Entries Categorized as 'Melankolis'

Kasmaran

Date March 13, 2010

Siapa kira siapa sangka?
Wanita cantik sepertimu bisa jatuh cinta dan patah hati?
Membuat sakit hatiku tatkala melihat keadaanmu

Adik, katakanlah kepadaku
Siapa orang yang telah melukaimu?
Oh… beruntung sekali pria itu
Tidakkah ia merasa bulan telah jatuh di langitnya?

Bagiku, engkau bagaikan sang bidadari
Dari negeri kahyangan indraloka turun ke bumi

Kalaulah aku boleh berkata
Pria yang sedang kamu impikan itu
Rendah hati dan baik budi, takut untuk menjawab cintamu

Disadur dengan terjemahan bebas dari syair berbahasa Jawa dengan judul Kasmaran ciptaan Mus Mulyadi.

Looking in the Eyes of Love

Date February 9, 2010

FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Mereka mungkin tidak pernah mengungkapkan rasa cinta lagi setelah sekitar setengah abad hidup bersama. Mereka mungkin tidak sadar bahwa zaman telah berubah begitu cepat, bahwa mereka dulu harus menunggu berhari-hari untuk menerima kertas bertuliskan pena tinta hitam yang rapi dibungkus amplop cokelat berprangko Rp. 5 untuk menerima ungkapan cinta. Sekarang, bahkan tak perlu menunggu menit untuk menerima ucapan cinta dan sayang.

Tetapi mereka masih sadar satu hal, saat dimana waktu dan takdir mempertemukan mereka. Di bawah pohon Leucaena glauca itulah, perjalanan cinta abadi mereka dimulai.

Tidak. Tidak ada yang berubah. Bahkan kulit yang telah keriput itu masih sehalus dan semulus dulu waktu senyum semanis madu menghiasi pipi yang merona merah. Tidak. Tidak ada yang berubah. Mata yang telah mengapur kabur itu masih setajam dulu. Punggung yang telah bungkuk itu masih sekuat dulu.

Tidak. Mereka bukan menolak kenyataan bahwa usia telah menggerogoti tubuh tua mereka. Cinta sejati tak akan pernah lapuk dimakan waktu. They’re looking in the eyes of love.

Jejak Langkah

Date February 3, 2010

FLICKR
Lokasi: Kebun Raya Bogor, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm

Sayangku, langkah kita akan sangat panjang
Aku belum melihat ujung perjalanan kita
Semuanya masih gelap, kabur
Aku bahkan tak tahu kemana langkah kita akan berujung

Ke sungai, ke muara?
Ke ujung lembah?

Sementara waktu tanpa ampun menghukum kita
Meniup jejak-jejak langkah kaki kita
Menanggalkan butir-butir sisa usia

Terbentang berserakan,
Halangan rintangan di depan kita

Izinkan aku menggenggam tanganmu
Kuatkan aku, dukung aku
Berdua kita menggapai tujuan
Demi masa depan kita…

Catatan Kaki:
Nampaknya kerudung telah menjadi tren fashion, tidak hanya sekadar identitas seorang wanita muslimah yang alim. Saya banyak menemui pasangan muda-mudi seperti ini sedang memadu kasih di Kebun Raya. Untuk kalian yang sedang dilanda asmara, saya persembahkan puisi ini untuk merayakan bulan kasih sayang. Dengan penuh cinta! :)

Puisi Pendek

Date April 29, 2009

Wajah yang lembut, seperti ada tirai kabut salju di raut mukanya.
Rambut hitam sehalus sutera tergerai.
Satu dua helai meluncur ke depan dahi
Menghalangi sepasang bola mata yang berbinar-binar
Kilau mata yang bening bagai berlian terkena sinar mentari pagi
Berkilau ramah senada senyuman malaikat
Anggun, tak tercela
Senyum yang menawan hati
Amat menawan…

Puisi pendek dari saya yang selalu terpesona akan keindahan ciptaan-Nya yang berupa seraut wajah perempuan. Hari ini saya menemukan seraut wajah yang bisa membangkitkan inspirasi puitis spontan. Saya menyebutnya — cantik jelita.

Moonlite Sonata

Date April 21, 2009

FLICKR
Lokasi: Beranda Rumah Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | Velbon CX-440

Kawanku,
Malam ini kamu kulihat indah sekali
Hitamnya langit begitu pekat,
Satu-satunya yang menerangi cuma merahnya sinarmu

Kamu tetap sama seperti bulan-bulan yang silam
Dan kamu akan tetap sama esok, lusa, dan tahun depan
Kadang sekali-sekali kamu tersenyum mengejek melihat berjuta mata di bumi
Kadang pula, kamu tersenyum manis juga kok…

Sebab sobat, dalam suasana seperti ini, penontonmu cuma ada dua model
Ada yang menonton sambil berdendang,
Bulan indah berkilauan, namun lebih indah wajahmu…
Ada yang diam sambil mengeluh dalam hati,
Diriku kini sendiri…. menghitung hari… detik demi detik…

Aku tak tahu, sekarang ini aku di posisi yang mana
Yang aku tahu, aku sedang memandangimu
Ditemani angin bergerisik yang seharusnya dingin menusuk tapi kenyataannya kok gerah
Ditemani tiga kaki dari karbon hitam terkunci baut plastik bernama tripod…

Aku cuma sedang berpikir sobat,
Dulu, aku bisa memandangimu dengan perasaan paling melankolis yang aku bisa
Bisa paling hancur, tersayat, patah, pecah, atau entah apa pun kata yang bisa menggambarkan perasaan

Tapi sekarang aku bertanya, kemana perginya?
Kosong nggak, tapi isi juga nggak.
Padahal aku sedang ingin bersedih-sedih ria, berpatah-patah ria

Aku cuma kuatir, sobat, batang ranting kuncup daun itu telah patah
Sehingga tak akan ada lagi kuncup-kuncup daun berikutnya
yang berharap akan muncul mahkota mawar atau harum melati di sana

Semoga tidak.
Semoga batang itu tetap ada dan masih bisa berharap,
Seperti aku yang berharap bisa menontonmu besok, lusa, bulan depan, tahun depan.