Chord: Bila Waktu Telah Berakhir – Opick

Posted by: on Jun 21, 2011 | 7 Comments

Bila Waktu Telah Berakhir
Cipt: Opick
Transcribed by: Galih Satria
Eb = Do

INTRO:

Cm - G/B - Ab - Eb - D - G
Cm - Bb - Ab - F - G - G

Cm              G/B
Bagaimana kau merasa bangga
Ab              G
Akan dunia yang sementara
Cm                   G/B
Bagaimanakah bila semua
Ab
Hilang dan pergi
Fm           Fm/Eb Fm/D Fm/B G
Meninggalkan dirimu

Cm - G/B - G

Cm            G
Bagaimanakah bila saatnya
Ab                G
Waktu terhenti tak kau sadari
Cm             G/B      Ab
Masihkah ada jalan bagimu untuk kembali
Fm         Fm/Eb Fm/D Fm/B G
Mengulangkan masa lalu

Cm G/B   Ab              Fm
Dunia dipenuhi dengan hiasan
Cm  G/B   Ab
Semua dan segala yang ada
Fm      Fm/Eb Fm/D Fm/B G
akan kembali padaNya

REFF:

Cm      B       Ab     Eb
Bila waktu tlah memanggil
Fm               G
Teman sejati hanyalah amal
Cm       B       Ab    Eb
Bila waktu telah terhenti
Fm               G
Teman sejati tingallah sepi

INTERLUDE:
Ebm - D
Ebm - D
Dbm - Cm
Ebm - Fm - G - Ab - G

Kembali ke REFF

Mungkin lagu ini adalah lagu yang paling sulit yang pernah saya coba transkrip chord-nya. Motivasinya sama, karena chord di internet tidak ada yang memuaskan dan saya ditodong jadi pemain musik dadakan di acara dua minggu lagi (padahal secara skill belum layak buat “naik panggung”).

Lagu ini menjadi sulit karena nada dasar yang diambil bukanlah standar, tetapi nada Eb (atau menurut tangga nada minornya adalah Cm). Yang paling seru waktu mencoba mengikuti melodi piano ketika interlude. Berprogresi menanjak, dan kemudian dibuang balik lagi ke nada dasar awalnya.

Selamat menikmati, lumayan kan jelang puasa musimnya lagu-lagu rokhani hehehe

Jaya Suprana: Suita Marzukiana dan Tafakur

Posted by: on Jun 19, 2011 | 3 Comments

Sebenarnya niat saya tadi sore ke Disctarra, Pondok Indah Mal, adalah mencari album jazz-nya Nial Djuliarso. Ternyata sudah tidak ada, malah menemukan album terbarunya Jaya Suprana: Suita Marzukiana dan Tafakur. Sesungguhnya album ini adalah sebuah trilogi, satu judul yang lainnya adalah Nokturno Nusantara.

Suita Marzukiana merupakan interpretasi Jaya Suprana terhadap karya-karya Ismail Marzuki. Menurut apa yang tercantum di sampul albumnya, suita adalah nama bentuk musik era barok dalam bingkai siklus terdiri dari aneka ragam irama musik pengiring tarian. Karya-karya utama Johan Sebastian Bach bisa dikelompokkan dalam suita.

Memang isinya sangat kaya. Ada yang berirama blues ceria dan jahil dalam Payung Fantasi, jazz lembut di Sapu Tangan dari Bandung Selatan, ada swing, ada pula yang bernuansa sangat klasik yang ciri-cirinya mirip dengan komposisi-komposisi Bach atau Chopin. Ah, entahlah, saya tidak begitu paham musik jazz dan klasik.

Sedangkan di album Tafakur, Jaya Suprana banyak memainkan nada-nada pentatonis yang bernuansa etnis, misalnya di lagu Yen Ing Tawang Ana Lintang. Saya nyaris tidak percaya kalau nada-nadanya dihasilkan dari sebuah piano klasik, bukan gambang atau kenong.Lagu Al-Tiroof (Tamba Ati versi yang lain) menjadi sangat syahdu dan hening.  Lagu ini lebih saya kenal sejak kecil lewat corong langgar karena menjadi lagu wajib puji-pujian setelah azan menunggu shalat berjamaah.

Buat saya, dua album ini menambah khasanah musik saya. Syukur-syukur kalau kelak bisa menirukannya. Sayang, belum ada songbook dari maestro-maestro musik Indonesia yang menerbitkan teks partitur dari karya-karyanya seperti komposer-komposer luar. Kalau sajaaa ada partitur asli untuk komposisi-komposisi Jaya Suprana…

Oh iya, royalti pianis untuk penjualan album-album ini disumbangkan 100% ke Yayasan Bhakti Luhur, Cilincing.

Salute, Pak Jaya Suprana… *menjura hormat*

Flamboyan

Posted by: on May 26, 2011 | 4 Comments

Tiba-tiba pagi tadi waktu sekadar melemaskan jari sebelum berangkat ke kantor, saya ingat dan memainkan lagu lamanya Bimbo yang berjudul Flamboyan (etdah, Bimbo aja udah pasti jadul apa lagi ini labelnya “lagu lamanya bimbo”). Liriknya sederhana saja:

Senja itu, Flamboyan berguguran
Seorang dara memandang
Terpukau…

Satu-satu, daunnya berjatuhan
Berserakan di pangkuan bumi

Ref:
Bunga Flamboyan itu diraihnya
Wajahnya terlihat sayu
Flamboyan berguguran
Berjatuhan
Berserakan…

Sejak itu, sang dara berharapan
Esok lusa kan bersemi kembali…

Tentang sebuah potret di sore hari. Seorang gadis yang berdiri termangu-mangu setengah terpukau memandangi bunga yang jatuh. Hanya itu, tidak ada yang spesial. Tetapi seorang seniman bisa membuatnya menjadi sebuah lirik dan lagu yang cantik kalau boleh saya bilang.

Tetapi mengapa nadanya minor dan terasa sangat meyayat? Apakah flamboyan yang dimaksud Bimbo benar-benar bunga Flamboyan yang sedang jatuh? Denotatif sebagai bunga Flambloyan yang merupakan keluarga Fabaceae alias polong-polongan. Tetapi ataukah sebuah perlambang seorang pria? Kalau bukan, mengapa lagunya bernada minor yang sedih?

Inilah indahnya seni. Seni itu seperti melihat sesuatu melalui kaca hablur. Apa yang terlihat akan nampak berbeda ketika dilihat dari sudut yang berbeda-beda. Demikian pula seni. Terserah Anda memaknai lirik lagu itu. Anda bisa berimajinasi menurut khayalan Anda sendiri.

Chord: Dengan Menyebut Nama Allah

Posted by: on May 21, 2011 | 4 Comments

Dengan Menyebut Nama Allah
Dipopulerkan oleh: Novia Kolopaking
Nada dasar: A = Do

Intro: A – E – D (2x)

A      A/Ab   A/Gb    A/E      D
Dengan menyebut     nama   Allah

E/B           A     E/Ab     E-F-Gbm
Jalani hidupmu, yakinkan niatmu

E       B/Eb        E
Jangan pernah ragu

E  A      A/Ab   A/Gb     A/E     D
Dengan menyebut     nama   Allah

E/B            A     E/Ab     E-F-Gbm
Bulatkan tekadmu, menempuh nasibmu

E       B/Eb      E
Kemanapun menuju

Reff:

Ab        Eb          Db
Serahkanlah hidup dan matimu

Db    Eb/Db    Cm       Fm
Serahkan pada Allah semata

Db    Eb/Db   Cm        Fm
Serahkan    duka gembiramu

Bb                Eb  Eb/F  Eb/G   Ab
Agar damai senantiasa hatimu

E  A      A/Ab   A/Gb     A/E     D
Dengan menyebut     nama   Allah

E/B            A     E/Ab     E-F-Gbm
Bulatkan tekadmu, menempuh nasibmu

E       B/Eb      E
Kemanapun menuju

Reff 2x

Seperti biasa, saya menulis chord karena sama sekali tidak ada chord yang memuaskan yang saya temukan di internet. Ini saya tulis berdasarkan versi asli yang dinyanyikan Novia Kolopaking waktu masih kurus aktif menyanyi (sebelum jadi isteri Cak Nun). Progresi chord ketika masuk reffrain adalah turun setengah nada (dari A ke Ab), dan ketika balik ke bait-baitnya dilempar ke E untuk kembali ke A. Tanda garis miring, misalnya A/E berarti Anda harus membunyikan kunci A dengan bas ditahan di E. Garis sambung adalah walking bass, jadi E-F-Gbm Anda jalankan bas E-F-Gb dengan mendarat di kunci Gbm.

Oke? Selamat memainkan, semoga bermanfaat hehe…

Sebuah Catatan, Singing Vaganza

Posted by: on Oct 24, 2010 | 6 Comments

Kantor saya bisa dibilang kantor yang memiliki ekskul (kegiatan di luar pekerjaan utama) yang cukup banyak. Salah satunya adalah Sportvaganza, sebuah turnamen olahraga dan seni antar divisi yang diselenggarakan setiap tahun. Mirip Porseni (Pekan Olahraga dan Seni) di SD dulu. Di cabang olahraga ada futsal, badminton, volley ball, basket, atletik (lari estafet dan sprint), dan bowling. Sementara di sisi “vaganza”-nya ada lomba menyanyi. Meskipun tema utamanya adalah having fun, mau tak mau hawa turnamen sangat terasa kental hingga setiap divisi menyiapkan semuanya sebaik mungkin.

Saya sendiri tidak pandai berolahraga, tetapi saya masih berpartisipasi di pesta tahunan ini di bidang seni-nya. Saya berkesempatan mengiringi seorang kawan yang multi talenta, menjadi bintang di lapangan futsal dan badminton, sekaligus penyanyi yang tahun lalu mewakili BPMIGAS di ajang lomba ESDM Gitavaganza.

Kami mengaransemen Endless Love-nya Lionel Richie dan Dianne Ross agar lebih sesuai untuk suara cowok dan dinyanyikan dengan single. Kami membuat musiknya sesederhana mungkin dengan tujuan untuk menonjolkan karakter suara Salman yang sangat khas. Sayangnya, kami tidak mengantisipasi penonton yang histeris ketika Salman tampil. Saya bahkan tidak bisa mendengar suara piano saya sendiri. Monitor yang ada di depan panggung percuma karena kalah dengan jeritan penonton yang memadati lima ruang meeting yang disulap menjadi ballroom. Ini membuat kami membuat kesalahan yang cukup fatal di rolling terakhir ketika juri memergoki ada nada yang terpeleset sehingga kami urung mendapatkan gelar juara.

Tidak mengapa, memang rencananya bukan untuk mengejar juara. Intinya adalah having fun rame-rame eksis di atas panggung, he he he… Buktinya, ketika kami tampil kedua kali untuk mengiringi Stenly menyanyikan Sesaat Kau Hadir-nya Utha Likumahua, saya bertukar alat musik dari keyboard menjadi pegang gitar. Itu benar-benar spontan karena sejak saya pindah haluan ke aliran piano klasik, saya belum pernah memainkan gitar lagi.

Saya sempat berfoto bareng dengan Ghea ‘Idol’ yang menjadi salah satu juri. Thanks pula buat tante Icha dan Endah yang mati-matian me-make-over saya agar penampilan harian saya yang “so-fourties-style” menjadi ala anak band dengan jeans, sepatu kets putih, dan kemeja body-fit yang digulung. Hahaha… it wasn’t me, indeed…

Belajar Partitur Musik

Posted by: on Jul 25, 2010 | 5 Comments

Jika saya ditanya, mana yang lebih mudah, main musik hasil aransemen sendiri atau main musik dengan baca partitur, maka saya akan menjawab main musik dengan aransemen sendiri. Indeed. Main musik yang lebih sering diistilahkan sebagai playing music by ear itu benar-benar mengandalkan kemampuan dan sense of music dari pemainnya. Dan lebih mudah, karena kita bebas membunyikan alat musik semau kita, tidak dibatasi aturan apa pun.

Tapi sedikit sekali yang memiliki telinga setajam garputala bukan? Saya sendiri memiliki sense yang sangat terbatas, hanya sejauh nada-nada natural dengan progresi standar: C – A minor – D minor – G – C – F – G7 – C. Ketika lagu berprogresi naik atau turun, saya sudah tidak mampu melacaknya lagi. Kawan saya pernah dengan sebal mengambil gitar yang sedang saya mainkan untuk dia mainkan sendiri, karena kunci-kunci chord yang saya bunyikan sama sekali tidak akurat.

Karena tergantung pada perasaan, playing music by ear memiliki titik batasnya. Ini yang saya alami ketika belajar bermain gitar. Setelah hampir 12 tahun genjreng sana genjreng sini, saya merasa kok tidak bisa kemana-mana lagi. Tidak ada lagi yang bisa dieksplorasi. Saya tahu bahwa saya telah mencapai batas kemampuan.

Inilah sebabnya mengapa partitur musik itu perlu. Di dalam partitur terdapat berbagai macam ilmu-ilmu baru yang bisa mengasah perasaan lebih tajam lagi. Tetapi partitur itu sangat membosankan, karena:

Kecambah

Notasi musik yang sering disebut kecambah itu susah dipelajari, paling tidak ada tiga hal yang mesti ditaklukkan tentang notasi: (1) Menerjemahkan notasi musik menjadi nada; (2) Mencari letak nada itu di alat musik; (3) Dua hal di atas harus dilakukan dalam waktu yang sangat sempit karena segera disusul oleh nada yang lain. Bayangkan not-not 1/16 itu harus dimainkan dengan kecepatan 130 beat (Contoh: Turkish March, Wolfgang A. Mozart).

Tangga Nada Dasar Baru

Berapa jumlah nada dasar yang Anda kuasai? Saya hanya menguasai sedikit sekali tangga nada yang biasa saya mainkan. Nada C natural dan beberapa nada sharp seperti G (1#), D (2#), A (3#), E (4#), dan satu nada flat, yaitu F (1b). Kalau Glenn Fredly atau Yovie Widianto biasa membuat lagu-lagunya berprogresi naik satu setengah (misalnya dari C naik ke D#), jelas saya sudah pasti tidak bisa memainkannya sampai habis tanpa bantuan orang lain.

Partitur membuat (atau memaksa) kita belajar tangga nada baru yang sama sekali belum pernah kita mainkan. Clair de Lune-nya C. Debussy memaksa kita bermain di tangga nada 5 flat atau di D flat (Db). Atau Piano Sonate op. 13 “Pathetique” dari Ludwig van Beethoven, mengharuskan kita bermain di tangga nada 4 flat atau di A flat (Ab). Sangat jarang ditemukan karya-karya komponis besar musik klasik itu memakai tangga nada natural C.

Mengapa tidak dikonversi ke C saja biar mudah? Atau bagi yang memakai keyboard, mengapa tidak ditranspose saja? Konversi ke nada dasar C akan merusak esensi keseluruhan dari sebuah komposisi, khususnya komposisi musik klasik. Boleh percaya boleh tidak, tetapi para komponis itu memang memilih nada dasar yang sejiwa dengan musik yang mereka tulis. Saya pernah mencoba memainkan Clair de Lune di tangga nada C dan langsung kehilangan unsur magis dibandingkan ketika dimainkan di nada aslinya: D flat.

Fitur transpose menurut saya adalah teknologi yang lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya. Transpose akan menghilangkan esensi belajar karena kita tidak akan pernah tahu tangga nada selain C. Lagipula, transpose akan berbahaya jika memainkan banyak lagu: lupa mengembalikan! Waktu awal-awal saya belajar piano, ketika asyik ber-jam session sore-sore dengan kawan-kawan sekantor, saya melakukan transpose untuk menyesuaikan dengan suara vokalis. Di lagu berikutnya, kawan saya yang pegang bass memarahi saya karena tiba-tiba suara keyboard saya fals. Ternyata saya lupa mengembalikan posisi transpose keyboard, he he he…

Pola Baru

Playing by ear biasanya menggunakan pola ritmik yang sama yang biasa kita mainkan dan kuasai. Misalnya, saya biasa memainkan pola bas berjalan 1-5-1-2-3 ajaran mahaguru Stenly untuk piano pop. Kalau baca partitur, setiap lagu memiliki pola ritmik yang berbeda-beda. Minuet-nya JS. Bach membuat jari kiri bekerja keras karena basnya terus berjalan. Dengan memperoleh pengetahuan baru tentang pola-pola musik, secara tak sadar itu akan meningkatkan skill playing by ear.

Membaca partitur bukanlah pelajaran yang mudah. Memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa membaca partitur seperti membaca buku saja. Saya tentu saja sudah sangat terlambat — harusnya saya belajar sejak SD, bukan di umur 25 tahun. Tetapi investasi waktu sepanjang itu akan sangat menyenangkan sebagai catatan perjalanan bermusik seseorang. Tentu saja!

*) Ilustrasi: Piano Sonata op. 13 “Pathetique”, Ludwig van Beethoven; 50 Greats for the Piano, Yamaha Corporation, 2000.

Terinspirasi

Posted by: on Mar 3, 2010 | 6 Comments

Ilustrasi yang luar biasa ini saya temukan di sampul DVD Fur Elise: Bagatelles for piano by Ludwig van Beethoven yang dimainkan oleh Sthephanie McCallum. DVD ini berdurasi sekitar satu jam berisi 37 komposisi Bagatelle, dimana salah satunya adalah Bagatelle in A minor, Fur Elise yang terkenal itu.

Saya membayangkan, di sebuah sore yang hangat, Theresse Malfatti sedang mencoba nada-nada yang baru dikenalnya. Mungkin semacam G#m11 first inversion. Ia tampil begitu anggun dan berkilau dalam riasan dan busana harian. Entah kenapa, saat itu nada-nada yang ia mainkan begitu merdu terdengar. Setiap ketukan nada yang ia bunyikan lewat jemarinya yang lembut serasa melayang-layang di udara, memenuhi ruangan. Penghayatan dan gairah terhadap musik begitu terasa.

Sang guru, Ludwig van Beethoven terhenyak. Bukan saja ia terkesan dengan suasana musikal yang sedang berlangsung, tetapi ia juga mengagumi kecantikan wajah muridnya yang telah mencuri hatinya. Seorang wanita muda yang lincah, ceria, dan berbakat yang sedang menari-narikan jari-jari lentiknya itu mempesonanya. Tanpa disadari oleh wanita itu, perlahan ia memperhatikannya dalam-dalam. Gelombang inspirasi menyerangnya. Satu bar dua bar ia tuliskan saat itu juga. Itulah nada awal rondo Bagatelle WoOp. 059: Fur Elise.

Switch to our mobile site