Entries Categorized as 'Opini saja kok'
February 15, 2008
Kalau kita membaca buku tentang pemasaran semacam buku-buku Hermawan Kertajaya, atau blog-nya Pak Nukman Luthfie, kita menyadari bahwa teknologi pemasaran telah berkembang sedemikian pesat dan canggih. Kini fokus yang digarap bukan hanya pada bagaimana membuat produk semengkilap dan semenarik mungkin, tetapi juga pada “rekayasa” budaya dan pola pemikiran target pasar.
Ambil contoh, produk pemutih dari Pond’s Institute misalnya. Mungkin Anda tidak sadar bahwa Ponds telah mengedukasi pasar Indonesia selama bertahun-tahun. Iklan-iklan Ponds tidak terlalu fokus pada produk, tapi lebih ke brand building. Bandingkan dengan iklan dari TV Innovation Store yang demikian gegap gempita mengeksplorasi produknya. Akibat edukasi bertahun-tahun yang dilakukan Ponds cukup mengerikan. Kini asosiasi masyarakat tentang definisi cantik adalah berkulit putih imut jilbaban. Padahal mayoritas wanita Indonesia berkulit berwarna (cokelat, kuning langsat, hitam manis). Ini otomatis akan mendongkrak penjualan produk-produk pemutih semacam Ponds.
Kemudian soal perayaan Valentine yang jatuh kemarin. Perayaan yang selalu kontroversial. Di sini saya melihatnya sama sekali bukan event keagamaan. Jadi saya heran kenapa masyarakat Islam begitu gerah dengan perayaan ini — ditandai dengan memberondong berbagai fatwa, dalil, dan hadist. Saya melihatnya sebagai salah satu rekayasa budaya yang dilakukan oleh industri dengan target market remaja dan orang yang sedang dimabuk cintah. Tak ayal, kemarin, beribu-ribu tangkai mawar segar terjual, berjuta-juta potong cokelat beredar, restoran dan kafe penuh, kamar hotel habis terpesan, dan beribu-ribu plastik bungkus kondom tersobek dari kotaknya. Marketer tertawa, mereka berhasil.
Tentu saja ini rekayasa budaya yang membawa dampak buruk. Bukan event Valentine-nya, tetapi apa yang dilakukan saat perayaan ini yang buruk. Ini hanyalah salah satu arus pengrusakan budaya dan moral sebagai akibat arus globalisasi. Marketer tidak mempedulikan ini, mereka hanya peduli dagangannya harus laku terjual, dengan cara apapun, termasuk rekayasa budaya ini. Ungkapan cinta dan kasih sayang telah dibungkus secara belebihan menjadi berfoya-foya dan bahkan berzina. Nah, inilah yang jelas-jelas tidak boleh di agama saya. Tidak ada salahnya mengungkapkan cinta dan kasih sayang di hari tertentu, misalnya 14 Februari yang secara global telah dikenal sebagai hari kasih sayang. Tetapi apa yang kita lakukan berikutnya-lah yang perlu mendapat perhatian.
Catatan:
Saya termasuk yang sedih kemarin karena tak ada yang bisa saya ucapi, “Be My Valentine, sweetheart…” Banyak ide tentang puisi patah hati, tapi, biarlah tahun ini, puisi Valentine saya adalah tentang harapan dan cita-cita tentang cintah. [Cintah? Makan tuh Cintah!]
Posted in Opini saja kok
6 Comments »
February 4, 2008
Ya, apalagi kalau bukan soal tarif? Bukannya malah berlomba-lomba memperbaiki kualitas layanan, justru berlomba-lomba membuat mekanisme akal-akalan agar bisa kampanye tarif murah di TV. Saya sebenarnya tak ambil pusing terhadap iklan-iklan tersebut karena tidak yakin mereka tulus memangkas harga. Selalu ada tanda bintang yang berisi syarat dan ketentuan yang ditulis dengan font yang tidak mungkin terlihat. Gara-gara iklan XL versi kawin dengan monyet lah saya penasaran ingin cari tahu.
Kampanye XL menggembar-gemborkan tarif 0,1 rupiah per detik ke seluruh operator. 0,1 rupiah dari Hongkong? Ternyata tarif tersebut hanya berlaku pada menit ke-sekian hingga ke sekian. Menit pertama dan menit berikutnya menggunakan tarif yang normal. Artinya sama mahalnya. Hwarakadah… kalau begitu saya bisa saja bikin iklan dengan tarif gratis, ke semua operator, sepanjang waktu! Untuk menit ke 3000 dan seterusnya… menit pertama tarif tetap
Dan memang setelah saya hitung-hitung, tarif XL pada menit pertama tetap mahal, 25 kali 60 = Rp. 1500. Tarif 0,1 yang digembar-gemborkan itu berlaku pada menit ke-2, artinya setelah orang mengeluarkan uang Rp. 3000.
Telkomsel dengan Simpati Pe-De-nya? Sama saja, hanya berlaku setelah menit pertama. Mereka pasti telah meriset dengan alat Bussiness Intelligence-nya, bahwa statistik pelanggan mereka rata-rata tidak pernah menelepon lebih dari satu menit. Itu artinya, mereka bisa bikin iklan bombastis seakan-akan turun tarif, padahal sebenarnya tidak. Strategi marketing yang luar biasa.
Indosat Mentari yang memasang Dian sebagai endorser mengusung gratis pada 1 menit pertama. Saya belum memeriksa lebih detail lagi, tetapi saya lihat di website Klub-Mentari, ada Term and Condition yang cukup panjang untuk dibaca.
Saya sendiri saat ini sudah jarang menggunakan telepon dan SMS. HP CDMA saya sudah lama tidak pernah aktif lagi, nomor Simpati saya sudah tidak saya isi dan akan memasuki masa tenggang besok lusa. Tinggal nomor IM3 yang masih saya gunakan sebagai nomor utama. Selain untuk SMS-an dan sesekali menelepon, pengeluaran terbesar pulsa M3 ini adalah untuk akses internet via GPRS.
Posted in Opini saja kok
24 Comments »
December 14, 2007
Tidak dapat dipungkiri, pengajar fotografi saya adalah komunitas Fotografer.net. Karakter foto-foto saya (kalaupun punya karakter
) sangat dipengaruhi oleh FN. Saturasi, ketajaman, dan olah digital. Namun, sejak beberapa waktu yang lalu, saya berhenti upload di FN, bahkan mengunjungi situsnya pun sudah sangat jarang.
Ada beberapa hal yang membuat saya tidak upload lagi ke FN. Salah satu hal yang paling tidak nyaman adalah nilai dan komentar. Nilai FN dibagi menjadi 6: 3 Thumbs Up untuk foto yang paling sempurna, 3 Thumbs Down untuk foto yang paling parah. Setiap anggota FN diwajibkan memberikan nilai dan komentar. Sekarang, dari 6 kategorisasi nilai itu, 3 TD hanya untuk para penjiplak, plagiat, dan pembajak. Orang pun sudah jarang yang memberikan nilai 2TU dan 1TU, mayoritas 3TU meskipun sebuah foto tidak layak mendapatkan nilai sempurna. Jadi, jika disimplifikasi, nilai sekarang hanyalah 3TU dan miskin penilaian. Saya pribadi — dengan adanya penilaian ini — wajar jika ingin foto saya memiliki nilai yang bagus. Saya jadi dituntut untuk selalu upload foto-foto yang mencolok agar menarik perhatian di antara sekian ratus foto yang sama-sama tampil. Bukan foto-foto yang bagus, tapi asal mencolok! Saturasi warna dihajar sampai level tertinggi. Foto-foto sederhana tapi bermakna malah tidak laku di FN. Mayoritas foto FN kini dipenuhi dengan: foto sunrise, sunset, infra-red, dan tentu saja…. model cewek! 
Saya menjadi tidak nyaman lagi upload sembarang foto, sehingga saya akhirnya memilih upload foto di blog saja. Saya bebas mengupload foto yang saya suka. Saya bebas bereksperimen warna dan komposisi. Saya bebas mengupload foto yang jelek sehingga dikritik teman-teman. Kritik yang membangun. Di FN, sebuah foto hanya tampak beberapa menit saja karena disusun dalam urutan waktu. Sebuah foto di halaman 3, artinya tidak akan ada orang yang melihat dan itu artinya tidak akan ada kritik dan masukan buat Anda.
Sebenarnya ada situs-situs baru yang berusaha memperbaiki FN yang terlalu malas untuk berubah. Ayofoto.com misalnya. Ayofoto tampaknya berusaha mengurangi keterlibatan olah digital dengan melarang penggunaan frame, berusaha memperbaiki sistem komentar dan nilai. Tapi karena komentar dan nilai bukan hal yang wajib, komentar dan kritik menjadi jauh lebih sepi. Jadi serba salah.
Sehingga, saya menemukan tempat yang nyaman: blog sendiri dan flickr 
Posted in Fotografi, Opini saja kok
13 Comments »
November 24, 2007
Harga minyak dunia menembus US $ 100 per barel. Indonesia, sebagai negara penghasil minyak tidak bisa mencicipi kenaikan ini. Indonesia justru menangis dan kalang kabut menutupi defisit anggaran APBN yang semakin melambung. Banyak kalangan berpendapat bahwa hal ini disebabkan sumber daya alam kita dirampok bangsa asing lewat perusahaan-perusahaan tambang mereka yang ada di negeri ini. ExxonMobil, Chevron, Total Indonesia, dan masih banyak lagi. Pemerintah dituduh telah menjual kekayaan alam ini tidak untuk kemakmuran rakyat. Padahal UUD 1945 pasal 33 (ada yang masih hafal UUD dan Butir-Butir P4?
) telah mengamanatkan hal ini.
Apakah memang benar begitu? Kenapa kekayaan kita dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing? Teman saya, seorang Geologis, yang bekerja di sebuah perusahaan minyak asing memiliki uraian pendapat yang menarik. Berikut kutipannya:
Ini ada artikel gara2 minyak nembus 100$/barel, para Oil kompeni tanah arab nawarin signing bonus 1 juta dollar bwt narik para professional yg udah expri untuk berkiprah disana……
Klo ngomongin gmn mngakomodir UUD 34, yg harus diberantas dulu tuh masalah kemiskinan dan mental orang miskin. Sperti kata pepatah, semua masalah itu berpangkal dari kemiskinan
Skarang negara kita klo nawarin blok migas itu mentahnya doank brur, cuman di survey geologi tp ga pake seismik apalagi sumur wildcat (istilah sumur eksplorasi). Beda sm diluar negeri, disana blok migas itu udah pasti proven reserve-nya berapa..jd investor itu tinggal nyedot isinya. Makanya pemerintah sana pnya posisi tawar yg kuat buat bagi hasilnya
Kenapa kita cuman nawarin mentahnya? Krena kita miskin brur…..skarang nge-run seismic itu hrganya 25 juta $, plus ditambah ngebor sumur wildcat paling enggak 5 - 6 sumur yg masing2 hrganya 5 - 10 jt $, plus akuisisi data sumur & ngetes sumur kaya’ well logging, DST, RFT/MDT, dst, blm lagi masalah fiscal, beli bloknya, dsb….totaL jendralnya minimal 150 JUTA$!! Itu belum tentu dapat Oil ato gas-nya…klo dry hole atau water, ya udah manyun aja…..
Masalahnya, mana ada bank atau perusahaan pembiayaan keuangan yg mau minjemin duit 150 juta dollar cuman buat gambling atau ngebiayain sesuatu yg ga jelas hasilnya…artinya apa?? Kita kudu punya duit tunai brur !!!
Trus ada ga perusahaan nasional ato BUMN kita yg punya duit tunai 150 juta dollar cuman buat eksplorasi?? Ga ada…Pertamina aja budget buat maintain & develop lapangan yg udah ngasilin aja ga nyampe segitu…..
Jadinya kita cuman ngundang investor asing ato perusahaan internasional yg pnya duit tunai segitu kaya’ BP, Chevron, Exxon dsb buat ngeruk kekayaan kita…tp krena yg ditawarin itu cuman blok mentah, otomatis mereka kudu kluar 150 juta dollar dulu donkk…,ya klo toh akhirnya dapet, bagi hasilnya juga kudu diatur….krena gmanapun yg susah payah berkeringat ditambah sport jantung pula krn blm pasti dapet, beda dgn yg ongkang2 kaki tinggal nyedot…
Klo Geologist sm Geophysicist di dunia perminyakan itu jualannya sbenernya sama….bedanya geologist itu berbicara dari data yg sifatnya detail/local (kayak singkapan batuan and well log) kmudian coba di interpretasikan kondisi regionalnya (frog eye), klo geophysicist itu sebaliknya…berbicara dari data yg sifatnya regional (kayak seismic) kemudian coba di interpretasikan kondisi detainya (bird eye).makanya kudu saling ngelengkapi biar oke…
Just for fun….
KeyKiss
Posted in Opini saja kok
16 Comments »
November 13, 2007
Alkisah, dua teknisi IT dari background pendidikan yang berbeda bergabung dan bekerja sama dalam membangun sebuah aplikasi. Teknisi A bertugas membangun infrastruktur dan desain network dan server. Kebutuhannya adalah, server harus tetap tangguh ketika diakses oleh 10.000 pengguna secara bersama-sama. Teknisi B bertugas membangun sistem perangkat lunak yang akan dipasang di atas server tersebut. Kebutuhannya adalah, program harus cepat, tangkas, responsif, dan memiliki sistem validasi yang baik tanpa terlalu banyak membebani kerja server yang sudah berat melayani banyak koneksi.
Ternyata, dua teknisi ini membawa konsep dan desain yang berbeda sehingga pada akhirnya, ada beberapa data yang tidak lulus uji standardisasi. Teknisi B (sistem) berkata, “Itu disebabkan oleh desain dan infrastruktur servernya! Tahu cara menyusun server tercluster nggak sih?” Teknisi A (infrastruktur) berkata, “Itu pasti programnya jelek, terlalu banyak bug, dasar programmer culun tak punya pengalaman!”
Well… anyway, mereka seharusnya menjadi team yang solid bukan? Seharusnya ego masing-masing bisa ditekan untuk kepentingan bersama bukan?
Posted in Developer, Opini saja kok
9 Comments »