Karena Blog Adalah Tren Sesaat

Posted by: on Oct 29, 2008 | 21 Comments

Saya pikir, tidak seharusnya dulu para blogger begitu mencela Roy Suryo dengan kutipannya yang terkenal, “Blog adalah tren Sesaat”. Saya masih ingat RS berkata kurang lebih, “Seperti email dan instant messenger, blog akan menjadi tren sesaat yang akan digantikan oleh media komunikasi lain.” Saya rasa karena kecemburuan para blogger terhadap RS karena sedemikian populer dan dipercaya di mata media, blogger bertubi-tubi menyerang dan mencela RS sehingga RS pun balik begitu membenci blogger.

Hanya setahun setelah perhelatan akbar Pesta Blogger 2007, saya berpendapat era blog telah berakhir. Pertama kali tentu adalah matinya Priyadi.net. Siapa sangka blog yang sering disebut-sebut sebagai bapak blog itu bisa mati? Berikutnya adalah matinya agregator terpopuler kedua setelah Planet Terasi: Merdeka.or.id. Siapa sangka agregator yang tengah membuka open submission-nya yang kesekian kali itu juga ikutan mati?

Memang arus pembuatan blog baru semakin banyak. Saat ini nyaris setiap pengguna internet memiliki blog. Fitur baru WordPress yang berbahasa Indonesia, launching dua media blogging lokal yang hampir bersamaan, Dagdigdug dan Blogdetik, menunjukkan antusiasme yang luar biasa terhadap blog. Tetapi nyatanya, jumlah feed yang terupdate secara periodik di Google Reader saya semakin sedikit. Feed yang saya subscribe hanya bertahan selama sebulan dua bulan saja rajin diupdate oleh pemiliknya.

Secara komunitas, blog memang semakin berkembang. Dimana-mana kini ada komunitas blogger. Beberapa diantaranya sangat aktif melakukan kegiatan. Tetapi di sisi konten anggotanya, inilah, gejala-gejala matinya blog — atau saya terlalu berlebihan — gejala lewatnya era blogging telah terlihat. Bahkan untuk memposting kenarsisan mereka sendiri (katakanlah belanja baju baru, nonton film, atau habis dibelikan mobil baru oleh bokap), itu pun sudah malas.

Sekarang eranya microblogging. Berburu karma. Mengapa media yang seharusnya tidak langsung head to head dengan blogging ini ikut mematikan blog? Karena menulis blog itu berat. Harus ada ide dan lalu proses kompilasi ide menjadi beberapa paragraf tulisan. Itu perlu waktu dan perhatian yang tidak sedikit. Apalagi jika harus menulisnya secara periodik dan terus menerus. Saya sendiri pernah mengalami itu. Oleh karena kehabisan ide, saya belokkan topik mayor ke dunia fotografi. Enak, tinggal upload foto, cuap-cuap sedikit, jadi satu postingan. He he he…

Bandingkan dengan microblogging di Twitter atau Plurk. Hanya satu kalimat dua kalimat. “Hai, aku sedang di WC nih!” Tidak sulit. Tidak perlu ide dan waktu. Apalagi plurk ada reward berupa karma yang jika semakin naiknya, ada hadiah-hadiah tertentu seperti emoticon yang menarik. Ada kawan saya yang mengeluh karena sulit untuk memulai blogging, sekarang sangat aktif di Plurk. Alasannya persis seperti yang saya tulis di awal paragraf ini.

Jadi, masih perlukah Pesta Blogger 2008? Awalnya saya tidak ingin hadir seperti tahun lalu. Siapalah saya. Biar ajang itu menjadi pesta para selebritis blog yang telah membentuk komunitas eksklusifnya sendiri itu. Tapi melihat gejala kematian dan lewatnya euforia blog, saya jadi ingin hadir. Tiba-tiba termotivasi oleh tulisan bapak ini. Siapa tahu, ini adalah pesta blogger yang terakhir? He he he, sampai jumpa di auditorium BPPT!

Tidakkah Kita Punya Sedikit Rasa Empati?

Posted by: on Aug 2, 2008 | 9 Comments

Pertama adalah publikasi rekaman kotak hitam Adam Air yang naas itu. Entah siapa yang membocorkan pertama kali, hal ini telah terlanjur menggelinding seperti bola salju. Tak tertahankan. Orang beramai-ramai mendownload rekaman yang tragis itu. Pemuasan hasrat akan rasa penasaran yang kejam. Televisi tak ketinggalan. Ada yang bahkan mengangkatnya menjadi headline.

Dimana rasa empati kita terhadap keluarga yang ditinggalkan?

Tidakkah kita pernah membayangkan bagaimana perasaan mereka kalau mereka sampai mendengarkan suara orang-orang yang mereka cinta menjelang ajal menjemput?

Kedua adalah berita tentang pembunuhan berantai, Ryan, yang oleh media di-blow up sedemikian rupa seperti tontonan hiburan saja. Menyaksikan wajah-wajah palsu para pembaca berita yang sok innocent membaca dengan takzim. Ini mengesankan, pembunuhan terhadap manusia lain itu hal yang biasa. Tidakkah mereka menyadari bahwa ini adalah pendidikan yang buruk bagi masyarakat? Dan apa yang terjadi? Orang berbondong-bondong mengunjungi rumah Ryan seperti tempat wisata saja. Seperti ketika orang-orang “berwisata” menyaksikan para korban lumpur Lapindo. Menyaksikan kepedihan keluarga yang berduka dengan riang gembira. Pemuasan rasa penasaran yang tak dapat dibendung.

Dimana rasa empati dan simpati kita?

Perusakan moral telah terjadi di antara kita dan tidak seorangpun bisa menghentikannya. Berita pembunuhan, perkosaan, perceraian, konflik rumah tangga adalah berita yang biasa menemani kita makan.

Tak ada pula yang bisa menjawab kenapa saya ikut mendengarkan rekaman kotak hitam Adam Air, kenapa saya ikut penasaran, kenapa rasa empati saya hilang entah ke mana…

Dan kenapa saya ikut menuliskan hal setragis ini di blog saya…
Entahlah…
Mungkin semacam frustasi. Kenapa bangsa saya yang besar ini tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan hanya menjadi objek sebuah industri komersial?

Wanita Merokok?

Posted by: on Jul 15, 2008 | 18 Comments

Apa salahnya? Kalau pria merokok, kenapa wanita tidak boleh? Itu adalah hak setiap orang untuk menikmati salah satu ekstase kecil yang legal bernama rokok. Memilih sebuah gaya hidup yang lazim dilakoni oleh mereka yang mengaku sebagai pria sejati. Atau… sekadar untuk memenuhi kebutuhan. Bukan lagi sebagai gaya hidup atau segala hal yang mengawang-awang dramatis mengenai rokok, tetapi hanyalah sebagai pemuas kebutuhan seperti halnya orang butuh makan dan minum.

Masalahnya, kita hidup di negeri dongeng yang memiliki adat istiadat yang nanggung. Hitam tidak, tetapi putih juga tidak. Serba abu-abu. Orang suka meributkan masalah kecil dan dibesar-besarkan, tetapi masalah yang besar malah tidak dipedulikan.

Kita masih memandang segala sesuatu dari apa yang nampak dari luar. Konotasi dan asosiasi yang dibuat selalu berdasarkan apa yang terlihat. Nah, entah bagaimana awal mulanya konotasi untuk wanita yang merokok lebih negatif daripada jika pria yang merokok. Mungkin kesan yang akan didapat bahwa wanita yang merokok adalah:gaul, nggak alim, suka jalan-jalan, bahkan ke suka dugem dan pulang pagi. Jauh dari kesan anggun, kalem, dan alim (konotasi positif yang biasa disematkan kepada wanita).

Mungkin iklan dan media komunikasi visual adalah salah satu biang kerok (lagi-lagi) pembuat kesan seperti ini. Iklan rokok tidak pernah menampilkan wanita sebagai bintang utama. Pria berwajah tampan, bertubuh atletis dambaan setiap wanita adalah citra yang ditunjukkan oleh pengiklan tentang seorang perokok. Benar-benar pria sejati.

Dimana posisi saya? Bagi saya merokok atau tidak merokok adalah sebuah pilihan. Saya tidak merokok karena alasan yang tidak jelas. Saya tidak membenci rokok, tapi juga tidak menyukai rokok. I wish I could be a smoker, but I couldn’t. Dan bagi saya, tidak seharusnya wanita merokok. Itu akan menghilangkan kesan anggun di mata saya (halah!).

Komentar untuk Website ITS v4

Posted by: on May 15, 2008 | 11 Comments

Website ITS v4.

Wah, sebenarnya saya menyimpan komentar kalau sudah benar-benar selesai nanti, tapi ternyata pas saya lihat di sana ada untouched link yang bernama “Komentar Anda”. Karena sudah dimintai komentar dan ternyata di sana tidak ada media untuk mencurahkan komentar, ya saya tulis di sini. Yang jelas first of all, congratz untuk tim webmaster ITS.

Secara umum, saya suka konsep layout yang dibawa. Fresh! Segar! Mantaps! Beberapa catatan subjektif sayah:

  1. Header terlalu kosong. Hanya tulisan webmail yang sedikit menemani.
    Yaya… saya tahu, webmaster tak punya pilihan banyak menempatkan logo. Dilema yang pernah saya alami berkali-kali dulu. Mungkin bisa dibuat semacam ornamen pemanis warna-warni di sana. Nggak usah ngeblok. Jika dibuat overflow keluar dari batas kotak 800 pixel mungkin lebih manis. Adik saya, Fitri, berkomentar kalau layout itu mirip buku TA. Hmm… masuk akal juga, mungkin memang inspirasinya dari situ?
  2. Bagaimana kalau link webmail dibuat login form-nya sekalian? Untuk accessbility rasanya lebih praktis. Juga untuk mengurangi ruang yang terlalu kosong di sana. Terakhir, saya tahu SquirellMail yang dipakai sudah mendukung untuk tujuan ini kok.
  3. Penonjolan informasi.
    Ini penting. Saya melihat portal ini terlalu flat. Tak ada informasi yang ditonjolkan. Saya ambil contoh: Di bagian Agenda. Mata saya tak bisa langsung di-drive untuk melihat suatu agenda. Kapan? Dimana? Tentang apa? Saya harus cari-cari di tulisan bertypo Trebuchet yang kecil itu.
  4. Kenapa ITS Tour ada di bawah? Kenapa membuat pengunjung baru dan awam men-scroll halaman untuk melihat bagian yang bisa mereka lihat pertama kali. Taruh saja di atas, sebab informasi ini memang ditujukan untuk orang-orang yang belum tahu sama sekali tentang ITS, apalagi struktur website-nya. Key-nya tetap: penonjolan informasi.
  5. Ada bagian cukup besar untuk foto. Komentar saya untuk foto saat ini: Jelek. Olah digital yang kurang rapi untuk seorang desainer DKV ITS. Tapi saya yakin, ini sementara. Saya usul, kalau memang ada content, lebih baik adalah movie flash yang melakukan slide show mengenai informasi yang diperlukan oleh pengunjung baru. Kalau tidak ada, ya foto-foto tentang suasana lingkungan ITS. Tapi jangan diedit habis seperti itu. Kalau ingin foto IR ya yang dari filter IR lah, jangan Photoshop.

Sedangkan kritik saya tentang konsep:

  1. Konsep Web 2.0-nya mana? Zaman sudah akan beranjak ke Web 3.0, kok masih tetap bertahan dengan konsep ala tahun 2003?
  2. Back to table layout? Is tableless layout too difficult for you?

Selebihnya Oke. Saya tak bisa berkomentar tentang sitemapping dan kemudahan navigasi karena belum jadi. Sebenarnya saya lebih setuju kalau tidak usah ada preview dan meminta sedekah komentar (meminjam istilah Bu Velisa) seperti ini. Langsung saja hajar jadi website utama. Karena kalau meminta kritik terlebih dahulu, web baru ini kehilangan kesempatan untuk membuat surprise. Padahal surprise itu penting. Orang cuma bisa mengkritik, dan orang tak bisa memuaskan semua pihak. Jadi, apa gunanya menerima kritik yang kebanyakan sifatnya subjektif dan selera saja?

Congratz Ridho’ and the team. Keep on hard work guys.

Sang Juara yang Memprihatinkan

Posted by: on May 9, 2008 | 6 Comments

Saya masih di sana ketika lomba website di seantero lingkungan ITS diadakan. Meskipun menjadi penjaga gawang portal utama, saya tidak dilibatkan baik sebagai peserta maupun penilai. Saya tak tahu siapa jurinya, tetapi waktu itu yang menjadi juara salah satunya adalah website ini: FTIF. Website fakultas dimana saya belajar.

Reaksi pertama saya waktu mendengar itu adalah berteriak,

“HAH!! APA?!? GAK SALAH TUH??!”

Memang, website ini membawa konsep baru dalam dunia website pendidikan, yaitu sebagai agregator blog-blog anggota fakultas — saya termasuk yang didaftarkan. Meskipun hal ini kontroversial, tapi saya anggap ini adalah sebuah konsep baru yang patut dihargai lebih.

Menurut saya, website yang baik adalah website yang dirawat dengan baik. Membuat website itu mudah, lima menit juga jadi. Yang jauh lebih sulit adalah merawatnya. Perlu cinta kasih dalam merawat sebuah website. Bagi saya, hal inilah yang seharusnya menjadi faktor penilaian dengan bobot terbesar. Setelah itu adalah isi, baru kemudian tampilan layout dan sitemapping.

Karena menjadi penjaga portal, saya jadi tahu kinerja semua website di lingkungan ITS. Dan saya tahu website yang menjadi juara itu (FTIF) dari dulu kurang dirawat. Kok tiba-tiba waktu lomba menjadi sebegitu bagusnya, saya curiga itu hanyalah tren sesaatTM saja.

Dugaan saya terbukti. Iseng saya membuka website FTIF. Aktivitas ngeblog anggotanya juga tren sesaat. Entri agregator itu seperti saya dominasi sendirian (scharra saya ngeblog tiap hari sekarang) ) Ayo dong! Saya tahu betul, FTIF ITS adalah gudangnya mahasiswa dan dosen jenius luar biasa. Hanya diperlukan sedikit kasih sayang untuk merawat website itu. Ini penting karena citra pertama yang dilihat orang luar adalah kesan website-nya.

Artikel terkait: Web ITS, Ganti Layout dong!

Screenshot dokumentasi:

Tentang UU ITE

Posted by: on Apr 6, 2008 | 10 Comments

Waktu mengetahui pemerintah telah melakukan pemblokiran situs-situs dewasa via Indonesia Internet Exchange (IIX), saya tidak terlalu peduli dengan berita dan segala reaksi kehebohan yang terjadi. Apakah saya pembenci situs porno? Ah, kalau saya menjawab “iya”, berarti saya munafik dan mencitrakan diri saya sebagai orang baik di sini. ) Sebaliknya, saya adalah salah satu fans berat dari Maria Ozawa dkk yang tergabung dalam MFC. Microsoft Foundation Class? Oh, bukan… tetapi Miyabi Fans Club (thanks to crew lab AJK yang menelurkan istilah ini).

Kabar hot terbaru adalah beredarnya film Fitna yang isinya (lagi-lagi) merupakan penghinaan terhadap Islam. Film ini beredar di Youtube. Dengan payung hukum UU ITE yang baru, Depkominfo secara tegas (dan emosional?) membreidel Youtube dari Indonesia. Masyarakat Indonesia dilarang mengakses situs Youtube. Beredar kabar bahwa film ini juga ada di Google Video. Apakah Google akan dibreidel juga?

Saya bertanya-tanya. Youtube adalah situs web 2.0 yang basisnya adalah publik. Kalau ada content yang melanggar terms and condition, publik juga bisa mengirim protes. Salah satu contohnya adalah video-video liputan pertandingan Liga Inggris. Saya sering mendapati pemberitahuan dari pihak Youtube bahwa isi telah tidak ada lagi karena melanggar copyright. Biasanya karena ada laporan dari pihak pemegang copyright. Nah, pertanyaan saya, kenapa pemerintah via Depkominfo tidak melakukan hal yang sama? Youtube adalah situs yang sangat terbuka. Daripada melakukan boikot terhadap Youtube, kan rasanya lebih elegan dan bijaksana melaporkan isi tersebut kepada Youtube.

Kalau sudah begini, siapa berikutnya? Multiply, Friendster, Facebook, Myspace, Flickr, Yahoo!, WordPress, Blogger, dan akhirnya, Google. Tapi mungkin juga ada hikmah positif kalau semua layanan itu menghilang dari bumi Indonesia. Kita akan dituntut lebih kreatif lagi membuat content-content lokal yang bermanfaat sehingga menghemat biaya bandwidth luar negeri kita.

Internet, masih merupakan barang mewah dan mahal di negeri kita.

Olah Digital, Menurut Saya

Posted by: on Feb 25, 2008 | 18 Comments

Waktu masih setia memakai kamera analog pinjaman (Nikon FM-10), saya termasuk dalam kubu yang menentang keras adanya olah digital dalam fotografi. Sindiran keras saya ada di sini.

Anda fotografer atau potosoper sih?

Bagi saya, seni fotografi adalah murni seni melukis dengan cahaya. Kepuasan dalam hobi fotografi terletak saat bagaimana sulitnya mengukur cahaya, mengira-ngira seberapa kombinasi bukaan diafragma, kecepatan rana (shutter speed), dengan ASA film kamera yang telah terpasang. Ingat, Anda hanya diberi jatah 36 kali jepret dalam satu rol film. Hasil yang tidak dapat dilihat langsung juga menambah tingkat kepuasan jika ternyata hasilnya bagus. Jika jelek, atau ternyata celakanya film telah terbakar sehingga tidak ada satupun hasil yang jadi, menangisnya bisa sampai semalaman.

Pernah saya dulu, memotret lingkungan mengkilap salah satu hotel berbintang lima di Kuta Bali dengan FM-10. Di perjalanan di tempat lain, waktu film sudah habis, saya coba gulung rol film dan menggantinya dengan yang baru. Celaka, saya lupa melepas kunci rol film sehingga waktu saya gulung film-nya putus. Jadilah menangis bombay semaleman. Jadi, ketika satu saja foto dari kamera analog berhasil, seperti foto ini, senangnya luar biasa.

Sampai datangnya era kamera digital di dunia saya. Berawal dari Canon Powershot A400 dan adiknya sekarang: Nikon D40. Perlahan, saya berganti pandangan 180 derajat seiring kemampuan olah digital yang semakin terasah. Dengan olah digital, kita bisa memberikan sentuhan yang kita inginkan dimana kamera kita tidak bisa melakukannya. Keterbatasan ini bisa jadi karena kemampuan kamera itu sendiri ataupun kondisi lingkungan yang kurang mendukung.

Efek biru dari filter Circular Polarizer (CPL) bisa didapat dengan mengatur Curve dan Color Balance. Efek filter Infra Red (IR) bisa didapat dengan mengatur Channel Mixer. Efek Depth of Field bisa didapat dengan mengatur seleksi dan melakukan proses Gaussian Blur atau Lens Blur (PS CS3+). Oh, Anda melakukan kesalahan pengaturan exposure? Gampang, pakai Exposure Adjustment, Contrast and Brightness. Warna kurang ngejreng? Pakai Saturation & Hue Adjustment.

Olah digital sampai batas ini, orang masih bisa menerima karena olah digital seperti ini bisa dilakukan di kamar gelap bagi film seluloid (analog) dan bukan merupakan manipulasi atau rekayasa digital. Lalu bagaimana dengan rekayasa digital dalam fotografi itu sendiri? Titik inilah yang menjadi perdebatan sengit di dunia fotografi digital.

Wajah pacar Anda kurang cantik karena pipinya ada dua titik jerawat? Anda tak perlu menyuruh make-up artist untuk menambah alas bedaknya. Cukup memakai Healing Brush Tool atau Patch Tool, jerawat pacar Anda hilang tanpa bekas. Anda merasa foto Anda akan jauh lebih bagus andai ada dua pohon, bukan hanya satu? Duplikasi layernya, geser pohon ke tempat yang Anda inginkan. Beres.

Sampai batas ini, saya setuju ini bukanlah fotografi lagi tetapi sudah masuk dunia digital imaging. Namun demikian, saya sangat tidak setuju dengan pernyataan,

Ah, sekarang mah gampang bikin foto bagus. Tinggal asal jepret, lakukan sisanya di Photosop.

Saya harus menarik ucapan saya yang dulu begitu meremehkan fotografer penganut olah digital. Memang zaman sekarang jauh lebih mudah membuat foto bagus, seiring perkembangan teknologi. Namun bagaimanapun juga, olah digital hanyalah sebuah alat bantu untuk menjadikan foto kita lebih sempurna lagi. Semakin bagus “foto mentah” hasil jepretan kamera, semakin mudah olah digitalnya, semakin bagus hasil akhirnya. Olah digital adalah sesuatu yang wajib di dunia fotografi digital. Tidak percaya? Apakah Anda kira kamera digital memproses gambar tidak secara digital? Mengubah ISO level dan white balance jelas proses yang melibatkan software internal kamera untuk mengisi sensor dengan pixel-pixel. Berawal dari titik inilah perlahan-lahan saya mulai menerima olah digital dengan software pengolah citra seperti Adobe Photoshop. Tentu saja, hingga batas-batas tertentu.

Mari saya tunjukkan bagaimana olah digital mengubah sebuah foto menjadi begitu eye-catching. It’s all about the magic of Adobe Photoshop.

Asli dari kamera:

Setelah di-retouch:

Switch to our mobile site