Kenapa Harus Propietary?
Saya bukan orang yang suka mendikotomikan sebuah solusi IT, khususnya apakah itu propietary ataukah open source. Saya cukup heran dengan orang-orang yang fanatik terhadap suatu produk, apakah itu open source, Microsoft, ataukah Apple. Saya lebih suka membandingkan mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan.
Dari komentar Cak Dion di sini, saya baru tahu kalau ITS mengadopsi Google Appliances dan memigrasi layanan email dari yang awalnya menggunakan infrastruktur sendiri menjadi berbasis GMail. Meskipun kemudian saya mengetahui bahwa orang yang memasang aplikasi ini adalah orang yang sama dengan yang merintis infrastruktur internet di bawah bendera ITSnet (noc.its.ac.id).
Saya menulis ini karena rasa sense of belonging saya dengan ITS. Saya dibesarkan di sana dan mendapat kesempatan belajar sebentar di ITSnet kepada orang yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya. Jadi saya merasa perlu mengutarakan pendapat saya.
Saya agak menyesalkan dan tidak mengerti keputusan ITS mengadopsi Google Appliances. Ini teknologi propietary. Ini bukan masalah gratis atau membayar. Ini adalah tentang kebebasan bereksplorasi dan bereksperimen.
Dalam pemikiran saya, sebuah lembaga pendidikan seharusnya memberikan ruang seluas-luasnya untuk bereksplorasi teknologi karena memang disitulah tempat belajar. Dan saya melihat itu hanya bisa ditawarkan oleh teknologi yang open source. Terbuka. Tidak tergantung suatu vendor.
Dengan Linux yang open, kita bisa belajar bagaimana sebuah sistem operasi bekerja, bagaimana cara sistem operasi berkomunikasi dengan hardware, menyemaikan proses, membuat thread, dsb. Ini tidak mungkin terlihat di Windows dan Mac. Dengan Squid kita bisa belajar cara kerja proxy server. Bagaimana pengaturan koneksi dan manajemen bandwidth. Ini lagi-lagi tidak akan terlihat di Microsoft ISA server. Dengan Zimbra (atau Postfix atau Qmail) kita bisa belajar bagaimana cara email bekerja dengan protokol SMTP, IMAP, dan POP3. Kita bisa mengkonfigurasi sambil berkeringat untuk membuatnya bekerja dengan baik. Ini tak bisa terlihat di Microsoft Exchange Server, atau bahkan yang berbasis layanan seperti GMail.
ITSnet adalah divisi di bawah Puskom ITS yang bertanggung jawab terhadap semua infrastruktur teknologi informasi di ITS. Mulai memasang kabel jaringan sampai aplikasi-aplikasi di atasnya — termasuk website, email server, internet service, dll. Saya bisa mengerti bahwa memberikan layanan terbaik adalah sebuah keharusan. Tapi tetap saja ini bukan perusahaan, ini adalah lembaga pendidikan yang sebaiknya tetap memberikan ruang bagi mahasiswa-mahasiswanya untuk magang dan belajar praktik di sini. Apa yang bisa dipelajari kalau teknologinya propietary semua? Sedikit kembut-kembut dan kadang-kadang putus masih bisa ditolerir lah. Cincai lah…
Saya tidak tahu apakah mahasiswa sekarang sudah sedemikian malasnya bereksperimen di lab ataukah memang kurikulum yang telah berubah. Mungkin anak-anak S1 sekarang diarahkan langsung untuk menjadi sistem analis kali ya?
Tetapi memang di zaman sekarang susah sekali mencari lulusan IT yang benar-benar jago teknologi — entah programming ataupun infrastruktur. Sertifikasi-sertifikasi yang ada sekarang sudah gampang dicurangi sehingga sekarang tidak terjamin orang yang certified adalah orang yang mumpuni di bidangnya. Saya, di industri IT, kebanjiran sarjana-sarjana komputer, tetapi kita sangat kekurangan tenaga-tenaga yang benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh bidang keilmuannya.
Peringatan Gerakan 30 September
30 September 1997, siang hari, saya masih ingat saya sibuk mengatur perwakilan kelas saya yang akan ikut serta dalam acara nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI di aula sekolah SMP 2 Tulungagung. Saya sendiri lolos dari daftar karena rumah saya ada di luar kota — lagipula saya tidak suka film G30S/PKI sejak masih aktif diputar setiap tahunnya. Adegan horor-nya itu traumatis. Saya pikir film itu secara sinematografi sangat sukses. Saya benci setengah mati dengan PKI, selalu waspada terhadap bahanya komunisme, pahlawan revolusi yang berjasa berkorban menjadi martir, dan tentu saja terima kasih kepada Jenderal Soeharto.
Orde Baru memang secara efektif menggunakan jalur pendidikan sebagai salah satu sarana propaganda dan doktrinasi untuk otak-otak yang masih segar dan polos. Waktu SD saya hobi membaca cerita sejarah Serangan Umum 1 Maret, Enam Jam di Jogja, novel dan komik sekaligus! Entah siapa penulisnya, tapi dua buku itu sukses membuat saya mengidolakan tokoh Letkol Soeharto yang heroik.
Kembali ke sejarah Gerakan 30 September, tentu saja setelah tulisan-tulisan alternatif muncul pasca runtuhnya rezim Orba, film itu disadari adalah bagian dari propaganda politik. Sejarah memang ditulis oleh sang pemenang. Jadi apakah cerita alternatif yang benar? Belum tentu juga. Banyak sekali teori-teori konspirasi yang didasarkan fakta yang hanya tersedia sepotong-sepotong, sehingga untuk menyusun puzzle yang lengkap, diperlukan asumsi-asumsi subjektif dari si penulis teori. Tidak mungkin saat ini membuka cerita yang sebenarnya dari tragedi politik 30 September 1965 dan rangkaian peristiwa yang mengikutinya, karena tokoh-tokohnya — termasuk tokoh sentral Soeharto — sudah almarhum.
Saya menyusun artikel saya sendiri ini berdasarkan literatur buku “Dalih Pembunuhan Massal” karangan John Roosa, liputan utama Majalah Tempo edisi 1-7 Oktober 2012, dan novel Ken Arok karya Pramoedya Ananta Toer, yang konon merupakan sindiran halus terhadap peristiwa G30S itu.
Politik bukanlah seperti cerita kepahlawanan klasik, tidak ada istilah superhero yang hebat dan benar, sekaligus tak ada istilah si antagonis yang jahat. Saya melihat G30S adalah efek dari percaturan politik kelas tinggi. Demikian pula, saya cenderung tidak melabeli setiap tokoh G30S dengan warna tertentu, entah hitam entah putih, termasuk Soeharto yang sedang dibenci banyak orang itu. Semuanya sama, sebagai pemain catur politik. Setiap pemain bertindak berdasarkan reaksi lawan, dan berusaha memprediksi tiga empat langkah ke depan efek manuver politiknya.
Tahun 1965, kondisi politik memang sedang carut marut. Paling tidak ada tiga pihak yang berkepentingan dalam perebutan kekuasaan: Presiden Soekarno sebagai pemegang kekuasaan, militer — lebih khususnya Angkatan Darat, dan PKI. Setiap pihak berusaha membaca peta kekuatan, saling menghembuskan isu, dan menunggu momentum. Di Angkatan Darat sendiri ada pertikaian internal antara Jenderal Ahmad Yani dengan Jenderal Nasution. Namun cepat atau lambat, Angkatan Darat akan melakukan kudeta. Menggulingkan kekuasaan Soekarno itu masalah gampang, permasalahan yang sangat rumit adalah bagaimana melanggengkan kekuasaan pasca kudeta melihat Bung Karno adalah pujaan seluruh rakyat Indonesia.
Petinggi PKI yang merancang gerakan ini, DN. Aidit dan Sjam, merasakan hal yang sama. PKI merasa jika AD melakukan kudeta, mereka akan kehilangan momentum karena tidak adanya penyokong gerakan komunisme mereka yang selama ini dilindungi Bung Karno dalam paham Nasakom: Nasionalis Agama dan Komunis. Mereka memutuskan untuk mendahului AD, menculik petinggi AD lalu menghadapkannya ke depan Bung Karno. Jadi, G30S adalah gerakan yang dimaksudkan sebagai gerakan mulia: untuk kesetiaan kepada Bung Karno. Bung Karno akan segera mengganti para petinggi Angkatan Darat dan jika itu yang terjadi, wajah Indonesia tentu akan menjadi sangat lain hari ini.
Sayangnya operasi itu gagal total karena sebagian besar perwira ABRI terbunuh, termasuk Yani sendiri. Tentu saja Bung Karno tidak mungkin mendukung operasi seperti itu. Makanya kemudian gerakan G30S sendiri jadi kacau balau sehingga mudah dipatahkan oleh Kostrad dan RPKAD di sore harinya.
Lalu dimana posisi Mayor Jenderal Soeharto? Soeharto jelas adalah tokoh yang paling diuntungkan dalam kekacauan operasi G30S. Tidak cukup bukti bahwa ia adalah dalang yang sangat lihai mengatur G30S. Tetapi pastinya ia juga bukanlah jenderal yang terkaget-kaget yang beruntung menerima durian runtuh.
Sebagai perwira yang diremehkan, ia juga berhitung membaca peta politik. Ia jelas tahu posisi bidak-bidak catur ada dimana. Ia sendiri tentu memiliki perhitungan sendiri. Dan ia memutuskan untuk tetap berada di lapis kedua, bertindak sebagai penyerang lubang dari pihak Angkatan Darat yang sedang dikendalikan oleh Yani. Tetap berada di area yang tidak terlihat adalah keuntungan utama Mayjend Soeharto. Dan lawan politik yang paling berbahaya adalah lawan yang kelihatan lugu, polos, innocent, yang sebenarnya siap melakukan manuver ketika momentum berada di tangannya.
Saya menduga setiap pihak, termasuk Soeharto, sudah menduga akan terjadi kejadian semacam G30S itu, entah dari pihak PKI atau AD sendiri. Ketika PKI berinisiatif membuka serangan, seperti yang ditunggu-tunggu AD, saat itulah saat yang tepat untuk dalih mengambil alih kekuasaan atas nama darurat militer. Ketika mayoritas petinggi AD terbunuh, dan melihat situasinya saat itu, jelas momentum ada di tangan Soeharto.
Kekacauan operasi G30S memudahkan Kostrad menyelesaikannya. Sore hari kantor RRI sudah direbut kembali. Tentara Batalyon yang “nganggur” di lapangan Merdeka mudah saja dibujuk menyerah masuk ke markas Kostrad karena mereka kelaparan sejak semalam belum makan. Koordinasi dapur umum yang buruk menyebabkan itu. Momentum yang ada di tangan terlalu besar untuk dilewatkan. Sudah saatnya Soeharto tampil sebagai pemain utama setelah sekian lama diremehkan. Itu menjelaskan penolakan dirinya mengikuti protokol perintah dari Bung Karno.
Urusan menjinakkan G30S itu urusan remeh karena memang gerakan itu kacau sendiri. Permasalahan peliknya, dengan modal awal momentum tersebut, bagaimana mengkudeta kekuasaan Presiden Soekarno sendiri. Sejarah telah menulis bahwa Soeharto telah menggunakan strategi kudeta merangkak yang world class. Rezim Orba bertahan selama 32 tahun dengan langkah-langkah awal yang disiapkannya ketika itu.
Tentu saja G30S harus dibesarkan dari keadaan sesungguhnya. Seperti Serangan Umum 1 Maret yang dibesarkan, lebih besar dari peran Sultan HB IX sendiri. Dan itulah yang terjadi. Segala propaganda, kampanye, perang urat syaraf dilancarkan. G30S adalah penjahat terkutuk. PKI adalah bahaya laten komunis! Komunisme, dengan lambangnya palu dan clurit, dicitrakan sebagai hantu yang sangat mengerikan. Korban pembunuhan massal adalah ekses politik yang harus disadari sebagai biaya untuk itu.
Menyedihkan memang. Tetapi setiap revolusi selalu meminta tumbal. Seperti perang militer, perang politik selalu mengakibatkan korban dari yang tak bersalah. Sekian ratus ribu nyawa melayang. Jutaan keluarga kehilangan masa depan selamanya hingga sekian keturunan karena kadung dicap sebagai PKI. Bukankah Reformasi 1998 juga sama saja? Penggulingan rezim Orde Baru juga meminta tumbal korban yang sama jumlahnya. Berapa banyak korban mati sia-sia dalam demo kerusuhan mahasiswa? Berapa banyak wanita yang diperkosa dalam kerusuhan Mei 1998?
Tadi pagi waktu lewat depan TMP Kalibata, para tentara nampaknya bersiap-siap mengadakan upacara peringatan. Mengenang Pahlawan Revolusi yang patungnya berdiri gagah di Lubang Buaya. Terus terang makna pahlawan bagi para jenderal itu agak terdistorsi di benak saya sekarang. Mereka hanyalah pemain catur politik yang kalah langkah. Pahlawan-pahlawan yang sesungguhnya seharusnya adalah mereka yang menjadi martir politik, tumbal sejarah, yang tidak tahu menahu kejadian sesungguhnya.
They’re Just Everywhere
Ketika infrastruktur telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan orang-orang, saat itulah infrastruktur dilupakan sebagai hal yang sangat penting. Mereka hanya berteriak ketika infrastruktur bermasalah dan tidak mau mengerti bahwa dibalik kinerja sebuah infrastruktur, dibutuhkan kerja keras yang membutuhkan banyak energi.
Saya sering merasakan itu terkait dengan pekerjaan saya di bidang IT yang bertugas mendukung kegiatan pengeboran minyak dan gas. Seringkali orang lupa bahwa IT itu telah menjadi bagian dari proses bisnis mereka yang telah terkomputerisasi sepenuhnya. Orang tidak sadar bahwa IT telah jadi business enabler. Ketika hal berjalan dengan semestinya, IT dilupakan. Tetapi ketika IT bermasalah, orang-orang blaming dan berteriak ke IT yang bekerja tidak becus.
Ternyata, hal yang sama terjadi pada sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari yang mungkin tidak kita sadari, yaitu listrik! Ketika listrik menyala, kita ya biasa-biasa saja, memang itu lah yang seharusnya. Tetapi jika listrik mati sejam saja, kita sudah teriak-teriak bilang PLN tidak becus, tidak berguna, dsb. Paling tidak itu kesan saya ke PLN: perusahaan yang tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar, dilaporkan selalu merugi padahal memegang pasar monopoli, duitnya banyak dikorupsi.
Saya tidak pernah menyadari kalau sebenarnya PLN itu perusahaan raksasa. Saya seperti buta bahwa berapa besar energi yang dideliver PLN untuk menghidupi ibukota Jakarta saja — tunggu, satu mal Senayan City yang bergemerlapan itu saja dulu, berapa juta megawatt yang dibutuhkan. Dan PLN dituntut menyediakan listrik untuk seluruh Indonesia. Seluruh I-n-d-o-n-e-s-i-a. Dengan kualitas availability diatas 95% setahun.
Ini saya sadari ketika mendengarkan presentasi seorang konsultan asset management di kantor, yang menceritakan pengalamannya membangun sistem asset management di PLN. Bagaimana penghematan cost dilakukan dengan menerapkan sistem tersebut. Sistem, tidak hanya berbicara mengenai tools dan sistem IT yang dibangun, tetapi juga menyangkut organisasi, orang, benefit, kompensasi, kultur, untuk setiap engineer lapangan, analis di kantor, kepala-kepala seksi, dsb. Juga tentang kontrol terhadap data-data sehingga data tersebut valid dan bisa dianalisis sehingga memudahkan para pengambil keputusan.
Pusing saya membayangkannya.
Mungkin kalau kita mau sedikit membayangkan operasi yang luar biasa dibalik sebuah infrastruktur yang terlihat biasa karena kita sudah menganggapnya biasa, kita bisa lebih bijaksana dalam melihat ketidakberesan sebuah infrastruktur. Tidak langsung menganggap tidak beres bekerjanya dan selusin kalimat negatif lainnya. They’re maybe forgotten, but they’re just everywhere.
Sisi Negatif Investasi Logam Mulia
Logam Mulia (LM) atau disebut juga emas, dalam bentuk macam-macamnya: batangan, dinar, dsb, adalah instrumen investasi yang sangat populer — paling tidak sudah diterima banyak kalangan (kelas menengah) sebagai instrumen investasi yang lebih dipercaya dan lebih menguntungkan daripada deposito.
Di sini saya ingin mengingatkan, bahwa LM bukanlah tidak punya kelemahan. Biasanya toko emas bilang kalau harga emas susah turun. Saya bilang bukan susah turun, tetapi gejolaknya relatif lebih rendah daripada saham atau forex. Dan perlu diketahui, bahwa komoditas seperti LM memiliki dua macam harga, yaitu harga beli dan harga jual kembali. Artinya, ketika kita membeli LM, pada saat itu juga nilainya jatuh hingga titik harga jualnya. Saya beli LM di awal tahun dengan harga rata-rata sekitar Rp. 510.000. Sampai saat ini, tidak pernah Antam merilis harga jual di atas Rp. 510.000. Artinya unrealized gain saya masih negatif.
Di sini dapat dilihat bahwa selain lambat geraknya, perlu waktu yang cukup lama untuk mendapatkan keuntungan dari margin harga. Logam mulia sudah cukup berisiko, dan anda akan menambah faktor risikonya menjadi dua kali lipat ketika memakai metode berkebun emas yang bukunya jadi best seller dan diseminarkan dimana-mana itu. Berkebun emas hanya oke ketika harga emas stabil naik, bukan stabil naik turun. Anda rugi berlipat ketika harga emas meluncur turun.
Terus banyak orang juga yang beranggapan kalau LM (apalagi dinar) adalah investasi paling syar’i. Menurut saya ini pemahaman yang terlalu sempit. Apapun yang paling syar’i bisa menjadi haram jika niat dan perlakuannya tidak syar’i. Contohnya berkebun emas itu tadi. Saya mengkhawatirkan segi syar’i-nya karena berkebun emas ada faktor leverage-nya.
Kalau mau jujur-jujuran, investasi di sektor keuangan tidak ada yang benar-benar syar’i secara murni. Prinsipnya kan “menimbun” lalu berharap keuntungan lewat capital gain. Cara kapitalis memperkaya diri.
Investasi yang benar-benar syar’i ya investasi di sektor real! Bisnis. Karena di sana ada uang yang beredar, menggerakkan roda ekonomi umat. Tidak ditimbun. Emas syar’i karena nilainya tidak banyak berubah dalam waktu yang sangat lama. Makanya dipakai sebagai alat tukar di jaman nabi. Tetapi apa iya ketika emas dijadikan alat untuk investasi untuk mendapatkan capital gain masih syar’i? Menabung dan investasi itu cara kapitalis (capital gain — kapital!). Dalam sejarah-sejarah, seingat saya sahabat-sahabat nabi tidak pernah mengajarkan menabung. Yang diajarkan adalah zakat, infaq, sodaqoh, dan sisanya diputar lagi dalam bisnis. Keuntungan bisnis diambil untuk zakat, infaq, dan sodaqoh, lalu diputar lagi. Begitu seterusnya. Dan lihat hasilnya di era Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pemerataan kesejahteraan sampai-sampai baitul mal kebingungan mencari orang yang bisa diberi zakat.
Well, saya menulis begini karena ada banyak orang yang fanatik hanya investasi di emas karena syar’i, membawa-bawa dalil-dalil bermeter-meter. Saya setuju, tapi jangan fanatik buta. Perlu diperiksa dulu niat dan cara menginvestasikan instrumen yang syar’i ini.
Disclaimer: Penulis adalah orang awam, bukan kiai atau ustadz, bukan pula ahli perencanaan keuangan.
Tentang Mobil yang Minum Premium
Ciri khas orang Indonesia — saya dan Anda — adalah kecemburuan sosial dan egoisnya yang tinggi. Susah lihat orang senang dan senang lihat orang susah. Ketika ada foto berantai sebuah Alphard mewah minum bensin bersubsidi, langsung semua orang mencaci maki dengan sinis setiap mobil baru yang minum Premium. Tapi mari kita lihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda.
Selain egois dan cemburu sosial, orang Indonesia itu — saya dan Anda — juga sering mengedepankan gengsi dan status sosial. Jika Anda berumur sekitar 30 tahun, memiliki keluarga baru, kemudian punya uang nganggur 300 juta, apa yang Anda akan lakukan dengan uang itu? Saya yakin, mayoritas akan membeli rumah atau mobil. Mobil menempati urutan prioritas yang tinggi karena salah satu ukuran kekayaan adalah punya mobil. Tidak peduli itu mobil dibeli dengan hutang sehingga cash flow bulanannya menjadi defisit, dan net worth-nya juga minus. Miskin secara accounting, tapi kaya secara sosial.
Nah, banyak orang membeli mobil padahal struktur keuangannya sebenarnya belum mampu. Atau mampu untuk kelas mobil second yang sudah lama. Tetapi karena status sosial-nya seharusnya memantaskan dirinya untuk punya mobil baru yang mewah, maka ia memaksakan diri untuk membeli yang lebih baru.
Bayangkan status sosial yang didapatkan. Rasakan setiap orang yang akan memandang dengan lebih hormat. Tidak ada yang bisa meremehkan. Apalagi jika umur masih muda. Sebagai seorang eksekutif muda yang sukses.
Padahal urusan mobil tidak berhenti sampai membeli saja. Akan ada biaya operasional yang besar. Biaya bensin, tol, perawatan berkala, cuci mobil, dll.
Berandai-andai lagi, jika ada seorang eksekutif muda gajinya 15 juta sebulan, ia pantas punya mobil kan? Sangat. Terus, pengeluaran kan berbanding lurus dengan gaya hidup. Apakah orang gaji segitu pengeluarannya hanya 4 juta sebulan? Tidak mungkin. Secara gaya hidup, bisa jadi ia bahkan tidak punya simpanan tabungan sama sekali.
Sudah dapat efek psikologisnya? Tidak jadi naiknya harga BBM tak pelak membuat gap antara Premium dan Pertamax lebih dari dua kali lipat. Pertamax sekarang harganya Rp. 10.200, itu jika dibelikan Premium sudah 2,26 liter sendiri.
Jika setiap seminggu sekali, si eksmud itu harus memenuhi tangki mobilnya, katakanlah 30 liter, maka pengeluarannya dengan Pertamax adalah Rp. 306.000 seminggu. Sebulan adalah sekitar 1,2 juta. Rasio dengan penghasilan bulanannya hampir 10%. Jika dia pakai bensin premium, maka pengeluarannya jadi Rp. 135.000 seminggu, Rp. 540.000 sebulan, atau hanya 3% saja dari penghasilannya.
Efeknya mantap sekali. Penghasilan si eksmud itu sebenarnya hanya cukup membiayai mobil dengan Premium. Dan bukankah tidak ada aturan setiap mobil baru harus pakai non-premium? Itu menjawab pertanyaan kenapa ada orang yang pakai mobil mewah tetapi tidak mampu beli BBM non subsidi.
Tanpa melihat segala macam kepentingan, gap antara Premium dan Pertamax sudah terlalu jauh. Saya boleh bangga memakai Pertamax karena pengeluaran saya untuk BBM hanya 30 ribu setiap minggunya. Masih jauh dari pengeluaran untuk makan seminggu. Mungkin jika saya punya mobil mewah begitu, saya juga tidak bisa menerima pengeluaran sebesar itu untuk Pertamax. Untungnya, saya tidak punya mobil.
Kemajuan Teknologi Tidak Seharusnya Merenggangkan Silaturahmi
Jika ada gurauan yang bilang bahwa Facebook dan social media mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, itu benar sekali. Kita telah bertemu teman-teman lama yang lebih dari sepuluh tahun tak bertemu, yang terpisah yang bahkan dulu adalah orang yang kita naksir berat kepadanya. Sebaliknya, dengan teman-teman dekat kita yang notabene setiap hari bertemu, ketika duduk bareng, kebanyakan sekarang kita saling diam, sibuk dengan BB masing-masing sambil sekali-sekali tersenyum atau terkikik sendiri. Soliter.
Tapi ternyata, ada satu hal lagi yang membuat saya merasa ironis: Events.
Dulu sekali, undangan dicetak berbeda-beda. Yang paling tebal dan paling harum baunya adalah undangan yang ditujukan untuk orang-orang yang paling dihormati dan paling disegani. Kemudian ada undangan yang khusus, dibuat lebih banyak, untuk teman-teman terdekat. Dan yang terakhir adalah undangan standar, dibuat paling banyak hingga beberapa ratus hingga ribuan eksemplar.
Kemudian, undangan yang paling tebal itu diantarkan secara khusus oleh si pemilik acara sendiri. Istilah Jawa-nya: atur-atur. Intinya adalah pemberitahuan resmi bahwa si pengundang memohon dengan sangat agar yang diundang datang ke acaranya. Sedangkan untuk undangan standar, biasanya diantarkan oleh kurir.
Kemajuan teknologi telepon, email, dan SMS telah membawa ke era baru dalam hal perkembangan budaya “undang-mengundang” ini. Karena mencetak undangan itu sangat mahal, maka teknologi yang praktis pun dipilih. Biasanya, telepon untuk menggantikan undangan tebal nan harum dan harus diantarkan sendiri itu. Email dan SMS untuk menggantikan undangan standar. Meskipun masih ada beberapa orang yang belum bisa menerima ini, tapi basically saya sudah bisa menerima.
Telepon, email, dan SMS masih membutuhkan komunikasi langsung, artinya, si pengundang memang masih harus mengundang satu per satu dengan cara yang lebih mudah. Masih ada kalimat sapaan, say hello, atau paling tidak masih ada tujuan. Semakin pribadi, kesan personalnya semakin hangat terasa. Misalnya, “Galih, kalau kamu nggak sibuk, tanggal sekian dateng dong ke acara ultahku…”
Nah, kehangatan personal ini tidak saya rasakan di undangan berbentuk Events di Facebook. Tidak ada sapaan pribadi, tidak ada say hello, bahkan tidak ada undangan yang sesungguhnya. Tiba-tiba saja saya mendapat notifikasi dari Facebook bahwa saya diundang di suatu acara. Apakah si pengundang benar-benar mengundang saya? Jangan-jangan ia hanya select all his/her friends di facebook tanpa tahu siapa yang dia undang? Oh, apakah teman saya sejahat itu? Mungkin tidak, tetapi itulah kesannya. Saya merasa seperti di-tag di foto, bukan seperti diundang. Memang praktis, si pengundang tidak perlu repot-repot mengeluarkan tenaga dan biaya, dan ia bisa berkonsentrasi hal lain yang lebih penting (tapi apakah undangan bukan faktor penting juga?). Tidak ada rasa seperti, “Galih, kalau kamu nggak sibuk…”
Mungkin saya tinggi hati ya? Entahlah, tapi saya hanya merasa bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya merengganggkan tali silaturahmi. Mengapa? Karena ketika ada seorang teman yang merelakan waktunya untuk secara personal mengundang saya, saya seperti mendapatkan kehormatan, kehadiran saya rasanya akan begitu berkesan untuk teman saya itu, jadi saya berusaha menyisihkan waktu, menyisihkan tabungan untuk membeli tiket pesawat jika letaknya jauh, untuk datang ke acara. Untuk sekadar bersilaturahmi dengan teman yang mungkin tidak lebih dari tiga menit.
Sebaliknya, saya merasa tidak spesial jika menurut saya undangannya juga tidak personal. Jadi mungkin prioritasnya juga rendah. Cukup dengan do’a yang mengiringi.
Bagaimana dengan Anda?
Tentang Kata “Which Is”
Udara dingin sedang menyelimuti Jakarta malam itu. Hujan deras menyusul tanpa ampun mengguyur kawasan Pancoran dan sekitarnya. Tetapi bagi saya, malam masih panjang. Di sebuah sudut ruang 303 gedung ILP Pancoran Jakarta Selatan, guru Bahasa Inggris saya, Ms Rina, sedang menjelaskan kalimat majemuk Bahasa Inggris yang menggunakan konektor from which.
Seketika itu pula, saya teringat oleh fenomena berbahasa yang cukup mengusik saya sejak tiga tahun yang lalu. Saya amati, para profesional khususnya di Jakarta ini cukup suka memakai bahasa campur-campur. Setengah Bahasa Indonesia, setengah Bahasa Inggris. Saya tidak tahu apa motifnya, tetapi saya sering menjumpai ini. Misalnya,
Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapore, which is itu sangat sulit kita lakukan.
Ini menarik. Which is. Saya kira, kalau kita konsisten menggunakan Bahasa Indonesia, kalimat di atas sebaiknya,
Kita membutuhkan barang kelas A yang harus didatangkan dari Singapura yang mana itu sangat sulit kita lakukan.
Penghubung yang selalu dipakai adalah which is. Padahal, di Bahasa Inggris sendiri, konektor banyak sekali macamnya tergantung konteks. Which is, who is, where, from which, in which, dsb. Artinya, kalau andai kalimat di atas dijadikan Bahasa Inggris, belum tentu penghubung which is itu tepat penggunaannya.
Lingua Franca
Banyak sekali unsur-unsur yang merusak (atau justru memperkaya?) bahasa kita. Paling sering saya temukan adalah penggunaan Bahasa Inggris. Mungkin Bahasa Inggris terdengar lebih enak di telinga ya? A New Day Has Come rasanya pas banget jadi judul blog saya ketimbang Suatu Hari yang Telah Tiba yang terdengar jadi aneh.
Mungkin karena Bahasa Indonesia adalah berkembang dari bahasa pergaulan (lingua franca) sehingga sangat fleksibel dalam struktur gramatikal dan mudah menerima pengaruh dari bahasa lain.
Memang rasanya jadi aneh jika dalam pergaulan kita menggunakan bahasa baku. Nggak usah jauh-jauh, saya merasa blog ini menjadi sangat resmi, sopan, kaku, nyungkani (segan), dan mau tidak mau itu mencitrakan saya. Tetapi itu semata-mata agar saya tetap bisa melatih dan menjaga Bahasa Indonesia saya dengan baik dan benar. Saya tidak terlalu piawai berbahasa dengan baik, oleh karena itu saya menulis dengan bahasa yang baik untuk melatih kemampuan berbahasa.
Saya pikir, kita sulit bisa menguasai Bahasa Indonesia baku dengan baik sekaligus Bahasa Indonesia gaul (loe gue ala orang Jakarta). Karena lidah saya adalah lidah Jawa yang tidak bisa direparasi lagi untuk mengeja gue dengan fasih, saya memilih untuk menjaga Bahasa Indonesia saya agar tetap rapi, terstruktur dengan baik, dan tidak terlalu melenceng dari kaidah. Sudah Bahasa Inggris berlepotan, Bahasa Indonesia sama saja. Secara tidak mampu dua-duanya, akhirnya yang ada adalah bahasa campur-campur nggak jelas seperti penggunaan kata which is itu tadi.
Comments