Entries Categorized as 'Opini saja kok'

Antara Pendidikan Zaman Penjajahan dan Zaman Kemerdekaan

Date August 18, 2007

Kalau kita membaca buku-buku sejarah perjuangan bangsa merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda, ada beberapa sekolah yang didirikan Belanda seperti misalnya: Hollandsch-Inlandsche School (HIS), pendidikan dasar; Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setara dengan SMP; Algeme(e)ne Middelbare School (AMS), setara dengan SMA. Pada zaman itu, sekolah-sekolah ini hanya diperuntukkan bagi orang Indonesia pribumi. Yang dimaksud dengan pribumi adalah anak-anak golongan bangsawan, tokoh terkemuka, dan pegawai negeri. Selain dari itu, dipastikan tak bisa mengenyam pendidikan.

Sekarang zaman kemerdekaan. Sudah tua pula: 62 tahun. Tapi, berbedakah pendidikan zaman kemerdekaan dengan zaman penjajahan? Saya terpaksa menjawab: tidak :( . Mungkin saya adalah generasi yang masih beruntung bisa menikmati pendidikan tinggi dengan biaya yang masih cukup terjangkau oleh kantong orang tua saya yang PNS biasa. Pendidikan strata satu saya yang saya tempuh di ITS, hanya berbiaya Rp. 650.000 per semester. Sekarang? Adakah institusi perguruan tinggi negeri top yang menawarkan biaya segitu? UI yang terkenal dengan Fakultas Kedokteran-nya, ITB dengan segala Teknik-nya, UGM, Unair, dan bahkan ITS, tak ada lagi yang menawarkan biaya pendidikan segitu. Berikut kutipan dari Jawa Pos tentang biaya pendidikan di ITS:

Maba ITS wajib membayar Rp 1.250.000 untuk SPP, Rp 900.000 untuk orientasi dan informasi, serta Rp 3.500.000 untuk sumbangan pengembangan institusi (SPI). Jumlah seluruhnya Rp 5.650.000. “Mereka yang mengajukan keringanan boleh mencicil dalam satu semester,” kata Sugeng.

Kini, bahkan playgroup yang sejatinya hanya tempat bermain telah mencekik leher orang tua dengan biaya berjuta-juta. Sekolah-sekolah SMP dan SMA favorit tempat siswa bisa belajar bersama siswa-siswa berotak jenius juga telah melambungkan biayanya.

Jika dulu pemerintah Belanda hanya mengkhususkan pendidikan hanya bagi golongan bangsawan, sama saja dengan pemerintah Indonesia di zaman merdeka ini: mengkhususkan pendidikan hanya bagi golongan bangsawan pula. Jika dulu definisi bangsawan adalah keluarga yang memiliki hubungan darah dengan pembesar keraton, kini bangsawan diukur dari seberapa besar uang yang Anda miliki. Semakin besar uang Anda, semakin ningrat pula kedudukan Anda.

Merdeka! Dirgahayu Indonesiaku!

Potret Anak Muda Masa Kini

Date July 16, 2007

Kalaulah boleh, izinkan saya mengutip sedikit dalil berikut ini

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Al-Qur’an, Surat An-Nuur (24) ayat 30

Dari Umar r.a, dari Nabi SAW telah bersabda: “Tidaklah berdua-duaan lelaki dengan seorang perempuan melainkan orang yang ketiganya adalah syaitan”

HR. At-Turmizi

Saya bukan termasuk orang yang sangat kaku dalam memandang pergaulan anak muda, asal tahu batas-batasnya. Tapi, ketika saya melihat kenyataan yang terpampang di mata saya, saya benar-benar merasa trenyuh dan tak bisa berkata apa-apa. Saya sebenarnya tidak suka menulis sambil berdalil, tahu diri lah siapa saya, bukan kapasitas saya untuk berdalil. Mas ini atau mas ini jauh lebih capable. Namun kali ini, izinkan saya mengutip dua dalil yang sudah saya kutip di atas.

***

Lihatlah kolase ini. Ini saya ambil dari Pantai Marina Ancol. Sehabis main jet-ski ama klub sailing kantor, saya sempatkan berjalan-jalan ke sekitar Pantai Marina. Kalau di tempat umum saja mereka bisa semesra itu, bagaimana kalau di tempat yang lebih privat?

Beberapa tahun yang lalu, jilbab adalah pakaian yang mencirikan seorang muslimah. Jilbab yang saya kenal adalah kerudung yang menutupi rambut hingga sebatas lengan atas atau siku. Tapi rasanya, sejak generasi Inneke Koesherawati dan Ratih Sanggarwati memperkenalkan jilbab modifikasi yang diikat di leher itu, jilbab terus berkembang dan akhirnya dirampok dari ciri seorang muslimah.

Kembali ke laptop!

Ingat lagu Chrisye? “Engkau masih anak sekolah satu SMA, belum tepat waktu untuk begitu begini…” Wah, lagu ini kayaknya sudah kadaluarsa ya? Sekarang telah menjadi opini umum di kalangan anak muda, bahwa punya pacar itu adalah harus, jika tidak, kamu akan dianggap tidak laku dan tidak pandai bergaul. Jika sudah punya, tentu, namanya bukan pacaran jika tidak ada representasi kasih sayang seperti kata-kata manis, perhatian, pelukan di pundak, atau sandaran di bahu, dan tentu saja… ciuman sayang @};- .

Well, kampanye yang dilakukan oleh anak muda yang mengistilahkan diri sebagai akhwat dan ikhwan saya anggap kontraproduktif jika ditinjau dari sisi marketing. Apa yang mereka lakukan dengan langsung tembak frontal — yaitu memperkenalkan konsep yang sangat bertolak belakang — saya rasa tidak efektif karena kondisinya sudah terlalu rusak parah. Untuk masuk pasar yang sudah dikuasai oleh pemain raksasa, cara yang sering berhasil adalah dengan gerilya, bukan dengan serangan frontal. Untuk melawan opini yang telanjur mengakar, tentunya tidak harus dilawan dengan pembangunan opini yang frontal pula.

Ah, saya tidak akan terlalu banyak mengkritik tim kampanye ini, nanti saya dihajar dengan bermacam-macam dalil lagi, hehehe…

Catatan foto:
Lokasi: Pantai Marina - Pantai Festival, Taman Impian Jaya Ancol
Waktu Jepret: 16 Juli 2007
Kamera: Nikon D40
Lensa: tele lens Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Dilema Seorang Fotografer

Date July 12, 2007

Halah, judulnya kayak saya sudah pakarnya motret selama bertahun-tahun saja, padahal pegang shutter pun masih gak bener. Tapi saya rasa, apa yang akan saya ceritakan ini pernah atau pasti dialami oleh fotografer baik yang profesional atau amatir, bahkan juga yang asal jepret pokok PeDe seperti saya.

Bagi saya, motret yang paling mudah sekaligus menyenangkan adalah motret landscape dan arsitektur bangunan. Tinggal menunggu golden hour, cari komposisi yang paling tepat, selesai. Kamera poket pun bisa menghasilkan gambar yang luar biasa, apalagi kalau retouch Photoshop ikut campur.

Motret yang menyenangkan tapi sulit adalah motret model. :"> Motret model harus bisa mengarahkan model, pandai menangkap aura dan ekspresi model, tahu cara cahaya jatuh di tubuh model, tahu bukaan yang tepat, tahu shutter speed yang tepat, dan sederet teknis yang ampun-ampun. Tapi menyenangkan, lhawong modelnya cewek cakep-cakep. ;)) Coba kalau modelnya janda-janda tua, hmm… pasti workshop photogaphy lighting technique tak banyak yang laku deh. :P

Memotret human interest adalah hal yang paling dilematis. Bukan apa-apa, karena hal yang kita jadikan objek adalah manusia juga. Dilematis, di satu sisi saya ingin mengungkap suatu sisi kehidupan manusia, misalnya kehidupan masyarakat kelas bawah. Saya, dengan memotret itu ingin menyampaikan pesan bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung saya, dan oleh karenanya apa yang saya dapat harus saya syukuri. Di lain pihak, apa yang saya lakukan bisa dikatakan sebagai eksploitasi penderitaan orang lain. Saya menikmati penderitaan mereka dengan memotret sana sini tanpa melakukan sesuatu untuk membantu mereka. Lihat saja kemarin waktu banjir Jakarta, berapa orang yang datang menonton banjir dan berfoto sana sini seperti layaknya sedang berwisata.

Ketika saya motret pemetik teh di kebun teh Cisarua, Puncak, saya datang baik-baik ke ibu itu, dan minta permisi untuk mengambil gambarnya. Namun, betapa terkejutnya saya melihat reaksi ibu itu setelah saya potret, ibu itu minta uang sebagai ganti. Saya cuma bisa mengelus dada, di mana letak keramahan khas Indonesia yang saya baca di buku pelajaran waktu SD dulu? Apakah itu hanya bull shit yang telah digilas oleh kebutuhan ekonomi? Ataukah memang masyarakat kita sekarang sudah pandai memanfaatkan kesempatan? Sekecil apapun kesempatan bisa untuk mencetak uang. Semua tak ada nilainya, kecuali jika diganti dengan uang.

Saya mungkin masih bisa memotret pedagang asongan, namun ketika saya menyusuri stren kali Ciliwung yang membelah Jakarta, atau menyusuri jalan kereta api dalam kota Jakarta, saya tak mampu. Terlalu menyedihkan untuk diframe dan dipasang di flickr. Atau jika Anda ingin, suatu saat saya akan memotretkan untuk Anda, kalau saya sudah mampu melawan dilema.

Sepeda Motor, Transportasi Paling Masuk Akal di Jakarta

Date May 13, 2007

Hukum pasar mengatakan bahwa, jika ada permintaan maka ada penawaran dan disitulah akan terbentuk harga pasar. Masyarakat akan selalu mencari penawaran yang paling menguntungkan bagi kebutuhannya. Demikian pula dengan sarana transportasi di Jakarta yang serba macet ini. Masyarakat akan mencari sarana transportasi yang paling masuk akal di sini. Dan menurutku, sepeda motor, adalah transportasi yang paling masuk akal di Jakarta. Bagaimana bisa, mari kita lihat satu per satu:

Angkutan Umum: Angkot, Metromini, dan Kopaja

Penuh sesak, ugal-ugalan di jalan raya, keselamatan tak dijamin (naik turun metromini harus loncat, seringkali musti bergelantungan di pintu karena terlalu penuh). Mungkin sopir-sopirnya berprinsip, “Murah njaluk slamet?” (Jawa: murah minta selamat). Weit.. weit e minet… murah? Memang, untuk sekali perjalanan jauh dekat, kita hanya perlu mengeluarkan uang Rp. 2000 rupiah saja. Tapi seringkali kita tak bisa menempuh perjalanan dengan angkutan umum dengan sekali naik saja. Waktu saya di Halim, untuk menuju kantor di Kuningan, saya harus naik tiga kali. Sehingga praktis, perjalanan pulang pergi memerlukan biaya Rp. 12.000. Lima hari kerja, untuk sebulan seminggu, biaya transportasi adalah sekitar Rp. 60.000.

Read the rest of this entry »

Yakin tah Kita Tidak Akan Seperti Mereka?

Date February 9, 2007

Hari ini, postingan Paman Tyo sangat dramatis dan menyentuh. Paman mampu menciptakan atmosfer baca yang menggerakkan perasaan. Maklum, orang media :p. Saya terkesan dengan majalah KomputerAktif yang susunan kalimatnya begitu santun. Posting itu menceritakan soal banjir di Jakarta dari sudut pandang sosial. Bagaimana gambaran para korban banjir yang sengsara, namun ada banyak orang yang malah memanfaatkan kejadian itu sebagai hiburan, tontonan, aksi promosi diri, dan semacamnya. Sangat tidak berperasaan.

Saya tertarik dengan begitu banyak komentar yang masuk. Kebanyakan komentar adalah komentar penuh emosi, kebanyakan mengecam kaum pejabat dan para isterinya serta kaum-kaum the have yang tidak berperasaan, tak punya empati sedikitpun kepada para korban banjir. Aih… saya berkomentar, “Yakin tah kita tidak akan berbuat begitu pula jika kita berada di posisi mereka?” Jangan sok suci, sok bijak, jika boleh berkata agak kasar, kita bisa ngomong begitu karena memang tidak terfasilitasi untuk berposisi menjadi kaum yang “tak berperasaan” itu.

Kenapa saya sampai berkomentar seperti itu? Karena menurut saya, ya beginilah kultur negeri ini. Terlalu banyak orang yang pintar ngomong tapi tanpa aksi yang sama dengan mulutnya. Kacau balau bukan lagi sesuatu yang aneh, akan tetapi ya itulah ciri khas negeri kita. Pelajaran PPKn semasa SD yang kini masih diajarkan itu hanyalah seperti cerita dongeng sebelum tidur. Protes? silakan, tapi tolong coba renungkan dulu pertanyaan saya sebelum protes:

Apakah Anda pernah ngebut melampaui batas kecepatan maksimal yang diizinkan di jalan tol? Apakah Anda pernah menyerobot lampu merah ketika Pak Polisi sedang tidak bertugas? Apakah Anda pernah memakai bahu jalan dengan alasan dikejar waktu? Apakah Anda pernah memakai jalur busway dengan kendaraan non trans-jakarta? Apakah Anda pernah mengendarai sepeda motor dengan zig-zag? Apakah Anda pernah mengumpat ketika jalur Anda diserobot? Apakah Anda sering mengklakson orang di depan Anda dengan tidak sabar?

Di mall, apakah Anda selalu menggunakan jalur kiri atau jalur kanan eskalator? Pernah membuang sampah di tempat sampah meskipun andai tempat sampah ada di lantai basement? ;) Pernah merokok di tempat umum, di angkot, di metromini?

Sulit untuk berlaku tertib di kala ketidaktertiban menjadi sebuah kebiasaan. Aneh rasanya di jalan jika kita lurus-lurus saja di jalur kiri, diserobot kanan kiri pengendara yang bermanuver ala Valentino Rossi. Sedikit saja diserobot, emosi terpancing dan ingin ikut-ikutan ngebut. Tapi bukankah menjadi kebanggaan tersendiri jika kita bisa berbeda dari orang kebanyakan? Di saat ketidakteraturan menjadi hal yang umum, bukankah bangga jika kita sendiri yang berbeda? Menjadi berbeda kan tak harus berbeda yang negatif, iya kan? :)