Menginjak Bumi
Itulah maksud dari “Love is actually more than romans”. Cinta sejati bukanlah kaleidoskop yang telah saya tulis. Cinta sejati bukanlah sesuatu yang berbunga-bunga sepanjang waktu. Cinta sejati adalah bagaimana kita belajar untuk mencintai dengan apa adanya. Cinta sejati tidaklah romantis, akan tetapi penuh dengan rasionalitas untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada. Bukankah jumlah puisi dan lagu patah hati jauh lebih banyak daripada puisi atau lagu yang menceritakan kebahagiaan cinta sejati?
Kutipan ini saya ambil dari tulisan saya tertanggal 3 Oktober 2006. Kalau saya kembali ke artikel-artikel di tahun-tahun itu, saya jadi merasa blog ini cemen dan cengeng sekali.
Happy Valentines day, untuk yang merayakan, untuk segala kontroversi yang menyertainya.
A Thousand Years
I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid,
I have loved you for a thousand years
And for a thousand more…A Thousand Years – Christina Perri
Bayangkan Anda seorang pria. Pria yang hebat multitalenta, telah memutuskan untuk jatuh cinta kepada seorang wanita yang telah menjadi inspirasinya sepanjang masa. Ia mengaransemen ulang lagu Christina Perri ini dengan aransemen yang sederhana tapi sangat menyentuh hati. Dan bayangkan apa perasaan si pria itu ketika ia memainkan musiknya, liriknya dinyanyikan oleh sang wanita pujaan.
Akan jadi cerita yang romantis jika mereka saling mencintai — happily life ever after. Tapi bagaimana jika kondisinya berbeda, sang wanita telah memilih pria hebat lain untuk dicintainya. Dan ia bernyanyi untuk sang pria malang ini, lagu yang isinya curhat total si pria kepada si wanita.
Saya tidak menduga ternyata ada saja pria-pria yang berbuat bodoh seperti saya dulu. Tapi memang saya bisa merasakan apa yang sedang dirasakan pria itu. Saya nyaris yakin, ia tidak akan bisa bikin aransemen sebagus itu kalau si wanita itu tidak ada di sisinya lagi. Inspirasinya telah membuatnya jauh lebih hebat daripada kalau ia sendiri.
Pak Wayan di novel Perahu Kertas, memutuskan untuk berhenti melukis potret wanita ketika inspirasi satu-satunya, ibunya Keenan, pergi dan menikah dengan orang lain. Saya, sampai sekarang tidak bisa membuat puisi lagi. Inspirasinya sudah tidak ada.
Ketika saya dikirimi lagu ini, saya sempat termenung. Saya putar-putar ulang lagu ini yang entah kenapa menurut saya lebih bagus dari versi Christina Perri sendiri. Karena ada cerita di balik lagu yang membuat hati trenyuh. Saya hanya berharap semoga si pria itu menemukan sumber inspirasi yang lain dalam hidupnya, yang sehebat wanita itu, yang bisa membangkitkan setiap potensi yang ada di dirinya jauh lebih hebat daripada yang sebelumnya. Di balik setiap pria hebat, bukankah ada sosok wanita?
*) Kak Driva, “apa kabar”? ^_^
1000
Tujuh setengah tahun. Seribu artikel.
[sepuluh menit berlalu tanpa kalimat. speechless]
Mau tidak mau saya mengenang masa-masa awal saya ngeblog untuk kesekian kalinya. Agak lucu, karena saat itu saya tidak mau disebut blogger, saya seorang penulis diary yang mungkin jaman sekarang disebut galauers. Sok-sok’an romantis, nulis puisi, menjadi secret admirer karena merasa menjadi bukan sosok yang menarik. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang maniak pemrograman yang suka ngulik rumus Matematika Diskret 20 senti di bawah matanya?
Time flies, people changes. Nampaknya cuma saya yang masih tidak banyak berubah, masih menulis apa yang ingin ditulis di sini. Kadangkala saya merasa waktu terlalu cepat berlari, dari weekend ke weekend, dari Senin ke Senin, seperti mimpi saja. Dan catatan blog inilah yang mengingatkan saya kalau waktu telah berlari.
Topik bahasan, masih gado-gado seperti dulu. Dan mungkin karena itulah saya masih bisa ngramut blog ini sampai sekarang. Dari jaman isinya pemrograman mlulu, lalu merengek-rengek di kategori Melankolis karena tidak tahu bagaimana menarik hati perempuan. Pindah ke Jakarta, mengejar apa yang dinamakan karier, menekuni fotografi, bosan dengan fotografi menekuni musik. Melanjutkan sekolah S2, minatnya pindah ke Finance dan pasar modal. Lalu sampai di titik jenuh lagi. Ya balik lagi ke titik awal, nulis suka-suka, sesempatnya, sesukanya.
Teman-teman. Ini yang menarik. Seorang blogger, secuek-cueknya, semalas-malasnya ia blogwalking, akan selalu mengharapkan sedekah komen. Itu tanda kalau blognya masih ada yang baca. Tanda apresiasi. Dan sampai sekarang, hanya sedikit teman-teman lama blog yang masih keep in touch. Datang dan pergi.
Mbak Rina dari Cilacap adalah salah satu yang paling berkesan. Meskipun ia sekarang sudah tidak pernah mengunjungi dunia internet lagi, saya masih dapat kiriman blast SMS lebarannya tiap tahun. Sayang waktu kemarin ke Cilacap, tak sempat ketemu. Moga-moga aja nomor teleponnya nggak ganti.
Atau dengan blogger ini yang sekarang menjadi teman akrab — saking konsistennya bertukar komentar dari dulu sampai sekarang. Jejak tulisannya pertama kali di blog ini adalah tanggal 18 Juli 2006. Ia bilang, “Kita harus melepaskan seseorang karena kita tahu jika Tuhan mengambil sesuatu, Ia telah siap memberi yang lebih baik.” Itu di postingan yang jika saya baca sekarang pun masih ikutan trenyuh dan ingat kejadian di tepi sungai di Moyoketen, Tulungagung, enam tahun silam. Ia (si tokoh di postingan itu) bertanya dengan lembut waktu itu, “Apakah Galih ingin aku menjauh dan tidak dekat lagi?”
Atau dengan perempuan ini, salah satu sumber inspirasi saya waktu itu, yang karenanya saya membuat buku pertama saya, Secangkir Kopi Java. Ia berkomentar begini, “ya’apa yen sampaen nggawe buku mas, mengko aku dadi editor lan produsere :p (Bagaimana kalau kamu membuat buku mas, nanti aku jadi editor dan produsernya :p)”. Tertanggal 18 Juni 2006. Apa yang bisa dilakukan seorang anak muda freak untuk menyatakan perasaannya? Lahirlah buku 100 halaman PDF itu. Tapi ya siapa yang mengerti dengan model komunikasi nggak umum begitu? Hehehe…
Begitulah, saya cenderung menertawakan diri saya sendiri karena blog ini merekamnya dengan begitu detail. Mungkin lima tahun lagi, saya di umur 30-an akan menertawakan saya yang sedang menulis sekarang ini. Blog adalah autobiografi yang jujur menceritakan kembali kehidupan penulisnya dari tahun ke tahun.
[speechless lagi]
Saya tidak tahu kenapa kok saya merayakan tulisan ke-1000 ini dengan begitu melankolisnya. Mungkin karena aslinya blog ini melankolis sih. Ini hanyalah salah satu milestone, tonggak waktu, seperti orang yang sedang berulang tahun.
Naah, supaya agak ceria, saya ingin bagi-bagi hadiah. Kali ini hadiahnya agak lebih serius. Saya barusan menyelesaikan naskah setebal 129 halaman. Seperti jaman dulu waktu menulis Secangkir Kopi Java, saya menulis topik yang menjadi ketertarikan saya saat ini: personal finance management. Judulnya “Merencanakan Keuangan Pribadi dengan GNUCash”. Saya sedang mengusahakan itu diterbitkan di nulisbuku.com (saya sudah upload naskahnya tadi sore), supaya saya bisa mengirimkan hadiah ini secara fisik ke teman-teman. Bukan e-book lho.
Siapa yang dapet? Biarkan pseudo random generator algorithm yang akan menentukannya!
^_^
Tentang Move-On
Minggu ini, saya akan menulis tentang melankolis. Februari, musim orang sedang jatuh cinta dan patah hati. ^_^
Saya ditanya di Twitter, bagaimana caranya move on? Secara matematis, saya pernah empat tahun tidak berhasil move on, menghasilkan puluhan puisi dan ratusan curhat di kategori melankolis ini. Jadi sebenarnya, saya bukan orang yang ahli untuk melupakan yang telah berlalu dan suka dengan kondisi terluka dan patah hati.
Bagaimana caranya sembuh dari patah hati? Sependek pengalaman saya, ya, menemukan figur baru. Tidak mungkin melupakan orang yang pernah menyakiti kita. Sampai sekarang pun, saya akan ingat setiap kali menulis variabel int x = 0; di kode program saya. Saya akan ingat ketika melihat penjual kerak telor. Jadi, daripada susah-susah berjuang dilupakan, tempatkanlah ia di tempat yang baik, di salah satu sudut hati, sebagai salah satu bagian sejarah yang indah.
Indah? Bukankah saya berkali-kali menulis potongan syair entah punya siapa, Love is such beautiful pain? Setiap orang akan menikmati sakitnya patah hati. Karena saya hanya bisa bikin puisi kalau lagi patah hati.
Permasalahannya adalah, bagaimana menemukan figur baru itu?
Nah kan, jadi lingkaran setan. Patah hati hanya bisa sembuh ketika kita telah menemukan figur baru. Padahal setiap kali muncul figur baru, kita selalu membandingkannya dengan yang telah berlalu.
Entahlah, saya sendiri belum pernah merasa menemukan figur baru yang lebih baik. Tidak ada gadis yang lebih cantik darinya. Tidak ada yang bisa diajak curhat, diskusi, tertawa bareng seperti dia. Tidak ada yang bisa membuat saya merasa seperti anak kecil yang merasa aman di dekat figur keibuan seperti dia. Di saat yang sama, tidak ada yang bisa membuat saya seperti seorang ksatria yang sanggup menyelamatkannya dari gangguan apapun. Sampai saat ini, tidak ada yang bisa seperti itu.
Tapi bukankah tiap orang itu unik? Kalau mindset-nya mencari yang bisa seperti itu, bukankah saya hanya akan menyakiti figur baru itu karena saya tidak menempatkannya di tempat yang tertinggi di hati saya, bahkan hanya sebagai figur pengganti? Mungkin tanpa sadar, saya memang telah menyakiti figur baru itu. Maafkan aku, aku hanya laki-laki biasa yang punya sangat banyak kekurangan yang aku coba tutupi dengan segala macam topeng.
Hasbunallah wa nikmal wakil.
Cukuplah Allah buat saya. Segalanya akan lebih simpel kalau segala urusan dikembalikan kepada Allah. Apa sih niat saya? Kalau mencari pasangan hidup untuk menggenapkan separuh dien, kenapa urusannya dijadikan seribet itu? Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Jadi saya mencoba mengurangi segala kriteria yang bersifat “duniawi”, membuka segala pintu kemungkinan jodoh itu datang dari pintu mana. Apakah melalui pacaran, taaruf, perjodohan… segalanya saya buka.
Yang cukup mengerikan yang sedang saya bayangkan adalah: bahwa saya akan menikah tanpa melalui proses jatuh cinta.
Apakah move on saya sudah lebih mirip putus asa? Semoga bukan. Tetapi di sini yang ingin saya share adalah:
- Tidak mungkin melupakan orang yang pernah mencuri hati. T-i-d-a-k M-u-n-g-k-i-n. Jadi, tempatkanlah dia sebagai salah satu bagian dari sejarah hidup.
- Pakai pikiran jangan perasaan. Saya yakin, cewek lebih susah move on, tapi ya hanya rasionalitas dan logika yang bisa menyelamatkan orang dari jatuh cinta. Because love is blind, and I will find my way with you.
- Kembalikan segala urusan kepada-Nya.
- Buka segala pintu kemungkinan. Jodoh akan datang melalui cara yang tidak terduga-duga.
Dan satu hal lagi yang sedang saya nasihatkan ke diri saya sendiri. Tidak boleh putus asa. Tidak boleh bosan melalui jalan yang itu-itu lagi ketika sebuah hubungan kandas di tengah jalan. Melelahkan. Apalagi kalau urusannya sudah serius dan sudah membawa antar keluarga. Urusannya tidak hanya sekedar perasaan sendiri dan yang dikasihi, tetapi sudah menyangkut perasaan, harga diri, nama baik, dan ego antar keluarga.
Percayalah pada saya, nanti setelah move-on, ketemu figur baru, lalu sudah serius, masih banyak hambatan dan tantangan yang lebih kompleks ketimbang sekadar move on. Mungkin karena pernikahan itu adalah sebuah mitsaqan ghaliza ya, dan penggenapan dien, makanya setan yang mencoba menghalangi bukan yang kelas teri lagi.
Redefining the Love
Menurut teman-teman sidang pembaca, apa sesungguhnya cinta itu? Apakah sesuatu yang menggebu-gebu, mengagumi dari kejauhan (atau balik lensa), senang kalau dekat dengan sang target? Atau sesuatu yang datar-datar saja, dicampur sedikit kemalasan, dicampur halangan dan rintangan, dicampur segala hal yang terasa sama sekali tidak ideal, tetapi kadang-kadang terasa lebih nyata ketimbang sekedar mengagumi?
#Melankolis Reborn.
Rasa “Klik” Itu Tidak Bisa Dipaksakan
Guru-guru yang pernah mengajarkan saya ilmu “Olah Pendekatan” selalu bilang, ciptakanlah rasa “klik” kepada gadis yang sedang saya dekati. Tidak heran, mereka bisa bilang “menciptakan” karena memang mereka adalah pakar-pakar di bidangnya. Mereka adalah player yang berpengalaman bertahun-tahun dengan berbagai macam tipe wanita.
Kalau saya bilang sih, rasa klik, atau rasa nyaman itu tidak bisa diciptakan. Seperti hukum kekekalan energi, saya pikir rasa nyaman itu tumbuh dari sebuah hubungan yang mengalir, bukan dari sebuah hubungan yang dipaksakan atau bahkan direkayasa. Mungkin dari sinilah asal pepatah bertepuk sebelah tangan itu kali ya? Karena rasa nyaman itu tidak bisa dari satu pihak saja. Kalau hanya sepihak yang merasa nyaman dan pihak lain justru merasa risi, klik itu tidak akan terjadi. Yang ada mungkin jadi kejar-kejaran yang melelahkan. A mengejar B, B mengejar C, C lagi bingung, lalu ada D datang mengejar A.
Social media, entah apakah ini kemajuan teknologi atau kegilaan, bisa membuat hal yang tidak mungkin dilakukan sepuluh tahun yang lalu. Saya bisa baru mengenal gadis sehari dua hari, lalu setelah itu bisa ngobrol akrab di Y!M atau BBM bercerita dari hati ke hati seperti sahabat kental yang sudah kenal bertahun-tahun. Saya punya banyak teman baik yang bahkan belum pernah ketemu, tapi sudah akrab seperti saudara saja.
Tapi memang tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan mimik wajah dan aura bertemu langsung. Kata orang, mata adalah jendela hati. Di dalam social media apapun, tidak pernah ada kontak mata yang kadang-kadang bercerita lebih jujur dari mulut yang manis berbusa-busa. Di dunia teks, selalu ada jeda waktu untuk memikirkan exit run ketika sesuatu terjadi. Di dunia langsung, tetek bengek itu tidak ada. Makanya ada orang yang sangat cerewet di social media, temennya seabrek-abrek, populer, jadi bintang — di dunia nyata bisa jadi seorang yang sangat pendiam, pemalu, memakai kacamata setebal botol dan tidak memiliki teman.
Kembali ke soal pendekatan, saya juga pernah bilang, saya tidak akan pernah menjadi pemenang kalau saya kalah jarak. Kalau ada pesaing yang punya keuntungan lokasi yang sama dengan sang target, menjadi pemenang adalah sesuatu yang too good to be true. Itu sudah saya alami empat tahun yang lalu dan dua tahun yang lalu. Tetapi apapun itu, saya selalu lega kalau saya sudah sempat menyatakan perasaan kepada sang kekasih. Apapun keputusan sang kekasih, itu adalah hak prerogatif wanita sebagai kaum yang memutuskan. Setidaknya ia sudah tahu kalau Galih pernah menaruh hati padanya, dan ia tolak. Mungkin kelak itu akan jadi keputusan yang disesalinya hahaha… *overpede*
Dari Mengagumi Hingga Mencintai
As far as I know, sependek pengalaman saya dalam urusan kewanitaan (maksudnya punya gebetan gituh), ada tingkatan-tingkatan perasaan yang terklasifikasi ketika kita mulai menaruh perhatian kepada seseorang. Tingkatan terklasifikasi? Ilmiah sekali kedengarannya? Biarin, wong blog saya sendiri, tulisan-tulisan saya sendiri… :p
Perasaan pertama yang muncul adalah “mengagumi”. Saya banyak mengagumi orang. Entah kecantikannya atau keramahannya. Kebanyakan memang dari faktor fisik, apa yang tampak di mata. Apalagi kalau orangnya benar-benar sosok yang menurut saya sempurna (contoh: Meyda Sefira, atau mbak sekretaris SCM di kantor ), maka dipastikan saya akan mengaguminya. Lalu ngefans. Belum apa-apa, diajak bicara saja mungkin saja jadi grogi…. hehehe…
Jika kemudian saya jadi berteman dengannya, mungkin rasa itu akan berkembang menjadi “menyukai”. Dari mata turun ke hati, kata pepatah. Menyukai itu ketika faktor fisik bertemu dengan faktor non-fisik. Saya selalu menyukai teman-teman wanita saya yang ramah, mendengarkan curhat saya (atau kadang-kadang saya yang mendengarkan), tertawa ketika saya menceritakan lelucon yang garing dan tidak lucu, dan tentu saja, membuat sifat kekanak-kanakan sekaligus ingin berperan jadi pahlawan buatnya muncul.
Ketika saya menyadari bahwa saya mulai memikirkannya sepanjang waktu, berharap SMS saya dibales dan uring-uringan ketika pesan pendek itu tak terbalas, cemburu nggak jelas jika mendengar ia bersama orang lain, saya tahu bahwa saya sedang “jatuh cinta”. Ketika saya mulai bisa menulis puisi, ketika tiba-tiba menjadi begitu melankolis, merasa menjadi pria yang tersakiti dan paling malang sedunia — saya tahu kalau saya sedang jatuh cinta. Dan dari beberapa kali drama “pernyataan cinta”, kadang-kadang saya lebih siap ditolak ketimbang diterima.
Nah, tingkatan terakhir adalah “mencintai”. Saya tidak yakin apakah saya pernah mencintai seseorang. Mencintai berarti sanggup menerima kondisi sang kekasih apa adanya. Tidak hanya yang bagus-bagus, tetapi juga yang jelek-jelek — ya gendutnya, suaranya yang kecil gak kedengeran, pendiamnya yang tak ketulungan, ngambekan nggak jelas, dll.
Saya sering mengaku cinta kepada seseorang yang hanya kepadanya saya bikin puisi di blog ini. Saya ingat kalau saya pernah diberi kesempatan, tetapi saya tidak pernah berani mengambil langkah. Jadi saya hanya mengaku-ngaku saja. Ketika semua sudah terlambat, janur kuning sudah terlanjur melengkung, saya baru sadar kesalahan saya. Jadi, saya belum pernah merasakan “mencintai” seseorang. Demikian. I think, that’s such a big commitment that almost all men afraid to face it when the time comes. But when they’re ready, the chance has already gone.
Comments