Kasmaran
Siapa kira siapa sangka?
Wanita cantik sepertimu bisa jatuh cinta dan patah hati?
Membuat sakit hatiku tatkala melihat keadaanmu
Adik, katakanlah kepadaku
Siapa orang yang telah melukaimu?
Oh… beruntung sekali pria itu
Tidakkah ia merasa bulan telah jatuh di langitnya?
Bagiku, engkau bagaikan sang bidadari
Dari negeri kahyangan indraloka turun ke bumi
Kalaulah aku boleh berkata
Pria yang sedang kamu impikan itu
Rendah hati dan baik budi, takut untuk menjawab cintamu
Disadur dengan terjemahan bebas dari syair berbahasa Jawa dengan judul Kasmaran ciptaan Mus Mulyadi.
Looking in the Eyes of Love
FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Mereka mungkin tidak pernah mengungkapkan rasa cinta lagi setelah sekitar setengah abad hidup bersama. Mereka mungkin tidak sadar bahwa zaman telah berubah begitu cepat, bahwa mereka dulu harus menunggu berhari-hari untuk menerima kertas bertuliskan pena tinta hitam yang rapi dibungkus amplop cokelat berprangko Rp. 5 untuk menerima ungkapan cinta. Sekarang, bahkan tak perlu menunggu menit untuk menerima ucapan cinta dan sayang.
Tetapi mereka masih sadar satu hal, saat dimana waktu dan takdir mempertemukan mereka. Di bawah pohon Leucaena glauca itulah, perjalanan cinta abadi mereka dimulai.
Tidak. Tidak ada yang berubah. Bahkan kulit yang telah keriput itu masih sehalus dan semulus dulu waktu senyum semanis madu menghiasi pipi yang merona merah. Tidak. Tidak ada yang berubah. Mata yang telah mengapur kabur itu masih setajam dulu. Punggung yang telah bungkuk itu masih sekuat dulu.
Tidak. Mereka bukan menolak kenyataan bahwa usia telah menggerogoti tubuh tua mereka. Cinta sejati tak akan pernah lapuk dimakan waktu. They’re looking in the eyes of love.
Jejak Langkah
FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm
Sayangku, langkah kita akan sangat panjang
Aku belum melihat ujung perjalanan kita
Semuanya masih gelap, kabur
Aku bahkan tak tahu kemana langkah kita akan berujung
Ke sungai, ke muara?
Ke ujung lembah?
Sementara waktu tanpa ampun menghukum kita
Meniup jejak-jejak langkah kaki kita
Menanggalkan butir-butir sisa usia
Terbentang berserakan,
Halangan rintangan di depan kita
Izinkan aku menggenggam tanganmu
Kuatkan aku, dukung aku
Berdua kita menggapai tujuan
Demi masa depan kita…
Catatan Kaki:
Nampaknya kerudung telah menjadi tren fashion, tidak hanya sekadar identitas seorang wanita muslimah yang alim. Saya banyak menemui pasangan muda-mudi seperti ini sedang memadu kasih di Kebun Raya. Untuk kalian yang sedang dilanda asmara, saya persembahkan puisi ini untuk merayakan bulan kasih sayang. Dengan penuh cinta!
Puisi Pendek
Wajah yang lembut, seperti ada tirai kabut salju di raut mukanya.
Rambut hitam sehalus sutera tergerai.
Satu dua helai meluncur ke depan dahi
Menghalangi sepasang bola mata yang berbinar-binar
Kilau mata yang bening bagai berlian terkena sinar mentari pagi
Berkilau ramah senada senyuman malaikat
Anggun, tak tercela
Senyum yang menawan hati
Amat menawan…
Puisi pendek dari saya yang selalu terpesona akan keindahan ciptaan-Nya yang berupa seraut wajah perempuan. Hari ini saya menemukan seraut wajah yang bisa membangkitkan inspirasi puitis spontan. Saya menyebutnya — cantik jelita.
Moonlite Sonata
FLICKR
Lokasi: Beranda Rumah Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | Velbon CX-440
Kawanku,
Malam ini kamu kulihat indah sekali
Hitamnya langit begitu pekat,
Satu-satunya yang menerangi cuma merahnya sinarmu
Kamu tetap sama seperti bulan-bulan yang silam
Dan kamu akan tetap sama esok, lusa, dan tahun depan
Kadang sekali-sekali kamu tersenyum mengejek melihat berjuta mata di bumi
Kadang pula, kamu tersenyum manis juga kok…
Sebab sobat, dalam suasana seperti ini, penontonmu cuma ada dua model
Ada yang menonton sambil berdendang,
Bulan indah berkilauan, namun lebih indah wajahmu…
Ada yang diam sambil mengeluh dalam hati,
Diriku kini sendiri…. menghitung hari… detik demi detik…
Aku tak tahu, sekarang ini aku di posisi yang mana
Yang aku tahu, aku sedang memandangimu
Ditemani angin bergerisik yang seharusnya dingin menusuk tapi kenyataannya kok gerah
Ditemani tiga kaki dari karbon hitam terkunci baut plastik bernama tripod…
Aku cuma sedang berpikir sobat,
Dulu, aku bisa memandangimu dengan perasaan paling melankolis yang aku bisa
Bisa paling hancur, tersayat, patah, pecah, atau entah apa pun kata yang bisa menggambarkan perasaan
Tapi sekarang aku bertanya, kemana perginya?
Kosong nggak, tapi isi juga nggak.
Padahal aku sedang ingin bersedih-sedih ria, berpatah-patah ria
Aku cuma kuatir, sobat, batang ranting kuncup daun itu telah patah
Sehingga tak akan ada lagi kuncup-kuncup daun berikutnya
yang berharap akan muncul mahkota mawar atau harum melati di sana
Semoga tidak.
Semoga batang itu tetap ada dan masih bisa berharap,
Seperti aku yang berharap bisa menontonmu besok, lusa, bulan depan, tahun depan.
Mencinta Tanpa Harus Jatuh Cinta
FLICKR
Lokasi: Dunia Fantasi Ancol, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR
Anna Althafunnisa yang menjanda, dalam Ketika Cinta Bertasbih 2, menyerahkan kepada ayahnya mengenai urusan jodohnya setelah kegagalan pernikahannya dengan Furqan. Demikian pula Azzam, setelah pertunangannya dengan seorang dokter yang manis di Kudus gagal, ia pun menyerahkan kepada Kiai Luthfi yang tak lain adalah ayah Anna. Kedua orang ini benar-benar pasrah dan percaya sepenuhnya, orang buta pun asal akhlak agamanya bagus menurut Kiai Luthfie akan diterima. Ketika Azzam ditawari, pertanyaan pertamanya adalah, “Apakah ia shalehah, Kiai?” Dan tanpa menanyakan siapa orangnya, ia mengiyakan ketika Kiai Luthfie mengkonfirmasi bahwa calon tersebut shalehah.
KCB, lewat tokoh-tokohnya, berusaha menyampaikan pesan bahwa cinta tak harus diawali dari perasaan suka dan elemen-elemen visual. Saya kira, justru di sinilah segala atribut ditanggalkan, mencintai apa adanya. Segala embel-embel pangkat, jabatan, kemapanan, kekayaan materi, bahkan sikap, sifat dikesampingkan. Tidak peduli jika pasangan kurang mapan secara materi, atau berasal dari keluarga kaya raya, jika akhlak dan agamanya baik, insya Allah akan baik pula.
Saya sendiri yakin, jatuh cinta itu sendiri bisa dibangkitkan, dibuat, dan bahkan direkayasa seiring berjalannya waktu. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan niat yang baik nan mulia (menggenapkan setengah dien, atau pernikahan), cinta akan terbentuk dalam proses perjalanan yang panjang. Dan suatu saat, ada satu titik di diri pasangan yang tiba-tiba bersinar dan membuat Anda tidak bisa lepas lagi darinya pancaran cahayanya. Anda boleh menyebut itu, cinta sejati.
Salam kasih sayang saya untuk Anda semua, pembaca blog ini.
Terima kasih atas segala cinta kasih untuk menyisihkan sedikit bandwidth berkunjung ke sini.
-Galih Satriaji-
Sebuah Pertemuan
Pertemuan kami sebenarnya singkat saja. Tak lebih dari sejam. Sebenarnya saya ingin meminta ditemani untuk keliling Surakarta, melihat-lihat alun-alun utara Kraton Kasunanan dan mengunjungi Mangkunegaran, wisata kuliner macem-macem, tetapi entah kenapa lidah kok jadi kelu. Saya ingat hari ini adalah hari Arafah, dan saya menghormati puasanya sehingga rencana itu saya batalkan. Tapi ia tahu saya baru saja menempuh jarak 40-an km, ia bertanya puasa apa tidak, saya jawab tidak, dan ia segera membuatkan saya segelas air jeruk dingin.
Ia menjemput saya di bundaran Carrefour Solo Baru, setelah mulai dari Kartasura hingga Pasar Klewer memandu saya lewat telepon. Tak banyak bicara. Duduk di samping saya sambil memangku keponakannya, sambil sesekali memberitahu arah ketika waktunya berbelok.
Di tepi sawah berangin lembut itu, kami lagi-lagi lebih banyak diam daripada saling berbicara. Ia memang pendiam, sedangkan saya tidak punya bahan untuk bicara. Saya bukanlah seorang yang ahli menghidupkan pembicaraan. Tapi pertemuan singkat itu membuat saya mengeluh,
“Kemana saja aku dua tahun ini… ”
Semoga saya belum terlalu terlambat.
Comments