Redefining the Love
Menurut teman-teman sidang pembaca, apa sesungguhnya cinta itu? Apakah sesuatu yang menggebu-gebu, mengagumi dari kejauhan (atau balik lensa), senang kalau dekat dengan sang target? Atau sesuatu yang datar-datar saja, dicampur sedikit kemalasan, dicampur halangan dan rintangan, dicampur segala hal yang terasa sama sekali tidak ideal, tetapi kadang-kadang terasa lebih nyata ketimbang sekedar mengagumi?
#Melankolis Reborn.
Rasa “Klik” Itu Tidak Bisa Dipaksakan
Guru-guru yang pernah mengajarkan saya ilmu “Olah Pendekatan” selalu bilang, ciptakanlah rasa “klik” kepada gadis yang sedang saya dekati. Tidak heran, mereka bisa bilang “menciptakan” karena memang mereka adalah pakar-pakar di bidangnya. Mereka adalah player yang berpengalaman bertahun-tahun dengan berbagai macam tipe wanita.
Kalau saya bilang sih, rasa klik, atau rasa nyaman itu tidak bisa diciptakan. Seperti hukum kekekalan energi, saya pikir rasa nyaman itu tumbuh dari sebuah hubungan yang mengalir, bukan dari sebuah hubungan yang dipaksakan atau bahkan direkayasa. Mungkin dari sinilah asal pepatah bertepuk sebelah tangan itu kali ya? Karena rasa nyaman itu tidak bisa dari satu pihak saja. Kalau hanya sepihak yang merasa nyaman dan pihak lain justru merasa risi, klik itu tidak akan terjadi. Yang ada mungkin jadi kejar-kejaran yang melelahkan. A mengejar B, B mengejar C, C lagi bingung, lalu ada D datang mengejar A.
Social media, entah apakah ini kemajuan teknologi atau kegilaan, bisa membuat hal yang tidak mungkin dilakukan sepuluh tahun yang lalu. Saya bisa baru mengenal gadis sehari dua hari, lalu setelah itu bisa ngobrol akrab di Y!M atau BBM bercerita dari hati ke hati seperti sahabat kental yang sudah kenal bertahun-tahun. Saya punya banyak teman baik yang bahkan belum pernah ketemu, tapi sudah akrab seperti saudara saja.
Tapi memang tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan mimik wajah dan aura bertemu langsung. Kata orang, mata adalah jendela hati. Di dalam social media apapun, tidak pernah ada kontak mata yang kadang-kadang bercerita lebih jujur dari mulut yang manis berbusa-busa. Di dunia teks, selalu ada jeda waktu untuk memikirkan exit run ketika sesuatu terjadi. Di dunia langsung, tetek bengek itu tidak ada. Makanya ada orang yang sangat cerewet di social media, temennya seabrek-abrek, populer, jadi bintang — di dunia nyata bisa jadi seorang yang sangat pendiam, pemalu, memakai kacamata setebal botol dan tidak memiliki teman.
Kembali ke soal pendekatan, saya juga pernah bilang, saya tidak akan pernah menjadi pemenang kalau saya kalah jarak. Kalau ada pesaing yang punya keuntungan lokasi yang sama dengan sang target, menjadi pemenang adalah sesuatu yang too good to be true. Itu sudah saya alami empat tahun yang lalu dan dua tahun yang lalu. Tetapi apapun itu, saya selalu lega kalau saya sudah sempat menyatakan perasaan kepada sang kekasih. Apapun keputusan sang kekasih, itu adalah hak prerogatif wanita sebagai kaum yang memutuskan. Setidaknya ia sudah tahu kalau Galih pernah menaruh hati padanya, dan ia tolak. Mungkin kelak itu akan jadi keputusan yang disesalinya hahaha… *overpede*
Dari Mengagumi Hingga Mencintai
As far as I know, sependek pengalaman saya dalam urusan kewanitaan (maksudnya punya gebetan gituh), ada tingkatan-tingkatan perasaan yang terklasifikasi ketika kita mulai menaruh perhatian kepada seseorang. Tingkatan terklasifikasi? Ilmiah sekali kedengarannya? Biarin, wong blog saya sendiri, tulisan-tulisan saya sendiri… :p
Perasaan pertama yang muncul adalah “mengagumi”. Saya banyak mengagumi orang. Entah kecantikannya atau keramahannya. Kebanyakan memang dari faktor fisik, apa yang tampak di mata. Apalagi kalau orangnya benar-benar sosok yang menurut saya sempurna (contoh: Meyda Sefira, atau mbak sekretaris SCM di kantor ), maka dipastikan saya akan mengaguminya. Lalu ngefans. Belum apa-apa, diajak bicara saja mungkin saja jadi grogi…. hehehe…
Jika kemudian saya jadi berteman dengannya, mungkin rasa itu akan berkembang menjadi “menyukai”. Dari mata turun ke hati, kata pepatah. Menyukai itu ketika faktor fisik bertemu dengan faktor non-fisik. Saya selalu menyukai teman-teman wanita saya yang ramah, mendengarkan curhat saya (atau kadang-kadang saya yang mendengarkan), tertawa ketika saya menceritakan lelucon yang garing dan tidak lucu, dan tentu saja, membuat sifat kekanak-kanakan sekaligus ingin berperan jadi pahlawan buatnya muncul.
Ketika saya menyadari bahwa saya mulai memikirkannya sepanjang waktu, berharap SMS saya dibales dan uring-uringan ketika pesan pendek itu tak terbalas, cemburu nggak jelas jika mendengar ia bersama orang lain, saya tahu bahwa saya sedang “jatuh cinta”. Ketika saya mulai bisa menulis puisi, ketika tiba-tiba menjadi begitu melankolis, merasa menjadi pria yang tersakiti dan paling malang sedunia — saya tahu kalau saya sedang jatuh cinta. Dan dari beberapa kali drama “pernyataan cinta”, kadang-kadang saya lebih siap ditolak ketimbang diterima.
Nah, tingkatan terakhir adalah “mencintai”. Saya tidak yakin apakah saya pernah mencintai seseorang. Mencintai berarti sanggup menerima kondisi sang kekasih apa adanya. Tidak hanya yang bagus-bagus, tetapi juga yang jelek-jelek — ya gendutnya, suaranya yang kecil gak kedengeran, pendiamnya yang tak ketulungan, ngambekan nggak jelas, dll.
Saya sering mengaku cinta kepada seseorang yang hanya kepadanya saya bikin puisi di blog ini. Saya ingat kalau saya pernah diberi kesempatan, tetapi saya tidak pernah berani mengambil langkah. Jadi saya hanya mengaku-ngaku saja. Ketika semua sudah terlambat, janur kuning sudah terlanjur melengkung, saya baru sadar kesalahan saya. Jadi, saya belum pernah merasakan “mencintai” seseorang. Demikian. I think, that’s such a big commitment that almost all men afraid to face it when the time comes. But when they’re ready, the chance has already gone.
We’re all Alone
Outside the rain begins, and it may never end
So cry no more, on the shore of dreams
We’re all alone, we’re all alone
Close the window calm the light
And it will be allright
No need to bother now
Let it out, let it all begin
Learn how to pretend
Gara-gara lagunya Boz Scaggs ini, saya jadi ingin mengenang masa sekitar lima tahunan yang lalu, waktu hidup begitu berwarna. Halah. Melodramatis dan realistis itu bisa dipisahkan kok, jadi ini posting murni hanya kenangan saja.
Adalah seseorang yang sanggup membuat seorang pria merelakan diri untuk menjadi pahlawan baginya. Atau setidaknya merasa menjadi pahlawan baginya. Mungkin karena pria itu butuh pengakuan ya, ia sanggup membuat seorang pria menjadi begitu romantis melodramatis melankolis, bahkan David Foster atau Boz Scaggs yang jago bikin lagu-lagu romantis begitu lewat.
Adalah seseorang yang hidup dalam angan-angan dan mimpi seorang pria. Seseorang yang sanggup membuat seorang pria menjadi seorang ksatria berkuda putih yang akan menyelamatkan dari penculikan raja jahat di negeri awang-awang di atas awan (yaa ini dari liriknya Peter Cetera, Glory of Love).
Adalah seseorang yang dengan sederhana mampu membuat pria merasa nyaman berada di dekatnya. Menginginkan waktu berhenti berdetak. Memohon supaya matahari berhenti saja. Meminta masa depan sampailah di sini saja tak usah kemana-mana. Tak ada yang lebih orang butuhkan daripada bisa hidup bersama-samanya selama-lamanya.
Kini, hal itu memang merupakan kemewahan yang sudah tak bisa dinikmati lagi. Realita terkadang lebih kejam daripada angan-angan. Sang putri lebih berbahagia menikahi “raja jahat” ketimbang ikut dilarikan sang kstaria ke negeri awang-awang di atas awan.
Hidup dalam bayang-bayang impian memang indah, tetapi hidup dalam kenyataan yang tak selalu indah adalah sesuatu yang harus dilalui. Hingga mungkin pada akhirnya nanti, kenyataan yang akan jauh lebih indah daripada hidup dalam bayang-bayang.
Outside the rain begins, and it may never end
So cry no more, on the shore of dreams
We’re all alone, we’re all alone…
Bodoh
Aku membenci kebodohan
Apalagi jika kebodohan itu punyaku sendiri
Sedemikian bebalnya kebodohan itu hingga nyaris aku tak tahu bagaimana itu diperbaiki
Ketimbang memperbaiki,
Aku lebih suka menyembunyikannya dalam-dalam
Menutupinya dengan topeng-topeng
Dan wajah-wajah yang takut menghadapi kebodohan itu
Comfort zone memang zona yang nyaman
Ah bodoh lagi, memang artinya kan begitu
Saking enaknya sampai aku lupa kalo aku bodoh
Hingga aku ditampar diingatkan kalo aku bodoh
Ya, bodoh
Terima kasih, sudah lama aku tidak merasakan seperti itu
Sambil menunduk aku merenung
Bodoh, sekali lagi, bodoh.
Kampung Batik Kauman
FLICKR
Lokasi: Kampung Batik Kauman, Solo, Jawa Tengah
Nikon D90 | Nikkor AF-S 18-105 mm VR
Sore datang agak terlambat di langit Surakarta. Dengan cepat, cahaya meredup ketika candi’ala sudah tak terlihat di ufuk barat. Langit membiru tua — yang pengalaman fotografi memberitahu bahwa ini tak akan lebih dari 10 menit sebelum berubah menjadi hitam kelam.
Kami melewatkannya dengan berjalan-jalan menyusuri gang-gang kecil di kampung Kauman yang merupakan sentra home industry batik Solo. That was our first time walkin’ around together like this. Saya tak tahu sudah berapa lama berjalan, rasanya semuanya tak berarti. Motif-motif batik luar biasa itu jadi seperti garis-garis jelek tak beraturan. Semua gara-gara orang yang sedang berjalan diam-diam di samping saya itu. Dia adalah satu-satunya hal yang berarti saat itu.
Sudah sepuluh menit saya ada di baris ini. Saya tak menemukan kata-kata yang bisa saya pakai untuk menuliskan waktu yang singkat itu. Ya sudah, saya akhiri saya di baris ini.
Untukmu
Seperti de ja vu, kita mengulang saat seperti beberapa tahun yang lalu
Wajahmu tetap sendu, matamu masih sayu seperti dulu
Aku tak tahu apakah kamu senang dengan kedatanganku
Ataukah aku hanya dapat menduga, dan hanya terlalu percaya diri menganggap kamu senang
Berdua kita menghabiskan menit demi menit dalam hening diam
Kasihan gulungan benang yang entah kenapa ada di tanganmu itu
Dan ponsel yang menjerit aku remas-remas tanpa sadar di tanganku
Aku memang bodoh
Tetapi hanya kamu yang mau menunggu
Hanya kamu yang mau mengerti
Hanya kamu yang tetap duduk diam sementara ketika yang lain pergi
Kamu diam ketika yang lain berceloteh
Entahlah, kadang aku merasa diam-mu lebih dari seribu kalimat
Ketika seribu kalimat hanya membuat aku merasa tak lebih dari anak kecil
Kamu diam, mengerti bahwa pria di depanmu sedang bertingkah seperti anak kecil
Bodoh dan kekanak-kanakan
Terima kasih untuk semuanya
Terima kasih untuk waktu yang kita lewatkan berdua
Waktu dimana setan dan iblis mengintip kita dari balik kegelapan
Waktu dimana segala sesuatu mudah untuk menjadi haram bagi kita
Terima kasih untuk segala risiko,
untuk segala kecantikan dan wangi bidadari yang kamu tampilkan kepadaku
untuk seulas senyum, yang langka aku temukan tersungging di wajahmu
*) sebuah catatan harian, dengan dramatisasi
Comments