Kemajuan Teknologi Tidak Seharusnya Merenggangkan Silaturahmi
Jika ada gurauan yang bilang bahwa Facebook dan social media mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, itu benar sekali. Kita telah bertemu teman-teman lama yang lebih dari sepuluh tahun tak bertemu, yang terpisah yang bahkan dulu adalah orang yang kita naksir berat kepadanya. Sebaliknya, dengan teman-teman dekat kita yang notabene setiap hari bertemu, ketika duduk bareng, kebanyakan sekarang kita saling diam, sibuk dengan BB masing-masing sambil sekali-sekali tersenyum atau terkikik sendiri. Soliter.
Tapi ternyata, ada satu hal lagi yang membuat saya merasa ironis: Events.
Dulu sekali, undangan dicetak berbeda-beda. Yang paling tebal dan paling harum baunya adalah undangan yang ditujukan untuk orang-orang yang paling dihormati dan paling disegani. Kemudian ada undangan yang khusus, dibuat lebih banyak, untuk teman-teman terdekat. Dan yang terakhir adalah undangan standar, dibuat paling banyak hingga beberapa ratus hingga ribuan eksemplar.
Kemudian, undangan yang paling tebal itu diantarkan secara khusus oleh si pemilik acara sendiri. Istilah Jawa-nya: atur-atur. Intinya adalah pemberitahuan resmi bahwa si pengundang memohon dengan sangat agar yang diundang datang ke acaranya. Sedangkan untuk undangan standar, biasanya diantarkan oleh kurir.
Kemajuan teknologi telepon, email, dan SMS telah membawa ke era baru dalam hal perkembangan budaya “undang-mengundang” ini. Karena mencetak undangan itu sangat mahal, maka teknologi yang praktis pun dipilih. Biasanya, telepon untuk menggantikan undangan tebal nan harum dan harus diantarkan sendiri itu. Email dan SMS untuk menggantikan undangan standar. Meskipun masih ada beberapa orang yang belum bisa menerima ini, tapi basically saya sudah bisa menerima.
Telepon, email, dan SMS masih membutuhkan komunikasi langsung, artinya, si pengundang memang masih harus mengundang satu per satu dengan cara yang lebih mudah. Masih ada kalimat sapaan, say hello, atau paling tidak masih ada tujuan. Semakin pribadi, kesan personalnya semakin hangat terasa. Misalnya, “Galih, kalau kamu nggak sibuk, tanggal sekian dateng dong ke acara ultahku…”
Nah, kehangatan personal ini tidak saya rasakan di undangan berbentuk Events di Facebook. Tidak ada sapaan pribadi, tidak ada say hello, bahkan tidak ada undangan yang sesungguhnya. Tiba-tiba saja saya mendapat notifikasi dari Facebook bahwa saya diundang di suatu acara. Apakah si pengundang benar-benar mengundang saya? Jangan-jangan ia hanya select all his/her friends di facebook tanpa tahu siapa yang dia undang? Oh, apakah teman saya sejahat itu? Mungkin tidak, tetapi itulah kesannya. Saya merasa seperti di-tag di foto, bukan seperti diundang. Memang praktis, si pengundang tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga dan biaya, dan ia bisa berkonsentrasi hal lain yang lebih penting (tapi apakah undangan bukan faktor penting juga?). Tidak ada rasa seperti, “Galih, kalau kamu nggak sibuk…”
Mungkin saya tinggi hati ya? Entahlah, tapi saya hanya merasa bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya merengganggkan tali silaturahmi. Mengapa? Karena ketika ada seorang teman yang merelakan waktunya untuk secara personal mengundang saya, saya seperti mendapatkan kehormatan, kehadiran saya rasanya akan begitu berkesan untuk teman saya itu, jadi saya berusaha menyisihkan waktu, menyisihkan tabungan untuk membeli tiket pesawat jika letaknya jauh, untuk datang ke acara. Untuk sekadar bersilaturahmi dengan teman yang mungkin tidak lebih dari tiga menit.
Sebaliknya, saya merasa tidak spesial jika menurut saya undangannya juga tidak personal. Jadi mungkin prioritasnya juga rendah. Cukup dengan do’a yang mengiringi.
Bagaimana dengan Anda?
Tentang Kata “Which Is”
Udara dingin sedang menyelimuti Jakarta malam itu. Hujan deras menyusul tanpa ampun mengguyur kawasan Pancoran dan sekitarnya. Tetapi bagi saya, malam masih panjang. Di sebuah sudut ruang 303 gedung ILP Pancoran Jakarta Selatan, guru Bahasa Inggris saya, Ms Rina, sedang menjelaskan kalimat majemuk Bahasa Inggris yang menggunakan konektor from which.
Seketika itu pula, saya teringat oleh fenomena berbahasa yang cukup mengusik saya sejak tiga tahun yang lalu. Saya amati, para profesional khususnya di Jakarta ini cukup suka memakai bahasa campur-campur. Setengah Bahasa Indonesia, setengah Bahasa Inggris. Saya tidak tahu apa motifnya, tetapi saya sering menjumpai ini. Misalnya,
Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapore, which is itu sangat sulit kita lakukan.
Ini menarik. Which is. Saya kira, kalau kita konsisten menggunakan Bahasa Indonesia, kalimat di atas sebaiknya,
Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapura yang mana itu sangat sulit kita lakukan.
Penghubung yang selalu dipakai adalah which is. Padahal, di Bahasa Inggris sendiri, konektor banyak sekali macamnya tergantung konteks. Which is, who is, where, from which, in which, dsb. Artinya, kalau andai kalimat di atas dijadikan Bahasa Inggris, belum tentu penghubung which is itu tepat penggunaannya.
Lingua Franca
Banyak sekali unsur-unsur yang merusak (atau justru memperkaya?) bahasa kita. Paling sering saya temukan adalah penggunaan Bahasa Inggris. Mungkin Bahasa Inggris terdengar lebih enak di telinga ya? A New Day Has Come rasanya pas banget jadi judul blog saya ketimbang Suatu Hari yang Telah Tiba yang terdengar jadi aneh.
Mungkin karena Bahasa Indonesia adalah berkembang dari bahasa pergaulan (lingua franca) sehingga sangat fleksibel dalam struktur gramatikal dan mudah menerima pengaruh dari bahasa lain.
Memang rasanya jadi aneh jika dalam pergaulan kita menggunakan bahasa baku. Nggak usah jauh-jauh, saya merasa blog ini menjadi sangat resmi, sopan, kaku, nyungkani (segan), dan mau tidak mau itu mencitrakan saya. Tetapi itu semata-mata agar saya tetap bisa melatih dan menjaga Bahasa Indonesia saya dengan baik dan benar. Saya tidak terlalu piawai berbahasa dengan baik, oleh karena itu saya menulis dengan bahasa yang baik untuk melatih kemampuan berbahasa.
Saya pikir, kita sulit bisa menguasai Bahasa Indonesia baku dengan baik sekaligus Bahasa Indonesia gaul (loe gue ala orang Jakarta). Karena lidah saya adalah lidah Jawa yang tidak bisa direparasi lagi untuk mengeja gue dengan fasih, saya memilih untuk menjaga Bahasa Indonesia saya agar tetap rapi, terstruktur dengan baik, dan tidak terlalu melenceng dari kaidah. Sudah Bahasa Inggris berlepotan, Bahasa Indonesia sama saja. Secara tidak mampu dua-duanya, akhirnya yang ada adalah bahasa campur-campur nggak jelas seperti penggunaan kata which is itu tadi.
Kemana Independensi Metro TV?
Saya sudah lama berkesan bahwa MetroTV tidak independen dalam berita-beritanya. Karena hal itu tersamarkan oleh Tapi saya tidak pernah melihat Metro sevulgar ini dalam menyajikan bedah editorialnya edisi hari ini: Pengerdilan Demokrasi.
Andi yang juga Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu melontarkan pernyataan itu ketika berorasi dengan penuh semangat di depan pendukung capres-cawapres SBY-Boediono di Makassar, Sulawesi Selatan.
Banyak yang marah atas pernyataan Andi itu. Kemarahan yang sangat wajar, karena demokrasi yang dengan susah payah ditegakkan, bahkan dengan darah dan air mata anak bangsa, hendak dimundurkan puluhan abad ke belakang.
Subjektivitas saya melihat, apa pun yang dicelotehkan para tim sukses capres tidak ada yang bermutu. Seperti anak kecil yang memamerkan bahwa ayahnya dokter, gubernur, lalu satu sama lain tak mau kalah dan akhirnya berantem. Coba lihat cara debat mereka, bisa sangat riuh rendah, moderator tidak berdaya lagi dalam memilah-milah dan mengatur alur debat. Mungkin bukan debat kusir lagi namanya, tapi hanya adu argumen yang sama sekali tidak mendidik. Seperti sinetron. Sayangnya, jualan tayangan model begini ada di setiap media televisi terestrial.
Yang saya tidak mengerti adalah betapa Media Indonesia (dan Metro TV) mengangkat salah satu ocehan tak bermutu itu menjadi tajuk editorial harian mereka. Gaya penulisannya pun tidak menurut aliran jurnalistik yang bersifat paparan dan deskriptif, tetapi lebih hidup dengan cenderung mengambil gaya personal yang persuatif. Lebih mirip blog pribadi — yang seharusnya tidak terjadi dalam sebuah media resmi. Sisi subjektivitas saya menilai, artikel itu sama sekali jauh dari isi sebuah ulasan dari media jurnalis yang besar di Indonesia.
Dulu saya menyukai acara Bedah Editorial Media Indonesia, karena ulasannya yang tegas dan tajam, ditambah narator yang sangat berkarakter dalam penyajiannya. Tapi lama kelamaan, ketajaman itu menjadi sesuatu yang menjengkelkan karena tidak disertai oleh argumen yang cerdas.
Apalagi ketika kita melihat sosok di balik nama besar Media Group, maka tentu saja tuduhan tidak independen ini akan muncul secara wajar ketika kita membaca artikel editorial edisi hari ini. Kalau begini saya kembali teringat pada tokoh antagonis film James Bond: Tomorrow Never Dies, Elliot Carver, pemilik Carver Media Group Network, yang kira-kira jika saya sarikan kembali, ia berkata,
Kini orang tidak perlu menguasai militer untuk menguasai dunia. Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia!
Alangkah mengerikan membayangkan jika posisi media di Indonesia sudah seperti apa yang dikatakan Elliot Carver. Semoga itu tidak benar, dan Metro TV kembali kepada independensinya seperti yang seharusnya dilakukan oleh media jurnalistik resmi.
Tentang Pencitraan Para Capres
Ada dua pasangan capres yang royal belanja iklan untuk pencitraan diri menjelang Pilpres 2009 ini. SBY-Budiono dan JK-Win. Sementara, pasangan yang awalnya diduga akan jor-joran iklan karena ada faktor Prabowo, malah adem ayem jarang sekali beriklan, sangat berbeda ketika Prabowo masih sendiri.
Siapa yang paling efektif? Menurut saya, Jusuf Kalla. JK berhasil mencitrakan diri sebagai sosok yang cerdas, tegas, berani mengambil tanggung jawab keputusan pada saat yang kritis. Iklannya efektif. Ada faktor kunci iklan yang penting, yaitu adegan JK melepas sepatu JK Collection, dan monolognya tentang pembangunan bandara yang menggunakan tenaga sendiri tanpa bantuan asing. Iklan-iklannya selalu kreatif, menggelitik, dan orisinal.
Pidato-pidatonya paling aplikatif dibanding SBY yang cenderung normatif dan prosedural. Ia bahkan jauh lebih merakyat daripada Mega yang selalu mengklaim pro rakyat. Dan yang terpenting adalah, timnya berhasil meredam citra negatif pada sisi Wiranto, menonjolkan keberhasilan pemerintah sebagai keberhasilan JK dengan tindakannya yang trengginas, dan menyodorkan kegagalan pemerintah sebagai akibat SBY yang lamban.
Pencitraan SBY-Budiono juga bagus, tapi belum cukup bagus. Karena incumbent, mereka menjadi musuh bersama dua pasangan lainnya. Iklan terbaik adalah versi Indomie yang dinyanyikan oleh Mike Idol. Sayangnya keberhasilan di iklan kurang diikuti di penampilan-penampilan mereka. Pidato SBY normatif, prosedural, dan *maaf* bikin ngantuk.
Pukulan terbesar ada di Budiono. Tiba-tiba saja ada yang menggulirkan isu Neolib yang sukses ditempelkan ke beliau. Apa itu ekonomi neolib, kerakyatan, pancasila, tidak penting. Yang penting adalah citra bahwa neolib itu jelek, ekonomi kerakyatan itu bagus. Herannya, tim SBY-Budiono tidak melawan serangan pencitraan ini dengan serius.
Mega-Pro Rakyat? Ini menarik. Awalnya saya duga, ketika Jenderal Prabowo masuk, akan ada proyek pencitraan besar-besaran lewat belanja iklan, karena Prabowo sukses mencitrakan Gerindra di Pemilu Legislatif. Tapi ternyata tidak. Konsep Prabowo bagus, pidatonya cerdas dan tegas. Sayang beliau hanya menjadi Cawapres saja, dan mungkin karena faktor ini, Prabowo tidak bersemangat seperti dulu lagi.
Ibu Megawati? Tidak ada perkembangan berarti sejak zaman dahulu kala. Mungkin sekarang lebih berani tampil di depan umum untuk menyampaikan konsep. Masalah rumit bagi tim pencitraannya karena beliau pernah memimpin negeri ini. Apapun serangan yang dilancarkan ke pemerintah selalu berbalik dengan pertanyaan sederhana, “Kenapa itu tidak terjadi di pemerintahan yang ibu pimpin?” Bandingkan dengan bentuk kritikan JK yang cerdas.
Sebenarnya Megawati Soekarnoputri sudah habis. Jualan ideologi, teriakan merdeka, dan fanatisme Soekarno sudah tidak laku lagi. Sulit mencitrakan Mega di zaman sekarang. Selain faktor pidatonya — saya malu jika mendengarkan ibu Mega berpidato menyampaikan konsep langsung di depan forum — pengalaman pernah menjadi presiden sulit untuk dicitrakan secara baik.
Saya kira, putaran kedua Pilpres nanti antara SBY-Budiono melawan JK-Wiranto adalah final ideal. Seperti final Liga Champion yang mempertemukan juara bertahan Manchester United melawan Barcelona.
Tentang Kata Contreng yang Tidak Baku
Pemilihan Umum 2009 merupakan tonggak awal sistem baru dimana pemilih tidak lagi mencoblos tanda gambar tetapi dengan mencoretkan tanda seperti v atau cawang pada pilihannya. KPU menyebut cara ini sebagai mencontreng. Saya tak yakin pasti bahwa KPU mensosialisasikan cara ini dengan sebutan “contreng”, tapi yang jelas, semua media massa memberitakan cara ini sebagai pen-contreng-an.
Ah, KPU adalah lembaga negara yang formal. Sungguh sedih rasanya melihat sebuah lembaga formal tidak menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kalau lembaga formal saja tidak memakai bahasa baku, apa iya penduduknya bisa menggunakan bahasanya sendiri dengan baik dan benar?
Kata contreng tidak saya temukan di KBBI Daring Online. Saya menemukan kata “centang” yang baku yang memiliki makna sama. Seharusnya, untuk mendidik masyarakat menggunakan bahasa baku, istilah-istilah yang digunakan dalam kelembagaan negara juga menggunakan bahasa baku pula, sesuai dengan petunjuk penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebaiknya, istilah menandai pilihan adalah pen-centang-an, bukan pen-contreng-an.
Memang, Bahasa Indonesia berakar dari lingua franca atau bahasa pergaulan. Namanya bahasa gaul, Bahasa Indonesia sangat mudah menerima adaptasi dan adopsi istilah-istilah dari bahasa lain. Hal ini sesuai dengan karakter Indonesia yang bhinneka tunggal ika. Namun demikian, tetap saja ada pedoman Bahasa Indonesia yang baku itu seperti apa. Penggunaannya tentu bukan di kehidupan sehari-hari, tetapi di tingkat resmi seperti Pemilu dan KPU. Ironisnya, hal ini tidak terjadi, justru di pergelaran yang paling populer bagi bangsa Indonesia.
Salah satu alasan saya menulis di blog dengan gaya bahasa yang formal adalah mempertahankan dan melatih kemampuan berbahasa Indonesia saya. Sudah sulit bisa mendapatkan lingkungan dimana orang saling berbahasa secara baku. Oleh karenanya, meskipun berakibat gaya bahasa saya menjadi kaku dan formal begini, saya sekuat tenaga menghindari penggunaan kata-kata yang tidak baku, kecuali ketika ada satu titik dimana saya harus menggunakan kata tidak baku untuk melenturkan kalimat.
Apakah Anda masih bisa membuat satu paragraf lengkap dengan baik dan benar?
Budaya Membaca, Kenapa Menjadi Sebuah Gaya Hidup Mewah?
Tentang Sebuah Keprihatinan Bahwa Hobi Membaca itu Mahal
Sore itu, malam minggu di awal tahun 2009, Jakarta sungguh cerah. Usai mencuci si Jupie hitam di bilangan Cililitan, saya melarikannya ke Gramedia Matraman, tempat favorit saya belanja belanji buku. Setiap kali ke toko buku ini, saya merasa menjadi bagian dari gaya hidup orang-orang kaya raya. Padahal, Gramedia tak lebih dari sebuah toko buku. Tetapi lihat tempatnya yang begitu berkilau, mewah, pencahayaan sempurna, pelataran parkir yang luas penuh sesak dengan mobil, dan pengunjung dengan air muka yang mengesankan: kecerdasan, wawasan luas, serta — jika meminjam istilah gaul — kebebasan finansial.
Saya tak heran. Untuk bisa membawa sebuah buku pulang, nyaris tidak ada buku bermutu yang berada di bawah harga Rp. 30.000. Buku yang agak bagus dengan sampul yang aduhai mengkilap dengan desain yang luar biasa harganya sekitar Rp. 55.000. Agak bagus, karena kebanyakan buku-buku itu misleading: berjudul menarik bersampul menggoda, padahal jika ditelusuri isinya sekilas saja, tidak ada sesuatu yang bagus. Nah, buku-buku yang benar-benar bagus biasanya bersampul tebal (hardcover) dan ini harganya amit-amit, di atas Rp. 70.000. Praktis, Anda harus minimal mengeluarkan lembaran uang berwarna biru dari dompet Anda. Jadi wajar kalau kebanyakan yang berkunjung ke sini adalah orang-orang dengan kebebasan finansial.
Padahal, buku adalah sumber ilmu pengetahuan dan wawasan tanpa batas. Lalu jika begini, kapan kita bisa maju? Impian budaya membaca untuk bangsa ini rasanya jauh sekali. Padahal, ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun berbunyi: Iqro. Bacalah! Bagaimana bisa membaca kalau harga bacaan saja selangit?
Satu-satunya media yang paling dekat dengan masyarakat luas adalah TV terestrial. Tapi astaga, tayangan yang ada hanyalah arus pembodohan massal. Itu bukan sumber wawasan, hanya industri saja. Benar-benar mengerikan menyadari apa yang tersaji di televisi dan tahu tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya: sinetron perusak moral, dan berita yang isinya tentang mutilasi melulu. Televisi dengan isi yang bagus sekarang malah TVRI, tapi penyajiannya tidak pernah berkembang sehingga terkesan norak dan ketinggalan jaman. Oh, come on…
Bagaimana dengan perpustakaan? Aih, dengan minat baca yang rendah, perpustakaan menjadi sebuah artifak kuno penuh dengan rak-rak berdebu yang suram temaram. Setiap sore di hari Jumat Kliwon dan Selasa Pahing, anak-anak hantu genderuwo menampakkan diri dan dengan riang gembira meloncati rak-rak buku itu, membuat penjaga perpustakaan kabur tunggang langgang. Satu-satunya perpustakaan yang saya tahu selalu penuh dengan atmosfer dan aura yang meletup-letup haus akan ilmu pengetahuan adalah perpustakaan kampus universitas. Tapi hei… sekarang mau masuk universitas juga mahal. Glek…
Kalau begini, kapan kita bisa maju?
Disclaimer: Ke Gramedia, bukan berarti saya juga ikut-ikutan bebas secara finansial, tapi memang karena saya suka membaca, jadi saya sekuat tenaga selalu menyisihkan anggaran untuk membeli buku.
Photo Plagiarism
Kalau soal tulisan saya diplagiat orang dan kemudian ada yang protes bahwa saya plagiat tulisan saya sendiri, itu sudah biasa. Nah, yang agak belum biasa adalah kenyataan banyak foto-foto saya yang juga diplagiat. Dicuri dari blog ini kemudian dipasang di tempat lain untuk keuntungan tertentu tanpa izin saya. Padahal saya telah memberi cap copyright Creative Commons. di footer blog ini.
Sejelek apa pun foto saya, mau tak mau, itulah hasil karya saya yang dibuat dengan penuh cinta. Minimal ada setetes dua tetes keringat yang jatuh dari ujung rambut untuk membuat foto tersebut. Saya tidak meminta macam-macam kalau ada orang yang berapresiasi dan bermaksud menggunakan foto saya. Cukuplah saya tahu dan tunjukkan penghargaan Anda terhadap hasil karya orang lain dengan menyebutkan siapa yang membuat karya foto tersebut. Syukur-syukur kalau ada backlink ke homepage saya.
Beberapa kawan memproteksi foto mereka dengan memasang watermark di foto tersebut, salah satunya fotografer ini. Tapi buat saya, penempatan watermark itu sangat menganggu. Mengurangi segi artistiknya. Mungkin buat kawan-kawan itu, cara ini sangat efektif karena mau tak mau watermark itu akan ikut kemana-mana, sang plagiator harus bekerja keras kalau ingin menghilangkan watermark. Mau di-crop saja ya nggak bisa, karena penempatan watermark itu tepat di Point of Interest-nya.
Sampai saat ini, saya masih belum menggunakan cara itu. Saya masih cukup legawa melihat foto saya ada di sebuah tempat dimana saya menemukannya dengan tidak sengaja. Toh, saya tidak mengkomersialkan foto saya. Kalau ada orang yang ingin membeli foto saya, saya selalu jawab, tidak untuk dijual. Tapi meskipun begitu, harap diingat bahwa itu copyright Creative Commons. Saya hanya minta sumbernya ditulis, demi penghargaan atas karya cipta sebuah seni.
PS: Bayangkan betapa menyedihkan para seniman yang membuat lagu-lagu bagus itu, hasil karyanya dibajak habis-habisan, didownload semena-mena, tanpa mendapatkan penghargaan atas karya komersial mereka.
Comments