Entries Categorized as 'Musik'

Chord Don’t Sleep Away The Night: Daniel Sahuleka

Date June 21, 2009

Don't Sleep Away The Night (versi akustik) - Daniel Sahuleka
Nada dasar: D (aslinya memakai nada dasar E)
Transcribed by: Galih Satria

Intro: D - F#m - G - A (2x)

D               A/F#     G          F#m-Em
Tomorrow's near never I felt this way
Em     A                   D           C#m-Bm
Tomorrow how empty it will be that day
Bm                                 A/F#m
It tastes so bitter or are these tears that I hide?
G/E                            F#m
to know that you're my only light
Em      A           A/F#
I love you, oh I need you
Em    A-A7
Oh yes I do

D             A/F#             G    F#m-Em
Don't sleep away this night my baby
Em               A                    D   C#m/Bm
Please stay with me at least 'till dawn
Bm                        G/E
It hurts to know another hour has gone by
A                             D
And every minute is worth while
G/E  A
Oh I love you

Interlude: D - F#m - G - A (2x)

D/F#                            G              F#m-Em
How many lonely days are there waiting for me?
Em            A            D       C#m-Bm
How many seasons will flow over me
Bm              A/F#
'till the emotions make my tears run dry
G/E                      F#m
at the moments I should cry
Em           A    A/F#
For I love you, oh I need you
Em  A-A7
Oh yes I do

Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worth while
G                 A
And it makes me so afraid

Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
The reason is still I love you...

Coda: D - F#m - G - A - D

Saya mengenal lagu-lagunya Daniel Sahuleka waktu ia tampil live di Trans TV. Diiringi satu gitar akustik yang ia petik sendiri, ia menyanyikan Don’t Sleep Away the Night. Petikan gitarnya sederhana, tidak terlalu mendominasi keseluruhan performance-nya malam itu, tapi kesederhanaan musiknya malah memperkuat pesan yang dibawa lagu ini.

Liriknya buat saya sangat dalam. Pernahkah Anda berada dalam suasana ini: Anda sedang bersama orang yang Anda sangat cinta, ngobrol ngalor ngidul, tertawa-tawa lepas, bercengkerama dan bersenda gurau. Tapi Anda tahu, itulah saat terakhir Anda bisa bersamanya. Saat-saat terakhir Anda bisa menikmati senyumannya. Setelah itu, ia akan pergi meninggalkan kehidupan Anda. Jika pernah, mungkin Anda bisa mencoba menyanyikan lagu ini dengan penuh perasaan. :)

Tempat Download Partitur Lagu

Date June 9, 2009

Sejak mengenal piano, aku sadar bahwa ada hal yang sangat membedakannya dengan gitar, yaitu kebutuhan untuk memainkan akord secara detail dan akurat. Ketika bermain gitar, aku bisa melewatkan detail seperti kunci-kunci antara. Tidak terlalu terasa diantara genjrengan jari. Namun aku tidak bisa memperlakukan hal yang sama di piano. Kunci Dm/C (baca: d-minor-on-c) akan terasa sangat berbeda rasa dengan kunci Dm saja. Bahkan Am7 berbeda dengan Am. Karena itulah, di transkripsi lagu Vidi Aldiano, aku menyertakan detail akord-akord on (thanks to sensei Stenly).

Sayangnya, telingaku tidak terlalu peka dengan akord detail seperti ini. Dan perjalananku belajar piano akan jalan di tempat kalau aku memaksakan diri mengabaikan detail akord. Oleh karena itu, aku harus bisa baca partitur, atau bahasa inggrisnya disebut score/sheet music, atau bahasa gaulnya disebut teks kecambah nggak jelas.

Nah, mayoritas, jika teman-teman mencari sheet music di Google, yang muncul adalah partitur-partitur berbayar yang kita harus membayar sekitar 3-5 dollar per download. Meskipun banyak sekali tersebar partitur yang gratis, situs-situs ini sangat tersebar dan susah mencarinya karena pagerank di mata Google rendah.

Ada situs dahsyat yang mengumpulkan situs-situs yang menyediakan layanan download partitur gratis, mengindeks-nya, dan menyediakan kotak pencari. Namanya www.piano-sheets.net. Nyaris semua lagu populer ada di sini. Barusan aku mendownload sheet-nya Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing buat dimainkan sama teman-teman besok di studio di Tebet.

Lalu bagaimana cara aku membaca partitur? Well, aku memang sangat terlambat buat memulai belajar piano, harusnya orang memulainya di umur 10 tahun, aku memulainya baru dua bulan yang lalu. Jadi aku melewati beberapa tahapan yang biasa dilalui anak-anak kelas piano klasik, dan sedikit curang dengan memanfaatkan teknologi. Caranya? Nanti aku ceritakan :)

Chord dan Lirik: Nuansa Bening – Vidi Aldiano

Date May 2, 2009

NUANSA BENING - VIDI ALDIANO
Do = C (Versi aslinya, Vidi mengambil nada dasar C#)
Transcribed by: Galih Satria [using Yamaha DGX-630 digital piano]

————————————————————————–
C     G/B            Am   Em/G          FM7
Ooh... tiada yang hebat dan mempesona
Em         Dm     G    F    Em
Ketika kau lewat di hadapanku
D7/F#      
G
Biasa saja

C     G/B     Am  Em/G        FM7
Waktu perkenalan lewatlah sudah
Em           Dm   G    F     Em
Ada yang menarik pancaran diri
D7/F#           G
Terus mengganggu

        C      D7        G     G/F
Mendengar cerita sehari-hari
C/E          D7/F#         G
Yang wajar tapi tetap mengasyikkan

[ref]
C    F          C
Kini terasa sungguh
F          C
semakin engkau jauh
D7        G
semakin terasa dekat

 C    F         C
Akan ku kembangkan
F             C
kasih yang engkau tanam
D7       G
di dalam hatiku

[intro lagi]

Oh.. tiada kejutan pesona diri
Pertama kujabat jemari tanganmu
Biasa saja

Masa pertalian terjalin sudah
Ada yang menarik bayang-bayangmu
Tak mau pergi

Dirimu nuansa-nuansa ilham
hamparan laut tiada bertepi

[ref]

[interlude]

[bridge]
Menatap nuansa-nuansa bening
Tulusnya doa bercita

[ref]

Salah satu hal yang paling saya benci tentang masyarakat internet Indonesia adalah sifatnya yang sangat malas dan hobi copy-paste tanpa izin. Tadi saya googling chord-nya Vidi Aldiano, Nuansa Bening. Ada banyak referensi chord, namun semuanya sama. Chord dan urutan lirik yang tidak benar dari satu penulis yang sama. Tampaknya banyak yang tidak tahu kalau lagu ini dinyanyikan pertama kalinya oleh Keenan Nasution dengan urutan yang berbeda dengan versi Vidi Aldiano.

Padahal apa susahnya sih menulis chord yang benar dan menulis sendiri lirik sambil mendengarkan lagunya? Dengan semangat itulah saya menulis transkripsi saya sendiri lagu Nuansa Bening ini. Masih kasar, tapi sudah cukup akurat untuk telinga saya. Agar mudah, saya menulis di nada dasar C, turun setengah nada dari versi Vidi yang mengambil nada C#. Kalau nggak mau repot, tinggal transpose saja digital piano anda naik setengah nada, atau kalau pakai gitar, pasang capo pada fret pertama, hehehe…

Tentang Lagu Andai Aku Besar Nanti

Date April 24, 2009

Andai, aku telah dewasa
Apa yang kan kukatakan untukmu idolaku tersayang
Ayah…

Oh, andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda…
Pelitaku, penerang jiwaku dalam setiap waktu

Oh, ku tahu kau berharap dalam doamu
Ku tahu kau berjaga dalam langkahmu
Ku tahu selalu mencinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta
Bahagiakan mereka sepertiku

Andai, aku telah dewasa
Ingin aku persembahkan semurni cintamu
Setulus kasih sayangmu, kau selalu kucinta…

Ini adalah lirik lagunya Sherina waktu masih anak-anak. Lirik yang bermakna dalam sekali, membuat saya selalu merindukan ayah dan bunda kalau sedang memainkan lagu ini. Kekaguman saya dengan lagu-lagu Sherina semakin menjadi ketika tadi malam mencoba memainkannya di piano.

Pertama adalah chord yang terlalu sulit untuk pemula seperti saya. Sejak dulu telinga saya tidak peka terhadap progresi chord. Tanpa partitur, saya mencoba memainkan versi sederhana dari intro lagu ini. Sampai sini masih bisa terkejar. Jika kita memulai di do = C, maka larinya akan ke F, Fm, C/Fm, lalu lari ke Dm, sebelum kembali lagi ke C.

Tapi ketika Sherina sudah mulai masuk ke Verse 1, sampai kata-kata kubalas cintamu bunda… pelitaku… dengan suara falset-nya yang sempurna, saya mulai nggak bisa mengejar nadanya.

Sampai di sini, saya menyerah ketika ia menyanyikan nada-nada di Chorus yang saya tahu chord-nya sudah berprogresi tidak di nada dasar C lagi, tapi lari entah kemana, naik sekian nada waktu masuk chorus, naik lagi di kalimat kutahu kau berjaga dalam langkahmu, lalu dengan cara yang ajaib, entah lewat mana bridging-nya, dengan manis progresinya kembali ke C.

Yang jelas lagu ini bukanlah lagu yang memiliki chord-chord sederhana. Interlude-nya yang orkestra lebih gila lagi progresinya. Lari ke sana ke mari sebelum dengan cantik kembali ke C tepat sebelum Sherina memulai bait terakhirnya.

Kalau ada di antara pembaca yang punya partitur lengkap lagu ini — ada treble clof dan bass clof-nya, boleh dong saya diberi tahu.

*

Dalam postingan saya tentang tiadanya lagu anak-anak di Idola Cilik, Adi berpendapat bahwa lagu anak-anak terlalu mudah bagi para peserta. Hm? Siapa bilang? Lagu Sherina ini bahkan mungkin terlalu sulit bagi mereka, padahal ini termasuk kategori lagu anak-anak.

Saya akan sangat merindukan lagu anak-anak semacam ini. Bercerita tentang sekolah, cinta kepada Ayah dan Bunda, persahabatan, dsb. Sama sekali jauh dari cinta-cintaan ala anak muda. Selain memiliki lirik yang sangat dalam, nada-nadanya juga sangat rumit dan suara yang sempurna.

Sebenarnya saya berharap banyak dengan Gita Guttawa, tapi tampaknya, positioning-nya ada di pasar pra-remaja, bukan anak-anak — terlihat bahwa kebanyakan lagunya bercerita tentang cinta pertama dan jatuh cinta khas ABG. Menyesuaikan selera pasar mungkin. Selain itu, kemampuan Gita sendiri bukanlah tandingannya Sherina. Gita Guttawa lebih sering bernyanyi lip sync — tentu saja — Untuk menyanyikan nada-nada falset tinggi khas Gita bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan secara live.

Idola Cilik dan Punahnya Lagu Anak-Anak

Date March 28, 2009

Hari ini, Paton dan Debo tampil untuk kali terakhir untuk membuktikan siapa di antara mereka berdua yang pantas menjadi Raja Idola Cilik 2. Dan sekali lagi penampilan spektakuler para finalis ini membersitkan pemikiran di benak saya dengan judul Punahnya Lagu Anak-Anak.

Praktis, semua peserta Idola Cilik melantunkan lagu-lagu hits yang sebenarnya target marketnya adalah remaja ke atas. Mereka menyanyikan lagu-lagu Seventeen, ST 12 dan Peterpan dengan sangat baik nyaris tanpa cacat cela. Tapi apa nggak kasihan kalau mereka disuruh menghayati, menjiwai, dan mengekspresikan apa yang belum pernah mereka ketahui rasanya?

Apa yang harus aku tunjukkan
untuk membuat kau menyayangiku?
Inilah aku yang memilih kau untukku…

Untuk Mencintaimu – Seventeen

Saya sempat berpikir tadi, apa faktor yang membuat lagu anak-anak itu punah. Dan pikiran saya lagi-lagi mengkambinghitamkan sinetron sebagai biang keroknya. Entah mulai kapan, sinetron hampir selalu menggunakan nama tokoh utama sebagai judul dan mencomot single yang sedang hits sebagai sound track. Tidak ada lagi karya-karya “apik” ala Chossy Pratama di Tersanjung — sinetron terakhir yang mewakili era sinetron klasik bernama Tersanjung dan Noktah Merah Perkawinan.

Lha, sinetron kan selalu ditayangkan di jam prime time di mana seluruh keluarga sedang berkumpul dan menonton televisi. Tampaknya sinetron sudah terlalu menyihir ibu-ibu untuk tidak bisa lepas darinya. Sebut saja Alisa, Muslimah, Abi, pasti mereka akrab dengan nama-nama ini.

Efeknya? Berapa banyak keluarga yang mematikan televisi di jam tersebut untuk memberikan kesempatan anaknya untuk belajar? Akhirnya si anak belajarnya tidak fokus dan ikut menonton sinetron. Tanpa disadari, lagu-lagu soundtrack sinetron tersebut juga diakrabi anak-anak.

Dengan industri musik anak-anak yang semakin lesu — karena pembajakan dan kualitas yang semakin tidak jelas, mau tidak mau segala kondisi itu membuat musik dewasa juga merangsek masuk ke pasar musi anak-anak yang kosong. Karena musik dewasa sekarang juga sederhana — mengikuti tren gaya Peterpan dan Ungu, musik itu mudah diterima di telinga anak-anak. Lain kalau karya musik dewasa masih serumit karya-karya Fariz RM, Ebiet G Ade, God Bless, Chrisye, atau Emerald di jalur jazz, mungkin agak lebih susah dicerna anak-anak.

Tapi kesimpulannya tetap saja: lagu anak-anak telah punah dari gemerlap blantika musik Indonesia.