Entries Categorized as 'Linux'

Benarkah Linux Bisa Dipakai?

Date June 26, 2010

Cukup banyak teman-teman saya yang terkejut bahwa saya tidak memakai dual boot pada laptop saya. “Hah? Bisa Dipakai?!?” begitu reaksi kebanyakan kawan saya. Saya hanya tersenyum dan menjawab seadanya tanpa melebih-lebihkan, “Bisa, cuma memang lebih susah.” Jangankan pengguna awam, yang mendapatkan pendidikan formal di bidang IT saja jarang yang menon-aktif-kan Grub-nya menjadi single boot saja. Kecuali mereka yang memang benar-benar maniak yang kerjaannya download dan kompilasi kernel terbaru.

Hingga saat ini, Ubuntu Lucid Lynx cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saya menemukan bahwa aplikasi-aplikasi FOSS yang biasa saya pakai di Windows ternyata terasa lebih enak kalau dipakai di platform aslinya. Inilah aplikasi-aplikasi yang saya pakai:

Berselancar di Internet

  • Alat konektivitas modem: UMTSMon, untuk memaksa si modem 3G bekerja di sinyal 3G only. Modem akan dideteksi otomatis oleh Ubuntu dan kita bisa langsung connect lewat network connection-nya Ubuntu.
  • Webbrowser: Google Chrome, terkesan lebih lite ketimbang Firefox, dan saya kebetulan belum membutuhkan kemampuan Firefox extension yang luar biasa itu. Saya bahkan rela meng-upgrade WP engine saya ke WP terbaru karena editor WP versi 2.3 memiliki bug di Chrome.
  • FTP Client: Filezilla, meskipun Nautilus bawaan Gnome mendukung FTP, tapi saya lebih suka memakai perangkat khusus untuk FTP.
  • Chatting: Pidgin Internet Messenger. Aplikasi alternatif Yahoo! Messenger ini mendukung banyak protokol termasuk Y!M, Google Talk, hingga Facebook Chat.
  • Flickr Uploadr: Flickr Uploader, tidak ada versi resmi dari Flickr untuk perangkat yang bisa melakukan batch uploading ini, ternyata ada juga versi alternatifnya di Linux

Office

  • OpenOffice adalah hal wajib di Linux. Saya sudah mengerjakan beberapa makalah serius untuk tugas kuliah memakai OpenOffice Writer.
  • Email & Calendar: Evolution. Saya adalah pengguna Mozilla Thunderbird dulu waktu di ITS, tapi saya ngikut aja apa kata Ubuntu. Evolution sama sekali tidak usable di versi porting-nya di Windows, tetapi di Linux sudah sangat prima. Rasanya seperti MS Outlook saja.
  • PDF Reader: Adobe PDF Reader, tidak ada software yang fiturnya sekaya software aslinya.
  • Accounting: GNUCash Finance Management. Ini sangat berguna buat melakukan tracking cash flow harian saya. Software ini sangat berguna, utamanya buat orang yang belum memiliki Menteri Keuangan seperti saya, he he he…

Grafis

  • Perangkat utama: GIMP. Tentu saja. Tidak ada perangkat pengolah citra yang sehebat GIMP di dunia FOSS. Secara fitur sebenarnya sudah menyamai Adobe Photoshop, cuma tinggal permasalahan aksesbilitas dan kenyamanan user interface saja.
  • Desktop publishing: Scribus. Saya membuat format essay Car Free Day dengan menggunakan Adobe InDesign, waktu saya migrasi ke Linux, ternyata ada perangkat yang juga menyamai InDesign. Tinggal menunggu karya pertama ebook yang saya bikin dengan ini.

Multimedia

  • Pemutar musik: saya nurut apa kata Ubuntu sebagai pengganti Winamp: Rhythmbox. Saya masih mencoba bikin XMMS2 bekerja karena saya agak kurang suka dengan Rhythmbox.
  • Pemutar video: saya juga nurut kata Ubuntu: Movie Player. Mirip seperti Windows Media Player, perangkat ini juga cukup hebat termasuk kemampuan menampilkan subtitle.
  • Music Sheet: MuseScore. Untuk menulis not balok kalau saya lagi belajar baca partitur, saya memakai perangkat ini untuk menuntun saya mendengarkan ketukan demi ketukan.
  • Perekam audio: Audacity. Kalau lagi narsis pengen pamer kemajuan dalam belajar piano, saya merekam suara yang keluar dari piano, dicolokin ke line microphone di latop, lalu merekamnya dengan perangkat ini.

Demikianlah, masih banyak lagi yang belum saya sebut, tetapi ini sudah cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pastikan koneksi internet Anda lancar dan anda tidak perlu menghapalkan homepage untuk setiap perangkat tadi. Linux menyediakan sistem repositori yang mengumpulkan dan mengatur dependensinya. Tinggal buka Synaptic atau kalau mau hardcore lewat terminal: apt-get install.

Mau dan Mampu Saja Tidak Cukup!

Date June 14, 2010

Well, jadi saya sudah suka dengan tampilan Ubuntu. Oke. Saya juga sudah membuat beberapa tugas kuliah dengan menggunakan OpenOffice Writer. Oke. Saya sudah berinternet ke sana ke mari dengan Firefox di atas modem 3G. Oke. GIMP menjadi sangat menarik di versinya sekarang. Oke. Saya juga sudah bisa me-routing laptop ke jaringan dalam kantor sehingga saya tetap bisa mengakses data kantor sementara saya bisa berinternet ria dengan bebas tanpa blokade proxy lewat modem. Oke. Saya berhasil menyambung VPN juga kalau saya sedang di luar kantor untuk mengakses email-email urgent. Oke. Evolution sudah bisa saya pakai untuk email client. Oke.

Saya sudah mau pakai.
Saya juga sudah mampu membuat Ubuntu bekerja sesuai kebutuhan saya.

Nyatanya, saya masih harus memakai Powerpoint untuk presentasi di ujian akhir kuliah Communication minggu depan. Saya hanya ingin aman dan tidak mau diganggu oleh masalah kompabilitas, karena saya 110% yakin pengaturan apapun yang dibuat di OpenOffice akan rusak di Powerpoint meskipun saving-nya sudah dalam format PPT. Pakai laptop untuk presentasi? Ribet om, menghadapi sesi presentasinya sendiri sudah banyak yang harus diantisipasi, apalagi jika harus disibukkan oleh masalah teknis.

Tugas akhir kuliah Statistik juga memaksa saya memakai Excel karena saya memerlukan Data Analysis Toolpak dan Solver. Meskipun ada Solver dan third-party-macro di OpenOffice, saya belum bisa memakainya (masalah klasik software bebas tanpa jaminan, lack of documentation).

Jadi, kawan-kawanku, mau dan mampu saja belum cukup. Anda semangat untuk bebas dari pembajakan, Anda memiliki kompetensi yang cukup untuk menangani masalah-masalah yang akan timbul, itu belum cukup. Lebih baik beli Windows 7 yang tak sampai 2 juta rupiah. Tapi jika dua juta cukup berarti di saat Anda bisa beli CD bajakan seharga lima belas ribu, it’s time to do good and well.

Alternatifnya, Anda bisa beli notebook yang ter-bundle dengan operating system dengan mengisi software bebas ke dalamnya, atau mari bersama saya bertualang bereksplorasi di dunia baru yang belum pernah kita masuki, dunia yang aneh, tapi sering juga mengasyikkan.

Migrasi ke Ubuntu Lucid Lynx

Date June 7, 2010

screenshot

Setelah sekian tahun memakai Windows XP, akhirnya saya memutuskan untuk migrasi sepenuhnya ke Linux. Menghabisi semua partisi NTFS di drive C dan menggantinya dengan ext4 tanpa dual boot. Saya bukanlah fans fanatik open source (bahkan cenderung fans Microsoft), dan faktor saya bermigrasi juga bukan karena isu legalitas bajak membajak software.

Faktor pertama adalah karena kebutuhan yang tak tergantikan di Windows sudah tidak ada lagi. Dulu saya masih membutuhkan Dreamweaver dan Photoshop untuk pekerjaan mendesain web. Akan tetapi tren web sekarang adalah menggunakan CSS sehingga praktis fungsi layouting Dreamweaver tidak terlalu diperlukan lagi karena lebih mudah menggunakan teks editor biasa. Selain itu sekarang saya tak ada waktu lagi buat side job sebagai web designer, sehingga praktis fungsi Photoshop hanya saya pakai buat editing foto, yang mana itu bisa dilakukan oleh GIMP. MS Office, jelas untuk kebutuhan personal dipenuhi oleh OpenOffice.

Pemicunya adalah saat Windows XP saya crash dan harus diformat ulang. Karena laptop Compaq saya ini dibundel tanpa sistem operasi, instalasi driver-drivernya adalah perdjoeangan, apalagi setelah support driver hardware tidak disupport lagi oleh Windows Update. Semua bisa berjalan mulus, kecuali card reader-nya yang tidak terdeteksi. Saya berpikir, “Apa bedanya dengan Linux kalau begini?” Akhirnya setelah mencoba di atas Virtualbox selama sehari, saya dengan semangat melakukan full installation.

Menyenangkan Sekaligus Menyebalkan

Ubuntu Lucid Lynx memiliki tampilan yang saya suka. Font-nya halus, seperti yang saya dambakan. Sangat mirip dengan Mac (copycat?). Pokoknya sampai saat ini saya masih excited dengan OS baru ini. Saya berinternet ria dengan lancar dengan Firefox (in certain circumstances terasa lebih cepat — mungkin cache-nya lebih bagus), mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan OpenOffice Writer, dan melakukan editing foto dengan Gimp.

Tetapi Ubuntu masih jauh dari sempurna untuk pengguna awam. Meskipun orang bilang semuanya serba autodetect, tetapi saya tidak seberuntung itu. Harus berdarah-darah untuk menghidupkan modem 3G Huawei saya, dan sampai sekarang saya masih belum bisa membuat printer Epson Stylus T20E saya bekerja dengan gutenprint. Masih memakai driver  dari Turboprint versi trial 30 hari. Tentu saja saya suka hanya itu saja yang tidak jalan — device lain terdeteksi dengan baik; card reader, bluetooth, wireles LAN, semua bisa plug and play tanpa hambatan.

Saya tidak akan membahas tutorial tentang usaha-usaha tersebut karena sudah banyak di internet. Mungkin justru inilah permasalahan jika sebuah OS dikembangkan oleh komunitas dan tanpa garansi. Masalah yang sama bisa menghasilkan banyak solusi dan setiap solusi belum tentu berjalan di komputer lain. Ubuntu dan Linux pada umumnya masih sulit untuk digunakan pengguna yang benar-benar awam. Juga masih jauh untuk dipakai corporate karena hitungannya akan berat di maintenance cost (kasihan IT support dan helpdesk-nya). Selama harga Windows 7 dan software bagus lainnya masih IDR 5000 cap Glodok Public License, Linux tidak akan mampu bersaing dengan kompetitornya.

Upgrade WordPress ke Versi Terbaru (2.8.4) Pada Distro Debian versi Stabil (Lenny)

Date September 9, 2009

Ini gara-gara blogosphere dengan heboh memberitakan adanya security hole yang sangat serius di WordPress sebelum versi 2.8.4. Setelah lubang keamanan berupa akses lupa password dari URL yang dibuat sedemikian rupa, lubang keamanan terbaru adalah kemungkinan membuat administrator tersembunyi.

Ada satu sistem yang cukup krusial untuk tetap dijaga keamanannya karena menyangkut dengan citra. Hal ini membuat saya merasa perlu untuk melakukan upgrade WordPress. Masalahnya, sistem tersebut memakai sistem operasi Debian versi Lenny (release/stable) dimana WordPress-nya adalah versi 2.5.x dan tidak bisa diupgrade ke 2.8.x. Versi ini sudah ada di Debian Sid (unstable), tetapi tentu saja saya tidak mau hanya gara-gara WordPress, keseluruhan sistem harus diupgrade — apalagi ke versi yang belum stabil.

Solusinya adalah membuat paket installer *.deb sendiri untuk Lenny. Saya membuatnya di Debian Squeeze (testing) dan cukup sukses ketika diinstall secara manual tanpa apt-get di Lenny. Dan menurut etika dunia open source, ketika saya memperoleh ilmu dari sana, adalah kewajiban saya untuk menularkan ilmu itu.

Silakan download panduannya di sini. 

Memilih Distribusi Linux Sesuai Dengan Kebutuhan Anda

Date May 13, 2009

PANDUAN MEMILIH DISTRO MENURUT MAJALAH LINUX FORMAT

Majalah impor yang tampaknya menjadi kiblat majalah INFO Linux edisi Mei 2009 membawa jargon: Get a Better Linux! Hal yang menarik, selain menyertakan satu DVD release distro Debian terbaru, mereka mengangkat topik pemilihan distro yang tepat sebagai fokus utama. Memang, dengan sedemikian banyaknya distro-distro Linux yang beredar, pemilihan distro yang tepat sangat membingungkan, baik bagi para awam maupun yang telah ahli sekalipun.

Majalah Linux Format membahas pemilihan distro sesuai dengan kebutuhan pengguna. Saya sendiri sampai sekarang belum pernah menemukan distro yang pas yang bisa menggantikan Windows XP. Saya pernah pakai Redhat, Mandrake, Debian Sarge, Mandriva, openSUSE, Fedora, lalu sekarang pakai Ubuntu.

Berikut ringkasannya.

  1. Newbiee: Ubuntu
    Yep, saya setuju. Saya terkesan dengan kemudahan Ubuntu. Tidak adanya user root tentunya ditujukan untuk menyederhanakan Linux. Saya yang masih newbiee di Linux cukup nyaman bertahan dengan Ubuntu sekarang.
  2. Migrasi dari Windows ke Linux: LinuxMint
    Saya belum pernah mencoba. Tapi saya baru tahu kalau Debian sudah punya cucu. LinuxMint ini anaknya Ubuntu. Sedangkan Ubuntu sendiri adalah anaknya Debian.
  3. Family Friendly: Qimo
    Mantranya: keep kids safe on the web.
  4. Everyday Desktop: Fedora 10
  5. Bussiness: OpenSUSE 11.1
    Tampaknya, kedekatannya dengan OpenOffice.org membuat redaksi Linux Format memilihnya sebagai distro yang ditujukan untuk keperluan pekerjaan kantor
  6. Light: Puppy Linux 4.1.2
    Katanya distro ini bisa dimasukkan ke dalam sebuah flashdisk dan bisa di-boot dimana saja.
  7. Sysadmin: Arch Linux
    Tidak punya antar muka grafis. Semua serba command line. Hmm… tampaknya hanya untuk orang-orang aneh saja ini. Saya sendiri lebih suka Debian sebagai basis untuk server.
  8. Coder: Mandriva 2009
    Salah satu distro yang konsisten dengan KDE dimana mayoritas distro sudah memakai Gnome sebagai window manager default. Kata redaksi Linux Format, karena KDE, maka lingkungan ini sangat sempurna untuk pengembangan aplikasi berbasis Qt.
  9. Server: CentOS
    Kenapa CentOS, redaksi Linux Format beralasan karena distro ini membawa banyak tools berbasis GUI untuk hampir semua tugas-tugas administratif server. Saya sih tetaplebih suka Debian.
  10. Music Production: 64 Studio
    Ada aplikasi Ardour yang dibawa distro ini secara default. Hampir semua aplikasi yang berhubungan dengan audio terinstall secara default.
  11. Gamers: Live.linux-gamers
    Sesuai namanya, tampaknya distro ini didesain untuk sedikit melawan opini umum bahwa Linux bukanlah pilihan yang tepat untuk sebuah komputer game.
  12. Multimedia: Mythbuntu
    Aplikasi yang terbundel adalah MythTV, aplikasi yang memang ditujukan untuk multimedia.

Sebenarnya, kalau mau jujur, Linux sudah cukup untuk kebutuhan kita. Masalahnya tinggal kultur. Tak dapat dipungkiri, Windows XP, dan apa lagi yang akan datang ini Windows 7 sangat menarik. Apalagi, dua sistem operasi tersebut juga “gratis”. Apalagi yang kita butuhkan? :)