Entries Categorized as 'Melankolis'

Kampung Batik Kauman

Date August 5, 2010

FLICKR
Lokasi: Kampung Batik Kauman, Solo, Jawa Tengah
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR

Sore datang agak terlambat di langit Surakarta. Dengan cepat, cahaya meredup ketika candi’ala sudah tak terlihat di ufuk barat. Langit membiru tua — yang pengalaman fotografi memberitahu bahwa ini tak akan lebih dari 10 menit sebelum berubah menjadi hitam kelam.

Kami melewatkannya dengan berjalan-jalan menyusuri gang-gang kecil di kampung Kauman yang merupakan sentra home industry batik Solo. That was our first time walkin’ around together like this. Saya tak tahu sudah berapa lama berjalan, rasanya semuanya tak berarti. Motif-motif batik luar biasa itu jadi seperti garis-garis jelek tak beraturan. Semua gara-gara orang yang sedang berjalan diam-diam di samping saya itu. Dia adalah satu-satunya hal yang berarti saat itu.

Sudah sepuluh menit saya ada di baris ini. Saya tak menemukan kata-kata yang bisa saya pakai untuk menuliskan waktu yang singkat itu. Ya sudah, saya akhiri saya di baris ini.

Untukmu

Date July 19, 2010

Seperti de ja vu, kita mengulang saat seperti beberapa tahun yang lalu
Wajahmu tetap sendu, matamu masih sayu seperti dulu
Aku tak tahu apakah kamu senang dengan kedatanganku
Ataukah aku hanya dapat menduga, dan hanya terlalu percaya diri menganggap kamu senang

Berdua kita menghabiskan menit demi menit dalam hening diam
Kasihan gulungan benang yang entah kenapa ada di tanganmu itu
Dan ponsel yang menjerit aku remas-remas tanpa sadar di tanganku

Aku memang bodoh
Tetapi hanya kamu yang mau menunggu
Hanya kamu yang mau mengerti
Hanya kamu yang tetap duduk diam sementara ketika yang lain pergi
Kamu diam ketika yang lain berceloteh

Entahlah, kadang aku merasa diam-mu lebih dari seribu kalimat
Ketika seribu kalimat hanya membuat aku merasa tak lebih dari anak kecil
Kamu diam, mengerti bahwa pria di depanmu sedang bertingkah seperti anak kecil
Bodoh dan kekanak-kanakan

Terima kasih untuk semuanya
Terima kasih untuk waktu yang kita lewatkan berdua
Waktu dimana setan dan iblis mengintip kita dari balik kegelapan
Waktu dimana segala sesuatu mudah untuk menjadi haram bagi kita

Terima kasih untuk segala risiko,
untuk segala kecantikan dan wangi bidadari yang kamu tampilkan kepadaku
untuk seulas senyum, yang langka aku temukan tersungging di wajahmu

*) sebuah catatan harian, dengan dramatisasi

Kasmaran

Date March 13, 2010

Siapa kira siapa sangka?
Wanita cantik sepertimu bisa jatuh cinta dan patah hati?
Membuat sakit hatiku tatkala melihat keadaanmu

Adik, katakanlah kepadaku
Siapa orang yang telah melukaimu?
Oh… beruntung sekali pria itu
Tidakkah ia merasa bulan telah jatuh di langitnya?

Bagiku, engkau bagaikan sang bidadari
Dari negeri kahyangan indraloka turun ke bumi

Kalaulah aku boleh berkata
Pria yang sedang kamu impikan itu
Rendah hati dan baik budi, takut untuk menjawab cintamu

Disadur dengan terjemahan bebas dari syair berbahasa Jawa dengan judul Kasmaran ciptaan Mus Mulyadi.

Looking in the Eyes of Love

Date February 9, 2010

FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Mereka mungkin tidak pernah mengungkapkan rasa cinta lagi setelah sekitar setengah abad hidup bersama. Mereka mungkin tidak sadar bahwa zaman telah berubah begitu cepat, bahwa mereka dulu harus menunggu berhari-hari untuk menerima kertas bertuliskan pena tinta hitam yang rapi dibungkus amplop cokelat berprangko Rp. 5 untuk menerima ungkapan cinta. Sekarang, bahkan tak perlu menunggu menit untuk menerima ucapan cinta dan sayang.

Tetapi mereka masih sadar satu hal, saat dimana waktu dan takdir mempertemukan mereka. Di bawah pohon Leucaena glauca itulah, perjalanan cinta abadi mereka dimulai.

Tidak. Tidak ada yang berubah. Bahkan kulit yang telah keriput itu masih sehalus dan semulus dulu waktu senyum semanis madu menghiasi pipi yang merona merah. Tidak. Tidak ada yang berubah. Mata yang telah mengapur kabur itu masih setajam dulu. Punggung yang telah bungkuk itu masih sekuat dulu.

Tidak. Mereka bukan menolak kenyataan bahwa usia telah menggerogoti tubuh tua mereka. Cinta sejati tak akan pernah lapuk dimakan waktu. They’re looking in the eyes of love.

Jejak Langkah

Date February 3, 2010

FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm

Sayangku, langkah kita akan sangat panjang
Aku belum melihat ujung perjalanan kita
Semuanya masih gelap, kabur
Aku bahkan tak tahu kemana langkah kita akan berujung

Ke sungai, ke muara?
Ke ujung lembah?

Sementara waktu tanpa ampun menghukum kita
Meniup jejak-jejak langkah kaki kita
Menanggalkan butir-butir sisa usia

Terbentang berserakan,
Halangan rintangan di depan kita

Izinkan aku menggenggam tanganmu
Kuatkan aku, dukung aku
Berdua kita menggapai tujuan
Demi masa depan kita…

Catatan Kaki:
Nampaknya kerudung telah menjadi tren fashion, tidak hanya sekadar identitas seorang wanita muslimah yang alim. Saya banyak menemui pasangan muda-mudi seperti ini sedang memadu kasih di Kebun Raya. Untuk kalian yang sedang dilanda asmara, saya persembahkan puisi ini untuk merayakan bulan kasih sayang. Dengan penuh cinta! :)