara saya sudah tidak punya lab kampus lagi yang bisa dijadikan mainan. Jadi saya kemarin mencoba membuat server Ubuntu di cloud. Setelah itu aksesnya pakai SSH seperti layaknya server biasa. Yang menarik juga, disediakan image virtual untuk Sharepoint 2013. Jadi yang mau belajar setup Sharepoint, juga bisa memakai Azure ini untuk coba-coba.
Register for trial-nya gampang, tetapi kita harus memasukkan nomor telepon dan kartu kredit yang valid buat ini. Kartu kreditnya dicharge Rp. 95 doang.
Dah sekian saja unpaid review-nya. Cuma mau sekadar share doang kalau dengan cloud kita bisa melakukan macam-macam dengan cukup bermodalkan koneksi internet — dan biaya sewa tentunya. ^_^
Money for iOS
Salah satu kelemahan GNUCash untuk manajemen keuangan pribadi adalah cukup rumit untuk orang awam. Sistemnya yang menganut double entry terlalu akunting dan bisa membingungkan untuk orang yang tidak mengenal ilmu akuntansi. Saya menulis buku GNUCash itu pun tidak sempurna — masih banyak sekali prinsip-prinsip akuntansi yang saya langgar.
Di lain pihak, GNUCash sangat fleksibel dan memiliki fungsionalitas yang luas. Saya bisa mengalokasikan tabungan menjadi berbagai macam account untuk tujuan keuangan. Saya bisa melakukan trading dan manajemen portofolio investasi dengan GNUCash. Report-nya pun sangat komprehensif.
Sayang sekali software sebagus ini tidak ada versinya di iOS (iPhone dan iPad). Kayaknya ada di Google Play tetapi sepertinya bukan porting langsung dari GNUCash ini. Karena saya ini suka ngulik hal-hal yang baru, saya cari-cari apakah ada aplikasi pencatatan personal finance yang bagus di iOS.
Saya menemukan aplikasi “Money” di AppStore. Harganya lagi diskon 50%. Saya mencoba dan ternyata menyenangkan juga bisa melakukan manajemen keuangan di perangkat mobile.
Dibandingkan dengan GNUCash, Money jauh lebih mudah dimengerti. Mencatat pengeluaran, tinggal dimasukkan dalam kategori apa, dan memakai duit dari mana (kartu kredit kah, tabungan di bank, atau uang di dompet). Ini akan langsung kelihatan di budgeting. Beda dengan sistem budgeting yang saya buat di GNUCash yang cukup membingungkan untuk dimengerti (bener deh, saya tidak terlalu berharap apa yang bisa saya tulis di buku itu cukup jelas dengan dibaca saja, karena konsep yang saya pakai adalah hasil rekaan saya sendiri dan itu tidak standar, hehehe).
Di sini, sistem penganggaran atau budgeting juga cukup mudah digunakan. Kita bisa mulai menganggarkan masing-masing kategori pengeluaran dan bahkan penghasilan. Nanti, ketika kita mencatat transaksi pengeluaran, setiap kategori pengeluaran akan langsung dibandingkan dengan di anggaran. Masih under budget ataukan sudah over budget.
Kelemahannya tentu saja ada. Kemudahannya membuat Money tidak bisa dipakai untuk perencanaan tujuan keuangan yang bagus. Misalnya seperti dana pensiun dengan reksadana saham, tabungan beli mobil yang terdiri dari beberapa logam mulia dan beberapa saham, dsb. Tetapi ini bisa diakali dengan mencatatnya di spreadsheet saja (perangkat mobile sudah ada aplikasi spreadsheet yang bagus).
Yang penting, dengan adanya aplikasi mobile, tingkat pencatatan lalu lintas keuangan diharapkan semakin akurat karena semakin mudah pencatatannya. Tinggal keluarin handphone dan dicatat langsung di sana. Tidak perlu dicatat di notepad dulu lalu nanti dimasukkan ke GNUCash. Ya kalo rajin, kalau malas? Malas itu manusiawi kok, hehehe…
Ini homepage mereka: iBearSoft Money
Aplikasinya di AppStore: Money for iPad
Review: Novel Sekuntum Laila
Judul Buku: Sekuntum Laila
Genre: Novel Cinta
Penulis: Risma Budiyani
Tebal: 443 halaman
Penerbit: Diva Press
Sepupu saya Nike yang kasih buku ini. Biasa, si kutu buku ini sedang kebanjiran daftar baca, hehehe… Terima kasih ya Nick, repot-repot mengirimkannya jauh dari Palembang. Nah, entah kenapa juga ini kali kedua saya mereview bukunya Risma Budiyani — dalam tulisan review saya yang sedikit –, walaupun menurut saya buku ini tidak terlalu bagus. Tulisan ini saya split untuk mencegah spoiler yang mungkin terjadi di tulisan saya ini.
Aplikasi yang Saya Pakai di iPad
Saya pikir saya perlu share saya ngapain aja dengan iPad saya. Sekitar beberapa lama sebelum iPad 3 masuk Indonesia, saya merasa perlu mempunyai iPad untuk aktivitas trading saya di pasar modal, karena semakin lama saya semakin frustrasi dengan BlackBerry yang layanannya semakin menurun. Saya tidak mungkin melakukan aktivitas trading dengan menggunakan PC dan internet kantor karena memang koneksinya diblok. Dan saya rasa terlalu ribet jika harus membawa laptop pribadi dari rumah ke kantor.
Jadi, saya tidak sepenuhnya membeli iPad untuk hura-hura gila gadget. Saya butuh untuk mendukung aktivitas trading di pasar modal. Buat usaha cari duit juga ujung-ujungnya hehehe… Dan karena pada dasarnya saya tidak suka game, iPad saya pakai untuk membaca buku (ini alasan utama kenapa saya harus beli iPad 3 yang retina display).
Aktivitas Trading
Saya tidak memerlukan sebuah running trade yang real time karena saya bukan intraday trader. Saya cukup memakai browser bawaan iPad (Safari Mobile Browser) untuk akses aplikasi online trading yang disediakan broker saya (Mandiri Sekuritas). Kemudian untuk mendapatkan berita terbaru dari mailing list, saya memakai aplikasi Mail bawaannya iPad. Semua email account saya pindahkan ke iPad dari BlackBerry.
Organizer
Orang makin dimanjakan oleh gadget itu makin pikun dan pelupa. Aplikasi organizer nya iPad sudah sangat memenuhi kebutuhan, seolah-olah kita memiliki personal organizer sendiri. Aplikasi Calendar bisa menangani multi account dari iCloud, Google Calendar, Yahoo! Calendar, dan paling menarik adalah dari Microsot Exchange. Sehingga dengan ini saya bisa menggabungkan daftar kegiatan saya baik yang pribadi (iCloud) maupun daftar jadwal meeting pekerjaan di kantor (Exchange).
Social Media
Untuk Facebook, saya memakai aplikasi resmi keluaran Facebook. Sedangkan untuk Twitter, saya memakai Tweetbot for iOS. Saya tidak terlalu suka aplikasi bawaan Twitter (Twitter for iPad) karena agak terlalu basic. Untuk chatting, saya memakai Yahoo! Messenger meskipun tidak pernah dipakai lagi. iMessage juga tidak terpakai meskipun ada beberapa kontak sesama pengguna iOS. Untuk chatting, saat ini juaranya tetap BlackBerry Messenger, hehehe…
RSS Reader dan Aktivitas Blogging
Berhubung saya ini masih blogger, saya masih menyimpan beberapa link RSS di Google Reader yang semakin lama semakin sepi. Nah, aplikasi yang bisa mengambil data dari Google Reader ini namanya Reeder. Jadi saya tidak perlu mengumpulkan RSS Feed lagi di iPad. Agak mahal harganya sekitar Rp. 50,000. Tapi aplikasi gratisan yang ada selain penuh iklan juga tidak memuaskan saya.
Di iPad ini saya juga mengenal kebiasaan baru, yaitu mengumpulkan link-link, menyimpannya untuk dibaca nanti secara tersendiri (read it later). Karena ketika saya sedang asyik-asyiknya men-skrol-skrol Twitter atau RSS Reader, malas rasanya kalau harus mengklik link untuk baca tautan di luar Twitter/RSS Reader. Yang paling sering misalnya ada twit yang merujuk ke situs berita seperti Detiknews. Link-link ini kalau tertarik untuk dibaca nanti, saya memakai aplikasi Readability. Hasil pengumpulannya disusun jadi daftar baca seperti RSS Reader. Dan tampilannya juga disesuaikan dengan aplikasi mobile sehingga lebih bersih dan lebih nyaman.
Meskipun saya jarang nulis blog di iPad, kadang-kadang saya perlu menulis draft mumpung masih ingat. Jadi saya memakai aplikasi WordPress karena blog saya adalah self-hosted WordPress. Saya tinggal mengaktifkan fitur XML-RPC di blog saya dan aplikasi di iPad bisa langsung mengaksesnya.
DropBox
Nah, salah satu kelemahan iPad adalah masalah storage. Internal storage-nya yang menjadi pembeda utama kelas antar model iPad membuat iPad (dan semua iOS) sangat tidak transparan untuk melakukan manajemen file. Tidak ada yang namanya File Explorer di iPad. Dimana tersimpan foto, buku-buku, dan musik? Tidak terlalu jelas. Oleh karena itu penyimpanan awan (cloud storage) sangat diperlukan. Saya memakai DropBox karena sangat terintegrasi diantara device-device Apple.
Saya aktif memakai DropBox untuk menyimpan hasil analisis chart suatu saham di ChartNexus di Mac karena di iPad tidak ada aplikasi yang memuaskan untuk analisis harga saham melalui grafik. Jadi saya melakukan analisis di malam hari untuk persiapan perdagangan besok, dan di iPad saya melihat screenshot hasil analisis yang disimpan di DropBox untuk membantu keputusan trading.
Baca Buku
Bye-bye Kindle! Saya sangat puas dengan kualitas retina display-nya iPad 3 yang tidak membuat lelah dan pedih di mata. Siapa yang bilang retina display itu hanya gimmick dan hanya terlihat bedanya di mikroskop, pasti dia bukan kutu buku. Saya sekarang bisa membaca buku-buku PDF dengan nyaman tanpa harus mengkonvert-nya ke format tradisional epub atau mobi setiap kali mau baca buku PDF. Di sini aplikasi yang saya pakai adalah iBooks bawaan iPad.
Selain itu, sekarang sudah ada penjual majalah dan koran yang sangat update yang bisa dibeli di iPad. Kita tidak perlu lagi membeli majalah terkenal seperti FHM, Warta Ekonomi, Tempo, InfoKomputer secara hardcopy. Wayang Force adalah aplikasi newsstand yang menjual majalah ini secara softcopy. Harganya kebanyakan sedikit lebih murah dari versi cetaknya. Dan untuk majalah-majalah lama sering dibagi secara gratis untuk didownload.
Aplikasi Lainnya
Tidak banyak aplikasi yang saya pakai. Jadi memang storage 16 GB sudah cukup buat saya. Karenanya saya juga tidak merasa perlu untuk men-jailbreak iPad saya ini. Setiap kawan yang mencoba iPad saya hampir selalu berkomentar begini, “Lho kok cuma segini aplikasinya? Kok gak ada game-nya?”
Berikut adalah daftar beberapa aplikasi yang belum saya bahas secara tersendiri di paragraf sebelumnya:
- Notes (bawaan), untuk mencatat hal-hal yang perlu dicatat, termasuk draft untuk ngeblog
- Reminders (bawaan), terintegrasi dengan iCloud, bagian dari organizer sebagai pengingat hal-hal yang harus dikerjakan
- Youtube (bawaan), untuk melihat video di Youtube tanpa Flash
- Videos (bawaan), aplikasi pemutar video di iPad
- Photos (bawaan), aplikasi penyimpan berkas gambar
- Camera (bawaan), aplikasi untuk merekam gambar dan video. Kualitasnya lumayan.
- Maps (bawaan), menggunakan Google Maps, cukup sebagai pemandu dengan memanfaatkan GPS
- AppStore (bawaan), mencari aplikasi-aplikasi ya di sini, Android Market-nya Apple lah kira-kira
- QuranMajeed, aplikasi Al-Qur’an yang font-nya bisa dibesar kecilkan, ada terjemahan bahasa Indonesia dan beberapa murotal dari syekh terkenal
- GoodReads, untuk mengakses GoodReads
- Mizan, toko ebook nya penerbit Mizan, saya hanya beli buku Sejarah Tuhan (Karen Armstrong) di sini, karena belum banyak buku bagus yang dijual di sini
- Wayang Force, toko buku, majalah, dan koran. Yang sudah berkembang dengan baik di sini adalah majalah dan koran. Saya sekarang kalau pengen beli majalah cukup beli di sini
- Readability
- Reeder
- WordPress
- Dropbox
- Numbers, bagian dari iWork untuk mengolah file spreadsheet. Bisa juga mengolah file Excel. Saya memakainya untuk menghitung aktivitas trading saya
- Game Center (bawaan) – kosong
- Newsstand (bawaan) – kosong
- iMessages (bawaan), aplikasi chattingnya Apple, tidak terlalu populer karena eksklusif hanya kalangan pengguna produk Apple
- Photo Booth (bawaan), teman-teman perempuan saya suka aplikasi ini karena bisa narsis
- Twitter, bawaan Twitter, saya tidak terlalu suka
- Tweetbot for iOS, aplikasi untuk Twitteran
- Y! Messenger, aplikasi chatting dengan Y!M
- Facebook, aplikasi untuk Facebookan
- Adobe Reader, tidak terlalu bagus, lebih enak memakai iBooks
- Calculator, aplikasi kalkulator, kadang-kadang saya memerlukannya!
- VNC, aplikasi untuk mengakses Mac secara remote dari iPad
- iTunes (bawaan), tidak terlalu berguna karena toko musiknya belum masuk Indonesia. Ebook Store-nya juga belum terlalu berkembang
- FaceTime (bawaan), seperti iMessages tetapi melalui video conference. Tidak terlalu berfungsi.
- Skype, aplikasi video conference untuk berbincang-bincang dengan saling bertatap muka
- Emoji++, aplikasi emoticon agar bisa memakai emoticon di Twitter
- Contacts (bawaan), aplikasi buku alamat dan nomor telepon. Tersinkronisasi dengan iCloud
- Paper, aplikasi menggambar. Sayangnya saya tidak terlalu bisa menggambar.
- Compass, aplikasi yang memanfaatkan GPS untuk mengetahui arah mata angin. Di sini juga ada alat speedometer dan altimeter (pengukur ketinggian dari permukaan laut)
- Virtuoso, aplikasi piano virtual, kadang-kadang saya memerlukannya untuk sekadar menyanyi iseng atau mencari chord suatu lagu
- Tabs, aplikasi untuk mengakses situs Guitar Tabs, tempat repositori lirik lagu dan chords-nya
- UnArchiver, aplikasi untuk mengkompress dan dekompress file zip dan rar
- StockWatch, aplikasi untuk memonitor harga saham, tetapi saya tidak terlalu suka
- Mail (bawaan), aplikasi email management
- Safari (bawaan), aplikasi untuk browsing-browsing
- iBooks (bawaan), aplikasi untuk baca buku
- Music (bawaan), aplikasi untuk mendengarkan musik
- Angry Birds Space, supaya tidak ada pertanyaan, “kok tidak ada game-nya?”
- Where’s My Water, supaya tidak ada pertanyaan, “kok tidak ada game-nya?”
The Amazing Spider-Man
Film-film Hollywood ini lama-lama jadi kayak sinetron Indonesia aja, punya banyak sekuel. Ketika pertama kali diajak nonton film ini, pertama kali yang muncul di benak saya adalah, film ini sudah punya banyak seri, sudah banyak yang dieksplorasi. Masak mau menceritakan yang itu-itu saja?
Ketika cerita kepahlawanan sudah dieksploitasi sampai habis, dan tema klasik itu menjadi terlalu datar untuk ukuran zaman sekarang, maka segi emosi yang lebih ditonjolkan. Saya bukan pengamat film, penikmat film pun sebenarnya bukan, tetapi The Amazing Spider-Man lebih banyak menonjolkan sisi emosi dari tokoh Spider-Man yang diperankan oleh Andrew Garfield (pemeran Eduardo Saverin, co-founder Facebook, di film The Social Media). Ini mengingatkan saya pada Smallville.
Spider-Man yang ini punya cewek juga, tapi bukan Mary Jane, namanya Gwen Stacy. Cantik. Dan bumbu percintaan mereka berdua membuat film ini menjadi lebih semarak. Ketika seorang anak yang tidak punya kemampuan apapun yang menonjol sehingga ia biasa diremehkan, kemudian tiba-tiba memiliki kekuatan super, tiba-tiba disukai oleh cewek, dan si pahlawan kita tidak tahu harus berbuat apa-apa, itulah yang membuat setiap adegannya menjadi lucu-lucu menggemaskan.
Peter Parker adalah Spider-Man tahun 2012. Artinya ia memanfaatkan seluruh teknologi hari ini untuk mendukung aktivitasnya. Riset melalui Bing! (hey, bukan Google), smartphone yang mirip Windows Phone atau Android (yang jelas bukan iPhone), dan lain-lain.
Meskipun saya suka endingnya, tapi tetap saja saya mengumpat-umpat, dasar film Hollywood!. Dramatisasi ketika klimaks dan endingnya benar-benar ala Hollywood. Ini ciri khas yang tidak pernah hilang sejak jaman film-film Sylvester Stallonne dan Tom Cruise. Semoga kalian tahu maksud saya. Kalau tidak, ya selamat nonton, hehe…
Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia
Hari Sabtu kemarin, saya berkunjung ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) yang di Medan Merdeka Selatan, untuk menuntaskan rasa penasaran saya di postingan ini. Gedungnya adalah gedung kuno bersejarah, terlihat dari arsitekturnya seperti yang sering terlihat di foto-foto buku sejarah kemerdekaan. Tidak terlalu besar, tetapi rumah dua lantai itu setiap ruangannya dipenuhi dengan buku-buku yang lebih populer dan lebih baru. Kabar baiknya adalah, setiap buku-buku di sini bisa dipinjam dibawa pulang.
Karena saya datang hanya berniat “mencicipi ombak” saja, jadi saya hanya keliling-keliling keluar masuk. Suasana ruangan-ruangannya suram (most likely berhantu) dan hening. Banyak AC split dipasang dimana-mana, tapi tiada satupun yang dingin. Bau sumpek khas kertas semerbak. Lantai dan raknya terbuat dari kayu, sehingga saya cukup kagum bagaimana para pustakawan di sini mensterilkan tempat ini dari kutu dan rayap kayu. Oh iya, di sini ada free WiFi yang lumayan kenceng. Gratis, gak pake password.
Saya baca buku “Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia”, berupa ulasan lengkap dari Sabang sampai Merauke tentang bangunan masjid yang bersejarah di Indonesia. Beberapa di antaranya saya pernah mampir di sana tanpa menyadari kalau itu adalah masjid yang bersejarah. Disusun oleh Abdul Baqir Zein dan diterbitkan oleh Gema Insani Press pada tahun 1999.
Silakan cek masjid yang dekat kampung halaman ^_^
***
iPad atau Galaxy Tab atau eBook Reader?
Apa tablet PC terbaik yang ada di pasaran saat ini? Dari sedikit pengetahuan saya, yang paling populer adalah Apple iPad dan Samsung Galaxy Tab. Bahkan brand iPad sudah mulai men-generic. Tablet PC mulai disebut iPad. Jadi ada iPad, iPad Cina, iPad Android, dll. Dan apa ebook reader terbaik? Menurut saya hanya Kindle dari Amazon.
Oke, mengapa saya punya pertanyaan ini? Alkisah beberapa bulan yang lalu, saya mematahkan Kindle saya waktu mau bangun dari tempat tidur. Ebook Reader yang tipis itu seperti kayu rapuh yang saya patahkan dengan lutut. Tidak sampai patah sih, cuma layar e-ink nya setelah itu cacat dan tidak bisa dipakai lagi. Sedih.
Lalu saya berpikir, perlukah saya membeli lagi sebuah ebook reader, atau ganti ke tablet PC saja?
Pengalaman memakai Kindle, layar e-ink nya tidak terlawan. Benar-benar bisa mensimulasi kertas dengan baik. Dan karena dia tidak mengeluarkan cahaya, jadi Kindle sangat nyaman di mata. Apalagi bobotnya yang ringan, kita jadi seperti membaca buku.
Kelemahannya sayangnya cukup banyak. Namanya ebook reader, ia hanya enak untuk membaca ebook yang berformat mobi atau azw (format umum epub tidak didukung Kindle). Tidak ada ebook reader yang bisa menangani PDF dengan baik. Selain tidak bisa reflow, kemampuan zoom in dan zoom out nya juga terbatas. Padahal, mayoritas ebook saya adalah PDF, dan ketika di-convert ke mobi hasilnya cukup berantakan.
Kelemahan yang lain, e-ink tidak bisa menangani halaman yang berwarna sehingga ia bukan alat yang cocok untuk membaca majalah FHM, hehe… Kesimpulannya, Kindle sudah bukan merupakan kebutuhan keinginan saya.
iOS Ataukah Android?
iPad jika dibandingkan dengan Galaxy Tab, untuk kelas yang sama, memang overpriced. Secara spesifikasi hardware iPad memang lebih mahal. Tetapi bagaimana mengkuantifikasi keindahan grafis, user experience, dan hal-hal yang bersifat kualitatif? Spesifikasi teknis gampang diukur dan dibandingkan, tetapi bagaimana menceritakan pengalaman pemakaian?
Kelemahan iPad yang lain adalah masalah fleksibilitas. iPad tidak memiliki fitur untuk menambah kapasitas disk melalui SD Card. Bahkan iPad tidak memiliki akses yang eksplisit untuk manajemen file. Tidak ada folder yang jelas di iPad. File yang ada hanya akan terlihat di level aplikasi seperti iTunes, iBooks, dan lain-lainnya.
Keterbatasan ini tentu menyulitkan, tetapi dalam beberapa hal akan menguntungkan, terutama dalam masalah hak cipta. Karenanya Gramedia dan Mizan mulai berani menjual ebook dan majalah mereka melalui aplikasi newsstand nya. Karena buku-buku itu hanya bisa dibuka di aplikasi yang spesifik buatan mereka sendiri, risiko untuk di-distribusi tanpa izin lebih terlindungi. Dicopy teksnya aja tidak bisa.
Saya ini sudah bertahun-tahun ada di posisi developer, researcher, programmer… IT Guy yang selayaknya mengerti jeroannya sistem IT dan menuntut fleksibilitas lebih dalam pemakaian gadget. Tetapi saya tidak pernah benar-benar ada di posisi pengguna awam yang menikmati kemajuan teknologi untuk membantu hidup mereka menjadi lebih menyenangkan. Karena itu, saya memilih iPad dengan alasan tersebut. Toh, paling juga habis ini saya akan “memperkosa” iOS ini dan bikin aplikasi yang bisa dijual (intinya cari duit lagi).
iPad 2 Atau New iPad?
Saya melihat iPad generasi pertama di kelas di bulan-bulan awal saya kuliah S2. Pada saat itu, saya menganggap belum saatnya. Sistem operasi iOS yang tidak mendukung multitasking sangat menggelikan untuk ukuran zaman 2010-an. Ketika iPad 2 datang, saya sudah kagum dan mulai bermimpi bisa memilikinya. Tapi display nya masih bikin sakit di mata.
Berbicara tentang retina display di iPad generasi ketiga, secara kasat mata mungkin tidak terlalu banyak bedanya di iPad 2. Anda perlu mencobanya sendiri dan merasakan bedanya. Saya hanya merasa kalau retina display sangat menyenangkan. Mata tidak terlalu cepat lelah (meskipun belum bisa menyamai eink nya Kindle). Saya hanya melihat sebuah tampilan display grafis yang halus dan indah, itu saja.
Akhir tahun 2011 yang lalu, saya masih memilih netbook ketimbang tablet. Tetapi insiden Kindle telah mengubah segalanya. Dan jika Anda melihat tablet punya saya, tidak akan ada game di sini. Saya fungsikan tablet ini sebagai ebook reader++, ya baca buku, twitteran, dan jual beli saham kalo pagi. (who was telling me that it was better for me to have 16 gigs version rather than 32 gigs — she has already known me well I guess, though it should not be happened that way :p )
Comments