Entries Categorized as 'Opini saja kok'
November 13, 2007
Alkisah, dua teknisi IT dari background pendidikan yang berbeda bergabung dan bekerja sama dalam membangun sebuah aplikasi. Teknisi A bertugas membangun infrastruktur dan desain network dan server. Kebutuhannya adalah, server harus tetap tangguh ketika diakses oleh 10.000 pengguna secara bersama-sama. Teknisi B bertugas membangun sistem perangkat lunak yang akan dipasang di atas server tersebut. Kebutuhannya adalah, program harus cepat, tangkas, responsif, dan memiliki sistem validasi yang baik tanpa terlalu banyak membebani kerja server yang sudah berat melayani banyak koneksi.
Ternyata, dua teknisi ini membawa konsep dan desain yang berbeda sehingga pada akhirnya, ada beberapa data yang tidak lulus uji standardisasi. Teknisi B (sistem) berkata, “Itu disebabkan oleh desain dan infrastruktur servernya! Tahu cara menyusun server tercluster nggak sih?” Teknisi A (infrastruktur) berkata, “Itu pasti programnya jelek, terlalu banyak bug, dasar programmer culun tak punya pengalaman!”
Well… anyway, mereka seharusnya menjadi team yang solid bukan? Seharusnya ego masing-masing bisa ditekan untuk kepentingan bersama bukan?
Posted in Developer, Opini saja kok
9 Comments »
October 4, 2007
Dagelan apa lagi ini? 
Ramadhan tahun ini, acara pengajian bermutu memang bukan menjadi primadona lagi. Dulu masih ada KH. Abdullah Gymnastiar, sebelumnya lagi ada KH. Zainuddin MZ. Sekarang tayangan mayoritas dipenuhi dengan dagelan gak mutu ala Tukul dan Patrio. Dagelannya buanyak, sedangkan ustadz yang sering muncul paling-paling hanya Ustadz Jefri Al-Bukhori (Uje) dkk. Karena hanya saat sahur saja saya menonton TV, maka saya ambil sampel tayangan saat sahur.
Acara dagelan contohnya ada di RCTI, AnTeve, Trans TV, dan Trans 7. Indosiar bersikap moderat, tidak berani mengambil banyak risiko dengan jualan utama lomba pengisah cerita islami dengan format mirip dengan Mama Mia (, acara yang amat digemari ibu rin, ). Metro TV, seperti biasa, mendiferensiasi diri dengan tayangan Tafsir Al-Misbah yang diasuh oleh Quraish Shihab. SCTV menjual Deddy Mizwar dengan sinetron Para Pencari Tuhan. Sinetron yang idenya tidak baru, mirip Lorong Waktu dan Kiamat Sudah Dekat. Tapi dari semua acara, acara inilah yang saya ikuti setiap hari.
Nah, di antara acara-acara tersebut, tentu saja ada “kuis” berhadiah yang pesertanya harus daftar lewat SMS (ketik REG sepasi bla bla bla). Ada yang hadiahnya lucu, yaitu ibadah umroh. Hmm.. mentang-mentang temanya islami, hadiahnya ibadah islami pula. Menurut saya, ini seperti ibadah umroh dengan uang hasil judi di kasino. Kok bisa? Lho? Menurut Anda, kuis SMS itu bukan judi toh? Kita pertaruhkan uang via biaya pulsa, dan hadiahnya diambil dari pengumpulan uang tersebut. Apa bedanya dengan judi rolet, kartu, domino, dadu, dkk? Fatwa MUI telah mengharamkan kuis model begini. Meskipun masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam, cerdas, dan pintar bicara ini sangat tidak menghargai MUI — ulamanya sendiri –suka atau tidak suka, fatwanya haram. Jadi, uang haram dipakai umroh? Hmm…
Posted in Opini saja kok
17 Comments »
September 10, 2007
Membaca rasan-rasan mas ini, saya juga tertarik untuk mengomentari logo ITS yang sudah beberapa waktu ini memakai logo yang baru. Kebetulan, saya lumayan banyak tahu bagaimana proses logo baru ini lahir.
Inilah logo ITS sekarang. Memang ada beberapa variasinya yang bisa dibaca di panduan penggunaan logo. Tapi siapa mau baca panduan? Orang paling sering memakai logo yang itu karena itulah logo primer. Well, apa pendapat saya yang buta ilmu desain grafis terhadap logo baru ini? Secara warna: brilian! Penyederhanaan tiga warna menjadi duochrome. Secara hukum keseimbangan: payah! Bentuk logo seperti ini tidak fleksibel. Tak bisa ditempatkan di tengah apalagi di kanan karena akan mengesankan njomplang (apa ya bahasa indonesianyah?). Apa akibatnya? Semua pernik-pernik yang melibatkan logo ITS menempatkan logo di sebelah kiri. Desain Buku TA dirombak habis, dengan menempatkan logo di sebelah kiri.
Guru desain grafis saya, Arif Marzuki, yang termasuk dalam tim pembuatan logo baru (istilah yang dipakai lebih keren — saya lupa) mengatakan bahwa tujuan menempatkan ITS - Institut Teknologi Sepuluh Nopember dengan tipografi khususnya adalah untuk mengedukasi masyarakat bahwa singkatan ITS bukanlah Institut Teknologi Surabaya. Namun apapun hasilnya, lanjutnya, hal yang tak kalah penting adalah keberhasilan tim logo mengedukasi eksekutif-eksekutif ITS bahwa sebuah logo bukanlah hal yang harus disakralkan. Logo kini bukanlah semacam ajimat mantra-mantra nan sakti mandraguna, namun lebih ke sarana edukasi, komunikasi, dan promosi kepada masyarakat. Melihat kesimpulan terakhir ini, tersirat bahwa proses kelahiran logo ini tidak hanya melibatkan orang-orang yang berkompeten dalam mendesain logo. 
Kemudian kata mas ini lagi,
Di panduan sih ada banyak aturan ini itu, tapi sama sekali tidak menyebut apa-apa tentang web.
Hehe, mungkin saya adalah pihak yang paling bertanggung jawab ketidakmunculan penggunaan logo ini pada web di panduan. Bagaimana membuat panduannya kalau saya sendiri bingung menempatkan logo ini secara rapi di web. Layout yang saya bisa buat variasinya hanya begitu-begitu saja: header kotak selebar 100-an piksel, logo di kiri. That’s all.
Waktu pada akhirnya saya berhasil mendesain web ITS code-named fitri [v3] — desain terakhir saya untuk ITS — saya tidak menggunakan logo primer. Logo sekunder bisa ditempatkan di tengah dengan manis. Tapi tentu saja, logo sekunder tidak membawa semangat tim desain logo untuk mengedukasi masyarakat tentang singkatan ITS yang sesungguhnya. Tapi mesti bagaimana lagi? Lhawong saya tidak sreg dengan logo primer-nya ITS je. Semoga generasi penerus saya bisa memberikan solusi. 
Posted in Desain Web, Opini saja kok
1 Comment »
August 18, 2007
Kalau kita membaca buku-buku sejarah perjuangan bangsa merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda, ada beberapa sekolah yang didirikan Belanda seperti misalnya: Hollandsch-Inlandsche School (HIS), pendidikan dasar; Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setara dengan SMP; Algeme(e)ne Middelbare School (AMS), setara dengan SMA. Pada zaman itu, sekolah-sekolah ini hanya diperuntukkan bagi orang Indonesia pribumi. Yang dimaksud dengan pribumi adalah anak-anak golongan bangsawan, tokoh terkemuka, dan pegawai negeri. Selain dari itu, dipastikan tak bisa mengenyam pendidikan.
Sekarang zaman kemerdekaan. Sudah tua pula: 62 tahun. Tapi, berbedakah pendidikan zaman kemerdekaan dengan zaman penjajahan? Saya terpaksa menjawab: tidak
. Mungkin saya adalah generasi yang masih beruntung bisa menikmati pendidikan tinggi dengan biaya yang masih cukup terjangkau oleh kantong orang tua saya yang PNS biasa. Pendidikan strata satu saya yang saya tempuh di ITS, hanya berbiaya Rp. 650.000 per semester. Sekarang? Adakah institusi perguruan tinggi negeri top yang menawarkan biaya segitu? UI yang terkenal dengan Fakultas Kedokteran-nya, ITB dengan segala Teknik-nya, UGM, Unair, dan bahkan ITS, tak ada lagi yang menawarkan biaya pendidikan segitu. Berikut kutipan dari Jawa Pos tentang biaya pendidikan di ITS:
Maba ITS wajib membayar Rp 1.250.000 untuk SPP, Rp 900.000 untuk orientasi dan informasi, serta Rp 3.500.000 untuk sumbangan pengembangan institusi (SPI). Jumlah seluruhnya Rp 5.650.000. “Mereka yang mengajukan keringanan boleh mencicil dalam satu semester,” kata Sugeng.
Kini, bahkan playgroup yang sejatinya hanya tempat bermain telah mencekik leher orang tua dengan biaya berjuta-juta. Sekolah-sekolah SMP dan SMA favorit tempat siswa bisa belajar bersama siswa-siswa berotak jenius juga telah melambungkan biayanya.
Jika dulu pemerintah Belanda hanya mengkhususkan pendidikan hanya bagi golongan bangsawan, sama saja dengan pemerintah Indonesia di zaman merdeka ini: mengkhususkan pendidikan hanya bagi golongan bangsawan pula. Jika dulu definisi bangsawan adalah keluarga yang memiliki hubungan darah dengan pembesar keraton, kini bangsawan diukur dari seberapa besar uang yang Anda miliki. Semakin besar uang Anda, semakin ningrat pula kedudukan Anda.
Merdeka! Dirgahayu Indonesiaku!
Posted in Opini saja kok
4 Comments »
July 16, 2007
Kalaulah boleh, izinkan saya mengutip sedikit dalil berikut ini
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Al-Qur’an, Surat An-Nuur (24) ayat 30
Dari Umar r.a, dari Nabi SAW telah bersabda: “Tidaklah berdua-duaan lelaki dengan seorang perempuan melainkan orang yang ketiganya adalah syaitan”
HR. At-Turmizi
Saya bukan termasuk orang yang sangat kaku dalam memandang pergaulan anak muda, asal tahu batas-batasnya. Tapi, ketika saya melihat kenyataan yang terpampang di mata saya, saya benar-benar merasa trenyuh dan tak bisa berkata apa-apa. Saya sebenarnya tidak suka menulis sambil berdalil, tahu diri lah siapa saya, bukan kapasitas saya untuk berdalil. Mas ini atau mas ini jauh lebih capable. Namun kali ini, izinkan saya mengutip dua dalil yang sudah saya kutip di atas.
***
Lihatlah kolase ini. Ini saya ambil dari Pantai Marina Ancol. Sehabis main jet-ski ama klub sailing kantor, saya sempatkan berjalan-jalan ke sekitar Pantai Marina. Kalau di tempat umum saja mereka bisa semesra itu, bagaimana kalau di tempat yang lebih privat?
Beberapa tahun yang lalu, jilbab adalah pakaian yang mencirikan seorang muslimah. Jilbab yang saya kenal adalah kerudung yang menutupi rambut hingga sebatas lengan atas atau siku. Tapi rasanya, sejak generasi Inneke Koesherawati dan Ratih Sanggarwati memperkenalkan jilbab modifikasi yang diikat di leher itu, jilbab terus berkembang dan akhirnya dirampok dari ciri seorang muslimah.
Kembali ke laptop!
Ingat lagu Chrisye? “Engkau masih anak sekolah satu SMA, belum tepat waktu untuk begitu begini…” Wah, lagu ini kayaknya sudah kadaluarsa ya? Sekarang telah menjadi opini umum di kalangan anak muda, bahwa punya pacar itu adalah harus, jika tidak, kamu akan dianggap tidak laku dan tidak pandai bergaul. Jika sudah punya, tentu, namanya bukan pacaran jika tidak ada representasi kasih sayang seperti kata-kata manis, perhatian, pelukan di pundak, atau sandaran di bahu, dan tentu saja… ciuman sayang
.
Well, kampanye yang dilakukan oleh anak muda yang mengistilahkan diri sebagai akhwat dan ikhwan saya anggap kontraproduktif jika ditinjau dari sisi marketing. Apa yang mereka lakukan dengan langsung tembak frontal — yaitu memperkenalkan konsep yang sangat bertolak belakang — saya rasa tidak efektif karena kondisinya sudah terlalu rusak parah. Untuk masuk pasar yang sudah dikuasai oleh pemain raksasa, cara yang sering berhasil adalah dengan gerilya, bukan dengan serangan frontal. Untuk melawan opini yang telanjur mengakar, tentunya tidak harus dilawan dengan pembangunan opini yang frontal pula.
Ah, saya tidak akan terlalu banyak mengkritik tim kampanye ini, nanti saya dihajar dengan bermacam-macam dalil lagi, hehehe…
Catatan foto:
Lokasi: Pantai Marina - Pantai Festival, Taman Impian Jaya Ancol
Waktu Jepret: 16 Juli 2007
Kamera: Nikon D40
Lensa: tele lens Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Posted in Agomo, Opini saja kok
52 Comments »