Ilustrasi yang luar biasa ini saya temukan di sampul DVD Fur Elise: Bagatelles for piano by Ludwig van Beethoven yang dimainkan oleh Sthephanie McCallum. DVD ini berdurasi sekitar satu jam berisi 37 komposisi Bagatelle, dimana salah satunya adalah Bagatelle in A minor, Fur Elise yang terkenal itu.
Saya membayangkan, di sebuah sore yang hangat, Theresse Malfatti sedang mencoba nada-nada yang baru dikenalnya. Mungkin semacam G#m11 first inversion. Ia tampil begitu anggun dan berkilau dalam riasan dan busana harian. Entah kenapa, saat itu nada-nada yang ia mainkan begitu merdu terdengar. Setiap ketukan nada yang ia bunyikan lewat jemarinya yang lembut serasa melayang-layang di udara, memenuhi ruangan. Penghayatan dan gairah terhadap musik begitu terasa.
Sang guru, Ludwig van Beethoven terhenyak. Bukan saja ia terkesan dengan suasana musikal yang sedang berlangsung, tetapi ia juga mengagumi kecantikan wajah muridnya yang telah mencuri hatinya. Seorang wanita muda yang lincah, ceria, dan berbakat yang sedang menari-narikan jari-jari lentiknya itu mempesonanya. Tanpa disadari oleh wanita itu, perlahan ia memperhatikannya dalam-dalam. Gelombang inspirasi menyerangnya. Satu bar dua bar ia tuliskan saat itu juga. Itulah nada awal rondo Bagatelle WoOp. 059: Fur Elise.
Tidak banyak musik klasik yang menawan hati para pecinta musik awam yang notabene lebih menyukai musik populer. Di antara yang sedikit itu, saya yakin Fur Elise adalah salah satunya. Komposisi ini terkenal berkat nada awalnya yang melegenda, teng tung teng tung teng ting tong teng tung…. Ditulis oleh komponis besar Ludwig van Beethoven yang tuna rungu, Fur Elise adalah komposisi musik yang luar biasa, baik bagi para penikmat maupun pemain.
Detail
Jika anda pernah melihat partitur aslinya, pada partitur itu tertulis Fur Elise, Bagatelle in A minor, WoO 59.Bagatelle, maksudnya pendek dan berprogresi secara tidak terduga. Fur Elise dimulai dengan nada-nada yang lembut, mengalun, melenakan di bagian pertama kemudian terpecah menjadi progresi yang mengejutkan dan tak terduga di bagian kedua dan ketiga.
Bentuk komposisi seperti ini dinamakan rondo. Dalam rondo, tema pertama dimainkan, kemudian tema kedua diperkenalkan dan dikembangkan. Sebelum tema ketiga masuk, komposisi kembali lagi ke tema pertama dan akhirnya diakhiri kembali di tema pertama setelah melalui tema ketiga yang tak terduga.
A minor tentu saja adalah kunci dasar yang dimainkan. Dalam musik modern, tanda kunci (key signature) A minor tidak terlalu dikenal karena nada dasar ini sama saja dengan nada dasar C yang terkenal. A minor adalah bentuk sedih dari tangga nada C mayor.
WoO 59, ini seperti tanda air yang saya tulis dalam setiap karya foto saya. O adalah opus (bahasa Latin) yang kira-kira berarti karya. Masalahnya, Beethoven hanya menomori karyanya hanya untuk karya-karya besar dan penting saja seperti misalnya grand symphonies atau piano sonata. Karya yang lebih kecil seperti Fur Elise ini tidak memiliki nomor opus/karya, sehingga orang memberikan tanda untuk Fur Elise sebagai WoO: tanpa nomor karya.
Siapa Elise Sebenarnya?
Pertanyaan yang sangat menarik tentu saja adalah misteri nama Elise di komposisi ini. Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa Elise adalah kekeliruan — seharusnya adalah Fur Therese – karena buruknya tulisan tangan Beethoven. Hal ini didasarkan pada fakta sejarah bahwa pada saat itu ada wanita bernama Therese Malfatti yang merupakan salah satu wanita yang menolak lamaran seorang Ludwig van Beethoven. Hingga masa meninggalnya, Beethoven tidak pernah menikah. Kasih tak sampai.
Andai tulisan itu memang benar Elise, bukan Therese, Elise akan selalu menjadi misteri yang akan menghidupkan imajinasi para penikmat musik klasik.
Saat saya memainkan bagian pertama Fur Elise, saya bisa merasakan lewat jari-jari saya, membayangkan seorang wanita cantik bernama Elisa yang begitu mempesona seorang laki-laki. Mereka berteman baik, kenangan akan masa lalu yang hadir di antara mereka berdua. Hari-hari yang begitu berwarna. Namun tiba-tiba sesuatu datang merusak semuanya, memadamkan sebuah harapan akan cinta yang bersambut. Cinta yang tak berbalas. Hingga cinta itu berakhir dalam sebuah kesedihan.
Saya mengenal lagu Hello-nya Lionel Richie ini sudah lama, lagu ini adalah salah satu lagu latihan saya waktu belajar bermain gitar belasan tahun yang lalu. Tapi saya tidak pernah menduga videoclip-nya seperti ini. Banyak orang berkomentar videoclip ini jelek ceritanya, tapi saya kok berpenilaian lain. Sangat menyentuh kalau buat saya.
Adalah seorang guru seni muda (saya pikir kelas musik) yang diam-diam menyukai salah satu muridnya yang tuna netra. Namanya Laura. Ia kemudian memperhatikannya, memikirkannya, mencuri pandang kepadanya, bahkan menguntitnya, yang kadang-kadang hanya sekadar untuk menikmati indahnya sinar mentari yang jatuh di gerai rambutnya.
Menurut saya, sejatinya lagu ini adalah lagu tentang keragu-raguan seorang pria ketika mulai jatuh cinta kepada gadis yang dipilihnya dan harus memutuskan apakah ia akan melangkah lebih lanjut ataukah justru berlari menjauh. Dan inilah yang dialami pak guru yang sedang jatuh cinta kepada muridnya yang tuna netra. Tetapi masalahnya, ia sendiri tak tahu bagaimana harus menyatakan cintanya kepada Laura. Ia tak tahu bagaimana cara merebut hati sang gadis, bagaimana cara menunjukkan bahwa ia sebenarnya jatuh cinta kepadanya.
Hingga akhirnya, ketika suatu hari di kelas seni patung, Laura menunjukkan hasil karya-nya. Seorang tuna netra, dengan mata hati perasaannya, mencoba melukiskan apa yang ia lihat dalam karyanya. Katanya, “I’ve wanted you to see it so many times. But I finally think it’s done. Tell me what you think of it… This is how I see you…”Â
Tidak terasa, empat bulan perjalanan saya belajar piano. Jari-jari masih kaku, dan saya adalah orang yang paling malas melakukan penjarian. Latihan penjarian itu membosankan, hanya tang ting tung dari kiri ke kanan lalu balik lagi sampai bosen. Tapi memang terasa sekali manfaatnya untuk melemaskan jari. Memaksa jari-jari bekerja keras karena setengah jam saja sudah bisa bikin kelingking gemetar tak mampu lagi mencet tuts piano. Dan saya ingat pesan Pak Dimitri Mahayana waktu beliau mengajari saya secara singkat teori-teori piano jazz: bahwa penjarian itu penting agar kita selalu melangkah maju.
Tetapi paling tidak, apa yang saya dambakan waktu tercetus pikiran untuk belajar piano sudah sebagian terwujud. Memainkan lagu-lagu pop slow sederhana, bermain untuk sekedar melepas penat dan mengisi waktu di hari sabtu dan minggu. Saya sering melamun tentang malam yang hening sambil diiringi dentingan piano yang lembut. Seperti lagu yang saya mainkan tadi, medley lagu-lagu lama Koes Plus: Desember dan Maria. Kadang-kadang, juga untuk curhat juga, misalnya lagu Cinta Dalam Hati-nya Ungu yang bisa saya nyanyikan dengan penuh penghayatan. :))
Meskipun suasana malam hari itu buat saya paling cocok diiringi musik jazz yang lembut bernada-nada kromatik dominan 5 dan 9, saya masih jauh dari itu. Kedua tangan saya masih belum terlalu bisa diajak kompromi, utamanya ketika jari kiri memainkan nada 1/8 dan jari kanan memainkan nada 1/16. Dan proyek besar saya juga belum selesai, yaitu menyelesaikan satu partitur lengkap First Love-nya Utada Hikaru. Masih mandek di bagian ref-nya.
So far, piano jauh lebih menyenangkan daripada gitar, he he he…
Don’t Sleep Away The Night (versi akustik) - Daniel Sahuleka
Nada dasar: D (aslinya memakai nada dasar E)
Transcribed by: Galih Satria
Intro: D - F#m - G - A (2x)
D Â Â Â Â Â Â Â Â A/F#Â Â Â Â GÂ Â Â Â Â Â Â Â Â F#m-Em
Tomorrow's near never I felt this way
Em    A                  D          C#m-Bm
Tomorrow how empty it will be that day
Bm                                A/F#m
It tastes so bitter or are these tears that I hide?
G/EÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â F#m
to know that you're my only light
Em     A          A/F#
I love you, oh I need you
Em   A-A7
Oh yes I do
DÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â A/F# Â Â Â Â Â Â G Â Â F#m-Em
Don't sleep away this night my baby
Em              A                   D  C#m/Bm
Please stay with me at least 'till dawn
Bm             G/E
It hurts to know another hour has gone by
AÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â D
And every minute is worth while
G/EÂ A
Oh I love you
Interlude: D - F#m - G - A (2x)
D/F# Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â G Â Â Â Â Â Â Â F#m-Em
How many lonely days are there waiting for me?
Em           A           D      C#m-Bm
How many seasons will flow over me
Bm             A/F#
'till the emotions make my tears run dry
G/EÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â F#m
at the moments I should cry
Em          A   A/F#
For I love you, oh I need you
Em A-A7
Oh yes I do
Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
And every minute is worth while
GÂ Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â Â A
And it makes me so afraid
Don't sleep away this night my baby
Please stay with me at least 'till dawn
It hurts to know another hour has gone by
The reason is still I love you...
Coda: D - F#m - G - A - D
Saya mengenal lagu-lagunya Daniel Sahuleka waktu ia tampil live di Trans TV. Diiringi satu gitar akustik yang ia petik sendiri, ia menyanyikan Don’t Sleep Away the Night. Petikan gitarnya sederhana, tidak terlalu mendominasi keseluruhan performance-nya malam itu, tapi kesederhanaan musiknya malah memperkuat pesan yang dibawa lagu ini.
Liriknya buat saya sangat dalam. Pernahkah Anda berada dalam suasana ini: Anda sedang bersama orang yang Anda sangat cinta, ngobrol ngalor ngidul, tertawa-tawa lepas, bercengkerama dan bersenda gurau. Tapi Anda tahu, itulah saat terakhir Anda bisa bersamanya. Saat-saat terakhir Anda bisa menikmati senyumannya. Setelah itu, ia akan pergi meninggalkan kehidupan Anda. Jika pernah, mungkin Anda bisa mencoba menyanyikan lagu ini dengan penuh perasaan. :)