Mengenal Musik Klasik: Fur Elise
Tidak banyak musik klasik yang menawan hati para pecinta musik awam yang notabene lebih menyukai musik populer. Di antara yang sedikit itu, saya yakin Fur Elise adalah salah satunya. Komposisi ini terkenal berkat nada awalnya yang melegenda, teng tung teng tung teng ting tong teng tung…. Ditulis oleh komponis besar Ludwig van Beethoven yang tuna rungu, Fur Elise adalah komposisi musik yang luar biasa, baik bagi para penikmat maupun pemain.
Detail
Jika anda pernah melihat partitur aslinya, pada partitur itu tertulis Fur Elise, Bagatelle in A minor, WoO 59. Bagatelle, maksudnya pendek dan berprogresi secara tidak terduga. Fur Elise dimulai dengan nada-nada yang lembut, mengalun, melenakan di bagian pertama kemudian terpecah menjadi progresi yang mengejutkan dan tak terduga di bagian kedua dan ketiga.
Bentuk komposisi seperti ini dinamakan rondo. Dalam rondo, tema pertama dimainkan, kemudian tema kedua diperkenalkan dan dikembangkan. Sebelum tema ketiga masuk, komposisi kembali lagi ke tema pertama dan akhirnya diakhiri kembali di tema pertama setelah melalui tema ketiga yang tak terduga.
A minor tentu saja adalah kunci dasar yang dimainkan. Dalam musik modern, tanda kunci (key signature) A minor tidak terlalu dikenal karena nada dasar ini sama saja dengan nada dasar C yang terkenal. A minor adalah bentuk sedih dari tangga nada C mayor.
WoO 59, ini seperti tanda air yang saya tulis dalam setiap karya foto saya. O adalah opus (bahasa Latin) yang kira-kira berarti karya. Masalahnya, Beethoven hanya menomori karyanya hanya untuk karya-karya besar dan penting saja seperti misalnya grand symphonies atau piano sonata. Karya yang lebih kecil seperti Fur Elise ini tidak memiliki nomor opus/karya, sehingga orang memberikan tanda untuk Fur Elise sebagai WoO: tanpa nomor karya.
Siapa Elise Sebenarnya?
Pertanyaan yang sangat menarik tentu saja adalah misteri nama Elise di komposisi ini. Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa Elise adalah kekeliruan — seharusnya adalah Fur Therese – karena buruknya tulisan tangan Beethoven. Hal ini didasarkan pada fakta sejarah bahwa pada saat itu ada wanita bernama Therese Malfatti yang merupakan salah satu wanita yang menolak lamaran seorang Ludwig van Beethoven. Hingga masa meninggalnya, Beethoven tidak pernah menikah. Kasih tak sampai.
Andai tulisan itu memang benar Elise, bukan Therese, Elise akan selalu menjadi misteri yang akan menghidupkan imajinasi para penikmat musik klasik.
Saat saya memainkan bagian pertama Fur Elise, saya bisa merasakan lewat jari-jari saya, membayangkan seorang wanita cantik bernama Elisa yang begitu mempesona seorang laki-laki. Mereka berteman baik, kenangan akan masa lalu yang hadir di antara mereka berdua. Hari-hari yang begitu berwarna. Namun tiba-tiba sesuatu datang merusak semuanya, memadamkan sebuah harapan akan cinta yang bersambut. Cinta yang tak berbalas. Hingga cinta itu berakhir dalam sebuah kesedihan.
Itulah Fur Elise di imajinasi saya.
Tentang Video Clip Hello
Saya mengenal lagu Hello-nya Lionel Richie ini sudah lama, lagu ini adalah salah satu lagu latihan saya waktu belajar bermain gitar belasan tahun yang lalu. Tapi saya tidak pernah menduga videoclip-nya seperti ini. Banyak orang berkomentar videoclip ini jelek ceritanya, tapi saya kok berpenilaian lain. Sangat menyentuh kalau buat saya.
Adalah seorang guru seni muda (saya pikir kelas musik) yang diam-diam menyukai salah satu muridnya yang tuna netra. Namanya Laura. Ia kemudian memperhatikannya, memikirkannya, mencuri pandang kepadanya, bahkan menguntitnya, yang kadang-kadang hanya sekadar untuk menikmati indahnya sinar mentari yang jatuh di gerai rambutnya.
Menurut saya, sejatinya lagu ini adalah lagu tentang keragu-raguan seorang pria ketika mulai jatuh cinta kepada gadis yang dipilihnya dan harus memutuskan apakah ia akan melangkah lebih lanjut ataukah justru berlari menjauh. Dan inilah yang dialami pak guru yang sedang jatuh cinta kepada muridnya yang tuna netra. Tetapi masalahnya, ia sendiri tak tahu bagaimana harus menyatakan cintanya kepada Laura. Ia tak tahu bagaimana cara merebut hati sang gadis, bagaimana cara menunjukkan bahwa ia sebenarnya jatuh cinta kepadanya.
Hingga akhirnya, ketika suatu hari di kelas seni patung, Laura menunjukkan hasil karya-nya. Seorang tuna netra, dengan mata hati perasaannya, mencoba melukiskan apa yang ia lihat dalam karyanya. Katanya, “I’ve wanted you to see it so many times. But I finally think it’s done. Tell me what you think of it… This is how I see you…”Â
Hello… is it me you’re looking for?
Tentang Empat Bulan Belajar Piano
Tidak terasa, empat bulan perjalanan saya belajar piano. Jari-jari masih kaku, dan saya adalah orang yang paling malas melakukan penjarian. Latihan penjarian itu membosankan, hanya tang ting tung dari kiri ke kanan lalu balik lagi sampai bosen. Tapi memang terasa sekali manfaatnya untuk melemaskan jari. Memaksa jari-jari bekerja keras karena setengah jam saja sudah bisa bikin kelingking gemetar tak mampu lagi mencet tuts piano. Dan saya ingat pesan Pak Dimitri Mahayana waktu beliau mengajari saya secara singkat teori-teori piano jazz: bahwa penjarian itu penting agar kita selalu melangkah maju.
Tetapi paling tidak, apa yang saya dambakan waktu tercetus pikiran untuk belajar piano sudah sebagian terwujud. Memainkan lagu-lagu pop slow sederhana, bermain untuk sekedar melepas penat dan mengisi waktu di hari sabtu dan minggu. Saya sering melamun tentang malam yang hening sambil diiringi dentingan piano yang lembut. Seperti lagu yang saya mainkan tadi, medley lagu-lagu lama Koes Plus: Desember dan Maria. Kadang-kadang, juga untuk curhat juga, misalnya lagu Cinta Dalam Hati-nya Ungu yang bisa saya nyanyikan dengan penuh penghayatan. )
Meskipun suasana malam hari itu buat saya paling cocok diiringi musik jazz yang lembut bernada-nada kromatik dominan 5 dan 9, saya masih jauh dari itu. Kedua tangan saya masih belum terlalu bisa diajak kompromi, utamanya ketika jari kiri memainkan nada 1/8 dan jari kanan memainkan nada 1/16. Dan proyek besar saya juga belum selesai, yaitu menyelesaikan satu partitur lengkap First Love-nya Utada Hikaru. Masih mandek di bagian ref-nya.
So far, piano jauh lebih menyenangkan daripada gitar, he he he…
Chord Don’t Sleep Away The Night: Daniel Sahuleka
Don't Sleep Away The Night (versi akustik) - Daniel Sahuleka
Nada dasar: D (aslinya memakai nada dasar E)
Transcribed by: Galih Satria
Intro: D - F#m - G - A (2x)
D Â Â Â Â Â Â Â Â A/F#Â Â Â Â GÂ Â Â Â Â Â Â Â Â F#m-Em
Tomorrow's near never I felt this way
Em    A                  D          C#m-Bm
Tomorrow how empty it will be that day
Bm                                A/F#m
It tastes so bitter or are these tears that I hide?
G/EÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â F#m
to know that you're my only light
Em     A          A/F#
I love you, oh I need you
Em   A-A7
Oh yes I do
DÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â A/F# Â Â Â Â Â Â G Â Â F#m-Em
Don't sleep away this night my baby
Em              A                   D  C#m/Bm
Please stay with me at least 'till dawn
Bm             G/E
It hurts to know another hour has gone by
AÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â D
And every minute is worth while
G/EÂ A
Oh I love you
Interlude: D - F#m - G - A (2x)
D/F# Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â G Â Â Â Â Â Â Â F#m-Em
How many lonely days are there waiting for me?
Em           A           D      C#m-Bm
How many seasons will flow over me
Bm             A/F#
'till the emotions make my tears run dry
G/EÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â F#m
at the moments I should cry
Em          A   A/F#
For I love you, oh I need you
Em A-A7
Oh yes I do
Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worth while
GÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â A
And it makes me so afraid
Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
The reason is still I love you...
Coda: D - F#m - G - A - D
Saya mengenal lagu-lagunya Daniel Sahuleka waktu ia tampil live di Trans TV. Diiringi satu gitar akustik yang ia petik sendiri, ia menyanyikan Don’t Sleep Away the Night. Petikan gitarnya sederhana, tidak terlalu mendominasi keseluruhan performance-nya malam itu, tapi kesederhanaan musiknya malah memperkuat pesan yang dibawa lagu ini.
Liriknya buat saya sangat dalam. Pernahkah Anda berada dalam suasana ini: Anda sedang bersama orang yang Anda sangat cinta, ngobrol ngalor ngidul, tertawa-tawa lepas, bercengkerama dan bersenda gurau. Tapi Anda tahu, itulah saat terakhir Anda bisa bersamanya. Saat-saat terakhir Anda bisa menikmati senyumannya. Setelah itu, ia akan pergi meninggalkan kehidupan Anda. Jika pernah, mungkin Anda bisa mencoba menyanyikan lagu ini dengan penuh perasaan.
Tempat Download Partitur Lagu
Sejak mengenal piano, aku sadar bahwa ada hal yang sangat membedakannya dengan gitar, yaitu kebutuhan untuk memainkan akord secara detail dan akurat. Ketika bermain gitar, aku bisa melewatkan detail seperti kunci-kunci antara. Tidak terlalu terasa diantara genjrengan jari. Namun aku tidak bisa memperlakukan hal yang sama di piano. Kunci Dm/C (baca: d-minor-on-c) akan terasa sangat berbeda rasa dengan kunci Dm saja. Bahkan Am7 berbeda dengan Am. Karena itulah, di transkripsi lagu Vidi Aldiano, aku menyertakan detail akord-akord on (thanks to sensei Stenly).
Sayangnya, telingaku tidak terlalu peka dengan akord detail seperti ini. Dan perjalananku belajar piano akan jalan di tempat kalau aku memaksakan diri mengabaikan detail akord. Oleh karena itu, aku harus bisa baca partitur, atau bahasa inggrisnya disebut score/sheet music, atau bahasa gaulnya disebut teks kecambah nggak jelas.
Nah, mayoritas, jika teman-teman mencari sheet music di Google, yang muncul adalah partitur-partitur berbayar yang kita harus membayar sekitar 3-5 dollar per download. Meskipun banyak sekali tersebar partitur yang gratis, situs-situs ini sangat tersebar dan susah mencarinya karena pagerank di mata Google rendah.
Ada situs dahsyat yang mengumpulkan situs-situs yang menyediakan layanan download partitur gratis, mengindeks-nya, dan menyediakan kotak pencari. Namanya www.piano-sheets.net. Nyaris semua lagu populer ada di sini. Barusan aku mendownload sheet-nya Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing buat dimainkan sama teman-teman besok di studio di Tebet.
Lalu bagaimana cara aku membaca partitur? Well, aku memang sangat terlambat buat memulai belajar piano, harusnya orang memulainya di umur 10 tahun, aku memulainya baru dua bulan yang lalu. Jadi aku melewati beberapa tahapan yang biasa dilalui anak-anak kelas piano klasik, dan sedikit curang dengan memanfaatkan teknologi. Caranya? Nanti aku ceritakan
Chord dan Lirik: Nuansa Bening – Vidi Aldiano
NUANSA BENING - VIDI ALDIANO
Do = C (Versi aslinya, Vidi mengambil nada dasar C#)
Transcribed by: Galih Satria [using Yamaha DGX-630 digital piano]
————————————————————————–
C    G/B           Am  Em/G      FM7
Ooh... tiada yang hebat dan mempesona
Em     Dm    G   F   Em
Ketika kau lewat di hadapanku
D7/F# Â Â Â G
Biasa saja
C   G/B    Am Em/G     FM7
Waktu perkenalan lewatlah sudah
Em          Dm  G   F    Em
Ada yang menarik pancaran diri
D7/F# Â Â Â Â Â G
Terus mengganggu
       C     D7       G    G/F
Mendengar cerita sehari-hari
C/E Â Â Â Â Â Â Â Â D7/F# Â Â Â Â Â Â Â G
Yang wajar tapi tetap mengasyikkan
[ref]
CÂ Â Â FÂ Â Â Â Â Â Â Â Â C
Kini terasa sungguh
FÂ Â Â Â Â Â Â Â Â C
semakin engkau jauh
D7Â Â Â Â Â Â Â G
semakin terasa dekat
 C   F        C
Akan ku kembangkan
F Â Â Â Â Â Â C
kasih yang engkau tanam
D7Â Â Â Â Â Â G
di dalam hatiku
[intro lagi]
Oh.. tiada kejutan pesona diri
Pertama kujabat jemari tanganmu
Biasa saja
Masa pertalian terjalin sudah
Ada yang menarik bayang-bayangmu
Tak mau pergi
Dirimu nuansa-nuansa ilham
hamparan laut tiada bertepi
[ref]
[interlude]
[bridge]
Menatap nuansa-nuansa bening
Tulusnya doa bercita
[ref]
Salah satu hal yang paling saya benci tentang masyarakat internet Indonesia adalah sifatnya yang sangat malas dan hobi copy-paste tanpa izin. Tadi saya googling chord-nya Vidi Aldiano, Nuansa Bening. Ada banyak referensi chord, namun semuanya sama. Chord dan urutan lirik yang tidak benar dari satu penulis yang sama. Tampaknya banyak yang tidak tahu kalau lagu ini dinyanyikan pertama kalinya oleh Keenan Nasution dengan urutan yang berbeda dengan versi Vidi Aldiano.
Padahal apa susahnya sih menulis chord yang benar dan menulis sendiri lirik sambil mendengarkan lagunya? Dengan semangat itulah saya menulis transkripsi saya sendiri lagu Nuansa Bening ini. Masih kasar, tapi sudah cukup akurat untuk telinga saya. Agar mudah, saya menulis di nada dasar C, turun setengah nada dari versi Vidi yang mengambil nada C#. Kalau nggak mau repot, tinggal transpose saja digital piano anda naik setengah nada, atau kalau pakai gitar, pasang capo pada fret pertama, hehehe…
Tentang Lagu Andai Aku Besar Nanti
Andai, aku telah dewasa
Apa yang kan kukatakan untukmu idolaku tersayang
Ayah…
Oh, andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda…
Pelitaku, penerang jiwaku dalam setiap waktu
Oh, ku tahu kau berharap dalam doamu
Ku tahu kau berjaga dalam langkahmu
Ku tahu selalu mencinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta
Bahagiakan mereka sepertiku
Andai, aku telah dewasa
Ingin aku persembahkan semurni cintamu
Setulus kasih sayangmu, kau selalu kucinta…
Ini adalah lirik lagunya Sherina waktu masih anak-anak. Lirik yang bermakna dalam sekali, membuat saya selalu merindukan ayah dan bunda kalau sedang memainkan lagu ini. Kekaguman saya dengan lagu-lagu Sherina semakin menjadi ketika tadi malam mencoba memainkannya di piano.
Pertama adalah chord yang terlalu sulit untuk pemula seperti saya. Sejak dulu telinga saya tidak peka terhadap progresi chord. Tanpa partitur, saya mencoba memainkan versi sederhana dari intro lagu ini. Sampai sini masih bisa terkejar. Jika kita memulai di do = C, maka larinya akan ke F, Fm, C/Fm, lalu lari ke Dm, sebelum kembali lagi ke C.
Tapi ketika Sherina sudah mulai masuk ke Verse 1, sampai kata-kata kubalas cintamu bunda… pelitaku… dengan suara falset-nya yang sempurna, saya mulai nggak bisa mengejar nadanya.
Sampai di sini, saya menyerah ketika ia menyanyikan nada-nada di Chorus yang saya tahu chord-nya sudah berprogresi tidak di nada dasar C lagi, tapi lari entah kemana, naik sekian nada waktu masuk chorus, naik lagi di kalimat kutahu kau berjaga dalam langkahmu, lalu dengan cara yang ajaib, entah lewat mana bridging-nya, dengan manis progresinya kembali ke C.
Yang jelas lagu ini bukanlah lagu yang memiliki chord-chord sederhana. Interlude-nya yang orkestra lebih gila lagi progresinya. Lari ke sana ke mari sebelum dengan cantik kembali ke C tepat sebelum Sherina memulai bait terakhirnya.
Kalau ada di antara pembaca yang punya partitur lengkap lagu ini — ada treble clof dan bass clof-nya, boleh dong saya diberi tahu.
*
Dalam postingan saya tentang tiadanya lagu anak-anak di Idola Cilik, Adi berpendapat bahwa lagu anak-anak terlalu mudah bagi para peserta. Hm? Siapa bilang? Lagu Sherina ini bahkan mungkin terlalu sulit bagi mereka, padahal ini termasuk kategori lagu anak-anak.
Saya akan sangat merindukan lagu anak-anak semacam ini. Bercerita tentang sekolah, cinta kepada Ayah dan Bunda, persahabatan, dsb. Sama sekali jauh dari cinta-cintaan ala anak muda. Selain memiliki lirik yang sangat dalam, nada-nadanya juga sangat rumit dan suara yang sempurna.
Sebenarnya saya berharap banyak dengan Gita Guttawa, tapi tampaknya, positioning-nya ada di pasar pra-remaja, bukan anak-anak — terlihat bahwa kebanyakan lagunya bercerita tentang cinta pertama dan jatuh cinta khas ABG. Menyesuaikan selera pasar mungkin. Selain itu, kemampuan Gita sendiri bukanlah tandingannya Sherina. Gita Guttawa lebih sering bernyanyi lip sync — tentu saja — Untuk menyanyikan nada-nada falset tinggi khas Gita bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan secara live.
Comments