Entries Categorized as 'Musik'

Belajar Partitur Musik

Date July 25, 2010

Jika saya ditanya, mana yang lebih mudah, main musik hasil aransemen sendiri atau main musik dengan baca partitur, maka saya akan menjawab main musik dengan aransemen sendiri. Indeed. Main musik yang lebih sering diistilahkan sebagai playing music by ear itu benar-benar mengandalkan kemampuan dan sense of music dari pemainnya. Dan lebih mudah, karena kita bebas membunyikan alat musik semau kita, tidak dibatasi aturan apa pun.

Tapi sedikit sekali yang memiliki telinga setajam garputala bukan? Saya sendiri memiliki sense yang sangat terbatas, hanya sejauh nada-nada natural dengan progresi standar: C – A minor – D minor – G – C – F – G7 – C. Ketika lagu berprogresi naik atau turun, saya sudah tidak mampu melacaknya lagi. Kawan saya pernah dengan sebal mengambil gitar yang sedang saya mainkan untuk dia mainkan sendiri, karena kunci-kunci chord yang saya bunyikan sama sekali tidak akurat.

Karena tergantung pada perasaan, playing music by ear memiliki titik batasnya. Ini yang saya alami ketika belajar bermain gitar. Setelah hampir 12 tahun genjreng sana genjreng sini, saya merasa kok tidak bisa kemana-mana lagi. Tidak ada lagi yang bisa dieksplorasi. Saya tahu bahwa saya telah mencapai batas kemampuan.

Inilah sebabnya mengapa partitur musik itu perlu. Di dalam partitur terdapat berbagai macam ilmu-ilmu baru yang bisa mengasah perasaan lebih tajam lagi. Tetapi partitur itu sangat membosankan, karena:

Kecambah

Notasi musik yang sering disebut kecambah itu susah dipelajari, paling tidak ada tiga hal yang mesti ditaklukkan tentang notasi: (1) Menerjemahkan notasi musik menjadi nada; (2) Mencari letak nada itu di alat musik; (3) Dua hal di atas harus dilakukan dalam waktu yang sangat sempit karena segera disusul oleh nada yang lain. Bayangkan not-not 1/16 itu harus dimainkan dengan kecepatan 130 beat (Contoh: Turkish March, Wolfgang A. Mozart).

Tangga Nada Dasar Baru

Berapa jumlah nada dasar yang Anda kuasai? Saya hanya menguasai sedikit sekali tangga nada yang biasa saya mainkan. Nada C natural dan beberapa nada sharp seperti G (1#), D (2#), A (3#), E (4#), dan satu nada flat, yaitu F (1b). Kalau Glenn Fredly atau Yovie Widianto biasa membuat lagu-lagunya berprogresi naik satu setengah (misalnya dari C naik ke D#), jelas saya sudah pasti tidak bisa memainkannya sampai habis tanpa bantuan orang lain.

Partitur membuat (atau memaksa) kita belajar tangga nada baru yang sama sekali belum pernah kita mainkan. Clair de Lune-nya C. Debussy memaksa kita bermain di tangga nada 5 flat atau di D flat (Db). Atau Piano Sonate op. 13 “Pathetique” dari Ludwig van Beethoven, mengharuskan kita bermain di tangga nada 4 flat atau di A flat (Ab). Sangat jarang ditemukan karya-karya komponis besar musik klasik itu memakai tangga nada natural C.

Mengapa tidak dikonversi ke C saja biar mudah? Atau bagi yang memakai keyboard, mengapa tidak ditranspose saja? Konversi ke nada dasar C akan merusak esensi keseluruhan dari sebuah komposisi, khususnya komposisi musik klasik. Boleh percaya boleh tidak, tetapi para komponis itu memang memilih nada dasar yang sejiwa dengan musik yang mereka tulis. Saya pernah mencoba memainkan Clair de Lune di tangga nada C dan langsung kehilangan unsur magis dibandingkan ketika dimainkan di nada aslinya: D flat.

Fitur transpose menurut saya adalah teknologi yang lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya. Transpose akan menghilangkan esensi belajar karena kita tidak akan pernah tahu tangga nada selain C. Lagipula, transpose akan berbahaya jika memainkan banyak lagu: lupa mengembalikan! Waktu awal-awal saya belajar piano, ketika asyik ber-jam session sore-sore dengan kawan-kawan sekantor, saya melakukan transpose untuk menyesuaikan dengan suara vokalis. Di lagu berikutnya, kawan saya yang pegang bass memarahi saya karena tiba-tiba suara keyboard saya fals. Ternyata saya lupa mengembalikan posisi transpose keyboard, he he he…

Pola Baru

Playing by ear biasanya menggunakan pola ritmik yang sama yang biasa kita mainkan dan kuasai. Misalnya, saya biasa memainkan pola bas berjalan 1-5-1-2-3 ajaran mahaguru Stenly untuk piano pop. Kalau baca partitur, setiap lagu memiliki pola ritmik yang berbeda-beda. Minuet-nya JS. Bach membuat jari kiri bekerja keras karena basnya terus berjalan. Dengan memperoleh pengetahuan baru tentang pola-pola musik, secara tak sadar itu akan meningkatkan skill playing by ear.

Membaca partitur bukanlah pelajaran yang mudah. Memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa membaca partitur seperti membaca buku saja. Saya tentu saja sudah sangat terlambat — harusnya saya belajar sejak SD, bukan di umur 25 tahun. Tetapi investasi waktu sepanjang itu akan sangat menyenangkan sebagai catatan perjalanan bermusik seseorang. Tentu saja!

*) Ilustrasi: Piano Sonata op. 13 “Pathetique”, Ludwig van Beethoven; 50 Greats for the Piano, Yamaha Corporation, 2000.

Terinspirasi

Date March 3, 2010

fur elise

Ilustrasi yang luar biasa ini saya temukan di sampul DVD Fur Elise: Bagatelles for piano by Ludwig van Beethoven yang dimainkan oleh Sthephanie McCallum. DVD ini berdurasi sekitar satu jam berisi 37 komposisi Bagatelle, dimana salah satunya adalah Bagatelle in A minor, Fur Elise yang terkenal itu.

Saya membayangkan, di sebuah sore yang hangat, Theresse Malfatti sedang mencoba nada-nada yang baru dikenalnya. Mungkin semacam G#m11 first inversion. Ia tampil begitu anggun dan berkilau dalam riasan dan busana harian. Entah kenapa, saat itu nada-nada yang ia mainkan begitu merdu terdengar. Setiap ketukan nada yang ia bunyikan lewat jemarinya yang lembut serasa melayang-layang di udara, memenuhi ruangan. Penghayatan dan gairah terhadap musik begitu terasa.

Sang guru, Ludwig van Beethoven terhenyak. Bukan saja ia terkesan dengan suasana musikal yang sedang berlangsung, tetapi ia juga mengagumi kecantikan wajah muridnya yang telah mencuri hatinya. Seorang wanita muda yang lincah, ceria, dan berbakat yang sedang menari-narikan jari-jari lentiknya itu mempesonanya. Tanpa disadari oleh wanita itu, perlahan ia memperhatikannya dalam-dalam. Gelombang inspirasi menyerangnya. Satu bar dua bar ia tuliskan saat itu juga. Itulah nada awal rondo Bagatelle WoOp. 059: Fur Elise.

Mengenal Musik Klasik: Fur Elise

Date January 31, 2010

furelise.jpg

Tidak banyak musik klasik yang menawan hati para pecinta musik awam yang notabene lebih menyukai musik populer. Di antara yang sedikit itu, saya yakin Fur Elise adalah salah satunya. Komposisi ini terkenal berkat nada awalnya yang melegenda, teng tung teng tung teng ting tong teng tung…. Ditulis oleh komponis besar Ludwig van Beethoven yang tuna rungu, Fur Elise adalah komposisi musik yang luar biasa, baik bagi para penikmat maupun pemain.

Detail

Jika anda pernah melihat partitur aslinya, pada partitur itu tertulis Fur Elise, Bagatelle in A minor, WoO 59. Bagatelle, maksudnya pendek dan berprogresi secara tidak terduga. Fur Elise dimulai dengan nada-nada yang lembut, mengalun, melenakan di bagian pertama kemudian terpecah menjadi progresi yang mengejutkan dan tak terduga di bagian kedua dan ketiga.

Bentuk komposisi seperti ini dinamakan rondo. Dalam rondo, tema pertama dimainkan, kemudian tema kedua diperkenalkan dan dikembangkan. Sebelum tema ketiga masuk, komposisi kembali lagi ke tema pertama dan akhirnya diakhiri kembali di tema pertama setelah melalui tema ketiga yang tak terduga.

A minor tentu saja adalah kunci dasar yang dimainkan. Dalam musik modern, tanda kunci (key signature) A minor tidak terlalu dikenal karena nada dasar ini sama saja dengan nada dasar C yang terkenal. A minor adalah bentuk sedih dari tangga nada C mayor.

WoO 59, ini seperti tanda air yang saya tulis dalam setiap karya foto saya. O adalah opus (bahasa Latin) yang kira-kira berarti karya. Masalahnya, Beethoven hanya menomori karyanya hanya untuk karya-karya besar dan penting saja seperti misalnya grand symphonies atau piano sonata. Karya yang lebih kecil seperti Fur Elise ini tidak memiliki nomor opus/karya, sehingga orang memberikan tanda untuk Fur Elise sebagai WoO: tanpa nomor karya.

Siapa Elise Sebenarnya?

Pertanyaan yang sangat menarik tentu saja adalah misteri nama Elise di komposisi ini. Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa Elise adalah kekeliruan — seharusnya adalah Fur Therese – karena buruknya tulisan tangan Beethoven. Hal ini didasarkan pada fakta sejarah bahwa pada saat itu ada wanita bernama Therese Malfatti yang merupakan salah satu wanita yang menolak lamaran seorang Ludwig van Beethoven. Hingga masa meninggalnya, Beethoven tidak pernah menikah. Kasih tak sampai.

Andai tulisan itu memang benar Elise, bukan Therese, Elise akan selalu menjadi misteri yang akan menghidupkan imajinasi para penikmat musik klasik.

Saat saya memainkan bagian pertama Fur Elise, saya bisa merasakan lewat jari-jari saya, membayangkan seorang wanita cantik bernama Elisa yang begitu mempesona seorang laki-laki. Mereka berteman baik, kenangan akan masa lalu yang hadir di antara mereka berdua. Hari-hari yang begitu berwarna. Namun tiba-tiba sesuatu datang merusak semuanya, memadamkan sebuah harapan akan cinta yang bersambut. Cinta yang tak berbalas. Hingga cinta itu berakhir dalam sebuah kesedihan.

Itulah Fur Elise di imajinasi saya.

Tentang Video Clip Hello

Date August 30, 2009

Saya mengenal lagu Hello-nya Lionel Richie ini sudah lama, lagu ini adalah salah satu lagu latihan saya waktu belajar bermain gitar belasan tahun yang lalu. Tapi saya tidak pernah menduga videoclip-nya seperti ini. Banyak orang berkomentar videoclip ini jelek ceritanya, tapi saya kok berpenilaian lain. Sangat menyentuh kalau buat saya.

Adalah seorang guru seni muda (saya pikir kelas musik) yang diam-diam menyukai salah satu muridnya yang tuna netra. Namanya Laura. Ia kemudian memperhatikannya, memikirkannya, mencuri pandang kepadanya, bahkan menguntitnya, yang kadang-kadang hanya sekadar untuk menikmati indahnya sinar mentari yang jatuh di gerai rambutnya.

Menurut saya, sejatinya lagu ini adalah lagu tentang keragu-raguan seorang pria ketika mulai jatuh cinta kepada gadis yang dipilihnya dan harus memutuskan apakah ia akan melangkah lebih lanjut ataukah justru berlari menjauh. Dan inilah yang dialami pak guru yang sedang jatuh cinta kepada muridnya yang tuna netra. Tetapi masalahnya, ia sendiri tak tahu bagaimana harus menyatakan cintanya kepada Laura. Ia tak tahu bagaimana cara merebut hati sang gadis, bagaimana cara menunjukkan bahwa ia sebenarnya jatuh cinta kepadanya.

Hingga akhirnya, ketika suatu hari di kelas seni patung, Laura menunjukkan hasil karya-nya. Seorang tuna netra, dengan mata hati perasaannya, mencoba melukiskan apa yang ia lihat dalam karyanya. Katanya, “I’ve wanted you to see it so many times. But I finally think it’s done. Tell me what you think of it… This is how I see you…” 

Hello… is it me you’re looking for?

Tentang Empat Bulan Belajar Piano

Date July 27, 2009

Tidak terasa, empat bulan perjalanan saya belajar piano. Jari-jari masih kaku, dan saya adalah orang yang paling malas melakukan penjarian. Latihan penjarian itu membosankan, hanya tang ting tung dari kiri ke kanan lalu balik lagi sampai bosen. Tapi memang terasa sekali manfaatnya untuk melemaskan jari. Memaksa jari-jari bekerja keras karena setengah jam saja sudah bisa bikin kelingking gemetar tak mampu lagi mencet tuts piano. Dan saya ingat pesan Pak Dimitri Mahayana waktu beliau mengajari saya secara singkat teori-teori piano jazz: bahwa penjarian itu penting agar kita selalu melangkah maju.

Tetapi paling tidak, apa yang saya dambakan waktu tercetus pikiran untuk belajar piano sudah sebagian terwujud. Memainkan lagu-lagu pop slow sederhana, bermain untuk sekedar melepas penat dan mengisi waktu di hari sabtu dan minggu. Saya sering melamun tentang malam yang hening sambil diiringi dentingan piano yang lembut. Seperti lagu yang saya mainkan tadi, medley lagu-lagu lama Koes Plus: Desember dan Maria. Kadang-kadang, juga untuk curhat juga, misalnya lagu Cinta Dalam Hati-nya Ungu yang bisa saya nyanyikan dengan penuh penghayatan. :))

Meskipun suasana malam hari itu buat saya paling cocok diiringi musik jazz yang lembut bernada-nada kromatik dominan 5 dan 9, saya masih jauh dari itu. Kedua tangan saya masih belum terlalu bisa diajak kompromi, utamanya ketika jari kiri memainkan nada 1/8 dan jari kanan memainkan nada 1/16. Dan proyek besar saya juga belum selesai, yaitu menyelesaikan satu partitur lengkap First Love-nya Utada Hikaru. Masih mandek di bagian ref-nya.

So far, piano jauh lebih menyenangkan daripada gitar, he he he…