Entries Categorized as 'Linux'

Upgrade Wordpress ke Versi Terbaru (2.8.4) Pada Distro Debian versi Stabil (Lenny)

Date September 9, 2009

Ini gara-gara blogosphere dengan heboh memberitakan adanya security hole yang sangat serius di Wordpress sebelum versi 2.8.4. Setelah lubang keamanan berupa akses lupa password dari URL yang dibuat sedemikian rupa, lubang keamanan terbaru adalah kemungkinan membuat administrator tersembunyi.

Ada satu sistem yang cukup krusial untuk tetap dijaga keamanannya karena menyangkut dengan citra. Hal ini membuat saya merasa perlu untuk melakukan upgrade Wordpress. Masalahnya, sistem tersebut memakai sistem operasi Debian versi Lenny (release/stable) dimana Wordpress-nya adalah versi 2.5.x dan tidak bisa diupgrade ke 2.8.x. Versi ini sudah ada di Debian Sid (unstable), tetapi tentu saja saya tidak mau hanya gara-gara Wordpress, keseluruhan sistem harus diupgrade — apalagi ke versi yang belum stabil.

Solusinya adalah membuat paket installer *.deb sendiri untuk Lenny. Saya membuatnya di Debian Squeeze (testing) dan cukup sukses ketika diinstall secara manual tanpa apt-get di Lenny. Dan menurut etika dunia open source, ketika saya memperoleh ilmu dari sana, adalah kewajiban saya untuk menularkan ilmu itu.

Silakan download panduannya di sini. 

Memilih Distribusi Linux Sesuai Dengan Kebutuhan Anda

Date May 13, 2009

PANDUAN MEMILIH DISTRO MENURUT MAJALAH LINUX FORMAT

Majalah impor yang tampaknya menjadi kiblat majalah INFO Linux edisi Mei 2009 membawa jargon: Get a Better Linux! Hal yang menarik, selain menyertakan satu DVD release distro Debian terbaru, mereka mengangkat topik pemilihan distro yang tepat sebagai fokus utama. Memang, dengan sedemikian banyaknya distro-distro Linux yang beredar, pemilihan distro yang tepat sangat membingungkan, baik bagi para awam maupun yang telah ahli sekalipun.

Majalah Linux Format membahas pemilihan distro sesuai dengan kebutuhan pengguna. Saya sendiri sampai sekarang belum pernah menemukan distro yang pas yang bisa menggantikan Windows XP. Saya pernah pakai Redhat, Mandrake, Debian Sarge, Mandriva, openSUSE, Fedora, lalu sekarang pakai Ubuntu.

Berikut ringkasannya.

  1. Newbiee: Ubuntu
    Yep, saya setuju. Saya terkesan dengan kemudahan Ubuntu. Tidak adanya user root tentunya ditujukan untuk menyederhanakan Linux. Saya yang masih newbiee di Linux cukup nyaman bertahan dengan Ubuntu sekarang.
  2. Migrasi dari Windows ke Linux: LinuxMint
    Saya belum pernah mencoba. Tapi saya baru tahu kalau Debian sudah punya cucu. LinuxMint ini anaknya Ubuntu. Sedangkan Ubuntu sendiri adalah anaknya Debian.
  3. Family Friendly: Qimo
    Mantranya: keep kids safe on the web.
  4. Everyday Desktop: Fedora 10
  5. Bussiness: OpenSUSE 11.1
    Tampaknya, kedekatannya dengan OpenOffice.org membuat redaksi Linux Format memilihnya sebagai distro yang ditujukan untuk keperluan pekerjaan kantor
  6. Light: Puppy Linux 4.1.2
    Katanya distro ini bisa dimasukkan ke dalam sebuah flashdisk dan bisa di-boot dimana saja.
  7. Sysadmin: Arch Linux
    Tidak punya antar muka grafis. Semua serba command line. Hmm… tampaknya hanya untuk orang-orang aneh saja ini. Saya sendiri lebih suka Debian sebagai basis untuk server.
  8. Coder: Mandriva 2009
    Salah satu distro yang konsisten dengan KDE dimana mayoritas distro sudah memakai Gnome sebagai window manager default. Kata redaksi Linux Format, karena KDE, maka lingkungan ini sangat sempurna untuk pengembangan aplikasi berbasis Qt.
  9. Server: CentOS
    Kenapa CentOS, redaksi Linux Format beralasan karena distro ini membawa banyak tools berbasis GUI untuk hampir semua tugas-tugas administratif server. Saya sih tetaplebih suka Debian.
  10. Music Production: 64 Studio
    Ada aplikasi Ardour yang dibawa distro ini secara default. Hampir semua aplikasi yang berhubungan dengan audio terinstall secara default.
  11. Gamers: Live.linux-gamers
    Sesuai namanya, tampaknya distro ini didesain untuk sedikit melawan opini umum bahwa Linux bukanlah pilihan yang tepat untuk sebuah komputer game.
  12. Multimedia: Mythbuntu
    Aplikasi yang terbundel adalah MythTV, aplikasi yang memang ditujukan untuk multimedia.

Sebenarnya, kalau mau jujur, Linux sudah cukup untuk kebutuhan kita. Masalahnya tinggal kultur. Tak dapat dipungkiri, Windows XP, dan apa lagi yang akan datang ini Windows 7 sangat menarik. Apalagi, dua sistem operasi tersebut juga “gratis”. Apalagi yang kita butuhkan? :)

Tips: Mengirim Proses Background-Foreground di Linux

Date April 27, 2008

Catatan bagi saya, mumpung belum lupa. Dalam Linux — dan juga di UNIX — sebuah proses memiliki banyak state, diantaranya adalah foreground dan background. Foreground adalah proses yang aktif yang terlihat oleh user, sementara proses background bekerja di belakang yang tidak terlihat secara kasat mata di console user. Jika dianalogikan dengan Windows, proses foreground adalah proses-proses yang memiliki window, semacam MS-Office, Firefox, dll. Sedangkan proses background di Windows adalah proses yang nampak di task manager (task list) namun tidak memiliki windows. Windows service adalah termasuk kategori proses background.

Di Linux, kita bisa saling menukar-nukar state proses-proses tersebut baik dari foreground ke background atau sebaliknya. Hal ini penting karena Linux berbasis command line. Misalnya, sekarang saya sedang mendownload ISO CD Knoppix terbaru dengan menggunakan wget. Karena memakan waktu yang lama, saya ingin kembali mendapatkan console saya tanpa harus menunggu wget selesai dan keluar. Untuk itu saya harus mengirimnya ke background dan membiarkannya bekerja sampai selesai. Perintah untuk mengirim proses ke background adalah

[galih@localhost ~]$ kill -20 PID

Sedangkan jika kita ingin mengirimkannya kembali ke foreground, perintahnya adalah

[galih@localhost ~]$ kill -18 PID

Dimana PID adalah Process ID yang bisa didapatkan dengan perintah

[galih@localhost ~]$ ps -aux | grep [nama-aplikasi: misalnya wget]

Demikian. :D

Panduan Dasar Instalasi openSUSE 10.3

Date October 18, 2007

Sudah lama saya tidak menulis panduan dan tutorial IT yang “membumi”. Kalaupun menulis, apa yang saya tulis sangat spesifik sehingga tidak semua orang mengerti maksud dari tulisan saya :D. Maklum, saya menulis untuk mendokumentasikan pengalaman saya saja. Saya tidak bisa menulis tutorial on demand — karena paksaan permintaan.

Nah, kebetulan, saya baru saja mencoba melakukan instalasi Linux openSUSE 10.3 seiring dengan rilisnya versi terbaru ini. Mungkin karena sudah lama sekali saya tidak menggunakan Linux sehingga saya sudah sangat ketinggalan zaman. Saya kagum ketika instalasi berjalan dengan otomatis — semua dilakukan oleh installer: partisi hardisk, deteksi hardware, instalasi driver, dan segala hal yang dulu harus saya lakukan manual. Saya masih ingat ketika saya harus mengetikan secara manual snd-via82x untuk instalasi driver sound card saya. Sekarang, hmm… tak ada lagi. Semuanya telah dilakukan installer. Kita tinggal tekan Next-Next-Next, semudah instalasi Windows.

Saya merasa lebih ketinggalan zaman lagi ketika menggunakannya. Mencolokkan apa pun di USB: flash disk, hard drive external, modem GPRS, hingga kamera digital SLR saya, semuanya langsung dideteksi secara otomatis dan langsung disuguhi dialog apa yang akan dilakukan dengan device yang baru saja dicolokkan tersebut. Wew… canggih juga openSUSE, pikir saya pertama kali ketika saya mengalami ini. Saya kemudian dengan agak geli berpikir mungkin saja semua generasi Linux terbaru telah mampu melakukan hal “sepele” ini. Kemudian saya lagi-lagi ingat bahwa saya harus selalu mengetikkan perintah mount /dev/sda1 /media/flashdisk ketika mencolokkan flash disk. Zaman telah berubah Lih!

Saya pikir, saya juga orang yang awam mengenai sistem operasi ini. Banyak pertanyaan yang mesti dijawab antara lain: bagaimana cara koneksi internet, kenapa sama sekali tidak ada media codec yang bisa memutar mp3, mpeg, dkk? Kenapa YasT masih belum bisa mengalahkan kemudahan apt-get install-nya Debian? :D Saya yakin, teman-teman di komunitas openSUSE punya jawabannya :)

Dan semoga panduan dasar ini bisa menjadi sedikit sumbangsih bagi perkembangan FOSS (Free and Open Source Software) di Indonesia. Halah! :))
Silakan didownload di: Panduan Dasar Instalasi Linux openSUSE 10.3 [PDF Format].

Segera diupload: koneksi internet dengan HP ber-GPRS dengan openSUSE 10.3! Ditunggu yaaa…. ;))

PS: Kenapa saya tidak pernah tertarik untuk menjadi penulis Ilmu Komputer yach? Padahal saya kepingin juga loh, tapi kalau melihat banyaknya kontributor IKC, saya jadi minder. Mas Romi? Ada saran? ;)