Musik Klasik adalah Seni Interpretasi
Guru piano saya yang gaya mainnya “sangat pop” pernah mencemooh kalau orang yang baca music sheet (partitur) itu tidak ada bedanya dengan robot atau mesin pembaca sheet. Ia tidak terlalu meng-apresiasi pianis yang mainnya sangat bagus karena membaca partitur. Ia lebih mengapresiasi pianis-pianis yang bebas yang memainkan sebuah lagu dengan gayanya sendiri tanpa harus terikat dengan partitur musik. Pendapat yang sangat wajar karena guru saya itu memang bukan “anak sekolahan”. Ia mendevelop gaya bermainnya sendiri dan lebih sering bermain berdasarkan apa yang ia dengar. Ia memiliki satu set arpeggio standar yang bisa ia aplikasikan dalam berbagai macam lagu. Gaya yang sangat pop dengan sedikit nuansa jazz.
Sadar karena bakat seni itu adalah karunia, saya tahu tidak akan terlalu banyak berkembang jika saya mencoba mengembangkan gaya saya sendiri. Boro-boro gaya, bermain chord standar aja masih berlepotan. Karena itu pada suatu titik, bisa dikatakan saya mengambil jalan yang berbeda dengan guru saya itu. Saya belajar not balok dan tertarik pada musik-musik klasik. Langkah ekstrim-nya, saya menjual keyboard Yamaha Portable DGX 620 dan menggantinya dengan digital piano murni yang hanya bisa membunyikan suara piano saja. Yamaha Arius YDP series, versi tidak populer-nya Clavinova.
Setelah menyelesaikan beberapa partitur musik klasik seperti Fur Elise, Sonata op. 13 Pathetique, Canon in D Major, dan Menuett G-dur nya JS Bach, saya pikir pendapat guru saya itu salah. Musik klasik itu menawarkan ruang yang sangat luas untuk bereksplorasi. Partitur musik hanyalah sebuah patokan agar pianis tetap bermain dalam koridor komposisi tersebut. Tetapi variasi tempo, lembut dan kerasnya not yang ditekan, ketukan, ritme, semuanya tergantung interpretasi masing-masing. Dan hal itu bisa menjadikan sebuah komposisi yang sama memiliki emosi yang sangat berbeda karena dimainkan oleh orang yang berbeda.
Contohnya, Clair de Lune yang dimainkan oleh Thomas Labe dan Grant Johannesen ini. Sama-sama Clair de Lune karya komposer Claude Debussy (teman-teman kalau suka film Twilight akan tahu komposisi ini). Dua versi ini menurut saya memiliki emosi yang sangat berbeda. Bahkan dua versi itu juga berbeda dengan yang di hardisk saya (versi Yamaha Music — bonus track yang disertakan dalam bundel piano).
Kedalaman emosi ini tidak bisa dikeluarkan oleh sebuah mesin pembaca partitur. Semakin tinggi skill seorang pianis, akan semakin terasa keindahan nada-nada yang dikeluarkan oleh sebuah komposisi musik klasik. Demikian.
Nonton Resital Piano Teguh Sukaryo
Mungkin saya termasuk orang yang aneh. Orang ramai-ramai pergi ke Java Soulnation, saya malah nyasar nonton resital piano klasik Teguh Sukaryo di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki. Ya memang, siapa yang kenal judul-judul macam Fantasie Impromptu, La Campanella, Prelude in B minor, atau Rondo Alla Turca. Ah tapi biarin, sisi freak yang ini mau saya pertahankan.
Dimana-mana musik klasik memang tidak terlalu banyak disukai karena memang tidak populer (ya eyalah, kalo populer namanya jadi musik pop). Paling yang nonton di teater kecil tidak lebih dari 30 – 50 orang saja dari seluruh kapasitas teater yang saya perkirakan sekitar dua ratus an orang. Dan saya juga pikir paling-paling yang nonton kalau nggak guru piano ya murid sekolah piano. Musik klasik biasanya menjadi kurikulum pelajaran awal sekolah-sekolah piano sebelum mengarah ke pop atau jazz.
Saya akhirnya juga berkesempatan melihat dan mendengar secara langsung grand piano Steinway & Sons yang dimiliki Taman Ismail Marzuki yang selama ini hanya saya dengar ceritanya saja. Di tangan pianis handal, ternyata Steinway memiliki suara yang sukar diungkapkan dengan kata-kata. Secara karakter, suaranya agak mendem dibandingkan grand piano Yamaha yang melengking. Saya pikir Steinway sangat cocok untuk memainkan musik-musik klasik, sementara Yamaha cocok untuk musik-musik generasi new age.
Tanpa pengeras suara, piano Steinway mampu menghadirkan gelombang suara yang imajinatif. Di Rondo Alla Turca-nya Mozart (Turkish March), rasa-rasanya seperti menggambarkan barisan tentara Turki yang menggetarkan tentara-tentara Eropa di Perang Salib. Gegap gempita, mengejutkan, dan menggetarkan. Atau di Fantasie Impromptu yang temponya berubah-ubah, rasa-rasanya seperti melihat kehidupan Chopin yang tak menentu.
Meskipun musik klasik kebanyakan orang tidak tahu, tetapi Teguh Sukaryo di speech pembukaannya mengatakan bahwa komposisi-komposisi yang dimainkannya malam itu adalah karya-karya yang populer. Bahkan tajuk resital piano kali itu adalah “The Greatest Hits”. Saya agak tersenyum geli. Ya benar sih, jika dibandingkan dengan komposisi-komposisi lain, apa yang dimainkan memang sangat populer yang biasa dimainkan di sekolah-sekolah musik.
Piano Sonata Op. 13 “Pathetique”
Sudah setahun lebih sejak saya mulai mempelajari partitur Sonata Opus. 13 “Pathetique” karya Ludwig van Beethoven. Sebenarnya empat bulan berikutnya saya sudah bisa memainkan keseluruhan komposisinya, tetapi sampai sekarang saya masih belum menganggap lulus. Bukan karena ini memerlukan skill penjarian tinggi yang cepat, tetapi justru karena kelembutannya. Komposisi ini harus dimainkan dengan lembut dan dari hati. Justru di lagu-lagu lambat lah biasanya seorang pianis bisa dinilai kematangannya (dan saya akan ketahuan kalau pegang piano baru tiga tahun ).
Tetapi sudah saatnya saya belajar komposisi berikutnya untuk melatih penjarian saya. Jadi ya sudah apa adanya saya rekam bagian pertama dan kedua Pathetique ini. Untuk bagian ketiga saya belum merasa layak untuk merekamnya, hehehe…
Silakan didownload di sini.
Bonus: Kasih Tak Sampai dalam file MP3 :p
Kasih Tak Sampai
Yeah Hattrick!!
Hattrick pertama setelah lebih dari enam tahun ngeblog hahaha…. Maaf ya temen-temen ngeflood RSS reader kalian!
Ceritanya tadi sore pulang kantor dan bengong di dalam kamar. Energi rasa-rasanya masih full gara-gara di kantor banyak magabut — mungkin orang mau siap-siap masuk bulan puasa kali ya ga kirim email kerjaan, heheheh. Kuliah udah lewat, tinggal nulis tesis dan ternyata yang “tinggal nulis” itu maleeees banged.
Jadilah saya iseng-iseng bikin cover lagu. Pas yang lagi muter di playlist lagunya Padi, Kasih Tak Sampai, yang khas dengan dentingan harpa-nya Maya Hasan. Ya sudah saya iseng-iseng bikin pakai digital piano saya, Yamaha Arius, yang kebetulan punya beberapa suara selain suara piano akustik. Suara musik direkam duluan dengan bantuan metronom (karena saya payah sekali soal jaga tempo). Suara piano duluan untuk menggantikan harpa. Kemudian biar nggak terlalu sepi saya masukin suara string ketika masuk reff. Terakhir masukin suara vokal pakai suara sendiri. Mixing-nya pakai software Acoustica Mixcraft 5.2 trial edition yang dikasih tau sama Nilla.
Seumur-umur dengerin suara sendiri di earphone rasanya geli juga. Cukup bisa bikin perut mual, hahaha… Lidah medhok saya kelihatannya memang sudah tidak bisa direparasi, nyanyi aja masih medhok, hehehe…
Ya sudah, without further ado, kalo mau iseng-iseng dengerin silakan di-play video di bawah ini. Risiko ditanggung penumpang dan di luar tanggung jawab sopir. )
The Last Session
Jika dinamakan sebuah band rasa-rasanya terlalu berlebihan karena kami hanyalah sekelompok orang yang mencintai seni, khususnya seni musik. Berawal dari sekadar genjreng-genjreng gitaran setelah jam kantor, suatu hari kami iseng-iseng pengen main di studio band. Pas booking sama petugasnya ditanya, “nama band-nya apa pak?” Jadilah kita kebingungan sendiri, kepikiran nama “Apa Adanya Band” ya sudah akhirnya nama itu dipakai seterusnya buat pesen studio. Seperti namanya, kami memang tampil apa adanya, kemampuan apa adanya, waktu latihan apa adanya, yang penting have fun.
Cukup banyak studio latihan yang pernah dijajal. Pernah di C-Pro di belakang Tugu Proklamasi, Menteng. Lalu di Odyssey Tebet, lalu di Bukit Duri (lupa nama studio-nya), dan beberapa kali terakhir di Bina Seni Suara Kebayoran Baru. Terakhir di studio BepBop di Tebet Barat, Jakarta Selatan.
Itu terjadi di sekitar tahun 2009 – 2010. Satu per satu anggota band menikah dan semakin tidak punya waktu karena sibuk untuk keluarga. Apalagi setelah saya kuliah lagi, praktis sulit sekali untuk menyatukan jadwal kelima orang itu. Band ini tidak pernah main bareng lagi setelah naik panggung untuk pertama dan terakhir kalinya di event Family Picnic 2009 di Ancol. Waktu itu kami turun full team menyanyikan Smooth-nya Santana dan Black or White-nya Michael Jackson tapi dengan style Adam Lambert.
Kemarin kami berkumpul lagi dan bermain bersama lagi. Tetapi itulah jam session terakhir untuk Apa Adanya Band. Pemain bass (sekaligus guru piano saya) akan melanjutkan karier di tempat lain dan sayonara untuk Jakarta.
Thanks guys, it’s been an honor can play along with all of you!
Bass: Stenly T; Drum: M Faiz Wirawan; Vocal: Salman B; Rhythm Guitar: Puntadi J; Keyboard: Galih S
Pilar-Pilar dalam Musik
Yuk kita menelusuri lebih detail dari alat-alat musik yang biasa menghibur kita, menjadi soundtrack kisah cinta kita, mengisi kesepian kita, dan apa saja. Kata ABBA, who can live without music? What would life be? Without the song or a dance what are we? (Thank You for the Music).
Musik dibangun oleh tiga pilar besar: irama/ritme (rhythm), melodi, dan harmoni. Oke, mari kita kupas satu-satu.
Ritme atau irama atau tempo, rhythm, adalah salah satu bagian terpenting di musik. Ritme menentukan jalannya sebuah musik, cepat ataukah lambat. Ritme dalam suatu lagu dibagi dalam ketukan-ketukan berdurasi sama (bayangkan seperti jarum detik yang berdetak secara ajeg). Ketukan-ketukan ini dibagi-bagi lagi dalam bagian yang sama. Inilah yang biasanya dinamakan birama 4/4, 3/4, 2/4, dan seterusnya. Kalau ditelusuri lebih lanjut, musisi seharusnya jago Matematika karena bisa membagi nada-nada dalam ketukan tertentu, hehehe…
Alat musik yang bertanggung jawab menjaga irama atau tempo adalah drum. Ketukan drum dijadikan patokan alat musik lain untuk membunyikan nada demi nada sehingga bersatu dalam rangkaian musik yang utuh. Sehingga, syarat menjadi pemain drum bahwa ia harus bisa menjaga tempo dengan stabil. Ini tidak mudah lho, banyak kawan-kawan saya pemain drum yang sulit menjaga tempo, khususnya setelah ia melakukan drum roll dan masuk ke reffrain, biasanya temponya cenderung naik. Drum adalah salah satu alat musik yang paling penting dalam musik modern (Fungsi yang sama di musik tradisional gamelan adalah kendang).
Dalam membentuk ritme lagu yang utuh, drum akan ditemani oleh bass untuk menunjukkan nada-nada utama pada setiap bagian lagu. Bass untuk mempertegas chord untuk memandu alat musik melodis atau penyanyi mencari nada yang pas. Bass akan membunyikan nada mengikuti ketukan drum ketika bass drum digebug. Tek dug tek dug dug…
Dua alat musik ini sebenarnya cukup untuk membuat vokalis bernyanyi. Tetapi alangkah sepinya. Jeda antara nada bass akan menyisakan ruang kosong. Lha, ruang-ruang kosong inilah yang akan diisi oleh alat-alat musik melodis seperti gitar, piano, violin, saxophone, flute, dll.
Gitar dan piano, baik ketika memainkan chord maupun melodi untuk mengisi ruang kosong itu, seringkali masih menyisakan ruang kosong lagi. Padahal, bagian lagu yang disebut reffrain itu memerlukan musik yang cukup ramai. Untuk itu biasanya ruang-ruang kosong itu diisi sebuah layer musik yang bisa menutup rapat. Jika kita perhatikan dengan lebih detail, biasanya suara string (gabungan banyak violin yang memainkan nada berbeda-beda) dipakai. Itulah kenapa di pergelaran orkestra atau big band, jumlah alat musik gesek yang paling banyak, padahal fungsinya hanya sebagai pelapis ruang-ruang kosong. Namanya juga pelapis, hanya akan terdengar jika suara-suara dominan seperti drum, bass, gitar, dan piano diam.
Berbagai alat musik baik ritmis dan melodi yang berjalan dalam tempo yang seragam, dengan bunyi yang berbeda-beda, akan membentuk satu pilar lagi dalam musik yang dinamakan harmoni. Tentu saja jika semua alat musik ingin menonjol tidak akan terjadi harmonisasi yang baik. Penyusunan harmonisasi ini seringkali disebut proses aransemen lagu, dan karena pembuatannya adalah mengisi ruang-ruang dalam ketukan-ketukan drum dan bass, hasilnya akan menjadi sebuah komposisi. Penyusunnya disebut komposer.
Ciri Dalam Lagu
Setiap lagu memiliki ciri khas tersendiri yang tidak boleh hilang dalam setiap aransemen model apapun. Ciri ini bisa jadi melodi, ketukan drum, walking bass, penggalan lirik, dsb.
Saya ingat, Trie Utami pernah bilang semacam ini ke salah satu akademia AFI yang menyanyikan lagu Keabadian-nya Reza. Akademia itu mencoba ber-improvisasi supaya ia bisa dibilang bernyanyi dengan gayanya sendiri dengan melantunkan syair tersebut dengan cara begini:
Mung-kinkah / kau men-cintai / diriku selama-lamanya
Padahal cara memotong syair itu, menurut Mbak Iie’, adalah salah satu ciri lagu Keabadian yang tidak boleh hilang:
Mung-kinkah / kau men-cintai diri-ku selama-lamanya
Atau ketukan walking bass di lagunya ME, Inikah Cinta. Coba dengarkan bass-nya ketika di syair, “… Aku tak tahu ha-rus ber-kata apa-a…” Tentu saja kalau rangkaian nada bass itu dipotong menjadi satu saja — meskipun tidak menghasilkan nada yang fals, tapi ciri dari lagu ini menjadi hilang.
Contoh lain. Lagunya KD yang merupakan lagu wajib di setiap acara resepsi pernikahan: Mencintaimu. Anda pasti bisa menebak bahwa ciri lagu ini adalah intro-nya yang dibangun dari dentingan piano. Teng tung tong teng tong… tung teng tong tung… tung teng tong tung… teng.. tong… Saya pernah melihat ada pemain organ tunggal di resepsi pernikahan yang mengganti intro ini dengan intro band-set bawaan dari si keyboard. Nuansa romantisnya langsung hilang menurut saya.
Itulah mengapa di beberapa posting terakhir saya menulis ulang chord-chord lagu yang sedang saya coba mainkan. Sebagai latihan menambah kepekaan telinga melacak nada apa saja yang sedang berbunyi.
Ternyata playing by ear begini mengasyikkan juga. Ini sesuatu yang belum pernah saya lakukan sejak saya bisa membunyikan gitar. Saya merasa cukup dengan chord-chord andalan dasar tanpa variasi (C – F – G – Dm – Em). Saya tidak percaya diri bahwa telinga saya cukup peka menangkap nada-nada. Saya lebih suka membaca partitur — yang kawan saya mencemooh bahwa bermain musik dengan partitur itu seperti robot. Dia memang dianugerahi telinga dan feeling yang luar biasa kalau soal playing by ear hehehe…
Comments