Mencinta Tanpa Harus Jatuh Cinta

Posted by: on Feb 13, 2009 | 10 Comments

FLICKR
Lokasi: Dunia Fantasi Ancol, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR

Anna Althafunnisa yang menjanda, dalam Ketika Cinta Bertasbih 2, menyerahkan kepada ayahnya mengenai urusan jodohnya setelah kegagalan pernikahannya dengan Furqan. Demikian pula Azzam, setelah pertunangannya dengan seorang dokter yang manis di Kudus gagal, ia pun menyerahkan kepada Kiai Luthfi yang tak lain adalah ayah Anna. Kedua orang ini benar-benar pasrah dan percaya sepenuhnya, orang buta pun asal akhlak agamanya bagus menurut Kiai Luthfie akan diterima. Ketika Azzam ditawari, pertanyaan pertamanya adalah, “Apakah ia shalehah, Kiai?” Dan tanpa menanyakan siapa orangnya, ia mengiyakan ketika Kiai Luthfie mengkonfirmasi bahwa calon tersebut shalehah.

KCB, lewat tokoh-tokohnya, berusaha menyampaikan pesan bahwa cinta tak harus diawali dari perasaan suka dan elemen-elemen visual. Saya kira, justru di sinilah segala atribut ditanggalkan, mencintai apa adanya. Segala embel-embel pangkat, jabatan, kemapanan, kekayaan materi, bahkan sikap, sifat dikesampingkan. Tidak peduli jika pasangan kurang mapan secara materi, atau berasal dari keluarga kaya raya, jika akhlak dan agamanya baik, insya Allah akan baik pula.

Saya sendiri yakin, jatuh cinta itu sendiri bisa dibangkitkan, dibuat, dan bahkan direkayasa seiring berjalannya waktu. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan niat yang baik nan mulia (menggenapkan setengah dien, atau pernikahan), cinta akan terbentuk dalam proses perjalanan yang panjang. Dan suatu saat, ada satu titik di diri pasangan yang tiba-tiba bersinar dan membuat Anda tidak bisa lepas lagi darinya pancaran cahayanya. Anda boleh menyebut itu, cinta sejati.

Salam kasih sayang saya untuk Anda semua, pembaca blog ini.
Terima kasih atas segala cinta kasih untuk menyisihkan sedikit bandwidth berkunjung ke sini.

-Galih Satriaji-

Sebuah Pertemuan

Posted by: on Dec 9, 2008 | 17 Comments

Pertemuan kami sebenarnya singkat saja. Tak lebih dari sejam. Sebenarnya saya ingin meminta ditemani untuk keliling Surakarta, melihat-lihat alun-alun utara Kraton Kasunanan dan mengunjungi Mangkunegaran, wisata kuliner macem-macem, tetapi entah kenapa lidah kok jadi kelu. Saya ingat hari ini adalah hari Arafah, dan saya menghormati puasanya sehingga rencana itu saya batalkan. Tapi ia tahu saya baru saja menempuh jarak 40-an km, ia bertanya puasa apa tidak, saya jawab tidak, dan ia segera membuatkan saya segelas air jeruk dingin.

Ia menjemput saya di bundaran Carrefour Solo Baru, setelah mulai dari Kartasura hingga Pasar Klewer memandu saya lewat telepon. Tak banyak bicara. Duduk di samping saya sambil memangku keponakannya, sambil sesekali memberitahu arah ketika waktunya berbelok.

Di tepi sawah berangin lembut itu, kami lagi-lagi lebih banyak diam daripada saling berbicara. Ia memang pendiam, sedangkan saya tidak punya bahan untuk bicara. Saya bukanlah seorang yang ahli menghidupkan pembicaraan. Tapi pertemuan singkat itu membuat saya mengeluh,

“Kemana saja aku dua tahun ini… ”

Semoga saya belum terlalu terlambat.

Selamat Tinggal, Cinta

Posted by: on Nov 6, 2008 | 15 Comments

FLICKR
Lokasi: Dermaga Pantai Prigi, Trenggalek
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM

Hari itu mendung menggantung rendah di atas pantai yang pernah menampakkan view terbaiknya kepada saya. Di tepi laut selatan ini, saya pernah memekarkan kuncup harapan akan cinta. Namun di pantai ini pula di hari itu, hati saya berbisik, Selamat tinggal cinta. Sulit untuk mengubur sebuah harapan, cita-cita, obsesi, dan segala kenangan yang menyertainya. Tapi itulah warna-warni pelangi hidup. Kita tidak bisa mendapatkan semua yang kita inginkan agar bisa mensyukuri apa yang telah kita dapat.

Sebuah kado terakhir telah kutulis untukmu. Sebuah kenangan terakhir bersamamu juga telah kubuat di tempat ini. Selamat tinggal, cinta.

Potongan Kenangan Masa Lalu

Posted by: on Oct 8, 2008 | 25 Comments

“Iya… Si X lagi jomblo. Aku tawarin aja sama si Y. Kali aja dia mau!”

“Yak amppuuun… gitu ya… yang dicariin mantan mlulu. Ini ada temen baikmu yang nggak laku-laku nggak pernah dicariin?”

“Lho, mau to sama dia?!?”

Saya terkesiap. Pertanyaan tonjokan terakhirnya itu mau tak mau mengantarkan saya kepada kenangan dua belas tahun lalu…

Anak berbadan gendut itu baru saja memulai masa depannya. Memutuskan untuk bersekolah di SLTPN 02 Tulungagung. Bukan yang paling favorit memang, tetapi inilah sekolah terfavorit yang masuk akal untuk dicapai dengan angkutan pedesaan setelah SMP 1. Maklum anak mama, belum bisa lepas benar dari pelukan kasih sayang ibu, apalagi harus tinggal di rumah kos-kosan. Jarak 20 km dari rumah ia tekadi akan ditempuh setiap hari.

Untunglah, sang kakak duduk di bangku SMA 2 Tulungagung. SMA paling elit saat itu. Jadi kalau pagi, adik bisa ikut nebeng di belakang motor kakak. Sehingga ia hanya perlu naik angdes sekali setiap hari. Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada naik angdes warna cokelat jurusan Pakel-Bandung itu. Jarang lewat. Siklusnya 20 menit paling cepat. Sejam lebih bisa jadi kalau sopirnya lagi malas narik.

Di sebuah perempatan yang tak akan pernah dilupakannya itulah ia melihat seraut wajah. Wajah itu putih bersih. Bening seperti embun pagi yang baru saja menetes dari daun kembang melati. Sejuk dipandang. Garis-garis wajahnya seperti wajah Cina, tapi matanya lebar berbinar. Rambutnya lurus terurai jatuh hingga nyaris menyentuh pundak. Raut mukanya teduh.

Ah, tau apa anak kelas 1 SMP tentang cinta??

Tetapi entah kenapa, mulai hari itu, anak itu memandang sisi yang sama ketika lewat perempatan itu. Mata bulatnya mencari-cari setiap sudut dan sedikit bersinar ketika menemukan apa yang ia cari. Wajah Putri Salju itu. Padahal waktunya sangat sempit. Kalau kakak lewat perempatan itu di kecepatan 60 km/jam, adik hanya punya waktu tak lebih dari setengah detik untuk mencari. Sekilas saja, tapi tak mengapa.

Tau apalah anak kelas 1 SMP tentang cinta??

Hingga suatu siang sepulang sekolah, angdes yang ia tumpangi ngetem di pemberhentiannya yang kedua setelah terminal Tulungagung. Perempatan Jethakan. Tepat saat anak-anak SLTPN 01 Kauman pulang sekolah. Anak itu tiba-tiba merasa hatinya berdegup tak teratur, berdesir-desir waktu menyadari Putri Saljunya naik angdes itu pula.

“Tumben, biasanya ia naik sepeda atau dibonceng temennya, ” pikirnya…

Itulah kali pertama ia duduk di posisi terdekatnya. Sejurus kemudian, putri salju turun. Ia amati hingga sang putri menghilang di balik pintu hijau rumah di seberang perempatan tempat ia kalau pagi mencari-carinya. Apakah rumahnya di situ? Entahlah.

Selama tiga tahun berikutnya, bisa dihitung jari ia bisa beruntung satu angdes dengannya. Mungkin tak lebih dari lima. Tapi di antara lima itu, sang putri sempat tersenyum menyapa. Senyum yang siapa sangka akan tetap diingatnya hingga tahun-tahun berikutnya?

Saya tersenyum mengingat saat itu. Ya, siapa sangka? Bagian potongan kecil masa lalu. Masa kanak-kanak pra-remaja yang mulai mengenal getar-getar cinta. Saya tersenyum menerima pertanyaan kawan baik yang baru saja meminta saya untuk memotret di acara walimatul ursy-nya kelak. Saya membalasnya dengan jawaban setengah bercanda.

Biarlah waktu yang menjawabnya, kata saya dalam hati. Kalau memang jodoh, Insya Allah cerita itu akan berlanjut seperti potongan-potongan mozaik yang tersusun kembali tanpa cela. Kalaulah tidak, biarlah itu akan jadi kenangan kecil di masa lalu, yang akan menemani kita dalam meniti waktu.

“Assalamu’alaikum…” saya minta diri dan segera menggeber Honda Supra tahun 2000 itu.
“Wa’alaikumsalam.” lamat-lamat saya masih bisa mendengar suaranya di sela jilbab lebarnya yang mengayun ditiup angin sawah dengan lembut.

PS: Salamku untukmu wahai sahabatku (yang kutahu sering membaca celotehanku di sini). Mohon maaf untuk potongan dialog yang tanpa izin kupublish di sini, hehehehe….

Kado Cinta Terakhir Untuknya

Posted by: on Sep 22, 2008 | 14 Comments

Mall Ciputra, sebuah malam yang kering.

Aku menyadari teronggok di tengah-tengah rak buku di sudut lantai 4 Gramedia, Citra Land. Menemani si tante mencari buku yang dimaksudnya. Si Gendut Parsial itu katanya mau belikan buku untuk temannya, jadi muter ke sana ke mari nggak ketemu-ketemu. Berhubung utang budi dianterin beli baju di Matahari, jadi nggak enak kalau kutinggal begitu saja.

Tak sengaja mataku terbentur pada buku tipis berplastik dengan kertas tebal. Wanita cantik berkerudung menghiasi sampul yang terbuat dari kertas mengkilap. The Art of Scarf. Buku tentang pernak-pernik berjilbab atau berkerudung.

“Tidak! Jangan paksa aku membeli buku ini!” otakku berteriak histeris protes.

“Kenapa tidak? Apakah kamu ingin tetap menyiksa diri sendiri? Apakah kamu masih ingin membohongi diri sendiri?” hatiku berargumen dengan diplomatis. Ia pandai merangkai kalimat yang menjebakku pada pertanyaan yang aku tahu tak akan ada jawabannya.

“Akuilah kalau ia adalah seorang yang khusus. Yang pernah menghiasi hari-harimu dengan warna-warni pelangi. Yang mengajarimu untuk menerima sebuah kegagalan. Yang membuatmu jauh lebih kuat dari hari ke hari. Yang membuatmu lebih dewasa. Yang tak mungkin lagi kamu hapus namanya dari….”

“Cukup!! Hentikan!!”

“Bukankah hanya kepadanya kamu bisa menulis puisi yang paling indah? Bukankah ia yang selalu hadir dalam pikiranmu ketika kamu sedang dalam sepi? Bukankah sebenarnya sedikitpun namanya tak pernah lepas dari perhatianmu? Bukankah kebersamaan dengannya — sekecil, seremeh apapun — selalu tersimpan dalam memori jangka panjang otakmu?

Kamu sudah berbeda dengan yang dulu. Bukan saatnya lagi bersembunyi dan lari dari kenyataan. Mencoba menghapus namanya adalah perbuatan yang percuma. Ia sudah terlalu dalam menancap dalam hatimu. Tempatkanlah ia di tempat yang khusus, sebagai sebuah kenangan manis dimana kamu bisa tersenyum mengingatnya. Bukan senyum yang sedih lagi, tapi senyum bahagia…”

Tanganku kaku. Tenggelam dalam lamunan. Baru tersadar ketika si tante sudah ada di depan kasir dan mencabut Visa Silver Card-nya. Agak tergagap aku berjalan ke kasir sambil membawa buku itu.

Biarlah ini menjadi kado terakhirku untuknya. Kado tanda cinta yang terakhir untuknya…

Serunya Menjadi Pemuja Rahasia

Posted by: on Sep 12, 2008 | 17 Comments

Syahdan, waktu itu sepeda motor saya yang termasuk penyumbang terbesar polutan Jakarta sedang mogok. Saya harus naik metromini untuk berangkat ke kantor. 640 Pasar Minggu – Tanah Abang. Saya berdiri. Saya melihat ada seorang wanita berjilbab duduk dengan tenangnya di arah jam 2 saya.

Perdatam, Patung Pancoran, Surveyor Indonesia, Perempatan Kuningan. Saya tahu Metromini tak pernah berjalan lambat di depan Wisma Mulia, jadi saya turun di halte YTKI. Waktu itu hari masih pagi dan saya dengan riang gembiranya menyusuri trotoar seperti anak SD yang akan mengalami tahun ajaran baru-nya.

Saya agak tertegun menyadari kalau wanita yang saya sempat saya lirik ujung lipatan jilbabnya tadi turun tepat di depan Wisma Mulia. Oh anak Telkomsel kali, pikir saya waktu masuk lift.

Siapa sangka kalau ternyata ia sekantor dengan saya. Beda departemen, beda “kasta”. Wah-wah-wah… ini penyakit lama pemuja rahasia bisa kambuh lagi. Saya mulai diam-diam suka perhatikan ujung lipatan jilbabnya yang terlipat manis dan pas sekali. Saya menyebutnya anggun. Tak akan lebih dari itu, saya tersenyum dalam diam.

Bonus: Secret Admirer, Pemuja Rahasia

Jatuh Cinta Padamu

Posted by: on Sep 11, 2008 | 15 Comments

 FLICKR
Lokasi: Museum Prasasti Sejarah, Jakarta
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Izinkan aku jatuh cinta padamu
Menikmati getar-getar aneh ketika bersamamu
Merasakan sakitnya merindukan senyumanmu

Izinkan aku melindungimu
Meskipun di depanmu,
aku bahkan tak sanggup melindungi diriku sendiri
Dan ketika lututku bergetar hingga jatuh berlutut
Aman dan damai terasa tatkala auramu melingkupi jiwaku

Bukanlah bunga candu yang membuatku limbung
Bukanlah harum sedap malam
Bukan pula pesona mahkota mawar
Namun tidak pula kesederhanaan violet

Entahlah, aku tak tahu
Yang aku tahu adalah…
bahwa aku cinta padamu.

Inspirasi entah datang darimana. Saya juga heran kenapa tiba-tiba begitu ingin membuat puisi tentang jatuh cinta padahal faktanya saya sedang tidak mengalaminya. Sayang sekali kalau puisi-puisi yang tak seberapa puitis ini tak pernah sampai kepada orang yang sedang dikagumi dan dicinta. Jadi saya tulis saja di sini.

Switch to our mobile site