Tentang Vandroid, Tablet dari Advan

Posted by: on Jan 13, 2012 | 10 Comments

Teman-teman mengenal brand Advan? Saya mengenalnya sebagai produk lokal berbasis Cina yang bermain di semua produk hardware, mulai notebook, netbook, flashdisk, sampai tablet! You name it lah pokoknya. Nah, rupanya, strategi branding Advan adalah menggunakan Advan sebagai umbrella brand, yaitu setiap produk-nya diberi sub-brand di belakang nama Advan yang lebih dahulu dikenal. Seperti produk tablet-nya ini, dia bernama Vandroid.

(Contoh umbrella brand lain adalah mobil Honda dengan City, Jazz, Freed; Toyota dengan Kijang Innova, Corolla Altis, Camry; produk snack Gery dengan Chocolatos, Solut, Coklut, dll).

Tidak lama setelah menyatakan ketidaksukaan saya terhadap tablet PC karena memang saya belum butuh, teman saya, seorang brand manager Advan, tiba-tiba meminjami saya produk kebanggaannya itu untuk saya review. Waduh, apa nggak salah nih kasih review ke orang yang bukan penyuka tablet? Dia malah ngotot sambil promosi kalau produknya barusan mendapatkan award tablet PC terkomplit dari PC Plus. Di akhir kalimatnya dia menambahkan, gratis aja pulak, sambil sodorin emoticon senyum jahil. Ya sudah, jangan salahkan saya kalau saya mereview-nya secara “objektif”.

Baiklah. Jadi ini binatangnya.

Android yang dipakai masih versi jadul, Android Froyo — jadul buat saya yang sudah pernah melihat Honeycomb beraksi di Galaxy Tab 8.9. Tetapi memang secara fitur hardware, benar apa kata PC Plus: komplit; kartu GSM, fungsi telepon, kamera dua sisi untuk video conference, GPS, hingga WiFi. Baterai tahan lumayan, dengan kondisi aktif terkoneksi ke jaringan GSM, dia bisa tahan seharian penuh. Ketika saya tanya ke teman saya itu, produk ini dimaksudkan head to head dengan siapa? Dia jawab dengan penuh percaya diri: Samsung Galaxy Tab! What?

Dengan bandrol harga dua jutaan, saya cukup surprise kalau ini dimaksudkan untuk melawan GTab (meskipun yang versi Froyo juga maksudnya mungkin). Kalau dimaksudkan melawan produk-produk sejenis macam ZTE begitu, saya mungkin masih cukup mahfum. Tapi ya, itu kan pekerjaannya dia, hehehe…

Secara hardware, saya bilang what do you expect with 2 mio tablet PC? Prosesor standar 800 MHz sudah cukup maksimal untuk menjalankan Froyo. Touch screen resistif-nya cukup menyebalkan karena suka salah-salah mencet huruf di tepi screen-nya — apalagi untuk jempol segede punya saya. Saya tidak cukup sabar dengan GPS-nya yang lambat memutuskan saya ada di ujung bumi sebelah mana. Fungsi yang menyenangkan mungkin WiFi dan koneksi GSM-nya sendiri (ya eyalah kalau ga bisa jadikan ganjal pintu aja).

Android Froyo. Saya belum menemukan killing apps yang memaksa saya beli sebuah tablet Android (seperti ketika saya beli BlackBerry karena peer factor adanya BBM). Kebanyakan di Android Market masih menyediakan aplikasi untuk smartphone yang belum diadaptasi untuk tablet. Bahkan Uber Social atau TweetCaster pun tidak menarik. Mungkin seperti problem Linux pada umumnya, Android yang dikirim gratis oleh Google ini menghadapi masalah standardisasi dan keseriusan dalam penggarapan aplikasi. Maksud saya, aplikasi gratis rata-rata dibuat tidak serius alias asal jadi. Berbeda dengan aplikasi-aplikasi Apple yang harus membayar, tetapi user mendapatkan kepuasan penuh dalam pemakaiannya.

Seminggu saya memakai Vandroid, aplikasi yang saya pakai adalah GMail dan Google Docs yang berjalan dengan baik. Saya belum menemukan aplikasi pengamat pasar saham IHSG yang bagus. Saya memakai TweetCaster untuk ngetwit. Saya memakai Yahoo! Messenger, yang ternyata lebih menyenangkan daripada Y!M di BlackBerry. Saya coba install Angry Birds, tapi ternyata saya sudah bosan dengan game ini (pada dasarnya saya tidak suka nge-game). Satu-satunya aplikasi yang cukup berguna adalah DJView Viewer. Ini aplikasi pembaca e-book berformat djvu, format yang digunakan di Api di Bukit Menoreh yang sampai sekarang belum selesai saya tamatkan. Cukup menyenangkan untuk membacanya daripada di Kindle, karena tinggal download dan langsung baca.

Wrap Up

Kesimpulannya, untuk sebuah tablet dua juta, Vandroid cukup affordable dengan segala keterbatasannya. Cukup untuk memenuhi kebutuhan. Tapi saya sendiri jika punya duit nganggur — artinya budget unlimited — eh, semua orang juga pengen punya budget unlimited. Ralat. Katakanlah jika saya punya duit dan butuh sebuah tablet, saya akan masih memilih Samsung Galaxy Tab demi mengejar kenyamanan pakainya. Atau malah, saya akan memilih iPad dengan alasan aplikasi-aplikasinya lebih mature dan kenyamanan pakai yang terbaik di kelas tablet PC.

Official homepage Vandroid ada di sini, kalau-kalau ingin lihat detailnya.

Review: Perjalanan dan Ajaran Gus Miek

Posted by: on Dec 30, 2011 | No Comments

Judul Buku: Perjalanan dan Ajaran Gus Miek
Penulis: Muhammad Nurul Ibad
Jumlah halaman: 336 halaman
Penerbit: Pustaka Pesantren

Seperti yang saya ungkapkan di awal, bahwa tidak banyak yang tahu siapa KH. Chamim Djazuli. Tapi buat yang tinggal di Jawa Timur, khususnya di karesidenan Kediri dan sekitarnya, nama Gus Miek dikenal sebagai kiai yang kharismatik (meskipun saya tidak terlalu yakin anak-anak muda kelahiran 90-an ke atas masih mengenal nama beliau).

Nah, buku yang saya temukan di book fair Istora Senayan ini membahas biografi Gus Miek yang ditulis oleh seorang penulis yang merupakan santri pesantren: Muhammad Nurul Ibad. Saya cukup terkejut kalau penulis menutup kata pengantarnya dengan menyebut lokasi Sambijajar, sebuah desa di Tulungagung — tempat saya lahir dan dibesarkan sebelum merantau di Surabaya dan Jakarta sekarang ini.

Sufi yang Kontroversial

Metode dakwah Gus Miek memang berbeda dari kebanyakan, mengingat area dakwahnya adalah pusat perjudian, pelacuran, hotel dan bar, diskotek, dsb. Karena itu kelakuannya bisa dipandang menyimpang jauh dari syariat yang dibenarkan seperti terlihat tidak pernah sholat, berjudi, minum-minum, dll. Tetapi itulah metode dakwah beliau yang efektif. Membubarkan bandar judi dari dalam dengan membangkrutkannya. Tentu saja metode ini mengundang kontroversi dari kiai-kiai lain yang memegang teguh syariat sebagai harga mati.

“Biar nama saya cemar di mata manusia, tapi tenar di mata Allah. Apalah arti sebuah nama. Paling mentok, nama Gus Miek hancur di mata umat. Semua orang yang di tempat ini (tempat maksiat) juga menginginkan surga, bukan hanya jamaah saja yang menginginkan surga. Semua orang yang berada di sini juga menginginkan masuk surga. Tetapi, siapa yang berani masuk, kiai mana yang berani masuk ke sini?” kata Gus Miek penuh emosi.

– Halaman 287

Pendiri Jantiko Mantab

Jantiko adalah majelis baca Al-Qur’an secara bergantian dari setelah Subuh hingga ditutup setelah Isya’. Jantiko ini didirikan tahun 1986 oleh Gus Miek karena keprihatinannya bahwa Al-Qur’an, sebagai ajaran paling suci dalam Islam, kini telah mulai hilang gaungnya di masyarakat sejak pesatnya perkembangan acara televisi. Menggalakkan membaca Al-Qur’an usai shalat Maghrib hingga menjelang Isya’ adalah salah satu misi Gus Miek.

Betapa benarnya hal itu. Berapa banyak dari generasi muda muslim sekarang yang mengisi waktu antara Maghrib dan Isya’ dengan ibadah? Saya kebanyakan masih berjuang menyibak kemacetan Jakarta, atau malah masih duduk mencangkung di depan komputer menyelesaikan pekerjaan yang masih tersisa. Jangankan mengaji Al-Qur’an, membacanya pun sudah tidak sempat. Keprihatinan Gus Miek itu terjadi di saat televisi baru TVRI saja, bagaimana jadinya kalau beliau mengetahui kondisi umat muslim jaman sekarang….

Dari mana asal kata Jantiko itu juga menarik ternyata. Jantiko adalah kepanjangan Jamaah Antikoler. Antikoler artinya tidak pernah mogok, diambil ketika santrinya punya mobil tua yang bahan bakarnya minyak tanah. Gus Miek bertanya apakah nggak mogok mobil itu, santrinya menjawab, “Mobil ini antikoler gus, nggak pernah mogok”.

Pengorbanan dan Penyerahan Total untuk Umat

Hal yang mengharukan adalah kenyataan bahwa Gus Miek hampir tidak pernah waktu untuk keluarga. Hidupnya selalu berpindah-pindah dari Tulungagung Kediri Trenggalek Blitar Surabaya Boyolali Yogyakarta Semarang bolak balik untuk berdakwah dari tempat maksiat satu ke tempat maksiat yang lain. Menginap di terminal-terminal. Pernah beliau tujuh bulan tidak menengok keluarganya. Waktu dan hidupnya digunakan untuk berjuang untuk membimbing umat.

Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya pun, di saat kanker ganas menyerang tubuhnya, ia tak juga bisa menikmati kesendirian barang sejenak. Gus Miek yang melarang keras untuk dijenguk keluarganya akhirnya dijenguk karena santri pengikutnya tidak tahan menanggung kesedihan untuk menyampaikan berita itu.

*

Demikianlah buku ini diketengahkan oleh penulis untuk mengisahkan perjalanan dan ajaran Gus Miek sebagai seorang kiai yang menyerahkan hidupnya secara total untuk berdakwah. Seluruh dunia pun dengan izin-Nya bisa digenggam, tetapi beliau memilih hidup menderita ketimbang hidup nyaman sebagai putra kiai besar.

Metode penulisan buku ini dilakukan dengan melakukan studi pustaka dan menggali informasi dari orang-orang terdekat Gus Miek. Cerita-cerita yang diketengahkan berdasarkan dari apa yang dituturkan langsung oleh orang-orang dekat Gus Miek, yang penulis sebut sebagai metode yang mirip dengan penulisan hadist nabi.

Pada akhirnya, buku ini menurut saya adalah buku yang sangat bagus yang membuka tabir misteri kiai tradisional yang kharismatik (bahkan dengan membaca bukunya saja saya merasa lebih dekat dengan Gus Miek), penyerahan total kepada umat untuk perjuangan mengibarkan panji-panji agama Allah. Buku ini tidak akan pernah jadi best seller, namun saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca jika Anda menemukannya.

Al-Fatihah kagem Gus Miek…

Jaya Suprana: Suita Marzukiana dan Tafakur

Posted by: on Jun 19, 2011 | 3 Comments

Sebenarnya niat saya tadi sore ke Disctarra, Pondok Indah Mal, adalah mencari album jazz-nya Nial Djuliarso. Ternyata sudah tidak ada, malah menemukan album terbarunya Jaya Suprana: Suita Marzukiana dan Tafakur. Sesungguhnya album ini adalah sebuah trilogi, satu judul yang lainnya adalah Nokturno Nusantara.

Suita Marzukiana merupakan interpretasi Jaya Suprana terhadap karya-karya Ismail Marzuki. Menurut apa yang tercantum di sampul albumnya, suita adalah nama bentuk musik era barok dalam bingkai siklus terdiri dari aneka ragam irama musik pengiring tarian. Karya-karya utama Johan Sebastian Bach bisa dikelompokkan dalam suita.

Memang isinya sangat kaya. Ada yang berirama blues ceria dan jahil dalam Payung Fantasi, jazz lembut di Sapu Tangan dari Bandung Selatan, ada swing, ada pula yang bernuansa sangat klasik yang ciri-cirinya mirip dengan komposisi-komposisi Bach atau Chopin. Ah, entahlah, saya tidak begitu paham musik jazz dan klasik.

Sedangkan di album Tafakur, Jaya Suprana banyak memainkan nada-nada pentatonis yang bernuansa etnis, misalnya di lagu Yen Ing Tawang Ana Lintang. Saya nyaris tidak percaya kalau nada-nadanya dihasilkan dari sebuah piano klasik, bukan gambang atau kenong.Lagu Al-Tiroof (Tamba Ati versi yang lain) menjadi sangat syahdu dan hening.  Lagu ini lebih saya kenal sejak kecil lewat corong langgar karena menjadi lagu wajib puji-pujian setelah azan menunggu shalat berjamaah.

Buat saya, dua album ini menambah khasanah musik saya. Syukur-syukur kalau kelak bisa menirukannya. Sayang, belum ada songbook dari maestro-maestro musik Indonesia yang menerbitkan teks partitur dari karya-karyanya seperti komposer-komposer luar. Kalau sajaaa ada partitur asli untuk komposisi-komposisi Jaya Suprana…

Oh iya, royalti pianis untuk penjualan album-album ini disumbangkan 100% ke Yayasan Bhakti Luhur, Cilincing.

Salute, Pak Jaya Suprana… *menjura hormat*

Tentang Api di Bukit Menoreh

Posted by: on Jun 14, 2011 | 5 Comments

Kalau anda tahu novel (mungkin bahkan sudah bisa disebut roman kali ya) Api di Bukit Menoreh (ADBM), tentu kita sepakat bahwa genre novel ini adalah action atau silat. Tapi buat saya, ADBM bercerita lebih dari itu. ADBM bercerita tentang kehidupan, pandangan hidup, cita-cita, nafsu, dan juga kekuasaan yang dibungkus dengan gaya bercerita yang ringan dan selalu berakhir happy ending di setiap sesi. Perbedaan jahat dan yang baik sengaja diperjelas. Meskipun terasa sangat naif, tapi itu justru menjadikan novel ini enak dibaca sambil makan.

Jika Anda ingin mengetahui bagaimana watak orang Jawa, novel ini salah satu referensi yang sangat bagus. Bagaimana orang Jawa sangat memperhatikan unggah-ungguh, berusaha menghindari konflik sebisanya, lembut terhadap wanita, juga penghormatan mutlak isteri kepada suami. Namun demikian, Anda juga akan menyaksikan bagaimana permainan politik khas Jawa yang sangat cerdik sekaligus licik.

ADBM adalah cerita fiksi yang bersandar pada sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam. Konflik dimulai sejak keruntuhan Demak yang kemudian tongkat estafet pemerintahannya dipindahkan ke Pajang oleh Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) menjadi Kasultanan Pajang. Tetapi konflik perebutan kekuasaan tidak berhenti. Seorang adipati Jipang (salah satu kadipaten di bawah Demak), Arya Penangsang (Arya Jipang), memberontak tidak mau mengakui kedaulatan Pajang dan berusaha mendirikan panji-panji kekuasaan di bawah Jipang. Perang pun berkobar.

Sultan Hadiwijaya kemudian mengumumkan sayembara, siapa yang berhasil membunuh Arya Penangsang maka akan diberi hadiah. Hadiah itupun jatuh ke orang yang berjasa membunuh Arya Penangsang. Ki Panjawi diberi tanah Pati, sementara Ki Gede Pamanahan diberi wewenang untuk membuka alas Mentaok karena anaknya, Raden Sutawijaya, berhasil membunuh Arya Penangsang dengan pusakanya tombak Kiai Plered.  Raden Sutawijaya pun akhirnya menjadi raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.

Pembukaan alas Mentaok yang akhirnya menjadi kerajaan Mataram Islam itupun tidak lepas dari konflik. Mataram yang berkembang itu akhirnya berhadapan langsung dengan Pajang. Dan begitulah seterusnya, kerajaan-kerajaan Islam di Jawa terus berseteru hingga hari ini (yes, hari ini. Ingat konflik keluarga kerajaan Kasunanan di Solo baru-baru ini?).

Rentetan sejarah itu bukan saya ketahui dari buku sejarah ataupun kitab Babad Tanah Jawi atau Serat Kanda, melainkan sebagian besar dari novel ADBM ini. Meskipun saya harus hati-hati dalam memilah-milah mana yang sejarah mana yang fiksi. Tapi itulah asyiknya belajar sejarah lewat novel fiksi.

Tentu saja bukan melulu cerita soal politik. Mempelajari watak para tokoh sentralnya seperti Agung Sedayu, Sekar Mirah, Swandaru, Pandan Wangi, dan Kiai Gringsing juga sangat menarik. Asal Anda sabar saja mengikuti penokohan yang terlalu detail bahkan berbelit-belit, karena novel ini adalah novel yang sangat panjang, lebih dari 300 jilid.

Tentang eBook Reader

Posted by: on May 18, 2011 | 9 Comments

Ketika Apple iPad muncul, saya meramal bahwa kelangsungan hidup eBook Reader sudah tidak lama lagi karena pada awalnya, iPad memang didesain untuk sebuah pembaca buku dengan fitur-fitur tambahan. Nyatanya, produk yang kemudian popularitasnya semakin menurun dan terancam punah adalah netbook.

Ada satu hal yang tidak bisa digantikan tablet, yaitu sistem display-nya. Tablet seperti iPad atau GalaxyTab menggunakan sistem LCD/LED yang bersifat backlit atau menyorotkan cahaya untuk menerangi layar. Ternyata ini membuat mata cepat lelah. Bayangkan kita harus membaca beratus-ratus halaman dengan kondisi mata dihujani cahaya langsung dari layar. Capek. Nggak nyaman.

Sedangkan eBook Reader menggunakan sistem display yang dinamakan e-ink display yang bersifat memantulkan cahaya. Ebook Reader tidak bisa dipakai di tempat gelap. Jadi kesannya kita seperti membaca huruf-huruf rugos yang ditempelkan di plastik. Ah, nggak percaya? Rasakan bedanya, saya dulu juga tidak percaya beda antara baca e-ink display dengan backlit display.

Antara Kindle dan iRiver Cover Story

Saya sempat dibingungkan ketika memilih eBook Reader yang cocok untuk kebutuhan saya. Ketika saya baca review, saya lebih condong ke iRiver karena: 1) lebih murah; 2) lebih banyak fitur (bisa format epub, media penyimpanannya SD card biasa, touch screen, dll); 3) rekomendasi dari dua kawan saya, Daniel dan Kimi.

Ketika saya bertemu fisiknya di toko buku yang jual eBook Reader di bilangan mal Mangga Dua, saya langsung jatuh cinta dengan Kindle. Sederhana, saya suka font-nya yang sepertinya sangat pas, dan kesannya seperti membaca tulisan di atas kertas putih. Pengalaman membaca bukunya sangat terasa. Sedangkan reader yang lain seperti iRiver, Sony Reader, dll kesannya masih seperti baca layar elektronik berwarna cokelat bertuliskan huruf-huruf kusam. Tapi, Kindle tidak memiliki fitur yang kaya. Ia tidak bisa baca format epub, PDF-nya tidak bisa reflow (word wrap) secara otomatis, media penyimpanannya hanya media internal, dan terkesan sangat propietary.

Akhirnya saya memilih Kindle yang lebih mahal dengan pertimbangan saya tak mau mengurangi pengalaman membaca (reading experience) saya. Font-nya yang terlanjur saya suka dan display e-ink-nya yang sangat mendekati kertas putih. Dan juga, setiap kata bisa dirujuk ke kamus Oxford English Dictionary secara live. Salah satu impian saya kalau saya punya eBook Reader.

Ngomong-ngomong, sangat tidak nyaman lho membaca PDF kalau dengan eBook Reader. Format yang umum adalah epub. Bagaimana dengan ketidakmampuan Kindle membaca format epub? Saya harus konvert dulu ke format lain yang bernama mobi dengan Mobi Pocket Creator. Saya sudah sangat puas dengan hasilnya.

Sebagai penutup, bacaan yang sedang saya baca di Kindle saya adalah seri Api di Bukit Menoreh, The Study in a Scarlet, dan buku teks tentang Six Sigma. Only if you want to know…

Versi eBook, Seri Api di Bukit Menoreh

Posted by: on May 4, 2011 | 6 Comments

Saya masih ingat bacaan-bacaan awal saya ketika baru bisa belajar membaca. Salah satunya adalah novel berseri Api di Bukit Menoreh karya SH. Mintardja, terbitan Kedaulatan Rakyat yang sangat populer di medio tahun 80-an. Masih ada lagi seri novel lain misalnya Naga Sasra Sabuk Inten, kemudian majalah-majalah Jaya Baya dan Panjebar Semangat, dll.

Saya cukup beruntung lahir di keluarga besar kutu buku. Bahan-bahan bacaan yang saya sebut di atas itu semuanya koleksi almarhum kakek saya sejak akhir 70-an hingga di wafatnya di tahun 1989. Kemudian paman saya mencoba menyelamatkan koleksi-koleksi tersebut dengan menjilidnya per seri dan menaruhnya di “perpustakaan”.

Api di Bukit Menoreh adalah sebuah serial panjang, bergenre silat/action, mengambil setting di masa awal berdirinya Mataram Islam sebagai pecahan Pajang. Adalah sebuah tanah perdikan yang subur di kaki Merapi bernama Menoreh, sebagai setting sentral cerita ini. Meskipun cerita utamanya adalah perebutan kekuasaan di tanah yang subur ini, secara keseluruhan cerita ini merupakan konflik dari tokoh-tokohnya — nafsu, kekuasaan, kebajikan, perjuangan, politik, kesombongan, dll.

Banyak sekali nilai-nilai yang ditanamkan novel ini, termasuk diantaranya kebudayaan Jawa, karena memang lokasi sentral cerita ini ada di pusat budaya Jawa — sekitar Solo Jogja. Kita akan sering menemui istilah-istilah yang mungkin sekarang nyaris punah: pringgitan, senthong, padaringan, dll. Hayo, yang mengaku Jawa, sudah tidak kenal kata-kata tersebut bukan?

Saya senang sekali waktu tahu ada proyek digitalisasi seri novel ini. Bagaimanapun juga mahakarya almarhum SH. Mintardja ini adalah sebuah warisan yang sangat berharga. Mungkin seperti buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer. Proyek itu sepenuhnya sudah selesai sekarang, dan kita semua bisa menikmatinya di alamat http://adbmcadangan.wordpress.com. Saya sedang mulai membacanya dari seri awal di ebook reader saya, dan cukup terkejut ketika mengetahui bahwa tokoh sentral novel ini, Agung Sedayu, awalnya adalah seorang yang penakut. Hehehe…

PS: novel berseri ini mungkin hanya diketahui oleh generasi 10 tahun di atas saya, dan gara-gara saya tahu detail cerita ini, saya sering diolok-olok lebih tua dari umur saya yang sebenarnya

Review: Memoirs of A Geisha (The Movie)

Posted by: on Apr 2, 2011 | 4 Comments


Foto: Wikipedia

Peringatan: mungkin ada beberapa bagian artikel ini termasuk spoiler.

Saya membaca bukunya hampir lima tahun yang lalu dan ini termasuk novel favorit saya sampai saat ini (saya selalu membaca novel favorit berulang-ulang buat menemani makan). Tetapi saya baru saja menonton film-nya beberapa bulan yang lalu. Film yang meraih Oscar ini dibintangi oleh aktor top seperti Ken Watanabe (sebagai ketua atau chairman), Michelle Yeoh (sebagai Mameha), Gong Li (sebagai tokoh antagonis, Hatsumomo), dan tentu saja bintang utama Zhang Ziyi (sebagai Nita Sayuri).

Saya kagum dengan sinematografinya yang luar biasa menggambarkan Gion, sebuah distrik geisha di Kyoto pada tahun tiga puluhan. Sebuah areal pemukiman padat dimana geisha sudah menjadi industri hiburan malam rumah minum teh bagi orang-orang kaya — rumah-rumah kayu berjendela kertas berlantai dua yang berdempetan, jalanan kecil yang jika malam hari dihiasi lampion-lampion yang temaram. Saya kagum detail make up dan kostum kimononya yang indah. Dan meskipun dipoles make up putih susu ala geisha, Zhang Ziyi masih tetap sangat cantik.

Salah satu adegan favorit saya adalah ketika masa-masa Sayuri akan melakukan upacara mizuage. Kakaknya, Mameha, berkata dengan ekspresi yang sulit dilukiskan — bahagia yang tragis:

“Celebrate this moment, Sayuri. Tonight, the lights in the Hanamachi all burn for you…”

Bagaimana tidak, sebuah upacara mizuage, yang sebenarnya adalah penyerahan keperawanan kepada pembeli tertinggi, telah mengubah hidup Sayuri. Dari yang awalnya ia nyaris menjadi pelayan seumur hidupnya telah menjadi geisha terbesar di Gion. Lima belas ribu yen, pada tahun tiga puluhan. Tidak berlebihan jika Mameha berkata semua lampu-lampu di seluruh Hanamachi menyala untuk Sayuri.

Tetapi geisha hanyalah geisha. Seorang geisha tidak pernah bisa meminta lebih dari apa yang bisa ia dapatkan. Ia tidak bisa meminta bahkan untuk kebebasannya. Seorang geisha tidak pernah memiliki cinta yang sesungguhnya. Bahkan seorang Hatsumomo, ia tidak bisa mendapatkan cinta sejatinya yang celakanya hanya seorang tukang penarik rickshaw.

Tragisnya, Sayuri telah jatuh cinta pada chairman. Seorang yang tak pernah bisa memperisterinya. Ia hanya akan jadi geisha (isteri simpanan), tidak lebih dari itu. Makanya, film ini ditutup dengan penutup yang… sama berkesannya…

You cannot say to the sun “more sun”, or to the rain “less rain”. To a man, Geisha can only be half a wife. We are the wives of nightfall. And yet to learn of kindness after so much unkindness. To understand that a little girl with more courage than she knew, would find that her prayers were answered. Can that not be called happiness?

After all, these are not the memoirs of an empress, nor of a queen. These are memoirs of another kind.

Switch to our mobile site